Museum Pangeran Kecil

Pernahkah Anda begitu gembira melihat pemandangan terhampar di depan Anda, dan membuat Anda ingin kembali menjadi anak-anak? Well, kemarin Gen mengatakan begitu. Dia ingin menjadi anak-anak kembali. Tapi aku justru kebalikan, begitu aku melihat pemandangan itu, aku ingin menjadi wanita dewasa, a lady yang duduk di Terrace Cafe menikmati cappucino sambil mendengar chanson yang mengalun. Pandangan aku dan Gen memang berbeda mengenai apa yang kami lihat, padahal kami menikmati pemandangan yang sama. Mungkin karena setting dan waktu kami bertemu dengan tokoh hari ini yang berlainan.

“Le Petit Prince” yang diterjemahkan menjadi “Pangeran Kecil” dalam bahasa Indonesia (terbitan Gramedia), adalah sebuah buku karangan Antoine de Saint-Exupery. Dalam bahasa Jepang menjadi Hoshi no Oujisama 星の王子様. Buku dalam bahasa Jepang memang sudah lama kutemukan dalam rak buku kami. Yang pasti sudah 10 tahun berada di apartemen kami, selama usia pernikahan Gen dan aku. Dari covernya seperti ehon atau picture book, tapi terlalu banyak kata-kata, sehingga terus terang, tidak menarik aku untuk membacanya.

Aku tak mengira bahwa buku ini sudah diterjemahkan dalam 108 bahasa!

Aku bertemu dengan buku ini kedua kalinya, waktu Yoga meminjamkannya  waktu aku mudik bulan Februari tahun lalu. Dia sangat merekomendasikan buku ini, dan memperbolehkan aku memilikinya.

Buku “Le Petit Prince” menurut wikipedia Jepang, telah terjual 80 juta exemplar di seluruh dunia, dan di Jepang saja terjual 6 juta exemplar. Buku ini telah diterjemahkan dalam 180 lebih bahasa dunia. Menceritakan tentang pertemuan sang tokoh, seorang pilot yang sedang membetulkan pesawat dengan seorang pangeran kecil dari planet kecil.

Seperti yang telah dikatakan  Saint-Exupery dalam halaman persembahannya, dia menulis buku itu untuk seorang dewasa bukan kepada anak-anak (padahal ini adalah buku cerita anak-anak). Karena katanya, orang dewasa yang bernama Leon Werth, adalah sahabat terbaiknya di dunia, yang memahami segalanya bahkan buku anak-anak… dan dia tinggal di Perancis dengan kelaparan dan kedinginan, sehingga membutuhkan banyak hiburan. Well aku juga merasa tulisannya ini sulit. Pertama membaca tulisannya, terus terang aku tidak mengerti. Tidak mengerti jalan ceritanya. Meskipun aku menangkap beberapa filosofis pemikiran yang ada.(Karena tulisan ini tentang museumnya, maka aku tidak menulis isi buku secara detil)

Dengan berbekal cerita yang telah kubaca sampai halaman 90, dan tidak bisa kumengerti seluruhnya itu, aku memasuki “Le Petit Prince Museum”, yang terletak di Hakone, masih masuk perfektur Kanagawa, kemarin sore (11 Januari 2009). Museum ini didirikan tahun 1999, untuk memperingati 100 th hari lahir Saint- Exupery. Dan perlu kuwanti-wanti bagi yang mau ke museum ini. Bacalah dulu ceritanya, meskipun tidak mengerti. Akan lain sekali pandangan orang yang sudah pernah membaca dan hanya sekedar tahu judul saja. Dan aku beruntung sudah membacanya.

Setelah kami membayar 300 yen untuk parkir, kami langsung turun dan berpotret di depan kolam dengan patung Prince di atas planetnya. Ya, aku mengerti bahwa Prince tinggal di planet kecil dengan bunga mawarnya. Lucunya waktu itu ada seorang ibu yang sedang memotret suaminya dan bayinya. Lalu aku menawarkan untuk memotret mereka bertiga. Sebagai balasannya, kami berempat dipotret mereka. Jarang sekali kami mempunyai foto berempat.

Berfoto di depan kolam Prince dengan Planetnya

Hakone terletak di gunung, sehingga lebih dingin dari Tokyo. Dan kami bisa melihat air di dalam kolam membeku menjadi es. Yang juga membuat aku senang adalah Kai. Dia tanpa malu dan takut, jalan sana sini menyusuri tempat-tempat yang luas, yang masih berada dalam jarak pandang kami. Biasanya di Tokyo semua serba sempit, tapi di sini luas dan tidak berbahaya (pengunjungnya juga sedikit).

Kami membeli karcis, yang cukup mahal menurut kami. Untuk dewasa 1500 yen dan anak-anak 700 yen (Kai tidak membayar). Di sebelah kiri tempat penjualan tiket, kami disambut dengan taman mawar dalam lorong, yang akan membawa kami ke sebuah perkampungan di Perancis sana.

Mulai di sini kami senang sekali. Betapa sebuah pemandangan bisa membuat hati damai dan tentram. Dari pagar terlihat pohon Natal besar di tengah taman. Ada beberapa point di taman yang memberikan kesan perancis yang kental. Diselang-seling dengan patung Pangeran juga hints dari latar belakang si pengarang, Saint-Exupery. Deretan rumah bagaikan di provence itu membuatku ingin berwisata ke Perancis lagi.

Menaiki setapak berbatu menuju halaman tengah, kami ditemani alunan chanson, lagu berbahasa Perancis. Wahhh, aku jadi ingin belajar bahasa Perancis nih!(Sambil ingat ada CD learn French yang pernah kubeli dan belum dibuka).  Padahal sebelum ini aku malas berhubungan dengan segala yang Perancis. Whew, aku memang suka Eropa yang bersejarah itu.

Ada sebuah gereja di sebelah kanan taman, yang tidak kuingat muncul di mana dalam buku. Gen juga tidak ingat, sehingga kami berpendapat ini hanyalah tambahan supaya lebih berkesan alami. Patung Sang Raja, Geografer, Sang Pengusaha dan lain-lain, karakter yang keluar di dalam buku.

Setelah puas bermain di taman tengah itu, kami masuk ke gedung yang bernama “Theater du Petit Prince”. Begitu masuk kami disambut dengan model pesawat terbang berwarna merah. Kabarnya ini adalah pesawat yang biasa dikemudikan Saint-Exupery, yang di kenyataan juga pilot itu.

Kemudian kami masuk ke dalam sebuah ruangan dengan interior putih bagaikan Gurun Sahara. Kami disuguhkan film yang menceritakan tentang buku dan juga latar belakang si penulis, Saint-Exupery. Cukup dengan menonton film ini, aku merasa “terbuka”, yang tidak kumengerti di dalam buku, aku bisa melihat dengan lebih jelas. Wahhh buku itu memang BUKAN untuk anak-anak, itu filosofi hidup yang bagus untuk orang dewasa. (Believe it or not, sebelum menulis ini aku sempat mengulang membaca 108 halaman buku itu, dan gembira aku bisa mengerti apa yang tersirat dan tersurat).

(kiri – gambar “menakutkan”, dan kanan: “Gambarkan aku biri-biri”, yang aku rasa lucu kenapa pakai biri-biri ya? bukan domba terjemahannya hihihi)

Setelah menonton film tentang buku dan pengarangnya, kami mengikuti petunjuk dan menuju ke museum sesungguhnya. Di dalam museum, kami tidak boleh memotret. Sayang sekali, karena banyak yang bisa dipakai sebagai penjelasan terutama mengenai perjalanan sang Pengarang yang mati muda itu. Kami bisa melihat bagaimana kantor dan tempat tinggalnya di gurun Sahara, di Buenos Aires, waktu perang dunia, waktu Hitler berkuasa, bagaimana kehidupannya di Perancis, buku-buku yang telah dikarangnya, pameran gambar-gambar yang telah dilukisnya, dan terakhir showcase buku Le Petit Prince yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Dan aku merasa sedih, tidak ada terjemahan bahasa Indonesia. (Tapi yah sulit juga kalau mau memamerkan 108 bahasa yang ada).

Keluar dari museum, kami kembali mengelilingi kompleks, dan melihat detil-detil tempat yang berada dalam buku. Dan kami keluar sampai ke taman dengan pohon Natal yang sebelumnya kami lihat melalui pagar. Di sebelah kanannya terdapat restoran Perancis, yang konon masakannya terkenal enak. Sayang sekali kami sudah kenyang karena sudah makan siang di tempat lain. (Untung juga sih karena biasanya makanan perancis itu mahal dan tidak mengenyangkan hihihi). Persis di sebelah restoran terdapat toko souvenir untuk oleh-oleh. Dan seperti biasa, memang pengunjung “digiring” untuk melewati toko souvenir, dan “digoda” membeli barang-barang dengan karakter Prince. Tapi…muahal, sehingga akhirnya Gen menyerah tidak membeli apa-apa. Kalau aku? Beli dong, yang termurah, yang masih kurasa berguna.

Keluar dari Toko Souvenir sudah gelap di luar. Taman depan diterangi oleh illuminasion, lampu-lampu yang menghias taman. Well, kami amat sangat terhibur dengan perjalanan hari ini. Apalagi Gen, sampai dia berkata, “Seandainya jalanan sampai Tokyo macet berkilo-kilo pun tidak apa. Aku merasa puas sekali hari ini”. Dan sambil tersenyum kami pulang ke apartemen kami yang hangat…. dalam waktu kurang dari 3 jam.(tidak macet dan ditambah makan malam di tengah perjalanan)

Tulisan ini seharusnya adalah bagian ke tiga dari perjalanan kami kemarin. Ada lagi dua tempat yang kami kunjungi sebelum ini, tapi aku sendiri sudah tidak sabar untuk menuliskan tentang Pangeran Kecil pembawa magic ini untuk sahabatku Yoga yang sudah memperkenalkanku padanya, juga untuk Koelit Ketjil yang sedang memvisualisasikan cerita Pangeran Kecil bersama anak-anak korban gempa. Supaya adil, aku juga menuliskan ini untuk Kika Syafii, yang aktif dalam program healing anak-anak korban gempa. Kami mau semua anak-anak korban gempa…. BERGEMBIRAAAAAA….

On ne voit bien qu’avec le cœur, l’essentiel est invisible pour les yeux. (Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik-baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting dalam kehidupan tidak terlihat oleh mata.)


35 gagasan untuk “Museum Pangeran Kecil

  1. Yoga

    Aku mau teriak senang dulu… ahahahhaha… :))
    Makasih mbak. Le Petit Prince ini sangat indah, meski pada akhirnya ada awan kelabu yang membuntutinya terkait dengan menghilangnya Antoine. Ada yang mengatakan beliau mengalami kecelakaan pesawat dan hilang dengan pesawatnya.

    Saat ini, Kika dan Ketjil aka Pak Dos sedang mempersiapkan kegiatan trauma healing untuk anak-anak di Padang, sedang aku? Aku mensupport sahabat-sahabatku itu semampuku. Doakan kami ya mbak. 🙂

    Sekali lagi terimakasih sudah sharing pengalaman mbak dan keluarga yang valuable banget buat kami. 🙂
    .-= Yoga´s last blog ..Curhat Tentang Buku =-.

    Balas
  2. krismariana

    Mbak Imelda, dulu aku pernah baca Pangeran Kecil ini dan seingatku aku juga nggak terlalu mudeng. Apa aku mesti mengunjungi museumnya dulu ya? Hahaha… berat di ongkos kalau sampai ke sana ya? Tapi salut deh ada museum seperti itu. Soalnya di sini kan nggak ada.
    .-= krismariana´s last blog ..Nostalgia Madiun =-.

    Balas
  3. nh18

    HHmmm …
    Saya mencoba mengerti …
    Jadi ini ceritanya dalah …
    Sebuah tempat di Jepang …
    Yang dibuat berdasarkan sebuah Buku “Pangeran Kecil”…
    Yang dikarang oleh sorang Pilot Perancis bernama Saint-Exupery
    betul begitu ya EM ?

    Waw …
    Jika sudah dibuatkan Tempat khusus / taman / musium dan yang sejenisnya …
    pastilah ini pengarang yang luar biasa …
    buku itu juga pasti luar biasa …

    Salam saya

    Salam saya
    .-= nh18´s last blog ..COMMUNICATION SKILLS =-.

    Balas
  4. frozzy

    rada OOT nih, tapi liat gambar biri-biri itu yang terbayang malah si SHIRO, makhluk berbulu berkaki empat yang suka menggonggong, dengan buntut bergoyang heboh….hihihihi
    .-= frozzy´s last blog ..KEMARAU =-.

    Balas
  5. ano cantik

    wah saya belum beli dan baca
    thanks mom. good info
    .-= ano cantik´s last blog ..3 easy steps for transferring patterns =-.

    Balas
  6. G

    >>>>>Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik-baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting dalam kehidupan tidak terlihat oleh mata.<<<<<< Sukaaaaa banget kalimat ini!!!
    .-= G´s last blog ..Jatcin & Pathat =-.

    Balas
  7. hamidah

    Iya belum pernah denger, terima kasih atas ulasannya jadi pengen baca bukunya. Hmmm tp ga ada versi indonesia ya?…

    Buku yang aku suka “toto chan”, kalo boleh diulas jg dong…hehehehheehe…. kalo tdk salah buku ini jadi buku wajib sekolah dasar.

    Balas
  8. koelit ketjil

    perkenalakanku dengan Little prince beberapa tahun yg lalu (2002an deh) sewaktu di Jogja, seorang teman merekomendasikanku tuk membacanya terlebih dia bawa embel2 “kalo ngaku aktivis anak”…. haduh! aku juga sudah menonton filmnya yg luarbiasa itu dan sekarang berusaha uk merubah wujud the little prince tuk jd naskah teater anak (doakan kami)

    ahh membaca tulisanmu semakin menyiksa aku tuk melihat langsung ke Jepang!
    aku mengangkat topi tinggi-tinggi tuk Jepang yg begitu besarnya memberikan apresiasi begitu luar biasa atas karya Antoine ini, tak hanya menghidupkan tp coba membuat lbih real dan abadi! tpaku gak mendpatkan informasi apakah meseum ini milik pribadi (orang Jepang/ Perancis) ato pemerintah Jepang dari tulisan ini. mohon infonya

    bisa jadi (aku menduga) apresisasi thd tuk penulis Jepang paling terkenal sekali pun tdk sebegini besar perhatiaan dan penghormatannya.

    “In one of the stars I shall be living. In one of them I shall be laughing” (page 73)

    terimaksih dah beri semangat tuk rampungkan naskah lewat cerita ini 🙂

    Balas
  9. olvy

    iya nih emy bener banget coz aku gag ngeh sama sekali tentang museum ini, mungkin karena ku belum baca bukunya heheheee…

    btw..apa kabar ?? kangen nih aku coz lama dah berkunjung
    .-= olvy´s last blog ..TRULY JOGJA =-.

    Balas
  10. Didien®

    kenapa ya saya tidak menyukai novel? tp sesekali coba² baca deh..hehe
    lama tak singgah , pakabar bun?semoga selalu sehat…amin

    Balas
  11. Bro Neo

    wah jd pingin baca bukunya.. pernah lihat sih tp blm baca
    dan pingin juga ke museumnya.. 🙂 smoga ksampaian

    setuju dg om NH, wah pasti keren bener buku & pengarangnya sampai dimusiumkan!! di jepang lagi.. bukan di negeri asal pengarangnya misalnya

    penasaran mode on
    .-= Bro Neo´s last blog ..(New) Kuliner Jogja =-.

    Balas
  12. Eka

    Duhhh, K Imel… jadi pengen baca lagi… dulu tugas pas kuliah, dosen yg ngajar namanya Pak Manekke Budiman… Kenal kah? Kayanya seumuran sama k Imel deh… (www.harapdiingatkalomasihmuda.com hahhahaha) love you…

    Balas
  13. isnuansa

    Sudah baca sampe halaman 90 dan nggak ngerti juga? Lhah, kok bisa Mbak?

    Trus sekilas liat-liat foto museumnya, kayaknya di mana-mana sama aja ya: museum itu sepi….

    Balas
  14. edratna

    Imel…pengin sekali melihat museum ini, pasti banyak sekali pengetahuan yang kita dapat….
    Berasa seperti berjalan disuatu perkanmpuang, suatu wilayah yang ada istananya atau kastil?

    Benar kata Gen…mungkin saya pengin jadi anak-anak lagi, menikmati dunia yang ada di museum itu dari sudut pandang anak-anak. Atau apakah cowok sering begitu ya? Suami, adikku, anakku yang sudah dewasa, terkadang membuatku terheran-heran kalau menemukan sesuatu, atau hal baru…senang sekali seperti anak-anak.

    Met Ultah Imel…..
    .-= edratna´s last blog ..Akikah Epitaph di Newseum Café: Sebuah novel yang merupakan buah permenungan, hati yang berontak, ada rasa indah dan mengharukan =-.

    Balas
  15. nh18

    EM …
    Selamat Ulang Tahun ya
    Saya nggak punya hadiah apa-apa untuk Kamu …
    Hanya Doa tulus dalam hati …
    Semoga kamu sekeluarga sehat dan bahagia selalu ya …

    Take it easy …
    Enjoy your life …
    Smile …

    Selamat ulang tahun juga untuk GEN
    semoga kalian rukun-rukun dan kompak selalu

    Salam dan Doa saya …
    .-= nh18´s last blog ..COMMUNICATION SKILLS =-.

    Balas
  16. Ria

    Mbak…the le petit prince…bagus!!!

    dan dijepang ada museumnya? wow hebring banget deh!!!
    aku nanti diajak kesana juga ya mbak kalo lagi liburan ke jepang 😛

    *semangin ingin dikirimin tiket JAL* 😀
    .-= Ria´s last blog ..For You & Our Friendship =-.

    Balas
  17. Herfina

    Mbak, saya juga pusing pas baca buku Little Prince ini untuk pertama kali, hehe.. Dan btw, saya juga suka sekali sama kutipan yg Mbak taruh di akhir itu, “One sees clearly only with the heart. Anything essential is invisible to the eyes”..

    Balas
  18. Ichsan

    Salam kenal, Mbak.

    Saya membaca buku itu saat masih SD. Terjemahan Indonesia, dan langsung jatuh cinta (seingat saya bukunya lebih tebal. tapi mungkin karena saya masih kecil, ya). Hingga hampir 25 tahun kemudian, saat saya sudah lama bekerja, saya memesan buku itu online. Saat membaca lagi buku itu, rasanya bahkan lebih bagus lagi. Kata-katanya sangat menyentuh, terutama saat Sang Pangeran menceritakan hubungannya dengan si Mawar. Saat ini saya kebetulan ada di Kyoto. Kapan2 saya ke sana, deh.

    Balas
  19. mega

    buku ini menjadi bahan skripsiku… hem smua kisah di dalamnya hanya untuk orang yg dewasa yg tidak tau bagaimana sebenarnya pemikiran anak2 padahal mereka pernah anak2… tp inti sebenarnya adalah… hahaha rahasia

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *