Penutupan Sekolah

Memang akhir-akhir ini di Jepang ada berita tentang sekolah yang ditutup, terutama SD, karena tidak ada muridnya. Ini merupakan imbas dari jumlah anak atau kelahiran di Jepang yang semakin sedikit, sehingga terpaksa untuk daerah tertentu yang jumlah murid usia SD nya tidak ada/sedikit sekolah ditutup atau dihentikan.

Tapi kali ini yang ingin saya bahas bukan penutupan sekolah secara permanen, tetapi hanya sesaat (temporary) dan merupakan keadaan darurat sehingga terpaksa ditutup. Istilahnya memang “Penutupan Sekolah” 学校閉鎖 gakkou heisa. Tapi mungkin untuk orang Indonesia bisa dipakai istilah “Meliburkan satu sekolah”. Dan mungkin di Indonesia tidak ada kebijakan ini, yang ada mungkin karena terpaksa, seperti yang terjadi di daerah yang menjadi korban bencana.

Di Jepang kebijakan penutupan sekolah ini ada dan terpaksa diambil sebagai tindakan untuk mencegah penyebaran penyakit atau wabah yang kemungkinan akan meluas melalui kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Dua tahun yang lalu saya pernah mengalaminya di universitas akibat penyakit hashika (measles) yang melanda mahasiswa universitas. Konon angkatan tersebut waktu kecil tidak mendapatkan vaksin hashika, sehingga tidak mempunyai kekebalan terhadap penyakit hashika.  Measles pada orang dewasa ini dikhawatirkan bisa tersebar melalui kegiatan pembelajaran, sehingga banyak/ hampir semua universitas meliburkan kegiatan kuliah selama 2 minggu.

Nah, dengan adanya influenza jenis baru, yaitu  virus H1N1 atau yang disebut juga dengan flu babi, sudah banyak sekolah yang menutup/meliburkan sekolahnya terutama di daerah Kansai ( daerah sekitar Osaka, Kobe, Kyoto) Jepang barat. Dan hari ini (tanggal 19 Oktober) aku tercenung waktu menerima selebaran pemberitahuan dari sekolahnya Riku bahwa kelas 5, seluruh kelas dan kelas 6-1 ditutup/diliburkan sampai dengan tanggal 23 Oktober nanti. Meliburkan kelas lima keseluruhan disebut dengan Gakunen heisa 学年閉鎖 dan satu kelas 6 saja disebut dengan gakkyuu heisa 学級閉鎖. Memang tidak dikatakan akibat virus jenis baru ini, tapi memang di 3 kelas 5 sudah ada 8 orang terkena influenza dan demam seperti influenza diderita oleh 14 orang. Untuk kelas 6-1 ada 2 orang yang terkena influenza dan 5 orang demam.

Akhirnya….sampai juga di sekolah/daerah kami. Semoga penutupan kelas ini tidak menyebar atau memburuk dengan harus meliburkan satu sekolah 学校閉鎖.  Akibat penutupan kelas ini, kegiatan sore hari di sekolah juga dibekukan, sehingga otomatis anak-anak langsung pulang, dan menghabiskan waktu di rumah saja. Waaaah aku pikir, kalau sampai Riku musti libur…bagaimana nih dengan kerjaanku. Semoga ngga deh (Sambil membayangkan ibu-ibu murid kelas 5 dan 6-1 yang harus ‘melayani” anaknya di rumah sampai Jumat …duh…)

Padahal persis hari ini (tanggal 19 Oktober), di seluruh Jepang diadakan penyuntikan vaksin anti virus H1N1 yang diproduksi Jepang. Memang jumlahnya masih terbatas (1 juta orang), sehingga yang saya dengar dari berita, vaksin terutama diperuntukan bagi pekerja medis (dokter dan perawat), ibu hamil yang berisiko tinggi karena virus ini berbahaya untuk janin, dan anak-anak usia sekolah dasar. (Sudah ada korban beberapa orang anak karena virus ini jika komplikasi dengan penyakit lain akan menjadi penyakit yang parah dan sulit disembuhkan). Menurut kabar balita dan usia SD s/d kelas 3 akan menerima vaksin itu pada bulan Desember mendatang. Dalam tahun ini diperkirakan bisa diproduksi vaksin untuk 100 juta orang.

Kalau dipikir sistem yang cepat tanggap seperti ini memang merupakan ciri khas Jepang, yang selalu bisa memprediksi suatu masalah dan mengambil keputusan yang mungkin juga agak terlambat, tapi cukuplah untuk mencegah penyebaran sehingga tidak menjadi masalah akut. Yang pasti kami memang harus lebih menjaga kesehatan karena menjelang musim dingin, ketahanan tubuh berkurang dan kemungkinan terjangkit influenza cukup besar. Saya juga sekarang rajin sekali menggunakan alkohol yang disediakan di setiap sudut kampus tempat mengajar, sebagai salah satu pencegahan penularan penyakit.

Well, mencegah memang selalu lebih baik daripada mengobati.

19 gagasan untuk “Penutupan Sekolah

  1. Aurora

    Kalau di jepang itu kekurangan murid2 sd, ya diimpor aja toh, dari indo… Disini bnyk anak yg ga sekolah lho mbak!…
    Trus, diliburkan dr sekolah itu libur beneran mbak? Waah… Asik tuh. Kalau disini sih, HIV udah nyebar pun, ga bakal diliburkan deh…

    Balas
  2. Yoga

    Yang mesti ditingkatkan sistem imun, selain dengan makanan bergizi dan olahraga yang tak kalah penting adalah menjaga pikiran dan kondisi psikis. Moga-moga mbak Imelda dan keluarga dikarunia kesehatan yang baik, dan Riku segera sehat kembali.

    Balas
    1. mangkum

      Gw juga minta ajarin dong Petso yang bikin lu kecanduan itu… hihihihi….
      .-= mangkum´s last blog ..Matsuri Ga Pake Hanabi =-.

      Balas
  3. Ria

    anak-anak memang gampang banget tertular suatu wabah ya mbak…gak flu gak batuk…

    aku jadi inget salah satu blog yg membahas hari cuci tangan sedunia…hihihihi…katanya sih di buat biar anak2 mengerti arti mencuci tangan sejak dini sehabir beraktifitas agar tidak gampang tertular penyakit 😀 *lucu ya ada hari itu*

    semoga Riku cepet sembuh ya mbak 🙂

    Balas
  4. nh18

    Addduhhh … bisa menyebar begitu ya EM
    Ya semoga saja …
    Hal tersebut bisa cepat tertanggulangi dan anak-anak masuk sekolah kembali

    Salam saya
    .-= nh18´s last blog ..PEKA =-.

    Balas
  5. Didien®

    semoga kita semua terlindungi dari segala penyakit dan virus aneh² itu amin…

    salam, ^_^
    .-= Didien®´s last blog ..Tips Menghindari Hipnotis =-.

    Balas
  6. vizon

    tapi, riku demamnya yang sekarang bukan karena yang satu itu kan nechan…? semoga segera pulih dan normal kembali kehidupan bersekolah di sana ya… 😀

    Balas
  7. edratna

    Ada klien yang berusaha dibidang pendidikan di Surabaya, dari SD sampai SMA..sekolah SD nya terpaksa ditutup karena setelah sekian belas tahun letaknya di tengah kota…dan muridnya makin berkurang, maklum perumahan kan malah minggir ke luar kota, dan di tengah kota tinggal perkantoran dan mal.

    Hmm rasanya kalau di Indonesia belum pernah mendengar sekolah ditutup sementara karena ada wabah. Dulu saat SD, vaksinasi dilakukan di sekolah, dan sekolah hanya setengah hari…murid pulang setelah di vaksin.

    Balas
  8. wita

    heheh berita tentang vaksinasi itu aku juga bikin buat koranku, kemarin adalah vaksinasi untuk dokter dan petugas medi kan neechan? bulan depan untuk wanita hamil, anak-anak baru bulan depan…Jepang memang cepat tanggap yah…
    .-= wita´s last blog ..Tentang Servis =-.

    Balas
  9. Chandra

    Kalo di sini mba Imel, vaksin H1N1 putaran pertama ini udah bisa buat seluruh orang dewasa, walaupun prioritas tetap utk petugas medis, wanita hamil, dan penderita penyakit kronis, tp orang dewasa sehat juga sangat dianjurkan datang ke GP untuk divaksin. Kalo yg buat anak-anak (<10 th kalo ngga salah), kemungkinan bulan depan, sekarang masih dalam tahap pengujian keamanan vaksin.

    Doaku sih virus H1N1 yg hasil mutasi ini tidak bermutasi lg jadi virus influenza stereotype baru!

    Balas
  10. pakde

    Di Indonesia juga banyak penutupan sekolah buuuu… sayaratnya hanya satu… jika terjadi musibah! Beda tipis momentnya yaaaa
    .-= pakde´s last blog ..Ranah Minang Negeri Seribu Satu Cerita =-.

    Balas
  11. Tuti Nonka

    Di Indonesia, meskipun korban tewas akibat virus ini sudah cukup banyak, tapi tindakan antisipasi di masyarakat maupun di sekolah-sekolah kok sepertinya belum nyata.
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Kencan =-.

    Balas
  12. nanaharmanto

    Aku pernah nonton berita di TV, ada sekolah terpaksa ditutup sehari atau 2 hari karena banayk siswa/siswi yang kesurupan dan terus berlanjut.
    satu berhasil dsembuhkan, yang lain kesurupan…

    Pernah juga, sekolah tempat aku ngajar di Jakarta ditutup seminggu karena banjir parah..tapi kalau berkaitan dgn wabah penyakit belum pernah deh…
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Rambut Virgin =-.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *