Arsip Bulanan: September 2009

SW 2 : Gerbong Khusus dan Jalan Laut

Tulisan ini sambungan dari posting sebelumnya: SW 1 Transportasi.

Dari Shibuya kami naik kereta Minato Mirai Line. Dulu namanya Toyoko line, singkatan dari Tokyo – Yokohama. Tapi karena kemudian diperpanjang sampai ke kawasan pinggir pantai termasuk pecinan, maka diberi nama Minato Mirai line. Natsukashii….. (membangkitkan kenangan lama) apalagi waktu melewati stasiun Gakugei Daigaku, tempat tinggalku dulu. Karena naik dari terminal awal (Shibuya) kami bisa mendapat tempat duduk. Tapi tidak sadar ternyata gerbong yang kami masuki adalah gerbong khusus wanita.

Gerbong khusus wanita ini baru sekitar 4-5 tahun terakhir ini disetting pada jalur-jalur padat penumpang baik perusahaan kereta api JR (dulu BUMN) dan swasta lainnya. Biasanya gerbong paling depan atau paling belakang, dan hanya berlaku untuk jam sibuk dari pagi sampai pukul 10 pagi dan setelah jam 5 sore. Waktu saya mencari keterangan tentang gerbong khusus wanita ini, ternyata menurut sejarahnya sudah lama sekali ada, dan tidak ada. Dulu dibuat gerbong khusus wanita karena ada kesan tabu dalam masyarakat untuk menyatukan kaum wanita dan kaum pria. Seiring dengan modernisasi, gerbong khusus tersebut dihapus. Akhir-akhir dibuat kembali, dengan tujuan untuk menghindari chikan – pria yang tidak bertanggung jawab (pernah saya tulis di sini) . Hmmm saya sendiri tidak begitu setuju dengan adanya pembedaan gerbong seperti ini. Karena toh akhirnya saya (dan banyak wanita karir) juga tidak pernah pakai (masuk) gerbong khusus ini . Kesannya malah justru sebagai pembenaran pemisahan gender dan berlawanan dengan feminisme yang seharusnya dong. Sama juga seperti yang akhir-akhir ini saya lihat di jakarta, yaitu pemisahan space parkir khusus wanita. Kalau saya sih malah merasa “terhina” dengan pemisahan ini. Emangnya kita diragukan kepiawaian menyetirnya? atau ngga bisa jalan ya sampai ke pintu masuk kalau dapat tempat parkir yang jauh. Oi wanita Indonesia…. jangan manja ah!

Menurut wikipeda bahasa Jepang, di Indonesia ada juga gerbong khusus wanita di jalur jabotabek, dengan latar belakang agama islam, yang membedakan wanita dengan pria yang bukan muhrimnya. Tapi memang tidak diketahui prakteknya bagaimana.

Setelah 25 menit berada dalam kereta api, kami turun di  Stasiun Yokohama. Padahal sebetulnya jika kami ingin pergi ke acara Y150 atau 150 tahun pembukaan pelabuhan yokohama, kami bisa turun di Bashamichi (perhentian sesudah Sta. Yokohama). Tapi waktu kami lihat peta dari stasiun Bashamichi ke tempat berlangsungnya acara Y150 itu cukup jauh jalannya. Yang paling dekat berjalan dari Red Brick Warehouse (Aka renga soko) . Dan untuk sampai ke Gudang Batubata itu, kami bisa menggunakan jalan laut.

Tapi sebelum itu, karena sudah menjelang jam makan siang, kami pergi menuju sebuah restoran yang bernama “Tsubame Grill” di dalam stasiun Yokohama. Dulu saya dan Gen, jaman masih “pacaran” sering pergi ke restoran ini. Dan terakhir kami pergi ke restoran ini waktu Riku berusia 2 tahun, jadi 4 tahun yang lalu. Sekalian tapak tilas, kami berempat makan di sini. Speciality restoran ini adalah vrikadel saus beef stew (rasanya seperti rolade di Indonesia deh) yang dibungkus dalam alumunium. Dan senang sekali melihat Riku dan Kai makan banyak. FYI, aku selalu share makanan dengan Kai. Dengan asumsi, kalau dia tidak suka, aku bisa makan. Tapi lebih sering Kainya suka sekali, sehingga bisa makan lebih dari setengah porsi. Bayangkan! Kai yang 2 tahun itu makan setengah porsi orang dewasa! Jadilah aku tidak pernah kenyang kalau makan di luar. But pikir-pikir bagus juga sih buat diet hahahah. Riku? Hmmm dia sudah bisa makan satu porsi orang dewasa!  Aku cuma ngebayangin nanti kalau Riku dan Kai sudah teenager… bisa mabok deh aku masak terus hahhaha.

Karena kami melihat begitu banyak orang mengantri untuk masuk restoran itu, maka kami cepat-cepat menyelesaikan makan dan bersiap untuk pergi melanjutkan perjalanan. Perjalanan melalui laut!  Dari Stasiun Yokohama berjalan ke arah Sogo, kami menuju ke terminal Sea Bass, sebuah layanan bus air yang menghubungkan point penting di Yokohama, bahkan juga menyediakan angkutan dari Yokohama ke Tokyo.

Ada beberapa rute/perhentian yang berbeda juga harga karcisnya. Kami naik dari nomor 1 ke nomor 3 dan membayar 600 yen

Ada beberapa rute/perhentian yang berbeda juga harga karcisnya. Kami naik dari nomor 1 ke nomor 3 dan membayar 600 yen

Well, jalan jauh (untuk ukuran orang Indonesia) dari stasiun Yokohama ke terminal Sea Bass ini. Riku sempat mendorong kereta Kai sampai mendekati Sogo. Tapi kami sempat juga nyasar mencari-cari terminal, yang ternyata terletak di lantai 3 nya Sogo, dan harus melewati jembatan.

jenis kapal sea bass yang kami tumpangi

jenis kapal sea bass yang kami tumpangi

Sea Bass ini memang tidak pernah terlambat. Ya di perairan gitu kan tidak macet, dan tidak ada lampu merah. Kecuali ada badai, biasanya mereka berangkat tepat waktu. Waktu kami naik pukul 13:45 siang seluruh tempat duduk yang kapasitas 80 penumpang sudah penuh terisi, dan banyak penumpang yang berdiri di deck kapal (memang disediakan tempat di deck bagi yang mau).

Lima belas menit mengarungi perairan menuju ke Gudang Batubata, kami bisa melihat pemandangan Yokohama ke arah darat tanpa halangan. Sayang saya tidak bisa memotret Yokohama Bridge karena harus menggendong Kai, dan posisi yang tidak pas untuk memotret. Spot terkenal lain yang merupakan simbol Yokohama adalah Landmark Tower dan Yokohama Cosmo World, ferrish wheel ciri khas pelabuhan Yokohama.

hei nak, ngelamunin apa?

Aku selalu suka Yokohama, karena ada laut dan ada gunung! Perpaduan yang indah sekali. Universitas Yokohama terletak di gunung, tapi untuk pergi ke laut pun tidaklah jauh. Tapi jangan harap bisa naik sepeda di Yokohama…tanjakan bo!

Sekitar pukul 2 siang kami sampai di terminal Gudang Batubata (Akarenga Soko). Terus terang ini pertama kalinya aku pergi ke Gudang Batubata ini. Banyak orang di sini karena Gudang Batubata juga sudah direnovasi, dari fungsi dulu sebagai gudang, menjadi pertokoaan dan restoran. Ah romantis sekali di sini. Nanti kalau ada waktu aku ingin datang lagi malam-malam ah… pasti romantis dan… menakutkan juga hehehe.

SW 1 – Transportasi

Tulisan ini adalah tulisan pertama dari liburan Silver Week kami (21-23 September)

Hari Selasa, 22 September 2009. Setelah satu hari libur sekeluarga disia-siakan, jam 9:30 kami keluar rumah. Siap dengan ransel berisi pakaian ganti dan susunya Kai, baby car, Kai dan Riku (tidak boleh ketinggalan hihihi), kami berempat berjalan ke halte bus dan memulai perjalanan kami ke Yokohama. Tujuan kami adalah Y150, sebuah acara gabungan untuk memperingati 150 tahun pembukaan pelabuhan Yokohama.

start the journey... its a bit late 9:30!

start the journey... its a bit late 9:30!

Kok tidak naik mobil? Tadinya aku juga pikir mau naik mobil sampai rumah mertua, taruh di situ, lalu jalan-jalan dan kembali menginap di rumah mertua, lalu besoknya lanjutkan jalan-jalan di daerah Yokohama lagi. Tapi waktu kami melihat televisi, diberitakan bahwa jalan tol di mana-mana macet, penuh dengan antrian mobil yang akan dan dari luar kota Tokyo. Hmm sekali-sekali semua anggota keluarga sama sama capek dengan naik kereta saja, yang sudah pasti jam-jamnya dan tidak terpengaruh kemacetan jalan.

dalam kereta dari Kichijoji ke Shibuya

dalam kereta dari Kichijoji ke Shibuya

Dari rumah naik bus ke stasiun Kichijoji, dan dari Kichijoji naik kereta ke Shibuya. Di Shibuya, kami mampir ke patung Hachiko, untuk menunjukkan pada Riku tempat patung anjing yang terkenal dipakai sebagai tempat berkumpul/janjian bertemu 待ち合わせ machiawase. Tulisan tentang anjing Hachiko itu ada di sini.

depan patung hachiko Shibuya,  sebagai meeting point

Depan patung Hachiko Shibuya, sebagai meeting point

Orang Jepang memang sering menentukan suatu tempat sebagai titik pertemuan, biasanya di stasiun, meskipun ada juga yang janjian di Mac D atau kedai kopi sih. Tapi kebanyakan berkumpul di depan stasiun. Kalau di Jakarta mau ngumpul di mana ya? Paling Mall, atau langsung ke restoran ya?Atau minta dijemput di rumah masing-masing hihihi. Di Jepang sih ngga ada tuh main jemput-jemputan.

bekas gerbang Toyoko Line sebagai museum

bekas gerbong Toyoko Line sebagai museum

Sebegitu lamanya aku tidak ke Shibuya, terkaget-kaget melihat ada gerbong kereta lama Tokyu Tokyo-Yokohama (Toyoko Line) yang ditaruh di depan Hachiko. Gerbong berwarna hijau itu menjadi ajang pameran foto jalur Toyoko line (Sekarang menjadi Minato Mirai Line) dan dilengkapi tempat duduk sehingga bisa menjadi tempat beristirahat juga. Tapi kereta Toyoko line bisa membangkitkan kenangan lama, karena dulu sebelum menikah, aku tinggal di Stasiun Gakugei Daigaku dari Toyoko Line ini. Uuuuh dulu dari rumah ke Shibuya dekat sekali, sehingga bisa bermain sampai malam di Shibuya.  (Shibuya adalah salah satu stasiun besar di jalur Yamanote Line, sederet dengan Shinjuku, Ikebukuro, Ueno, Tokyo dan Shinagawa)

pakai seat belt dan siap untuk diputar-putar

pakai seat belt dan siap untuk diputar-putar

Dan saat itu di pelataran halaman Shibuya juga ada sebuah mobil trailer terbuka yang diparkir di situ. Karena masih pagi belum terlalu ramai, dan rupanya di mobil trailer itu dilengkapi dengan ruangan semacam kokpit (duh gaya amat)  untuk pengemudi dan kokpit itu bisa diputar-putar seperti ajungan permainan saja. Rupanya alat ini untuk memperlihatkan kehebatan seat belt. Merupakan kegiatan kepolisian dengan sebuah sekolah menyetir mobil.

8,1 % dari orang yang duduk di belakang dan meninggal dalam kecelakaan  tidak memakai seatbelt

8,1 % dari orang yang duduk di belakang dan meninggal dalam kecelakaan tidak memakai seatbelt

Memang setiap pergantian musim, kepolisian membuat kampanye keselamatan lalu lintas.  Pemeriksaan kelengkapan mobil, termasuk juga kampanye pemakaian seat belt dan child seat untuk anak-anak. Di sini selain supir dan sebelah supir, penumpang yang duduk di belakangpun semua harus memakai seat belt. Peraturan ini baru mulai berlaku tahun ini. Dikatakan bahwa resiko kematian bagi penumpang yang duduk di belakang pun tinggi, karena bisa terbentur kursi di depannya, bahkan terlempar mengenai kaca muka.

demi ibu dan calon bayi, ibu hamil pun perlu memakai seatbelt

demi ibu dan calon bayi, ibu hamil pun perlu memakai seatbelt

Karena kami melihat ada antrian anak-anak untuk mencoba “diputer-puter” gini, maka Gen menemani Riku untuk antri, dan mencoba kehebatan seat belt itu. Setelah selesai mencoba, ternyata datang maskot kepolisian Jepang yang bernama Pipo- kun ……. dan anak-anak mulai merubungi maskot dan berfoto bersama. Aku jadi berpikir… Kepolisian Indonesia punya maskot ngga sih? Maskot itu kan sebagai simbol yang ramah yang bisa melekat di hati warga. Anak-anak juga langsung bergelayut ke maskot itu.

maskot kepolisian Jepang, Pipo-kun

maskot kepolisian Jepang, Pipo-kun

Baru di Shibuya, still a long way to go…. dan masih jam 11 tapi rasanya sudah jalan jauh dan mengalami macam-macam. Tapi kami tidak diburu waktu kok, jadi kami menikmati setiap detik yang bisa dilewatkan bersama.

cap TT

Tulisan ini untuk menjawab pertanyaan Krismariana dalam komentarnya di sini.

Kami di sini diwajibkan untuk mempunyai sebuah cap. Ya cap itu sebagai pengganti tanda tangan yang berfungsi untuk mengesahkan sesuatu pernyataan. Cap atau inkan bisa dibuat di mana-mana atau membeli di toko buku/ toko 100 yen, dan bisa langsung dipakai (untuk nama keluarga Jepang tentunya) tetapi jika kita mau melakukan suatu kontrak dengan jumlah besar maka diwajibkan memakai cap yang sudah didaftarkan ke kantor pemerintah daerah.

Meskipun untuk kasus tertentu orang asing bisa tidak mempunyai cap, tapi jika sudah tinggal lama dan menjadi permanen resident, atau hendak membeli rumah/ barang mewah lainnya, biasanya perlu cap.

Cap yang terdaftar itu dinamakan jitsuin 実印, dan dipakai untuk menyewa rumah, mendapatkan pinjaman uang, pembelian rumah atau tanah atau untuk memulai usaha kantor dan sebagainya. Selain cap yang asli adakalanya diminta pula menunjukkan Sertifikat Pendaftaran Cap yang dapat diminta di kantor pemda.  Cap Jitsuin ini didaftarkan di kantor pemda dengan membawa kartu identitas 外国人登録証明書 Gaikokujin Toroku Shoumeisho (alien registration).

Apakah semua orang punya cap ini? Hmmm jika berusia 15 tahun ke atas dan punya  kartu identitas Gaikokujin Toroku Shoumeisho. Satu orang hanya bisa mendaftar satu cap yang bertuliskan nama keluarga dan atau nama kecil seperti yang tercantum dalam kartu identitas, dan ditulis dalam Kanji atau Kana. Cap yang saya pakai masih bertuliskan nama keluarga lama sebelum menikah yaitu kuttoriru dengan huruf katakana. Cap itu harus terbuat dari batu, kayu atau gading, dengan ukuran dari 8 mm sampai 2,5 cm.

Harga pembuatannya macam-macam, tergantung dari bahannya. Jika dari kayu biasanya maka tidak sampai 3000 yen, tapi kalau dari bahan marmer ya siap-siap saja merogoh kocek lebih dalam.

kotak kecil sebelah kanan berisi bantalan bertinta merah

Tinta untuk cap ini berwarna merah disebut Shuniku 朱肉. Shuniku yang asli terbuat dari warna merah alami dari batuan Cinnabar, red mercury sulfide. Sebetulnya kalau mau dipikir-pikir, sistem tanda tangan akan lebih terjamin keamanannya. Karena bisa saja cap kita hilang, atau diambil orang, dan dipakai orang yang tidak bertanggung jawab. Kalau tanda tangan kan tidak bisa terjadi tanpa ada orangnya (kecuali dibawah pemaksaan). Tapi saya jarang mendengar pemakaian cap secara sembarangan. Cap itu memang harus disimpan di tempat aman dan/atau dibawa ke mana-mana.

tissue

Posting terpendek di TE…mungkin. Berhubung sibuk mempersiapkan semester baru, belum sempat menulis posting baru. Jadi kali ini mau menampilkan foto saja yah.

Saya pernah membaca di postingan teman…lupa siapa (yang sadar harap lapor!). Bahwa di tempat duduk pesawat tertulis warning, supaya jangan membawa pulang life-jacket pesawat udara yang ditumpangi. Warning itu ditulis dalam bahasa Indonesia…. hmmm membuat kita berpikir bahwa orang Indonesia emang suka nilep….

Di Jepang, tentu saja jarang ada “peringatan” semacam itu, tapi saya menemukan ini di WC umum di stasiun. Sudah beberapa kali saya temukan, entah jika di WC Pria ada atau tidak.

Di atas tempat tissue itu tertulis: Jangan bawa pulang tissue!

Rupanya banyak kejadian orang membawa pulang tissue dari WC umum itu sehingga kekurangan tissue. Padahal tissue di Jepang itu tidak bisa dipakai untuk mengeringkan tangan atau membuang *maaf* ingus, karena terbuat dari kertas daur ulang yang peka sekali terhadap kandungan air. Tissue akan langsung lebur, jika tersentuh air. Jadi orang yang membawa pulang tissue itu untuk apa ya?

17 tahun

Sejak kapan ya umur 17 tahun dirayakan secara besar-besaran? Sweet seventeen…. padahal di negara Paman Sam, orang menjadi dewasa jika berusia 18 tahun. Di Jepang pada usia 20 tahun. Apa yang menyebabkan ulang tahun k e 17 yang terpilih sebagai “sweet” dalam kehidupan seseorang?

Waktu saya googling, ternyata orang Indonesia saja yang merayakan ulang tahun ke 17 besar-besaran. Kalau di Amerika justru pada umur 16, sweet sixten, mereka merayakan besar-besar, terutama untuk perempuan. Katanya umur 16 di beberapa negara bagian Amerika dan Canada orang dinyatakan dewasa. Dan umur 16 tahun merupakan “batas” keperawanan. Hmmmm

Nah, kenapa di Indonesia umur 17 ya? Apa mungkin karena 17 itu angka keramat, yang berhubungan dengan hari proklamasi Indonesia. Kalau ikut pendidikan dengan wajar kan umur 17 tahun itu seorang anak duduk di bangku kelas 2 SMA, bukan di kelas 3. Kok nanggung ya? bukan 16 atau 18.

Ya sudah, saya tidak mau berpolemik soal pemilihan angka yang sweet itu. Karena saya orang Indonesia ya ikut-ikutan saja deh. Saya mau merayakan sweet seventeen, tapi bukan untuk umur saya (ya jelas lah yau, orang juga ngga mau percaya kamu baru 17 tahun hihihi), tapi tepat hari ini saya merayakan genap 17 tahun kedatangan saya ke Jepang.

Tepat pada hari equinox 23 September tahun 1992, saya kucluk-kucluk mendarat di Narita, dijemput teman papa, Hatakeyama san, dan diantar ke rumah kos saya di Meguro. Menempati kamar yang baru, kamar bekas anak perempuan induk semang saya. Sebelumnya waktu saya survey di bulan Mei, saya menempati sebuah kamar sebesar 4,5 tatami, berpintu geser, tanpa kunci…benar-benar seperti gudang. Tapi di kamar anak perempuan ini, saya merasa betah, karena benar-benar berbentuk kamar, dengan interior berwarna putih, dan berkunci.

Mulailah kehidupan saya di Jepang sebagai seorang kenkyuusei 研究生, peneliti di Universitas Negeri Yokohama untuk mempersiapkan ujian masuk program Master yang berlangsung tahun berikutnya. Jepang mewajibkan waktu minimum satu tahun sebagai mahasiswa peneliti untuk beradaptasi sebelum masuk program master, jika datang bukan dengan beasiswa pemerintah Jepang (biaya pribadi).

Siapa sangka saya akan tinggal terus di Jepang setelah saya lulus program master bulan Maret tahun 1996. Ya, saya gambling bekerja di Jepang setelah lulus…. dan itu sedikit banyak dipengaruhi oleh kehadiran seseorang yang membuat saya tidak mudah memutuskan pulang…for good. Seorang dosen bernama Yoshioka sensei, menasehati saya untuk pulang, dan bekerja di Indonesia, demi negara Indonesia.(Uhhh dia menasehati saya dalam kereta, dan membuat saya tersedu-sedu sepanjang perjalanan pulang ke rumah). Tapi selain dia, semua mendukung saya tetap tinggal di Jepang. Murid-murid kelas bahasa Indonesia saya, dan…. pekerjaan sebagai penyiar radio di NHK dan di InterFM. Dan seorang wanita Cina yang menguatkan keputusanku untuk akhirnya tetap tinggal di Jepang, seperti yang pernah saya tulis di sini.

Kemudian, 10 tahun yang lalu, tepat setelah 7 tahun saya bermukim di Jepang, saya membuat keputusan yang amat penting dalam hidup saya, yaitu mencatatkan pernikahan saya dengan seseorang yang menjadi alasan saya tetap tinggal di Jepang. Ya, saya dan Gen Miyashita mendaftarkan pernikahan kami di catatan sipil di Tokorozawa, Saitama.

Catatan sipil di Jepang, atau disebut Kon-in todoke 婚姻届 itu sebetulnya amat mudah! Tanpa biaya! dan bisa diserahkan kapan saja 24 jam sehari. Karena si laki-laki dan perempuan cukup menuliskan data dan cap, serta disahkan dengan cap dari 2 orang saksi…siapa saja (tidak harus orang tua). Segitu mudahnya di Jepang.

Dan segitu mudahnya pula untuk bercerai. Tinggal ambil formulir satu, yang di isi data-data suami dan istri , bubuhkan cap, dilengkapi cap 2 orang saksi, masukkan ke kantor pemda. Then… resmi lah mereka bercerai. Bisa saja orang menikah, dan esok harinya bercerai.

Namun untuk saya, karena saya orang asing, tidaklah mudah. Setelah kami memasukkan surat catatan sipil itu berikut surat pendukung yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, kami harus menunggu panggilan dari pemda, untuk wawancara (biasanya sekitar 2 minggu sesudahnya). Loh kok? pakai wawancara?

Ya, ini untuk mencegah pernikahan “sandiwara”. Karena mudahnya pencatatan sipil di Jepang, maka bisa saja seorang asing, yang ingin mendapatkan visa untuk tinggal di Jepang, membayar atau meminta bantuan seorang lelaki/perempuan Jepang untuk mengambilnya sebagai istri/suami. Seperti ini dinamakan giso kekkon 偽装結婚. Jadi waktu diwawancara, saya ditanya kenalnya di mana, bagaimana hubungan dengan keluarga, dapat ijin dari orangtua atau tidak, bla bla bla.

Sesudah wawancara selesai, kami menerima pemberitahuan bahwa pernikahan diterima dan bisa mengambil kartu penduduk. Tapi tentu saja bagi kami, kehidupan tetap biasa saja, sendiri-sendiri, karena kami merencanakan pernikahan secara agama katolik pada tanggal 26 Desember 1999.  Jadi kalau mau dikatakan bahwa hari ini adalah hari pernikahan kami juga tidak tepat, kami lebih memilih tanggal 26 desember sebagai anniversary kami.

Tapi memang hari ini adalah hari istimewa bagi saya, karena memeperingati 17 tahun berada di Jepang, dan 10 tahun resmi tercatat sebagai Mrs Miyashita.

Ketika Koala bertemu Koala

Si Koala KAI sudah bertemu Gajah di sini. Juga sudah pernah ke kebun binatang Indonesia, Ragunan. Tapi dia belum bertemu saudaranya, sesama Koala. Jadi hari Minggu tgl 13 September lalu, kami pergi ke Tama Zoo. Berangkatnya sesudah makan siang, tapi dengan begitu kami jadi tidak terlalu capek. Karena tidak semua tempat kami kunjungi.

Tujuan utama memang menemui Koala, yang memang kandangnya terletak paling jauh dan dalam. Sehingga sambil menuju ke arah kandang koala, kami mampir melihat kandang binatang dari yang terdekat dengan pintu masuk. Ada kolam dengan bebek dan angsa, tapi sama kotornya dengan ragunan hehehe. Kemudian ada kandang tapir, yang dalam bahasa Jepangnya disebut Baku. Baku ini sering dipakai sebagai peneman tidur. Entah apa yang membuat image seperti ini.

Setelah itu kami melihat kandang rusa dan beruang. Yang lucu yang beruang ini, dia sepertinya sangat “narsis” dan merasa semua perhatian padanya, sehingga selalu melakukan ritual khasnya. Dia berjalan kearah pintu lalu berdiri dan berbalik kembali ke tengah “catwalk”…

Di dekat kandang beruang juga terdapat kandang burung seperti beo dan burung merak (kujaku). Karena Riku sudah pernah lihat burung merak yang indah sekali di Taman Safari, dia berkata, “Ah di sini jelek, yuuuk kita pergi!” hihihi. Memang sih, kalau bisa lihat sedekat yang waktu itu, burung merak di sini tidak menarik. Tapi, burung beo di sini sangat pintar bergaya. Dia memamerkan bulunya yang indah, bagaikan peragawati.

Setelah itu kami pergi ke taman burung. Maunya seperti Taman Burung di Taman Mini, tapi di sini kecil sekali dan hanya ada jenis burung yang ada di Jepang. Kalah deh dengan Taman Burung di TMII, tempat favorit saya, meskipun setelah gemparnya flu burung, saya takut mengajak orang Jepang ke situ.

Akhirya kami sampai di kandang koala di gedung khusus paling dalam kebun binatang ini. Semua gelap di dalam sini. Karena koala adalah binatang yang sensitif, kami juga diwanti-wanti untuk tidak memakai lampu blitz waktu memotret. Dan, lihatlah si Koala bertemu saudaranya!

Paling akhir kami menengok kandang gajah India. Kami baru tahu ternyata gajah yang berada di situ, menjadi model sebuah Picture Book  yang berjudul “Tomodachi wo tasuketa Zou tachi” Gajah-gajah yang menolong temannya. Ada tiga gajah yang dahulu menghuni kebun binatang Tama ini. Yang masih hidup sekarang bernama Annura. Saya tidak bisa mengambil fotonya karena dibalik kandang besi yang teralinya cukup mengganggu pemandangan. Annura ini pernah sakit, dan gajah bila sakit tidak bisa tidur rebahan. Tidur dalam keadaan berdiri. Yang menjadi tema cerita dari Picture Book itu adalah betapa dua teman Annura, selalu berada di sisi kanan dan kiri Annura, menyangga, menopang, membantu Annura selama sakit, dan itu berlangsung cukup lama. Ahhh Gajah saja bisa perhatian begitu, masak kita manusia tidak bisa membantu sesama yang kesulitan?

Akhirnya pukul 4:50 sore, kami diperintahkan untuk meninggalkan lokasi kebun binatang karena akan tutup. Tapi sbeelumnya kami sempat mampir di tempat orang utan, yang orang utannya sudah berlarian entah kemana. Hanya ada satu yang bergelantungan dan bergerak terus, sehingga sulit untuk dipotret. Tetapi di bagian luar ada dua orang utan yang diberi nama Yuki dan Kiki. Kiki ini berasal dari Taman Safari Indonesia. Ada satu lagi penghuni kandang ini yang bernama Jipsi, berasal dari Malaysia. Dan saya menemukan satu lambang (bendera) yang akhir-akhir ini cukup menjadi berita, dua saudara yang sedang “bertengkar”. Begitu saya melihat ini, saya sempat menjelaskan pada Gen yang tidak mengerti. “Untung merah putih di atas, kalau tidak…. tambah berkelahi lagi hihihi!”. Ahhh, seharusnya kita banyak belajar dari binatang…. Betul kan?

Kai dan mama menunggu pesanan spaghetti datang... laparrrr!

Tama Zoo terletak di Kota Hino, turun di Tama Dobutsu Koen kira-kira satu jam perjalanan dari Shinjuku (Keio Line). Harga tanda masuk 600 yen untuk dewasa, dan gratis untuk anak berusia 0-12 tahun. Keterangan dalam bahasa Inggris bisa dilihat di situs ini.

Pekan Perak

Kalau di Indonesia sekarang sedang libur Lebaran, maka Jepang juga tidak mau kalah. Tanggal 21,22 dan 23 September di penanggalan tercetak dengan angka merah. Dan jika mau dihitung sebetulnya mulai tanggal 19 September kita bisa berlibur 5 hari berturut-turut…mengalahkan Pekan Emas (Golden Week) di bulan Mei.

Apakah Jepang juga lebaranan? Ow, tidak lah yau…. Hari libur Jepang tidak ada yang berdasarkan hari besar agama. Natal pun tidak libur!. Jadi? memperingati apa?

Tanggal 21 September disebut dengan Keirou no hi 敬老の日, hari untuk menghormati orang tua atau lansia. Tanggal 23 September setiap tahunnya adalah hari Equinox, hari dimana panjang siang dan malamnya sama. Tanda permulaan musim gugur, bersamaan dengan kesempatan untuk nyekar di kuburan yang disebut HIGAN 彼岸. Higan atau Equinox Day ini ada dua kali setahun yaitu tanggal 23 Maret dan 23 September. Dan tanggal 22 September adalah “Cuti Bersama” alias harpitnas.

Waktu saya chat dengan Nevo di FB, dia bilang…kok aneh-aneh saja yah Jepang memperingati hari lansia. Hmmm saya juga agak heran sih, tapi asal usul hari lansia ini bisa dibaca di postingan saya tahun lalu di sini. Memang suatu bangsa yang besar, adalah bangsa yang mau memperhatikan sejarah dan leluhurnya.

Tanggal 20 September kemarin, pemerintah Jepang mengumumkan jumlah penduduk lanjut usia di Jepang. Jumlah penduduk lansia wanita sebanyak 16.590.000 jiwa atau 25,4 % dari jumlah seluruh penduduk. Sedangkan untuk lansia pria sebanyak 12.390.000 atau 19,9% dari seluruh jumlah penduduk.

Apa yang bisa ditarik kesimpulan dari angka-angka ini? Ya, dari 4 orang wanita Jepang, 1 orang berusia 65 tahun ke atas. Demikian pula dari 5 orang lelaki Jepang, 1 orang berusia 65 tahun ke atas. Jadi secara kasarnya seorang muda Jepang harus menanggung 1/4 kebutuhan lansia, dengan membayar pajak tentunya.

Masyarakat yang mulai menua ini dalam bahasa Jepangnya koureika shakai 高齢化社会, merupakan masalah yang kian menghantui pemerintah Jepang. Banyak yang perlu dipikirkan selain asuransi kesehatan bagi mereka yang berusia di atas 70 th, pengadaan fasilitas penampungan panti werdha, penyediaan pramu rukti (salah satunya dengan mendatangkan tenaga perawat dan pramu rukti dari Indonesia), dan di level pemerintah daerah memikirkan kegiatan-kegiatan yang melibatkan manula supaya mereka tetap sehat (tidak tidur di tempat tidur terus — netakiri 寝たきり) dan tidak menyusahkan keluarga/orang di sekitarnya.

salah satu wc untuk lansia di tempat hiburan (disneyland), banyak di tempat lain yang jauh lebih lengkap, sampai ada tempat tidur segala.

Ada banyak tanda-tanda yang bisa saya perhatikan mengenai pemikiran terhadap masyarakat lansia ini. Antara lain dengan fasilitas-fasilitas yang barrier free (bebas hambatan/halangan/sandungan). Misalnya dengan menghilangkan tangga (undakan) yang dapat membahayakan orang tua, memakai bahan lantai yang anti slip, menyediakan ruangan khusus (WC) atau tempat duduk khusus (di kereta) untuk para lansia ini. Juga menyediakan pegangan dan sandaran di tembok, wc, semua tempat yang dilalui oleh lansia, baik itu di tempat umum  seperti stasiun/ rumah sakit/ kelurahan dll, maupun di tempat privat.

Kemudahan bagi para lansia ini yang mungkin belum perlu dipikirkan oleh masyarakat Indonesia sekarang, tapi tentunya kelak Indonesia pun akan menghadapi masalah yang sama.

Pekan Perak saya sudah lewat 3 hari, tapi saya belum ke mana-mana. Karena tgl 19 dan 20 September kemarin, Gen harus bekerja. Dan tanggal 21 hari ini, kami begitu malas untuk keluar rumah karena mendung dan sejuk.

Well,  masih ada dua hari tersisa, semoga saya sekeluarga bisa menikmati  kegiatan mengisi liburan. Apalagi si kumbang kelapa sudah tertangkap, dan membuat saya legaaaaa sekali.

Menjadi Peneliti

Peneliti atau Scientist atau bahasa Jepangnya disebut Kenkyuusha 研究者. Sebuah profesi yang menarik bagi saya. Entah kenapa bagi saya seorang peneliti identik dengan kamar laboratorium, mikroskop, baju putih dan kacamata. Padahal sebetulnya peneliti itu bisa di segala bidang, baik ilmu pengetahuan alam maupun humaniora. Misalnya, Gen pernah bercita-cita menjadi peneliti bidang filsafat pendidikan. Saya? Well, saya memang pernah bercita-cita jadi peneliti bidang biologi. Tapi waktu saya akan lulus SMA,  saya mengikuti  Test bakat/psikologi untuk  mencari “saya tuh cocoknya kuliah di bidang apa”…. hasilnya saya tidak disarankan menjadi peneliti karena akan mempersempit dunia saya yang tidak mau bergaul dengan manusia. Memang waktu SMA saya penyendiri, sedikit teman, terlalu serius dan tukang belajar! Meskipun begitu tetap saya coba menuliskan Biologi  di kolom pertama pilihan Sipenmaru (huh jadul banget ya istilah ini), dan ternyata tidak masuk…hehehe. Dan sekarang malah yang menjadi peneliti adalah adik saya Novita, tepat seperti penggambaran saya di atas tadi. Well, dia memang jauh lebih pintar dari saya (ya iyalah mel, kalo ngga kan dia ngga bisa jadi PhD on microbiology! I’m proud of you sis. Dia sekarang tengah meneliti malaria bekerja sama dengan universitas belanda).

Suasana kampus Tsukuba Daigaku yang begitu luas

Suasana kampus Tsukuba Daigaku yang begitu luas

Dan teryata dunia science ini tidaklah jauh dalam kehidupan saya di Jepang. Karena sepupu Gen yang bernama Akinori, sekarang sedang menyelesaikan program Doktor untuk bidang (Marine) Microbiology di Universitas Tsukuba. Kira-kira sebulan yang lalu, kami diundang untuk mengunjugi laboratoriumnya di Universitas Tsukuba yang kira-kira 2 jam bermobil jauhnya dari rumah kami. (hmmm butuh waktu sebulan untuk bisa menulis di sini… ide alur penulisannya sulit euy)

Ruang kerja atau kenkyuushitsu

Ruang kerja atau kenkyuushitsu

Universitas Tsukuba yang terletak di Kota Sains Tsukuba ini memang terkenal sebagai sarang ilmuwan. Dulu waktu saya pertama kali datang ke Jepang, pernah diajak oleh teman papa ke sini. Kalau-kalau saya mau masuk sini…. but…. terus terang saat itu saya menolak (belum tentu diterima juga sih). Tahu alasan saya? Hmmm terisolasi. Yang ada cuma universitas, tanpa ada hiburan, udah gitu universitasnya bagaikan dalam hutan. Memang bagus untuk belajar, tapi untuk orang yang mudah kesepian (dan otak pas-pasan) seperti saya…wah deh. Dan memang saya tahu waktu saya masih mahasiswa pernah mendengar ada mahasiswa Indonesia juga yang bunuh diri karena stress.

Tim peneliti yang dimasuki Akinori san ini diketuai seorang dosen bernama Inoue, berhasil menemukan sebuah family algae (ganggang) jenis baru, yang diberi nama Hatena Arenicola. Biasanya ganggang mempunya salah satu sifat saja yaitu predator /mempunyai sifat binatang atau mempunyai sifat tumbuhan. Tapi family baru ini mempunyai gabungan keduanya. Dan ini merupakan penemuan bersejarah dalam ilmu mikrobiologi Jepang (meskipun orang awam tidak bisa mengerti hal ini).

Sekarang dia juga sedang berkutat dengan penelitian untuk menentukan sebuah plankton bersifat tumbuhan yang baru. Nah, waktu kami datang ke universitasnya itu, kami juga diantar melihat bermacam laboratorium yang ada.

inkubator kedap udara dengan pengaturan suhu

inkubator kedap udara dengan pengaturan suhu

Riku diajak untuk mengambil sampel air dari sebuah danau kecil dalam lingkup universitas dan beberapa kolam lain sebagai perbandingan. Air danau dan kolam itu dimasukkan dalam botol khusus. Dan asyiknya botol ini langsung ditaruh di bawah mikroskop tanpa perlu ditaruh dalam kaca preparat.

Bentuk-bentuk yang ditemukan di bawah mikroskop bisa dicari padanannya dalam buku yang ada. Riku amat menikmati kegiatan mengamati melalui mikroskop ini. (Untung dia tidak minta dibelikan mikroskop untuk penelitian di rumah hihihihi…mahal bo!)

Kai dan Papanya tentu saja tidak mau ketinggalan. Tadinya kai di bawah kursinya Riku “driving”, lama-lama dia juga mau coba lihat lewat mikroskop. Mamanya juga sih tapi ngga ada foto mamanya yang bagus tuh.

Kami juga diajak melihat sebuah mikroskop elektron di sebuah laobatorium khusus. Aduh…. takut deh kalau mau pakai mikroskop ini, abis harganya 100.000.000 yen… seratus juta yen, dirupiahin tinggal dikali 100 deh.

Bener-bener kami merasa menjadi peneliti meskipun cuma untuk 4-5 jam saja. Kebiasaan mengajak/mengundang saudara mendatangi tempat belajar/kerja telah dimulai oleh alm. bapaknya Akinori. Waktu itu dia mengajak Gen mengunjungi ruang kerjanya. Setelah itu, waktu Gen di program master, dia juga mengajak Akinori melihat-lihat universitasnya. Sekarang giliran Akinori mengajak Riku melihat ruang penelitiannya. Semoga kelak Riku juga akan mengajak anaknya Akinori, mengunjungi tempat belajar/kerjanya…. apapun bidang yang dipilihnya.

Untuk orang Indonesia mungkin mengunjungi tempat kerja saudara itu lumrah, tapi di Jepang tidak. Jarang ada istri yang tahu/pernah masuk tempat kerja suaminya (juga tidak menelepon, tidak seperti orang Indonesia yang hampir setiap jam menelepon ke kantor hihihi) . Apalagi anak-anak. Memang tergantung jenis kerjanya, tapi ada batas yang jelas antara kehidupan berkeluarga, kehidupan kerja dan masyarakat. Jarang kita bisa melintasi garis-garis itu, meskipun akhir-akhir ini garis itu mulai menipis. Saya sendiri pernah pergi ke tempat kerja Novita (adik langsung) di Eijkman, kantornya Tina (adik kedua) di Shinjuku, Universitasnya Gen sewaktu ada festival sekolah. Kantornya Taku (adiknya Gen) di Sendai, baru lewat depannya saja, padahal menarik sekali tuh penerbitan surat kabar.

Lalu apakah Gen/Riku pernah mendatangi tempat kerja saya (dulu)? Ya, bahkan Riku pernah menemani saya rekaman di Studio InterFM, gara-gara dia tidak mau pergi ke penitipan. Untung rekaman hanya 3 menit, jadi dia masih bisa disuruh tidak bicara…kalau lebih…pasti suara dia juga terdengar waktu siaran radio hehehe.

Riku di studio menemani mama rekaman 14-6-2006

Riku di studio menemani mama rekaman 14-6-2006

Universitas Tsukuba atau Tsukuba Daigaku dalam bentuk sekarang berdiri tahun 1973 , tetapi terlahir sebagai Tokyo Kyouiku Daigaku (Universitas Pendidikan Tokyo) yang berdiri pada tahun 1872, yang merupakan salah satu universitas tertua di Jepang. Pada tahun 1970, pemerintah memulai pembangunan Tsukuba Scientific City, Kota Sains Tsukuba menanggapi usulan sejak 1956 untuk memindahkan sebagian fungsi-fungsi penting dari ibukota Tokyo yang semakin padat. Sekarang sekitar 300 lembaga/perusahaan penelitian dengan 13000 peneliti (hampir separuhnya berpredikat PhD)  menempati lahan seluas 2700 ha di Tsukuba.

Sebagai wakil Tsukuba Scientific City ini adalah Universitas Tsukuba, menempati areal 2.577 m2  dengan 28 akademi dan sekolah afiliated. Sampai sekarang sudah  menghasilkan 3 pemenang nobel, dan Universitas Tsukuba selalu menempati ranking 20 terbesar di Asia. Salah satu sekolah afiliatednya adalah Tsukuba Daigaku Komaba (Tsukukoma) Junior and High School, almamater Gen.

Meskipun sekarang saya tidak bisa menjadi peneliti, saya mau jadi pemerhati saja deh, melihat dengan hati hehehe.

Tolooooong…..

Aduh aduh aduh….

aku bener-bener panik nih

siapa yang rela datang ke rumahku sekarang juga

untuk menangkap seekor kumbang kelapa (kuwagata mushi) yang lari dalam rumah….. hiks!

seperti ini yang lari dalam rumahku hiiiii

seperti ini yang lari dalam rumahku hiiiii

Kemarin malam, Gen membawa seekor kumbang kelapa yang dibungkus kertas. Ditaruh di atas meja makan. Tadi pagi jam 4 pagi waktu aku terbangun, masih ada. Karena terdengar bunyi kresek-kresek di atas meja makan.

Tapi….. jam 6:30 waktu Gen dan Riku bangun… waktu Gen mau memperlihatkan pada Riku, ternyata kertasnya robek… hiks…

Sekarang… di manakah makhluk hitam berkaki seperti kecoak itu berada? Aduuuuhhh bener-bener panik. AKU TAKUT!!!!! HELP!!!!!

Masih sambil bergidik begini, aku ingin mengucapkan terima kasih pada VEE, yang telah menjadi komentator ke 8888 di Twilight Express.  Pas dia berkomentar di postingan “Di Jepang ada pencuri?“. Berhubung Vee tinggal di Kawasaki, kalau bisa aku akan memberikan hadiahnya langsung sambil bertemu dengan Luna yang lucu…. Terima kasih atas semua perhatian pembaca TE selama ini. Tanpa kalian, semangat menuliskupun kurang tentunya.

Kami juga mau mengucapkan selamat Idul Fitri 1430 hijriah kepada semua saudara-saudara dan teman-temanku. Mohon maaf atas semua kesalahan kami.

Imelda- Gen – Riku -Kai