Semester dan persahabatan

Hari ini aku harus pergi ke sekolahnya Riku untuk bertemu dengan gurunya, Chiaki sensei. Setiap semester diberi kesempatan bagi orangtua untuk bertemu dengan guru wali kelas dalam “personal discussion” 個人面談 kojin mendan. Mungkin di Indonesia ya waktu pembagian rapor ya. Tapi di Jepang, semester untuk SD baru selesai tanggal 16 Oktober nanti. Dan kojin mendan ini diadakan sebelum summer vacation, mungkin supaya kalau perlu perbaikan nilai bisa “digeber” selama liburan musim panas. (Padahal nilai murid SD di Jepang sekarang tidak diberi nilai berupa angka atau huruf, hanya diberikan penilaian dengan 3 kategori, BIASA, BAGUS dan BAGUS SEKALI.)

Kami diberi jatah 15 menit satu orang, yang dibagi menjadi beberapa hari. Aku disuruh datang hari ini dari pukul 3:15 sampai 3:30. Jam 3:05 aku sudah sampai dan duduk di depan pintu kelas. Karena sebelum aku tidak ada orang, sensei memanggil aku masuk 5 menit sebelum waktunya…. yippie bisa 20 menit deh. Nah, begitu masuk aku mengatakan kekhawatiranku (terutama papanya) mengenai pelajaran Riku. Yaitu masalah membaca dan menulis hiragana yang belum lancar. Dan Chiaki sensei mengatakan Riku sama sekali tidak ada masalah dalam pelajaran di kelas.

“Seperti mamanya yang riang, dia selalu senyum-senyum dan aktif mengikuti pelajaran di sekolah. Berhitung, membaca, menulis …semua tidak ada masalah. ”

“Olahraga bagaimana sensei? Soalnya dia kadang merasa minder karena tidak bisa lari cepat, atau minder karena badannya lebih besar dari yang lain.

“Olahraga? Sama sekali ngga ada masalah. Riku benar-benar menikmati sekolah. Itu yang penting”

“Ya memang sensei, saya tidak mau membuat dia benci sekolah. Susah. Dulu di TK dia suka malas ke TK. Sekarang saya senang, karena Riku pulang sekolah dengan berseri-seri dan selalu membuat PR sendiri tanpa harus di suruh. Saya juga tidak mau memaksa dia menulis dan membaca, seperti papanya. Santai saja, pasti bisa kok. Meskipun kadang dia juga suka sebal sendiri kalau tidak bisa menulis dan membaca. Tapi saya selalu katakan padanya, menulis dan membaca butuh latihan yang banyak. Mama dulu juga tidak bisa menulis hiragana, dan teruuuus latihan. Kan Mama bukan orang Jepang, jadi hiraga juga susaaaah sekali buat mama.”

“Eh, ibu sama sekali tidak ada darah Jepangnya?”

“Tidak ada dong. Kan saya dari Indonesia. Bahasa Jepang juga baru tahu 23 tahun, hampir separuh hidup saya.”

“Bukan orang Jepang tapi pintar berbahasa Jepang. Sugoi. Papanya Riku asli Jepang?”

“Ya asli Jepang dong. Namanya saja Miyashita. Dia sih selalu khawatir mengenai pendidikannya Riku, karena dia dulu dituntut selalu belajar oleh ibunya yang Kyouiku Mama. hehehe” (Kyoiku Mama adalah istilah untuk ibu-ibu yang berusaha apa saja demi pendidikan anaknya, semua yang terbagus dari pendidikan diusahakan untuk anaknya, dan tidak mau kalah dengan orang lain. Sehingga biasanya anak menjadi tertekan, kurang bermain dan belajar terus)

“Kalau begitu bilang papanya Riku. Dont worry. Riku sama sekali tidak ada masalah. Tidak ada yang harus diperhatikan selama musim panas ini.”

So, Riku no problem, juga di bidang sosialnya, dia cukup terkenal di teman-teman karena banyak yang mengatakan teman baiknya adalah Riku. Wah aku senang, karena tahu Riku agak sulit bergaul. Dan aku dengan sensei sepakat bahwa Riku berbakat di berhitung dan prakarya/gambar.

“Mungkin dia akan menjadi artis nantinya ya?”

“Mungkin ya sensei, dan itu komarimasu. Karena artis biasanya tidak mau belajar hehehe. Makanya saya selalu berkata pada Riku, biarpun mau jadi artis, atau koki sekalipun harus belajar! Bagaimana kamu mau membuat lukisan atau patung yang bagus dan bisa berdiri tegak, kalau tidak bisa menghitung. Atau bagaimana mau menjadi animator kalau tidak belajar bahasa.”

“Betul… Ibu bijaksana sekali.”

Komik karya Riku. Hobi baru dia, menggambar komik.

Komik karya Riku. Hobi baru dia, menggambar komik.

Setelah selesai pertemuan dengan guru itu, aku menjemput Riku yang sedang les bahasa Inggris, pulang dan kemudian bersama-sama naik sepeda menjemput Kai. Dalam perjalanan pulang dari penitipan ke rumah, (di lift dan sambil bersepeda) tiba-tiba Riku berkata,

“Mama, temanku Ken (Ken adalah anak half, sama seperti Riku. Ibunya orang Filipina dan bapaknya orang Jepang) . Dia akan pergi ke negaranya dan tidak kembali.”

“Loh, iya mama tahu bahwa Ken akan liburan. Tapi sesudah liburan selesai, dia akan kembali ke Jepang kok.”

“Tapi tadi dia bilang, dia tidak kembali lagi”

“Ya sudah, nanti mama telepon mamanya dan cari tahu ya”

Aku pikir dia sudah tidak memikirkan temannya lagi. Ternyata aku salah. Dia mulai menangis… Wah bahaya dong bersepeda sambil menangis. Jadi aku pelan-pelan mengayuh sepeda, dan bertanya apa mau berhenti dulu. Tapi kalau kita pulang cepat-cepat, juga bisa cepat tahu apakah Ken terus pergi dan tidak kembali atau hanya liburan saja.

 Papa dan Riku, by Riku Miyashita

"Papa dan Riku", by Riku Miyashita

Lama sekali rasanya sampai di rumah. Sambil mendengarkan Riku menangis, aku peluk dia di dalam lift. Ahhh anakku ini merasakan indahnya persahabatan dan rasa sedih akan kehilangan seorang sahabat. Aku seakan bercermin dan melihat diriku di sana, yang sering menangisi kepergian teman atau kesedihan teman, tanpa diketahui siapa-siapa. Aku bangga pada anakku ini, meskipun tahu bahwa sifatnya yang begitu itu mungkin akan membuat susah dia kelak.

Aku tidak bisa langsung menelepon, karena Kai menuntut minta susu, dan dia juga ikut menangis mendengar kakaknya menangis. Bener-bener seperti paduan suara tangisan. Akhirnya begitu aku kasih susu ke Kai, aku ambil telepon dan langsung menelepon ibunya Ken.

“Hallo, sorry to bother you in such a busy time preparing dinner, but I want to ask you one question. Ken will go to Phillipine this summer?”
“Yes… ”
“Will he back to Japan after holiday or will stay for good there. Because now Riku is crying, thinking of loosing his friend.”
“Oh no… Of course we will be back to Japan, just visiting home for summer vacation”
“Ok then. I am relieved. Thank you”

Lalu aku katakan pada Riku…. “Kan, seperti mama bilang, Ken hanya berlibur saja bertemu opa omanya, sama seperti Riku. Dia akan kembali lagi ke Jepang, dan tentu saja bisa bermain bersama lagi.

Dan senyum mengembang di wajahnya…. ditambah pertanyaan-pertanyaan,

“Kapan dia pergi ke Filipin?”
“Filipin itu di mana? (Sambil membawa bola dunia)
“Kapan dia kembali?”
“Apa abis itu bisa main ?” ….. bla bla bla dan aku jawab sekenanya, sambil menunjukkan posisi Filipina yang berada di atas Indonesia….

“Wah dekat rumahnya opa. Kalau naik pesawat berapa lama?”
“Ya memang dekat Riku…. Kalau Riku sudah besar mungkin Riku bisa pergi ke Filipin dan melihat kampungnya Ken (Sambil berpikir betapa dunia itu kecil sekarang ya… dan betapa internasionalnya keluargaku)

Well, hari ini hari  yang berarti buatku. Mengetahui kemajuan pelajaran Riku dan yang lebih berarti, bahwa Riku sudah menemukan arti bersahabat.

Dan malam harinya, sebelum tidur kami membaca Picture Book yang Riku pinjam dari perpustakaan berjudul Curry Raja, Kunimatsu Erika, Kaiseisha Publishing. 「ラジャーのカレー」   国松エリカ 偕成社

20 gagasan untuk “Semester dan persahabatan

  1. AtA chan

    Wah Riku suka bikin komik ya, sama kayak saya..
    Bagus neechan berarti Riku anak yg kreatif dan punya daya imajinasi yg tinggi..
    Saya kagum dgn cara mendidik Riku yg tidak memaksa dan menjalin komunikasi yg baik, mungkin karena neechan seorang sensei jadinya tau cara terbaik untuk mendidik Riku..
    Sifat sensitif Riku mungkin membuat dia susah kelak, tapi..
    Mungkin juga sebaliknya, dia akan menjadi orang yg care dengan sesama dan lingkungannya.
    Itu akan membedakan dia dengan orang jepang lainnya..
    [yg kata neechan seperti robot 😀 ]

    Balas
  2. narpen

    Wah, hebat.. riku udah berani gambar orang secara penuh.. kayanya saya dulu baru berani gambar orang waktu SD akhir atau smp awal.. (Riku umur berapa ya, tepatnya, tante?)
    Langkah selanjutnya bikin gambar di kompie, tante.. biar bisa jadi animasi kecil2an, pasti riku senang.. ^___^
    Hihi, anak kecil suka miskom gitu ya.. lucu bacanya..
    .-= narpen´s last blog ..Kekerasan dalam pemilu? =-.

    Balas
  3. nh18

    HHmmm …
    Riku sudah kenal apa arti persahabatan …

    Pesen Om Trainer …
    Riku harus bersahabat dengan banyak orang …
    Cari Ken.. Ken yang lain …
    Dan hidup Riku akan bahagia …
    Bukankah bu Guru bilang bahwa Riku cukup poluler dikalangan teman-teman ??? Teman Riku Banyak kan ??

    OK Young Man ???
    Don’t Cry …

    Salam saya

    Balas
  4. Kris

    saya dulu waktu SD juga suka merasa sedih kalau ada teman yang pindah. rasanya gimanaaa gitu. dan sifat yg spt itu terbawa sampai sekarang. pas teman kantor ada yg mau pindah, rasanya aku pengen kabur dari ruangan karena malu kalo ketahuan nangis hahaha.

    tapi semoga Riku besok lebih peduli dengan teman-temannya. ikut senang deh dia menikmati sekolahnya saat ini. dan aku salut deh sama ortunya riku, bapak-ibu Miyashita 🙂

    Balas
  5. DM

    Duhai Riku, tak salah kalau aku selalu menyimpulkan: hatinya lembut sekali.

    Oh, mamanya Riku tak ada darah Jepang sama sekali. Sama dong, aku pun tak ada darah Jepang sama sekali 😀

    Jadi Riku orang mana? :p
    .-= DM´s last blog ..Voorrijder 2 =-.

    Balas
  6. AFDHAL

    wah riku sensi banget yah…
    sama juga sih, SERING banget waktu SD ngerasain ditinggal pindah teman..maklum orang tua mereka cuma singkat berdinas di Papua (gak betah kalli)..
    .-= AFDHAL´s last blog ..DoeKoen =-.

    Balas
  7. racheedus

    Kedua anakku juga half, Bu. Banjar-Jawa. Belum internasional, sih. Tapi tetap bikin repot kalau mau nengok neneknya. Harus menguras dalam-dalam tabungan.

    Balas
  8. imoe

    Wow…ini dia, aku kok tersentuh membaca postingan ini. Ringan bgt tapi dalam, soalbetapa anak-anak lebih murni dengan perasaannya, tulus. Kira-kira SBY kangen ngak ya ama JK kalo udah pisah ‘ranjang’? heheh Hebat riku…ajak mamanya ke Filipin…O ya mbak, btw email pak watanabe ada gak ?

    Balas
  9. G

    Ooh Riku… selain ganteng ternyata berhati lembut.. *Seandainya saya lahir 40 tahun terlambat, hahaha..!*

    Dari kemarin sudah membaca entri yang ini sampai berulang-ulang, dan merasa kagum dengan sensitifitas anak-anak, mereka sangat menghargai sebuah persahabatan ya? Jangan sampai hal ini hilang ditelan waktu dan proses menjadi dewasa.
    .-= G´s last blog ..502: Menemukan Nafas Kembali =-.

    Balas
  10. edratna

    Ahh Riku…sensitif sekali….berhati lembut
    Dan gambarnya itu…dia kayaknya berbakat gambar dan fotografi (foto2nya yang dipajang di blog ini, dalam beberapa tulisan Imel, sangat bagus)

    Balas
  11. mangkum

    wah… riku-riku…

    Eh tuh kan pendidikan di Jepang aja ga pake nilai lagi di Indonesia malah pake UAN segala. Gimana mau maju ya pendidikan di Indonesia kalau kek gini mah?
    .-= mangkum´s last blog ..A Rendezvous =-.

    Balas
  12. Hery Azwan

    Guru Riku mengingatkanku pada kepala sekolah Toto-chan. Btw, nilai di Jepang nggak pake angka tetapi cuma biasa, bagus dan bagus sekali. Kalau sekolah di Indonesia pake sistem nilai seperti ini pasti sudah diprotes dan nggak ada yang mau sekolah di sana.
    Btw, Riku kayaknya bagus dalam hubungan pertemanan, berbakat jadi pemimpin nih. Karena pemimpin adalah orang yang bisa memberi pengaruh kepada lingkungannya…
    Btw jadi artis juga boleh? Artis film kan? Egrrrr….ya nggak lah…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *