Pengalaman Demokrasi -2-

Kali ini saya mau bercerita tentang perkumpulan orang tua murid di SD nya Riku. Tanggal 16 April yang lalu, saya menghadiri acara pertemuan pertama antara guru dan orang tua murid. Ceritanya dalam acara itu, masing-masing orang tua bisa saling mengenal dan juga mengenal guru walikelas anaknya. Seperti biasa, Guru memperkenalkan diri dulu. Guru Riku ini masih muda, tapi sudah bekerja di SD ini 5 tahun. Jadi saya perkirakan umurnya 27 tahun (rata-rata lulus universitas berusia 22 tahun). Namanya Chiaki Sensei.

Kemudian satu-per-satu orang tua murid memperkenalkan diri. Dan yang lucu di sini, memperkenalkan diri bukan dengan nama si ibu tapi “Saya ibunya Riku Miyashita”. Jadi nanti juga kalau bertemu dan memanggil seseorang akan “…… chan no mama (ibunya …chan)” “Riku kun no mama (Mamanya Riku)” . Dan waktu memperkenalkan diri, diminta untuk menyebutkan “kebaikan – sisi baik sang anak”. Well, saya dapat giliran kira-kira nomor 10, dan aku langsung berkata: “Saya mamanya Riku. Seperti kalian tahu, saya bukan orang Jepang, saya datang dari Indonesia. Saya tidak sedisiplin orang Jepang dalam mendidik anak, jadi kalau Riku berbuat nakal atau tidak sopan, tolong kasih tahu saya. Selama ini Riku selalu bersama saya, lebih suka di rumah. Baru dua hari yang lalu dia berani pergi ke toko sendiri. Kalau ditanya apa yang bagus dari Riku ,maka saya bilang tidak tahu. Karena apa yang menurut saya bagus, belum tentu menurut Anda bagus. Jadi sensei lihat saja nanti Riku bagaimana. Dia makan apa saja. Suka sayur, jadi tidak sulit untuk makanan.”

Setelah semua orang tua murid memperkenalkan diri, tiba waktunya untuk memilih 3 orang wakil untuk menjadi pengurus PTA. Satu dari 3 orang itu akan menjadi PTA Inti yang mengelola semua kegiatan anak sekolah dari kelas 1 sampai 6. Sedangkan 2 yang lainnya, menjadi wakil kelas, mengurus kegiatan kelasnya saja dan menjadi anggota bagian kegiatan PTA. Satu kelas rata-rata 30 anak (kelas Riku 32 anak), dan diharapkan ada 3 orang yang bersedia mau menjadi wakil kelas.

………………….. Tidak ada yang mengangkat tangan. Semua saling pandang. Wah saya kaget juga dengan kondisi ini. Karena waktu Riku TK, orang tua murid di kelas Riku amat aktif. Dalam hitungan menit sudah ada tangan-tangan yang bersedia. Tapi di SD ini….. kenapa tidak ada yang mau ya?  Saya jadi kangen dengan ibu-ibu di TK yang begitu aktif. Memang ada ibu yang tidka mungkin menjadi pengurus karena mempunyai bayi, dan anaknya ada 4/5 orang. OK deh kalau si Ibu itu impossible mengatur waktunya. Tapi saya lihat masih banyak kok yang sebetulnya “kelihatannya” punya waktu. (Dan waktu saya cerita bahwa ibu-ibu tidak ada yang mau, Gen bilang… ya biasanya memang tidak ada yang mau hihihi)

Terus terang saya ingin tahu. Saya ingin tahu bagaimana sih orang Jepang berorganisasi. Saya yang biasa berorganisasi sejak SMP, rasanya gatal kalau tidak ikut. Sebelum pertemuan memang Gen sudah bilang,

“Pasti kamu mau ikut jadi pengurus PTA kan? ”
“Ngga boleh?”
“Ya boleh dong… tapi jangan bilang saya kerja di universitas, nanti saya disuruh bantu-bantu macam-macam hehehe”

Tapi karena tidak ada satupun yang bersedia, saya juga jadi bingung. Masa saya yang orang asing sok tahu angkat tangan dan bilang, “OK, saya mau” Duuh, nanti digencet lagi anakku hehehe. Lima menit lewat,  belum ada yang mau, sedangkan pengurus PTA yang lama, sudah menunggu nama-nama calon pengurus baru. Mereka berdua mengancam, kalau tidak ada yang mau, bisa-bisa diadakan undian. Kalau undian, siapa yang dapat harus mau, jadi lebih baik dan diharapkan ada yang bersedia.

Kebetulan ibu yang duduk di sebelah saya, anaknya juga di TK yang sama dengan Riku meski berlainan kelas. Saya ajak dia untuk angkat tangan. Sementara saya juga bertanya pada Pengurus PTA yang dua orang itu, misalnya saya tidak bisa mengikuti rapat pada hari Jumat bagaimana. Karena saya sudah pasti setiap Jumat tidak bisa. “Well, tidak ada pemaksaan kok. kan masih banyak pengurus yang lain”. Dan ada kata-kata dari dia yang membuat saya akhirnya angkat tangan adalah “Dalam 6 tahun anak Anda bersekolah di sini, harus menjadi pengurus satu kali. Dan daripada nanti jika anak sudah di kelas atas, lebih baik lebih cepat menjadi pengurus lebih baik. Dan kalau sudah satu kali menjadi pengurus, SELANJUTNYA TIDAK USAH.” Loh… biasanya kalau di Indonesia, orang yang sudah terpilih, dia pasti akan dipilih terus-terusan, sehingga tidak bisa lepas dari organisasi. Jadi ada kesan terpaksa. Sehingga biasanya orang juga takut untuk mulai masuk organisasi karena takut tidak bisa “keluar” dari situ.

“Wah kalau begitu, OK saya mau…. “. “Miyashita san terima kasih, siapa lagi yang mau?” Dan teman sebelah saya mengangkat tangannya. Asyiiik terpengaruh juga dia. hihihi.

Akhirnya terpilihlah 3 orang wakil kelas, dan teman saya Rie ini yang akan menjadi pengurus Inti. Sebagai pengurus kelas, kami bertiga langsung dibagikan tanda patrol keamanan untuk ditempelkan di sepeda, dan ditaruh di tas. Dan langsung kami harus mengikuti Rapat Umum Pengurus Inti dan pengurus kelas PTA tanggal 22 April.

Dalam rapat yang diadakan tanggal 22 April itu, sudah langsung dibagi bahwa ada 3 bidang yang harus dipilih. Bidang Kebudayaan, Bidang Kegiatan Anak-anak dan Bidang Keamanan. Saya sebetulnya ingin masuk ke bidang kebudayaan, karena tugasnya hanya membuat seminar tentang apa saja sebulan sekali. Kan gampang tuh…. paling-paling cari pembicara, meeting, tentukan tanggal, buat undangan, persiapan, pelaksanaan lalu terakhirnya evaluasi. Sudah kelihatan kerjanya.

Tapi, berhubung teman saya yang menjadi pengurus Inti itu sudah mengurusi bidang kebudayaan, maka saya tidak bisa masuk ke situ. Saya harus pilih antara Bidang Kegiatan Anak-anak atau Bidang Keamanan. Duuuh kalau keamanan saya males deh, soalnya musti patroli senja hari, memantau keselamatan anak-anak, apakah ada yang masih bermain di luar (baca 5:30). Memantau rumah-rumah yang menjadi tempat pelarian anak-anak Kodomo 110. Lalu sesekali naik patrol car, bersama polisi untuk inspeksi daerah-daerah berbahaya. Saya langsung bilang, “Wah kalau senja saya tidak bisa, karena saya masih ada balita. Saya kan tidak bisa patroli dengan membonceng balita. Saya di Bidang Kegiatan Anak-anak saja ya.”

Untung saja teman pengurus sekelas yang satunya mau masuk ke Bidang Keamanan… (agak maksa juga sih saya hihihi). Jadi deh saya menjadi anggota Bidang Kegiatan Anak-anak. Dan ternyata ….. kegiatan bidang ini yang paling SIBUK!!! Dooohh. Coba deh saya tulis kegiatannya apa saja.

1. Sebulan sekali ikut rapat umum PTA
2. Mengumpulkan bellmark, yang dibagi menjadi kelompok
3. Mengumpulkan eco cap
4. Mengadakan bazaar untuk murid tanggal 19 Juni (sudah pasti saya tidak bisa ikut karena hari Jumat)

Kegiatan nomor 2 dan 3 itu loh yang tidak mengenal waktu. Karena begitu terkumpul banyak, harus segera dikirim. Yang lucunya kedua kegiatan ini pernah saya ulas di TE. Eeee jadinya malah harus mengumpulkan. Tapi karena saya sudah mengerti jalan ceritanya, ya saya tidak bego-bego banget dengan bertanya, “Bellmark itu makanan apa sih?” hihihi.

Nah, yang bagusnya di rapat per bidang, semua yang memang terpilih jadi pengurus ini, ternyata lumayan aktif. Begitu si Ketua bidang tanya, siapa yang mau urus ini-itu, langsung ada yang menjawab. Jadi kali ini saya yang diam, menunggu sisa kerjaan aja hehehe (maklumlah di sini kan ada pemikiran sempai-kohai senior-junior  juga, saya kan masih ortu dari kelas 1, masih kroco , tidak boleh menonjol….. ).

Jadi begitulah…. saya sekarang menjadi “sok sibuk” dengan kegiatan kepengurusan PTA sekolahnya Riku. Tapi saya jadi bisa melihat secara langsung kebiasaan orang Jepang dalam berorganisasi, dan pengejawantahan demokrasi dalam masyarakat Jepang skala kecil. Dan  kalau ada cerita lucu kan bisa jadi bahan posting di TE hehehe.

Setelah Rapat Umum tanggal 22 April ini, kami harus menghadiri Sidang Pleno PTA pada tanggal 30 April. Sebelumnya sudah dibagikan segepok laporan yang harus kami baca sebelum menghadiri Sidang Pleno tersebut. Namanya keren ya… Sidang Pleno…. apa saja sih yang dibicarakan?

…….bersambung

20 gagasan untuk “Pengalaman Demokrasi -2-

  1. Miko P

    Jadi isi pembicaraan sidang pleno ada di part-3 ya, kapan launching?

    hmmm kapan ya? semoga dalam waktu dekat pak!

    EM

    Balas
  2. Miko P

    Trus kalau habis beli cemilan yang ada gambar lonceng jangan dibuang bungkusnya ya, asal jangan ngemil terus jadinya…….hehehe

    hahahhaha
    bener tuh, jangan bikin alasan untuk kumpulin belmarknya. Tapi kan bukan dari rumah sendiri, kita harus mengajak ibu-ibu lain untuk mengumpulkan dan kita sebagai pengurus mengumpulkan dari setiap kelas.

    EM

    Balas
  3. Ersis Warmansyah Abbas

    Asyik tu kayaknya jadi ortu di Jepang … disini kayaknya baru mulai tu

    Ersis Warmansyah Abbas´s last blog post..Kiat Menulis: Pemicuan Ide

    Balas
  4. kimiyo

    Hisashiburi !
    Omedetou ne, Riku udah jadi anak SD !!! ^0^
    Oh jadi PTA no yakuin yaa..
    Memang nggak ada yang angkat tangan di Jepang biasanya.
    Tapi sebetulnya, lebi omoshiroi kalau ikut kegiatan seperti itu ya walaupun jadi sibuk.
    Chotto taihen sou dakedo ganbatte ne !

    Balas
  5. Muzda

    Gak kebayang Mb’, kalo di keamanan, patroli tiap senja ?
    HUff .. capek juga yaa 🙂

    Rasanya organisasi orang tua di sini, biasanya cuma terkoordinasi bila ada acara aja …
    Kaya’nya sih, pengalaman Tante 😀

    Muzda´s last blog post..Makan Budi

    Balas
  6. mang kumlod

    “Dan kalau ada cerita lucu kan bisa jadi bahan posting di TE hehehe.”

    Ini juga saya tunggu mba… 😀

    mang kumlod´s last blog post..My May Day

    Balas
  7. edratna

    Wahh Imel, selamat…..dan tentu akan makin memahami budaya dan kebiasaan di sekolah SD. Dan ceritanya pasti ditulis disini ya?
    (berharap….:P)

    Dulu, saat anak-anak SD, saya lagi sibuk2nya, jadi malah suami yang sering datang ke acara pertemuan guru dan orangtua murid. Nanti saya ke rumah wali kelas pas hari Sabtu atau Minggu. Dan rasanya sampai SMP, saya tahu rumah guru2nya anakku, terutama guru si sulung yang suka usil dan banyak tanya itu

    edratna´s last blog post..Gara-gara sate

    Balas
  8. Daniel Mahendra

    Kirain di Indonsia aja orang pada segan dan ambil aksi sungkan kalau ada tawaran pemilihan pengurus seperti itu. Rupanya di Jepang ada juga pola seperti itu ya.

    Memang sih, mesti mempertimbakan ketersediaan waktu juga. Tapi kalau aku ada di sana (Lha siapa anakku ya? Haha), aku langsung tunjuk tangan. Jadi pengurus di sekolah Jepang di mana anaknya ada di sana, wih… kan seru 😉

    Daniel Mahendra´s last blog post..Haruskah Pergi?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *