POLIO dan TILANG

Hari Senin hari yang sibuk. Kenapa ya? Apa karena hari pertama setelah libur dua hari? Sampai-sampai ada lagu I don’t like Monday….

Hari Minggu kemarin rupanya Riku terjatuh di jalanan waktu akan menyeberang. Dan kepalanya terbentur… Katanya. Tidak ada luka parut di kepala maupun kaki, tapi dari sore hari dia mengeluh sakit kelapa eh kepala. Dan tentu saja Gen khawatir , takut jangan-jangan pengaruh ke otaknya Riku. Kok kayaknya aku ibu yang cuek ya… aku ngga khawatir sama sekali. Karena aku cukup bertanya, muntah ngga? eneg ngga? mimisan ngga? Jawabnya “NO” semua…. jadi tidak apa-apa (menurut aku loh). Dan aku lihat dia biasa saja, tetap genki…ceria tidak lemas. Mungkin yang mengkhawatirkan justru karena dia agak berlebihan ceria dan cerewetnya…ini harus diperiksa hahahaa.

Jadi waktu pagi hari Riku masih berkata “sakit kepala” , dan Imelda diberi tugas oleh Gen untuk mengantar Prince Riku ke rumah sakit untuk diperiksa dokter. OK boss. Padahal hari ini Kai juga ada jadwal vaksin Polio di puskesmas. Sibuk banget deh hari ini. But enjoy enjoy….!

Berhubung Prince Kai terlambat bangun, kami baru bisa berangkat ke RSnya jam 10…. huh aku paling malas ke RS ini kalau tidak tepat jam buka (jam 9) karena kadang-kadang suka banyak yang antri di Pediatric sehingga musti lama menunggu. Untung saja waktu aku datang banyak yang menunggu, tapi karena ada dua dokter jadi lumayan cepat dipanggil. Dua anak yang sebetulnya sehat (bayangin suhu badannya aja waktu itu cuma 36,4) sambil menunggu giliran bermain bersama di play-cornernya. Senang juga melihat Riku sudah bisa “menjaga” adiknya bermain.

Benar juga perkiraanku, Prince Riku tidak apa-apa. Tapi memang Rikunya sendiri bilang, “Masih pusing … bla bla bla”. Aku terpaksa bilang, “Iya dok, nanti kalau pusing terus seminggu saya kembali lagi”. Meskipun maksud perkataan itu untuk Riku. Buktinya setelah itu dia tidak mengeluh pusing-pusing lagi. Heran deh… Riku itu emang suka sekali RS. Sering tanya,” Mama, kapan aku musti disuntik lagi?” Huh… mentang-mentang aku selalu puji dia bahwa dia sejak bayi tidak pernah menangis kalau disuntik (termasuk vaksin).

Jam sebelas pemeriksaan selesai, kami pulang untuk istirahat dan makan siang. Lalu jam 12:30 pergi ke Puskesmas Kelurahan untuk Kai mengikuti vaksin polio. Letaknya agak jauh dari rumah, yaitu bersepeda 20 menit. Untung Riku sudah bisa bersepeda, kalau tidak lumayan loh bonceng dua anak sampai ke puskesmas itu.

Kai iri melihat kakaknya sudah bisa naik sepeda

Kai sebetulnya sudah “mengabaikan” vaksin polio dua kali. Polio ini gratis dari kelurahan dan diselenggarakan setiap musim semi (Mei-Juni) dan musim gugur (Sept-Okt). Tahun lalu setiap ada jadwal polio, mesti dia tidak sehat. Jadi senin kemarin itu kebanyakan yang datang adalah bayi-bayi berusia 6 bulan lebih. Lucu juga aku memandangi bayi-bayi itu… masih digendong ibunya…. hmmm Kai dulu juga kecil segini ya. Sekarang? sudah bisa menuntut dibelikan minuman dari vending machine, lari ke sana kemari… doooh.

Kai mendapat urutan nomor 44 (sampai dengan aku pulang ada sekitar 150 ibu). Tidak sampai 30 menit semua selesai. Antri untuk diperiksa salah satu dari 5 dokter. Untung Kai anteng sehingga memudahkan pemeriksaan. Oh ya, waktu si dokter memeriksa dada Kai dengan stetoskop, tercium wangi parfum… wahhh dokter “gaek” (udah tua sih) ini dandy juga pake parfum segala. Biasanya jarang loh laki-laki Jepang pake parfum. Untung isengnya Imelda ngga kumat dan menanyakan…. “Dok, kamu pake parfum merek apa sih?” hahahaha.

Setelah mendapat OK dari dokter untuk menerima vaksin polio, langsung diberi vaksin di bagian suster-suster. Vaksin polio itu berupa cairan yang langsung dimasukkan ke mulut bayi. Katanya sih manis. Tapi selama 30 menit tidak boleh makan dan minum dan “ngempeng”. Ntah akhir-akhir ini Kai suka sekali memasukkan tangannya (seluruhnya loh) ke mulut. Jadi aku repot deh membuat dia lupa supaya jangan memasukkan tangannya selama 30 menit. Bagaimana cara supaya dia lupa? Kebetulan di samping gedung kelurahan itu sedang ada pembangunan gedung baru, dan pada tahap pembongkaran pondasi. Jadi ada semacam crane/buldozer yang dioperasikan. Dasar dua anak laki-laki, melihat kegiatan begitu saja bisa lupa semua! (dan heran juga mamanya ikut terkesima melihat proses pembangunan sambil jaga dua unyil)

Bunga Ajisai (Hydrangea) bermekaran di musim hujan

Setelah lewat 30 menit, aku ajak mereka pulang (dengan susah payah) dan ajak mereka pergi ke Mac Donald. Hadiah Happy setnya sekarang tidak terkenal, jadi aku juga tidak begitu antusias…. (loh kok jadi perhatiin hadiah terus nih). Sampai di rumah ternyata tidak lama sekitar jam 5, Gen sudah pulang. Wah kok cepat? Ternyata dia ada dinas luar ke daerah Teluk Tokyo. Dan dia membawa “hadiah”….. sebuah kertas bertuliskan “Pelanggaran Parkir” chuusha ihan 駐車違反。 Baru pertama kali dapat jadi bingung juga harus bagaimana. Rupanya dia parkir mobilnya di pinggir jalan, dan waktu dia parkir sih ada taksi dan truk di depan dan belakangnya, tapi waktu dia kembali 30 menit sesudahnya ternyata taksi dan truk sudah tidak ada, dan ada kertas ini di wipernya…. kena deh hehehe.

surat tilang (chuucha ihan -pelanggaran parkir)

Begitu sampai rumah, dia pergi ke koban (pos polisi) dan oleh polisi di sana dibilang suruh menunggu akan ada surat tilang yang dikirim ke rumah. Setelah terima surat itu, bayar denda, dan mungkin di SIM nya tidak diberi tanda “point pelanggaran”. Semakin banyak point pelanggaran makan semakin besar kemungkinan SIM dicabut. Karena kami berdua Gold SIM  Card dan belum pernah melakukan pelanggaran, jadi sayang jika SIM harus “ternodai” oleh point pelanggaran. Jika ada satu saja point pelanggaran, maka pada penggantian SIM berikutnya (setelah 5 tahun) akan terjadi penurunan tingkat (tidak Gold lagi) dan harus ikut kursus/test lagi  (sebentar sih sekitar 1-2 jam)

Jadi sekarang kami sedang menunggu “kiriman” dari polisi, dan biasanya untuk pelanggaran parkir kami harus membayar 15.000 yen (1.500.000 rupiah kira-kira). “Gomen ne ごめんね  (maaf ya)” kata Gen… dan aku cuma ketawa sambil bilang, “berdoa saja semoga tagihan dari polisinya datang sesudah gajian ya hehehe”. Lima belas ribu yen itu sudah standar dan tidak ada sistem “tawar menawar” atau suap-menyuap seperti di Indonesia. Seandainya…. seandainya loh, peraturan seperti ini diterapkan di Indonesia, aku bisa bayangkan betapa kayanya kepolisian RI…. cukup untuk bayar utang negara mungkin …hahahaha.

What a busy and unpredictable MON day!

30 gagasan untuk “POLIO dan TILANG

  1. Ata chan

    Lho mbonceng dua anak kan bisa membakar kalori juga tuh, sambil membayangin ngayuh sepeda statis hehe..
    Weks comment luv nya tetep gak muncul.. :-S

    Balas
  2. DV

    Hahah ceritanya menarik!
    Imel, beberapa waktu lalu kami hampir saja ketilang karena kelamaan parkir di areal yang hanya mengijinkan lima menit parkir.
    Tapi lucunya, ketika kami lari terburu-buru dan rangers melihat kami, mereka urung menyelipkan “surat cinta” ke wiper mobil dan kamipun bilang “Thanks”…

    Mereka nyelonong pergi dan tersenyum seraya memasukkan “surat cinta” itu ke sakunya lagi 🙂
    .-= DV´s last blog ..Hidup dan Anak Tangga =-.

    Nah…. polisinya tidak jadi memberikan “surat cinta” itu karena Joyce atau karena kamu hahahaa
    EM

    Balas
  3. Chandra

    Wah mba, sekitar 4 tahun lalu, dia beberapa kali kena tilang, salah parkir dan speeding, speedingnya masih kebawa-bawa gaya nyetir di indo, tanpa terasa ngebut. Berenti kena tilang setelah aku sering cerewet kalo disupirin dia, bentar2 aku liat speedometer, trus bilang “jangan ngebut..” ampe dia gemes, abisnya berkali2 tilang kan tekor, kurang lebih dendanya sama ma di Tokyo. Sejak itu ga pernah kena tilang lagi, dia jadi lebih awas kalo nyetir, syukurlah…hehe…ada gunanya juga istri kadang-kadang cerewet..hehe..

    Balas
  4. vizon

    what?? sejuta limaratus ribu rupiah untuk denda salah parkir? ouw…

    kalau itu diterapkan di indonesia, bakal jadi berita bagus buat polisi 😉 dan berita buruk buat rakyat 🙁
    lha wong dg 20 ribu saja sudah membuat megap2…. hehe…
    .-= vizon´s last blog ..ayah =-.

    Balas
  5. Riris E

    Seru sekali! Aku jadi ingat, anakku yang kecil vaksin polionya kurang sekali lagi..hihihi…
    JAdi makin kagum dengan kedisiplinan yang diterapkan di Jepang.Bahkan untuk SIM pun ada point2 segala ya? Kira-kira kapan ya hal itu bisa menular ke Indonesia?
    .-= Riris E´s last blog ..Presiden dan Lilin-Lilin Natal =-.

    Balas
  6. mangkum

    Wohohoh… Rp1.5 juta! Ga salah tuh? Mahal sangat!
    Hm… Jepang bukan negara denda kan Mba ya? Kalau iya, mesti belajar dulu sebelum jalan2 ke sana… 😀 (ngelamun, kapan ya gw ada di Jepang…?)
    .-= mangkum´s last blog ..Gelar Jepang UI 2009 =-.

    Balas
  7. Tuti Nonka

    Saya tertarik bunga di fotonya Mbak, cantik banget. Angle pengambilan fotonya juga sip : ada bunga, ada Riku yang naik sepeda sambil noleh. Tapi jalannya kok sepi sangat ya?

    Buat Mr. gen yang kena tilang, gak bisa pakai cara saya menggertak polantas ya, bilang : “Bapak tahu nggak, ini mobil siapa?” qiqiqi … 😀 Jepun gitu loh, kok main gertak polisi. Walah, mana bisa!
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Pendadaran … Aduh! =-.

    Balas
  8. Joko Setiawan

    HHmm…Tapi Riku sudah baikan kan Mbak Yawh….

    Wah mahal amat yawh, 15ribu Yen…Hhm,,mau dech dikasih uang segitu …

    Yach, beginilah di Indo Mbak, belum bisa membuat kemajuan apa2 selain Korupsinya yang selalu mendapatkan ranking atas….

    Hhmm…maen ke BLOG saya ya Mbak… 🙂

    Salam hangat selalu dari Bocahbancar……
    .-= Joko Setiawan´s last blog ..NIHONGO NO BENKYOU SHIMASHOU =-.

    Balas
  9. suryaden

    edan mahalnya…, tapi itu komentar fotonya kai mbok jangan pake kata iri dong…, pengin atau penasaran, besok kalo kai gede bisa-bisa ketawa ngakak.. kayak saya… 😆
    .-= suryaden´s last blog ..Dream =-.

    Balas
  10. mascayo

    Setiap hari senin saya lesu .. masih terasa nikmatnya hari minggu 🙂
    Jadi pusingnya Riku sebenarnya kenapa Bu? perlu diinvestigasi lebih lanjut nih, kenapa riku suka ke rumah sakit. Kalau Zia memang ada maunya kalau ke rumah sakit … ada perosotan .. 🙂
    satu setengah juta? …wah …makiin susah berantas korupsi hehehe
    .-= mascayo´s last blog ..Siapa nyana dapat rejeki di pagi buta? =-.

    Balas
  11. Daffa

    Opaaaa…. peda dik Kai agus, Affa au peda agus uga pa!…
    ( opa, sepeda dik Kai bagus, Daffa mau sepeda bagus juga pa )…
    ssssseeiiiit, malu donk Daffa, sekali-sakali namu ke rumah Kai kok minta sepeda, ntar bilang mami papi ya!… yuk kita pulang ntar dik Kai marah teriak-teriak di sini….
    hihiiii… ngayal, yang ngayal Daffa apa Opa ya?

    pamit ya Nte Imel, daagg… muaaah.
    .-= Daffa´s last blog ..mat bobok nyik!… =-.

    Balas
  12. Agung Mojosari

    Gomen ne, lama gak kesini…. mampir ya bund.. ^_^
    .-= Agung Mojosari´s last blog ..New Look, New Theme, Hope for New Spirit =-.

    Balas
  13. olvy

    wah berarti aku haku masih kalah ma Riku yaa..aku sama sekalii ga berani disuntik 🙁
    .-= olvy´s last blog ..after 10 years… =-.

    Balas
  14. Eka Situmorang-Sir

    hhehehe mbak EM, postingannya seru.
    Jauuuh ya naik sepeda :)20 menit ajah.

    Tadi ketawa ngakak pas baca Riku nanya2 kapan ke RS lagi
    hahahahha

    dulu aku paling takut we ke RS, ini malah nantangin hehehehe

    tapi KAI tetep favoritku, hayo kai jgn ngempeng pake tangan, ntar gede mesti pake kawat gigi lho 🙂
    .-= Eka Situmorang – Sir´s last blog ..pertemuan PERTAMA =-.

    Balas
  15. Yoga

    Lumayan banget kalo sampai kena denda ya.. hmmm dengan uang segitu , aku lebih pilih buat beli buku atau jalan-jalan.

    Rasanya dimana-mana kalau punishment-nya dirupakan uang, orang lebih gapang diatur. Dulu, waktu masih “pegang” proyek konstruksi, aku sebel banget sama yang namanya pelanggaran SHE. Bayangin mbak, ada yang pasang baut di atas rangka baja, di ketinggian 10 meter tanpa pakai pengaman apa pun, sepatu kerja juga nggak, persis monyet. Atau, helm proyeknya dipakai kipas-kipas, pas lagi berdiri ditengah-tengah site yang lagi sibuk gak keruan, bayangin kalo misalnya tiba-tiba ada hammer yang jatuh dari atas terus nimpa kepala orang itu? Peringatan ke kontraktor dan konsultan pengawas bukannya gak digubris, mereka sendiri bingung bagaimana mengatur pekerja proyek yang mendadak jadi superman semua itu. Akhirnya diputuskan untuk membuat denda dalam bentuk rupiah. Dan dalam safey box berikutnya, pelanggaran langsung jadi 0%, padahal dihitung-hitung dendanya sebetulnya gak seberapa, dibanding denda di sebuah lokasi pertambangan yang pernah kukunjungi. Disitu, ketahuan buka helm di tengah proyek, dendanya kalau dirupiahkan 5juta. Kalau pelanggaran mencapai tiga kali, tiada ampun, langsung dipulangkan, keluar dari site dan kontraktor yang bersangkutan bakal gak dipakai dalam jangka waktu tertentu.
    .-= Yoga´s last blog ..Enak dan Enak Sekali =-.

    Balas
  16. edratna

    Saya tertarik foto Riku naik sepeda dijalan yang banyak bunga dikiri nya…pasti menarik sekali. Apakah memang jalannya sesepi itu, atau itu bukan jalan?

    Imel, andai di Indonesia bisa disiplin dan bayar tilang mahal, pasti orang akan berhati-hati agar tak terkena tilang
    .-= edratna´s last blog ..Duhh…Bandung kok makin macet aja =-.

    Balas
  17. Clara Croft

    Saya juga pikir begitu Mba… bayangkan, ada berapa juta yang melanggar peraturan lalu lintas setiap minggunya, sayang polisinya ga berinisiatif yang sama sih, malah sibuk memperkaya diri sendiri :p

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *