dan sembab lagi mataku…

Seperti biasa hari Jumat merupakan hari tersibukku. Di kala umat Islam di Indonesia merayakan Idul Adha, di negara ini waktu berputar terus tanpa ada libur hari besar keagamaan. Karena aku sekarang selalu membuka FB ku, bisa mengetahui perkembangan di tanah air, dan jadi mengetahui bahwa hari ini adalah hari Idul Kurban. Kalau dulu kadang aku terlewatkan hari-hari libur Indonesia karena memakai kalender Jepang. Posting kali ini benar-benar catatan harian dan curhat tentang kemarin.

Pagi-pagi sudah disibukkan oleh Kai yang tidak mau dilepas dari gendongan, padahal aku masih harus mempersiapkan macam-macam. Akhirnya begitu dia mau turun, aku langsung buka baju dan celananya untuk ganti baju. Tapi… dia tidak mau dipakaikan baju, dan bermain dengan Riku. Kalau terlalu lama telanjang pasti masuk angin, karena ini musim dingin. Jadi aku tanya Riku, mau ngga memakaika baju adiknya. Well…. anak sulungku ini lalu membujuk adiknya pakai baju, dan Kai mau. Senangnya diriku, dan cepat-cepat ambil kamera :D. (Jangan heran ya kalau banyak foto, soalnya kamera selalu berada di dekat meja makan hihihi). Terharu sekali aku melihatnya.

Kai memang sedang sulit diatur. Sedang masanya. Pasti dia akan berkata,”Yada…(tidak mau)” , jika disuruh sesuatu. Semua pasti melawan. Dan biasanya aku membiarkan sementara, biasanya setelah beberapa saat dia akan mengerjakan sendiri. Apalagi soal makanan, jika dia lihat kakaknya sudah makan dan enak, baru dia mau makan. Jadi pagi kemarin dia juga mulai “betingkah”. Sudah hampir jam 9 belum mau berangkat ke penitipan, padahal biasanya semangat sekali. Biarpun aku bujuk bahwa kita akan naik bus, tidak mempan juga. Aku memang bingung antara pergi naik bus atau sepeda. Karena ternyata sakit kakiku semakin menjadi, yang tadinya sebelah kiri saja, sekarang mulai menyerang sebelah kanan. Dan aku perhatikan karena aku naik sepeda dengan beban berat yaitu Kai+ belanjaan. Ketahuan deh sudah semakin tua…. hiks…

Akhirnya kami naik sepeda, karena mengejar waktu. Setelah menyerahkan Kai pada gurunya, aku titipkan sepeda ke parkiran sepeda di lantai 3. Ini juga berat karena harus mendorong sepedaku yang memang berat sampai ke lantai 3. But…apa boleh buat lah. Aku masih bisa mengejar kereta jam 10:01 dari Shinjuku! Itu targetku.

Tapi ternyata rencana tinggal rencana saja…. Seperti aku tulis di status FBku, pagi itu memang lucu, kalau kita melihat dari sudut yang lucu. Tapi kalau aku mau gerutu karena terlambat tentu tidak akan lucu jadinya. Lucu yang pertama, persis ada ibu yang duduk di depanku (aku berdiri) yang tidur sambil ngorok keras sekali. Keadaan sunyi di dalam kereta, dan perlu diketahui, bunyi kereta di Jepang tidak terlalu ribut.  Sehingga kalau ada orang kent*t keras dikit pastilah kedengaran hehehe. Yah, semua maklum sih kalau pagi hari memang sering mendengar suara dengkur seperti itu (cuman yang ini ibu-ibu sih, jadi rada aneh aja hihihi). Dan yang memang perlu diacungi jempol atas kehebatan orang Jepang adalah mereka tahu kapan mereka harus bangun! gila ngga? Si ibu ini bangun persis waktu pintu kereta membuka di stasiun terminal akhir! Saya dan pak Nanang di FB malah jadi bernostalgia kalau ketiduran di kereta pasti kelewatan 2-3 stasiun hihihi. Dasar orang Indonesia!

Nah kejadian kedua terjadi di stasiun Shinjuku. Kalau aku berlari, aku pasti bisa naik kereta jam 10:01, tapi aku tertahan…hiks. Tertahannya kenapa? Pas aku turun dari eskalator, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu di lengan jasku yang ngegandul-gandul :). Waktu aku lihat, ternyata ada HP yang nyantel di lengan jasku yang terbuat dari wool. Rupanya HP itu pakai hiasan cantelan-cantelan yang mempunyai sudut tajam. jadi nyantel deh ke jas aku. Ntah dia taruh HP itu di mana, apa di tas atau di kantongnya. Nah masalahnya aku harus bagaimana? Huh…mana buru-buru lagi. Selintas terpikir mau jatuhin aja di mana gitu, biar ada yang ketemu dan kasih ke petugas, atau taruh di kiosk mana biar ditemui petugas. Tapi…. masak sih aku gitu (iih itu setan di kepala bisa ketawa kalo aku laksanakan tuh hihihi). Jadi deh terpaksa aku pergi ke loket petugas JR (karena di kawasan JR lebih baik lapor ke situ). Mana sebelum aku yang antri untuk urusan karcis banyak lagi, terpaksa nunggu deh…. sabarr…sabarrrr…. Begitu tiba giliran aku, aku menjelaskan bla bla bla, dan hanya dijawab petugas, “Jadi barang ketinggalan ya?”
“Iya”
“OK kami simpan di sni”
thats all….. aku pikir dia akan tanya nama, alamat dan no telp segala (doooh kayak seleb aja mel hihihi) sehingga akan makan waktu (makanya aku pikir macem-macem tadi hihihi)…. ternyata tidak sama sekali.

Well, selesai urusan menyerahkan HP, aku cepat-cepat ke peron tempat aku harus berangkat dan baru ada kereta pukul 10:17 …yaaah telat deh. Apa boleh buat. Sambil mengharap murid-muridku masih menungguku. (Ada perjanjian di universitas bahwa murid harus menunggu 30 menit, setelah 30 menit guru belum datang tanpa pemberitahuan maka dianggap kelas libur). Hasilnya? Mereka masih menungguku …syukurlah. (telat 15 menit saja sih)

Pulangnya, aku belanja dulu baru jemput Kai dan naik sepeda pulag ke rumah, taruh barang-barang dan pergi jemput Riku dari les bahasa Inggris dengan mendorong Kai yang duduk di baby carnya. Sepulang dari situ, sudah capek… pek… pek…., dan seperti biasa aku taruh beberapa krupuk dan snack di meja untuk Kai dan Riku. Aku bilang pada Riku, “Mama tiduran sebentar ya, nanti kalau kamu lapar bangunin mama aja”.

Belum lama aku tiduran, Kai masuk dan menyuruh aku keluar. Dia mau memperlihatkan sesuatu. Aku bilang nanti deh Kai….Tapi Kai terus maksa, menyuruh aku berdiri. Coba bayangin, pas baru akan terlelap tidur, dibangunkan hanya untuk mempelihatkan hal yang tidak penting, yang masih bisa ditunda. Jika itu Riku, bisa diberitahu dan dia memaklumi. Tapi ini Kai, yang belum bisa mengerti bahwa mamanya lagi tidak mau diganggu, mau tidur! Jadi aku memang harus bisa menerima.

Setelah ngomel, ngedumel aku kembali lagi masuk ke dalam selimut. Sambil meredakan kemarahan dan  rasa capek yang tidak tertahankan, aku berpikir. Kapan aku bisa benar-benar istirahat dari dua anak ini? Mungkin memang perlu aku menitipkan anak-anak untuk 1-2 hari dan …getaway sendiri. Aku lalu berpikir …aduh enaknya mereka yang di Indonesia, ada pembantu, ada baby sitter, ada orang tua yang bisa dimintain tolong…sedih deh di sini sendiri. Semua harus kerjakan sendiri, merawat anak, beberes, masak juga… kalau kayak begini terus, aku bisa sakit deh. Hmmm tapi kalau dirawat di RS mungkin bisa jadi getaway juga kali ya. Cuma kasihan yang merawat anak-anak yang kasihan. Duuuh kok aku sampai berpikir “getaway” di rumah sakit sih?

DAN aku teringat pada mama. Mama juga pernah dirawat lama di RS. Hampir 2 minggu, karena terkena virus herpes yang menyerang mata. Sampai mata kiri mama hampir buta. Dan kami anak-anak tidak boleh menjenguk mama di RS, karena berbahaya jika terkena virus itu juga. Waktu itu kami dirawat oleh Oma dan Opa dari pihak papa yang tinggal di Makassar, yang datang ke Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Belanda. Hmmm aku sadar bahwa waktu mama dirawat itu pasti juga karena terlalu capek merawat kami. Waktu itu kami juga tidak ada pembantu. Sering sekali kami tanpa pembantu. Dan mungkin karena mertuanya akan datang menginap untuk waktu yang lama, mama terlalu memforsir diri sampai akhirnya jatuh sakit. Tiba-tiba aku bisa merasakan kondisi mama waktu itu. Membesarkan 4 anak sendirian. Papa lebih sering bertugas di luar negeri/luar daerah. Aku “hanya” 2 anak… duhh mama… kasian sekali mama waktu itu…. dan aku menangis terisak-isak dalam selimut. Kangen Mama!

Biasanya setelah menangis, maka perasaan bisa lebih lega. Tapi waktu aku masih menangis sesegukan begitu, Riku datang dan berkata,
“Mama, aku bisa mengerti perasaan mama…. Mama capek padahal Kai mau kasih bangun terus kan. Riku ngerti. Tapi mama jangan nangis dong. Riku sedih kalau lihat mama nangis. Mama benci Riku juga?”
Aduuuuh sulungku ini mau menghibur aku…. tambah deh mewek nya…

“Riku, mama nangis bukan karena mama capek. Ya mama capek juga. Tapi lebih karena mama ingat oma yang dulu juga pasti capek membesarkan anak-anak sendirian. Mama sayang Riku. Riku permata mama… Riku waktu kecil jarang nakal dan melawan mama.” Aku peluk Riku. Tapi si unyil satu tidak suka melihat aku memeluk Riku, lalu bilang…”Kai ..kai” dia minta dipeluk juga. OK aku peluk. Kata Kai “Kai.. Mama…Riku… san (tiga)” Benar seperti segitiga deh. Dan tentu saja si Kai tidak mengerti apa-apa selain, dia juga mau “keberadaan”nya diketahui dan iri pada Riku.  Akhirnya aku bermain dengan Kai dan Riku, dan tidak jadi tidur meskipun masih di tempat tidur.

Setelah Kai dan Riku keluar kamar (tentu saja untuk menonton TV lagi), aku masih leyeh-leyeh sambil mikir mau masak apa. Tiba-tiba Riku datang dan bilang padaku;
“Mama, mama selalu bantu Riku. Nanti di kemudian hari, tidak tahu akan seperti apa dan bagaimana, tapi Riku akan bantu mama terus. Cerita sama Riku ya. Jadi mama jangan sedih. Kalau mama sedih Riku ikut sedih… (dan dia mulai menangis) ” Duuuh anakku kamu itu baru umur 6 tahun (3 bulan lagi 7 th). Sambil peluk dia aku berkata,
“Iya Riku, Mama ngga sedih lagi. Nanti kalau ada apa-apa Mama akan bicara sama Riku. Curhat dan diskusi sama Riku. Riku mau dengerin mama ya? ”
“Iya dong. Mama pasti cerita sama Riku ya…”
“Iya sayang. Mama sayang Riku (dalam bahasa Indonesia)”
“Aku juga sayang mama” (dalam bahasa Indonesia… ahhh kata sayang memang paling enak pakai bahasa Indonesia. Kai pun lebih tahu kata “sayang” daripada “suki (suka)” bahasa Jepang. Khusus untuk perasaan seperti cinta dan sayang, bahasa Jepang kalah dari bahasa Indonesia.)

Dengan mata bengkak, aku mempersiapkan makan malam untuk Kai dan Riku, sambil berpikir aku harus tulis peristiwa malam ini. Sebagai kenang-kenangan untuk Riku di masa depan, jika dia baca kelak, bahwa aku menghargai dia yang sangat memperhatikan dan menyayangi mamanya. Bukan untuk pamer tentang hubunganku dan sulungku, tapi hanya sebagai kenangan saja. Sebagai reminder. Supaya jangan aku lupa bahwa aku punya dua anak yang membutuhkan aku. My precious Jewels.

Dan waktu Gen pulang pukul 11 malam, aku tidak bisa bercerita ttg hal ini karena Kai masih bangun dan menyita perhatian papanya terus. Udah gitu Gen ternyata sudah makan di kantor… tahu gitu kan aku makan sama anak-anak 🙁  Dan malam itu kami terpaksa bangun dua kali, pertama karena Kai muntah akibat terlalu banyak gerak, dan sekitar jam 3 karena dia hanya mau minum susu di botol yang bergambar Mickey. Duuuh kai..kai… Cinta banget dia sama Mickey.

35 gagasan untuk “dan sembab lagi mataku…

  1. henny

    Bukan untuk pamer tentang hubunganku dan sulungku..

    Waktu membaca ini, aku gak ngerasa mbak Imel pamer kok… tapi aku sangat terharu akan perhatian dan kasih sayang Riku ke Mama, bisa membujuk adik Kai ‘lagi!… Sungguh halus budi pekerti Riku! Mama pun jadi bahagia… padahal dari faktor usia yg masih begitu muda, biasanya cenderung cuek dan kurang bisa ‘membaca’ situasi…

    Moga-moga mata Mbak Imel udah gak bengkak lagi ya…!
    Salam sayang!

    Balas
  2. henny

    Oya, soal hp yang ngegandul-gandul… aku jadi ingat dgn hp ku yang diambil orang padahal udah ditaruh didlam lemari… aku sempat kesal dan berpikir kejujuran sudah semakin menguap… Mbak Imel, Thanks ya… udah ngasih contoh yg baik buat para pembaca hehehe Biarlah orang berbuat curang (*krn udah ngambil hp ku*), tapi aku akan niru perbuatan mbak Imel…
    .-= henny´s last blog ..Waah…. Selamat meluruskan pinggang buat semua yg menikmati Long Weekend… =-.

    Balas
  3. fatma

    love you riku-chan!!!
    salut juga untuk mba imelda dan mas gen (hehehe,,mas dari hongkong!!)
    karena sukses mendidik anak dengan baik..

    saya percaya riku bersikap demikian karena didikan yang baik dari kedua orang tuanya
    masih kecil tapi sudah ngemong adiknya pleus “ngemong” mamanya, hehehe
    i believe he’s gonna be a gentleman someday…
    .-= fatma´s last blog ..boyz II men-tracks of my tears =-.

    Balas
  4. Radesya

    Jadi terharu baca ini, Riku pintar banget ya…

    Aku jadi bisa merasakan apa yang tante rasakan, semua harus dikerjakan sendiri.., apa kakinya masih sakit? Tante rendam pake air hangat ja

    semoga Tante selalu sehat, jangan sakit ya.., ayo semangat! Jadi mama yang hebat buat Riku sama Kai 🙂

    Balas
  5. sakuralady

    Mba Imelda, saya passive reader, baru kali ini tinggalin comment.
    Taunya blog mba dari temen yang di Korea dan juga dikasih tau Nina Ginting.
    Salam kenal ya.. 🙂

    Si Riku so sweet banget, sensitif ama sekitarnya ya. Amazed banget pas dia bisa datang dan bilang bisa ngerti perasaan mama…
    Semoga ntar ada kesempatan bisa ketemu face to face ama mba Mel dan keluarga ya..
    .-= sakuralady´s last blog ..Small achievements =-.

    Balas
  6. Karma Suta

    * Saya yg hanya membaca saja ikut merasakan dgn sifat Riku yang sudah ndewasani….semoga kelak ia menjadi insan yang wise dan toleran, Amiin…..

    * Anak memang harta kita yang tak ternilai mbak Imel…..anakpun tahu dan mengerti apa yang orang tuanya perjuangkan siang malam….

    Balas
  7. Tuti Nonka

    Saya hanya bisa geleng-geleng salut membayangkan ribet dan capeknya Mbak Imel merawat Riku dan Kai, bekerja, juga mengurusi rumah. Sudah gitu, masih bisa nulis posting setiap hari. Ck, ck, ck …

    Mbak, pengin sejenak lepas dari kesibukan dan memiliki ‘me time’ itu sangat wajar kok. Cuma, kalau tidak ada yang menjaga anak-anak memang sulit ya. Kemungkinan terbesar sih pulkam, kan di Jakarta banyak saudara yang bisa menjaga anak-anak …
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Kopdar Yogya Berlanjut … =-.

    Balas
  8. nanaharmanto

    Mbak…awalnya aku tersenyum-senyum liat foto Riku dan Kai pakai diapers..inget insiden popok itu…
    tapi…semakin baca dan baca…..waaa…ikut terharu biru deh, terutama waktu Riku bilang
    “….aku bisa ngerti perasaaan mama….”
    “…riku akan bantu mama terus…”

    hiks…

    Riku hebat!!
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Hajatan Haji =-.

    Balas
  9. Afdhal

    THE IS BEAUTY OF ‘BERANAK’
    HALAH !!!!!
    hehehehe piss mbak…

    dengan si sulung hubungannya seperti ini, mudah2an nanti dengan si bungsu waktu gede juga punya hubungan positif dan indah seperti ini…biar lebih afdhol
    :p
    .-= Afdhal´s last blog ..Email Berantai =-.

    Balas
  10. Ria

    wahhh mbak…Riku itu wise banget ya 🙂 kalo Kai aku suka karena dia lucu sedangkan kalo Riku aku suka karena dia sangat bijaksana…aku seperti melihat dirimu dalam diri riku 🙂

    sing sabar ya mbakyu…kalau Kai dan Riku sudah besar pasti mereka akan sangat memperhatikan mamanya yg merawat mereka dari kecil…apalagi Riku…pasti dia akan jadi pemuda tampan yg baik hati 🙂
    .-= Ria´s last blog ..Koala Baruku =-.

    Balas
  11. Sigi

    Saluuuut banget deh mbak, kebayang ih betapa hecticnya lari sana sini mengurus anak dan juga pergi kerja, kejar2 kereta, belanja, masak, dll. Nenteng2 sepeda sampai ke lantai 3??!! berotot, berotot deh ya mbak.. Yes yes yes, mbak kan super woman, inget kan? hihihi
    dan Riku, omg… so sweet banget ya dia, mengayom mamanya banget, bangga ya mbak punya anak kayak gitu…

    Balas
  12. Pakde Cholik

    Kisah hiruk-pikuk itu pasti pernah dialami oleh banyak orang. Jadwal yang padat,anak-anak yang menyita perhatian dan lain sebagainya. Begitulah hidup, warna-warni yang arus kita lalui. Orang yang perjalanan hiduonya datar tentu kurang seru dan kurang asyik.
    Kuncinya ya hanya sabar dan syukur mbak.
    Salam hangat dari Surabaya
    .-= Pakde Cholik´s last blog ..Acara Unggulan Parade Puisi Cinta =-.

    Balas
  13. vizon

    perasaan ingin “berlibur” sejenak dari hiruk pikuk anak-anak memang sesekali kita rasakan. kami, terutama istriku pernah juga punya perasaan begitu. tapi begitu melihat wajah polos mereka, perasaan itupun sirna dengan sendirinya dan berganti dengan kesyukuran yang luar biasa…

    anak memang harta yang tak ternilai harganya nechan… beruntunglah kita yang diberi anugerah terhebat itu.

    salam sayang buat riku dan kai ya 🙂

    Balas
  14. D Laras H

    no comment..tapi aku terharu sekali..ingat tulisanku beberapa waktu yang lalu kan? tau persis aku sama yang kamu alami…

    Puji Tuhan, dengan sikap Riku yang sangat menolong dan membantu, tapi dua anak memang berbeda sifat…anak kembarpun belum tentu sama…sabar ya, mel…pasti ada kurang lebih nya dari tiap anak, semoga banyak lebihnya dan keduanya saling melengkapi untuk orangtuanya…

    ih tulis ‘no comment’ tapi kok ya jadi panjang..love u full deh..salam buat keluargamu…

    DL

    Balas
  15. edratna

    Riku betul-betul mengagumkan…
    Benar Imel, tulisanmu ini akan menyenangkan jika dibaca Riku dan Kai saat dewasa nanti.

    Membaca ceritamu, sungguh beruntung saya yang tinggal di Indonesia. Walau sering kelabakan saat anak-anak kecil, jika mendadak si mbak mesti pulang kampung. Akibatnya garis belakang saya banyak, dan dimaintain agar bisa saling back up…risiko nya uang yang diperoleh sebagian besar lari ke biaya operasional ini. Namun disatu sisi, uang dari kita bisa untuk menolong meningkatkan kehidupan ekonomi mereka.
    .-= edratna´s last blog ..Long week end =-.

    Balas
  16. fety

    mbak imel aku juga salut dengan orang jepang, kok yah bisa yah walaupun tidur di kereta tetap bisa bangun di saat harus berhenti di stasiun tujuan. aku? sama kayak mbak imel, selalu bangun di saat kereta sudah lewat 2 atau 3 stasiun. bahkan di stasiun terakhirpun, kadang aku masih terlelap dan dibangunin oleh petugasnya atau orang jepang yang baik hati membangunkanku 😀

    salam untuk kai dan riku, mbak 🙂

    Balas
  17. Bro Neo

    mbak em.. indah sekali perhatian riku untuk mbak em… luar biasa.. a gentleboy!!
    tulisan ini akan menjadi kenangan indah bagi riku kelak…

    tp mbak em, di kalimat terakhir.. apa tidak akan menyakiti kai kelak ya?? please di”review” lagi deh…
    .-= Bro Neo´s last blog ..Bergelayut =-.

    Balas
  18. Herfina

    huhuhu, jadi terharu.. tadi baru baca yg tentang Riku nglaporin uang 10 yen yg dia temuin ke polisi, trus skrg baca yg ini.. waa, jadi tambah penasaran sama Riku ^^ *Lama2 jadi fansnya Riku nih, hehe..
    Sepakat sama komen2 sblmnya, Riku bisa jadi seperti itu pasti karena teladan mama-papanya.. Salut Mbak!!

    Balas
  19. D Laraswati H

    aku juga kemarin mengalami Mel, tapi bukan karena anak2, melainkan karena Ibu – menyesal setengah mati aku setelah itu, kenapa aku mesti marah karena lelah mengurus Ibu padahal Ibu tidak pernah lelah mengurus aku waktu kecil 🙁 berderai derai mengingatnya, tp skrg aku lg di kantor – sabar, sabar, sabar

    Balas
  20. Anna

    hu..hu…hu…. jadi inget pernah pengen “getaway” juga, alhasil malah sakit beneran. Trus aku juga jadi inget ibu yang dulu ngerasain rewelnya aku kalo sakit. Ah, senangnya baca tulisan ini. Terima kasih banyak mbak Imel.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *