Menanamkan rasa cinta tanah air?

Entah apakah itu bisa hanya dengan menunjukkan dan mengajarkan sejarah bangsa sendiri atau tidak? Tentunya butuh akar yang kuat dan  proses yang lama, tapi paling sedikit aku berusaha memberitahukan pada anak-anakku, inilah Indonesia, negara ibumu.

Hari Jumat, akhir pekan dan Senin, memang saya hindari untuk keluar rumah. Terlalu banyak orang yang berseliweran di mana saja di kota Jakarta ini. Jumat karena hari pendek,  pasti macet. Demikian pula dengan akhir pekan. Dan Senin, entah kenapa di negara manapun biasanya museum libur. Yang pasti di Belanda dan di Indonesia museum libur. Kalau Jepang tidak pasti, tapi jika mau ke dokter gigi di Tokyo, katanya lebih baik menghindari hari Kamis. Alasannya? Setiap kamis ada pertemuan dokter gigi yang diadakan serikat dokter gigi Jepang hehehe.

Jadi Selasa, 28 Juli, kami pergi ke Museum Fatahilah, Cafe Batavia dan Museum Wayang. Tentu tulisan ini akan menjadi panjang dan penuh foto-foto, sehingga silakan diskip bagi yang tidak berminat.

Pukul 9:30 kami bertiga berangkat dari rumah naik taxi (sambil aku berdoa, moga-moga Kai tidak rewel). Sengaja aku cepat-cepat keluar rumah sebelum three in one berakhir, takut terjebak macet. Yang lucunya supir taxi BB yang mengantar kami ini, tidak tahu MUSEUM FATAHILAH itu di mana. Duh pak, itu loh yang di kota, bukan di Menteng. Masak dia bilang, “Bu itu Museum Sunda Kelapa? yang di Menteng?” Lagian, Sunda Kelapa masak di Menteng sih. Ada emang Mesjid Sunda Kelapa di sana.  Tapi bukan MUSEUM pak…. hihihi. “Pokoknya ke arah Stasiun kota aja pak, nanti di sana nyari!” (Kalau tidak tahu Stasiun Kota mah kebangeten… aku aja pernah nyetir ke sana kok! Daerah termacet dan memerlukan energi berlipatganda jika mau menyetir ke sana hihihi. Tapi kalau belum lewat daerah ini belum bisa mengatakan diri sebagai penyetir ulung)

Melewati jalan Medan Merdeka, ada Mahkamah Konstitusi, dan ada demo di sana. Untung tidak gede-gedean sehingga membuat jalanan macet. Setelah tanya sana sini, akhirnya kami sampai juga di samping Museum Fatahilah. Waktu kami turun terasa sinar matahari mulai menyengat, sehingga cepat-cepat berfoto di depan museum dan masuk ke dalamnya. Kalau melihat foto-foto tampak muka museum, seakan kita tidak berada di Indonesia ya….

Apalagi kalau malam, pasti keren sekali. Ah, kapan kalau anak-anak sudah besar aku ingin ke sini malam hari deh. Pelataran depan museum tampah bersih, meskipun banyak pedagang asongan menawarkan jualannya. Seperti biasa, Riku ingin dibelikan balon berbentuk (dasar masih anak-anak), lalu aku bilang, “Ya, nanti kalau sudah mau pulang.” (Dan ternyata waktu kami akan pulang, si pedagang sudah tidak ada …horeee…. hihihi)

Saya cukup kaget dengan karcis tanda masuk seharga Rp. 2000,- untuk dewasa dan anak/pelajar Rp.600,-.  Memang seharusnya murah, tapi hebat juga dengan harga segini, kebersihannya memang patut diacung jempol, seperti kata bu Enny di komentar postingan sebelum ini. Aku tidak tahu apakah ada subsidi pemerintah, atau saking banyaknya orang datang perhari maka biaya perawatannya bisa tertutup. Tapi yang pasti waktu kami pergi kemarin itu memang sepi, karena hari biasa.

Museum Fatahilah dipotret oleh murid SMA

Masuk ke ruangan pameran Jakarta di masa modern, kami dapat melihat kios bakso, warung, dan… becak. Mungkin 10 tahun mendatang bajaj juga akan dipajang di sini ya? hehehe. Waktu kami di sini, datang 4-5 murid SMA laki-laki dan mereka berpose di depan becak (pake acara naik becak segala), akhirnya aku tawarkan memotret mereka. Dan sebagai imbalannya, salah satu murid itu memotret kami.

Melihat satu per satu peninggalan sejarah di Jakarta, saya tidak bisa menjelaskan pada Riku, karena memang akan menjadi sulit. Cukuplah dia melihat saja dulu. Hanya satu komentarnya yang lucu waktu melihat jejak kaki di batu tulis, “Mama, itu pasti jejak kakinya monyet ya… abis gede gitu”… Hmmm

muka Riku ketakutan hihihi

Setelah selesai sayap kanan bawah, kami menuju ke lantai dua, tempat kamar-kamar dengan setting meja dan lemari jaman belanda.  Anehnya Riku dan Kai, sama-sama merengek ingin cepat-cepat pergi dari situ. “Kowai….  (takut).  Oh ya, Kai sudah bisa bicara Kowai, waktu dia harus menuruni tangga jalan turun di PIM (Pondok Indah Mall, dekat Gramedia) … karena cepat, dia langsung berkata, “kowai” sehingga saya menggendong dia dan turun dengan eskalator itu. Memang menakutkan karena cepat. Aku tidak akan heran jika ada anak yang terjepit kakinya di sini.

Jadi kami cepat-cepat turun dari lantai dua, menuju ke halaman belakang museum, dan melihat penjara yang berada di bawah bangunan. Ihhh ngebayangi tinggi penjara yang sedikit lebih tinggi dariku (paling cuma 180 cm tuh) dan begitu sempit…. di sini juga Riku dan Kai ketakutan, jadi cepat-cepat keluar deh.

Halaman belakang museum memang sejuk sebab di bagian kirinya ditumbuhi pohon-pohon. Terlihat murid-murid SMA sedang mendengarkan penjelasan mengenai meriam Jagur yang menjadi simbol museum ini. Persis di bawah tangga terdapat patung Hermes, dan aku cukup tercengang mendengar penjelasan Riku mengenai Dewa Yunani ini… darimana dia tahu ya? (Pasti televisi!)

Karena anak-anak sudah mulai bosan dan capek, akhirnya kamu tidak memasuki sayap kiri museum, dan langsung menuju ke Cafe Batavia. Waktu kami datang, serombongan turis asing baru saja keluar, sehingga cafe itu KOSONG! Memang baru jam 11-an belum waktu makan siang. Lalu kami ditawari duduk di lantai 2. Apa keistimewaan di lantai 2? “Bisa melihat pemandangan ke arah Museum bu!”… Oh Ok… jadi kami pergi ke lantai dua, dan memilih meja dekat jendela. Kan, katanya bagus pemandangannya hehehhe.

Well, aku memang sudah memasukkan Cafe Batavia dalam list kunjungan liburan kali ini, karena membaca postingan ibu Enny di sini. Tapi aku lupa jenis makanan yang dipesan ibu… aku cuma ingat bubur ayam, tapi lupa soal ayam mabok. Jadi aku cuma pesan bubur ayam, ceker ayam dan harkau karena Riku suka (tapi harkaunya kulitnya keras, ngga aku sarankan deh hihihi …. sorry cukup cerewet soal dim sum). Dan minumannya speciality Cafe Batavia, yaitu Batavia Juice dan Fatahilah Juice (Rasanya agak kecut sehingga Riku dan Kai tidak begitu suka).

Untung juga aku pesan bubur, karena Kai mau makan banyak, bahkan jamur yang dipotong agak besar, dia ambil dan makan. Padahal aku sudah was was kalau dia tersedak. Untung OK OK aja.

Cukup lama kami di Cafe ini, santai sambil makan dan istirahat. Akhirnya saya yang harus menghabiskan makanan yang dipesan karena Riku makan sedikit. Tapi mau makan es krim sebagai dessert. Sebetulnya ada judul dessert yang menarik perhatian saya yaitu sebuah platter desert untuk 6 persons…harganya? 225.000 saja. Waktu aku tanya waiternya dia bilang, bu, itu sih bisa buat 10 orang, karena ada 16 scoop es krim, semua rasa yang kita punya di situ. Wahhh musti ajak 10 orang untuk ke sini lagi nih hehehe.

Akhirnya saya memesan paduan es krim yang namanya ada Amazonia, yaitu paduan es krim pistachio, coklat dan hazelnut (kalau tidak salah)… hmmm es krim ini katanya buatan cafe itu sendiri, tapi masalahnya saya cerewet (kritis kata mas trainer) soal rasa, jadi … mungkin saya tidak akan memesan es krim lagi karena ada yang lebih enak (kris dan nana pasti tahu deh kesukaan saya hehehe). Hampir semua dessert di sini harganya Rp. 60.000,-.

Cafe Batavia, dipotret oleh mbak yang dipanggil-panggil Kai

Inginnya sih berlama-lama, sambil baca buku dan tidur ayam di Cafe yang buka 24 jam ini. Tapi karena Kai sudah mulai geratak sana sini, juga memanggil manggil “Mbak… mbak….” (lucu deh, setiap dia lihat waiter perempuan dipanggilin mbak … awas kalo kamu gede jadi penggoda wanita ya! hihihi). Jadi karena kebetulan si mbak menoleh waktu dipanggil oleh Kai, sekalian aja aku minta bill nya.

museum wayang

museum wayang

Keluar dari Cafe Batavia, kami menuju ke Museum Wayang. Di sini juga karcis masuknya Rp. 2000,- untuk dewasa, dan Rp 500 untuk anak-anak. Sayang hari biasa sehingga tidak ada pertunjukan wayang, padahal Riku ingin sekali menonton wayang. Nanti deh nak, kalau bisa kita nonton yang di Jepang aja, supaya bisa ngerti ceritanya juga. Biasanya Nihon Wayang Kyokai mengadakan pertunjukan wayang secara berkala.

Melihat wayang-wayang sekilas, Riku dan Kai mulai ketakutan melihat wayang golek besar, dan ondel-ondel. Jadi kami cuma sempat berfoto di halaman antara gedung depan dan gedung belakang, dan setelah saya baca ternyata di situ adalah kuburannya petinggi-petinggi VOC, saudara/kenalan/temannya si Jan Pieter Zoen Coen. Museum Wayang ini konon merupakan gereja…

Akhirnya aku melawan rute, balik saja lagi ke pintu masuk, dan pulang. Di dalam taxi kami melihat penjual asongan mulai menjual bendera-bendera kecil. Ya, sebentar lagi RI akan memperingati kemerdekaannya, dan biasanya Jakarta penuh dengan hiasan merah-putih ya. Dan tepat hari itu aku harus meninggalkan kampung halaman dan back to reality. For the time being… just enjoy!!!

34 gagasan untuk “Menanamkan rasa cinta tanah air?

  1. Ria

    wew…jalan2 kesana 😀
    aku aja gak pernah kesana loh mbak, tapi dulu hampir tiap hari lewat. anak-anak memang bagus di ajak mengenal sejarah, karena kalau di ceritakan dengan benar sejarah itu sebenrnya menyenangkan…aku suka…mungkin kai dan riku juga suka 😀

    kalau dirimu? 😛
    .-= Ria´s last blog ..Perjalananku (Day 3 – day 4) =-.

    Balas
  2. Kris

    setahun di jakarta, aku blm pernah ke mana-mana. sblm aku tinggal di jkt, oni pernah bilang mau ngajak aku ke bbrp museum. tp krn kebanyakan agenda dan entah kenapa kok ya kami belum kesampaian muter2 jakarta dan menongkrongi museum2 yg ada di sini. mestinya asik ya. terakhir aku cuma ke museum bank mandiri. lumayan bagus.

    btw, kalau soal rasa es krim, aku percaya banget sama pilihannya mbak imelda. hehehe.
    .-= Kris´s last blog .. =-.

    Balas
    1. Lala

      Astagah, Uda! Nggak usah terlalu jujur, napah? hihi…

      Hai, Sis..
      NTar kalo Kai ketemu aku, dia bakal panggil aku “Mbak” atau “Tante” ya? 🙂

      Balas
  3. Chandra

    hihihi harusnya judulnya wisata yg menakutkan…hehe…pas sepi kali ya mba jadinya agak-agak gimana gitu aura museumnya… :p

    Balas
  4. AFDHAL

    *ngakak baca comment uda n sembunyi dibelakang uda*

    btw sepi amat ya??
    mudah2an saat riku n kai sudah besar dan kembali ke tanah air nih museum masih ada ya..takutnya udah jadi mall 🙂
    .-= AFDHAL´s last blog ..Hikmah Meng’Input =-.

    Balas
  5. aurora

    inilah yang namanya wisata pendidikan….
    paling ga, si riku bakal bisa banggain ke teman2nya kalo dia tau sejarah negara lain(biarpun dikit)
    .-= aurora´s last blog ..Top 5 Ways to Make Money with Google Free Blogs =-.

    Balas
  6. edratna

    Imel…seneng kan…
    Saat anak-anak kecil, saya suka mengajak mereka menjelajahi museum, walau saat itu belum mengerti (seperti Riku), namun saat besar dia jadi menyukai hal-hal yang berbau sejarah. Bukankah kita harus mengenal sejarah bangsa kita?

    Kalau Riku dan Kai takut di museum Fatahillah, karena mereka masih kecil dan konon anak kecil merasakan aura yang “agak menyeramkan” karena museum itu dulunya Balaikota dan kalau ada yang dihukum (ditarik dengan kuda kearah berlawanan), dihalaman depan, maka petinggi Belanda melihat dari lantai 2. Juga terbayang kan bagaimana dipenjara dengan kaki dirantai dengan diikatkan pada bola-bola batu berat itu? Imel kok nggak foto di atas batu besar yang berserakan di sana? Kalau Minggu jalanan di Jakarta sepi, dan yang berkunjung ke museum lebih rame.

    Btw, kapan2 kopdarnya di cafe Batavia ya…yang jelas saya suka rasa minumannya.

    Jangan lupa kalau ke Bandung, melihat Saung angklung Udjo (sms dulu kang Maulana, Marketing Manager nya, apa memang setiap hari ada pertunjukan)…di SAU harus ada disana jam 3 sore supaya tak ketinggalan pertunjukan (mulai jam 15.30 s/d 17.00 wib), pasti deh Riku dan Kai suka. Juga lihat peneropongan bintang (saya udah bilang mas Hendro..biar Imel bisa diselipkan dengan pengunjung rombongan…hihihi saya dulu juga diselipkan). Btw, Narpen juga belum pernah ke Bosccha.Sekalian aja melihat Tangkuban Prau, ada juga tempat latihan naik kuda(di Lembang juga), atau acara piknik petik strawberry. Jangan lupa mampir beli susu segar yang banyak di Lembang…mestinya paklik bisa antar.

    Sayang waktuku padat sekali, dan kayaknya saya tak bisa menghindari untuk tugas ke Papua….untung udah sempat ketemu Imel.

    Balas
  7. Eka Situmorang-Sir

    hihihi
    baca2 blog mbak EM tuh kadang2 bisa nyebgir sendiri…
    bersyukur banget tukang balon pergi lah…
    si mbak yang dipanggil2 lah hahahaha

    Mbak… gak pake coba black and white mode…
    seru lhooh kayak jadul gituh 😀

    Balas
  8. zee

    Mbak,
    Itu pasti deh supir taxi baru, masa taxi bb gak tahu museum?

    Aku juga pengen kesana nanti kalo anakku aga gede, saat dia da bs ngerti.

    Penasaran jg dgn es krimnya hhaaa.a… kalo sebanyak itu, emg musti rame-2 kali ya…
    .-= zee´s last blog ..Rokok =-.

    Balas
  9. narpen

    Hiii, saya kebayang ngerinya Riku dan Kai, Tante..
    Banyak baca cerita2 seram tentang Jakarta jaman dulu..
    btw halaman depannya memang keren sekali ya, sering dipake buat lomba foto..
    Ah, baca postingan tante Imel sebelum sempat sarapan, jadi tambah laper melihat foto2nya..
    .-= narpen´s last blog ..Mimpi =-.

    Balas
  10. G

    Wah wah… saya sama sekali belum pernah ke museum2 tersebut. Apa memang begitu ya? Kalau jauh dari tanah air justru rasa cinta tanah air-nya jadi lebih terasa dan terasah? Ah, saya harus mengajak kedua keponakan untuk melihat2 juga deh.. Pasti mereka suka.
    .-= G´s last blog ..Woohoo! Celebrating 100+ Members di PSMI (Pet Society Mania Indonesiana) =-.

    Balas
  11. Tuti Nonka

    Puluhan kali ke Jakarta, saya belum pernah ke museum Fatahilah dan museum wayang. Pengin ah kesana suatu saat nanti. Di wilayah kota tua katanya banyak obyek yang menarik. Mbak, nggak usah Riku dan Kai, saya pun takut kalau masuk ke tempat-tempat yang auranya serem gitu.
    Eh, itu … minuman yang di gelas paling kiri, kok ada yang bergelantungan di bibir gelas itu apa ya …

    Mbak, pastinya sudah ke TMII ya? Disana banyak banget obyek yang menarik dan mendidik. Terakhir saya kesana, ke museum transportasi, museum listrik, museum iptek, museum perangko, istana boneka. Terus ada anjungan semua daerah di Indonesia. Asyik juga loh … Nggak cukup sehari kalau mau dijelajahi semua.

    Selamat berlibur mbak.
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Geisha, Misteri Bunga Sakura =-.

    Balas
  12. ajunk

    wah, saya yang seumur2 di Indonesia blum pernah ke musium itu’
    ato saya kurang cinta tanah air ya?? (hehe, bilang saja kuper)

    eh, Riku dan Kai cinta tanah air Indonesia juga ya Mbak??
    atau cinta cewek2 Indonesia nanti kalo udah gede?? 😀

    Balas
  13. elindasari

    Wah, jalan-jalannya pasti menyenangkan yach mbak ?. Mbak Imelda sebenarnya saya juga sempet memposting beberapa tulisan tentang jalan2 ke museum2, terutama yang berlokasi di jakarta di katagori belajar. (Kalau mbak Imelda ingin tahu kira2 museum yang ada di Jkt dan isinya tentang apa, mungkin postingan saya ini bisa membantu).

    Sebenarnya masih ada lagi mbak museum2 yang bagus untuk dikunjungi mbak al, seperti museum BI dan museum Bank Mandiri (saya yakin Kai & Riku pasti suka karena disana bisa melihat uang kuno, museumnya modern, bersih, nggak serem,hanya hari Senin tutup).

    Ok, mbak Imelda selamat menikmati liburan di Jakarta 🙂 🙂 🙂

    Best regard,
    Bintang

    Balas
  14. Hery Azwan

    Aku malah belum pernah masuk museum wayang. Kalau museum fatahillah cuma di luarnya. Itupun pas malam. Memang kalau malam lebih seram di sana…tapi lebih terlihat bersih juga…

    Balas
  15. aldo

    menanamkan rasa cinta tanah air? nonton bola pas pertandingan Timnas ato nonton bulu tangkis pas pertandingan Timnas. pas lagu Indonesia Raya, jaminan mutu pasti merinding dan ngerasa banget kalau Indonesia itu bukan cuma tanah dan air. tapi juga darah kita. Merdeka tante!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *