Surat Kabar untuk Anak SD

Kapan Anda mulai membaca surat kabar? Saya sendiri sudah mulai membaca surat kabar sejak saya mulai bisa membaca. Karena dulu kami tidak mempunyai bacaan yang cocok untuk anak-anak. Paling-paling membeli majalah Bobo dan Kawanku. Baru setelah SD tahun-tahun akhir (1980-an), kami sering pergi ke pameran IKAPI untuk memborong buku cerita anak-anak. Saya ingat suatu kali kami pergi ke pameran buku dan membeli 20-an buku …yang saya lalap dalam satu hari.
Sampai mama bilang, “Mbok yo kalo baca di eman-eman, satu hari satu biar ada bacaan tiap hari kan?”.
Tapi tidak oleh papa, yang berkata, “Biar saja mumpung mau baca. Kalau sudah habis ya bisa diulang baca lagi berkali-kali kan?. Dan memang itu yang kulakukan.

Kembali ke surat kabar, memang karena saya “kekurangan” bacaan, jadi terpaksa  membaca surat kabar juga. Hingga suatu hari saya menemukan kata “diperkosa” tertulis besar-besar sebagai judul di halaman tengah.
“Mama? Apa artinya diperkosa?”
“Kamu baca di mana? Koran ya? sudah tidak usah baca koran!”
Baru setelah saya cari artinya di kamus W.J.S. Poerwadarminta, saya menemukan arti “dipaksa”. Hmmm kenapa mama marah ya?

Memang surat kabar adalah konsumsi manusia dewasa. Di Indonesia, rasanya aneh juga jika ada anak-anak yang hobinya membaca surat kabar, atau menonton dunia dalam berita. Padahal di Jepang, banyak ujian masuk sekolah SMP/SMA ternama yang mengambil bahan dari surat kabar. Karena itu murid-murid yang akan juken 受験(mengikuti ujian masuk) wajib rajin membaca surat kabar dan berita TV.

Surat kabar juga merupakan “ujian bahasa” karena untuk membaca  surat kabar bahasa Jepang, Anda harus tahu banyak kanji. Tidak cukup hanya kanji yang diujikan di JLPT level 4 atau 3.  Di surat kabar umum, hanya kanji yang amat jarang dipakai saja yang memakai furigana (tulisan keterangan cara baca dalan hiragana) .Jadi untuk bisa mengerti satu artikel dalam surat kabar diperlukan pengetahuan kanji yang tinggi.

Kami sudah lama tidak berlangganan surat kabar. Dulu sebelum Riku lahir kami pernah berlangganan harian Asahi (Asahi Shimbun), tapi kami hentikan dengan kelahiran Riku. Karena sering kali surat kabar tersebut masih dalam keadaan terlipat masuk ke dalam tempat surat kabar bekas. Mubazir. Tidak disentuh. Karena Gen tidak ada waktu untuk membca di pagi hari, dan saya sendiri…. buat apa membaca berita dalam bahasa Jepang kalau ada beritanya di televisi, atau bisa membacanya di internet?

Padahal berlangganan surat kabar juga tidak terlalu mahal juga sih. Apalagi jika berlangganan surat kabar, di selipkan juga banyak pamflet promosi dari toko/departemen store dll. Kadang kala pamflet ini lebih banyak dan lebih tebal dari korannya sendiri. Ibu rumah tangga sangat menyukai pamflet-pamflet ini, karena bisa mengetahui ada obral “merek ini” di Toko Anu. Atau ikan hari ini murahnya di toko A, sedangkan sayur di toko B. Setelah mendapat informasi ini, pergilah ibu-ibu ini ke pasar untuk berbelanja. Tapi… saya tidak perlu, karena saya juga tidak suka belanja. Saya masih menganut paham belanja “seminggu sekali” yang saya bawa dari jakarta. Tapi ibu-ibu di sini belanja setiap hari! (Akhir-akhir ini saya juga begitu sih untuk sayuran dan ikan)

Nah, sejak Riku masuk SD, kami merasa perlu berlangganan surat kabar. Paling tidak membiasakan Riku untuk melihat huruf! Daripada dia menonton TV terus.  Saya sudah siap untuk menelepon agen koran Asahi lagi, waktu Gen memberitahukan soal “Surat Kabar Khusus Murid SD”. Katanya adiknya yang bekerja sebagai wartawan, mungkin lebih baik coba langganan surat kabar khusus ini. Juga dari penerbit surat kabar Asahi.

Jadi beberapa hari menjelang akhir Mei, saya membuka internet dan memesan langganan melalui online untuk diantarkan ke rumah mulai tanggal 1 Juni. Sayangnya uang langganan tetap pakai cara lama, menagih di pintu menjelang akhir bulan. Kadang heran juga kok tidak pakai cara yang lazim yaitu dipotong otomatis dari rekening bank. Tapi bisa dimaklumi juga, karena biasanya agen koran suka membagikan hadiah-hadih dari sponsor, misalnya sabun atau tiket gratis menonton base ball dan lain-lain. (Dulu bahkan saya pernah dapat gift card seharga 5000 yen… hanya supaya pelanggan jangan berhenti atau lari ke surat kabar lain)

seorang kakek berusia 84 tahun menanam daun semanggi (clover) berkelopak 56 lembar. Empat sudah biasa, bukan ajaib lagi.

Jadi mulai tanggal 1 Juni kemarin, datanglah surat kabar khusus murid SD. Besarnya persis surat kabar biasa, dengan 8 halaman (2 lembar A0 — eh bener ngga ya ukuran A0— setahuku A1 dilipat empat jadi A4 jadi mustinya bener hihihi). Yang pasti membedakan dengan surat kabar biasa yaitu setiap tulisan kanji ada tulisan hiragananya di sebelahnya. Topiknya juga terpilih, topik-topik yang menambah pengetahuan umum. Juga terdapat cerita komik dengan tokoh Ninja Rantarou.

Memang masih sulit untuk Riku, tapi lumayan menghibur saya yang sudah lama tidak memegang surat kabar. Dan setelah Riku pulang sekolah bisa membaca berdua, topik yang menarik sebelum bersama-sama menjemput Kai di penitipan. (Akhir-akhir ini saya mulai dipusingkan  dengan pertanyaan Riku seperti… “Mama kenapa burung hinggap di kabel listrik tidak kesetrum padahal manusia kalau pegang kabel listrik kan kesetrum”. Dan dia tanyanya pas saya lagi mengayuh sepeda. Hayooooo ada yang bisa jawab ngga? Jangan-jangan musti buka buku SD nya semua hihihihi)

Dengan kehadiran surat kabar di rumah, Riku juga ingin meniru membuat (menggambar) surat kabar sendiri…. yang akhirnya malah menjadi komik hihihi.

NB: Penjelasan sedikit mengenai huruf Jepang. Huruf Jepang ada 3 macam, yaitu hiragana, katakana dan kanji. Sekarang Riku sedang belajar hiragana sejumlah 50 buah, setelah itu katakana 50 buah. Hiragana dan katakana ini layaknya alfabet dalam tulisan kita. Aiueonya, tapi hiragana dipakai untuk umum dan katakana untuk nama atau kata-kata yang berasal dari bahasa asing. Kanji (karakter Cina) sendiri jumlah amat banyak. Satu kanji mewakili satu arti, dan perpaduan 2 kanji untuk arti yang lain. Jumlah kanji yang harus dikuasai murid SD sampai lulus kelas 6 sejumlah 1006 huruf.

38 gagasan untuk “Surat Kabar untuk Anak SD

  1. wita

    Wah korannya boleh juga tuh neechan buat aku yang juga baru belaajr kanji hehehe jadi bukan Riku aja nih yang belajar hehehhe aku juga

    wita´s last blog post..Daruma, Si Bundar Pembawa Keberuntungan

    Bener Wit, aku jadi punya ide untuk kirim koran bekas ini ke sekolah bahasa di Jakarta (atau ke kamu juga boleh deh hihihi)

    EM

    Balas
  2. imoe

    cieeee riku dapat langganan sendiri ya..hebat hebat…btw riku bisa bahasa jepang, indo dan english ya mabk ?

    imoe´s last blog post..…makhluk ajaib dalam gerbong…

    Inggris? ora iso…. dia lebih bisa bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris. Tapi lebih bisa bahasa Jepang daripada bahasa Indonesia hihihi

    EM

    Balas
  3. Oemar Bakrie

    Kalau dulu ada majalah untuk anak kecil namanya “si Kuncung” kayaknya satu-satunya sebelum muncul Bobo dsb. Sekarang makin banyak, tapi kalau yg formatnya koran apalagi harian kayaknya belum ada. Paling cuma jadi sisipan seminggu sekali di koran umum.

    Oemar Bakrie´s last blog post..Beli kucing dalam karung …

    Benar pak, saya sempat langganan Kuncung, tadi mau tulis kelupaan. Koran SD yang ini harian.
    EM

    Balas
  4. AFDHAL

    beruntunglah anak-anak sekarang, membaca dan dapat informasi dari mana saja dan kapanpun…
    nah diriku waktu kecil di jayapura, baca koran aja koran hari kemarin, liat TV masih TVRI, majalah aja telat berapa minggu gituh..

    AFDHAL´s last blog post..Ibu Prita

    Ya Dhal, aku bisa bayangkan bagaimana sulitnya di Jayapura. Waktu tahun 2000 an, di Makassar waktu Opa meninggal, saya terheran-heran tidak adanya bunga segar yang dijual, sehingga harus bawa dari Jakarta. Kondisi yang lumrah ada di Jakarta, jangan ditanya jika ke daerah. Kapan ya bisa seperti Jepang, sedangkan di pelosok gunung aja semua ada. Mimpi kaliii

    EM

    Balas
  5. krismariana

    di Indonesia ada jg koran anak-anak, namanya koran Berani kalau nggak salah. mnrtku sih lumayan…

    krismariana´s last blog post..

    Iya. saya juga tahu tentang koran Berani di Indonesia. Tapi kita tidak tahu standar apa yang dipakai untuk penguasaan bahasa. Bisa baca di websitenya http://www.berani.co.id/ dan saya cukup heran tentang pemilihan tema/topik bahasannya. Surat kabar SD ini terbut setiap hari dan juga memuat berita aktual yang penting-penting. Seperti flu babi dll.

    Biar bagaimanapun bahasa Jepang tulisan amatlah sulit untuk dikuasai, sehingga perlu ada standarnya. Sedangkan di Indonesia, siapa yang menetapkan standar sekian untuk level SD, standar sekian level SMP dll?

    EM

    Balas
  6. Oni

    ngomentari burung yg hinggap di kabel listrik.
    yg buat kita kesetrum itu sebenarnya adalah beda potensial. anggap saja tegangan di kabel listrik 1000 volt, bila kita satu tangan memegang kabel & kaki kita menginjak tanah, beda potensial yg kita rasakan adalah 1000 volt, karena tanah itu tegangannya 0. jd beda potensial = 1000 – 0 = 1000 volt.

    kalau tangan kita dua2nya memegang kabel listrik 1000 volt, dan kaki kita tdk menginjak tanah, maka beda potensial yg kita rasakan adalah 1000 – 1000 = 0 alias tdk kesetrum.

    makanya burung yg kedua kakinya hinggap di kabel listrik tdk kesetrum. tp ada yg berani nggak bergelantungan di kabel listrik tanpa kaki menyentuh tanah? teorinya sih nggak kesetrum. saya sih nggak berani hehehe.

    Oni´s last blog post..Membela Pendekatan Anarkistik Feyerabend untuk Mencapai Kebenaran

    Heheheh terima kasih penjelasannya. Dan memang itu yang saya jelaskan pada Riku hanya dengan bahasa yang lebih mudah. Terimakasih sudah bertandang ke mari.
    EM

    Balas
  7. marsudiyanto

    Semua tergantung pembiasaan.
    Kalau masyarakatnya sudah gemar baca, mau diterbitkan koran SD, koran remaja atau koran biasa ya pasti laku dan terbaca.
    Anak SD di Indonesia kebanyakan kagak baca (untuk SD Desa) atau sukanya baca komik dan tabloid remaja / majalah game (untuk SD kota).

    marsudiyanto´s last blog post..Alexa, Perempuankah Dia??

    Balas
  8. Yoga

    Mbak Imel, aku suka dengan tulisan-tulisan seperti ini. Inspiring. Mestinya anggota DPR dan eksekutif tak perlu study banding ke LN kalau tak benar-benar strategic urusannya. Cukup dengan membuka internet, browsing dengan fasilitas koneksi internet unlimited ke situs-situs seperti TE ini, pasti biayanya jauh lebih murah.

    Koran yang betul-betul khusus untuk anak, entah ya ada atau tidak di Indonesia. Tapi tiap minggu kompas, menyediakan beberapa lembar halaman khusus untuk anak-anak SD. Mereka juga diberi kesempatan untuk mengisi, begitu juga dengan beberapa harian. Tapi sifatnya masih suplemen.

    Btw… hiragananya… ajari aku ya mbak. 🙂

    Thanks.

    Yoga´s last blog post..Waktunya Beraksi!

    sip sip hiragana… Riku juga bisa ngajarin hahahha
    EM

    Balas
  9. ajunkwees

    wahh…ternyata jamannya Mbak sudah ada majalah bobo ya’?! hihi

    btw kalo anak lulus SD harus bisa 1000 kanji, jadi jumlah huruf kanji semuanya brapa ya???

    = sekarang se lebih enak buka detik.com…berita update 5 menit sekali== 😀

    ajunkwees´s last blog post..Tugas untuk Diet

    Tahu ngga majalah Bobo itu berasal dari majalah anak-anak berbahasa Belanda dengan nama yang sama BOBO. coba klik aja websitenya hehhehe. Jadi bisa dibilang itu majalah terjemahan. Mungkin ada yang lebih tahu sejarahnya, tapi setahu saya memang asalnya dari bahasa Belanda. Sama seperti sepatu nasional kita BATA. itu bukan asli Indonesia loh. (Kayaknya aku sudah pernah tulis dimana ya? gitu tuh kalo punya terlalu banyak blog hihihi)

    Menurut kabar Kanji di Bahasa Jepang ada sekitar 50.000 huruf. sedangkan dalam bahasa Cina ada 200.000 huruf. Tentu saja itu semua termasuk kanji-kanji yang jarang dipakai. Untuk sehari-hari di Jepang, dan jika sudah lulus ujian kemampuan bahasa Jepang level 1 dikatakan ada 2000 kanji “umum” dan 10.000 kata (/paduan kanji)

    EM

    Balas
  10. Muzda

    Koran yaa ?
    Dulu sih baca tiap hari, sekarang udah stop langganan. Lha bener, ada internet dan tv. Paling juga dulu koran dibaca pas di bagian lowongan aja, hehee

    Tapi aku dulu kecilannya juga gitu, Mb’. Di rumah harus sedia bacaan, soalnya kalo kurang, aku bisa baca koran, masih oke sih. Masalahnya kalo aku udah baca majalah or buku orang besar. Haduh,, Mama jadi protes-protes ke Bapak. Hahaa.. jadi geli inget itu.

    Muzda´s last blog post..Mengenang dengan Tertawa

    Ups… buku orang besar itu seperti apa? Anny Arrow? atau Nick Carter? hihihi (mana ada ya di jaman kamu 😉 )

    Aku pernah tergila-gila dengan Alistair MacLean dengan novel spy i.e. Guns of Navarone nya di kelas 6 SD!

    EM

    Balas
  11. suryaden

    kenapa ya kalo berlangganan saya malah suka bosen, gaya bahasanya biasanya monoton sih ya…

    suryaden´s last blog post..it can happen

    Iya bener mas… kadang memang terasa monoton. Tapi kalau di Jepang mah aku ngga sempat merasa monoton, banyak banget isinya jeh
    EM

    Balas
  12. broneo

    aku cukup beruntung punya beberapa bacaan waktu kecil. ada pustaka dasar, ada cerita-cerita untuk anak SD (untungnya punya Bapak penjual barang bekas he.he.. sering dapat buku bekas yg lumayan)
    trus sempat berlangganan bobo & ananda. Juga ada kompas & intisari.
    Bapak sih suka baca, so banyak banget bacaan…

    salut tuh sama asahi shimbun, yg membuat bacaan khusus anak SD. marketernya jeli melihat peluang, dan hasilnya sangat bermanfaat.
    salut!!!!

    Ingat Pamannya si Jupe dari Lima Sekawan yang punya junkyard… pasti dulu kamu bisa menemukan “harta” terpendam ya…
    **membayangkan**

    Ya, selain koran khusus murid SD ada juga koran khusus SMP. Entah kenapa saya memang suka Asahi Shimbun. Grup Asahi deh…. hehhee saya pernah ngajar di sekolah bahasa asing Asahi dan oh ya…pernah masuk koran asahi juga ;)) untuk kolom “Person”… Ada di page logbook tuh 🙂

    EM

    Balas
  13. D Laraswati H

    Koran? waktu kecil dulu ya Kompas, dan yg aku cari kartunnya Om Pasikom atau Panji Koming..agak gede dikit, aku seneng ngisi TTS, walau ga pernah smp selesai dan ga pernah dikirim, hny iseng aja ngasah otak…skarang, baca koran ya cm scanning and skimming aja, kecuali ada yg seru bgt, hehe..

    Waktu kecil, aku langganan majalah Bobo, ayahku langganan di kantor, datang setiap kamis. Jadi kalau ayah pulang kantor, aku yang duluan menyambut, terima tasnya, bawa ke ruang kerjanya, trus ambil deh majalah Bobo ya (berani ya ambil sendiri, hehe). Aku ingat kalau dah baca majalah Bobo, aku duduk sendirian, ga ada yang ganggu (adik2 belum bangun dari tidur siang), seru deh menikmati bacaan baru. Aku juga langganan majalah Ananda, Kawanku, dan Kuncung (bergantian).

    Sekarang, aku belum lihat koran Indonesia buat anak2, tapi kalau majalah cukup banyak yang bagus, diantaranya Mombi utk anak balita. Sedangkan untuk remaja, wah sekarang sudah lebih menjadi majalah yg sangat konsumtif, terlalu banyak iklan, menurut aku, kurang mendidik, karena anak-anak menjadi glamor…mungkin lebih bersifat hiburan saja.

    Yuuk…terus semangat buat Riku, sdh pintar baca yaa?

    DL

    D Laraswati H´s last blog post..Paratur ni Parhundulon

    Balas
  14. DV

    Ah, tulisan menarik, Imel.
    Aku sendiri membaca koran sejak SD kelas 4 kira-kira.
    Aku ingat betul waktu itu aku dipaksa Papa untuk mbaca koran karena pada kenyataannya ada seorang guru yang soal-soal ulangannya banyak dimasukkan dari soalan terbaru yang ada di koran 🙂

    Aih Riku bikin koran sendiri?
    Wah perlu diteruskan tuh sapa tau bisa jadi kayak Om DM yang sejak SMP rajin bikin cerbung di Majalah Dinding sekolahnya 🙂

    DV´s last blog post..Apa Kau Pikir Aku Kangen Indonesia?

    Hmmm ikutin om Danny ya? Ntar aku bilangin Riku deh.
    EM

    Balas
  15. Ade

    Waktu kecil, aku malah ga suka baca koran, soalnya bahasanya ga menarik hehehehehe.. lebih senengan Bobo. Klo pas hari terbitnya Bobo, kita dah siap2 di depan pintu nungguin Mama pulang, n abis itu rebutan pengen baca duluan 😀

    Ade´s last blog post..Do it my way

    Balas
  16. depz

    jadi inget masa kecilku
    belajar mengeja lebih banyak dari koran dari pada buku
    😀
    sayang di indo ga ada koran harian buat anak-anak ya
    tapi kalaupun ada, kayaknya ga akan “menjual”
    apa karna budaya membaca ya?
    hmmm

    depz´s last blog post..Two hands

    Balas
  17. vizon

    sedari kecil aku juga suka sama bobo, kawanku, si kuncung dan tomtom. baca koran mulai tergila2 sejak aku kelas V. itu bukan karena papa berlangganan koran, tapi gara2 kami beternak ayam… aih, kayaknya ini bakal panjang ceritanya. aha! jadi punya ide bikin postingan, hehehe… 😀

    sekarang anak2ku juga pada suka baca koran, terutama koran olahraga. ajib lagi suka2nya dg sepakbola, sehingga koran “bola” itu selalu dinantinya setiap minggu… di indonesia sebetulnya ada koran untuk anak2, tapi terbitnya selalu nyempil dg koran umum, dan biasanya setiap hari minggu.

    vizon´s last blog post..bukan cinta biasa

    Balas
  18. 1nd1r4

    Kalau koran SD nggak ada pas jamanku. Baru ada koran khusus anak SMP, trus pas SMA jadi tabloid gituh. Beritanya seputar anak sekolah di Denpasar.

    Bagus juga mbak kalau anak2 dibiasakan membaca koran, tapi kalau bukan untuk seusia mereka ada baiknya di dampingin ortu, bukan begitu mbak?

    1nd1r4´s last blog post..You can feel it…

    Balas
  19. hatmi

    bu…salam hangat dulu.
    semoga tulisan ini menjadi inspirasi agar kita lebih memperhatikan kualitas bacaan yang pas untuk anak-anak kita.

    bu…ada tips gak buat merawat bayi??

    hatmi´s last blog post..CINTA ITU LUKA

    Balas
  20. cindy

    Aku hampir selalu iri (yang positif) kalau membaca postingan mbak Emi yang berbau pendidikan,fasilitas sekolah, buku,kegiatan membaca,stationary dan anime di jepang.Aku ingat kecil2 dulu suka maksa baca/melihat2 komik jepang walau nggak ngerti bahasanya tapi seneng liat gambarnya dan kalau bisa punya stationary Sanrio, biar cuma penghapus, sudah seneng…banget!
    Salut buat Riku yang sudah bisa buat koran kecilnya, bakat mamanya memang nggak jatuh kemana-mana. 🙂

    cindy´s last blog post..You Are What You Do

    Sanrio ya mbak… musti ke Puroland tuh… Istananya Sanrio
    aku inget dulu suka dengan Little twin stars sama MyMelody
    EM

    Balas
  21. achoey

    Bu, saya jadi inget majalah Bobo
    Bacaan daya waktu kecil ya kayak gitu semua
    DOnal Duck, Mieckey Mouse adalah tokoh2 yang lekat dalam benak

    Tapi kalo saya dikasih majalah dengan hurup kanji
    Ampuuun, saya nyerah 😀

    Kalo banyak gambarnya kan bisa nebak-nebak Aa…
    EM

    Balas
  22. whita kutsuki

    wah baru denger mba ada koran untuk anak SD,,kayak nya cocok buat aku yg baru mulai belajar kanji nih,,hehehe

    3 bulan kemaren aku juga langganan ASA,,tapi berhenti,habis pamflet nya banyaaaaaaaakk bener yg ga berarti (kecuali iklan スーパーnya bikin ngiler,,hahaha,,). oh ibu2 jepang tiap hari yah mba ke supa nya,kalo deket sih enak yah,tapi kalo mesti naik densha mottanai juga ne,,(hahhaha..perhitungan banget yahhh..)apalagi kl punya balita..uhhhh..

    Waktu orang yang biasa nagih uang bulanan shimbun datang,dia nawarin untk encho lagi atau tidak,maksa banget sampai datang lagi-datang lagi,terakhir dia tawarkan hadiah tiket (tiket apa saya lupa..),saya tetap tidak mau,karna suami bilang tidak usah encho.
    Eh setelah saya kasih tau suami dapat hadiah tiket kalo encho,dia baru bilang sebenarnya tiap bulan bisa minta hadiah macam2 dari mereka..(saya bilang aja,kenapa tdk bilang dari kemaren…eh dia bilang “saya juga baru tau..” loh??!!)

    Kalo tdk langganan itu koran , ga tau juga yah kalo ada sale2..heheheh.

    by the way,langganan koran SD nya harga nya sama ga mba dengan koran biasa..?

    hehhehe aku paling sebel sama salesnya koran YS… kayak gengster, shitsukoi banget. Coba aja kalo mau lihat di homepagenya http://www.asagaku.com/. Hraga langganannya kalo ngga salah sih sekitar 1750 -an (ngga sampe 2000 yen kok) tadi aku cari-cari belum ketemu info langganannya. Minta your husband aja cariin.
    Soal Sale? wah aku ngga deh buang duit untuk sale. Ngga dipake ini hihihi.
    (Aku tuh bisa diitung dengan jari loh ke dept storenya. biasanya untuk beli kado aja)

    EM

    Balas
  23. Lala

    Sepertinya, Bobo emang majalah terjemahan, Sis. Sama seperti donald bebek. Kedua majalah itu bacaanku pas kecil… eh, sama majalah Ananda, deng.

    Sampai sekarang aku jarang baca koran.
    Enakan buka internet atau lihat televisi… Lebih up to date, deh, kayaknya… Karena koran kan berita yang kemarin… 🙂

    Lala´s last blog post..Perahu yang Berlayar

    Balas
  24. whita kutsuki

    thank’s mba buat info nya,,

    Maksudnya sale supa mba,,hehe,,abis tuh bahan2 mahal bener yah,,ufff..!? Taktik nya sekarang kalo belanja tiap sore,pasti kan ada potongan harga,,hahha
    Tapi dasarnya nih mata ga tahan,kalo udah di supa ada aja yg dibeli selain daftar,,

    Iyah emang shitsukoi banget mereka,apalagi waktu pertaman kali nawarin berlangganan,,onegaishimasu nya berulang2,suami ku yg ada ga bisa nolak,,

    Balas
  25. edratna

    Majalah pertamaku namanya si Kuncung….wahh sampai ditunggu datangnya.
    Anak sekarang lebih mudah mendapatkan informasi, namun orangtua nya harus menyediakan waktu.

    Gara-gara anakku suka tanya aneh2, dan saya kawatir membaca sebelum waktunya, saya menghentikan langganan Tempo (anakku masih SD). Ternyata oleh psikolog saya malah disarankan untuk tetap berlangganan, dan biarkan anak baca di rumah dan mau bertanya pada orangtuanya, daripada anak mendapat jawaban yang kurang pas dari orang lain.

    edratna´s last blog post..Apa yang dapat dipelajari dari kasus Prita?

    Balas
  26. Tuti Nonka

    Sejak saya kecil, di rumah selalu banyak bacaan, padahal kami nggak pernah beli buku karena gaji ayah yang cuma guru sudah habis untuk menghidupi kami tujuh anaknya (jadi buku-buku itu dari mana ya … heran juga saya … ). Seumur hidup saya selalu berlangganan koran, meskipun belum tentu habis dibaca. Sekarang ini penerbit koran urik (curang) karena koran diantar dalam halaman-halaman lepas yang belum berurutan. Jadilah setiap pagi saya mengurutkan halaman dan menyeteplesnya. Nah, sambil menyusun halaman itu, bisa sekalian melihat judul-judul berita sekilas. Kalau ada yang menarik langsung dibaca.

    Budaya membaca ini adalah tahap yang tak boleh terlewatkan dalam perkembangan anak. Membaca mengembangkan ketrampilan analisis, juga merangsang imajinasi. Kalau nonton teve, kita disuguhi informasi yang sudah ‘jadi’, sehingga kita nggak sempat lagi berpikir.

    Koran juga tidak cuma berisi berita kemarin (seperti kata Lala), tapi banyak juga artikel-artikel bagus yang tidak mungkin kita peroleh dari televisi. Jadi, baca koran deh La! 😀

    Tuti Nonka´s last blog post..Kesedihan, Vitamin Jiwa

    Balas
  27. Didien®

    Dulu waktu kecil saya gemar sekali membaca..tp gede² kuq jd males yah bun…? 🙂

    Didien®´s last blog post..IBSN : Update Softwere HP Sony Ericsson

    Balas
  28. Hery Azwan

    Kira2 kalau di Indonesia laku nggak ya koran untuk anak SD ini? Soalnya, tidak banyak anak SD yang senang baca koran. Aku dulu membaca semua koran yang dibawa ayah dari kantor. Saat tidak tinggal bersama ayah lagi di Medan aku suka baca koran di tukang pangkas rambut dan warung es mambo. Biasanya setelah pulang sekolah atau pas istirahat. Ini terjadi sekitar kelas 4-6 SD.

    Hery Azwan´s last blog post..Bara

    Balas
  29. usama bin talib

    Saya mempunyai seorang anak Juli bulan depan genap berumur 7 tahun, sudah setahun ini belajar bahasa jepang, selain hiragana dan katakana dia juga mampu menghafal lebi dari 400 huruf kanji.
    Mbak,saya juga mau kalau dikirimi koran tersebut.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *