Arsip Bulanan: Juni 2009

Belajar terus sampai mati

Akhir-akhir ini aku sering mengisi kuis di FB, dan salah satunya menghasilkan pernyataan seperti ini:

Your dream is to live a life where you are constantly learning and evolving.
You believe that the world, people, and life are incredibly fascinating.
You want to use your mind as much as possible. You want to dare yourself to do what’s difficult. You’d like to expand your worldview and maybe even solve some of the world’s problems.

Belum lagi ada kuis yang mengatakan orang yang lahir di bulan Januari memang suka mengajar dan diajar.  OK memang kita tidak usah percaya hasil ramalan/kuis sepenuhnya, tapi memang aku berusaha untuk terus belajar tentang apa saja rather than specialize in one subject. Aku ingin tahu semua! Dan pemikiran ini sebetulnya tidak cocok untuk orang Jepang yang “Otaku” menguasai bidang keahliannya saja sedalam-dalamnya, bukan all round.

Tetapi merupakan kenyataan juga bahwa jika kita sudah capek, atau sudah mencapai kondisi tertentu, stagnan atau berada dalam comfort zone, zona aman kita merasa tidak perlu lagi menambah pengetahuan dan seiring juga dengan kemampuan otak yang melambat. Padahal otak yang tidak dipakai, bisa berkarat, jamuran, dan akan menjadikan kita pikun!

“Saya tetap belajar bahasa Indonesia seminggu sekali supaya tidak pikun!” demikian jawab Bapak Watanabe, 94 tahun, mantan muridku. Dia, dan hanya dia sajalah yang selalu memenuhi pikiranku dan menyemangati aku untuk belajar dan belajar terus …. sampai mati.

Lelaki kelahiran delapan belas April 1915, siang ini duduk di hadapanku sambil makan siang bersama. Oh Tuhan,…. aku harus bersusah payah menahan haruku, dan jangan menangis di hadapan dia.

Kemarin aku telepon dia, dan basa-basi bertanya kabarnya… dan dia berkata, “Sensei, kapan yuk kita minum kopi bersama”.
Lalu aku berkata, “Watanabe san, sebenarnya saya telepon untuk menanyakan apakah besok ada waktu untuk bertemu? Besok saya ada urusan di KBRI, kalau bisa sekitar jam 11 bertemu di Stasiun Meguro bagaimana?
“Tentu saya akan pergi ke sana. Sampai jam 11 besok”.

Jam 11 kurang lima aku sampai di stasiun, setelah tergesa-gesa setengah berlari dari KBRI menuju stasiun. Jangan sampai aku membiarkan Watanabe san menunggu. Dan persis pukul 11, aku melihat ke arah terminal bis, di situ bapak tua itu menunggu sambil celingak celinguk. Aku berjalan ke arahnya, sambil tersenyum gembira.

“Sensei… saya senang sekali bertemu sensei”… dia menjabat tanganku… dan memelukku. Aduh …aku benar-benar terharu dan ingin menangis. Laki-laki Jepang mana yang mau memeluk wanita di depan umum? Meskipun istrinya.  Aku merasakan kerinduannya yang besar untuk bertemu denganku. Ahhh Bapak… aku merasa tersanjung… aku tahu kamu menghormati aku sebagai sensei, tapi aku lebih menghormati bapak bukan sebagai murid. Entah harus kukatakan sebagai apa, sebagai sesepuh yang mengingatkan terus… Hai manusia, Jangan kalah oleh umur!

Dia masih sehat. Matanya awas, telinganya tajam. Hanya sayang kakinya mulai lemah, meskipun dia tidak memakai tongkat. Dan aku salah waktu itu, terlambat menyadari, sehingga dia sempat “merosot terduduk” di atas tangga turun. Tidak jatuh, tapi tiba-tiba sudah terduduk di atas tangga. Untung aku langsung tangkap dia, kemudian membantunya berdiri. Sambil berjalan menuju lift ke lantai atas gedung stasiun, aku lihat dia mengisap jari tengahnya. Oh No… buku jari tengahnya berdarah! Terkelupas kulitnya. Aduh….

“Watanabe san saya cari plester dulu ya?”
“Tidak usah… biasa ini”
dan kita langsung ke lantai atas dan mencari restoran soba. Aku tahu pasti makanan yang paling cocok untuk dia hanya soba…. (Aku pernah berdosa besar padanya. Waktu aku masih mengajar dia, dia memberikan aku tiket makan di restoran soba dekat rumahku. Tapi aku tidak pakai sampai hangus. dan aku menyesal…)

Sambil memesan soba, aku tanya pada pelayan restoran apakah dia punya plester. Dan aku dapatkan plester dan aku pasangkan di jari tengahnya.


Lelaki berusia 94 tahun, bukan main-main … 6 tahun lagi dia 100 tahun!  Dan siang ini dia memenuhi undanganku makan siang bersama.  Kami bertemu terakhir 4 tahun yang lalu. Oh Tuhan…. aku harus bersusah payah menahan haruku, dan jangan menangis di hadapan dia. Karena…..

Ya, ternyata yang luka bukan hanya jari tengahnya. Kamu tahu, jika manusia sudah tinggal tulang berbalut kulit, maka kulit itu akan mudah mengelupas. Dan aku baru sadar ketika aku lihat bercak darah di mulut lengan kemeja putihnya. Ya dia berkemeja putih, berdasi dan berjas untuk bertemu dengan aku. Ternyata di lengan di bawah jam tangannya kulitnya terkelupas sepanjang 8 cm. Uhhhh tidak bisa dengan plester, itu harus diperban. Tapi dia berkata, “Tidak apa sensei, memang kalau sudah tua suka begini. Gampang jatuh! Tidak apa-apa. Nanti juga kering lukanya. ” Ingin aku memberikan saputanganku untuk membalut luka, tapi pasti kotor.
“Kalau ada saputangan….”
“Saya ada saputangan, tapi tidak apa-apa”

Aku sudah mulai sulit menelan makanan yang ada di hadapanku. Bukan… bukan aku takut darah atau luka, tapi aku tahu kenyataan, bahwa manusia yang renta mudah luka, mudah jatuh, mudah goyah…. dan sewaktu-waktu si renta itu tiba-tiba tidak ada lagi di hadapanku.

Aku berusaha bercakap-cakap yang ringan, sambil memperhatikan dia makan, jangan sampai tersedak. Jangan sampai dia emosi ingin menjawab, lalu makanan salah masuk. Aku selalu tunggu dia selesai mengunyah dulu baru aku ajak bercakap-cakap.

Dia adalah lulusan Tokyo Teikoku University. Elite, sangat elite di jamannya. Jurusannya? Ekonomi. Pasti dia cerdik pandai. Dan setelah lulus dia bekerja di perusahaan dagang Mitsui Bussan. Aku juga sering mengajar pegawai dari MB dulu, pegawai yang ditugaskan ke Indonesia. Namun Watanabe san ini tidak pernah mendapat kesempatan ditugaskan ke Indonesia. Malahan dia bertugas di Hamburg, Jerman selama 4 tahun. Karena pengalaman di Jerman ini, dia bisa berbahasa Jerman, dan anak lelaki yang sekarang tinggal bersamanya juga bisa berbahasa Jerman dan menjadi penerjemah.

Watanabe san sendiri tidak pernah punya hubungan dengan Indonesia. Hingga usianya yang ke 83, waktu dia berjalan-jalan di dekat sekolah Indonesia Tokyo. Dia mendengar bahasa Indonesia. Juga waktu dia mengajar bahasa Jepang sebagai volunter di Kelurahan Meguro, dia bertemu dengan orang Indonesia. Dia merasa bahasa Indonesia indah bunyinya. Sampai dia bertanya, dimana saya bisa belajar bahasa Indonesia? Kemudian sampailah dia di rumah seorang guru bahasa Indonesia yang mengajar di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo). Dan dia mendapat keterangan dari Pak Herlino Suleman (Pengarang “Pintu Tertutup Salju” ) ini, bahwa setiap hari Senin, Rabu dan Jumat ada pelajaran bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Kedutaan yang bisa diikuti oleh warga Jepang. Pak Herlino juga mengajar di KOI (Kursus Orientasi Indonesia), tapi Watanabe san masuk ke kelas pemula, yang gurunya bernama Imelda Coutrier. Dan dia mengakui, bahwa kalau bukan Imelda sensei, mungkin dia tidak akan belajar terus di KOI.

Ya aku tahu kehadiran bapak Watanabe ini di kelasku. Kelas yang sulit, karena waktu itu muridnya berjumlah 40 orang. Jaman itu bahasa Indonesia sedang berjaya, zaman keemasan. Semua kursus dipenuhi peserta, sampai membludak. Guru Bahasa Indonesia dicari-cari. Dan setiap hari Senin, Rabu dan Jumat aku mengajar di lobby SRIT, karena itu satu-satunya tempat yang bisa menampung 40 orang. Tanpa mike, aku harus menguasai 40 orang. Impossible. Tapi aku tahu awalnya 40 orang, setelah berjalan biasanya  akan berkurang. Akan ada murid-murid yang tidak tahan untuk belajar 3 kali seminggu. (setelah itu kami ubah jam belajar menjadi 2 kali seminggu dan akhirnya 1 kali seminggu). Benar saja setelah 6 kali, murid-murid tinggal 30 orang. Tapi Bapak Watanabe masih terus hadir dengan rajinnya. Sampai kelas atas dia sudah ikuti, dan begitu dia mengetahui bahwa aku mengajar kelas atas (kelas lanjutan) di sebuah Culture Center, Watanabe san berhenti belajar di KOI, dna belajar di Culture Center, di kelas saya. Di kelas itu, aku harus mengajar 3 lansia dari 9 murid yang ada. Bapak Watanabe 87 th, Bapak Fukuoka 85 th, dan Bapak Asaga 83 tahun. Kelas yang impresif (dan agak sulit)

Watanabe san masih terus belajar di Culture Center itu sampai sekarang. Meskipun aku sudah berhenti mengajar di sana sejak 5 tahun yang lalu. Hanya karena mendengar bahasa Indonesia yang indah… tanpa sekalipun pernah pergi ke Indonesia … bahkan ke Bali pun belum pernah. Tapi kecintaannya pada bahasa Indonesia dan ketekunannya memang patut mendapatkan penghargaan. Kalaupun aku punya hak untuk mencalonkan penerima Bintang Maha Putra atau penghargaan lainnya, ingin aku calonkan nama bapak Watanabe ini dalam nominasi. Yang pasti, semangatnya akan selalu aku patri dalam ingatanku.

“Seharusnya persatuan alumni KOI membuat acara reuni ya?” dia berkata. Terlihat dia ingin sekali hadir dalam acara-acara silaturahmi.
“Ya, seharusnya ada acara reuni ya. Tapi… ketua persatuan alumni (Bapak Fukuoka) sudah meninggal….” Ahhh suram sekali percakapan ini.
“OK nanti saya coba bicara dengan ibu Hikita, supaya kita mengadakan acara reuni.  Nanti saya kasih tahu hasilnya”
“Sensei juga kalau iseng, telpon saya, nanti kita bicara di telepon ya”
“Ya…. kalau tidak, saya akan coba kirim fax ya” Tapi aku tahu dia ingin ngobrol….
“Watanabe san juga hati-hati ya, jaga kesehatan dan hati-hati kalau mandi. Kamar mandi kan licin….”
“Iya… waktu itu juga teman saya ada yang meninggal di kamar mandi. Istrinya panggil-panggil, ternyata sudah tengkurap dalam bak” ….ahhh kenapa aku musti menyebutkan kamar mandi segala!!!!

Sambil berjalan ke tempat taxi….
“Kalau saya kebetulan ke Meguro lagi, nanti saya telpon dan mungkin bisa bertemu lagi ya…. ” Aku tahu ada perasaan itu…. di hati kami…. Mungkin kali ini adalah kali yang terakhir…

Kami berjabatan tangan lagi di depan taxi yang menanti…. dan berpelukan lagi. Tapi aku tahu pelukan ini agak lemah dibanding dengan yang tadi. Aku cuma bisa berdoa, Tuhan lindungi dia… lindungi dalam perjalanannya setiap hari Sabtu untuk belajar bahasa Indonesia, karena berarti dia akan naik kereta, dan jalan kaki sampai tempat kursus yang aku tahu jaraknya cukup jauh.

Aku bantu dia duduk di kursi belakang taxi dan berkata pada pak supir, “Yoroshiku onegaishimasu” (tolong perhatikan dia ya)

Dan aku membungkuk ke arahnya takzim dan melambaikan tangan…

Dan aku berbalik ke arah stasiun dan berusaha menahan tangis.

Dan sekarang aku bisa melepaskan tangisan yang kutahan tadi, sambil menuliskan posting ini.

Jika kamu bisa hidup sampai 94 tahun, masihkah kamu akan belajar… dan belajar…dan belajar terus?

Hormat, Doa dan Terima kasihku untuk Watanabe san.


Dan pagi ini (1 Juli) pukul 8:00 aku menerima telepon darinya, mengucapkan terima kasih untuk pertemuan kemarin (Orang Jepang selalu begitu, menghubungi kembali untuk berterima kasih, sebuah kebiasaan yang patut ditiru). Dia berkata, dia senang dan terkejut melihat aku yang katanya tambah cantik (hahhaha dan aku tambahkan …tambah gendut). Dan dia mengucapkan selamat beraktifitas, semoga bisa bertemu lagi…. Ya, aku masih berharap bisa bertemu lagi, sementara itu aku ingin menulis banyak tentang sejarah dan pertemuan-pertemuanku dengan orang Jepang yang menginspirasiku.

EM

 

NOTE:

Watanabe san sudah meninggal tgl 7 Maret 2012, dalam usia 96 (hampir 97 di bulan April),  karena pnumonia. Di RS dia tetap membaca buku bahasa Indonesia. Sayang aku tak dapat datang melayat, karena persis pulang dari Indonesia, sesudah menghadiri pemakaman mama yang meninggal tgl 23 Februari 2012. Rest in Peace Watanabe san. Hormatku selalu.

Dua kakek Jepang yang kutulis di sini semua seudah meninggal. Bapak Fukuoka adalah dokter di Manado selama pendudukan Jepang. Bapak Asaga bertugas di Aceh dan Medan, pernah bercerita bahwa dia menjalani operasi usus buntu dalam perahu, tentu tanpa obat bius 🙁 Bapak Asaga mendonorkan badannya untuk medis, sehingga tidak ada penguburan sampai 3 tahun lebih. Hormatku untuk ketiga bapak tua, yang begitu mencintai Indonesia. Salute

Terik dan pedas

Terik! panas! sambil mengusap keringat di dahi, aku mengumpat dalam hati. Ya karena saya memang harus keluar rumah, tidak bisa mendekam di dalam kamar ber-AC hari Jumat kemarin. Dan hari itu aku harus merasakan awal musim panas di Jepang tahun 2009. Maximum temperatur 32 derajat. beuh… dan suhu  akan naik terus sampai maximum 40 derajat di beberapa tempat di Jepang. Masalahnya terik dan panas saja tidak mengapa, yang lebih membuat sebal adalah “Sumuk” kelembaban yang benar-benar tak ada jalan keluarnya, meskipun sudah berlindung di balik UV-cut50, parasol,  sunglass, bahkan di bawah pohon.

Pagi pukul 4 matahari sudah menyembul nakal di balik tirai. Ya saya sudah bangun jam 4 pagi karena … Riku terbangun jam segitu. Akhir-akhir ini dia tidur cepat sekali, bahkan kadang jam 5 sore sudah tidur. Sambil mempersiapkan tas/PR nya Riku, tasnya Kai untuk ke penitipan, tas ku, sarapan pagi, cucian 2 kali dan menjemurnya…huh rasanya bangun jam 4 juga belum cukup untuk menyelesaikan morning chorus. Tentu saja dibarengi online di blog, YM dan FB (akhir-akhir ini saya jadi suka online di FB juga deh karena ternyata banyak saudara yang justru onlinenya di FB) dan saat itu mengetahui berita kematian legendaris Michael Jackson. Well aku menganggap aku bukan fans MJ, but terasa sedih dan sempat menitikkan airmata waktu mendengar lagu-lagunya kembali. hiks. May he rest in peace.

Setelah mengajar, jam 12-an aku langsung pulang ke rumah dan selama dalam perjalanan pulang di kereta bisa membaca buku hebat yang tertunda-tunda. Tinggal sedikit lagi! Waktu seperti ini yang aku dambakan. Aku selalu membaca di dalam kereta, tapi karena sekarang naik keretanya cuma seminggu sekali, buku yang tebal-tebal jadi sulit diselesaikan (dan kadang lebih enak tidur di kereta daripada baca buku).

Sesampai di Kichijoji, mulai berasa lapar dan ada dua pilihan makanan yaitu ramen (mie rebus) yang pedas di Kagetsu atau hot chickennya Colonel Sanders alias Kentucky. Hmmm memang kalau musim panas maunya makan pedas, tapi untuk ramen kayaknya terlalu panas deh hari ini. Akhirnya aku masu kentucky, makan sambil baca. Untung sempat melihat jam karena tidak terasa aku berada di situ  1 jam lebih. Pas buku yang kubaca mencapai puncaknya, tanggung dihentikan. Panas juga situasinya hehehe

Ngomong-ngomong soal musim panas di Jepang, sudah banyak aku ulas di postingan tahun lalu, tapi ada satu yang akan kubahas di sini yaitu soal pedas. Seperti kentucky, banyak restoran-restoran yang menyajikan menu khusus untuk musim panas, yaitu entah makanan itu pedas atau makanan itu dingin. Katanya justru kalau musim panas makan yang pedas-pedas bisa membangkitkan selera makan, sehingga daya tahun tubuh bisa terjaga.

Dari sebuah angket yang dilakukan 2 tahun yang lalu, diketahui beberapa jenis masakan yang populer untuk disantap orang Jepang di musim panas. Nomor satu memang tidak pedas, tetapi dingin yaitu

(1) Reimen ( Mie Dingin),
(2) Kimchi (acar sawi dari Korea),
(3)Tantan-men (mie panas dengan daging giling masak pedas),
(4)Mabo Tofu (Mun Tahu , tahu sutra dengan daging giling masak pedas),
(5)Chige nabe (Masakan korea, rebusan daging dan kimchi yang pedas),
(6)Curry India,
(7)Karashi Mentaiko (telur ikan pedas),
(8)Gekikara Curry (Kare super pedas),
(9) Thai Curry,
(10)Spaghetti Peperoncino (spagheti dengan bumbu bawang putih, olive oil dan cabe) ,
(11)Tandori Chicken (ayam panggang ala India),
(12)Chinjaorose (tumis daging dan paprika ala chinese),
(13) Curry Sup,
(14)Tom Yan Kung (masakan Thailand, sup dengan udang yang pedas kecut),
(15)Choriso (susis pedas),
(16)Hoiko-ro (masakan cina),
(17)Wasabi zuke (apasaja yang dicampur dengan wasabi),
(18)Tacos (Masakan mexico),
(19)Mie Taiwan.

(reimen, chinjaorosu, hoikoro, wasabizuke)

Nah yang saya ingin jelaskan di sini memang rasa pedas itu asalnya bisa dari pepper (lada) yang dipakai orang India, atau cabe seperti yang dipakai orang Korea, Thailand dan juga Indonesia, tapi orang Jepang juga sebetulnya mempunyai satu sumber rasa pedas yaitu wasabi. Jika Anda pernah makan sashimi, maka biasanya disediakan semacam paste hijau, yang jika Anda jilat sedikit terasa pedas, tapi bukan di mulut, rasa pedas itu baru terasa di hidung. dan… nyelekit! Mungkin perlu membiasakan sensasi seperti itu baru bisa menikmati wasabi. Jika Anda tidak suka rasa itu, katakan “wasabi nuki” pada itamae, pembuat sushi Anda.

Wasabi ini berasal dari akar tumbuhan berwarna hijau. Mungkin kalau mau membayangkan seperti  jahe tapi hijau, dan jika mau dipakai dalam keadaan fresh biasanya diparut baru dicampur dengan makanan atau kecap asin. Salah satu variasinya yang terdapat di dalam daftar di atas yaitu Wasabi zuke, yang saya sukai. Kalau dimakan mentah sebagai bumbu di sushi, saya bisa makan meskipun tidak bisa banyak-banyak. Varian wasabi yang mungkin saya belum pernah coba adalah Es Krim Wasabi. Dingin-dingin pedas…. hmmm gimana ya?

Oh_ya_K.O_dong

Hmmm mungkin merasa aneh dengan judul itu. Tapi mungkin Anda memang benar bisa KO (karena kenyang) jika menikmati OYAKODON, nama sebuah masakan di Jepang.

Oyako berarti orangtua dan anak, sedangkan don adalah semua makanan yang  ber-base nasi. Nasi ditaruh di dalam mangkuk dan ditutupi oleh lauk, disebut DON(buri), padahal don itu sebenarnya merujuk ke mangkuknya. Nah kenapa saya mengambil topik “Nasi orangtua-anak”? Sebetulnya karena saya merasa lucu saja akan penamaan oyako (orangtua anak) untuk makanan. Yang umum disebut dengan oyako don adalah nasi dengan lauk ayam (biasanya direbus dalam kaldu) lalu diatasnya diberi kocokan telur. Perpaduan harmonis orangtua dan anak, AYAM dan TELUR, panas-panas menyebabkan air liur menetes jika kita dalam keadaan lapar. Makanan yang sederhana sekali dan mudah membuatnya.

Resep:

Nasi 800 gram(untuk 4 orang dimasukkan dalam mangkuk)

ayam 200 gram

bawang bombay 1 butir

Kaldu 300 ml

Mirin 4 sdm

Sake utk masak 1 sdm

Kecap asin 3 sdm

Gula 1 sdm

Telur 4 butir dikocok seperti untuk telur dadar

cara membuat:

Rebus kaldu dan masukkan mirin, sake, kecap asin,gula sampai mendidih, kemudian masukan ayam yang sudah dipotong kecil-kecil. Beri irisan bawang bombay dan rebus sampai ayam matang. Masukkan kocokan telur tunggu kira-kira satu menit, lalu matikan api dan pindahkan ke dalam mangkuk nasi. Jika tidak suka telur yang masih mentah, maka biarkan di api lebih lama lagi. Tapi orang Jepang justru lebih suka jika telur masih setengah matang/mentah. Di atas nya bisa dihias dengan daun ketumbar atau atau kemangi untuk menambah wangi. Kalau di Jepang dipakai daun mitsuba, yang mungkin tidak ada di Indonesia.

perpaduan nasi + ayam + telur

perpaduan nasi + ayam + telur

Sebetulnya selain Oyakodon yang ayam dan telur, ada juga beberapa orang yang menyebutkan nasi dengan ikan salmon dan telur ikan salmon (ikura) juga sebagai oyako don (Salmon Ikura Don). Tapi yang pasti musti hati-hati makan “Nasi Orangtua Anak” ini karena…. kalau banyak-banyak bisa menggemukkan hihihi.

ikan salmon dan telurnya, perpaduan orangtua-anak yang lain

ikan salmon dan telurnya, perpaduan orangtua-anak yang lain

Memancing tidak harus di air

Mungkin kalau Donny akan bilang, bisa kok mel memancing upil aja kan buktinya ngga di air. Tapi kalau Pak EWA, pasti akan bersikukuh bahwa memancing harus di tambak (apalagi kalau bisa sambil ngenet). Tapi saya yang empunya kumis eh ebi-ebi yang siap dipancing menyatakan bahwa memang bisa memancing ebi dan teman-temannya tanpa harus di air.

Hari Jumat lalu, kerja kami dari Seksi Kegiatan Anak-anak SD nya Riku mencapai puncaknya. Hari itu pada jam pelajaran ke dua dan ke tiga (sekitar pukul 9:40-10:30 dan dilanjutkan sampai 11:30) diadakan LongShuuKai, semacam bazaar untuk anak-anak dengan menampilkan permainan-permainan. Ada rumah hantu, ada permainan golf, permainan lompat tali, othelo dll. Nah dari kami, ibu-ibu membuka permainan TSURI LAND, Fishing Land. Memancing macam-macam.

OK… aku mengaku bersalah. Tadinya aku sudah minta ijin tidak bisa datang ke acara ini. Dan semua teman-teman dari Seksi kami memakluminya. Makanya aku berusaha bantu terus sampai sebelum hari H, hari Kamisnya.  Tapi…. aku kok jadi sedih tidak bisa melihat “gong” nya kegiatan kami ini. Jadi malamnya aku kirim email ke murid yang cuma 4 orang itu dan memberikan tugas untuk diserahkan besoknya, karena aku pasti terlambat datang. (jangan ditiru ya hihihi). Tapi jam kedua nya pasti ada pelajaran, karena kelas yang ini jumlah muridnya sampai 40 orang.

Jadi pergi deh aku pagi hari sebelum ngajar, mampir ke acara bazaar ini dan membantu persiapan kolam (tanpa air) untuk ebi-chan tachi, juga mengambil foto-foto dokumentasi, persis sampai selesai jam kedua. Dan untung sempat juga memotret Riku yang sangat enjoy mengikuti permainan memancing origami dan magnet/strap dari lilin ini.

Kemudian saya sempat berpikir, kenapa permainan untuk anak-anak di Indonesia kayaknya kok itu-itu aja ya? (atau aku saja yang ngga tau variasi lain) Kayaknya ngga jauh dari lomba karung, pindahin kelereng pake sendok, makan kerupuk atau ????? . Padahal permainan memancing begini juga bagus ya. Pancingannya dibuat dari magnet, dan pada obyek yang akan dipancing tinggal dipasang clip atau sesuatu yang mengandung besi sehingga bisa menempel.  Kami sendiri menyiapkan 5 pancing dari magnet, terutama untuk anak-anak kelas 1-2 SD, sedangkan untuk kelas yang lebih tinggi, kami sediakan 5 pancing dari clip besar, yang berfungsi sebagai kailnya.

setiap anak dijatahi bisa memancing 2 origami dan 1 magnet/strap

Semua buatan ibu-ibu sendiri… memang repot tapi waktu kami melihat kegembiraan anak-anak ini, yang bahkan rela mengantri supaya bisa masuk ke dalam kelas (hanya bisa 10 orang di dalam kelas) dan ikut permainan memancing ini, keletihan kami (dan sakitnya jari tertusuk waktu buat kumis ebi hihihi) sirna. Yang ada hanya rasa bahagia dan puas bisa menyenangkan mereka. Dan satu lagi, dengan kegiatan ini pertemanan di antara anggota Seksi Kegiatan Anak-anak ini menjadi lebih erat. Hmmm kapan ah mau membuat “Fishing Land” untuk anak-anak di Indonesia.

Sssttt rahasia ya, aku pelit!

Jam 3 pagi aku terbangun karena Riku juga terbangun setelah hampir 12 jam tertidur. Mungkin pengaruh obat yang diminumnya, dia tidur enak sekali sejak jam 3 sore. Jadi aku temani dia makan, minum obat, dan sekarang tidur lagi. Cukup khawatir karena dia demam 37,9. Semoga besok tidak demam, karena aku ada tugas penting di PTA dari jam 8 pagi sampai jam 9 pagi.

Nah, sambil temani Riku tidur lagi, aku buka internet, masuk FB tidak ada yang online (jelas aja jam berapa mel?). Lalu aku iseng buka SNS berbahasa Jepang MIXI, yang jarang sekali aku masuki. Tapi di sini aku sering menemukan angket yang lucu-lucu. Ya, seperti yang aku tulis di judul, “Sssttt rahasia ya, aku pelit karena….”

Berdasarkan ranking terbanyak dilakukan orang, ada beberapa tindakan “pelit” yang malu untuk diberitahukan pada orang lain. Aku tuh pelitnya di sini nih…

  1. Pergi ke Toko/Restoran yang bisa memakai kupon discount. (wajarlah ini)
  2. Hampir semua baju hasil belian waktu SALE. (wah aku juga tuh! apa salahnya?)
  3. Membeli sayuran/daging/bahan mentah, sengaja waktu supermarket akan tutup sehingga dapat potongan harga banyak (Memang semua supermarket di Jepang memberlakukan sistem potongan harga sampai 70% pada bahan mentah yang tidak bisa disimpan lagi. Tapi aku malah sulit untuk belanja menjelang toko tutup. Kalau bisa sih mau aja)
  4. Tidak pernah membeli majalah, baca sambil berdiri di toko buku (kalau ini sih aku tidak pernah)
  5. Menghemat ongkos telepon dengan memakai internet (waaah ini mah gue banget… kalo emang bisa apa salahnya?)
  6. Memakai point hasil belanja untuk membeli barang (kalau ini agak susah menerangkannya karena mungkin tidak ada di Indonesia. Setiap membeli barang misal di toko elektronik biasanya akan mendapatkan point berapa persen dari harga barang. kemudian point ini bisa ditukarkan dengan uang, atau barang setara dengan jumlah point. Aku pernah bisa beli scanner dengan point yang ditabung)
  7. Tidak pernah membeli tissue, cukup memakai tissue gratisan yang dibagikan di jalan-jalan ( Di Jepang biasanya toko promosi dengan membagikan tissue di stasiun/jalan-jalan. Aku sering mengumpulkan tissue seperti ini tapi tidak cukup kalau hanya mengandalkan tissue2 ini saja)
  8. Mencari pompa bensin yang harga bensinnya paling murah…. (aku males malah, dengan cari-cari gitu kita tidak sadar sudah berapa liter dipakai)
  9. Handuk wajah (Face towel) yang dipakai di rumah berlabelkan surat kabar atau penginapan (Di Jepang surat kabar/penginapan sering membagikan handuk wajah dengan logo perusahaannya)
  10. Mengambil plastik yang disediakan supermarket sebanyak-banyaknya. (Ya…aku sering liat ibu-ibu mengambil begitu banyak plastik roll yang disediakan di supermarket. Aku malah ngga pernah pakai kecuali untuk daging yang mungkin akan mengotori tas belanja)
  11. Selalu mencari rute kereta yang termurah meskipun harus muter-muter. (Aku jarang pake kereta sih sekarang)
  12. Supaya hemat biaya salon, potong rambut sendiri ()wah kena deh gue. tapi aku sebtulnya potong rambut sendiri bukan hanya karena biaya salonnya, tapi waktunya untuk ke salon juga sih)
  13. Hampir semua barang rumah tangga hasil belanja di toko seratus yen (hmm aku suka pergi ke toko seratus, tapi biasanya untuk stationary bukan alat rumah tangga)
  14. Kalau lapar, pergi ke supermarket dan makan sampel makanan (doooh ini mah pelit banget yak… never do that!)
  15. Seberapapun murahnya BSS (Bayar sendiri-sendiri, selalu menghitung sampai pecahan 1 yen (nahhhh ini pernah membuat aku takjub, kok sampe segitu pelitnya orang Jepang. Tapi sejak menjadi ibu rt bisa tahu kenapa harus pelit)
  16. Membeli barang, yang ada kemungkinan terjual mahal di auction (waduh auction… ngga deh, aku ngga bakat. pernah sekali aja beli kaset di Yahoo auction. suman pengen tahu cara mainnya)
  17. Mencukupkan diri dengan memakai kosmetik gratisan (sampel) yang dibagi-bagi di toko kosmetik. (pakai sih sampel gitu, tapi mana cukup lagian jarang beli kosmetik jadi jarang dapat sampel juga hehehe)
  18. Meskipun tidak membeli apa-apa, selalu mengecek uang kembalian di vending machine (doooh ini sih terlalu hihihi)
  19. Hadiah yang diterima dari orang lain, diberikan sebagai hadiah untuk orang lain (Aduh kalau aku sih ngga pernah, biar gimana kan pemberian orang ada kenangannya)
  20. Pinjam CD/DVD, tidak pernah membeli sendiri (no way… aku selalu beli CD yang aku suka, seleranya lain sih …jieee)

Nah, ini 20 tindakan PELIT nya orang Jepang, mungkin tindakan pelitnya orang Indonesia lain lagi. Misalnya untuk menghemat ongkos transportasi nebeng temen terus, atau ngga punya HP sendiri kalau mau kirim sms pinjem HP temen, atau ngumpulin shampoo dan sabun hotel untuk dipakai di rumah dsb dsb dsb dsb.

Yang aku banget tuh nomor 5 dan 12. Juga ngga langganan koran, cukup dengan baca di internet. pelit juga kan tuh. Kasih tahu dong,kamu pelitnya gimana sih? Ngga bakal aku kasih tahu ke orang lain deh…hihihi….

Jangan paksakan diri demi aku

terjemahan dari bahasa Jepang, “Boku no tameni muri shinaide ne”

Sabtu malam, papa Gen pulang ke rumah sekitar jam 8 malam. Kebetulan anak-anak belum makan, dan pas baru akan makan. Waktu aku  mempersiapkan makanan, Gen bilang padaku, “Sorry sayang, besok (minggu) aku harus kerja”. What?
Aku juga agak kecewa, karena kebayang capeknya melewati hari minggu bertiga lagi. Tapi apa boleh buat, kalau memang kerjaannya belum selesai abis bagaimana. Jadi aku bilang pada Riku, “Riku besok papa kerja, jadi kasih itunya sekarang saja”.

Riku sudah membuat gambar dan “convinience tools” untuk papanya, kado di Hari Ayah. Karena aku bilang kasih sekarang saja (semestinya besok), kemudian dia berikan pada papanya. Terima kasih bla bla bla….. ok… dinner time.

Salah satu gambarnya Riku ; “Riku with Papa”

Tapi waktu kami akan mulai makan, Riku bertanya sekali lagi,
“Besok papa kerja?”
“Iya, maaf ya Riku….”
“Ya sudah, besok Riku, Kai dan mama pergi jalan-jalan yuuuk”, aku berusaha menghibur.
Tapi aku lihat warna mukanya berubah. Gen tidak perhatikan, karena dia duduknya menyamping. Aku tahu, Riku akan menangis, jadi aku langsung menghampiri dia, memeluk dia dan berkata,
“Riku, papa juga ngga mau pergi kerja, tapi kalau pekerjaannya belum selesai gimana”
Meledaklah tangis Riku, dan Gen terkejut. Tidak menyangka. Langsung Gen bilang,
“OK Riku, besok papa libur!!! Yosh… kimeta (saya putuskan) tidak ke kantor”
Gantian Gen memeluk Riku, dan terucaplah kalimat di atas,
“Papa jangan paksakan diri libur hanya untuk Riku!”
sebuah ungkapan yang sering dipakai orang Jepang yang sebetulnya berusaha untuk menyatakan bahwa dirinya tidak apa-apa. ….. Tapi biasanya dipakai oleh orang dewasa tentunya. Aku juga heran sampai Riku yang baru 6 tahun bisa berkata begitu. Kasihan, dia terlalu cepat menjadi dewasa pemikiran….

Sambil menahan haru, Gen bilang,
“Kamu bilang apa? Bagi papa, Riku lebih penting dari kerja. Besok kita pergi sama-sama ya”
Kami bertiga menghapus airmata dan berdoa makan…. cuma kai saja yang tertawa melihat kami…..

Hari Minggu Hari Ayah! Masak seorang Ayah harus bekerja di hari itu? Sama saja seorang buruh bekerja di Hari Buruh… dan itu sering terjadi di keluarga Jepang pada umumnya, dan keluarga Miyashita pada khususnya. Bukan karena suka kerja, workholic, tapi karena terpaksa. Sambil merenungi kejadian Sabtu malam itu, aku berpikir. Dulu papaku juga tidak pernah ambil cuti. Tapi anak-anaknya tidak ada yang protes atau berkata seperti Riku, jadi ya begitu saja terus. Kami jarang sekali bepergian/piknik bersama. Jadi teringat sebuah iklan mobil di TV Jepang, “Mono yori omoide” (Daripada barang lebih baik kenangan).

Berkat Riku, hari Minggu kami lewati dengan penuh kegembiraan, meskipun hari hujan dari pagi hari. Aku terbangun jam 6 pagi, padahal baru tidur jam 3 pagi. Tapi Riku juga bangun jam 6, dan tak lama Kai bangun juga. Jam 8 semua sudah berkumpul di kamar tamu. Jadi, hari ini mau ke mana?

Dan sekali lagi Riku berperan, “Aku mau ke yokohama, ke tempat A-chan (ibunya Gen) dan Ta-chan (bapaknya Gen)”. Ya, sekaligus deh merayakan Hari Ayah bersama Ketua Clan Miyashita.

Jam 9 pagi kami sudah di jalan raya di bawah rintik hujan, dan… lapar. Lalu aku bilang pada Gen, bahwa mulai kemarin di Mac D hadiahnya karakter Pokemon. Dan ini pasti cepat habis. Jadi akhirnya kami mampir ke Mac D, dan saya juga pesan Happy Set + untuk anak-anak, supaya bisa dapat mainan pokemonnya 3 buah. Dan Kai, langsung berseri-seri melihat mainan pokemon, “Pipa…pipa…” rupanya dia mau bilang Pika (pikachu).
Ternyata tidak perlu makanan mewah dan mainan mahal untuk menggembirakan satu keluarga (Yang pasti Gen dan aku ikut gembira karena rasa lapar terobati. Paling tidak enak menyetir dalam keadaan lapar).

bermain bersama Ta-chan

Setelah selesai sarapan, kami bergerak menuju Yokohama dalam hujan yang menderas, dan jalanan yang mulai padat dan macet. Hampir satu bulan lebih kami tidak saling bertemu, dan ternyata banyak berita keluarga yang tidak sempat kami ketahui. Yang sakit, yang cuti, yang menderita…. Nampaknya tahun ini akan menjadi tahun yang sulit juga bagi keluarga kami. Menghitung hari-hari tersisa dalam kehidupan.

Biasanya kami pulang larut malam, tapi karena sudah lama juga tidak bertemu adikku Tina, jadi kami mampir dulu ke apartemennya. Ternyata dia sendiri, Kiyoko temannya sedang pergi ke rumah orangtuanya. Jadilah kami ajak dia makan malam bersama di restoran Taiwan. Yang saya merasa menyesal saat itu, kenapa tidak minta Tina untuk memotret kami berempat! Baru ingatnya setelah jalan pulang.

Well, week end is over, and back to reality.

Goro-goro

Goro-goro dalam bahasa Jepang lain artinya dengan goro-goro bahasa Jawa, atau gara-gara bahasa Indonesia. Padahal dalam bahasa Jepang ada juga dipakai kedua kata ini. Jika gara-gara dalam bahasa Jepang berarti sedikit orang (あの店はがらがらです。 Toko itu kosong/tidak ada pengunjung) , maka goro-goro artinya bermalas-malasan. Keadaan masih berada di tempat tidur meskipun sudah bangun. Santai-santai berbaring.

Hari Selasa dan Rabu lalu, Riku sepulang sekolah tidak ke mana-mana. Tadinya dia sempat membuat janji bertemu dengan Aska san, bertemu di taman depan sekolah naik sepeda. Nah, karena dia janjian dengan mengendarai sepeda, maka aku tidak ijinkan. Lha meskipun Riku sudah bisa naik sepeda, dia masih belum begitu mahir untuk dibiarkan sendiri, tanpa pengawasan orang tua. Apalagi kalau dia dengan Aska nanti lalu pergi ke rumah temannya yang lain. Aska pasti belum tentu bisa menolong Riku jika terjadi apa-apa. Dan Riku menurut, dan minta aku teleponkan ibunya Aska, untuk membatalkan janji.

“Tapi Riku boleh pergi loh, kalau mau main, tanpa sepeda”
“Enggak ah, aku mau sama mama aja!”

duh, aneh deh anak ini, disuruh pergi main ke luar ngga mau. Dia ngga bisa pergi sendirian dan tanpa tujuan sepertinya. Persis mamanya!

“OK, tapi jangan ganggu mama ya. Mama mau bobo siang. capek!”
“Aku juga mau bobo sama mama…..”

dan dia mau ikut nyempil di sofa bed di studio kerjaku… doooh mana bisa gajah dan anaknya berdua menempati tempat tidur single. Akhirnya kita pindah ke kamar tidur dengan tempat tidur yang luas…. Tutup tirai, peluk guling aku membelakangi Riku.

“Mama, Ebi (udang) itu mirip AB bahasa Inggris ya?”
“Iya Riku… pintar! memang mirip.”

Dari belakang punggung aku, dia peluk aku…. lalu aku bilang,
“Wah mama senang deh TV nya rusak. Jadi kita bisa ngobrol, goro-goro, dara-dara (santai) begini ya.”
“Iya Riku juga senang. TV emang jelek ya….”

diam lagi, dan aku mulai hampir tertidur, waktu dia bertanya,
“Mama, kenapa sih mama menikah dengan papa?” (nah loh kenapa dia tanya sih hihihi)
“Ya, karena mama dan papa saling cinta”
“Mama ketemu papa di SMP?”
“Ngga Riku, mama ketemu papa di Daigakuin (Pasca sarjana).”
“Daigaku…”
“Gini Riku, Riku TK 2 tahun kan, sesudah itu masuk SD 6 tahun, sesudah SD itu SMP 3 tahun, lalu SMA 3 tahun. Lulus SMA masuk Daigaku, 4-5 tahun, baru masuk Daigakuin 2 tahun untuk Master dan untuk Hakase (Doktoral… Riku tahu kata hakase) tidak terbatas berapa tahun. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Mama belum Hakase, baru Master. Mama ingin juga belajar jadi Hakase.”
“Mama udah hakase kok, kan mama tahu semua…” (Oh my God Riku…..hiks)

Akhirnya aku tidak ngantuk lagi, malah jadinya ingin ngobrol dengan putra sulungku ini. Kupikir kapan lagi bisa peluk-peluk dia, sambil ngobrol gini. Sebentar lagi kelas 5-6 mana mau dia tidur sama mamanya dan kesempatan seperti ini tidak akan terulang.

“Riku senang belajar di SD?”
“Senang”

“Mama…mama kan guru ya? Guru SD atau SMP?”
“Bukan Riku, mama guru daigaku, universitas… Mama ngga bisa ngajar anak-anak kecil. Ngga sabaran! Makanya mama hormat pada Chiaki Sensei, dan guru-guru TK, SD yang bisa ngajar anak-anak”
“Kenapa? Oh aku tahu… anak-anak nakal ya…. ”
“Hmmm ya ada yang nakal. Tapi gini, anak-anak itu seperti hakushi. haku itu putih, shi itu kami (kertas). Anak-anak itu seperti kertas yang kosong, belum digambari. Kertas itu kan kalo digambari anak TK, ya hasilnya seperti gambar anak TK, Kalau Riku yang gambar, ya seperti anak SD. Tapi kalau yang gambar orang yang pintar, berpendidikan dan berpengalaman, pasti gambarnya bagus kan? Jadi Susah untuk menggambari hakushi itu supaya gambarnya bagus. ”
” ngerti…. Makanya Mama suka Chiaki sensei….”
“Ya mama suka sama semua guru”
“Riku juga kalau besar mau jadi guru. Guru Olahraga.” (Dalam hati aku ketawa, oi ndut…kurusin dulu)

“Kalau mau jadi guru olah raga, Riku musti suka semua olah raga. Dan harus suka lari.”
“Hmm lari ya… kalo gitu aku mau jadi guru kokugo 国語(bahasa jepang) aja deh”
“Nah papa tuh pintar kokugonya, om Taku juga …makanya om Taku jadi wartawan kan?  Dan untuk itu, Riku mazu まずharus bisa baca dan menulis. Makanya banyak latihan baca dan menulis ya.”
“Iya”

“Mama, mama namanya keluarganya siapa. ”
“Imelda Coutrier. Riku?”
“Riku Coutrier. ”
“Loh bukan… Riku Miyashita”
“Ahhh aku ngga mau Riku Miyashita”
“Tapi papa Riku namanya siapa?”
“Gen Miyashita”
“Makanya, Riku namanya Riku Miyashita. Bukan Riku Coutrier.”
“Dharma (sepupunya di jkt) namanya siapa? Dharma Coutrier?”
“Bukan, namanya Dharma Dewanto, karena om Chris namanya Chris Dewanto”
Lama lama dia mulai ngerti “aturan mainnya”.
“Jadi anak-anak semua ikut nama papanya?”
“Bingo… betul Riku, semua ikut nama papa. Itu karena patriarchal , Fukei shakai 父系社会.  Ada sih beberapa suku dan negara yang bisa ikut nama ibu, matriarchal bokei shakai 母系社会. Tapi kebanyakan semua ikut nama bapak. ( waktu aku baca tulisan Uda Vison tentang padusi, aku jadi teringat juga bahwa aku pernah menceritakan hal ini pada Riku)

“Tapi Riku mau ikut nama mama. Kan bagus Riku Coutrier, sama dengan opa”
“(Sambil senyum-senyum aku ingin bilang… bagus dong) Kasihan papa loh. A-chan juga kasihan. Gini aja deh. Kalau di Jepang Riku Miyashita, kalau di Jakarta Riku Coutrier… setuju?”
“Asyikkkk….”

Ini adalah sekilas hasil pembicaraan waktu kami goro-goro hari Selasa dan Rabu lalu. Masih banyak percakapan nonsense, misalnya dalam satu hari berapa ikan yang ditangkap ya? (pattern “satu hari berapa banyak” , dan ini cukup membuat kesal aku … sampai kadang aku bilang oi aku bukan nelayan, ngga tau….) Tapi juga pernyataan dia bahwa dia sudah punya bulu ketek, wakige 腋毛 (padahal bukan bulsket, hanya kotoran dari baju). Aduuuh Riku, kalau kamu udah punya bulsket berarti udah mulai ada kumis, sayang….. dan mama ngga mau kamu secepat itu menjadi besar. yukkuri de ne (pelan-pelan aja).

Waktu aku cerita tentang “goro-goro” ini ke Gen, dia bilang… wah mama sama Riku rabu-rabu (love-love… mesra). Rupanya dia ngiri tuh.  Ntah dia ngiri ke aku, karena aku ada waktu untuk bercengkerama dengan Riku, atau ngiri sama Riku, karena bisa rabu-rabu sama mamanya hahahaha.

So…mari kita goro-goro jangan cari gara-gara dengan orang yang kita sayangi, sebagai suatu cara untuk mendekatkan hubungan.

** Saya pasangkan video clip tentang Riku membacakan buku Picture Book berjudul “Kashite yo… Pinjamkan dong!” pada Kai. Selamat menikmati.***


Ramah Tamah

Dalam bahasa Jepang ada beberapa kata yang merefer ke pertemuan ramah-tamah yang bertujuan untuk lebih mengakrabkan anggota suatu organisasi atau perkumpulan. Yang biasa dipakai adalah Konshinkai, こんしんかい  懇親会. Misal sesudah acara formal seminar atau diskusi, diberi alokasi waktu untuk minum kopi dan bercakap-cakap, atau lebih khusus lagi dengan membuat acara jamuan makan malam. Kata ini sering aku pakai dalam kegiatan menjadi MC di Kedutaan atau di Universitas.

Tapi sejak Riku masuk TK, aku baru bertemu dengan kata Shinbokukai しんぼくかい 親睦会. Rupanya meskipun artinya sama, kata konshinkai yang di atas masih berkesan “kaku” dan untuk suatu struktur organisasi yang sudah jelas. Sedangkan shinbokukai itu lebih “merakyat” dan bisa dipakai untuk pertemuan-pertemuan yang “lebih akrab” tidak formal  seperti keluarga besar misalnya. Dan hari Rabu tgl 17 Juni yang lalu, aku mengikuti Shinbokukai dari kelas 1-2, kelasnya Riku.

Rabu pagi, aku terlambat pergi ke sekolahnya Riku, untuk acara pertemuan murid shinbokukai. Sebetulnya mau dibilang terlambat juga tidak, karena acara mulai jam 9:30. Tapi karena aku pengurus, seharusnya datang 30 menit lebih cepat, yaitu jam 9. Dan aku terlambat 10 menit gara-gara tidak menemukan “Kartu pass masuk ke dalam sekolah”. Setiap orangtua murid yang masuk ke dalam lingkungan sekolah, harus memakai kartu pass masuk demi keamanan sekolah. Nah, selasanya  aku masih pakai kartu itu untuk rapat PTA dan melanjutkan membuat ebi (origami) dan magnet dari nendo sampai jam 2 siang. Tapi lupa setelah pulang taruh di mana. Karena begitu sampai rumah, aku terkapar di tempat tidur! Benar-benar capek.

Akhirnya daripada terlambat banyak aku sambar saja kartu pass milik Gen, dan … aku pakai terbalik  supaya tidak terbaca namanya, tapi dari jauh tetap terlihat pakai kartu pass…. hihihi (jangan ditiru). Dan dengan terpaksa aku mendorong sepeda masuk ke dalam lingkungan sekolah (sebetulnya dilarang datang dengan sepeda kalau tidak terpaksa banget). Abis, aku bawa banyak barang, yaitu kue konsumsi untuk 30 orang, dan peralatan lainnya.

Hari Rabu itu adalah hari pertemuan orangtua murid kelasnya Riku yang bertajuk shinbokukai, “ramah tamah”. Dan di dalam ramah-tamah itu, aku dan dua pengurus PTA yang menjadi pemimpin dalam kelas. Kami menyampaikan pesan-pesan dari sekolah, dan menampung keluhan atau pertanyaan dari teman-teman orang tua murid yang lain. Selain itu kami juga sebetulnya yang menjadi penentu untuk “keakraban antar orangtua”. Jika akrab, maka nanti-nantinya akan mudah untuk menggerakkan orang tua, minta tolong ini-itu, dan tentu saja mudah mendapatkan macam-macam informasi tentang pembelajaran anak-anak kita sendiri di sekolah. (Selain tentunya gosip ini-itu hehhehe, maklum lah wanita suka gosip kan?)

Nah, seperti biasa aku tidak pernah memakai “bahasa sopan” dalam pertemuan seperti ini. Boleh dibilang, aku menghindari “pembuatan jarak” dengan pemilihan pemakaian bahasa. Bukan karena aku tidak bisa bahasa sopan, tapi dengan menunjukkan “kebodohan berbahasa” (mumpung orang asing)  aku berharap mereka dapat menerima dan membiasakan untuk saling akrab. Toh ini bukan forum resmi. (Tentu saja untuk penyampaian informasi yang formal, aku masih memakai bahasa sopan. Karena seperti bahasa Jawa, bahasa Jepang mempunyai 3 tingkatan bahasa, sopan, biasa dan kasar)

Dan akhirnya semua mulai akrab dengan memperkenalkan diri dan menyebutkan hobi masing-masing, serta menggunakan waktu free time untuk saling beramah tamah. Dan karena kegiatan seperti ini hanya disetting satu kali saja (tidak ada kelanjutannya, kecuali kami bertiga yang membuat) , maka pada akhir acara, dengan tidak sengaja aku mengatakan,”Lunch…..” dan langsung disambut…”Mau, mau….” . Loh…. maksudku, nanti kita buat acara lunch bareng deh, tapi bukan hari ini. Eeee beberapa orang antusias sekali untuk makan siang bersama hari itu juga. Wow… kesempatan bagus untuk lebih mengakrabkan diri. Dan karena aku yang mengatakan “Lunch”, berarti aku harus ikut pergi bersama dong. Soliderrrrr. Sedangkan dua pengurus yang lain tidak bisa ikut karena mereka ada kerjaan lain.

Kami pergi ke restoran dekat rumah yang bernama Royal Host, sebuah family restaurant satu-satunya yang terdekat dengan SDnya Riku. Kira-kira  setengah dari yang hadir hari itu (12 orang dari 24 orang) memenuhi restoran yang selalu penuh pada jam makan siang. Tapi kami mendapat tempat khusus, karena rupanya ada salah satu ibu yang bekerja part time di restoran itu. Jadi dia langsung menghubungi temannya untuk membuatkan tempat bagi kami. Tapi sayangnya dia harus bekerja melayani kami, sehingga tidak bisa ikut duduk dan makan bersama.

(Kadang aku merasa aneh dengan keadaan ini, seorang teman melayani kita di suatu restoran/toko, tanpa rasa malu. Aku belum pernah menemukan kasus seperti ini di Indonesia, jadi agak risih pertamanya. Tapi di sini semua orang bekerja! apa saja! bahkan menyapu tokonya, dan tidak malu dilihat temannya. Bangga akan pekerjaannya. Aku rasa, semestinya banyak orang Indonesia harus melihat dan mencontoh “semangat” ini. Jangan malu bekerja apa saja, bahkan di depan teman dan keluarga)

Karena kami hanya punya waktu satu jam 15 menit sebelum anak-anak pulang sekolah, maka kami cepat-cepat memesan makanan dan mempergunakan waktu sebaik-baiknya dengan saling memberitahukan email Handphone (di Jepang bukan sistem SMS, sehingga harus menuliskan alamat email HP yang panjang itu, untuk kemudian di save). Dan rupanya semua ibu-ibu punya rasa ingin tahu yang besar “tentang Imelda”, kapan datang ke Jepang, kenapa bisa bahasa Jepang dsb dsb, sehingga aku jadi seperti diinterogasi deh hehehe. Tapi yang pasti aku merasa senang sekali karena dengan adanya acara shinbokukai dan dilanjutkan dengan lunch bersama ini, rasanya aku menambah teman sebanyak 12 orang lagi. Teman-teman dengan latar belakang yang sama, yaitu ibu dari seorang murid SD. Semoga saja keakraban ini bisa berlanjut dan sama-sama bisa melewati masa penting dalam mendidik anak.

Alien

Aduhh…. minggu ini benar-benar sibuk. Tapi tidak boleh mengeluh!! seperti kata teman dosen orang Spanyol,”Kan kamu sendiri yang mau ikut-ikut menjadi pengurus PTA, jadi jangan mengeluh!” heheheh. Iya bu, memang saya sendiri yang mau ikut-ikut repot, dan …. suka. Tapi boleh kan bilang, “duh sibuk deh….”  siapa tahu hanya dengan mengeluarkan kata-kata itu, beban jadi ringan…sedikit.

Kalau hari Senin (weks aku ketinggalan nulis berapa hari nih? sekarang sudah jumat!) aku disibukkan dengan urusan anak-anak, hari Selasa dari pagi sudah ke SD Riku untuk mengikuti rapat bulanan PTA. Karena Seksi kami yang mendapat tugas mengatur layout ruangan jadi setengah jam sebelumnya kami sudah datang. Waaaah bener deh ibu-ibu kalau sudah kerja, cepet euy! Kursi etc tertata rapi dalam tempo 10 menit.

Dalam rapat dilaporkan kegiatan apa saja yang sudah dan akan dilakukan. Tapi ada satu yang cukup mengkhawatirkan yaitu berita dari keamanan masyarakat. Rupanya di kelurahan ada bagian yang menangani laporan-laporan “ALIEN”, terjemahan yang saya pakai untuk Fushinsha 不審者 (orang yang tidak diketahui, yang kemungkinan berniat jahat, karena tindak tanduknya mencurigakan). Bagian ini kemudian akan menyebarkan informasi ke sekolah-sekolah dan polisi, untuk memperkuat pengamanan wilayah dan keamanan anak-anak.

Ternyata akhir-akhir ini banyak diterima laporan tentang beberapa  “Alien” ini yang suka mencegat anak-anak waktu pergi/pulang sekolah. Dan yang terakhir laporan bahwa ada ibu-ibu muda dengan dandanan menor naik mobil, yang mengikuti seorang anak di jalan besar. Untung saja anak itu bertemu dengan temannya dan melarikan diri. Kalau seandainya sampai disuruh naik mobil atau dipaksa naik mobil….. hiiiii ngeri. (Sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Riku)

Dan memang menjelang musim panas, ada kecenderungan peningkatan orang “iseng”. Beberapa pemuda atau bapak-bapak menunggu anak perempuan di sudut jalan yang gelap, lalu memperlihatkan “anunya”. Atau bertanya, “mau kemana? sini sama-sama yuuuk!” dsb dsb. Mungkin karena mulai panas di rumah jadi gerah ya? Ada istilah khusus untuk orang-orang seperti itu, yaitu Chikan, ちかん 痴漢. Sering dijumpai kata ini dalam kereta yang penuh sesak. Mereka memakai kesempatan penuhnya kereta untuk  meraba-raba bagian tubuh wanita. Sekarang keamanan di kereta sudah semakin bagus dibanding dulu. Sehingga kadang terdengar pengadilan terhadap seseorang yang dituduh menjadi chikan di kereta (meskipun ada pula yang sebetulnya tidak melakukan, tapi si perempuan ini jahat dan menuduh bahwa orang itu melakukan…. nah seperti ini juga sulit, karena berarti nama baik si tertuduh dapat rusak)

Dulu sekali waktu pertama kali datang ke Jepang, pernah bertemu dengan chikan, tapi karena tidak tahu apa namanya, dan takut, jadi saya langsung turun dan pindah kereta saja. Tapi seandainya tahu pun, untuk teriak dan berkata, “Kamu chikan ya?” ….hmmmm ngeri juga dan malu pastinya. Ahhh semoga jangan ada orang Indonesia lain yang mengalami seperti ini deh. Kalau sekarang…kayaknya ngga ada deh chikan yang mau mendekati saya…udah ngeri duluan liat “gajah” hahaha….

So, dengan adanya laporan Alien-alien ini, diharapkan ibu-ibu juga ikut membantu mengawasi anak-anak lain jika kebetulan bertemu dan melihat sesuatu yang mencurigakan. Pantas akhir-akhir ini saya melihat banyak polisi di sudut-sudut jalan pada pagi hari, waktu anak-anak pulang (sekitar jam 13:30), dan sore hari sekitar pukul 5-6 sore.

Untung sekali rumah kami tidak jauh dari jalan besar dan Koban, pos polisi, sehingga keamanannya cukup terjamin. Ditambah lagi badan Riku yang GEDE dibanding dengan teman-temannya.