Ramah Tamah

Dalam bahasa Jepang ada beberapa kata yang merefer ke pertemuan ramah-tamah yang bertujuan untuk lebih mengakrabkan anggota suatu organisasi atau perkumpulan. Yang biasa dipakai adalah Konshinkai, こんしんかい  懇親会. Misal sesudah acara formal seminar atau diskusi, diberi alokasi waktu untuk minum kopi dan bercakap-cakap, atau lebih khusus lagi dengan membuat acara jamuan makan malam. Kata ini sering aku pakai dalam kegiatan menjadi MC di Kedutaan atau di Universitas.

Tapi sejak Riku masuk TK, aku baru bertemu dengan kata Shinbokukai しんぼくかい 親睦会. Rupanya meskipun artinya sama, kata konshinkai yang di atas masih berkesan “kaku” dan untuk suatu struktur organisasi yang sudah jelas. Sedangkan shinbokukai itu lebih “merakyat” dan bisa dipakai untuk pertemuan-pertemuan yang “lebih akrab” tidak formal  seperti keluarga besar misalnya. Dan hari Rabu tgl 17 Juni yang lalu, aku mengikuti Shinbokukai dari kelas 1-2, kelasnya Riku.

Rabu pagi, aku terlambat pergi ke sekolahnya Riku, untuk acara pertemuan murid shinbokukai. Sebetulnya mau dibilang terlambat juga tidak, karena acara mulai jam 9:30. Tapi karena aku pengurus, seharusnya datang 30 menit lebih cepat, yaitu jam 9. Dan aku terlambat 10 menit gara-gara tidak menemukan “Kartu pass masuk ke dalam sekolah”. Setiap orangtua murid yang masuk ke dalam lingkungan sekolah, harus memakai kartu pass masuk demi keamanan sekolah. Nah, selasanya  aku masih pakai kartu itu untuk rapat PTA dan melanjutkan membuat ebi (origami) dan magnet dari nendo sampai jam 2 siang. Tapi lupa setelah pulang taruh di mana. Karena begitu sampai rumah, aku terkapar di tempat tidur! Benar-benar capek.

Akhirnya daripada terlambat banyak aku sambar saja kartu pass milik Gen, dan … aku pakai terbalik  supaya tidak terbaca namanya, tapi dari jauh tetap terlihat pakai kartu pass…. hihihi (jangan ditiru). Dan dengan terpaksa aku mendorong sepeda masuk ke dalam lingkungan sekolah (sebetulnya dilarang datang dengan sepeda kalau tidak terpaksa banget). Abis, aku bawa banyak barang, yaitu kue konsumsi untuk 30 orang, dan peralatan lainnya.

Hari Rabu itu adalah hari pertemuan orangtua murid kelasnya Riku yang bertajuk shinbokukai, “ramah tamah”. Dan di dalam ramah-tamah itu, aku dan dua pengurus PTA yang menjadi pemimpin dalam kelas. Kami menyampaikan pesan-pesan dari sekolah, dan menampung keluhan atau pertanyaan dari teman-teman orang tua murid yang lain. Selain itu kami juga sebetulnya yang menjadi penentu untuk “keakraban antar orangtua”. Jika akrab, maka nanti-nantinya akan mudah untuk menggerakkan orang tua, minta tolong ini-itu, dan tentu saja mudah mendapatkan macam-macam informasi tentang pembelajaran anak-anak kita sendiri di sekolah. (Selain tentunya gosip ini-itu hehhehe, maklum lah wanita suka gosip kan?)

Nah, seperti biasa aku tidak pernah memakai “bahasa sopan” dalam pertemuan seperti ini. Boleh dibilang, aku menghindari “pembuatan jarak” dengan pemilihan pemakaian bahasa. Bukan karena aku tidak bisa bahasa sopan, tapi dengan menunjukkan “kebodohan berbahasa” (mumpung orang asing)  aku berharap mereka dapat menerima dan membiasakan untuk saling akrab. Toh ini bukan forum resmi. (Tentu saja untuk penyampaian informasi yang formal, aku masih memakai bahasa sopan. Karena seperti bahasa Jawa, bahasa Jepang mempunyai 3 tingkatan bahasa, sopan, biasa dan kasar)

Dan akhirnya semua mulai akrab dengan memperkenalkan diri dan menyebutkan hobi masing-masing, serta menggunakan waktu free time untuk saling beramah tamah. Dan karena kegiatan seperti ini hanya disetting satu kali saja (tidak ada kelanjutannya, kecuali kami bertiga yang membuat) , maka pada akhir acara, dengan tidak sengaja aku mengatakan,”Lunch…..” dan langsung disambut…”Mau, mau….” . Loh…. maksudku, nanti kita buat acara lunch bareng deh, tapi bukan hari ini. Eeee beberapa orang antusias sekali untuk makan siang bersama hari itu juga. Wow… kesempatan bagus untuk lebih mengakrabkan diri. Dan karena aku yang mengatakan “Lunch”, berarti aku harus ikut pergi bersama dong. Soliderrrrr. Sedangkan dua pengurus yang lain tidak bisa ikut karena mereka ada kerjaan lain.

Kami pergi ke restoran dekat rumah yang bernama Royal Host, sebuah family restaurant satu-satunya yang terdekat dengan SDnya Riku. Kira-kira  setengah dari yang hadir hari itu (12 orang dari 24 orang) memenuhi restoran yang selalu penuh pada jam makan siang. Tapi kami mendapat tempat khusus, karena rupanya ada salah satu ibu yang bekerja part time di restoran itu. Jadi dia langsung menghubungi temannya untuk membuatkan tempat bagi kami. Tapi sayangnya dia harus bekerja melayani kami, sehingga tidak bisa ikut duduk dan makan bersama.

(Kadang aku merasa aneh dengan keadaan ini, seorang teman melayani kita di suatu restoran/toko, tanpa rasa malu. Aku belum pernah menemukan kasus seperti ini di Indonesia, jadi agak risih pertamanya. Tapi di sini semua orang bekerja! apa saja! bahkan menyapu tokonya, dan tidak malu dilihat temannya. Bangga akan pekerjaannya. Aku rasa, semestinya banyak orang Indonesia harus melihat dan mencontoh “semangat” ini. Jangan malu bekerja apa saja, bahkan di depan teman dan keluarga)

Karena kami hanya punya waktu satu jam 15 menit sebelum anak-anak pulang sekolah, maka kami cepat-cepat memesan makanan dan mempergunakan waktu sebaik-baiknya dengan saling memberitahukan email Handphone (di Jepang bukan sistem SMS, sehingga harus menuliskan alamat email HP yang panjang itu, untuk kemudian di save). Dan rupanya semua ibu-ibu punya rasa ingin tahu yang besar “tentang Imelda”, kapan datang ke Jepang, kenapa bisa bahasa Jepang dsb dsb, sehingga aku jadi seperti diinterogasi deh hehehe. Tapi yang pasti aku merasa senang sekali karena dengan adanya acara shinbokukai dan dilanjutkan dengan lunch bersama ini, rasanya aku menambah teman sebanyak 12 orang lagi. Teman-teman dengan latar belakang yang sama, yaitu ibu dari seorang murid SD. Semoga saja keakraban ini bisa berlanjut dan sama-sama bisa melewati masa penting dalam mendidik anak.

19 gagasan untuk “Ramah Tamah

  1. Sigi

    Wah, senang ya dapat teman baru, langsung 12 orang lagi! Thanks ya, masih sempat meng-update blog, jadi saya gak kehabisan cerita mbak, hehehe. Meskipun sibuk jangan lupa jaga kesehatan ya mbak…!

    Balas
  2. nh18

    Shinbokukai bahasa indonesianya … ngerumpi …

    But yes indeed … persatuan orang tua murid itu sangat penting …
    terutama untuk tukar menukar informasi, saling membantu dan lain sebagainya …

    Salam saya
    .-= nh18´s last blog ..SANTUN =-.

    Balas
  3. Muzda

    Hehee, inget sama postinganku tentang pekerjaan yang aku gak mau dilakuin sama anak keturunanku. Di Jepang, rupanya gak ada rumus itu ya, kecuali mungkin bila perbuatan kriminal.
    😀
    .-= Muzda´s last blog ..Guilty Pleasure =-.

    Balas
  4. Yoga

    Biasanya gengsi yang menyuruh seseorang malu, selain itu, banyak orang yang nggak bisa menghargai teman atau keluarganya yang nampak bekerja kasar (menjaga toko, menjadi tukang bersih-bersih dsb), jadi mengakibatkan banyak orang yang menutup-nutupi profesi sebenarnya. Jadi ingat dengan cerita di salah satu blog, yaitu seorang anak penjual bubur yang petentang petenteng (heheh ini bahasa apa ya?), sementara orang tuanya sibuk berjualan bubur ayam di salah satu lapangan di Bandung. Yang membaca sampai sebal.
    .-= Yoga´s last blog ..Enak dan Enak Sekali =-.

    Balas
  5. afwan auliyar

    ehmm….. semakin bnayk mengenal org, akan menambah rezeki juga bu 🙂
    tp, mang sptnya orang asing, akan lebih banyak di interogasi 🙂
    .-= afwan auliyar´s last blog ..blogger jutawan, kenapa nggak !?? =-.

    Balas
  6. Tuti Nonka

    Ternyata yang namanya ibu-ibu, dimana-mana sama ya Mbak, suka ngobrol … hehehe ….
    Saya pernah baca di buku, memang perempuan mempunyai sel-sel otak untuk mengendalikan kata-kata yang lebih banyak. Perempuan juga sangat mementingkan hubungan dengan orang lain. Ini mungkin sudah kodrat ya, karena seorang ibu harus selalu menjalin komunikasi dengan anak-anak sejak bayi yang belum bisa bicara, sehingga hubungan lebih banyak dijalin dengan kontak batin. Ibu juga yang pertama mengajarkan anak-anak bicara …
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Persahabatan =-.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *