Goro-goro

Goro-goro dalam bahasa Jepang lain artinya dengan goro-goro bahasa Jawa, atau gara-gara bahasa Indonesia. Padahal dalam bahasa Jepang ada juga dipakai kedua kata ini. Jika gara-gara dalam bahasa Jepang berarti sedikit orang (あの店はがらがらです。 Toko itu kosong/tidak ada pengunjung) , maka goro-goro artinya bermalas-malasan. Keadaan masih berada di tempat tidur meskipun sudah bangun. Santai-santai berbaring.

Hari Selasa dan Rabu lalu, Riku sepulang sekolah tidak ke mana-mana. Tadinya dia sempat membuat janji bertemu dengan Aska san, bertemu di taman depan sekolah naik sepeda. Nah, karena dia janjian dengan mengendarai sepeda, maka aku tidak ijinkan. Lha meskipun Riku sudah bisa naik sepeda, dia masih belum begitu mahir untuk dibiarkan sendiri, tanpa pengawasan orang tua. Apalagi kalau dia dengan Aska nanti lalu pergi ke rumah temannya yang lain. Aska pasti belum tentu bisa menolong Riku jika terjadi apa-apa. Dan Riku menurut, dan minta aku teleponkan ibunya Aska, untuk membatalkan janji.

“Tapi Riku boleh pergi loh, kalau mau main, tanpa sepeda”
“Enggak ah, aku mau sama mama aja!”

duh, aneh deh anak ini, disuruh pergi main ke luar ngga mau. Dia ngga bisa pergi sendirian dan tanpa tujuan sepertinya. Persis mamanya!

“OK, tapi jangan ganggu mama ya. Mama mau bobo siang. capek!”
“Aku juga mau bobo sama mama…..”

dan dia mau ikut nyempil di sofa bed di studio kerjaku… doooh mana bisa gajah dan anaknya berdua menempati tempat tidur single. Akhirnya kita pindah ke kamar tidur dengan tempat tidur yang luas…. Tutup tirai, peluk guling aku membelakangi Riku.

“Mama, Ebi (udang) itu mirip AB bahasa Inggris ya?”
“Iya Riku… pintar! memang mirip.”

Dari belakang punggung aku, dia peluk aku…. lalu aku bilang,
“Wah mama senang deh TV nya rusak. Jadi kita bisa ngobrol, goro-goro, dara-dara (santai) begini ya.”
“Iya Riku juga senang. TV emang jelek ya….”

diam lagi, dan aku mulai hampir tertidur, waktu dia bertanya,
“Mama, kenapa sih mama menikah dengan papa?” (nah loh kenapa dia tanya sih hihihi)
“Ya, karena mama dan papa saling cinta”
“Mama ketemu papa di SMP?”
“Ngga Riku, mama ketemu papa di Daigakuin (Pasca sarjana).”
“Daigaku…”
“Gini Riku, Riku TK 2 tahun kan, sesudah itu masuk SD 6 tahun, sesudah SD itu SMP 3 tahun, lalu SMA 3 tahun. Lulus SMA masuk Daigaku, 4-5 tahun, baru masuk Daigakuin 2 tahun untuk Master dan untuk Hakase (Doktoral… Riku tahu kata hakase) tidak terbatas berapa tahun. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Mama belum Hakase, baru Master. Mama ingin juga belajar jadi Hakase.”
“Mama udah hakase kok, kan mama tahu semua…” (Oh my God Riku…..hiks)

Akhirnya aku tidak ngantuk lagi, malah jadinya ingin ngobrol dengan putra sulungku ini. Kupikir kapan lagi bisa peluk-peluk dia, sambil ngobrol gini. Sebentar lagi kelas 5-6 mana mau dia tidur sama mamanya dan kesempatan seperti ini tidak akan terulang.

“Riku senang belajar di SD?”
“Senang”

“Mama…mama kan guru ya? Guru SD atau SMP?”
“Bukan Riku, mama guru daigaku, universitas… Mama ngga bisa ngajar anak-anak kecil. Ngga sabaran! Makanya mama hormat pada Chiaki Sensei, dan guru-guru TK, SD yang bisa ngajar anak-anak”
“Kenapa? Oh aku tahu… anak-anak nakal ya…. ”
“Hmmm ya ada yang nakal. Tapi gini, anak-anak itu seperti hakushi. haku itu putih, shi itu kami (kertas). Anak-anak itu seperti kertas yang kosong, belum digambari. Kertas itu kan kalo digambari anak TK, ya hasilnya seperti gambar anak TK, Kalau Riku yang gambar, ya seperti anak SD. Tapi kalau yang gambar orang yang pintar, berpendidikan dan berpengalaman, pasti gambarnya bagus kan? Jadi Susah untuk menggambari hakushi itu supaya gambarnya bagus. ”
” ngerti…. Makanya Mama suka Chiaki sensei….”
“Ya mama suka sama semua guru”
“Riku juga kalau besar mau jadi guru. Guru Olahraga.” (Dalam hati aku ketawa, oi ndut…kurusin dulu)

“Kalau mau jadi guru olah raga, Riku musti suka semua olah raga. Dan harus suka lari.”
“Hmm lari ya… kalo gitu aku mau jadi guru kokugo 国語(bahasa jepang) aja deh”
“Nah papa tuh pintar kokugonya, om Taku juga …makanya om Taku jadi wartawan kan?  Dan untuk itu, Riku mazu まずharus bisa baca dan menulis. Makanya banyak latihan baca dan menulis ya.”
“Iya”

“Mama, mama namanya keluarganya siapa. ”
“Imelda Coutrier. Riku?”
“Riku Coutrier. ”
“Loh bukan… Riku Miyashita”
“Ahhh aku ngga mau Riku Miyashita”
“Tapi papa Riku namanya siapa?”
“Gen Miyashita”
“Makanya, Riku namanya Riku Miyashita. Bukan Riku Coutrier.”
“Dharma (sepupunya di jkt) namanya siapa? Dharma Coutrier?”
“Bukan, namanya Dharma Dewanto, karena om Chris namanya Chris Dewanto”
Lama lama dia mulai ngerti “aturan mainnya”.
“Jadi anak-anak semua ikut nama papanya?”
“Bingo… betul Riku, semua ikut nama papa. Itu karena patriarchal , Fukei shakai 父系社会.  Ada sih beberapa suku dan negara yang bisa ikut nama ibu, matriarchal bokei shakai 母系社会. Tapi kebanyakan semua ikut nama bapak. ( waktu aku baca tulisan Uda Vison tentang padusi, aku jadi teringat juga bahwa aku pernah menceritakan hal ini pada Riku)

“Tapi Riku mau ikut nama mama. Kan bagus Riku Coutrier, sama dengan opa”
“(Sambil senyum-senyum aku ingin bilang… bagus dong) Kasihan papa loh. A-chan juga kasihan. Gini aja deh. Kalau di Jepang Riku Miyashita, kalau di Jakarta Riku Coutrier… setuju?”
“Asyikkkk….”

Ini adalah sekilas hasil pembicaraan waktu kami goro-goro hari Selasa dan Rabu lalu. Masih banyak percakapan nonsense, misalnya dalam satu hari berapa ikan yang ditangkap ya? (pattern “satu hari berapa banyak” , dan ini cukup membuat kesal aku … sampai kadang aku bilang oi aku bukan nelayan, ngga tau….) Tapi juga pernyataan dia bahwa dia sudah punya bulu ketek, wakige 腋毛 (padahal bukan bulsket, hanya kotoran dari baju). Aduuuh Riku, kalau kamu udah punya bulsket berarti udah mulai ada kumis, sayang….. dan mama ngga mau kamu secepat itu menjadi besar. yukkuri de ne (pelan-pelan aja).

Waktu aku cerita tentang “goro-goro” ini ke Gen, dia bilang… wah mama sama Riku rabu-rabu (love-love… mesra). Rupanya dia ngiri tuh.  Ntah dia ngiri ke aku, karena aku ada waktu untuk bercengkerama dengan Riku, atau ngiri sama Riku, karena bisa rabu-rabu sama mamanya hahahaha.

So…mari kita goro-goro jangan cari gara-gara dengan orang yang kita sayangi, sebagai suatu cara untuk mendekatkan hubungan.

** Saya pasangkan video clip tentang Riku membacakan buku Picture Book berjudul “Kashite yo… Pinjamkan dong!” pada Kai. Selamat menikmati.***


26 gagasan untuk “Goro-goro

  1. Muzda

    Hwaaa …
    Manis banget video Riku ma Kai nyaa ..
    😀
    .-= Muzda´s last blog ..Guilty Pleasure =-.

    Iya Muzda, aku aja terharu sekali …itu nyuri-nyuri ambilnya dan sudah terlambat….
    Pas kejadian sesudah dia potong tangannya dengan silet hihihihi.
    EM

    Balas
  2. mascayo

    “Kashite yo!!!”
    Riku sampe teriak gitu … hehehe
    ntar di pabrik boleh ngga saya bilang gitu sama bos saya .. kashite yo …
    anyway … saya maunya anak-anak bawa nama saya .. tapi kurang flexible nih … misal Alima Zia Mufida Mulyono .. hmmm.. rasanya gimana gitu … jadi saya cari-cari sinonimnya cahyo aja .. ketemu deh Zia.
    nanti yang kedua bisa jadi pake zia lagi hehehe
    .-= mascayo´s last blog ..Untuk apa anda memakai helm? =-.

    Balas
  3. AtA chan

    Duh si mama pinter mempengaruhi riku supaya benci tv..
    Padahal males beli yg baru kan hehe..
    Tapi emang tv bisa meracuni anak2,apalagi kalo gak diawasi..

    Balas
  4. mang kumlod

    Ini hidden camera ya Mba? Hehehe…
    Tiga hari lagi hari cinta dong… 😀
    .-= mang kumlod´s last blog ..Gelar Jepang UI 2009 =-.

    Balas
  5. dyahsuminar

    goro goro itu leyeh leyeh kali ya mbak…klosodan sambil ngariung begitulah…
    kalau goro goro pada pagelaran wayang kulit…itu pertanda mau selesai…yang keluar Punokawan..
    Ah…mbak Imel bisa aja bikin cara untuk lebih akrab dengan keluarga…saya salut…biar banyak yang meniru mbak..
    kalau saja, banyak ibu ibu muda di Indonesia punya banyak wawasan,mestinya bisa mendidik putra putrinya dengan lebih baik ya..Nah,sayangnya di indonesia itu serba pas..pas ilmunya,pas duitnya,pas kemampuannya…he..he…

    Balas
  6. Ria

    kalo aku goro2 pas bangun tidur yang ada malah tidur lagi dan telat masuk kantor mbak *dan ini hampir setiap hari…wakakakakakak*

    riku lucu banget sih!
    .-= Ria´s last blog ..Duri Berasap…Lagi!!! =-.

    Balas
  7. radesya

    aku baca sambil goro-goro nih 🙂

    Riku pinter kayak mamanya ya…., biasanya anak-anak memang suka sekali bertanya, kalau dengar crita tentang anak kecil jadi seneng…., pingin rasanya punya adek, tapi sayang nggak bisa……..

    Balas
  8. Panglatu

    Membaca ini saya jadi membayangkan seandainya saya tinggal di Indonesia …. mungkin saya udah punya Anak yang seumuran Riku … Hmhh… Typical keluarga Harmonis seperti yang Mbak Imel ceritakan adalah idamanku, kedekatan yang diselimuti dengan Kasih Sayang.
    BTW di Hong Kong saat ini semua sekolah tingkat SD kebawah diliburkan untuk menghindari penyebaran Flu Babi yang sedang merambah Hong Kong.
    .-= Panglatu´s last blog ..Apa yang kamu pikirkan Rini…?! =-.

    Balas
  9. Tuti Nonka

    Saya sesekali juga goro-goro dengan suami, ngobrol menjelang tidur. Kalau lagi suka ngomong, dia bisa cerita apa saja tanpa henti, padahal saya sudah ngantuk. Akhirnya, kalau saya hanya menjawab ‘hmm-hmm’ dia akan tahu kalau saya setengah mimpi, dan baru ngomongnya berhenti … hihihi …. 😀
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Persahabatan =-.

    Balas
  10. DV

    Wah, saya malah nggak mikirin soal kata “Goro-goro” aku terbius dengan suasana yang kau tulis saat Riku bicara denganmu…

    Begitu manis 🙂
    .-= DV´s last blog ..Idola Masa Lalu dan Idola Masa yang Akan Berlalu =-.

    Balas
  11. narpen

    klo bahasa sunda, goler-goler, tante.. 😀 mirip yah.. (maksa, hehe)
    .-= narpen´s last blog ..Ketika harus membuang masa lalu =-.

    Balas
  12. Pakde Cholik

    Dialog yang menarik
    Sesibuk apapun orangtua sebaiknya menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan anak-anaknya.

    Goro-goro
    Dalam pertunjukkan wayang kulit Jawa, Goro-goro adalah salah satu bagian yang ditampilkan setelah ‘perang gagal’ (perang yang hanya sebentar sebagai pembuka). Waktunya biasanya di atas jam 24.00
    Bagian ini diisi dengan lawakan yang menghadirkan punakawan Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Dalam perkembangan berikutnya juga dihadirkan pelawak beneran yang juga mengocok penonton sambil menyanyi, nembang dan melayani permintaan lagu atau gending dari penonton.

    Terima kasih artikelnya
    Salam hangat dari Jombang

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *