Mencoba nyeni

Minggu lalu aku sempat chatting dengan Kris, dan janji untuk bersama-sama pergi ke Museum Tekstil, dekat Tanah Abang, Jakarta. Karena komentar Maria san pada posting saya yang mmeberitahukan informasi bahwa kita bisa membatik di Museum Tekstil, maka aku ingin mengajak Riku ke sana. Riku pun antusias, karena dia memang suka menggambar. “Mama, boleh gambar apa saja?” “Tentu boleh Riku”.

Jadilah kemarin, Rabu tanggal 5 Agustus 2009, kami pergi ke Museum Tekstil yang beralamatkan K.S. Tubun 2-4. Sebelumnya aku sudah menelepon ke sana, untuk memastikan jam buka (9:00-15:00 Senin libur) dan apakah musti mendaftar sebelumnya jika mau belajar membatik. Ternyata dijawab, silakan langsung datang saja.

Naik taxi dari rumah jam 9 lewat, menjemput Krismariana di halte depan Diknas, lalu bersama-sama ke arah Tanah Abang. Kami adalah tamu pertama, sehingga pintu masuk museum baru dibuka waktu kami datang. Museumnya sendiri tidak begitu besar, dan tidak begitu banyak kain yang dipajang  di sana. Yang pasti di sebelah kiri pintu masuk ada display dengan bahan-bahan membatik dan canting/cetakan membatik. Bagi awam, mungkin cukuplah pameran bahan kain yang ada dengan harga tiket masuk Rp 2000 ini. Tapi bagi mereka yang cukup mengenal tekstil Indonesia, masih terasa “kurang”. Saya sendiri tahu ada ibu Jepang yang mengoleksi kain batik kuno dan langka di Jepang.

Riku sendiri bosan melihat “kain-kain bergantungan” dan memaksa cepat-cepat ingin membatik. Akhirnya setelah 10 menit menghabiskan waktu di dalam museum yang tadinya adalah gedung Depsos, kami keluar dan menuju ke bangunan pendopo di belakang museum yang menjadi “bengkel batik”.

mendesain di atas kain

Biaya belajar membatik seukuran saputangan ini adalah Rp. 35.000 yang didalamnya sudah termasuk tanda masuk museum (jadi tak perlu membeli karcis Rp 2000 lagi). Pertama kami diberikan kain putih lalu kami bisa memilih gambar desain yang tersedia. Karena Riku mau gambar sendiri, maka dia langsung menuju meja dan langsung menggambar “freehand” di atas kain.

gambar riku gambar abstrak

Tadinya aku tidak mau ikut membatik, karena berpikir harus menjaga Kai. Tapi melihat Riku menggambar, dan ingin mengulang kembali kenangan menggambar batik waktu SMP, aku akhirnya membayar biaya belajar tersebut dan memilih desain yang menurutku lumayan mudah, Kipas.

Riku membatik dibantu mbak petugas museum

Setelah gambar dengan pensil selesai, kami mengelilingi kompor dengan wajan berisi lilin panas. Masing-masing memegang canting, dan mbak petugas membantu Riku untuk membatik. Agak khawatir juga pada Riku, jangan sampai tangannya terkena malam panas. Yang aku tidak antisipasi adalah kemungkinan Kai merasa bosan dan mendekat ke kompor. Memang dia tidak mendekat ke kompor tapi waktu dia mundur, tangannya mendorong tanganku yang sedang memegang canting dengan malam panas. Terbanglah lilin panas itu ke arah mata kiri. Dan aku bersyukur bahwa aku menutup mata saat itu, sehingga lilin itu hanya mengenai kelopak mata saja. Dan bersyukur juga tidak tumpah ke arah Kai.

niat bener deh begitu kejadian langsung motret sendiri

Cukup panik karena kena mata, sedangkan Kai menangis dan minta digendong. Terpaksa aku sambil terus menggendong Kai, menyerahkan penanganan mukaku pada mbak petugas yang langsung memberikan obat di kelopak mata. Panas memang, dan sakit…. tidak sadar airmata juga keluar. Riku juga panik sambil berkata, “Mama, sakit? bagaimana rasanya?”

desain yang belepotan

desain yang belepotan

Well, selama mataku tidak buta no problem deh. Terbayang seandainya aku buta, tidak bisa membaca dan menulis… wah …seperti apa hidup ini ya? Amit-amit deh….

proses pewarnaan

proses pewarnaan

Setelah gambar ditutup lilin depan belakang, dilanjutkan dengan proses pewarnaan yang dilakukan oleh petugas. Kami hanya bisa memandang saja. Setelah warna yang diinginkan timbul, lilin dibuang dengan memasaknya dalam air panas. Setelah itu tinggal dikeringkan deh…. Tapi karena tidka mau menunggu lebih lama lagi, dan perut juga sudah keroncongan karena sudah lewat jam makan siang, kami bawa hasil membatik hari itu basah-basah dalam kantong plastik.

Naik taxi dari depan museum, kami pergi ke Grand Indonesia, makan siang ala japanese. Aku senang sekali lihat anak-anak makan banyak. Yappari mereka orang Jepang ya.

Setelah selesai makan, Riku ingin bermain di tempat permainan, sehingga aku temani dia dan ….melewatkan waktu santai, duduk-duduk dengan Kai, dan makan es krim bersama.

Melihat kami makan es krim, Riku juga mau, dan…. aku merasa lucu karena Kai selalu merebut es krimnya Riku. Dan Riku akhirnya membiarkan adiknya mengambil es krimnya. A Good big brother… dan pelajaran untuk aku. Sekarang, jika membeli sesuatu HARUS DUA YANG SAMA, supaya tidak berantem hihihihi….

Hasil NYENI kemarin :

27 gagasan untuk “Mencoba nyeni

  1. dCamz®

    riku punya jiwa seni yg tinggi juga ya bun..??
    saya juga pernah ngerasain membatik dulu sekali, waktu masih usia 7 thn. tp sayangnya di daerah sudah mulai pudar kesenian membatik itu.
    Mudah²an “batik” tidak akan pernah hilang di telan oleh perkembangan jaman, seperti halnya org jepang yg pandai merawat peninggalan kebuadayaan leluhurnya..

    salam, ^_^
    .-= dCamz®´s last blog ..NxBerry Vs iPhome =-.

    Balas
  2. Oemar Bakrie

    Mudah-mudahan nggak apa-apa ya dan segera baik kembali … BTW seru juga pengalaman membatik-nya, saya malahan belum pernah. Dulu nenek buyut saya jagoan membatik, tapi waktu itu saya cuma ngeliat saja, masih kecil belum tahu apa-apa … hehehe 🙂
    .-= Oemar Bakrie´s last blog ..Antara Kuliah dan Presentasi =-.

    Balas
  3. edratna

    Waduhh…nyaris sekali, dan pasti sakit.
    Bersyukur nggak kena mata, mudah2an cepat sembuh.
    Riku semakin terlihat punya jiwa dan bakat seni, dari hasil foto yang bagus, dan kali ini juga saat membatik.
    Btw, saya malah belum sempat ke museum tekstil ini.
    Padahal ibu saya, kain2nya banyak hasil batikan sendiri, juga pintar menyulam. Sprei, taplak meja, buatan hasil karya tangan ibu.
    .-= edratna´s last blog ..Nonton ” Blind Pig Who Wants To Fly” di Teater Terbuka Salihara =-.

    Balas
  4. Hery Azwan

    Wah, keduluan nih aku…Tapi sebenarnya aku memang tidak tertarik untuk membatik. Soalnya, aku memang kurang bisa menggambar. Btw, bersyukur mata Ime-chan tidak napa-napa…

    Balas
  5. suryaden

    wah tambah keren aja anak satu itu…
    semoga makin pinter pokoke 😀
    .-= suryaden´s last blog ..Double Sunrise di Gunung Sikunir =-.

    Balas
  6. Lala

    Wow! Batik karya Riku keren banget, euyy!!! Bener-bener deh, Riku emang berbakat nyeni gitu kayak Mama-nya… Top markotop!

    Btw,
    soal mata itu… udah sembuh belum Sis? Jadi untuk sementara waktu ga bisa kedip2in brondong, ya? Hehehe… Centil euy..

    However, alhamdulillah nggak sampai masuk ke dalam kelopak… Jangan sampe deh, SIs….

    Balas
  7. Kris

    waktu itu aku lega banget malam panas itu tidak masuk ke mata mbak imelda. dan petugas yg membantu kita utk membatik itu lumayan sigap menurutku, dg langsung memberi kita salep. setidaknya mereka tidak panik.

    btw, ternyata membatik itu butuh ketelatenan yg lumayan ya. jadi sangat-sangat wajar kalau batik tulis itu mahal harganya. emang dibutuhkan kerja keras sih…
    .-= Kris´s last blog .. =-.

    Balas
  8. narpen

    wahhh.. keren hasilnya tanteee…
    saya mupeng liatnya.
    seru, seru..! *pengeeeenn..*
    aduh, moga2 gapapa ya matanya, tante.. pasti panik waktu itu, lagi kesakitan, kai-nya malah minta digendong. hehe. dasar anak2. sabar banget nih kayanya si tante..
    *membayangkan klo terjadi pada saya, apa kabar dunia ya..*
    .-= narpen´s last blog ..Dead by overwork =-.

    Balas
  9. elindasari

    Duch mbak, melihat hasil membatiknya jadi lupa kalau mbak Imelda sempet terkena lilin panas di sekitar mata yach. Yach begitu anak2 yach mbak, salut mbak Imelda sabar banget.

    Mbak hasil batiknya Riku unik yach, apakah yang Riku batik itu gbr Robot atau pesawat ruang angkasa ?. Hahaha..daya imajinasinya tinggi, siapa dulu mama & papanya yach 🙂

    Ok, mbak Imelda see you 🙂

    Best regard,
    Bintang
    .-= elindasari´s last blog ..BERKREASI DARI BAHAN YANG TAK TERPAKAI, YUK !!! =-.

    Balas
  10. vizon

    ouw… ini tho versi lengkapnya cerita si malam itu? aku hanya nebak2 saja dari gambar-gambar di fb… semoga cepat sembuh ya nechan…

    aih, gambar si riku kok mirip dengan tasnya ya? mantap deh… 😀

    Balas
  11. p u a k™

    Oalah mbak, aku kira tadi screen ku yang kotor.. gak tahunya beneran dari sononya.. *oon juga nih, akibat keseringan bolak balik rumah sakit* 😀

    Itu kok Kai mau digendong mbak Kris sih?? apa karena udah 2 kali ketemu ya?.. hihihi…
    .-= p u a k™´s last blog ..Makanya.. (cerita jungkat-jungkit) =-.

    Balas
  12. マリア

    hehe..mengingatkan saya waktu itu pergi ke sana demi tugas kuliah mengenai batik. dan hasilnya dapet nilai A.ga sia2 pergi ke Jakarta.^^
    soal mata gapapa kan bu Imelda?
    yang penting Kai n Riku dapet pengalaman membatik yah bu..^^
    .-= マリア´s last blog ..大好きなチップ♥ =-.

    Balas
  13. nanaharmanto

    mbak, semoga cepet baik lagi dan nggak membekas ya…
    Riku pinter nggambar ya…

    wah, aku jadi pengen nyoba mbatik juga. 5 tahun di Jakarta tapi nggak tau tempat persisnya dimana..

    dulu eyang buyutku membatik sendiri. dia suka cerita proses membatik itu kayak apa. lama banget katanya..jadi memang membatik itu harus sabar ya…
    .-= nanaharmanto´s last blog ..Kopdar Berbonus Plus =-.

    Balas
  14. dyah suminar

    mbak Imel…
    Itu batik karya Riku bagus sekali…waah Riku punya bakat.
    Ada agenda jalan jalan ke Jogja ?…beritahu ya…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *