Akhirnya dia datang!

Yang pasti Riku sudah lama menunggu-nunggu kedatangannya. Ingin sekali Riku memeluknya, menggenggamnya, dan bermain dengannya. Terbayang dirinya yang lembut menawan, putih seputih kapas. Memang “dia” agak dingin tapi kehadirannya membuat hangat di hati… paling tidak untuk Riku.

Ya, Riku sudah lama menantikan salju. Tapi siang hari Senin lalu (1 Februari) hanya hujan yang turun. Aku tahu dari ramalan cuaca, tapi aku pikir baru senja hari, jadi aku tidak mengecek apakah Riku sudah membawa payung atau tidak. Padahal sejak pukul 1 siang, hujan yang dingin membasahi bumi. Sekitar jam 2:30 kulihat keluar, hujannya tetap deras… Wah pasti Riku pulang kebasahan dan kedinginan. Jadi sekitar jam 2:45 aku membawa payung Riku dan menuju sekolahnya untuk menjemput dia. Tahu-tahu di tengah perjalanan aku melihat sosok Riku memakai payung transparan berjalan terseok-seok karena membawa tas lain, sementara tangan satunya memegang payung. Rupanya bapak pembantu penyeberang jalan yang baik itu memberikan payungnya pada Riku, begitu dia melihat Riku tidak pakai payung. Ahhh kebaikan bapak itu memang terpancar dari mukanya.

Karena toh aku sudah membawakan payung Riku, jadi kami mengembalikan payung si Bapak sambil mengucapkan terima kasih, baru pulang ke rumah. Aku masih harus bersiap-siap untuk mengajar malam ini. Ya, mulai hari ini setiap senin malam sebanyak 5 kali, aku harus menggantikan guru bahasa Indonesia di Kursus Orientasi Bahasa Indonesia (KOI) , sebuah kursus yang diselenggarakan oleh KBRI bekerjasama dengan Japinda (Japan Indonesia Association) yang diadakan di Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Karena tidak ada yang menjaga anak-anak di rumah, maka anak-anak aku bawa ke SRIT itu dan aku biarkan mereka bermain selama aku mengajar 2 jam di situ.

Untuk itu aku perlu mobil, karena sulit membawa anak-anak dan barang naik kereta dan bus sampai ke Meguro. Dan sebetulnya ini merupakan kali pertama aku menyetir mobil yang baru kami beli. Temanku menanggapi kerisauan aku mengatakan, “Kan menyetir mobil apa saja sama saja”. Ya memang, tapi tidak bisa dipandang enteng jika mobil sebelumnya adalah buatan eropa dan manual, sementara mobil yang sekarang buatan Jepang dan otomatis. Stang sign yang terbalik letaknya (kiri menjadi kanan) juga stang lampu dan wiper. Karena itu aku ingin pelan-pelan saja perginya supaya terbiasa (jangan menimbulkan kecelakaan), sehingga aku memutuskan berangkat jam 4 sore.

Dalam hujan aku menjemput Kai di penitipan, dan langsung menuju ke arah Meguro. Untung jalanan tidak begitu ramai dan kami bisa sampai jam 5 di SRIT. Sementara di luar hujan deras, aku menitipkan Kai pada Mbak Ayu dan mengajar mulai pukul 6:30. Dasar Kai manja jadi kira-kira pukul setengah 8 dia menangis dan terpaksa aku mengajar sambil menggendong dia. Kai seperti koala banget saat itu, diem nempel di dadaku.

Nah, giliran sudah selesai ngajar, jam 8:40 malam lihat ke luar mulai terlihat salju turun. Salju pertama di Tokyo pada tahun 2010. Aku sempat mencatat tahun 2008 pada tanggal 3 Februari juga turun salju, jadi salju di Tokyo turun setelah 2 tahun tanpa salju. Melihat salju mulai deras aku cepat-cepat menyuruh anak-anak naik mobil, karena aku ingin sampai rumah cepat, sebelum salju menumpuk. Terus terang aku takut menyetir dalam hujan salju karena belum pernah. Setahuku di daerah bersalju seperti di Niigata, ban mobil harus diberi rantai supaya pakem mencengkeram jalanan bersalju. Kalau tidak pakai rantai akan mudah slip.

Memang karena Meguro di dalam kota, masih hangat dan salju tidak menumpuk, tapi menjauh sedikit butiran salju semakin banyak dan deras, dan anehnya kecepatan mobil juga otomatis tidak bisa lebih dari 60 km/jam. Aku selalu senang menguntit mobil besar, karena berarti salju juga “terbawa” oleh mobil besar itu, dan aku tidak perlu “membuka” jalan. Tapi 3-4 km mendekati rumahku, mobil semakin sedikit, jalanan semakin putih sehingga aku mengurangi kecepatan dan sedapat mungkin mengerem dari jauh.

Waktu kami sampai di rumah, Gen sudah pulang dan menyambut kami dengan lega. Aku hanya sempat mengirim sms bahwa kami di tengah jalan waktu lampu merah yang cukup lama. Pesan sponsor: Jangan pernah menelepon atau menulis sms sambil menyetir. Apalahi menyetir sesudah minum minuman keras. Bahaya! DON’T DO THAT.

Pemandangan dari teras rumah kami di pagi hari pukul 6:26.... Membuat ingin kemulan terus.

Well karena sudah jam 10 malam tidak sempat bermain salju dan mau memotretpun tidak bagus hasilnya. Jadi aku sempatkan memotret pemandangan fajar, pagi hari …sudah siang sih pukul 6:26 dari apartemen kami. Atap putih semua. Dan mobil semua tertutup salju. Menurut televisi, Tokyo ditutupi salju setinggi 1 cm, tapi karena daerahku adalah desa dalam Tokyo, sepertinya sekitar 5 cm deh.

Untung saja saljunya berhenti turun waktu kami bangun tanggal 2 pagi. Aku sempat bermimpi menerima telepon yang mengatakan bahwa sekolah ditutup karena hujan salju hehehhe. Jadi tanggal 2 pagi Riku dengan gembiranya pergi ke sekolah, sementara papanya manyun karena harus pergi naik bus. Berbahaya menyetir dalam keadaan tertutup salju soalnya. Dan aku juga akhirnya membatalkan penitipan Kai untuk kemarin.

Deretan mobil di parkiran kami yang tertutup salju. Supaya tidak patah, batang wiper lebih baik diberdirikan.

Salju memang indah, dan merupakan pengalaman yang mendebarkan bagi orang Indonesia…. Tapi jika sudah banyak dan sering seperti teman-teman di daerah utara Jepang, menjadi muak setiap musim dingin tiba. Apalagi kalau salju itu sudah bertumpuk sampai setinggi langit-langit. Terpaksa harus keluar rumah dari lantai dua deh. Tadi pagi saja aku sempat sebal karena tanganku membeku waktu membersihkan kaca mobil dari salju yang sudah membeku. Akhirnya aku berdua Gen membasahi seluruh kaca dengan air hangat, sehingga Gen bisa berangkat ke kantor naik mobil lagi. Kalau jalanan sih sudah bersih dari salju dan sudah bisa lewati lagi.

Lihat betapa tingginya salju menutupi kuil. Berdiri di depan adalah kakek buyut keluarga Miyashita, harus menyerok salju dari atap supaya tidak rubuh.

Mau lihat salju? Bukalah lemari pendingan “freezer” dan di kotaknya ada seperti serutan es? Ya seperti itulah salju meskipun waktu turun memang halus. Menurut ahlinya, butiran salju (disebut kristal) yang turun itu mempunyai banyak bentuk partikel tapi yang pasti bentuk dasarnya adalah segi enam.

Kristal salju, semuanya pasti segi enam. Foto diambil dari wikipedia Jepang.

35 gagasan untuk “Akhirnya dia datang!

  1. krismariana

    Salju! Aku penasaran dg salju sebenarnya. Tapi kadang nggak bisa membayangkan spt apa dinginnya saat salju turun. Di Kaliurang aja kadang aku sudah nggak tahan dinginnya. Di ruangan ber-AC kalau kelamaan jg nggak tahan. Tapi tetep pengen merasakan main-main salju. Kapan ya?
    .-= krismariana´s last blog ..Mau Nulis Seperti Apa di Blog? =-.

    Balas
  2. Oemar Bakrie

    Selama hampir 6 tahun di Paris kami juga cuma 1 kali mengalami turun salju, yaitu tahun terakhir itupun nggak banyak … Musim dingin kali ini kelihatannya jauh lebih dingin dari biasanya … samuy des …

    Balas
  3. vizon

    Bukan hanya Riku yang menunggu kedatangannya Nechan, aku juga sangat ingin dia datang di Kweni. Tapi sayang, itu hanya mimpi, hehehe… 😀
    Kalau gitu, biar aku aja yang mendatanginya di Jepang nanti ya, hahaha…

    Balas
  4. vizon

    Bukan hanya Riku yang menunggu kedatangannya Nechan, aku juga sangat ingin dia datang di Kweni. Tapi sayang, itu hanya mimpi, hehehe… 😀
    Kalau gitu, biar aku aja yang mendatanginya di Jepang nanti ya, hahaha…

    .-= vizon´s last blog ..profesor yahanu =-.

    Balas
  5. hamidah

    BBBRRRRRRRR….dingin……

    asli dari bandung tp ga kuat dingin, makanya saya senang tinggal di sidoarjo yang berudara lebih hangat

    Balas
  6. siti maslakhah

    Bagus ya Mbak kalau turun salju kayak gitu? Sama dengan yang digambarkan suami saya, dia juga bilang saljunya setebal 5 cm-an. Saya memang suka tinggal di Tokyo, semuanya serba teratur. Saya suka mendengar suara burung gagak di sana. Saya suka naik kereta dan melihat orang-orang yang berdiri tanpa berpegangan. Kok bisa ya? Hehehe… saya mencoba kok ya nggak mampu, selalu mau jatuh. Yang membuat nggak betah ya memang dinginnya. Apa-apa yang disentuh dingin. Ini membuat tidak nyaman. Tapi yang jelas, saya tetap akan merindukan suasana itu. Kapan ya saya bisa ke sana lagi?

    Balas
  7. Ria

    aku pengen liat salju mbak…kalo nunggu salju diduri sih gak akan mungkin ya 😛
    jadi aku ke jepang aja deh, i’ll be there…tunggu aku di tokyo ya mbak hehehehe
    .-= Ria´s last blog ..Sebuah Permintaan =-.

    Balas
  8. mangkum

    O kirain saljunya rutin turun tiap taun. Ternyata ngga ya?
    Kalau di Bandung suka turun hujan es batu. Lagi males, katanya, esnya belum diserut jadi salju 😛
    .-= mangkum´s last blog ..Parijs van Java Museum Tour =-.

    Balas
  9. narpen

    aduuhhh, tante…
    kira2 turun lagi ga ya februari tan? kok cuacanya sama dinginnya tapi saljunya ga turun2 lagi…
    *harap2 cemas, hahaha.. berburu nomor undian*

    Balas
  10. isnuansa

    Di Indonesia, paling-paling ngerasain hujan es aja Mbak, klothak-klothak… Kalo salju kan berasa romantis gimanaaaa gitu…

    Ngebayangin di drama jepang ato korea yang biasa ditonton aja…

    Balas
  11. Dewa Bantal

    Aku gak pernah suka Salju lho… memang waktu first snow bagus lah buat dinikmati mata. Tapi setelah itu…. kalau harus bangun subuh buat bersihin mobil… harus berpakaian lengkap buat buang sampah keluar,…. harus manasin mobil 30 menit lebih lama dari biasanya…. ugh…

    Belum lagi kalau sehari setelah salju turun. Salju tidak lagi putih, tetapi hitam, kotor, seperti endapan lumpur dipinggir2 jalan….
    .-= Dewa Bantal´s last blog ..Ganti Baju Mau Berapa Kali Sehari? =-.

    Balas
  12. Tuti Nonka

    Mbaaak …. *teriak kayak Tarzan … eh, Tarzin*

    Lama sekali nggak mampir di blog TE, sekalinya mampir disuguhi salju putih …. waw, dingiiin … 🙂
    Saya jadi ingat, pernah menulis cerpen dengan judul “Menunggu Salju Di Gunung Kidul”, doeloee … berabad yang lalu. Kok judulnya gitu? Iya, karena Gunung Kidul adalah kabupaten di DIY yang kering kerontang, sehingga menunggu salju di sana sama saja artinya dengan tidak mungkin.

    Saya pernah merasakan musim dingin, meluncur di es, dan memegang salju di Yogya. Beneran! Persisnya, ketika ada Snow World di Saphir Square beberapa tahun yang lalu … hahaha. Meskipun salju dan es ‘palsu’, lumayanlah bisa merasakan dinginnya yang luar biasa. Dan saya hanya tahan berada di dalam selama 20 menit, padahal jatahnya 1 jam … 😀
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..24 Sauh =-.

    Balas
  13. edratna

    Ahh indahnya salju……dan ahh dinginnya…brrrt…..
    Tak terbayang deh Imel….di Bandung aja kalau hujan terus menerus, kemulan terus…diketawain orang serumah…norak banget.

    Riku dewasa sekali ya….membayangkan Riku berjalan tersaruk-saruk di hujan, membawa payung, dan barang lainnya.
    Dan Kai yang menempel terus bak koala….mahasiswanya ga ada yng ingin gendong Kai?
    .-= edratna´s last blog ..Mainan baru? =-.

    Balas
  14. Nesta

    “Salju memang indah, dan merupakan pengalaman yang mendebarkan bagi orang Indonesia…. ” SETUJUUU! Gue banget gitu loh 😀

    Balas
  15. yessy muchtar

    Weh..kalo aku sih, pasti norak senorak noraknya kalo ada salju!

    hal yang sangat ingin aku lakukan kalau salju turun adalah…

    mendongakkan kepala keatas, membuka mulut lebar-lebar…dan membiarkan salju yang turun itu masuk kedalam mulutku!

    hahaha….jorokkkkkkkkkkkkk!!!
    .-= yessy muchtar´s last blog ..Lagu Minggu Ini. =-.

    Balas
  16. nh18

    Saya hanya bisa membayangkan …
    Seperti apa ya Salju itu …
    yang saya tau warnanya putih …

    Bagaimana rasanya … lembutkah … dingin kah …

    Kapan ya saya bisa menggenggam salju …

    Salam saya
    .-= nh18´s last blog ..MOTRET ARTIS =-.

    Balas
  17. Eka

    romantis deh ka imel… wah, kebayang tuh ngajar sambil ngegendong si ganteng… btw. di tsukuba saljunya tipis k, ga setebal di tokyo… udah githu, aku harus nihonggo classses pula hhehehe ga puas foto2 hhehehehe…

    Balas
  18. Bro Neo

    wah… baru sebatas mimpi utk melihat salju.. kapan yach bisa merasakan salju yang sesungguhnya??

    paling pernah lihat danau/sungai yg membeku … kalo salju turun belum pernah deh 🙁
    .-= Bro Neo´s last blog ..Teman Sekamar =-.

    Balas
  19. wita

    heheh bukan cuma RIku aja kok, aku juga kangen salju tp sebel sm shimoyake-nya huh sakit bgt! Tapi kayaknya nggak separah di Amrik kan ya? Smp disebut Snowmaggedon tuh saking tebelnya (kelebihan salju) 🙁

    Sesuatu yang berlebihan juga ternyata juga nggak baik ya hehhe :p
    .-= wita´s last blog ..Si Hijau Lumut: Kisah Sebuah Jaket =-.

    Balas
  20. Nina

    duh…mba mel, aku jadi kangen banget sama tokyo…jepang, generally….kangen sm salju nya…soalnya tahun lalu cuma dapatnya di hakuba…udah kebayang d suasana tokyo di pelupuk mataku….mudah2an d, kapan2 ada rejeki aku kesana lagi, sekalian bawa anak ku jalan2… 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *