Tabu atau pamali

(hari ini rajin euy… ini posting ke dua hari ini setelah Celana Buruh hihihi)

Pagi dini hari tadi, sebuah truk menabrak kereta servis dari Line Seibu Shinjuku. Kejadian pada pukul 3 dini hari menyebabkan jadwal kereta terganggu, dan baru bisa teratasi pukul setengah 11 pagi. Ya, memindahkan kereta yang terguling tidaklah mudah. Aku juga pernah mengalami berada dalam kereta sesudah kereta yang mengalami kecelakaan tertabrak truk di lintasan kereta, dan untuk pulih butuh waktu 9 jam! Aku sendiri terpaksa cari jalan lain, termasuk naik taksi untuk bisa pulang kemudian menjemput Riku yang waktu itu kutitipkan di penitipan bayi dekat stasiun rumah kami.

Jalur kereta itu harus digunakan Gen untuk pergi ke kantor. Dan untung saja kejadiannya hari ini, karena kebetulan kemarin dia naik kereta (biasanya naik mobil, tapi sekarang aku pinjam mobilnya setiap hari Senin untuk mengajar). Coba seandainya Gen naik kereta pasti akan terlambat sekali sampai ke universitas. Dan aku baca juga kebetulan ada beberapa sekolah di jalur kereta Seibu Shinjuku Line ini ada yang mengadakan ujian masuk, sehingga tentu saja kasihan anak-anak yang akan ujian tapi terlambat. Dan untuk mengantisipasinya sekolah-sekolah itu memperlambat jam mulai ujian.

Waktu membaca soal ujian ini, saya teringat dengan percakapan induk semang saya pada anaknya yang akan ujian masuk universitas waktu itu.
“Hati-hati di jalan (waktu itu bersalju) dan selamat ujian ya Nak”
“Terima kasih bu”
Kemudian nenek bercerita, “Iya kasian ya, saya pernah baca banyak kejadian anak-anak yang akan ujian menjadi gagal karena mereka sakit, atau jatuh di jalan yang bersalju”
Mendengar itu si Ibu (anak si nenek ini) marah dan berkata:
“Nenek jangan cerita yang begitu dong. Menurunkan semangat saja. Kalau hal-hal buruk itu terjadi pada anakku bagaimana. Sebelum ujian lagi bicaranya…. bla bla bla”
“Loh saya kan tidak bilang hati-hati jangan terpeleset! Saya hanya cerita saja kok”
Bertengkarlah mereka.

Memang dalam bahasa Jepang,  jangan terpeleset (suberanaiyouni) 滑らないように, Jangan jatuh (ochinaiyouni) 落ちないように tidak pantas atau tabu digunakan dalam percakapan orang yang akan ujian. Karena ada pemikiran kalau berkata “Jangan begini begitu”, biasanya JUSTRU akan terjadi. Kalau berkata “Jangan terpeleset/ Jangan jatuh” nanti akan terjadi, dan ujiannya gagal.

Dalam upacara pernikahan juga dilarang menggunakan kata-kata seperti potong (kiru) 切る, berpisah (wakareru/hanareru) 別れる, 離れる Kata-kata yang negatif seperti itu tabu digunakan di Jepang. Tabu dalam berbahasa seperti ini apakah ada di Indonesia ya? Mungkin saja ada karena tiap daerah yang memakai bahasa daerah, mungkin melarang pemakaian kata-kata tertentu dalam suatu tindakan. Hanya saja biasanya tabu juga menjadi banyak jika mengaitkan dengan pakaian atau sikap, faktor-faktor di luar bahasa.

Tapi mungkin sebagai sharing pengalaman mengenai tabu bahasa ini, aku ingin menuliskan tentang “sakit hati” mama terhadap orang Makassar. Waktu aku berusia 6 bulan, mama membawaku ke Bantaeng (Sulsel) bertemu dengan mertua (kakek dan nenekku) yang kebetulan berada di sana. Setiap orang makassar yang melihat bayi imut (ehm ehm) Imelda ini berkata:
Aduh busukna!” sambil cium-cium dan cubit-cubit diriku.
Semua orang yang mendekat pasti berkata “busukna”, padahal mama yakin aku tidak sedang beol, atau belum mandi atau bau muntah. Kenapa mereka semua bilang busuk? Sakit hati deh mama. Baru setelah bertanya pada papa, baru tahu bahwa orang Makassar itu berbicara KEBALIKANNYA. Mungkin buat mereka pamali menyebutkan yang bagus, dan menjadikan mama atau aku besar kepala nantinya. Aku sendiri tidak tahu apakah semua aspek disebut kebalikannya atau tidak. Kalau ya, wahhh sulit sekali untuk mengerti orang Makassar ya.

Tabu atau pamali…. pasti banyak deh dalam kehidupan kita. Tapi aku rasa unik saja jika di Jepang yang sudah maju begini, masih memperhatikan tabu dan pamali terutama pada mahasiswa yang akan ujian, atau pasangan yang akan menikah. Dan aku sendiri belum pernah mendengar orang tua Indonesia tidak mengatakan “Jangan lupa bukunya/nomor ujian/pensil” dan lain-lain hanya untuk menghindari anaknya nanti akan JUSTRU LUPA hihihi.

Di Jepang tabu untuk memberikan bunga dalam pot untuk pasien RS, karena takutnya penyakitnya akan "mengakar" dan tidak sembuh-sembuh. Jadi kalau jenguk orang Jepang bawa bunga potong ya....

(foto oleh Tadashi Miyashita – bapak mertuaku – Nikon D80)

21 gagasan untuk “Tabu atau pamali

  1. Ria

    hehehehe…cerita orang makassar memang begitu mbak, bayi gak boleh di bilang gendut nanti malah kurus katanya *aneh ya* hihihihi…

    kalau dijepang mengenal pamali juga toh…hehehehe…lucu ya 😀
    .-= Ria´s last blog ..Love and Linux =-.

    Balas
  2. koelit ketjil

    Endonesa kaya sekali dg tabu2

    tp aku gak mau membahasanya dikomen ini karena yg paling mendesak justru sebuah ungkapan dari seorang ‘guru’ teater saya yg asli perancis itu.
    setiap kami hendak perform dia selalu bilang;

    Merde! atau dlm bhsa Inggrisnya “break a leg!’

    karena katanya sangat tabu jika mengatakan “selamat dan sukses untuk pertunjukkannya ya?!” huummm… ternyta mereka juga percaya atas hal yg bebrbau tdk ilmiah ya! hehehe
    dah pernah nonton film “THE PRODUCER” ada adegan ketika mereka mau pentas tp ada yg ngucapin succes trus gak lama si pemain jatuh dari tangga and kakinya patah dan semua jd berantakan! lucu film itu
    nah seperti itulah gambarannya 😀

    tp kta si bule perancis itu, awalnya seh dr sebuah ekspresi tuk pemberian apresiasi thd sebuah pertunjukkan baik dari si performer ato penonton dg menekukan kaki sambil menunduk sedikit (seperti mematahkan kaki) ketika jamane shaksepear gtu deh

    eh tabu gak ya klo aku bilang “tulisan yg bagus!”
    😀
    .-= koelit ketjil´s last blog ..REPORTASE JALANAN II =-.

    Balas
  3. Lala

    Sama seperti komentar Ria, Sis…
    Kalo di Jawa, bayi nggak boleh dibilang “berat” saat digendong.. harus dibilang ringan…. Katanya biar nggak sakit… (tau, deh…) 😀

    Eniwei,
    Pengalaman Oma lucu banget… Nggak kebayang deh betapa betenya Oma saat itu… hihihihi… Sekarang udah nggak sakit hati, dong, Omaaa… 🙂
    .-= Lala´s last blog ..Tertatih atau Tertinggal? =-.

    Balas
  4. henny

    Aku pernah diberi nasehat;
    Jangan bertanya dihadapan bayi -pertanyaan seperti, “kalo malem tidurnya rewel gak? suka nangis gak? tidurnya larut gak? dll.” Konon katanya, itulah yg akan terjadi nantinya…. hehehe…

    Balas
  5. nanaharmanto

    Wah, Mbak…aku baru tahu lho kalau ada tabu bahasa untuk bayi di Makassar. Padahal tetanggaku dari Makassar, bayinya lucu bgt, kalau aku lg gendong2 dia ya kubilang, ih, lucu, imuuut…cantiknya…
    huaaaa…padahl nggak boleh ya? yah, abis susah mau bilang kebalikannya, soalnya bayinya bener2 imut deh,..nggak tega ngatain jelek 🙂
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Imlek =-.

    Balas
  6. nh18

    TIga Hal EM …
    #1. Ternyata di Jepang masih ada Pamali atau Tabu ya …

    #2. Saya pernah baca disuatu artikel … ketika kita menasehati anak … maka pakailah statement positif …
    “Yang baik ya nak …”
    instead of … “Jangan Nakal ya Nak …”

    #3. Saya baru tau kalau ke rumah sakit ndak boleh bawa Bunga dalam pot …
    hahaha … untungnya ini bukan kebiasaan di Indonesia …

    Salam saya EM
    .-= nh18´s last blog ..WHAT DO YOU THINK ? =-.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *