my journey from dawn to dusk

5:30

Setiap hari, kecuali hari Rabu, saya menitipkan Kai di penitipan sampai jam 6 sore. Kebetulan sekali saya setting mulai dari jam 8 pagi sampai jam 18:00 untuk  4 hari seminggu sejak bulan April.  Sehingga begitu ada telepon dari Paulo Berwanger, mantan rekan penyiar radio InterFM, yang juga CEO nya Praia KK, yang menawarkan pekerjaan terjemahan sebanyak 200 halaman, langsung saya OK-in (tanpa menanyakan deadlinenya kapan … stupid hehehe) .

Riku biasanya berangkat dari rumah pukul 7:45 , mampir ke rumah Fuuka chan jemput dia, atau jika ada sempai (kakak kelasnya) yang lewat di jalan, dia mengikut dari belakang. Nah saat itu juga Kai bersikeras untuk pergi ke luar… sibuk mengambil kutsu くつ (sepatu) dan kutsushita くつした (kaus kaki) , sambil marah-marah minta dipakaikan. (Anak ini benar tidak sabaran deh hihih). Jadi pukul 7:45 itu Riku, Kai dan saya keluar rumah dan pergi ke tujuan masing-masing. Setelah antar Kai ke penitipan saya kembali lagi ke rumah dan bekerja di rumah atau ke universitas kalau hari Jumat.

Nah biasanya pukul 5:30 sore saya berangkat dari rumah naik sepeda ke arah stasiun untuk menjemput Kai. Ada suatu tanda yang membantu saya mengingatkan bahwa sudah jam 5:30 sore. Yaitu sebuah bel dengan alunan lagu yang dikumandangkan ke seluruh wilayah Nerima-ku (mungkin, tapi yang pasti di daerah saya ya. Dan dulu di Meguro saya juga pernah dengar, rupanya tergantung pemdanya) . Serentak disampaikan pengumuman sebagai berikut:

“Yoiko no minasan, go jihan ni narimashita. Soto de asondeiru kodomo wa ouchi ni kaerimashou” . 良い子の皆さん、五時半になりました。外で遊んでいる子どもはおうちに帰りましょう。

artinya begini,

“Anak-anak yang baik, sudah jam setengah enam sore. Mereka yang masih bermain di luar, pulanglah ke rumah”.

Pengumuman ini terdengar sampai di seluruh pelosok karena pakai pengeras suara yang dihubungkan ke kantor kelurahan Kuyakusho 区役所. Selain sebagai pengingat bagi anak-anak, juga menjadi semacam alarm bagi semua warga. Memang di Jepang biasanya makan malam mulai jam 6 (bagi yang punya anak kecil).

Satu lagi keuntungannya dengan adanya pengumuman ini adalah bahwa pengeras suara itu masih bekerja dengan baik, sehingga jika terjadi gempa bumi besar, dan perlu mengumumkan kebijakan pemerintah daerah, pengeras suara ini terbukti bisa dipakai. Saya juga pernah memang mendengar suatu pengumuman penting (meskipun lupa tentang apa) yang disampaikan lewat pengeras suara ini. Kadang ada juga latihan menghadapi bencana alam lewat pengeras suara ini.

Jadi kalau di Indonesia biasanya saya mendengar suara azan subuh dan magrib dari mesjid terdekat, atau lonceng gereja setiap pukul 12 siang, kalau di Jepang hanya mendengar bell dan pengumuman itu setiap pukul 5:30 sore saja. Pagi hari? tidak ada … paling-paling lonceng sekolah hehehe.

Satu lagi tatanan bermasyarakat di Jepang, yang saya rasa bagus dan berguna.



Category: Diary, Intermezzo, LIVING

22 Comments to “5:30”

Add Comments (+)

  1. Fanda berkata:

    Bagus jg ya sistemnya dn sangat berguna bg orang tua yg anak2nya suka main di luar. Ga usah repot2 manggil pulang.
    Have a nice day!!

    Fanda´s last blog post..Tinjauan The Long Tail: Saatnya Niche Market Berkuasa

  2. AFDHAL berkata:

    wah asyiknya hidup dengan tatanan system yang rapi seperti ini…
    bisa gak ya diindonesia membuat sistem seperti ini..
    hmmmm, kayaknya harus mulai dari diri sendiri deh 🙂

    AFDHAL´s last blog post..Hallooo

  3. sibaho way berkata:

    bicara sistem, jepang jagonya. di pabrik saja, sampe kita lupa budaya kita sendiri karena semua sistem sudah ‘jepang abis’ 😀

  4. vizon berkata:

    satu lagi kebiasaan kita di indonesia, mengumumkan kematian melalui corong masjid… hehe…

    nah, ini yg bagus, menyuruh anak2 pulang pada saat sore hari. di indonesia, tidak ada tuh yg peduli, terpulang ke orangtua masing2 buat nyuruh anak pulang. dilemanya, ketika kita menyuruh anak kita pulang, anak yg lain masih berkeliaran di luaran, sehingga anak kita punya alasan untuk tidak mau pulang, yaitu temannya masih banyak main di luar… huh… susahnya… 🙂

    kayaknya ide ini bagus juga nih… nanti coba saya sampaikan dalam acara parenting di komunitas ibu2 kweni, siapa tau bisa diterapkan… 🙂

    vizon´s last blog post..ijazah

    Waaaah uda…. saya rasa mustinya bisa, apalagi kan ada mesjid di situ, bisa digunakan juga, ditentukan saja waktunya jam berapa. Kalau ngga salah dulu pernah ada usul pemberlakuan jam malam, jadi di atas jam tertentu anak-anak tidak boleh berkeliaran di luar. Di sini yang ditekankan, anak-anak harus tidur cepat dan bangun cepat. Riku tidur jam 8 (max jam 9) bangun max jam 6 pagi.

    semoga berhasil Uda.

    EM

  5. DV berkata:

    Mending di Jepang, di Australia sini tidak ada tanda sama sekali. Tau-tau sudah jam sekian dan hari ke sekian dalam satuan minggu.

    Kadang aku jadi rindu Indonesia salah satunya karena melawan rasa sepi ini. Rindu suara beduk, lonceng gereja, dan adzan 🙂

  6. achoey berkata:

    Jepang memang beda ya sahabat
    Tapi kau benar2 bisa beradaptasi dengan baik di sana

  7. Heryan Tony berkata:

    Pengalaman menarik.

  8. Eka Situmorang-Sir berkata:

    Bagaimana ya org Jepang itu bs dpt tatanan rapi begitu? Btw mbak EM kira2 si Kai gak sabaran niru siapa ya? 😉 hehehe

  9. G berkata:

    Wah wah, kagum banget saya sama Jepang, benar2 sangat teratur dan sangat detil memikirkan segala sesuatu. Nampaknya bagi mereka anak2 itu sangat penting ya? Memang sangat baik untuk ditiru, coba saja bisa meniru kerapihan dan ketertiban masyarakat Jepang, pasti Indonesia jadi jauh lebih baik. Jauuuuuuuh!!!

    G´s last blog post..Selamat Pagi, Hari Yang Baru!

  10. genthokelir berkata:

    walah sistematis sekali yah
    saluttt dan sukses selalu

    genthokelir´s last blog post..Jual Kambing Etawa

  11. cindy berkata:

    Senang betul hidup dengan tatanan yg teratur seperti itu ya mbak, semuanya jd bisa direncanakan.Pekerjaan dan mengurus anak2 menjadi lebih mudah. Anak2ku punya jam pulang main sore, yaitu pd saat mulai terdengar org mengaji di mesjid, setengah jam sebelum maghrib.

    cindy´s last blog post..Janji

  12. hanif berkata:

    Semoga suatu saat kota-kota di Indonesia juga bisa seperti itu y, hm..pasti menyenangkan bisa melihat kota yang teratur tertata.

    salam kenal

  13. Didien® berkata:

    Di indonesia msh sulit kalo harus mengadopsi sistem di jepang ini..lha org tuanya aja kadang2 asik ngrumpi sendiri,sementara anaknya liar entah kmn?hehe..*lieur*

    Salam ^_^ utk bunda

  14. Septa berkata:

    Tatanan masyarakat jepang memang teratur dan sistematis..
    Tapi tetep aja kesemrawutan jakarta bikin kangen kan mbak hehe 🙂

  15. muzda berkata:

    Hhee …
    Kalo di sini, adzan juga berubah-rubah jamnya, tergantung bulannya ..
    Apa lagi pas puasa,, adzan magrib rasanya lamaaa banget nunggunya, adzan subuh malah rasanya kecepetan,, hehee ..

    muzda´s last blog post..Rambut Boleh Sama Hitam ….

  16. Oemar Bakrie berkata:

    Saya dididik oleh orang-tua untuk selalu sholat maghrib bersama di rumah. Otomatis sebelum jam 5.30 atau 6 sore harus sudah ada di rumah. Waktu itu kami masih kecil dan belum banyak aktivitas di luar selain sekolah. Meski begitu ketika mulai beranjak remaja dan sudah banyak aktivitas-pun karena sudah kebiasaan kami berusaha untuk selalu pulang ke rumah saat menjelang maghrib. Sekarang sudah kerja-pun saya hampir pasti saya sudah pulang sebelum maghrib (kecuali kalau sedang ke luar jkota tentunya). Kerja bisa diteruskan lagi di rumah terutama setelah anak-anak tidur …

    Oemar Bakrie´s last blog post..Metamorfosa makanan dan minuman jadul

  17. 1nd1r4 berkata:

    Pake kentongan kalau di kampung2 ya mbak..cuma ga mungkin sekeras itu kecuali sekampung pada mukul kentongan semua..heheh 🙂

    1nd1r4´s last blog post..Belajar dari pembalut wanita…

  18. mang kumlod berkata:

    Wah pengumuman kek gitu belum saya temukan di dorama. Hm… aneh juga, harusnya ada loh. Ga bisa gitu (hahaha… keukeuh mode ON)

    mang kumlod´s last blog post..Jangan Senang Dulu!

  19. Daniel Mahendra berkata:

    Wooo… ini yang menarik di Jepang. Walau negara sudah maju, tatanan masyarakat sudah sedemikan rupa, masih lagi mempertahankan pakem-pakem semacam itu. Terasa lebih manusiawi. Bayangkan, sampai soal anak-anak pun ada pengumumannya secara massal.

    Daniel Mahendra´s last blog post..Harga Sebuah Kewarganegaraan

  20. edratna berkata:

    Wahh Imel…menarik sekali…
    Jadi ingat, saat anak-anak kecil, harus pulang dari bermain sebelum “candik ala” (langit merah menandakan mau Magrib, yang dipercaya banyak setan keluar).

    Ternyata di Jepang malah ada koncengnya ya…

    edratna´s last blog post..Sebuah pilihan

  21. Ade berkata:

    Wew.. Jepang disiplin banget ya mbaa.. patut ditiru nih.. di sini anak2 masih berkeliaran rumah walopun dah malem hari palagi musim semi dan udaranya dah mulai anget..

    Ade´s last blog post..I’m back

  22. Retie berkata:

    lagi – lagi kapan ya Indonesia begitu?

    kalo di komplekku jam 5.30 sore yang ada teriakan para ibu neriakin anak-anaknya yang pada main di lapangan hehehe kebetulan lapangannya di depan rumahku hehhehe 🙂

Trackbacks/Pingbacks

  1. Twilight Express » Blog Archive » Ritual Malam
Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

yang mau cari-cari

yang bersahabat