Kaki

Tadi pagi aku terpaksa mengantarkan Riku ke sekolahnya. Sudah beberapa kali dia khawatir jika datang terlambat ke sekolah. Padahal sebetulnya jika dia tidak khawatir berlebihan, dia akan tepat sampai di sekolahnya. Karena murid diwajibkan datang sebelum jam 8:30, sedangkan jarak tempuh dengan berjalan kaki dari rumah ke sekolah hanya 15 menit, paling lama. Dan biasanya Riku akan berangkat dari rumah pukul 7:45 – 7:50 an. Tapi kadangkala dia kembali karena lupa sesuatu, atau seperti tadi pagi, dia kembali untuk mengambil payung (untung juga karena pulangnya hujan cukup deras. padahal waktu berangkat tidak hujan).

Waktu itu menunjukkan pukul 8:00. Tapi dia bilang, “Kalau aku terlambat bagaimana?”… “Tadi sudah tidak ada anak sekolah di jalanan…. ” bla bla bla. Lalu aku bilang, “Jalanan kelihatan sepi, karena banyak kelas yang libur, diliburkan karena influenza. Jadi yang ke sekolah hanya anak-anak sehat, yang jumlahnya sedikit. Tidak apa…. masih banyak waktu. Tidak mungkin terlambat. Tapi…. dia mengeluh ya perutnya sakit lah ini lah itu lah. Akhirnya aku bilang, “Ya sudah tunggu mama siapkan Kai dan mama, nanti mama antar ke SD. Mama dan Kai naik sepeda, kamu jalan.”

Aku kasihan juga pada Riku, bawaannya berat sekali loh. Belum lagi hari ini musti pakai sarung tangan karena dingin.
Aku kasihan juga pada Riku, bawaannya berat sekali loh. Belum lagi hari ini musti pakai sarung tangan karena dingin.

Akhirnya aku cepat-cepat siap-siap …buru-buru (sehingga no makeup hihihi), dan mengantar Riku dulu ke sekolahnya, baru pergi ke arah stasiun mengantar Kai ke penitipan. Begitu sampai di sekolah Riku, tepat jam 8:30. Save. Lalu pergi ke Himawari, tempat penitipan Kai.

Kai selalu bergembira ke penitipan, karena dia mau bertemu dengan shensei nya. Semangat Kai yang tadi pagi membuat aku juga jadi tertular, menghadapi Riku yang merengek dengan sabar. Selesai menyerahkan Kai pada gurunya, aku menaruh sepeda di parkiran, lalu berjalan ke arah stasiun. Terus terang waktu itu aku sambil berpikir macam-macam, termasuk bagaimana cara menghilangkan kekhawatiran Riku. Dia benar-benar mirip aku. Dulu aku juga tidak mau masuk ruangan jika terlambat. Malu menjadi pusat perhatian.

Nah, karena sambil berpikir, aku otomatis berjalan ke stasiun, dan masuk ke peron dengan menyentuhkan kartu kereta otomatis ke pintu masuk. (Kartu berisi chip ini prepaid sehingga waktu masuk, akan diambil sejumlah biaya terminim, dan waktu keluar akan diambil lagi kekurangan biayanya). Untung aku mampir dulu ke wc, dan sadar bahwa aku seharusnya naik bus bukan naik kereta! hihihi. Bisa juga sih naik kereta ke tempat kerja aku, tapi muter-muter dan lebih jauh jadinya. Daripada terlambat, mendingan aku keluar lagi dan naik bus. Hebatnya di Jepang, uang yang tadinya sudah kita bayarkan, dapat diminta kembali. Tapi karena aku membayar dengan kartu, maka kartu itu perlu dimasukkan dalam komputer mereka (melalui chip reader) dan dihapus pengambilan uang waktu aku masuk. Siiip deh. Tinggal pergi ke halte bus!

Sesampai di kampus, waktu aku mau pindah ke ruang kuliah…. Tik..tik tik mulai hujan, dan bukan rintik yang bisa diabaikan. Waaah… menurut prakiraan cuaca semestinya hari ini tidak hujan. Gimana sih? Untung aku ada payung lipat dalam tas, jadi langsung memakai payung itu. Payung itu ternyata amat berguna karena ternyata hujan terus menerus, bahkan sampai waktu pulang. Dan… dingiiiiin sekali. Waktu aku browsing mencari cuaca hari ini, aku menemukan bahwa maximum temperatur hari ini adalah 9 derajat dan minimum 8 derajat. Wah ini sih sudah winter banget, padahal semestinya masih autumn kan?

Sambil kedinginan begitu, aku membayangkan kolak…. sekoteng…. pisang goreng mengepul…. makanan-makanan yang membuat hangat tubuh, dan tentu saja dari Indonesia. Apalagi ada teman yang mengingatkan tekwan, soto dan angan melayang ke restoran padang deh. Mana waktu aku belum makan siang lagi…menderita banget perut ini.

OK ok ok… aku pasti dimarahi mas trainer lagi, cerita ngalor ngidul padahal judulnya Kaki (katanya ini ciri khas aku hihihi). Mana dong kakinya? Memang Riku tadi pagi jalan kaki tapi tentu bukan itu maksudnya pasti kan? Dan mungkin berhubungan dengan sop kaki kambing yang bisa dimakan panas-panas, cocok untuk udara dingin. Ya, memang kaki di Indonesia pasti berhubungan dengan anggota badan yang dipakai untuk berjalan dan menjejak pada tanah.

Tapi dengan pengucapan yang sama, kata  KAKI di bahasa Jepang, ada dua arti, dan dua-duanya bisa dimakan.

Yang pertama adalah Kaki, yang berarti oyster, kerang. Dan oyster yang terkenal di Jepang berasal dari Hiroshima. Dimakan mentah, dengan kecap asin+cuka (ponzu)… hmmm yummy. TAPI, beresiko tinggi kena racun jika makan yang tidak segar, atau kebanyakan. Aku pernah keracunan kaki mentah (gara-gara orang Indonesia sedikit yang suka, sehingga aku  makan sekitar 5 buah). Dan keracunan kaki/oyster ini bisa mematikan. Aku juga sempat berpikir duh malu juga ya jika esoknya ada berita di koran, “Seorang mahasiswi asal Indonesia tewas karena kaki” hihihi. Well, sekarang aku bisa mesem-mesem tertawa, tapi waktu keracunan itu benar-benar sakit. Keluar dari atas dan bawah deh….

Sejak keracunan itu aku tidak mau lagi makan kaki mentah, selalu oyster goreng atau dibuat “nabe” atau rebusan. Nabe arti sebenarnya adalah panci, dan merefer pada semua masakan yang merebus bahan-bahan  dalam panci dari tanah liat. Kalau dibayangkan ya seperti Coca suki, thai suki, atau juanlo, steamboat bahasa kerennya. Cuma ya itu ciri khas nabe di Jepang adalah pancinya terbuat dari tanah liat (tentu saja sebetulnya bisa saja pakai panci biasa). Malam ini aku juga membuat nabe untuk makan malam, tapi isinya hanya tahu, jamur, wortel dan ayam.  Bumbunya hanya kaldu ikan. Musim dingin = nabe!

Nabe buatanku untuk dinner hari ini

Kaki yang satu lagi adalah nama buah. Kesemek atau buah genit kalau di Indonesia. Tapi kalau di Indonesia ciri khasnya buah ini berbedak, sedangkan di Jepang tidak. Berarti buah kesemek di Jepang memang tidak genit ya hihihi. Buah Kaki ini tergantung jenisnya ada yang berbentuk seperti kedondong,  tapi ada juga berbentuk seperti jeruk tapi agak kotak. Berwarna oranye segar, dan dimakan waktu tidak terlalu matang, karena jika terlalu matang akan menjadi lembek (istilah saya “bonyok” deh hihihi).

Buah kesemeknya Jepang. Rasanya? kalau kunyah seperti pepaya mengkal tapi manis!

Buah ini berbiji seperti biji sawo, coklat hitam dan pipih, meskipun sekarang sudah banyak kaki yang tidak berbiji. Bentuk biji kesemek ini akhirnya diadaptasi menjadi sebuah kue/snack yang disebut kaki no tane yang harafiahnya memang berarti  biji kesemek.  Tapi tentu saja biji betulannya tidak dimakan (kecuali mau jadi burung kali hihihi).

Snack kaki dan kacang
Snack kaki no tane dan kacang

Buah Kaki dan Kerang Kaki memang cocok sebagai makanan di musim Aki (gugur) . Yang satu menghangatkan (kerang kaki), dan yang satu menyegarkan (buah kaki). Keduanya juga bisa menjadi buah tangan, tapi biasanya buah kakilah yang cocok sebagai buah tangan. Yang aku heran, buah kesemek di Indonesia kemana ya? Sepertinya aku sudah tidak pernah melihatnya lagi di pasar. Atau masih ada?

NB : mengucapkan selamat kepada Septarius alias ATA chan yang berhasil menjadi komentator ke 9999, 10000 dan 10001. (hihihi kemaruk ya 😉 ) Hadiahnya Naruto, kalau suka. Kalau tidak suka ya nanti dinegosiasikan yah. Terima kasih juga untuk dukungan teman-teman lainnya yang sudah meramaikan pertarungan (hihihi lebay.com) merebutkan nomor cantik di TE.  Terus terang, kalau bisa saya ingin menunggu sampai ada yang bisa mendapat nomor 101010, dan 111111.