Musim Bunga

Seharusnya aku senang menyambut musim bunga yang mulai datang ke Jepang. Hari hangat bertambah banyak, yang kadang disertai hujan, walaupun memang belum bisa menyimpan coat tebal karena tiba-tiba cuaca bisa berubah dan kita masih perlu memakai coat.

Tapi ada satu yang benar-benar membuatku  menderita di awal musim semi ini yaitu Kafun atau serbuk bunga. Hari Rabu minggu lalu, aku bersepeda ke sana ke mari memakai masker untuk mengurangi serbuk bunga terhirup, meskipun masih juga bersin-bersin. Tapi yang paling menyeramkan waktu aku melihat mata aku di cermin lift. MERAH! dan gatal. Waaaahhh. Mungkin karena ketahanan tubuh kurang akibat kurang tidur menyelesaikan terjemahan, alergi aku terhadap serbuk bunga/pollen tahun ini amat sangat mengganggu.

Memang dari kecil aku punya alergi terhadap house dust, yang menyebabkan kamar kami selalu harus pakai AC dan tidak boleh memakai karpet atau tirai dari wool. Pilek dan bersin-bersin sudah biasa, sehingga kami sering berkata. “Pabrik tissue harus berterima kasih pada kami”.

Tapi waktu aku datang ke Jepang, sangat jarang aku bersin-bersin. Mungkin Tokyo udaranya lebih bersih dari Jakarta ya? Entahlah. Sampai pada suatu hari, kira-kira 5 tahun setelah tinggal di Jepang, waktu aku mengajar di rumah murid nun jauh di dekat bandara Narita sana. Tiba-tiba aku bersin-bersin pilek, sampai aku minta maaf pada tuan rumah. Baru pas pulang, dia berkata,
“Sensei kafunshou?”
“Tidak”
“Soalnya di belakang rumah ini adalah hutan pinus (pohon sugi) yang mengeluarkan serbuk bunga”
“Waaahhhh mungkin mulai hari ini saya kafun”
Sambil aku melihat deretan pohon pinus itu mengeluarkan serbuk bunganya yang ditiup angin. Gambarnya kira-kira seperti ini.

Serbuk bunga pinus yang beterbangan di awal musim semi

Ya memang selain pohon sugi atau pinus, ada beberapa jenis pohon yang menyebabkan kafunsho. Tapi pohon sugi ini yang paling banyak penderitanya. Menurut data dari Weather News tanggal 4 Maret lalu, lebih dari 30% orang Jepang menderita kafunshou. Daerah Kanto-Tokai (Tokyo dan sekitarnya) paling banyak , dan paling sedikit di daerah Kyushu (selatan Jepang). Daerah Shizuoka dianggap yang paling banyak menderita alergi serbuk bunga ini.

Jadi meskipun dikatakan alergi serbuk bunga, bukanlah akibat bunga-bunga cantik yang saya pasang di sini. Bunga Plum ini mekar di halaman belakang parkiran di apartemen kami. Satu lahan terbagi dua, sebelah kiri berwarna putih dan sebelah kanan berwarna pink. Cantik ya?

Nah, kebetulan ada teman yang bertanya mengenai apa bedanya bunga Momo (peach), bunga Ume (plum) dan bunga Sakura (cherry). Setelah cari-cari ke sana kemari ketemu deh perbedaan bunga tiga jenis, yang memang kalau sekilas mirip semua (dan waktu mekarnya sebenarnya berlainan)

Bunga Plum (Ume):

– tidak mempunyai tangkai bunga, sehingga seakan menempel pada batang
– satu kuntum satu bunga
– ujung kelopak bunga berbentuk bundar

Bunga Peach (Momo):

– tangkai bunganya amat pendek, sehingga terlihat keluar dari batang
– satu kuntum  dua bunga yang diapit bakal daun
– ujung kelopak bunga tajam

Bunga Cherry  (Sakura):

– tangkai bunganya panjang sehingga seakan menjuntai dari batang
– bunganya berumpun seperti anggur
– ujung kelopak bunga terpecah dua

Penjelasan dan gambar didapat dari sini.

Sekarang masih musim bunga Plum, sekitar akhir Maret/awal April baru bunga Sakura bermekaran.

22 gagasan untuk “Musim Bunga

  1. Yasuitori

    Selama 5 tahun tinggal di Jepang belum pernah kena kafunsho. Tiba2 hari minggu kemarin mataku gatal sampai merah dan bersin2. Kayaknya baru kena tahun ini deh.
    *Tinggal di Shizuoka yg kata mbak Imel paling banyak menderita*
    .-= Yasuitori´s last blog ..Kesan Karaoke =-.

    Balas
  2. Poppy

    oalah…bunga plum, peach, dan sakura itu ternyata beda2…baru “nggeh” setelah baca disini, dulu kirain bunga2 itu namanya sakura semua 😀 soalnya klo liat fotonya cuma sekilas…sama2 rimbun dan cantik, ternyata klo pas difoto satu per satu, apalagi dikasih penjelasan gitu baru “nggeh”, makasi udah sharing mba imel 🙂
    btw, bunga2 itu klo d tanem d indo ga bisa hidup ya?

    Balas
  3. AtA chan


    Beruntungnya baca TE..
    Kalo gak kenal mbak Imel, mungkin sampek sekarang aku gak tau ada orang alergi serbuk bunga, makan rambutan, duren dll.
    Hi..hi..
    Aku juga alergi debu mbak, sama buku & kertas bekas..
    Nyebelin…!
    😀

    Balas
  4. edratna

    Saya juga baru tahu bahwa bunga Plum itu adalah Ume, baca di salah blog (lupa namanya…kayaknya blog suami Fety).
    Dan kapankah bunga Sakura mulai berkembang?

    Imel, saya alergi dingin…jadi nyaris setiap pagi bersin…nanti berhenti jika matahari muncul. Parah ya?

    Pinus merkusii dulu banyak terdapat dihalaman SMA ku…namun kok saya nggak pernah perhatikan bunganya ya….sama nggak ya dengan jenis pinus di Jepang sini…..mungkin beda species tapi genusnya sama ya…
    .-= edratna´s last blog ..Hadiah coklat dan buku dari “sahabat” =-.

    Balas
  5. Ria

    bunga cantik yg bikin sakit ya mbak 😀

    aku juga orangnya gampang banget kena flu mbak, gak heran kalau udah flu jadinya terbiasa tapi flu kali ini bener2 gak enak deh.
    .-= Ria´s last blog ..Hutanku =-.

    Balas
  6. Suli

    Semoga merah matanya sudah sembuh. Wah…bunganya cantik-cantik, baru tahu perbedaannya. Ma kasih penjelasannya.

    Balas
  7. Riris E

    wah, photonya bagus2. Selama ini saya hanya melihat rangkaian bunga cherry dari kejauhan..Ini baru TOP BGT 😀

    bagaimana matanya, mbak? Sudah lebih baik kan? Trus..terjemahannya sudah selesai…butuh bantuan (sambil bergumam ke diri sendiri emang aku bisa apa coba?? heheh)
    .-= Riris E´s last blog ..Kemuliaan dalam Duka =-.

    Balas
  8. Ana

    Saya sering menerima hadiah umeshu (minuman yang terbuat dari plum), ternyata bunga plum seperti itu ya. Oh ya, mbak tolong dong info tentang harga rumah di Jepang, pasti mahal banget ya, sebagai perbandingan kalau di pinggiran kota Jakarta dgn budget +-400 jt sdh dpt rumah 3 kamar yg nyaman atau apartemen 1-2 kamar di tengah kota dan bisa dikredit selama 10-15 thn. Sorry ya mbak kalau gak berkenan, soalnya penasaran dan sepertinya belum pernah dibahas. Satu lagi, saya tertarik dengan tempat2 yang konon memiliki power spot, 2 thn yg lalu saya sempat mengunjungi ise-jigu dan berharap kalau ada kesempatan bisa mengunjungi tempat2 seperti itu lagi.

    Balas
  9. vizon

    duh… kasian amat nechan, pastilah susah sekali melewati hari-hari ini ya… semoga cepat berlalu ya nechan..

    oya, foto bunga-bunga itu indah sekali. kayaknya terbalas deh alergi serbuk bunga dengan melihat indahnya kembang2 tersebut… 😀

    Balas
  10. Afdhal

    aku 30 tahun tinggal diindonesia gak pernah kena alergi bunga tuh hihihihihihihi

    di wilayah indonesia yang banyak bunga2 tuh mana yah??? Selain Taman2 tentunya !!!
    .-= Afdhal´s last blog ..Sepuluh =-.

    Balas
  11. narpen

    wahhh… saya baru bedanya!! selama ini ngangguk2 aja klo dibilang ume 😛
    ternyata begitu yaaaa~

    (makasih infonyaaa…)

    ngomong2 klo si momo-peach itu kapan gtu tante??
    semoga cepat sehat dan kuat kembali, tante.. 🙂 moso kalah sama bunga, hehehe.. (naon sih..)

    Balas
  12. anderson

    Sama Mbak, saya juga alergi debu. Kalau dah terpapar *halah, bahasanya* bisa bersin 10 kali berutur-turut, kayak kucing bersin… 🙁

    Nice pictures, Mbak…
    .-= anderson´s last blog ..Kapok (1) =-.

    Balas
  13. nanaharmanto

    Aku baru “ngeh” kenapa serbuk bunga pinus bisa bikin alergi setelah melihat fotonya. walah…ternyata kayak berkilo-kilo tepung dihamburkan…pantes bikin mata perih… tadinya nggak kebayang deh… 🙂

    bunga-bunganya cantik banget…aku suka….
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Buta Cakil =-.

    Balas
  14. wita

    Sinusku juga nggak kambuh pas di jepang neechan, dan beruntung juga ternyata nggak kafunshou 🙂

    hehehe Ume & Sakura mirip banget, tapi si Ume selalu duluan mekar daripada sakura ya, kireii~
    .-= wita´s last blog ..White Day =-.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *