Arsip Bulanan: November 2009

Si hitam yang manis dan tidak manis

Hitam manis hitam manis
Yang hitam manis
Pandang tak jemu pandang tak jemu
Yang hitam manis pandang tak jemu

(Hitam Manis, Emilia Contessa)

Ayo…. Siapa yang merasa hitam? Yessy kah yang selalu mengatakan kulitnya hitam (dan manis)? Padahal jelas-jelas bukan hitam atuh, tidak seperti orang-orang dari benua Afrika sana kan? Dan bukan hitam seperti arang juga kan? Istilah uniknya…. kulit sawo matang. Hmmm yummy buah yang berkulit tipis dan halus dengan daging yang lembut dan manis. Jadi ingat mendiang Opa dan Oma Coutrier yang amat suka buah ini, sehingga setiap melihat sawo pasti saya beli dan mengenang kehadiran Opa dan Oma dalam hidupku. Kadang ikut cara oma, makan sawo matang yang sudah dimasukkan freezer… beuh seperti shorbet/frozen yoghurt deh. Sayang di Jepang tidak ada, dan di Jakarta pun tidak setiap saat ada.

Tuh kan ngga fokus lagi. Aku cuma mau cerita bahwa hari Kamis yang lalu aku ketemu dua roti hitam. Benar-benar hitam. Dan aku coba membelinya untuk makan siangku di kampus.

Yang sebelah kiri adalah “Ikasumi Pescatore” . Ika (jp) = cumi-cumi, sumi (jp)= tinta, pescatore (italia) =nelayan. Biasanya kalau memesan spaghetti pescatore kita akan diberikan spaghetti dengan base tomat dan berisi seafood (kerang, cumi,udang) . Nah bisa terbayang kan rasa roti ini? Untung tidak amis dan pakai keju. Ah mungkin kalau bologneis (meat sauce) aku akan lebih suka. Ini memang hitam yang tidak manis!

Yang sebelah kanan adalah coklat hitam dengan isi coklat putih. Kalau ini yummy sekali (emang penggemar coklat sihhh). Hitam tapi tidak pahit, bahkan boleh dibilang manis (enaknya coklat di Jepang tidak pernah “terlalu” manis untukku… maklum orang Jepang tidak suka gula, tidak seperti orang Jawa yang kebanyakan pakai 2-3 sendok teh gula untuk teh/kopinya. Aku? cukup satu sendok saja). Kalau lihat gambar yang kanan, jadi teringat lagu dari Benyamin yang berjudul “Item Manis”…emang yang putih cuma giginya ya 🙂

Item bukan bukan sembarang item
Biar item puti dalemnye
Nyang gua tau smuanye item
Nyang puti cuman giginye

Aku mau membandingkan lagi dua makanan yang hitam juga. Masih dari tinta cumi, yaitu Ikasumi Spaghetti. Benar-benar hitam deh. Tapi kalau aku mau pesan Spaghetti tinta cumi ini, pasti dimarahin Gen, karena katanya cuma orang yang iseng yang pesan spaghetti itu. Hmmm memang bukan favorit saya, tapi saya suka kok tinta cumi. Pernah masak tumis cumi? Kalau di keluargaku di Jakarta duluuuu sekali cukup sering menumis cumi. Makan dengan nasi panas uuuh yummy loh. Tapi memang di Indonesia tidak ada cumi yang sebesar cumi di Jepang. Cumi kecil di Jepang namanya “hotaru ika” (cumi kunang-kunang).

Kalau foto kiri atas adalah spaghetti tinta cumi, hitam yang tidak manis, maka yang sebelah kanannya hitam yang manis. (Untung aku pakai baju merah ya, jadi kelihatan es krimnya hihihi. Ayoooo yang manis eskrimnya atau aku? hehehe) . Eskrim yang sedang aku dan Riku makan bukan eskrim tinta cumi. Tadinya memang aku pikir tinta cumi, karena cuma tinta tinta cumi yang bisa membuat warna sehitam ini. Ternyata waktu aku pesan, namanya Kurogoma softcream, Es krim Wijen Hitam. Wijen memang ada yang putih dan ada yang hitam. Rasanya enak loh… ya seperti peanut butter deh hehehe. Eskrim ini saya beli di Ice Cream City, Sunshine Building Ikebukuro seharga kira-kira 400 yen (lupa persisnya).

Selain dodol, baik dodol garut atau dodolnya Jepang (youkan) yang berwarna hitam, bubur/tape ketan hitam (aku baru ingat pernah dibawakan kue ketan hitam buatan Wita di jakarta…enak!), Madumongso (aduuuh pengen banget nih Madumongso, sayang aku tidak bisa bikin tape ketan karena tidak ada raginya), apalagi ya makanan yang berwarna hitam pekat?

Well, setelah aku pikir, hitam yang manis ternyata lebih banyak daripada hitam yang tidak manis. Jadi berbanggalah mereka yang merasa hitam coklat sawo matang deh … Dan aku mau mengucapkan Selamat Ulang Tahun untuk seorang sahabat yang berkulit sawo matang juga di Jakarta, yang sedang berwisata dengan suami tercinta ke “hometown” nya di Yogya. So, Eka Situmorang Sir, Selamat ulang tahun yang ke 17 (always seventeen) tanggal 27 November yang lalu. Semoga Tuhan selalu menyertai dan membimbing langkah hidupmu ya dik. Mau pilih makanan hitam yang mana nih? Kalau eskrim pasti lumer sesampai di Jakarta, jadi jangan pilih eskrim ya hehehe.

Postingan ini merupakan postingan yang ke 666. Sebetulnya Ata-chan berpesan padaku, “Mbak postingan nomor 666 cerita yang horor dong” hehehe. Tapi karena aku sudah pernah cerita tentang  Obake (hantu) , jadi bingung deh mau cerita tentang apa. Jadi postingan ke 666 juga rada telat, seharusnya bisa di publish kemarin-kemarin hehehe.  Cullen? Ah …biar saja Cullen direbut cewe-cewe Indonesia, tidak masuk ke list aku tuh hahaha.

dan sembab lagi mataku…

Seperti biasa hari Jumat merupakan hari tersibukku. Di kala umat Islam di Indonesia merayakan Idul Adha, di negara ini waktu berputar terus tanpa ada libur hari besar keagamaan. Karena aku sekarang selalu membuka FB ku, bisa mengetahui perkembangan di tanah air, dan jadi mengetahui bahwa hari ini adalah hari Idul Kurban. Kalau dulu kadang aku terlewatkan hari-hari libur Indonesia karena memakai kalender Jepang. Posting kali ini benar-benar catatan harian dan curhat tentang kemarin.

Pagi-pagi sudah disibukkan oleh Kai yang tidak mau dilepas dari gendongan, padahal aku masih harus mempersiapkan macam-macam. Akhirnya begitu dia mau turun, aku langsung buka baju dan celananya untuk ganti baju. Tapi… dia tidak mau dipakaikan baju, dan bermain dengan Riku. Kalau terlalu lama telanjang pasti masuk angin, karena ini musim dingin. Jadi aku tanya Riku, mau ngga memakaika baju adiknya. Well…. anak sulungku ini lalu membujuk adiknya pakai baju, dan Kai mau. Senangnya diriku, dan cepat-cepat ambil kamera :D. (Jangan heran ya kalau banyak foto, soalnya kamera selalu berada di dekat meja makan hihihi). Terharu sekali aku melihatnya.

Kai memang sedang sulit diatur. Sedang masanya. Pasti dia akan berkata,”Yada…(tidak mau)” , jika disuruh sesuatu. Semua pasti melawan. Dan biasanya aku membiarkan sementara, biasanya setelah beberapa saat dia akan mengerjakan sendiri. Apalagi soal makanan, jika dia lihat kakaknya sudah makan dan enak, baru dia mau makan. Jadi pagi kemarin dia juga mulai “betingkah”. Sudah hampir jam 9 belum mau berangkat ke penitipan, padahal biasanya semangat sekali. Biarpun aku bujuk bahwa kita akan naik bus, tidak mempan juga. Aku memang bingung antara pergi naik bus atau sepeda. Karena ternyata sakit kakiku semakin menjadi, yang tadinya sebelah kiri saja, sekarang mulai menyerang sebelah kanan. Dan aku perhatikan karena aku naik sepeda dengan beban berat yaitu Kai+ belanjaan. Ketahuan deh sudah semakin tua…. hiks…

Akhirnya kami naik sepeda, karena mengejar waktu. Setelah menyerahkan Kai pada gurunya, aku titipkan sepeda ke parkiran sepeda di lantai 3. Ini juga berat karena harus mendorong sepedaku yang memang berat sampai ke lantai 3. But…apa boleh buat lah. Aku masih bisa mengejar kereta jam 10:01 dari Shinjuku! Itu targetku.

Tapi ternyata rencana tinggal rencana saja…. Seperti aku tulis di status FBku, pagi itu memang lucu, kalau kita melihat dari sudut yang lucu. Tapi kalau aku mau gerutu karena terlambat tentu tidak akan lucu jadinya. Lucu yang pertama, persis ada ibu yang duduk di depanku (aku berdiri) yang tidur sambil ngorok keras sekali. Keadaan sunyi di dalam kereta, dan perlu diketahui, bunyi kereta di Jepang tidak terlalu ribut.  Sehingga kalau ada orang kent*t keras dikit pastilah kedengaran hehehe. Yah, semua maklum sih kalau pagi hari memang sering mendengar suara dengkur seperti itu (cuman yang ini ibu-ibu sih, jadi rada aneh aja hihihi). Dan yang memang perlu diacungi jempol atas kehebatan orang Jepang adalah mereka tahu kapan mereka harus bangun! gila ngga? Si ibu ini bangun persis waktu pintu kereta membuka di stasiun terminal akhir! Saya dan pak Nanang di FB malah jadi bernostalgia kalau ketiduran di kereta pasti kelewatan 2-3 stasiun hihihi. Dasar orang Indonesia!

Nah kejadian kedua terjadi di stasiun Shinjuku. Kalau aku berlari, aku pasti bisa naik kereta jam 10:01, tapi aku tertahan…hiks. Tertahannya kenapa? Pas aku turun dari eskalator, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu di lengan jasku yang ngegandul-gandul :). Waktu aku lihat, ternyata ada HP yang nyantel di lengan jasku yang terbuat dari wool. Rupanya HP itu pakai hiasan cantelan-cantelan yang mempunyai sudut tajam. jadi nyantel deh ke jas aku. Ntah dia taruh HP itu di mana, apa di tas atau di kantongnya. Nah masalahnya aku harus bagaimana? Huh…mana buru-buru lagi. Selintas terpikir mau jatuhin aja di mana gitu, biar ada yang ketemu dan kasih ke petugas, atau taruh di kiosk mana biar ditemui petugas. Tapi…. masak sih aku gitu (iih itu setan di kepala bisa ketawa kalo aku laksanakan tuh hihihi). Jadi deh terpaksa aku pergi ke loket petugas JR (karena di kawasan JR lebih baik lapor ke situ). Mana sebelum aku yang antri untuk urusan karcis banyak lagi, terpaksa nunggu deh…. sabarr…sabarrrr…. Begitu tiba giliran aku, aku menjelaskan bla bla bla, dan hanya dijawab petugas, “Jadi barang ketinggalan ya?”
“Iya”
“OK kami simpan di sni”
thats all….. aku pikir dia akan tanya nama, alamat dan no telp segala (doooh kayak seleb aja mel hihihi) sehingga akan makan waktu (makanya aku pikir macem-macem tadi hihihi)…. ternyata tidak sama sekali.

Well, selesai urusan menyerahkan HP, aku cepat-cepat ke peron tempat aku harus berangkat dan baru ada kereta pukul 10:17 …yaaah telat deh. Apa boleh buat. Sambil mengharap murid-muridku masih menungguku. (Ada perjanjian di universitas bahwa murid harus menunggu 30 menit, setelah 30 menit guru belum datang tanpa pemberitahuan maka dianggap kelas libur). Hasilnya? Mereka masih menungguku …syukurlah. (telat 15 menit saja sih)

Pulangnya, aku belanja dulu baru jemput Kai dan naik sepeda pulag ke rumah, taruh barang-barang dan pergi jemput Riku dari les bahasa Inggris dengan mendorong Kai yang duduk di baby carnya. Sepulang dari situ, sudah capek… pek… pek…., dan seperti biasa aku taruh beberapa krupuk dan snack di meja untuk Kai dan Riku. Aku bilang pada Riku, “Mama tiduran sebentar ya, nanti kalau kamu lapar bangunin mama aja”.

Belum lama aku tiduran, Kai masuk dan menyuruh aku keluar. Dia mau memperlihatkan sesuatu. Aku bilang nanti deh Kai….Tapi Kai terus maksa, menyuruh aku berdiri. Coba bayangin, pas baru akan terlelap tidur, dibangunkan hanya untuk mempelihatkan hal yang tidak penting, yang masih bisa ditunda. Jika itu Riku, bisa diberitahu dan dia memaklumi. Tapi ini Kai, yang belum bisa mengerti bahwa mamanya lagi tidak mau diganggu, mau tidur! Jadi aku memang harus bisa menerima.

Setelah ngomel, ngedumel aku kembali lagi masuk ke dalam selimut. Sambil meredakan kemarahan dan  rasa capek yang tidak tertahankan, aku berpikir. Kapan aku bisa benar-benar istirahat dari dua anak ini? Mungkin memang perlu aku menitipkan anak-anak untuk 1-2 hari dan …getaway sendiri. Aku lalu berpikir …aduh enaknya mereka yang di Indonesia, ada pembantu, ada baby sitter, ada orang tua yang bisa dimintain tolong…sedih deh di sini sendiri. Semua harus kerjakan sendiri, merawat anak, beberes, masak juga… kalau kayak begini terus, aku bisa sakit deh. Hmmm tapi kalau dirawat di RS mungkin bisa jadi getaway juga kali ya. Cuma kasihan yang merawat anak-anak yang kasihan. Duuuh kok aku sampai berpikir “getaway” di rumah sakit sih?

DAN aku teringat pada mama. Mama juga pernah dirawat lama di RS. Hampir 2 minggu, karena terkena virus herpes yang menyerang mata. Sampai mata kiri mama hampir buta. Dan kami anak-anak tidak boleh menjenguk mama di RS, karena berbahaya jika terkena virus itu juga. Waktu itu kami dirawat oleh Oma dan Opa dari pihak papa yang tinggal di Makassar, yang datang ke Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan ke Belanda. Hmmm aku sadar bahwa waktu mama dirawat itu pasti juga karena terlalu capek merawat kami. Waktu itu kami juga tidak ada pembantu. Sering sekali kami tanpa pembantu. Dan mungkin karena mertuanya akan datang menginap untuk waktu yang lama, mama terlalu memforsir diri sampai akhirnya jatuh sakit. Tiba-tiba aku bisa merasakan kondisi mama waktu itu. Membesarkan 4 anak sendirian. Papa lebih sering bertugas di luar negeri/luar daerah. Aku “hanya” 2 anak… duhh mama… kasian sekali mama waktu itu…. dan aku menangis terisak-isak dalam selimut. Kangen Mama!

Biasanya setelah menangis, maka perasaan bisa lebih lega. Tapi waktu aku masih menangis sesegukan begitu, Riku datang dan berkata,
“Mama, aku bisa mengerti perasaan mama…. Mama capek padahal Kai mau kasih bangun terus kan. Riku ngerti. Tapi mama jangan nangis dong. Riku sedih kalau lihat mama nangis. Mama benci Riku juga?”
Aduuuuh sulungku ini mau menghibur aku…. tambah deh mewek nya…

“Riku, mama nangis bukan karena mama capek. Ya mama capek juga. Tapi lebih karena mama ingat oma yang dulu juga pasti capek membesarkan anak-anak sendirian. Mama sayang Riku. Riku permata mama… Riku waktu kecil jarang nakal dan melawan mama.” Aku peluk Riku. Tapi si unyil satu tidak suka melihat aku memeluk Riku, lalu bilang…”Kai ..kai” dia minta dipeluk juga. OK aku peluk. Kata Kai “Kai.. Mama…Riku… san (tiga)” Benar seperti segitiga deh. Dan tentu saja si Kai tidak mengerti apa-apa selain, dia juga mau “keberadaan”nya diketahui dan iri pada Riku.  Akhirnya aku bermain dengan Kai dan Riku, dan tidak jadi tidur meskipun masih di tempat tidur.

Setelah Kai dan Riku keluar kamar (tentu saja untuk menonton TV lagi), aku masih leyeh-leyeh sambil mikir mau masak apa. Tiba-tiba Riku datang dan bilang padaku;
“Mama, mama selalu bantu Riku. Nanti di kemudian hari, tidak tahu akan seperti apa dan bagaimana, tapi Riku akan bantu mama terus. Cerita sama Riku ya. Jadi mama jangan sedih. Kalau mama sedih Riku ikut sedih… (dan dia mulai menangis) ” Duuuh anakku kamu itu baru umur 6 tahun (3 bulan lagi 7 th). Sambil peluk dia aku berkata,
“Iya Riku, Mama ngga sedih lagi. Nanti kalau ada apa-apa Mama akan bicara sama Riku. Curhat dan diskusi sama Riku. Riku mau dengerin mama ya? ”
“Iya dong. Mama pasti cerita sama Riku ya…”
“Iya sayang. Mama sayang Riku (dalam bahasa Indonesia)”
“Aku juga sayang mama” (dalam bahasa Indonesia… ahhh kata sayang memang paling enak pakai bahasa Indonesia. Kai pun lebih tahu kata “sayang” daripada “suki (suka)” bahasa Jepang. Khusus untuk perasaan seperti cinta dan sayang, bahasa Jepang kalah dari bahasa Indonesia.)

Dengan mata bengkak, aku mempersiapkan makan malam untuk Kai dan Riku, sambil berpikir aku harus tulis peristiwa malam ini. Sebagai kenang-kenangan untuk Riku di masa depan, jika dia baca kelak, bahwa aku menghargai dia yang sangat memperhatikan dan menyayangi mamanya. Bukan untuk pamer tentang hubunganku dan sulungku, tapi hanya sebagai kenangan saja. Sebagai reminder. Supaya jangan aku lupa bahwa aku punya dua anak yang membutuhkan aku. My precious Jewels.

Dan waktu Gen pulang pukul 11 malam, aku tidak bisa bercerita ttg hal ini karena Kai masih bangun dan menyita perhatian papanya terus. Udah gitu Gen ternyata sudah makan di kantor… tahu gitu kan aku makan sama anak-anak 🙁  Dan malam itu kami terpaksa bangun dua kali, pertama karena Kai muntah akibat terlalu banyak gerak, dan sekitar jam 3 karena dia hanya mau minum susu di botol yang bergambar Mickey. Duuuh kai..kai… Cinta banget dia sama Mickey.

Puisi Pertama

Saya tidak ingat lagi kapan saya menulis puisi pertama kali. Dulu waktu SD kalau mendapat tugas menulis puisi tentang “ibu” misalnya, saya akan mengubah puisi yang saya temukan di koran-koran yang memang saya kumpulkan (saya hobby mengumpulkan puisi dan cerpen dari kecil, menggunting koran dan membuat clipping). Uuuh bokis (payah) banget ya? (masih untung ngga plagiat hihihi)

Tapi memang ada masa saya merasa labil di usia 12-13 tahun dan saat itu saya sering menulis puisi. Puisinya tentang kesedihan, kesepian, pokoknya yang jelek-jelek deh. Waktu pulkam kemarin saya menemukan buku kecil berisi tulisan itu, buku waktu saya berusia 13 tahun….. dan bisa saya baca sambil tersenyum meskipun isinya tentang kematian semua. Mungkin karena itu pula, saya akan lebih bisa menulis puisi dalam keadaan hati yang sedih atau patah hati. Jarang sekali jika hati berbunga-bunga apalagi waktu sedang jatuh cinta. Well, saya juga tidak suka lebay-lebay-an sih hihihi.

Saya sendiri tidak tahu atau tidak sadar apakah ini adalah puisi pertamanya Riku atau bukan. Memang Riku sejak kecil sudah pandai membuat kalimat dengan kata-kata yang sulit. Tapi kalau puisi?

Tadi malam, papanya menemukan kertas tugas di sekolahnya, dan kami berdua merasa “takjub” dengan cara penulisan Riku. Rupanya gurunya juga merasa kalimat Riku bagus, sehingga dia menandai dengan tanda bulatan berbunga.

Cara penilaian guru di sini memang berbeda dengan di Indonesia, yang setahu saya dulu menggunakan tanda centang (entah kenapa waktu pemilu menjadi contreng) dan tanda “kruwel-kruwel” yang menyatakan bagus (kayaknya ini asalnya dari negara belanda deh…musti tanya dulu)

tanda benar di Indonesia kan seperti ini, bingung deh mahasiswa Jepang waktu lihat penilaian saya hihihi

tanda benar di Indonesia kan seperti ini, bingung deh mahasiswa Jepang waktu lihat penilaian saya hihihi

Kalau di Jepang, guru menandai dengan tanda silang (X) untuk sesuatu yang salah, tanda segitiga (△) untuk sesuatu yang dianggap kurang, tanda bulat (O) untuk yang benar. Dua bulatan untuk yang dianggap bagus, dan tanda bunga jika dirasa “hebat”.

tanda bulat untuk benar, dan dua bulatan untuk bagus

tanda bulat untuk benar, dan dua bulatan untuk bagus

Saya mau share tulisan Riku di sini;

森が月のひかりにてらされています。

どうぶつたちはねむっています。

きこえるふくろのこえ。

Sinar bulan menyinari rimba

binatang tidur

terdengar suara burung hantu

(hmmm kalau diterjemahkan kok “jiwa”nya hilang ya? hehhee)

Tanda bunga untuk menyatakan bagus sekali atau hebat

Tanda "bunga" untuk menyatakan "bagus sekali" atau "hebat". Ini yang saya anggap puisi pertama Riku (padahal mungkin ada yang lain sebelumnya)

.

Anda punya kenangan tentang puisi atau karangan yang bagus?

Pembatas Buku

Kemarin adik Jepangku, Melati san alias Mariko datang ke rumahku. Kami sudah lama tidak bertemu, mungkin sejak bulan April lalu. Kebetulan timbul masalah internal sehingga membuat kami sulit mencocokkan jadwal bertemu. Padahal sebelumnya setiap bulan minimal dia datang 2 kali  ke rumahku, untuk ngobrol sambil makan masakan Indonesia yang pedas.

Nah karena kebetulan di hari libur ini (hari Penghargaan untuk Pekerja) , Gen bekerja, dan suaminya juga sedang pergi ke Osaka, maka aku undang dia untuk datang ke rumah dan ngobrol.  Aku membuat soto ayam dengan sambal kemiri, dan sambil ngobrol setelah makan, aku membuat pudding untuk desert. Percakapan waktu membuat pudding ini  sebetulnya yang mengilhami tulisan ini.

Untuk membuat pudding diperlukan agar-agar, dan aku selalu pakai agar-agar dari Indonesia yang merek swllow gl*be itu. Dan begitu Mariko san melihat bungkus sisanya (isinya sudah masuk panci) dia langsung berteriak,”Loh agar-agar dari Indonesia…. kangen…. boleh buat saya?”.
“Kamu mau masak agar-agar di rumah? Aku ada banyak kok nanti aku kasih.”
“Ngga saya cuma perlu ini aja, bungkusnya aja”
“Buat apa? kok bungkusnya aja… ada-ada aja kamu”
“Buat SHIORI…. pembatas buku”

bungkus agar-agar yang menjadi topik pembicaraan

bungkus agar-agar yang menjadi topik pembicaraan

Ya ampuuun, masak bungkus agar-agar dijadikan pembatas buku? Tapi dia bilang bahwa apapun yang “berbau” Indonesia dan bisa dijadikan pembatas buku, akan membuat dia seperti berada di Indonesia, dan melupakan “homesick” (padahal home nya di Jepang) nya terhadap Indonesia. Emang aneh nih Melati san, cinta banget sama Indonesia …. ono-ono wae kalau kata Bang Hery.  Tapi sebetulnya bisa dimengerti sekali. Karena sebetulnya aku juga tahun-tahun pertama di Jepang mengumpulkan semua “sampah” yang membawa kenangan tentang Jepang. Sesudah 17 tahun di Jepang, lama kelamaan “sampah” itu benar-benar menjadi penghuni tempat sampah, kecuali memang bersejarah (seperti kartu mahasiswa di Jepang kan bersejarah, ngga tega buangnya hihihi)

pembatas dengan lapisan emas chokin dengan gambar khas Kyoto

pembatas dengan lapisan emas chokin dengan gambar khas Kyoto

Pembatas buku atau bahasa Jepangnya SHIORI, memang perlu ada untuk pecinta buku. Aku sering mendapat oleh-oleh shiori dari teman-teman yang berwisata ke daerah di Jepang atau dari luar negeri. Dan memang kadang aku memberikan kepada orang yang kurasa akan “menghargai” pembatas buku, atau kalau yang murah ya aku bagikan saja sebagai kenangan. Harga pembatas buku ini memang bervariasi, dari yang mahal karena berlapis emas, sampai yang murah… atau bahkan gratisan. Dan ini melimpah di Jepang… tapi kenapa di Indonesia jarang aku lihat ya? (cmiiw) Apa ini juga dipengaruhi oleh  minat membaca di Indonesia yang “masih” rendah?

jenis yang tipis begini juga sering didapati di toko cinderamata

jenis yang tipis begini juga sering didapati di toko cenderamata

Di toko buku di Jepang pasti di dekat kasir ada pembatas buku gratis yang merupakan salah satu cara promosi penerbit, dan boleh diambil sebanyak-banyaknya (kayaknya bisa ditiru deh di Indonesia). Atau bahkan di dalam buku yang baru sudah ada shiorinya. Kalau buku tebal dengan hard cover bahkan sudah ada “pita” pembatas kan?

tiga yang sebelah kanan adlaah pembatas gratisan

tiga yang sebelah kanan adalah pembatas gratisan

Pembatas buku memang diperlukan untuk membatasi kita sudah baca sampai dimana. Tapi memang pada kenyataannya, aku malah jarang sekali  memakai pembatas buku hadiah teman-teman yang bagus-bagus itu. Lahhh? piye?
Ya abis kalo lupa bawa gimana? Dan satu lagi alasannya…. sayang kalau hilang hihihi. Jadi biasanya aku pakai kartu bus/kereta yang sudah habis isinya tapi gambarnya bagus. Kadang fotonya Riku yang hasil cetakannya gagal, bekas amplop yang sudah dibuka. Atau kalau kepepet ya tissue dari cafe/restoran, atau stroke pembayaran toko hihihi. Yang paling sadis mungkin bekas pembungkus luar permen karet pipih atau bungkus permen hihihi. Ada ngga ya yang lebih sadis dari ini? (Maunya sih pakai uang kertas 100 dollar atau 10.000 yen… apa daya yang segitu ngga lama nginep di dompet sih, kalau ilang juga langsung jatuh miskin deh hihihi) Atau ada yang seperti Mariko san pakai bungkus bekas agar-agar (atau sejenis) sebagai pembatas buku?

bekas kartu bus/kereta yang sering saya pakai sebagai pembatas buku

Kalau tidak ada yang bisa dipakai sebagai pembatas buku, biasanya aku akan hafalkan saja halaman terakhir halaman berapa. Aku jarang menandai dengan melipat ujung kertas buku.  NAH yang parah, aku biasa menandai halaman-halaman tertentu yang isinya ingin kupakai sebagai quote, dan kalau tidak ada pembatas buku yang banyak atau post it susaaaah deh. Jadi buatku malah lebih perlu post it daripada pembatas buku. Dan terus terang ada satu buku yang terpaksaaaaaaaaaaaaa banget aku lipat ujungnya di beberapa halaman (dan aku sempat dimarahi seorang teman pencinta buku hiks ). Aku masih berdalih sedikit…toh ini bukuku hihihi.

Tapi yang pasti ada satu buku berharga yang penuh dengan pembatas buku yang bagus-bagus dengan kata-kata dan gambar indah (Dan penuh coretan stabilo hihihi). Dia itu sebagai panduan hidup setiap saat, meskipun akhir-akhir ini mulai jarang kubuka. Dia adalah Alkitabku!

Jadi buat kamu, perlu tidak pembatas buku? Senang tidak diberi oleh-oleh pembatas buku (atau lebih baik sih bukunya ya hahahaha, lebih mahal soalnya bukunya)? Lalu media apa yang pernah kamu  pakai sebagai pembatas buku?

Samudra dan Dermaga

Ssstt Samudra ini bukan nama restoran loh… tapi benar-benar lautan luas dan dermaga memang berarti tempat untuk melabuhkan perahu dan kapal. Samudra, Dermaga (pelabuhan) dan Biduk atau Bahtera sering dipakai untuk menggambarkan pernikahan. Seorang awak yang “jam layar” (masak pakai istilah jam terbang untuk ABK ya? wong tidak terbang dia hehehe) nya sudah banyak, bisa mengantisipasi gelombang dan mengemudikan bahteranya dengan handal. ABK baru mungkin akan kecut melihat gelombang sedikit besar atau pertama kali menghadapi  badai.

Imelda mau menulis tentang nasehat perkawinan? Ngga lah… kalau mau tahu nasehat-nasehat, lebih baik Anda baca postingnya Mbak Tuti Nonka tentang Passionate & Companionate Love, karena beliau sudah “kawakan” jeh, 24 tahun jadi “ABK” hehehe. Saya mah “baru” 10 tahun ajah.

Kemarin tanggal 22 November adalah hari Pasangan Suami Istri yang baik, bahasa jepangnya Ii Fufu (BUKAN HARI LIBUR, hanya peringatan saja). Perlu diketahui bahwa penulisan tanggal di Jepang terbalik dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia mulai tanggal-bulan-tahun, maka di Jepang mulai dengan tahun-bulan- tanggal. Jadi tanggal 5 April akan ditulis sebagai 4/5, bukan 5/4. Nah kita sebagai orang Indonesia harus berhati-hati membaca penulisan tanggal orang Jepang. Jangan sampai 5 April kita baca sebagai 4 Mei!

Nah 11/22 (11-22, November 22) dibaca sebagai Ii fufu, artinya pasutri yangbaik. Bisa baca juga ceritanya di posting tahun lalu di sini. Kemarin di keluarga Miyashita juga merayakan Ii fufu, dengan menjadi pasutri yang baik! Baiknya apa? Ya, saya membiarkan suami saya tidur sampai siang karena dia masih bekerja di hari sabtu (bahkan sampai larut). Lagipula hari Minggu kemarin itu dingiiiin banget. Max 9 derajat, tapi tidak hujan. Saya bisa dibilang “Istri yang baik” kan? 🙂

Lalu Gen juga menjadi suami yang baik kemarin. Apa pasal? Dia mengajak istri (dan anak-anak) yang malas masak (karena lemari es kosong belum belanja) makan di luar! Maunya sih ke “Restoran Samudra” di Jakarta, tapi keburu mati kelaparan, dan jatuhnya muahaaaalll banget soalnya pakai ongkos pesawat (untuk 4 orang lagi!) .

Karena dingin, sebetulnya aku agak malas keluar rumah. Sudah mengeluarkan ide untuk pesan delivery aja, atau masak apa yang ada (kadang aku pikir kalau terpaksa bisa juga ya aku jadi pesulap…. meski di kulkas kosong, masih bisa menyediakan makanan yang “edible” hihihi). Tapi Gen bilang,”Kalau tidak keluar rumah, malah lebih dingin! Harus keluar rumah. Aku juga bosan dengan udara “kaleng” (rumah tertutup dengan udara panas/dingin dari heater/AC)”.

Jadi deh kami berempat belanja dulu di drugstore untuk beli susu Kai, dan menuju tempat makan murah meriah, bernama “Matsuya“. (ssst toko waralaba ini saingannya yoshinoya, yang terlebih dulu terkenal dengan gyudon – nasi irisan sapi- nya).

Maunya sih cari warung di Jepang, tapi biasanya warung yang ada hanya menjual ramen/ Mie,  oden dan yakitori/ sate ayam , buka dekat stasiun dan dipenuhi oleh “ojisan” om-om yang baru pulang minum alkohol. Suasananya ngga deh! Mana mau makan di samping orang mabok :D.

Kedai Matsuya ini memakai sistem pembayaran di muka. Kita membeli karcis jenis makanan Shokken 食券  di depan pintu. Bagusnya di sini ada gambar makanannya di tombolnya, jadi yang tidak bisa membaca huruf kanji juga bisa memilih (kecuali untuk tambahan seperti telur, telur setengah matang, kimchi, acar jepang dll harus lihat di gambar menu yang terpisah)


karcis makanan

karcis makanan, potongan kanan untuk pemasak, potongan kiri sebagai kwitansi

Ada set menu, yang terdiri dari makanan utama (nasi + yakiniku, nasi + hamburger, gyudon dll), sup miso, serta salada. Tapi set menu yang aku mau ada tambahan telur mentahnya… Iiiiih ogah! memang orang Jepang makan telur mentah dicampur pada nasinya, tapi aku belum bisa makan begitu. Paling telur mentah aku pakai kalau makan Sukiyaki aja (karena kalau daging panas dicelup ke telur mentah kan bisa jadi setengah matang hihihi). Jadi deh aku pesan tanpin (satuan) untuk dimakan berdua Kai. Satu set berkisar 550-680 yen. Harga yang tidak bisa didapat di restoran biasa, kecuali “rumah makan” sekolah alias kantin kampus. Benar-benar murah meriah deh….

Pulang ke rumah dengan perut kenyang dan ngantuk! Bisa tidur enak dan molor karena hari Senin, 23 November adalah hari Penghargaan untuk Pekerja/Buruh, kinro kansha no hi 勤労感謝の日….. jadi hari libur. KECUALI Gen karena dia bekerja di universitas, sedangkan kebanyakan universitas di Jepang menyuruh masuk mahasiswa, karena jika libur maka jumlah jam kuliah hari Senin kurang dari target yang 15 kali pertemuan dalam satu semester. (Untung aku tidak punya kelas hari Senin… yey!)

Kaki

Tadi pagi aku terpaksa mengantarkan Riku ke sekolahnya. Sudah beberapa kali dia khawatir jika datang terlambat ke sekolah. Padahal sebetulnya jika dia tidak khawatir berlebihan, dia akan tepat sampai di sekolahnya. Karena murid diwajibkan datang sebelum jam 8:30, sedangkan jarak tempuh dengan berjalan kaki dari rumah ke sekolah hanya 15 menit, paling lama. Dan biasanya Riku akan berangkat dari rumah pukul 7:45 – 7:50 an. Tapi kadangkala dia kembali karena lupa sesuatu, atau seperti tadi pagi, dia kembali untuk mengambil payung (untung juga karena pulangnya hujan cukup deras. padahal waktu berangkat tidak hujan).

Waktu itu menunjukkan pukul 8:00. Tapi dia bilang, “Kalau aku terlambat bagaimana?”… “Tadi sudah tidak ada anak sekolah di jalanan…. ” bla bla bla. Lalu aku bilang, “Jalanan kelihatan sepi, karena banyak kelas yang libur, diliburkan karena influenza. Jadi yang ke sekolah hanya anak-anak sehat, yang jumlahnya sedikit. Tidak apa…. masih banyak waktu. Tidak mungkin terlambat. Tapi…. dia mengeluh ya perutnya sakit lah ini lah itu lah. Akhirnya aku bilang, “Ya sudah tunggu mama siapkan Kai dan mama, nanti mama antar ke SD. Mama dan Kai naik sepeda, kamu jalan.”

Aku kasihan juga pada Riku, bawaannya berat sekali loh. Belum lagi hari ini musti pakai sarung tangan karena dingin.

Aku kasihan juga pada Riku, bawaannya berat sekali loh. Belum lagi hari ini musti pakai sarung tangan karena dingin.

Akhirnya aku cepat-cepat siap-siap …buru-buru (sehingga no makeup hihihi), dan mengantar Riku dulu ke sekolahnya, baru pergi ke arah stasiun mengantar Kai ke penitipan. Begitu sampai di sekolah Riku, tepat jam 8:30. Save. Lalu pergi ke Himawari, tempat penitipan Kai.

Kai selalu bergembira ke penitipan, karena dia mau bertemu dengan shensei nya. Semangat Kai yang tadi pagi membuat aku juga jadi tertular, menghadapi Riku yang merengek dengan sabar. Selesai menyerahkan Kai pada gurunya, aku menaruh sepeda di parkiran, lalu berjalan ke arah stasiun. Terus terang waktu itu aku sambil berpikir macam-macam, termasuk bagaimana cara menghilangkan kekhawatiran Riku. Dia benar-benar mirip aku. Dulu aku juga tidak mau masuk ruangan jika terlambat. Malu menjadi pusat perhatian.

Nah, karena sambil berpikir, aku otomatis berjalan ke stasiun, dan masuk ke peron dengan menyentuhkan kartu kereta otomatis ke pintu masuk. (Kartu berisi chip ini prepaid sehingga waktu masuk, akan diambil sejumlah biaya terminim, dan waktu keluar akan diambil lagi kekurangan biayanya). Untung aku mampir dulu ke wc, dan sadar bahwa aku seharusnya naik bus bukan naik kereta! hihihi. Bisa juga sih naik kereta ke tempat kerja aku, tapi muter-muter dan lebih jauh jadinya. Daripada terlambat, mendingan aku keluar lagi dan naik bus. Hebatnya di Jepang, uang yang tadinya sudah kita bayarkan, dapat diminta kembali. Tapi karena aku membayar dengan kartu, maka kartu itu perlu dimasukkan dalam komputer mereka (melalui chip reader) dan dihapus pengambilan uang waktu aku masuk. Siiip deh. Tinggal pergi ke halte bus!

Sesampai di kampus, waktu aku mau pindah ke ruang kuliah…. Tik..tik tik mulai hujan, dan bukan rintik yang bisa diabaikan. Waaah… menurut prakiraan cuaca semestinya hari ini tidak hujan. Gimana sih? Untung aku ada payung lipat dalam tas, jadi langsung memakai payung itu. Payung itu ternyata amat berguna karena ternyata hujan terus menerus, bahkan sampai waktu pulang. Dan… dingiiiiin sekali. Waktu aku browsing mencari cuaca hari ini, aku menemukan bahwa maximum temperatur hari ini adalah 9 derajat dan minimum 8 derajat. Wah ini sih sudah winter banget, padahal semestinya masih autumn kan?

Sambil kedinginan begitu, aku membayangkan kolak…. sekoteng…. pisang goreng mengepul…. makanan-makanan yang membuat hangat tubuh, dan tentu saja dari Indonesia. Apalagi ada teman yang mengingatkan tekwan, soto dan angan melayang ke restoran padang deh. Mana waktu aku belum makan siang lagi…menderita banget perut ini.

OK ok ok… aku pasti dimarahi mas trainer lagi, cerita ngalor ngidul padahal judulnya Kaki (katanya ini ciri khas aku hihihi). Mana dong kakinya? Memang Riku tadi pagi jalan kaki tapi tentu bukan itu maksudnya pasti kan? Dan mungkin berhubungan dengan sop kaki kambing yang bisa dimakan panas-panas, cocok untuk udara dingin. Ya, memang kaki di Indonesia pasti berhubungan dengan anggota badan yang dipakai untuk berjalan dan menjejak pada tanah.

Tapi dengan pengucapan yang sama, kata  KAKI di bahasa Jepang, ada dua arti, dan dua-duanya bisa dimakan.

Yang pertama adalah Kaki, yang berarti oyster, kerang. Dan oyster yang terkenal di Jepang berasal dari Hiroshima. Dimakan mentah, dengan kecap asin+cuka (ponzu)… hmmm yummy. TAPI, beresiko tinggi kena racun jika makan yang tidak segar, atau kebanyakan. Aku pernah keracunan kaki mentah (gara-gara orang Indonesia sedikit yang suka, sehingga aku  makan sekitar 5 buah). Dan keracunan kaki/oyster ini bisa mematikan. Aku juga sempat berpikir duh malu juga ya jika esoknya ada berita di koran, “Seorang mahasiswi asal Indonesia tewas karena kaki” hihihi. Well, sekarang aku bisa mesem-mesem tertawa, tapi waktu keracunan itu benar-benar sakit. Keluar dari atas dan bawah deh….

Sejak keracunan itu aku tidak mau lagi makan kaki mentah, selalu oyster goreng atau dibuat “nabe” atau rebusan. Nabe arti sebenarnya adalah panci, dan merefer pada semua masakan yang merebus bahan-bahan  dalam panci dari tanah liat. Kalau dibayangkan ya seperti Coca suki, thai suki, atau juanlo, steamboat bahasa kerennya. Cuma ya itu ciri khas nabe di Jepang adalah pancinya terbuat dari tanah liat (tentu saja sebetulnya bisa saja pakai panci biasa). Malam ini aku juga membuat nabe untuk makan malam, tapi isinya hanya tahu, jamur, wortel dan ayam.  Bumbunya hanya kaldu ikan. Musim dingin = nabe!

Nabe buatanku untuk dinner hari ini

Kaki yang satu lagi adalah nama buah. Kesemek atau buah genit kalau di Indonesia. Tapi kalau di Indonesia ciri khasnya buah ini berbedak, sedangkan di Jepang tidak. Berarti buah kesemek di Jepang memang tidak genit ya hihihi. Buah Kaki ini tergantung jenisnya ada yang berbentuk seperti kedondong,  tapi ada juga berbentuk seperti jeruk tapi agak kotak. Berwarna oranye segar, dan dimakan waktu tidak terlalu matang, karena jika terlalu matang akan menjadi lembek (istilah saya “bonyok” deh hihihi).

Buah kesemeknya Jepang. Rasanya? kalau kunyah seperti pepaya mengkal tapi manis!

Buah ini berbiji seperti biji sawo, coklat hitam dan pipih, meskipun sekarang sudah banyak kaki yang tidak berbiji. Bentuk biji kesemek ini akhirnya diadaptasi menjadi sebuah kue/snack yang disebut kaki no tane yang harafiahnya memang berarti  biji kesemek.  Tapi tentu saja biji betulannya tidak dimakan (kecuali mau jadi burung kali hihihi).

Snack kaki dan kacang

Snack kaki no tane dan kacang

Buah Kaki dan Kerang Kaki memang cocok sebagai makanan di musim Aki (gugur) . Yang satu menghangatkan (kerang kaki), dan yang satu menyegarkan (buah kaki). Keduanya juga bisa menjadi buah tangan, tapi biasanya buah kakilah yang cocok sebagai buah tangan. Yang aku heran, buah kesemek di Indonesia kemana ya? Sepertinya aku sudah tidak pernah melihatnya lagi di pasar. Atau masih ada?

NB : mengucapkan selamat kepada Septarius alias ATA chan yang berhasil menjadi komentator ke 9999, 10000 dan 10001. (hihihi kemaruk ya 😉 ) Hadiahnya Naruto, kalau suka. Kalau tidak suka ya nanti dinegosiasikan yah. Terima kasih juga untuk dukungan teman-teman lainnya yang sudah meramaikan pertarungan (hihihi lebay.com) merebutkan nomor cantik di TE.  Terus terang, kalau bisa saya ingin menunggu sampai ada yang bisa mendapat nomor 101010, dan 111111.

Lucky I was born: Ponyo

Sahabatku Eka bertanya padaku waktu aku menulis “Ponyo” sebagai status di YM,    “Mbak EM, ponyo itu penyu ya?. Lalu saya jawab bahwa Ponyo adalah nama karakter di sebuah film kartun karya Studio Ghibli, yang saya tonton hari Minggu yang lalu di rumah mertua dari DVD.  Dan saya berjanji untuk menuliskan tentang film ini.

Judul film yang lengkap adalah “Gake no Ue no Ponyo” atau terjemahan resmi bahasa Inggrisnya Ponyo on the Cliff by the Sea.  Ponyo di atas bukit. Well, Ponyo yang menjadi primadona cerita ini adalah seekor ikan, yang kalau dilihat ya seperti ikan mas koki.

Ponyo, anak ikan yang terdampar dan berkenalan dengan Sosuke, anak berusia 5 tahun

Ponyo, anak ikan yang terdampar dan berkenalan dengan Sosuke, anak berusia 5 tahun

Nah, si Ponyo ini terdampar di pantai di bawah rumah Sosuke, seorang anak laki-laki berusia 5 tahun. Sosuke ini tinggal di sebuah rumah di atas bukit bersama Risa, ibunya dan Kouichi, ayahnya. Ayahnya seorang pelaut sedangkan ibunya, Risa bekerja sebagai perawat/ pramu rukti untuk panti jompo.

Waktu Sosuke menemukan Ponyo, anak ikan ini berada dalam tabung gelas, sehingga Sosuke harus memecahkannya supaya dapat memindahkan Ponyo ke dalam ember. Saat itu Sosuke terluka dan dijilat oleh Ponyo. Ini kemudian yang membuat Ponyo bisa berubah menjadi manusia.

Sosuke, bocah laki-laki berusia 5 tahun yang menolong Ponyo

Sosuke, bocah laki-laki berusia 5 tahun yang menolong Ponyo

Sosuke menamakan ikan yang dia temukan dengan Ponyo, dan berjanji melindungi Ponyo. Karena dia harus pergi ke Penitipan waktu ibunya bekerja, dia juga harus membawa Ponyo bersamanya. Setiap kali ibunya bekerja di Panti Jompo, maka Sosuke pergi ke penitipan yang berada di dekatnya. Yang mengherankan memang anak seusia 5 tahun itu turun di tempat kerja ibunya, lalu pergi ke penitipan sendiri. Kalau dalam kenyataan tentu tidak bisa.

Sebetulnya Ponyo bernama “Brunhilda”, anak dari Manusia Jejadian bernama Fujimoto dengan Dewi Laut Granmammare yang amat cantik. Tapi Ponyo setelah bertemu dengan Sosuke, ingin menjadi manusia. Dengan kemauan yang kuat, dia bisa memunculkan kaki dan tangan seperti manusia. Memang Ponyo sebenarnya mempunyai kekuatan magis. Dia juga memecahkan sumur berisi “air kehidupan” yang akhirnya menimbulkan tsunami di dunia.

Granmammare, sang dewi laut, ibu dari Ponyo

Granmammare, sang dewi laut, ibu dari Ponyo

Di tengah-tengah badai besar yang terjadi, Ponyo telah berubah menjadi gadis kecil seusia Sosuke, berlari di atas air mencari Sosuke. Sosuke langsung mengenali Ponyo yang sudah berubah menjadi anak perempuan itu. Maka untuk malam itu, Ponyo tinggal bersama Sosuke di rumah atas bukit. Mereka tinggal berdua karena ibu Sosuke, Risa kembali ke panti jompo karena mengkhawatirkan kondisi para nenek di sana.

Sosuke dan Ponyo terbangun di pagi hari dan melihat sekeliling mereka sudah tergenang air. Melalui pengalaman-pengalaman menakjubkan seperti menaiki perahu Sosuke yang menjadi besar guna mencari ibu Sosuke, beberapa kali Ponyo berubah menjadi setengah ikan setengah manusia. Ini merupakan ujian yang diberikan oleh ibu Ponyo, yang bersedia mengabulkan keinginan Ponyo untuk menjadi manusia… jika Sosuke bersedia menerima Ponyo apa adanya. Dan memang akhirnya Sosuke menjawab, dia menyukai Ponyo dalam bentuk ikan, setengah ikan setengah manusia dan bentuk manusia. Endingnya memang seperti dipaksakan mengikuti cerita Disney yaitu Sosuke harus mencium Ponyo supaya “sihir” bisa dimusnahkan.

gambar poster film Ponyo

gambar poster film Ponyo

Menonton karya Ghibli buat saya, merupakan salah satu hiburan yang bisa didapat dengan murah. Warna-warna yang dipakai amat sangat berbeda dengan animasi disney atau pixar. Warna-warnanya lebih kaya dan lembut. Saya selalu menyukai film animasi dari Ghibli ini, meskipun untuk film Ponyo ini, saya merasa anti klimaks dari sudut ceritanya. Warna tetap bagus, demikian juga dengan gerak dari ikan-ikan, laut benar-benar seperti kita berada di dalam air. Ponyo sendiri merupakan karya Miyazaki Hayao yang ke delapan, dan muncul setelah 4 tahun vakum setelah menghasilkan karya spektakuler, “Howl the Moving Castle”, yang mendapat pengakuan dunia. (Saya belum pernah tulis tentang Howl ya? padahal ini film yang paling saya suka… nanti deh kapan-kapan). Film ini dirilis musim panas tahun 2008 (Aku senang di Jepang setiap musim panas pasti ada film anak-anak yang dirilis), dan mendapat julukan Animation of the Year of 2008 selain penghargaan lain. Untuk lengkapnya dapat dibaca di Wikipedia berbahasa Inggris.

Yang pasti tema song dari film ini sudah merasuk ke anak-anak seluruh negeri, dan merupakan lagu yang pasti dinyanyikan dalam acara-acara anak-anak. Rikupun sudah hafal lagu ini yang katanya juga akan dinyanyikan dalam acara “Pertemuan Musik” awal Desember yang akan datang. Jika mau mendengar lagunya silakan putar Youtube di bawah ini.

Ada beberapa catch phrase/catch copy (ini adalah bahasa Japlish untuk “advertising slogan”) yang dipakai bersumber dari film Ponyo ini, antara lain:

“生まれてきてよかったUmaretekite yokatta” Lucky I was born” .… amat senang dilahirkan ke dunia.

”子供のころの約束は永遠に忘れない Kodomonokoro no yakusoku wa eien ni wasurenai” “Janji waktu kecil tidak akan pernah dilupakan seumur hidup”… “A promise is a promise”…well something like that deh. (Aku ada janji waktu kecil ngga ya? Kayaknya ngga ada deh….)

gambar diambil dari website resmi Ponyo

Payung

Tulisan ini masih menyambung tulisan saya sebelumnya, “Becek“. Saya tergelitik menulis lebih mendetil tentang payung, karena komentar dari AL, yang mengatakan bahwa dia tidak menganggap keren dengan alat pembungkus plastik yang disediakan di depan toko/departemen store, atau tempat umum lainnya, karena hanya akan menambah sampah. Memang saya hanya menjelaskan “Jepang itu ada-ada aja” dengan menampilkan alat itu, padahal masih banyak alat lain yang menyangkut payung atau sarana lain untuk mencegah becek.

1. Tempat payung di rumah. Setiap rumah, biasanya di pintu masuk ditaruh tempat untuk menaruh payung khusus. Bisa terbuat dari keramik/batu, atau steel/alumunium. Desain juga macam-macam, tapi tujuannya untuk menampung payung sesudah dipakai.

tempat payung rumahan

tempat payung rumahan

2. Mengadaptasi tempat menaruh payung di rumah, di depan sekolah atau kantor, yang jumlah pegawai/muridnya tetap, ditaruh tempat menaruh payung dengan sekat-sekat. Ada yang bisa menampung 20 batang, ada yang 50/100 batang. Biasanya kalau di sekolah, tempat payung dibedakan per kelas. (Saya ingat ada perkumpulan orang Jepang yang menghadiahi Sekolah Republik Indonesia Tokyo dengan tempat menaruh payung ini sekitar 8-9 tahun lalu. Sebelumnya tentu saja tidak ada, dan payung dibawa masuk ke kelas.)

tempat payung umum untuk sekolah dan kantor

tempat payung umum untuk sekolah dan kantor

3. Untuk Bank, atau tempat-tempat dengan tamu umum yang banyak, selain ada yang menyediakan alat plastik pembungkus payung seperti di tulisan saya di “Becek“, ada yang menyediakan tempat payung seperti pada nomor 2, tetapi berkunci yang bernomor (seperti locker). Sehingga payung tidak akan tertukar oleh kepunyaan orang lain. (Tempat berkunci tidak dipakai di kantor/sekolah, karena biasanya payung diberi nama. Dan orang Jepang juga tidak suka “nilep” milik orang lain. Meskipun tidak bisa saya katakan 100% suci juga.)

tempat payung yang sering dijumpai di Bank

tempat payung yang sering dijumpai di Bank

4. Ada pula tempat yang menyediakan alat lebih canggih yaitu pengering payung. Tapi tentu saja perlu waktu lebih lama untuk menunggu payung ini kering.

alat pengering payung

alat pengering payung

5. Usaha warga Jepang sendiri untuk mengurangi sampah plastik seperti yang dikhawatirkan AL, yaitu dengan membawa “My Umbrella Bag” sendiri. Jadi selain membawa payung, juga membawa kantong payung sendiri, dengan desain dan motif yang beragam. (Terus terang saya sendiri jika memakai plastik pembungkus dari toko, dan jika akan keluar masuk banyak toko, saya akan menyimpan plastik dari toko pertama, dan memakainya lagi jika masuk toko yang lain, sehingga satu hari saya hanya memakai satu plastik. Seperti sudah saya jelaskan dalam komentar bu AL, Jepang mewajibkan semua warganya untuk memilah sampah sesuai bahannya, sehingga bisa direcycle kembali. Jika plastik ini dipakai di Indonesia, saya memang bisa membayangkan sampah plastik yang akan keluar, dan tidak didaur-ulang kembali)

My Umbrella Bag

My Umbrella Bag

(Gambar-gambar di ambil dari toko online rakuten.co.jp dan dari sini)

Yang pasti memang setiap warga Jepang akan membawa payung jika hujan, dan memang jika hari hujan, barang yang paling banyak tertinggal di kereta adalah payung. Karena itu, kondektur kereta dan bus, pada hari hujan akan mengumumkan, “Karena hujan banyak payung yang tertinggal, perhatikan apakah Anda sudah membawa payung Anda”. Demikian pula pelayan toko dan restoran…. semua saling mengingatkan. Yang paling sering lupa jika waktu pergi hujan, tapi hujan berhenti waktu pulangnya.

Jika ketinggalan payung dan payung itu mahal, apakah bisa kembali? BISA, tinggal datangi pojok “Lost and Found” dan Anda bisa mendapatkan payung kesayangan Anda kembali. Lalu, payung-payung tertinggal yang tidak diambil pemiliknya? Recycle lagi dong…ada perusahaan khusus yang menangani “penjualan” kembali payung-payung yang tertinggal di stasiun/kereta/tempat umum.

Payung memang sangat dihargai di Jepang. Karena itu saya senang sekali waktu Eka minta hadiah payung lipat waktu dia menjadi komentator ke 7000.

Becek

Tokyo sudah tiga hari ini hujan. Tidak terus menerus, tapi yang pasti mendung terus.  Yang menyebalkan dari hujan di musim gugur ini, dia pasti disertai angin yang cukup menusuk. Membuat tangan mau tidak mau dimasukkan dalam kantong, dan merapatkan kerah baju untuk menutupi leher.

Sebagai ibu rumah tangga, yang paling menyebalkan jika hujan adalah tidak bisa mencuci baju, tepatnya tidak bisa menjemur baju di luar. Tapi dengan dua anak laki-laki yang sering main kotor-kotor, saya harus mencuci setiap hari. Untung saja di sini ada deterjen yang khusus dibuat untuk “menjemur dalam ruangan”. Mungkin ada formula khususnya yang bisa mengurangi bau apek, jika dijemur dalam ruangan. Jika anak-anak dan Gen sudah tidur, jadilah kamar tamu dan kamar makan menjadi toko binatu. Berkibaran baju-baju yang hendak dikeringkan. Dan untungnya lagi (seperti orang Jawa, apa saja untung!) di musim gugur, kelembabannya rendah sehingga biasanya untuk baju yang tidak terlalu tebal, pagi harinya bisa kering.

Tiga hari juga Riku ngedumel setiap akan berangkat sekolah. Masalahnya dia harus membawa pianika, dan tas randoseru (ransel) berisi buku-buku yang cukup berat. Dan itu masih harus ditambah dengan memegang payung, memakai sepatu bot khusus hujan, jaket tebal (karena mulai dingin). Dan terpaksa juga akhirnya saya mengantar dia sampai ke sekolahnya, daripada dia ngambek mau minta bolos sekolah. Hari-hari terakhir dalam seminggu, Kamis, Jumat memang merupakan hari sibuk bagi saya.

Riku dengan bawaannya jika hari tidak hujan, jika hujan + payung, sepatu bot dan jas hujan

Riku dengan bawaannya jika hari tidak hujan, jika hujan + payung, sepatu bot dan jas hujan

Tidak di Jakarta dan kota-kota di Indonesia, di Tokyo pun, kami harus menyediakan waktu lebih lama untuk pergi ke mana-mana. Kecuali kereta, angkutan umum seperti bus dan taxi juga sering terjebak macet.Segalanya memang lebih lambat jika hujan turun. Jalanan licin sehingga orang juga harus berhati-hati melangkah. Yang sudah pasti saya tidak bisa naik sepeda, karena saya belum ahli mengendarai sepeda dengan satu tangan, sementara tangan yang satunya memegang payung yang terkembang.

Saya juga sempat termenung waktu teman saya Diajeng menulis status di FB nya begini: heran, kenapa ya kalau hujan, orang Indonesia malu pakai payung, apalagi yang cowok? Beda banget dg orang Jepang, semua selalu sedia payung sebelum hujan, di musim seperti ini. Memang orang Indonesia tidak pernah sedia payung kan sebelum hujan? Alasannya, kan ada ojek payung! Padahal “Sedia payung sebelum hujan” adalah salah satu “way of life” juga. Makanya orang Indonesia tidak pernah mengantisipasi keadaan buruk yang mungkin terjadi. Yah….itulah negaraku… apa boleh buat?!?!?!

Meskipun sudah memakai payung, hujan pasti membuat becek di mana-mana. Tapi ada satu alat atau cara untuk mengurangi kebecekan di setiap toko/supermarket, universitas dan tempat-tempat umum lainnya, yaitu dengan menyediakan tempat pemasangan plastik pada payung di depan pintu gerbangnya. Cukup masukkan payung pada space yang ada. Maka payung akan “masuk” ke dalam kantong plastik, kemudian tarik ke depan. Dengan demikian, air yang ada di payung tidak akan menetes-netes membasahi ruangan. Memang orang Jepang hebat! Sudah mengantisipasi penanggulangan “kerja” yang tidak efektif. Coba kalau tidak ada cara ini, berapa banyak lagi waktu dan tenaga yang terbuang untuk mengepel? (Alasan orang Indonesia…. tenaga kerja masih banyak ….. hmmmm)

alat penyedia plastik untuk payung yang diletakkan di depan toko/tempat umum untuk mencegah menetesnya air hujan dari payung

alat penyedia plastik untuk payung yang diletakkan di depan toko/tempat umum untuk mencegah menetesnya air hujan dari payung