Kimigayo

“Mel… lagu kebangsaan Jepang apa?” Nov (adikku)
“Kimigayo”
“Thanks”

Itu adalah sms yang saya terima sekitar seminggu yang lalu, dari adik saya yang menanyakan soal lagu kebangsaan Jepang. Saya sudah tahu pasti dia mau mengisi teka teki silang. Pertanyaan yang umum.

Dan kebetulan kemarin waktu aku buka i-google ku, tercantum bahwa hari itu tgl 12 Agustus adalah hari Kimigayo. Lagu Kebangsaan Jepang.

Terus terang saya jarang mendengar lagu Kimigayo ini. Tidak seperti Indonesia Raya, yang dulu pasti dikumandangkan setiap TV habis, atau di upacara-upacara bendera, atau upacara penyerahan piala dalam turnamen internasional. Rasa bangga pada waktu-waktu bersejarah seperti itu, membuat para atlit tegak berdiri (saya harap) dan bernyanyi “Indonesia Raya”, mungkin sambil menghormat ala militer/polisi.

Tapi, pemandangan seperti itu sangat jarang saya lihat di Jepang. Paling-paling waktu pencapaian medali emas di Olimpiade/Kejuaraan Olahraga. Banyak atlit yang tidak menyanyikannya. Entah karena tidak bisa atau tidak hafal atau tidak mau. Di sekolah-sekolah tidak ada itu upacara bendera setiap hari senin, sehingga paling-paling Kimigayo dinyanyikan saat upacara penerimaan murid baru dan upacara wisuda. Pokoknya, saya tidak familier, meskipun waktu sata pergi ke upacara penerimaan murid SD nya Riku, Gen menyanyikan Kimigayo dengan lantang, di sebelah saya. Dan saya hanya bisa terdiam….juga tanpa tahu artinya.

Liriknya dalam bahasa Jepang :

君が代は   Kimigayo wa
千代に chiyo ni
八千代に yachiyo ni
細石の Sazare ishi no
巖となりて Iwao to narite
苔の生すまで Koke no musu made

artinya:

Semoga kekuasaan Yang Mulia, berlanjut selama seribu (tahun), delapan ribu generasi. Sampai kerikil berubah menjadi batu karang, yang diselimuti lumut. (Kimigayo-wikipedia)

Lagu Kimigayo yang sekarang diciptakan tahun 1880, tetapi liriknya merupakan sebuah puisi anonim yang tertulis dalam kumpulan puisi lama “Kokin Wakashu” pada Jaman Heian (794-1185). Karena merupakan puisi, dan bahasa jepang memang pendek, maka lagu kebangsaan Jepang ini merupakan lagu kebangsaan sebuah negara yang terpendek di dunia dengan 32 suku kata (bunyi bahasa Jepang).

Meskipun sudah lama warga Jepang menganggap Kimigayo sebagai lagu kebangsaan, sebetulnya barulah pada tahun 1999, ditegaskan dalam parlemen mengenai lagu kebangsaan dan bendera nasional. Meskipun demikian masih banyak polemik sekitar pemakaian di sekolah, karena dianggap lagu Kimigayo mengandung unsur imperialisme dan militerisme.

Ah, sebentar lagi hari kemerdekaan Indonesia. Semoga aku masih bisa (hafal) menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan tidak lupa liriknya. Tapi yang pasti aku cinta Indonesia.



25 gagasan untuk “Kimigayo

  1. Zulhaq

    wewwww, lagunya dari tahun 1880???
    dan masih sampe sekarang???luar biasa….

    Hiduplah tanahku
    hiduplah negeriku
    bangsaku rakyatku
    semuanya…

    bangunlah jiwanya
    bangunlah badanya
    untuk indonesia raya…………

    *ternyata masih hafal* he he he

    Balas
  2. mangkum

    Ternyata segitu doang liriknya. Dan Kimigayo bener2 pro status quo. hahaha… jadi males nyaninya juga. Mendingan lagi Indonesia Raya deh.
    .-= mangkum´s last blog ..I am Awesome! =-.

    Balas
  3. Lala

    Aku familier dengan lagunya karena dulu sering dinyanyikan sama Bapak *a.k.a kakekku dari Mami yang mantan pejuang PETA*, Bro sama Mbak Pit bahkan hafal lirik lagunya. Aku? Nggak jugaa.. Secara dulu masih kecil banget.. *pembelaan*

    Eh, Sis, kalo Furusato itu terkenal nggak sih? Dulu pas jaman SD, ada pertukaran pelajar ke sekolah Jepang, sering banget nyanyi lagu itu…

    Balas
  4. Ria

    pendek banget ya mbak…
    mbak imel kalo denger lagu kebangsaan jepang itu berdebar2 ga
    atau coba sama suami mbak imel 😀
    soalnya klo aku denger lagu indonesia raya kok rasanya dada ini tiba2 jadi berdebar dan bulu kudukku berdiri ya? dan biasanya tiba2 jadi berkaca2 matanya hehehehe *lebay!*
    .-= Ria´s last blog ..What I’ve Got after 3 Years =-.

    Balas
  5. narpen

    dulu emang di ujian/tts saya sering liat pertanyaan ini, tapi baru tau klo lagunya sependek itu..
    baru tau juga tentang isinya..
    hoo.. begitu ya ternyata artinya..
    *mengangguk, angguk..*
    .-= narpen´s last blog ..Maknyus-nya Calzone, si Pizza Tutup =-.

    Balas
  6. Tuti Nonka

    Bagi saya, mendengarkan lagu Indonesia Raya pada saat seorang atlet mendapatkan medali emas, apalagi pada sebuah kompetisi akbar di luar negeri, selalu membuat mata berkaca-kaca.

    Saya masih sering nyanyi Indonesia Raya lho, meskipun tidak dalam upacara bendera. Biasanya pada acara-acara resmi di kampus, atau di organisasi. Lagu itu tidak mudah dinyanyikan oleh orang bersuara pas-pasan seperti saya, karena nada pada refreinnya cukup tinggi
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Apa Yang Kau Inginkan, Sayang? =-.

    Balas
  7. Riris E

    saya jadi teringat kembali bagaimana nenek saya dulu sering menyanyikannya..seperti terngiang..bahkan saya jadi ikut nyanyi kimigayo..hehee

    Indonesia tanah airku; tanah tumpah darahku; di sana lah aku berdiri jadi pandu ibuku;

    Indonesia kebangsaanku; bangsa dan tanah air ku; marilah kita berseru; Indonesia bersatu

    Hiduplah tanahku hiduplah negeriku ; bangsaku rakyatku semuanya; bangunlah jiwanya ; bangunlah badannya ; untuk indonesia raya

    Indonesia RAya merdeka – merdeka ; tanah ku negeriku yang ku cinta
    Indonesia Raya merdeka merdeka hiduplah Indonesia Raya…

    >>>horeee…masih ingat..meskipun dah lama ga upacara<<<
    .-= Riris E´s last blog ..Yang Dia Ingat dan Yang Ingin DilupakanNYA =-.

    Balas
  8. nanaharmanto

    Indonesia Raya….memang bikin merinding tuh..
    tadi pagi ada anak tetangga (kelas 1 SD) lagi ngapalin lagu ini. masih perlu dibetulin sama bapaknya. jadi gimanaaaa gitu..
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Seragam =-.

    Balas
  9. Clara

    di tiap pertandingan piala dunia juga dinyanyikan national anthem, dan bisa cepet tanding deh kalo Jepang yang maen, soalnya lagunya pendek betuuulll, hehe

    Balas
  10. Yeye

    Mungkin Jepang adalah satu2nya negara yang warganya gamang menyanyikan lagu kebangsaannya. Kasihan banget. Mereka berusaha keras menunjukkan diri bahwa Jepang tidak ‘menyembah’ Tenno sebagai Tuhan lagi, sebagaimana ultra nasionalis Jepang lakukan.
    sebuah penyangkalan diri yang mungkin sudah saatnya dikembalikan ke proporsi yang sesuai. Mereka jelas masih trauma dengan PD II.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *