RSS
 

Archive for Mei, 2009

Menyetir di Jepang

31 Mei

Pertama kali saya datang ke Jepang, a long long time ago, saya mendapatkan lalulintas Jepang yang…. tenang dan dewasa (uhuy). Terbiasa dengan lalulintas di Jakarta, saya agak kaget dengan perbedaan yang mencolok. Mobil-mobil yang berseliweran itu kebanyakan berwarna putih/silver. Jarang sekali saya melihat mobil berwarna-warni merah, biru, hijau dll. Ya mungkin kebetulan saja, atau jaman itu orang-orangnya belum begitu “ekspresif”. Karena sekarang cukup banyak mobil berwarna dibanding tahun waktu saya datang pertama. Selain warna mobil, yang pasti beda dengan mobil di Indonesia adalah soal kaca jendela yang tidak rayban. Kalau di Jakarta sedapat mungkin pakai kaca film 70% lebih , tapi di sini hampir tidak bisa dijumpai yang sehitam di Jakarta. Kalaupun ada biasanya mobil itu putih, disupiri pemuda berkacamata hitam dan bertirai putih renda di dalamnya. Nah biasanya ini mobil milik geng yakuza. Katanya sih dulu ada nomor tertentu di plat nomornya, tapi waktu aku tanyakan pada gen dia tidak tahu.

Selain faktor fisik mobilnya, ada lagi yang lain, yaitu tidak terdengarnya klakson mobil. Mereka hanya mengklakson JIKA DARURAT. Tidak ada ketergesaan, salip-menyalip, dan yang pasti belok kanan harus setelah jalur lawan selesai lewat. Kecuali memang kosong atau diberi “beam” oleh pengemudi di jalur lawan. WAHHHH masalah “beam” atau lampu besar yang terbalik dengan di Jakarta ini benar-benar membuat saya pusing awalnya. Kalau di Indonesia orang memberikan lampu “beam” berarti… “SEENAKNYA AJE LU, JANGAN MASUK GUE MAU LEWAT!” , sedangkan di Jepang, “MONGGO JENG, kamu masuk duluan aku tunggu…..”. Sehingga awal-awal menyetir saya masih suka bengong kalo di beam, sampai berkali-kali dibeam  baru “ngeh” dan jalan…. tak lupa mengangkat tangan mengucapkan terima kasih.

Kondisi ini juga sama jika kita ingin masuk dalam antrian. Dan tak lupa setelah diberi jalan, biasanya kita menyalakan “lampu hazard” 2-3 kali sebagai isyarat “arigatou–terima kasih”. Pertama saya tidak mengerti kenapa setiap mendapat jalan, Gen, suamiku selalu menyalakan lampu hazard itu. Baru setelah dia jelaskan bahwa itu “etika berkendara” saya juga selalu berusaha menyalakan hazard untuk menyatakan terima kasih. Kecuali kalau terburu-buru, daripada bingung ya bisa beri klakson ringan satu kali. Lampu Hazard juga dipakai jika tiba-tiba mendadak terjadi kemacetan/antrian di highway supaya mobil di belakang kita “alert” dan berhati-hati sehingga tabrakan beruntun dapat terhindari.

Pejalan kaki diutamakan, jadi tidak ada tuh yang “bablas” Zebra Cross jika ada yang mau menyeberang. Mobil harus menunggu pejalan kaki. Sangat senang melihat anak-anak SD yang imut-imut menyeberang sambil mengangkat tangan kanannya. Pertama saya pikir kenapa harus angkat tangannya ya? Lalu teringat…. mereka kan masih pendek, kalau-kalau tidak terlihat jadi lebih baik angkat tangan. Selain itu di badan mereka pasti ada warna kuning sebagai alert. Entah di ranselnya atau topinya.

Pokoknya menyetir di Tokyo itu harus sabar, alon-alon penuh perhitungan. Karena kondisi jalan yang sempit, berkelok-kelok, apalagi dekat stasiun yang banyak pejalan kaki dan pengendara sepeda… wadaw deh. Belum lagi di jalan besar perasaan setiap  500 meter ada lampu merahnya… huh… Kalau sekali sudah terjebak lampu merah, biasanya berikutnya dan berikutnya juga pasti akan bertemu lampu merah hihihi. Apalagi kalau musti berada di belakang pengemudi amatir yang menggunakan tanda “hijau” yang disebut wakaba mark (melambangkan musim semi? wakaba= daun muda…. hihihi masih ijo gitu) dan pengemudi lansia yang mengunakan tanda “merah” yang disebut momiji mark (melambangkan musim gugur… udah mau gugur?….hiiiii).

(Lambang daun hijau dan daun merah ini ditempelkan pada mobil di tempat yang mudah terlihat depan belakang)

Yang sering menjadi pertanyaan adalah berlakukah SIM Internasional di Jepang? Hmmm saya sendiri tidak pernah pakai SIM Internasional, jadi lebih baik ditanyakan di Jakarta sebelum ke Jepang. Tapi menurut saya akan sulit sekali menyetir di Jepang tanpa tahu bacaan Kanji, atau paling sedikit lambang-lambang kanji yang dipakai dalam berlalu lintas. Memang ada car-navigation yang berbahasa Inggris, tapi mencari mobil dengan car-navi yang berbahasa Inggris di rental car juga cukup sulit.

Saya sendiri menukar SIM A Indonesia saya tidak lama setelah tinggal di Jepang (itu berarti miminal 15-16 tahun lalu…. ) . Waktu itu saya sempat tersandung di ujian praktek karena tidak memperhatikan kanji  徐行  dibaca JOUKO (aduuuh mas JOKO ini memang menyulitkanku saja) artinya harus berhenti dalam jarak 1 meter setelah menginjak rem atau kecepatan 10 km. Oleh petugas testing, saya disuruh ikut kursus lagi. No way lahhh, kursus mengendara di sini?  Minta ampun mahalnya… 300.000-500.000 yen. Nah solusinya, saya pergi ke Tempat Ujian yang lain di Samechu, Shinagawa. Di sana memang bagi pemegang SIM Indonesia bisa menukar tanpa test, cukup membawa paspor saja. (Mungkin karena di daerah ini banyak diplomat Indonesia). Jadi deh dalam sejam saya punya SIM Jepang, sampai sekarang memegang Gold Card (Pengendara teladan tanpa kesalahan)

Mas Joko yang menyandungku...

Mas Joko yang menyandungku

Tapi cara seperti saya itu tampaknya sudah tidak berlaku lagi. Jadi bagi yang mau menukar SIM Indonesia di Jepang harap mencari informasi yang lebih aktual seperti di sini.

Oh ya satu lagi tambahan, kalau mau menyetir di Tokyo, disarankan pakai mobil otomatis, jangan manual. Selain jalan banyak tanjakan (pegeeeeel deh) jalan juga sering macet, apalagi di jalan-jalan utama. Mobil kami sekarang adalah manual, sehingga saya harus siap mental dan jasmani jika mau nyetir ke dalam kota Tokyo atau ke Yokohama. Kalau Gen yang nyetir sih…. saya bobo hihihihi…

Sekarang saya malas nyetir karena sebelum pergi sudah harus bertengkar dengan supir baru yang cerewet ini

Sekarang saya malas nyetir karena sebelum pergi sudah harus bertengkar dengan supir baru yang cerewet ini

(Posting ini terinspirasi oleh tulisannya Mbak Tuti yang berjudul “Nyopir Ampe Mati“.  )

 

Topeng Monyet? BUKAN!

30 Mei

Waktu saya baru datang ke Jepang, saya sempat kaget waktu berjalan di daerah pertokoan, dan mendengar suara musik seperti topeng monyet. Tentu saja lebih berirama dan lebih lengkap, tapi pasti mengingatkan saya pada topeng monyet di Indonesia. Karena pertunjukan musik sambil berjalan yang ada di Indonesia hanyalah topeng monyet, bukan?

sumber: wikipedia japan

sumber wikipedia Japan

Tapi yang pasti orang Jepang akan marah kalau kita menyamakan Chindon-ya ini dengan topeng monyet. Karena Chindon-ya adalah artis terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan komposisi 3 atau 5 orang dengan pakaian kimono. Mereka membawa tetabuhan dan alat tiup dan berjalan ke sana ke mari. Untuk minta uang seperti pengamen jalanan?

Tidak! Tugas mereka adalah mempromosikan sebuah toko yang akan dibuka atau memanggil tetamu supaya datang ke toko tersebut. Kadang kala mereka akan membagikan selebaran/pamflet yang berisi keterangan toko. Memang kebanyakan toko yang memakai jasa chindon-ya ini adalah toko pachinko (semacam pinball).

Chindon-ya ini awalnya di Osaka pada akhir abad 19, dan sekarang sudah mulai jarang terlihat. Jika Anda sedang berlibur ke Jepang, dan masih berkesempatan melihatnya, pasti Anda beruntung!

 

Galaxy Express dan buku

29 Mei

Apa hubungannya Galaxy Express dengan Twilight Express? Twilight Express adalah jalur kereta pada kenyataan yang bisa kita naiki, dan berlari di atas rel di dunia ini. Sedangkan Galaxy Express ini adalah jalur kereta fantasi yang “terbang” di galaxy, yang tentunya hanya ada di dunia animation.

Bahasa Jepangnya adalah Ginga Tetsudo 999, 銀河鉄道999 sebuah anime atau film kartun mengenai perjalanan fantasi di galaxi andromeda untuk mencari badan mesin abadi. Cerita lengkapnya bisa dibaca di wikipedia sini, soalnya saya sendiri tidak mengikuti anime ini. Tapi yang saya tahu adalah bahwa Matsumoto Reiji, si pengarang anime ini tinggal di daerah rumah saya. Sehingga jalur kereta yang menuju stasiun rumah saya dan eki (stasiunnya) sendiri sering dihias dengan lukisan dan karakter dari Galaxy Express ini. Kebetulan Riku dan papanya hari Minggu lalu pergi ke Ikebukuro dan sempat berpotret dengan kereta yang dilukis dengan karakter Galaxy Express.

 

 Hari Minggu kemarin adalah hari kencannya Riku dengan papanya. Seperti biasa saya dan Kai tinggal di rumah, karena Kai sedang tidak begitu sehat alias batuk-batuk. Apalagi sejak virus Flu babi sudah mulai menyebar di Tokyo, sedapat mungkin menghindari tempat-tempat yang penuh kerumunan orang. (Dan sebetulnya hari Seninnya Riku sempat demam dan saya bawa ke dokter. Ternyata kena bakteri di tonsil – amandel- nya sehingga harus minum antibiotik selama 10 hari).

Tujuan mereka pergi ke Ikebukuro adalah pergi ke sebuah toko buku besar di sana.  Riku ingin sekali membeli ZUKAN 図鑑 picture ensiklopedia yang berisi gambar burung dan binatang. Biasanya kalau kami sudah tahu judul bukunya, kami memesan lewat amazon.co.jp dan buku akan diantar keesokan harinya. Tapi Gen lebih suka pergi dan melihat sendiri di toko buku bersama Riku. Memang lebih asyik pergi ke toko buku langsung, tapi dengan resiko (BESAR)  ”tergoda” membeli juga buku yang lain, bukan? Seperti Mang Kumlod yang berencana beli satu buku “Black Swan” di gramed gara-gara ada 30% diskon dan berdoa semoga tidak tergoda beli yang lain…. hehehhe.

capek berjalan di toko buku

capek berjalan di toko buku

Sebetulnya Riku sendiri punya gift-card “BUKU” seharga kira-kira 5000 yen, hadiah waktu dia masuk SD. Sehingga tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk membayar buku. Tapi waktu dia memasuki toko buku, seperti mamanya (cihuy) matanya jatuh pada buku yang mahal (mata mahal katanya). Picture encyclopedia itu seharga 1900 yen satu, sehingga kalau beli 3 jenis sudah melebihi anggaran. Lagipula isinya lengkap sekali untuk mahasiswa pun bisa. Untuk Riku tidak perlu sebagus itu, karena pasti akan cepat rusak…. maklum anak-anak. Jadi papanya mengajak mencari yang lain. Terbelilah 3 buku, dan 2 picture book pilihan Riku dan Papanya. Tapi untung mereka masih ingat mamanya yang kesepian di rumah, dan sebetulnya punya “wishlist” picture book yang “Skeleton Hiccups” itu. Jadi, dibelikan deh ….asyiiiikk…

Langsung mengambil crayon dan mulai menggambar

Langsung mengambil crayon dan mulai menggambar

Sesudah sampai di rumah Riku langsung membuka picture encyclopedia mininya dan mulailah dia menggambar. Memang tujuan dia membeli buku itu untuk dijadikan contoh menggambar. Lihat tampangnya sudah seperti artis kan?

Dan mamanya Riku langsung membaca Picture Book yang berjudul “Tengkorak Cegukan” shakkuri gaikotsu しゃっくりがいこつitu dalam 3 menit hahahaha. Memang lucu sih. Bayangin saja kalau tengkorak yang cegukan mau menghentikan cegukannya? Kalau manusia menghentikan cegukan bagaimana? Di sana disarankan minum air, atau makan gula, atau menekan sudut mata…. jadi bayangkan saja jika tengkorak yang berbuat begitu. Ya tidak bisa kan? Jalan keluar terakhir adalah membuatnya terkejut. Dan akhirnya memang si Tengkorak bisa terkejut dengan…… melihat mukanya sendiri di cermin. hahahaha….. Nonsense!!!!!

panen buku

"panen" buku

Tapi untuk anak-anak justru cerita nonsense itu yang disukai/digemari. Ternyata Picture Book lain yang dibeli juga cerita nonsense. Yang pertama adalah Suteki na sannin gumi すてきな三人ぐみ ”The Three Robbers” karangan Tomi Ungerer. Tentang 3 orang perampok bermantel dan bertopi hitam yang mengumpulkan harta hasil rampokan tapi tidak tahu untuk apa. Mereka terbuka matanya karena ditanya oleh seorang anak perempuan yang mereka culik, “Untuk apa harta sebanyak ini”. Jadi mereka bertiga dan si anak perempuan membagi-bagikan harta itu kepada orang miskin dan sisanya dibelikan sebuah kastil. Mereka tinggal di sana, dan banyak anak yatim piatu yang dititipkan di sana, sehingga akhirnya setelah bertahun-tahun daerah sekeliling kastil itu menjadi sebuah desa yang bertopi dan mantel merah untuk menghormati 3 perampok itu.

Satu lagi Picture Book karangan orang Jepang berjudul Kyabetsu kun キャベツくん (Si Kubis). Cerita diawali dengan Babi yang ingin makan si Kubis. Tapi Kubis berkata, “Kamu jangan makan saya nanti kamu jadi Kubis”, dan di awan tergambarlah Babi yang bertranformasi menjadi kubis. Percakapan dilanjutkan dengan bermacam-macam binatang, sehingga Babi menjadi takut melihat gambar di awan itu. Tapi Si Kubis baik hati sehingga akhirnya mengajak Babi yang lapar itu pergi ke restoran.

Nonsense…. tapi penuh imajinasi. Dan bukankah anak-anak perlu imajinasi sehingga bisa menjadi orang dewasa yang bercita-cita?

Tidak henti-hentinya saya juga mengajak orang tua untuk membacakan buku cerita pada anak-anaknya yang belum bisa membaca. Dan memang hobi keluarga kami mengumpulkan Picture Book. Kebiasaan membaca harus ditanamkan sejak balita.

Saya mau mengutip pernyataan dari Pak Eka Budianta, sempai (senior) saya di Sastra Jepang UI, yang beliau muat di FB:

Eka Budianta: Mengherankan. Kegemaran membaca berbanding lurus dengan kemakmuran bangsa. Begitu juga kesadaran lingkungannya. Semakin suka membaca, semakin cinta lingkungan, semakin makmur masyarakat. Jadi bukan kaya dulu baru membaca dan cinta lingkungan. Justru dengan rajin membaca dan mencintai lingkungan, suatu bangsa bisa belajar untuk hidup cerdas, makmur dan berkelanjutan.

Mari mbaca yuuuk

 

 

 

 

Tidur Cepat, Bangun Pagi dan Makan Pagi

28 Mei

Ini adalah kampanye dari Departemen Pendidikan Jepang kepada pelajar di Jepang, serta orang tua mereka. “Hayane, Hayaoki, Asagohan 早寝早起き朝ごはん”。 Sudah sejak Riku di penitipan anak (hoikuen) 保育園 saya mengetahui slogan ini. Waktu itu baru mulai digembar-gemborkan. Tapi kondisi waktu itu tidak memungkinkan bagi saya untuk menjalaninya. Karena saya masih sering pulang mengajar larut, sehingga Riku baru pulang sampai rumah jam 9 malam bersama papanya. Saya sendiri sampai rumah jam 10 malam, masak 30 menit, makan 30 menit, dan tidur jam 11:30- 12:00an. Jadi Riku terbiasa tidur larut, meskipun bangun paginya juga tidak terlalu lambat (paling lambat jam 8 sudah bangun).

Tapi sejak Riku masuk TK, saya berhenti mengajar semua kelas malam. Sehingga Riku bisa tidur pukul 8-9 malam, dan bangun pukul 6-7 pagi keesokan harinya. Karena harus membawa bento (bekal makanan) di TK, maka sekaligus saya persiapkan makan pagi untuk dia, dengan menu yang sama dengan apa yang dibawa.

Simbol slogan Tidur Cepat, Bangun Cepat dan Makan Pagi

Simbol slogan Tidur Cepat, Bangun Cepat dan Makan Pagi

Kenapa sih Departemen Pendidikan Jepang sampai harus mengumandangkan slogan ini? Pertama, adanya kenyataan bahwa jumlah kejahatan anak dan remaja yang semakin serius. Misalnya pada tahun 2004 terdapat 134,852 kasus kejahatan anak/remaja. Selain itu dirasakan ritme kehidupan anak-anak yang semakin “ngawur”. Misalnya balita yang tidur sesudah pukul 10 malam, jumlahnya semakin bertambah. Dalam survey tahun 1990 diketahui bahwa jumlah yang sebesar 31% itu, 10 tahun kemudian (2000) menjadi 50%.  Jumlah murid SD/SMP yang tidak makan pagi juga dibandingkan 5 tahun sebelumnya terlihat pertambahan yang mencolok. Misalnya data tahun 1995 menunjukkan 13% murid SD dan 19% murid SMP tidak sarapan pagi, sedangkan pada tahun 2000 jumlah itu menjadi 16% dan 20%. Padahal dari survey diketahui bahwa murid yang selalu makan pagi, test/ujiannya cenderung mendapat nilai yang tinggi.

Dari berita NHK yang saya tonton seminggu lalu, juga dibahas tentang kegiatan kampanye “Tidur Cepat, Bangun Pagi dan Makan Pagi” ini.  Berdasarkan suatu survey, anak-anak yang tidak bersemangat (malas-malasan) ternyata 9% dari mereka selalu makan pagi setiap hari, sedangkan 38% tidak makan pagi. Hal ini juga terjadi pada anak-anak yang bertempramen “cepat panas, jengkel/kesal”. Ketika ditanya apakah kamu sering merasa jengkel/kesal, maka didapat jawaban 32% dari mereka itu tidak makan pagi, dibandingkan 18% dari mereka yang makan pagi setiap hari. Jadi makan pagi ternyata berpengaruh pada semangat dan kepribadian anak-anak. (Selain itu ada juga survey mengenai makan bersama keluarga atau makan sendiri… ternyata makan bersama keluarga itu lebih baik daripada makan sendiri —- ya memang semestinya begitu sih)

Jadi, sekarang pun saya selalu menyiapkan makan pagi untuk Riku sebelum dia berangkat ke sekolah pukul 7:45. Meskipun saya sudah tidak usah menyiapkan bento (bekal makanan) lagi.Wah tidak usah menyiapkan bento ini merupakan suatu “anugerah” buat saya. Pusing juga loh memikirkan isi bento itu. Karena harus memikirkan keseimbangan gizi/vitamin , dan faktor “keindahan” (supaya mau dimakan —untung Riku makan apa saja) dan “kepraktisan” (tidak bisa memasukkan masakan yang berkuah dalam bento itu).

Sekitar pukul 12:20 sampai 13:00 sesudah jam pelajaran ke 4, disediakan makan bersama di sekolah yang namanya kyushoku 給食. Karena sekolah Riku adalah sekolah negeri, maka yang memasak di dapur sekolah itu berada dibawah (dipekerjakan oleh)  pemerintah daerah. Sebetulnya hari Rabu kemarin, saya bisa mencoba makanan yang disajikan kepada anak-anak itu. Tapi karena kemarin ada rapat/kegiatan PTA dari pagi dan setelah itu saya harus cepat-cepat menjemput Kai di penitipan, maka saya tidak bisa mencoba makanan murid SD itu. Tapi bau kare yang enak (karena mild saya tidak merasa keberatan karena pada dasarnya saya tidak suka makan kare) yang dipersiapkan di dapur itu memenuhi satu gedung sekolah. Dan bau itu cukup menggugah perut yang lapar.

Menurut Riku sih makanan yang disajikan setiap hari sekolah (Senin-Jumat) ini enak. Selain makanan utama juga ada buah/kue dan susu. Jadi setiap hari Riku juga minum susu di sekolah. Bahkan pada tanggal 25 kemarin, dengan riangnya pulang ke rumah dan mengatakan, “Mama tadi kyushokunya dessertnya cake loh…enak!” Dalam hati saya pikir, mentang-mentang tanggal 25 adalah hari gajian (di Jepang kebanyakan hari gajian adalah tgl 25), jadi makanannya juga istimewa hihihihi.

Petugas kyushoku harus memakai baju ini, dan tugas ini berlaku selama satu minggu. Pada hari jumat, pakaian ini dibawa pulang untuk dicuci dan dibawa kembali ke sekolah seninnya.

Petugas kyushoku harus memakai baju ini, dan tugas ini berlaku selama satu minggu. Pada hari jumat, pakaian ini dibawa pulang untuk dicuci dan dibawa kembali ke sekolah seninnya.

Murid-murid itu makan di mana? Tentu saja makan di kelas masing-masing, karena tidak ada ruang makan khusus. Masing-masing anak setiap hari harus membawa alas piring dan serbet untuk melap mulut. Lalu setiap kelas mempunyai daftar petugas kyushoku. Murid-murid yang bertugas itu bersama gurunya akan mengambil sebuah meja dorong yang berisi panci nasi, sup dan lauk yang sudah diatur oleh pemasak. Jadi ada yang bertugas membagi nasi, membagi sup dan lauk. Juga jika ada sisa, bagi yang mau tambah masih bisa. Awal-awal Riku masuk SD, dia sering melapor pada saya bahwa dia menambah makanan waktu kyushoku (oi oi, jangan banyak-banyak ntar gendut hihihi)

meja dorong berisi nasi, sup dan lauk pauk

meja dorong berisi nasi, sup dan lauk pauk

Makan yang sama bersama teman-teman, bertanggung-jawab pada tugas masing-masing, menghabiskan makan tanpa ada suka/tidak suka pada makanan, banyak sekali manfaat dari kyushoku ini (selain meringankan tugas ibu menyiapkan bekal). Memang SD di Jepang itu gratis, tidak bayar uang sekolah, tapi untuk makan kyushoku ini kami harus membayar 4.358 yen (kelas 1 SD) setiap bulannya. Dengan perincian 1 tahun makan 198 kali, satu kali makan 227 yen. Yang pasti tidak bisa membeli makanan di restoran seharga 227 yen dengan keseimbangan nutrisi yang diperhatikan. Cara bayarnya dengan transfer otomatis dari rekening pos. (Jangan disangka tidak ada yang tidak mau membayar juga loh. Akhir-akhir ini banyak kejadian orang tua tidak mau membayar kyushoku bukan karena tidak bisa membayar tapi karena tidak mau membayar. Sehingga pemerintah daerah harus menutupi biaya tersebut dari pemasukan pajak warga. )

Well memang tidur cepat, bangun pagi dan makan pagi merupakan kebiasaan yang sangat baik untuk menuju hidup sehat.  BTW, hari ini sudah makan pagi belum?????

28-5-2009-12:12

 

6666 dan lain-lain

26 Mei

Pagi hari di Minggu yang agak mendung. Aku membuka dashboard WP ku setelah beberapa jam sebelumnya membuat tulisan baru mengenai “Singkat-menyingkat”. Selama ini aku selalu perhatikan jumlah pengunjung yang hadir sudah berapa tapi baru pagi itu aku sadar bahwa angka komentar sudah menunjukkan angka 6660. Wow, 6 komentar lagi akan menjadi 6666…. angka bagus kan tuh. Kalau tiga berderet memang “mengerikan” katanya (buat saya sih tetap saja angka heheheh). Tapi ini 6 nya ada empat kali. Kapan lagi nih bisa begini…. Dan bisa tidak ya tertangkap mataku siapa komentator ke 6666.

Aku jadi teringat Uda Vizon juga sempat menangkap angka 1000 untuk komentar di dashboardnya. Aku jadi membayangkan itu kebetulan sekali Uda pas menangkap saat-saat bersejarah itu, atau ditungguin ya? Soalnya terus terang, setelah pagi itu aku menemukan tinggal 6 komentar lagi ke angka cantik itu, aku tak bisa beringsut dari tempat dudukku. Datang Pak Oemar Bakrie, lalu Bu Enny…. yaaah saya pikir coba tunggu siangan lagi bu, pak hehehhe. Lalu Fanda dan Hastu…. sayang sekali Anda kurang beruntung! Yang lucunya di angka 6665, datanglah Mang Kumlod…. tapi dia sempat istirahat sebelum menuliskan komentar lagi (sampe 2 jam istirahatnya …coba langsung dapet deh Mang hihihi)

Akhirnya angka 6666 jadinya diisi Daniel Mahendra. What a coincidence, mungkin gara-gara aku pasang link ke blognya dalam posting terakhir, jadinya dia bertandang ke tempatku. Padahal kan dia lagi “hiatus”. So,…. selamat ya DM … tadinya aku pikir untuk sang komentator ke 6666 akan aku kirimi Picture Book bahasa Jepang aja. Karena biarpun bahasa Jepang kan Picture Book tetap bisa dimengerti (ya kalau perlu aku kasih terjemahannya di kertas lain). Tapi berhubung yang “juara” adalah DM, maka saya ganti aja ya…Picture Book nya dengan buku yang pasti dia suka, yaitu Bukunya Pramoedya Ananta Toer yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Jepang berjudul “Gerira no Kazoku” (Keluarga Gerilya) .

Mumpung lagi nulis tentang “blogthing” gini, sekalian deh aku mau meneruskan award yang aku terima selama ini. Minta maaf kalau sempat “terpendam” cukup lama di gudang. Sampai musti bongkar gudang, bersin-bersin karena alergi debunya yang sudah bertumpuk tuh. Maaf beribu maaf.  Bukannya saya tidak suka loh dapet award dari sahabat-sahabat blogger… tapi yang sulit itu kan meneruskannya hehehe (rakus banget deh si imelda maunya simpen sendiri).

Jadi saya deretkan saja ya awardnya di atas rak TE, silakan dipandangi dan ditimang-timang.

Award-award itu aku dapat dari sahabatku (berdasarkan tanggal penerimaan aja ya):

1. Ria , si pintar dalam postingan berjudul “Fabulous“, tanggal 5 April 2009.

2. Award yang sama: Fabulous dari si pencinta buku Fanda, dalam postingan berjudul Lingkaran Persahabatan, tanggl 17 April 2009.

3. Dari si penyiar  Lia Christie sekaligus dua,  i luv you blog sambil naik vespa. Bisa dibaca di postingannya “Award untuk blog favoritku“, tanggal 17 April 2009.

4. Si Seksi Eka, dalam postingan “Mungkinkah ini yang pertama?“. Beratnya ini judule “international award”. Lah blogku bahasa Indonesia jeh.

Kayaknya udah bongkar gudang sampai ke sudut-sudut, sudah habisin tissue kotak (bukan TISSUE WC) sampai 1 dus dan kayaknya udah ngga ada yang ketinggalan deh. BUT, kalau sampai ada yang merasa ngirim tapi belum ditaruh di atas Rak nya TE, mohon maaf, dan tulung ingatkan saya ya.

Nah katanya (menurut UU perblogeran), award-award ini harus diteruskan, dan masing-masing ada rule/ aturannya. Tapi karena udah capek ngeluarin ing*s (hiiii jorse deh) bikin sendiri deh rulenya. Ada yang musti diteruskan ke 7 orang, ada yang 10 orang. Bisa dibaca  rulenya di blognya pemberi hadiah ini, biar sekalian blogwalking ya….

Nah saya mau memberikan award ini kepada sahabat-sahabat saya, yang beberapa masih “niuwbee” dalam dunia perblogeran. Silakan ambil aja deh award yang kamu-kamu pada suka ya…. (dan dirinya merasa pantes ngga  pake …loh kok pake sih… majangin award itu di rak rumah mayanya masing-masing) . Saya juga tidak mau membebani sahabat-sahabat dengan kewajiban untuk meneruskan tradisi ini. Mau dikasihken yang lain juga boleh, mau masukkan gudang juga boleh…. asal please… jangan dijadiken gayung untuk c***k hihihi.

1. Hilda.  Waaah si Hilda ini hebring loh. Meskipun sedikit yang komentar di blognya dia, tapi semangatnya untuk nulis itu loh. Apa juga ditulis! Dan Hilda mengingatkanku waktu aku pertama-tama ngeblog… kalo bisa daftar belanjaan juga ditulis. Suer!!! Tapi aku rasa, yang penting semangat dan konsisten menulis yang sangat penting dalam ngeblog, atau menulis diary online. Karena menurut saya daftar belanjaan pun bisa jadi berguna untuk yang kebetulan sedang mencarinya. Baca deh postingan dia terakhir tentang “Blogwalking Pattern” atau sebelumnya tentang “Kosongkan Gelas“. Postingan dia kebanyakan pendek-pendek tapi mengena. Dan dia juga memperkenalkan tempat tinggalnya di Batam sana dengan detil. So, yang butuh informasi tentang Batam, bisa kunjungi blognya ya. Dear Hilda, keep blogging ya…. aku selalu intip blog kamu kok.

2. Krismariana. Hmmm kalau soal menyusun kalimat Kris ini sudah profesional deh. Di profilnya dia menulis begini, “seorang penerjemah dan editor lepas. suka menulis walaupun tulisan curhat biasa.”  Aku senang sekali membaca tulisannya yang sudah dibukukan berjudul  Knock… Knock… “Are you there, God?”, yang dikirimkan khusus ke alamat rumah saya di jakarta, waktu saya pulkam Maret lalu. Sayang belum sempat kopdar dengan Kris.  Tulisannya juga kerap dimuat di situs kristen Glorianet.org. Akhir-akhir ini bisa baca kerinduannya untuk pulang kampung dengan posting-posting yang menceritakan rumah dan masa lalunya.

3. Cindy. Ibu Dokter yang baru mulai blogging setelah disertasinya selesai. Istrinya Mas Nug ini meskipun “baru” tanggal 22 Maret menulis posting di “Sentuhan Jemari“, isinya daleeeemm bo. Postingan terakhirnya benar-benar menggambarkan betapa wonder-woman yang sibuk seabreg-abreg juga butuh waktu untuk diri sendiri. “Me and My Time“.  Gara-gara baca postingan ini, aku sampai berpikir, kapan terakhir I have my own me-time?…. Mungkin bu Dok akan sulit untuk menulis rutin, tapi tetap ditunggu postingannya ya. Dan please, jangan nulis di OK (Kamar Operasi) ya…. kasian pasiennya hihihi.

4. D Laraswati H, alias Diajeng, sahabatku waktu SMA (eh kita satu kelas ngga ya? sama-sama IPA kan?). Ketemunya lagi di FB. Dan gara-gara jadi “ghost reader” Twilight Express (awalnya), ingin mencoba buat blog juga…. ini pengakuannya loh. Posting pertamanya tentang Lebah Madu… cocok sekali untuk menjelaskan kenapa judul blognya Honey Bee. Tulisannya mungkin akan dianggap sebagian orang agak kaku, karena memang Ajeng ini kan peneliti yang bekerja di suatu badan pemerintah. Tapi dalam postingannya bisa juga dibaca perasaan seorang “ibu sebagai wanita karir”.  Sayangnya aku baru tahu tentang Kawah Putih sesudah aku kembali ke Tokyo. Coba waktu aku di Jakarta, pasti mau ke sana. So, my next destination deh. Tentu saja ditambah rencana kopdar di Eat & Eat Food Market (sekalian reuni SMA yuukkkk). Keep blogging ya jeng.

5. Afdhal. Om nya Riku (ngakunya). Aku ingat banget waktu Mas Trainer memperkenalkan trainee nya yang juga blogger di sini.  Kupikir dia baru juga ngeblognya eeeh ternyata dia sudah punya blog sejak awal Juli 2008. Tapi karena aku baru kenal sejak 24 Oktober itu, ya aku anggap baru aja ya Dhal.. (peace!). Eh tapi gini-gini udah pernah kopdar loh (makanya dia berani ngaku om nya Riku ihihi). Aku inget pertama nulis komentar di blognya dia tgl 11 November (boong kalo inget, yang bener setelah aku survey) menulis beberapa pertanyaan termasuk boleh ngga minta fotonya dia lagi makan duren hahaha. Dan lucunya lagi dia jawab pertanyaan aku di Who Am I…. yang terlewatkan aku baca/jawab. Sekarang sudah “sok” akrab, jadi kalo OM ADHAL ngga komentar di postingan aku, rasanya blogging tidak berarti lagi…. uhuuuyyyyyy. hihihi.

6.  Bro Neo. wah wah wah… ini bener-bener berantai. Aku kenal Afdhal dari Makelar Blog. Lalu aku kenal Bro Neo dari Afdhal yang menurut pengakuan Afdhal dia sudah menularkan virus ngeblog pada teman-temannya, dan salah satunya Bro Neo ini. Wah kalau baca tulisannya Bro Neo ini, bisa mengerti bahwa beliau (cihuy) pandai pula merangkai kata dan melek SASTRA. Bacaannya Anak Bajang Menggiring Angin jeh. Blognya banyak menceritakan tempat/kota di Sulawesi sono, tapi seperti juga Afdhal yang banyak bercerita ttg orangtuanya,  ada postingnya yang sweet tentang kasih ibu. Senangnya kalau membaca pemikiran pemuda-pemuda tentang kasih orang tua (kalo pemudi sudah pasti tidak diragukan deh, tapi kalo cowo kan lain tuh penyampaiannya … gimana gituh). So Bro Neo, aku akan selalu baca loh, ditunggu posting-posting berikutnya.

7. Muzda. well, seperti yang dia tuliskan di posting pertamanya awal January 2009. “Maksudku, kamu nggak perlu punya kemampuan seperti cenayang, Edward Cullen, Snape, atau temanku si pembaca tarot itu untuk tahu siapa aku .. apa yang aku pikirkan ..Just read this blog,, and i am exactly like open book ..”.Dan memang benar membaca blognya saya menemukan banyak kalimat yang berani. Lihat saja dalam tulisannya Profesi yang Aku tak Ingin Dilakukan oleh Anak Keturunanku. Pasti semua akan berkata, pekerjaan apapun asal halal. Tapi yang Muzda ingin sampaikan bukan soal halal ngga nya kok. Dan pasti pemikiran itu ada di dalam benak semua orang, masalahnya ngga diungkapkan saja kok. Sampai Muzda menulis begini di komentar saya,”Dan tentu saja, sepertinya aku menuliskannya dengan kekhawatiran yang menimbulkan kesan bahwa aku ini punya tingkat kesombongan akut.” Well aku tidak melihat begitu, so jujur saja Muzda. Kejujuran itu yang membuat kamu beda. Dan aku suka! Ditunggu terus postingannya.

Sebetulnya aku juga mau mengulas tentang pendatang baru si EKA (Ka, elo bukan penulis professional kan?), tapi berhubung aku dapet award dari dia, jadi ngga bisa deh dimasukkan dalam list “penilaian”ku. But really Eka, aku suka blog kamu… terutama kalo udah nyerempet-nyerempet hahahah (Eka mah bukan nyerempet lagi, dia udah tabrak lari hahaha).

Aku juga masih banyak ingin menuliskan nama-nama di sini, tapi karena aku batasi dengan blogger pemula, maka cukuplah 7 orang yang kupilih untuk mendapat so called hadiah award dariku. (nulis posting ini  merupakan rekor terlama untuk aku total  5 jam euy! soalnya pake mikir dan link sono sini sih)

So, sebelum jumlah komentar menjadi 7000, dan jarak posting yang terlalu lama, aku sudahi dulu tulisanku kali ini. Terima kasih atas pertemanan lewat blogsphere ini, and I love you all…. Keep blogging!