Dampak Kurang Anak

Jepang mempunyai masalah sosial yang cukup berat, yaitu kurangnya jumlah anak yang dilahirkan. Dalam bahasa Jepang masalah ini dikenal dengan sebutan shoshika 少子化, ka adalah perubahan, shoshi = sedikit anak. Memang jumlah anak yang dilahirkan sedikit, sehingga bagan demografi akan menjadi kerucut terbalik. Selain masalah sedikitnya anak, juga masalah banyaknya orang tua yang semakin panjang usia. Masyarakat manula ini disebut dengan koureika 高齢化, perubahan ke arah masyarakat lansia. Sedikit bayi, banyak kakek/nenek.

Koureika tidak bisa dihentikan, karena tidak bisa membunuh orang kan? Justru ini menunjukkan kesejahteraan suatu bangsa, bahwa banyak lansia bisa bertahan hidup dalam keadaan sehat pula. Yang seharusnya bisa dihentikan adalah shoshika. Maka dari itu kabinet di Jepang sekarang ada Menteri masalah shoshika ini. Berbagai hal dipikirkan supaya masyarakat Jepang mau mempunyai anak. Meskipun memang untuk mempunyai anak di Jepang (baca: kota besar) amat banyak kendalanya, sehingga banyak pasangan yang sepakat untuk tidak mempunyai anak.

Kebetulan kemarin, aku membaca sebuah ulasan editorial yang menceritakan salah satu akibat dari shoshika yang cukup akut. Ilustrasinya begini: Seorang anak membawa sepedanya ke tukang sepeda. Si anak diam saja, lalu si penjaga toko bertanya: ada apa? Si anak hanya menjawab: “kuuki 空気 (udara). Rupanya dia mau mengisi udara untuk ban sepedanya. Oi oi, si petugas ini mengatakan …”ambil saja tuh di mana-mana ada udara kok”.

Yang menjadi masalah di sini adalah, si anak tidak bisa menjelaskan keinginannya dalam bentuk kalimat. Seharusnya dia mengatakan : “Kuuki wo iretaindesuga (Saya mau mengisi angin untuk ban saya)” , tapi di otak anak itu hanya ada kata kuuki (udara). Dan katanya kecenderungan anak-anak sekarang seperti itu. Merasa cukup dengan mengatakan satu kata, dan maksudnya akan bisa dimengerti oleh sekelilingnya.

Kecenderungan ini terjadi karena jumlah anak yang sedikit, sehingga temannya dari sejak TK sampai lulus SD ya itu-itu saja dan sedikit. Ditambah lagi mereka merupakan anak tunggal. Selain itu komunikasi di rumah juga sedikit, karena si ibu juga harus bekerja untuk menunjang perekonomian rumah tangga. Si anak bilang: “Nasi”, langsung diberi nasi, tanpa diperbaiki pemakaian bahasanya.

Satu lagi tambahan yang mungkin bisa menjadi “biang kerok” fenomena ini adalah game. Masing-masing anak konsentrasi pada mainannya, dan jarang bercakap-cakap dengan temannya. Kalaupun bertanding memakai game, pasti kata-kata “makian” yang keluar.

Untung saja kedua anakku tidak mempunya kecenderungan semacam itu. Akhir-akhir ini memang Riku sering berkata, “unnn ” jika mengiyakan sesuatu. Biasanya aku langsung marah dan bilang, “itu bahasa apa? unnn siapa? Mama bukan pembantu loh!”…

Kalau Kai, justru sekarang sudah mulai cerewet. Selain IYADA dan bercerita tentang taman dan kuda-kudaan di taman, dia mulai mengulang banyak kata-kata yang baru dia dengar.  Waktu di dalam mobil, aku pertama kali mendengar dia berkata : “Mama unten?” (Mama sedang menyetir?).

Memang menurut buku panduan ibu dan anak, anak seumur Kai sudah mulai memakai gabungan dua kata. “Koen itta” (Pergi Taman), “Uma notta” (Naik Kuda)… belum bisa memakai partikel ke, di, dari.

Tapi tadi malam aku merasa senang. Waktu aku membacakan dongeng “Hanasaka Jiisan” (Kakek yang memekarkan bunga), diceritakan bahwa ada anjing kecil yang hanyut di sungai dan dipungut oleh nenek. Anak anjing itu dipelihara nenek. Dan waktu Kai melihat si anjing sudah besar, dia berkata: “Ookiku natta” (Menjadi besar) yang menurut tata bahasa sebetulnya sudah cukup sulit. Untuk umur dia biasanya cukup dengan “ookii inu” Anjing besar.

Well, Kai, kamu juga sudah menjadi besar loh… Kai mo ookiku Natta yo. Mama sudah tidak kuat lagi gendong kamu yang 14 kg lama-lama. Karena tadi naik bus dalam salju ya terpaksa mama gendong sebentar, dan hasilnya sekarang kaki kiri mama sakit lagi deh…

Kai dan salju, mau berangkat ke penitipan naik bus

Si riku juga sudah menjadi besar. Seminggu lagi dia ulang tahun ke 7. Bajunya sekarang untuk ukuran anak setinggi 140-150 cm (padahal dianya sendiri baru 120-an), karena badannya bongsor. Beratnya 33 kg saja! Duh, jangan harap deh mama bisa gendong kamu lagi. Wong pangku kamu aja udah sulit euy. Meskipun kadang aku masih mau manjakan dan cium-cium dia, dan dia masih mau…. Sebentar lagi pasti bilang, “Apaan sih mama cium cium… malu kan!” hihihi….