Maaf

Baru saja aku menonton berita TV, sambil menemani Gen makan malam. Dalam berita itu ditayangkan sebuah balon udara yang melayang-layang tidak menentu di udara tanpa kemudi (Kejadian di Amerika). Tapi semua orang memperhatikan balon udara ini dengan cemas, karena dikatakan ada yang melihat seorang anak berusia 6 tahun yang tepat sebelum balon udara ini terlepas dari ikatannya, masuk ke dalamnya. Jadi diperkirakaan anak itu melayang tanpa kendali sendirian.

Tak kurang dari helikopter dan polisi mengejar-ngejar balon udara itu, dan akhirnya setelah melanglang (buana) mendarat dan berhasil ditangkap. TAPI… ternyata si anak tidak ditemukan….

Ternyata si anak, tidak ikut terbang bersama balon udara itu! Dia sempat turun dan karena takutnya bersembunyi. Dia takut dimarahi ayahnya.

Nah, tentu saja si Ayah waktu menemukan anak itu, langsung memeluknya, dan mendengar pengakuannya bahwa dia takut, dan mengatakan, “Maafkan ayah ya… kamu takut makanya kamu sembunyi ya…”Sambil mengecup anak itu di depan kamera televisi yang meliput.

Sebuah tindakan yang WAJAR sekali bukan? Tapi tindakan ini TIDAK WAJAR jika kejadiannya di Jepang. Jika di Jepang, si AYAH akan membungkuk menghadap kamera dan mengatakan, “Maaf kami telah merepotkan dan membuat keributan.” Tanpa ada usaha untuk memeluk si anak. Masyarakat umum lebih penting daripada si Anak. Dan terus terang hal ini yang membuat aku HERAN dan BENCI sifat orang Jepang yang ini. Memang aku tahu Jepang sangat mengagungkan kelompok daripada individu, tapi kok ya keterlaluan gitu sampai anak saja menjadi korban?

Mumpung lagi ngedumel, satu lagi yang sering mengganjal hatiku jika melihat berita tentang murid yang meninggal di sekolah, entah karena kecelakaan atau bunuh diri akibat bullying (ijime). Di situ pasti ada pihak sekolah yang mengucapkan maaf di depan media, karena kejadian yang memalukan itu bisa terjadi. Tidak jarang, setelah kejadian kepala sekolah yang bersangkutan mengundurkan diri dari jabatan, sebagai wujud tanggung jawabnya. Bagus memang, karena berarti sekolah amat sangat bertanggung jawab atas kegiatan muridnya. Tapi kalau meninggalnya di rumah, kok pihak sekolah juga yang harus meminta maaf? Seakan-akan jika anak sudah bersekolah, maka keluarga melepaskan tanggung jawabnya, dan seluruh tanggung jawab tentang anak ini berada pada pihak sekolah. Mungkin memang benar karena dilecehkan di sekolah, maka si anak mengambil tindakan nekat dengan bunuh diri di rumah, tapi…. kalau di rumah semestinya kan ada pihak keluarga, yang sebetulnya bisa juga mencegah si anak agar tidak bunuh diri?

Maaf, aku sudah mulai tidak fokus nulisnya, jadi aku hentikan saja di sini. Yang pasti aku masih merasa untung dan bangga menjadi orang Indonesia, yang masih lebih memperdulikan anak-anak ketimbang masyarakat. Karena pasti aku akan berbuat seperti ayah yang di Amerika itu.

33 gagasan untuk “Maaf

  1. iksa

    Maafkan saya Mbak, saya juga takut naik balon …. he he he
    Memang kadang agak sulit menghadapi sikap kaku tapi kadangkala itu juga yang terbukti menyelamatkan kelompok ….
    Disisi lain memang sangat menyenangkan bila pada saat-saat genting atasan berkata “put your family as first priority” atau “personal safety above the job and premises” …
    ada pus ada minus

    Balas
  2. Yoga

    Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya…
    Plus minus budaya orang ya mbak. Beruntung kita yang berasal dari kultur yang lebih baik dalam hal ini.

    Balas
  3. Fendy Endiarta

    jujur saya malah baru tau ternyata adat di sana seperti itu. terima kasih atas tulisan yang bagus & bermanfaat ini mbak.

    Salam Kenal,
    Fendy
    Bandung, Indonesia (^^,)v

    Balas
  4. Nug

    Hm… budaya yang sangat kental ikatan kelompoknya yaa… Gak heran kalo liat turis jepang kemana-mana bergerombol sepertinya takuuuutttt banget hilang dari kelompoknya..:)
    .-= Nug´s last blog ..Keindahan Pagi =-.

    Balas
  5. nh18

    Iya EM …
    Betul sekali …

    Tetapi back to Balon UDara …
    Akan lebih afdhol sebetulnya jika …
    Si Bapak Minta maaf pada anaknya …
    Lalu minta maaf pula kepada seluruh pihak yang telah direpotkan oleh kejadian itu … maaf kepada polisi – tim SAR dan sebagainya …

    But eniwei …
    Setuju dengan Yoga … Lain Padang lain Belalang … Lain Lubuk lain ikannya

    Salam saya EM

    Balas
  6. vizon

    itulah budaya nechan… kita harus menyesuaikan diri kita dengan budaya setempat, tapi bukan berarti harus meninggalkan budaya asli kita.

    setuju dengan om NH, bahwa si Bapak boleh mendahulukan minta maaf sama anaknya, tapi kemudian juga minta maaf sama publik…

    Balas
  7. pakde

    Ya… umumnya di Asia memang begitu ya… pola melatih dan mendidik anak kadang lupa diperhatikan. Di kita beratem aja di tonton sama anak2 alsannya simple biar anak cepet gede pola pikirnya! begitu katanya…. ada aksi pembunuhan ini itu.. anak diajak nonton juga. apa nggak keliru?
    .-= pakde´s last blog ..Koto Gadang Negeri Seribu Satu Cerita =-.

    Balas
  8. genthokelir

    he sekilas membaca tulisan ini menjadi ingat beberapa kisah saya waktu masih disana betapa kadang perbedaan budaya itu begitu kelihatan , tapi tetep aja terdapat sisi keseimbanganya ada yang jelek namun ada yang lebih baik dari budaya kita ….. yang di syukuri adalah orang yang seperti mbak imelda mempu mengamati dua sisi sekaligus memilahnya
    gimana kabarnya mbak wah lama nggak online saya
    .-= genthokelir´s last blog ..Pariman Yang Terjungkal =-.

    Balas
  9. radesya

    Masih merasa beruntung ya jadi orang Indo, selain ramah juga penuh kasih sayang. Jadi kasihan sama anak itu (jika terjadi di Jepang)
    Kenapa tidak tenangkan si anak yg ketakutan dulu, baru minta maaf ya.., trus anaknya dipeluk diajak pulang gitu

    Balas
  10. Henny

    Entah kalau dulu waktu sebelum jadi Mama, tapi sekarang saat aku baca postingan mbak Em, aku terharu sekali dgn kisah ini. Aku juga akan memeluk, mencium dan minta maaf seperti Papa Amerika… setelah tenaang, aku akan menunduk dalam-dalam memohon maaf kpd semua pihak dan publik seperti Papa Jepang.
    Syukurlah anak tsb selamat! Tfs

    Balas
  11. aurora

    tak ada sesuatu yang sempurna, dan tak ada pula sesuatu itu yang sempurna buruknya…..

    orang jepang yang hebat saja ternyata begitu kaku dalam menjalani hidup.. terlalu monoton dalam hidup berkelompok, hingga urusan pribadi pun harus dikorbankan.,…..

    NB: dari situasi yang tertisik, kayaknya ini postingan kilat ya mbak???
    .-= aurora´s last blog ..buat temanku di dunia sana =-.

    Balas
  12. ALRIS

    Kalo kejadiannya di Indonesia perlakuan ayah atas anak itu adalah kombinasi budaya Amrik dan Jepang. Di depan banyak orang sang anak akan dipeluk, disayang dan disanjung. Begitu momen di depan umum selesai tibalah saatnya si anak diomeli, dikatai-katai dan dimarahi. Gak percaya? Coba yang punya anak kecil bandel tunjuk tangan….

    Pertanyaan diluar konteks : mba Imel, bener gak sih orang Nippon jin ada yang beli tokek sampai harga milyaran. Saya baca di situs detik kemaren, ada yang jual tokek kepada orang Jepang sampai harga 900 juta. Ini saya kutipkan beritanya dikit.

    Menurut Faizal, satu ekor tokek dengan berat 2 ons dihargai Rp 50 juta sampai Rp 100 juta. Kalau beratnya 3 ons – 4 ons bisa mencapai ratusan juta rupiah. Harga tokek bisa mencapai miliaran rupiah jika beratnya mencapai di atas 1 kilogram.

    Faizal sendiri pernah menjual seekor tokek seberat 4 ons dengan lebar empat jari tangan orang dewasa seharga Rp 900 juta. Uang itu kemudian ia belikan mobil Honda Jazz untuk istrinya, dan sisanya ditabung. “Itu transaksi pertama saya pada akhir 2007. Yang beli orang Jepang. Dan dari situ saya kemudian mulai giat mencari tokek,” beber Faizal yang tinggal di perumahan elit Metro Pondok Indah, Jakarta.

    Faizal, yang sehari-hari bekerja di divisi logistik, PT Medco Energy, mengatakan, mulai menggeluti bisnis tokek sejak 2007. Saat itu seorang kenalannya, pengusaha pertambangan yang bernama Andi, mengatakan ada orang Jepang yang bernama Takeshi dan Himamura sedang mencari tokek.
    .-= ALRIS´s last blog ..Kampungku Luluh-lantak =-.

    Balas
  13. nanaharmanto

    Hmmmm…..cerita yang menarik nih….
    Kalau aku milih memeluk si anak dan menenangkannya. Lalu baru memberi pernyataan sedikit pada para wartawan, berterima kasih pada polisi dan Tim SAR, dan meminta maaf pada semua yang telah ikut deg-degan atas insiden itu.
    Setelah itu, aku akan bawa si anak menjauh dari kerumunan dan tidak melayani tanya jawab dengan para wartawan….perasaan anak jauh lebih penting di atas semuanya itu..
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Teknik Delapan =-.

    Balas
  14. Ria

    orang jepang memang begitu kali ya mbak, di film2jepang yang aku tonton banyak juga loh adegan bunih diri yg di lakukan anak2 SMU dan SMP…serem banget 🙁

    bagaimana dengan si om? semoga ikutan tertular kebudayaan indonesianya mbak imel 😀
    .-= Ria´s last blog ..Kijang, Rusa dan Tanduk vs Mobil =-.

    Balas
  15. wita

    Hmm…awal baca kirain ngebahas tentang si baloon boy, falcon heene..
    Yah, memang budaya minta maaf orang jepang segitu mengakarnya, tapi memang seperti bukan? setiap hal selalu ada dua sisinya, yang baik dan yang buruk…
    .-= wita´s last blog ..Tentang Servis =-.

    Balas
  16. Lala

    Yaa… Seperti yang dibilang Mbak Yoga, kita beruntung berasal dari sebuah negeri dengan kultur yang jauh lebih baik untuk menghadapi hal-hal seperti tadi….

    Balas
  17. Tuti Nonka

    Saya jadi lebih mengenal karakter orang Jepang. Jadi bisa dikatakan, orang Jepang itu dingin, begitu ya Mbak? Konon, suami pun jarang mau memperlihatkan kemesraan kepada isterinya. Hmm … mungkin Mr. Gen harus sering-sering diajak ke Indonesia ya Mbak, biar tahu ramah-tamahnya bangsa kita ini … hehehe …

    Ya, saya pernah baca, angka bunuh diri di kalangan anak muda di Jepang cukup tinggi. Apakah ada kaitannya dengan stress karena kesepian atau kurangnya interaksi dengan orang tua?
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Rumah Teletubbies Vs Barrataga =-.

    Balas
    1. vee

      Bener tu, kmaren baru baca britanya. Anaknya kceplosan ngomong kalo itu cuma sandiwara. Katanya bapaknya orang yg obsess, ngaku2 ilmuwan…wah parah bgt deh critanya

      Balas
  18. edratna

    Semua memang ada plus minusnya…di satu sisi karena memprioritaskan pada kelompok, sanksi sosial sangat diperhatikan …di Indonesia sanksi sosial ini makin luntur, dan sekarang cenderung ke arah individu, walau masih sebagian besar orang tetap mengutamakan keluarga.

    Jadi ingat saat anak saya demam, dan karena saat itu hari Sabtu giliran masuk setengah hari, saya terpaksa masuk. Kemudian karena kawatir saya menghadap bos (Direktur)…saya malah dimarahi, beliau bilang..”Anda itu kerja kan untuk kepentingan keluarga. Lain kali kau bisa telepon langsung aku, dan tak perlu ke kantor.” Belakangan, ternyata bos itu memang baik banget (walau kesannya galak)…

    Balas
  19. DM

    Kejadiannya akan berbeda jika hal seperti itu terjadi di Indonesia. Hehehe.

    Dulu waktu kecil, pertama kali mendengar ada pejabat (barangkali menteri) mengundurkan diri itu ya di Jepang. Saat itu, mendengar hal seperti itu terasa aneh. Cukup aneh dengan cara berpikirku yang Indonesia banget saat itu. Belum lagi cara pandang pemerintah Orde Baru bahwa pemerintah tak mungkin salah dalam segala aspek kehidupan bernegara. Jadi jangankan mengundurkan diri, minta maaf pada publik pun barangkali saat itu dianggap sikap yang aneh, kalau tak mau disebut keterlaluan 😀

    Barangkali ini bukan soal geografis, tapi soal psikologis.
    .-= DM´s last blog ..Taksu =-.

    Balas
  20. Clara

    Aku pernah juga nonton film Jepang tentang guru yang berjanji akan memasukkan 5 orang murid ke universitas ternama Jepang. Pada akhirnya, ada 1 orang yang gagal masuk, sementara yang 3 lagi lulus dan 1 orang mengundurkan diri karena ingin ke sekolah seni. Tiga orang yang lulus ini murid biasa yang bertransformasi jadi anak2 pintar, sebuah prestasi sebenarnya, tapi si guru tetap mengundurkan diri karena dia hanya bisa meluluskan ‘tiga’ dan bukan ‘lima’… Buseeettt, segitunya banget sih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *