Last Supper @ Sunset Cafe

Beberapa hari terakhir ini saya memang memasang status di YM dan GTalk saya dengan “Last Supper” dan “Sunset Cafe”.  Sampai Mbak Noengki menyapa saya dan berkata, “Duh enaknya yang online di Cafe“. Padahal itu tidak benar, karena sebetulnya Sunset Cafe tidak ada di kenyataan (Baru-baru ini saya googling ternyata ada yang baru buka di cafe di pulau Bali, padahal sebelumnya — well 10 tahun yang lalu belum ada. Sampai pernah saya dan teman Suto san bilang kita buat di Jakarta yuuuk ). Dan bagi pendengar setia “Gita Indonesia” di InterFM 76,1 masih ingat tentunya lagu ini. “Sunset Cafe” oleh Rita Effendy, karena lagu ini salah satu lagu kesayangan yang sering saya putar.

Bias jingga senja menjelang
senandung ombak berkumandang
matahari turut terbenam
mengiringi angan kita

Secangkir cappucino panas
berbagi mimpi menembus batas
sekumpul nyiur tersenyum
mendengar janji kita

Reff.
Di Sunset Cafe kita bersama
di Sunset Cafe kita berdua
di Sunset Cafe kita bercinta
memandang lautan lepas
khayalan kita seakan jadi nyata…
di Sunset Cafe

Kecupan hangat pipi kiri
terasa menggetarkan hati
redup lilin-lilin menyala
melihat gairah kita

Cinta bersemi di Sunset Cafe
angan melambung di Sunset Cafe
hasrat membara di Sunset Cafe
cinta yang indah ini
terukir di Sunset Cafe

Irama yang enak didengar dan sambil membayangnya Tasogare, Twilight, Senja ….. saya hirup cappucino panas. Hmmmm…..

Lalu apa hubungannya dengan “Last Supper”. Kalau saya tulis 2 minggu yang lalu tentu semua tahu yang saya bicarakan adalah perjamuan terakhir Yesus bersama 11 orang muridnya. Dan topik “Last Supper” ini muncul kembali hari Senin yang lalu, tanggal 20 April.

Hari itu, saya sempat pergi “date” untuk lunch, dan menikmati makanan Perancis-Jepang di sebuah restoran di Kichijoji. Kaisen Shokudo, sebuah restoran yang kadang kami datangi untuk menjamu tamu atau merayakan pesta dengan jumlah orang yang sedikit. Hanya 14 tamu yang biasanya bisa masuk, sehingga harus menelepon dulu sebelumnya untuk memesan tempat. Makanan juga dipesan sebelumnya, pilih course dengan menu main dish saja yang berbeda, dan harganya tergantung mau half course atau full course. Kalau siang ada lunch course.


Mungkin untuk laki-laki, makan “seuprit” begini tidak akan kenyang, tapi bagi wanita lumayan, karena dishesnya disajikan satu per satu, dan harus sediakan waktu minimum 1 jam untuk menikmati obrolan, makanan dan …. wine kalau mau. Oh ya satu lagi…di sini bisa menikmati indahnya piring-piring keramik yang mereka pakai. Keramik Jepang memang lain dengan keramik eropa, white porcelain. Keramik Jepang lebih menonjolkan tanah liat, bentuk asimetris, dan warna-warna “bumi”. Saya suka keramik Jepang, ingin coba membuat, tapi belum ada waktu. Ibu mertua saya kadang membuatkan saya piring keramik sesuai pesanan bentuk dan warna yang saya sukai.

Nah, waktu makan appetizer yang di foto kanan atas, dalam gelas itu, ada mouse sayuran dan di atasnya adalah roti bakar dengan “UNI” di atasnya. Uni ini artinya bukan kakak perempuan untuk bahasa Minang,  tapi bahasa Jepangnya untuk Sea Urchin (Bulu Babi). Orang Indonesia tidak makan bulu babi, padahal itu merupakan makanan mewah bagi orang Jepang. Saya ingat salah satu murid saya pernah naik perahu di Laut Makassar, membawa pisau dan shoyu, kecap asin Jepang (kikkoman) . Ambil bulu babi, dan buka kulitnya yang seperti rambutan berduri hitam itu, dan …. nyammmm… makan isinya dengan kecap asin yang dibawanya. Mungkin bentuknya tidak menarik, tapi rasanya? …… Heaven…. katanya (dan kata saya, kata Riku dan kata Ayu-san).


Ya, Teman date saya adalah Ayu san, yang pernah saya tulis di posting ” Perbedaan Usia“. Hari itu saya mau merayakan “She becoming a salarywoman”. Dia sudah berstatus pegawai sekarang , sudah shakaijin (harafiahnya : manusia masyarakat… yang bergaji dan bisa mengabdi masyarakat). Shakaijin adalah suatu status bahwa kamu bukan mahasiswa, dan bukan pengangguran. Dan di Jepang, Bulan April adalah titik awal untuk menjadi shakaijin, dengan upacara-upacara penerimaan pegawai baru di setiap kantor. (Untuk menceritakan shakaijin dan upacara penerimaan pegawai baru ini perlu posting tersendiri).

Tema pembicaraan kami saat itulah, tentang “Last Supper”, Perjamuan Terakhir, Saigo no Bansan 最後の晩餐. Yang juga menjadi judul prgram TV di Jepang, yang isinya “Makanan apa yang kamu ingin makan di hari terakhir kamu hidup?”. Bagi Ayu, dia paling suka UNI, jadi pada saat terakhir itu dia ingin makan UNI. dan dia bertanya, “Kalau Imelda Sensei? ”

Well, terus terang saya tidak tahu. Sedih juga kalau tidak tahu makanan apa yang kamu sukai, yang kamu ingin makan sebagai makanan terakhir di dunia ini. Saat ini kalau ditanya, saya benar-benar tidak tahu. Saya suka macam-macam, tapi kalau disuruh menyebutkan satu dari macam-macam itu? Saya tidak tahu jawabannya.

“OK”,  kata Ayu. “Kalau begitu,tidak usah makanan, tapi tempat terakhir yang sensei inginkan sebagai tempat terakhir waktu meninggal?”. Nah… kalau itu saya bisa jawab! Ya, saya ingin berada di suatu tempat, yang bisa memandang ke matahari tenggelam, tasogare, senja ….. Menikmati karya Tuhan yang amazing. Dan bersamaan dengan tenggelamnya matahari itu, saya ingin hidup saya berakhir. Warna tasogare, twilight adalah warna yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Karena itu saya namakan blog saya ini Twilight… Twilight Express.

“Well, kalau begitu di beach? Sunset at the beach?”

“No, Aku tidak begitu suka pantai…. tapi aku suka danau. Pantai kesannya panas, beta-beta suru…. (peliket). Kecuali mungkin pantai waktu musim dingin ya? Tapi saya suka sekali danau. Magis…. tranquil… melenakan. Mungkin seperti foto ini.


So, teman-teman? Jika Anda ditanya, apa yang ingin Anda santap di hari terakhir Anda, apa jawab Anda? Atau di mana Anda ingin berada sebagai tempat terakhir Anda hidup di dunia ini?





32 gagasan untuk “Last Supper @ Sunset Cafe

  1. Miko P

    Suasana indah dan sangat romantis, jade pengen btw pertamax nih, serius, selama ini cuma numpang baca. salam saya, eh salah itu kan punya Om NH, salam kenal aja deh

    Selamat…Anda juaranya… hehehe
    Salam kenal juga … sering-sering mampir ya…
    ngga ada blog ya?

    EM

    Balas
  2. Miko P

    Suasana indah dan sangat romantis, jadi pengen btw pertamax nih, serius, selama ini cuma numpang baca. salam saya, eh salah itu kan punya Om NH, salam kenal aja deh

    Balas
  3. Muzda

    My last supper ?? seafood lengkap masakan Mama 🙂
    Last place ?? sunset beach, yupz …
    Yang pasti,, semoga bukan kamar rumah sakit dan makanan rumah sakit.

    Muzda´s last blog post..Hey,, Kartini Digugat …

    Yang pasti,, semoga bukan kamar rumah sakit dan makanan rumah sakit.
    AMINNNNN

    Balas
  4. Didien®

    hehehe..ayu – hmmmmmm…. 😉
    kalo di tanya makanan terakhir saya mungkin mo menyantap nasi bungkus, tp bungkusan nasinya itu ada macem² makanan isinya hehehe…

    murah banget Din, nasi bungkus heheheh
    nanti dibungkusin dari Jepang deh…(tapi pasti ngga suka…kamu kan sukanya telor, nasi goreng sama bala bala hahaha)

    EM

    Balas
  5. vizon

    my last supper? kepiting yg menjepit jari si hery, hiahaha…

    last place? mekah…

    eniwei, saya hampir tiap hari lho makan “UNI”, huahaha… 😀

    vizon´s last blog post..gadang sarawa

    Uda…. pasti deh UNI nya enak tuh… abis tiap hari ngga bosen hihihi
    EM

    Balas
  6. inge

    duuh.. jadi sedih bacanya, dan bingung ya mau jawab apa ?
    kalo makanan, spt Melda, I am an omnivora…
    tp setelah dipikir2 kayaknya paling enak makan chocolate mousse ~ bisa meninggalkan dunia sambil tersenyum karena efek euforia nya, haha..
    suasana danaunya mencekam dan depressing tuh.. I’d prefer sunset beach di sore menjelang malem, jadi udah agak adem gitu atau malah pd waktu sunrise di pagi hari (kalo malem2 ntar merepotkan orang, hehe)
    tempat terakhir tetep a comfortable home.. at the beach bolehlah, hahaha

    Hai Inge, makasih atas kedatangannya ya… seneng kamu mau komentar di sini sis. Well, keluarga Mutter kan emang OMNIVORA hahaha. Coklat mouse ya? atau Es Krim??? hihihi
    Hmmm sunset di Lake emang kayaknya selalu mencekam ya. Dan bukankah kalau kita tau akan mati, kita jadi sedih juga? Well, Kamu periang orangnya jadi mestinya cari yang terang atau rame. Kalau aku kayaknya, there is a dark side of me, yang suka yang menyedihkan gitu. NAH soal mati di rumah OK banget tuh. Aku pengen banget punya rumah di Lake side, supaya bisa memandang twilight itu dari rumah… kalau sudah gelap, masuk rumah, nyalakan perapian, dan duduk menatap api…..

    EM

    Balas
  7. edratna

    Imel…saya pernah baca, lupa-lupa ingat, tapi di daerah Ancol ada Cafe yang orang bisa makan sambil menikmati sunset…suatu ketika kita mesti kopdaran di sana kayaknya…

    The last supper? Berhubung saya suka menikmati makanan kalau ada temannya, dan suasananya….jadi kalau mau memilih makanan yang kenyang, tapi tak perlu mikir (hehehe….penyakit bawaan nih, si bungsu juga….maklum penginnya kenyang tapi males makan), Imelda pasti tahu deh. Yaitu…bubur ayam…hahaha, sederhana ya.

    Imel, saya terkesan saat makan dipinggir danau Sentani (Jayapura), ikannya segar hasil tangkapan dari danau tersebut…duhh nikmat sekali. Pemandangannya juga indah dan tak terlalu panas, karena pinggir danau penuh pepohonan besar….jadi makan sambil menikmati semilir angin.

    Kopdar di sana? OK banget bu…. Nanti cari info deh sebelum saya ke jkt. Nanti bikin kopdar di situ ya bu.
    Haiyah ibu, bubur ayam …all the time ya bu.
    Wah aku seneng danau bu, pengen juga ke Sentani… tapi jauh ya. Aku sering ke danau Yamanaka di bawah kaki gunung Fuji, indah bu.
    EM

    Balas
  8. p u a k™

    AKu malah tidak pernah berpikir seperti ini mbak. Malah berpikir, kayak mau ditembak mati, trus mau makan apa sebelum ditembak. Ahh..malah ngeri sendiri.

    Ngomongin makan sih, semangat yaa.. tapi makan terakhir? .. apa tetap jadi enak gitu, walaupun lezzat nya tak terkira?

    Kalau boleh milih sih, aku pengennya makan hosti yang sudah diberkati, sakramen perminyakan, dan didampingi orang2 terkasih.
    (aku kok jadi takut sendiri ya?.. umm.. however!)

    p u a k™´s last blog post..Please sit down..

    Semoga terkabul Puak… Hosti memang makanan surgawi
    EM

    Balas
  9. Lala

    Last supper?
    Strawberry cheese cake yang banyak tanpa takut gendut *lha wong besok udah mati, jeh!*

    Last place?
    In a proper place… tempat tidur di kamar… dikelilingi orang-orang yang aku cintai…

    *aduh, Sis.. aku jadi merinding dangdut baca ujung tulisan ini. kok ndilalah ngomong mati, jeh…* 🙁

    tempat tidur? emang kebo kamu ya hihihi
    apa biar kalo mati ngga sakit? (emang bisa rasa?)
    EM

    Balas
  10. AFDHAL

    ohh ibu eny yang pernah ke sentani ya…

    kalo aku sih pengen menikmati sunset dipantai ditemani orang-orang tercinta dan tentunya makan makanan buatan orang-orang tercinta…

    AFDHAL´s last blog post..Leaving

    hampir sama dong kita dhal hihihi
    EM

    Balas
  11. exort

    my last supper : pisang….apalagi kl dikasih es krim ditambah semua jenis pastry yang bikin gemuk dan mengandung kolesterol tinggi….mmmmm yamy….hehehe
    and my last place : dataran tinggi dengan hamparan rumput hijau yang membentang luas (kaya di scotland) jadi berasa bebas dan damai

    exort´s last blog post..Friend

    hei exort…aku juga sempat terpikir padang rumput yang luas begitu loh…
    second best
    EM

    Balas
  12. suryaden

    jelas tongseng makanan favorit dengan teh panas wah… paling wenak untuk ukuran cangkem ndeso saya… hahaa

    hahhah tonseng tongseng
    kolesterol kolesterol
    EM

    Balas
  13. Nug

    Hm makanan lezaaaat… dan tempat yang indaaah sekali…
    Foto Sunset di pantai dan danau nya itu keren bangeeet..
    Menikmati keindahannya, jadi lupa petanyaannya tadi apa yaa..?

    Sorry lagi agak low batt dan memory emang lagi rada hang.. Charge baterai dulu akh.. 😀

    Xixixi… 🙂

    Nug´s last blog post..IBSN: Daddy tau gak?

    Pake yang Mugen Power dong mas
    EM

    Balas
  14. BudiClan

    duh…keren foto sunset nya! 😀
    boleh di save yah mba,buat di desktop.

    makanan seuprit?belum tentu kalo pesennya 5 porsi, hehehhe 😀

    Salam kenal
    BudiClan

    BudiClan´s last blog post..Tips Mengamankan Email Anda Dari Aksi Spam

    Balas
  15. anderson

    My first comment here, Salam kenal mba Imel..

    Kalo last supper saya: Dendeng Batokok, hehehe….secara saya sekampung sama Uda Vizon.

    Last place: anywhere asal di kasur busa yang empuk..:-), soalnya saya tukang tidur, jadi kalo mau meninggal, ya mending pas lagi tidur enak…

    Balas
  16. achoey

    menikmati hidangan lezat dengan suasana yg indah adalah hal yg romantis.terlebih bila ditemani sang kekasih.

    saya malah jadi ingin makan nasi liwet dan ikan bakar di tepi kolam di tengah sawah.

    ya,kami sekeluarga sering melakukannya saat sama2 ada di kampung

    Balas
  17. Retie

    waduhh kalo ngomongin makanan jadi semangat nich tapiii koq makanan terakhir di saat mau ngga ada?? hiks…
    Ngga apa-apa dech….
    mmm aku sama kayak mbak Puak, tapi sebelum makan hosti yang sudah diberkati, aku mau pengakuan dosa dulu. Trus aku di dandanin yg cantik gitu trus tempat terakhir dimana aja asalkan ada semua orang yang aku cintai…..

    Balas
  18. marshmallow

    wew! namanya juga berandai-andai ya, mbak?
    soalnya kalau beneran, mana mungkin bisa makan lagi menjelang ajal, it must be a very stressful moment.

    karena hanya pengandaian, sebelum mati aku ingin makaaaannn… hmmm… *lha, malah bingung sekarang*.
    tempatnya aja deh. aku pengen berada di sisi kekasihku. udah! duh… tapi nggak bakal kuat liat dia nangis ntar. mati sama-sama aja boleh gak, ya? hihi…

    malah becanda deh.

    marshmallow´s last blog post..Kartini Sekarang

    Balas
  19. Daniel Mahendra

    Emh, makan apa ya…
    Kalo makan masakan Padang, weh, rasanya sedap betul. Tapi apa cocok untuk terakhir kalinya?

    Atau makan sayur asem lengkap dengan lalapan sambel tomat? Wiiihhh… Mumpung terakhir kali. Hihi.

    Kalo gitu aku mau makan nasi tumpeng aja (lho, kok malah nasi tumpeng?) Iya, soalnya teman-teman ngadain selametan: dalam rangka terakhir kalinya DM makan (sialan!).

    Wih, apa bisa milih ya tempat terakhir…
    Hmmm…
    Tergantung dia ajalah.
    (lho kok dia?)
    Haha!

    Balas
  20. G

    Wah, kalo ditanya makanan terakhir rasanya mau makan semua deh. Soalnya saya termasuk er-ka-es. Nah, klo tempatnya, hmm.. mudah sekali, di tempat tidur saya sendiri, hehe, di rumah, itu yg paling nyaman. (^_^)

    G´s last blog post..aku kembali (sebuah rindu lagi)

    Balas
  21. Melati

    Mbak bisa makan bulu babi?!
    Roti yang dikasih bulu babi di atasnya?!
    Boro-boro!!!
    Seberapa mahalnya harga bulu babi, bagi saya cuma kelihatan sebagai tahi telinga (maaf contohnya jorok…)

    Balas
  22. heri koesnadi

    wow… mungkin anda benar, menikmati sunset di danau punya cita rasa sendiri yang tak umum, tapi lebih terasa menakjubkan, … keren..

    heri koesnadi´s last blog post..Sunrise vs Sunset

    Balas
  23. Ping-balik: Nama populer | Twilight Express

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *