Kelopak Bunga Menari

Kelopak bungamu menari gemulai melayang di atas kepala

Tengadahkan muka menyambut lembutnya sentuhanmu

kuarak engkau yang turun bagaikan bidadari menari

ingin kurebahkan diriku di hamparan permadani merah muda

dan mendengarkan dentingan dawai gita surgawi

serenity

aku terbangun pukul 5:30, tak lama Riku pun bangun dan disusul Kai. Ah, anak-anakku ini memang selalu bangun pagi. Padahal aku baru tidur pukul 3 pagi, karena mempersiapkan makanan siang untuk Akemi san dan Riku, serta membereskan rumah.

Riku berteriak pada papanya, “Papa hari ini sakura fubuki loh…”. Fubuki biasanya dipakai untuk musim dingin yang menggambarkan keadaan salju turun dicampur angin yang menghalangi pandangan mata. Kanjinya saja 吹雪 yaitu kanji  angin dan salju.  Nah jika Sakura fubuki berarti sakura no hanabira (kelopak) turun bagaikan hujan dan tertiup angin, menari-nari sampai ke tanah. Ah bunga sakura pun akan rontok dan habis. Kecantikan sakura memang hanya sementara. Masih untung di musim sakura kali ini tidak ada hujan yang merusaknya. Sejak tanggal 21 Maret, awal sakura mulai mekar di Tokyo, sampai hari ini tidak turun hujan. Cukup lama untuk kelangsungan hidup sakura, yang biasanya hanya bertahan 1 minggu sampai 10 hari saja. Ada rasa sedih dan sepi saat berpisah dengan sakura. Hmm orang Jepang memang kodoku 孤独, selalu kesepian!

Hari ini, Jumat 10 April  adalah hari pertama aku mengajar di universitas untuk tahun ajaran 2009-2010. Begitu aku antar Kai ke Himawari, dia langsung memeluk gurunya, dan tanpa menangis, dia iringi kepergianku. Aman…. Aku langsung menuju halte bus, naik bus ke stasiun di jalur lain, dan ganti kereta 2 kali dan naik bus dosen untuk bisa sampai di kampus Senshu University. Jauh, tapi tak terasa aku sudah mengajar di sini 10 tahun!

Kelas menengah hanya 5 orang saja, di kelas yang bisa memuat 30-40 murid. Bergema! Aku harus minta pindah kelas, meskipun mungkin minggu depan jumlah murid akan bertambah.

Setelah jam kedua selesai, aku bergegas menuju ke ruang rapat untuk mengikuti rapat dosen yang selalu diadakan setiap awal tahun ajaran. Pembicaraannya sudah klise, sehingga tanpa hadirpun tidak akan ada topik yang ketinggalan. Tapi mumpung ada kesempatan bertemu dengan dosen lain, dan makan siang gratis… apa salahnya.

Waktu aku masuk ruang rapat, aku duduk di samping dosen perempuan yang mengajarkan bahasa Korea. Aku tidak tahu namanya, tapi yang pasti dia pernah menyapa aku, setelah aku kembali mengajar sesudah melahirkan Riku. Waktu itu aku hanya cuti satu semester, dengan digantikan Ibu Sasaki (感謝いたします). Dan dia yang menegur aku, mengucapkan selamat, dan berkata jika ada yang bisa dibantu kasih tahu saja. Well, tentu saja hanya basa-basi tapi daripada tidak? Kita harus bersyukur bahwa masih ada yang memperhatikan dan berkeinginan berbuat baik untuk kita. Sambil bercakap dengan dia, aku menyadari bahwa memang aku telah berusaha dan berjuang dalam sepuluh tahun ini…. mengajar dan membesarkan dua anak.  I should be proud of myself.

Jam ke tiga, aku mengajar kelas dasar. Dan senangnya aku mendapat kelas yang dilengkapi alat LL. Jumlah mahasiswanya mungkin terbanyak selama aku mengajar di sini. Hampir 40 orang. Dan ada seorang mahasiswa penderita cacat, sehingga perlu pelakuan khusus. Tapi aku kagum dengan semangatnya. Meskipun sulit berbicara, dia berusaha untuk mengulang perkenalan bahasa Indonesia selengkapnya. Setelah pelajaran selesai aku berkata padanya, kalau mau skip latihan percakapan/ucapan, kasih tahu saja. Mungkin dia akan minder jika semua perhatian pada dia. Mudah-mudahan murid-murid tahun ini bisa memenuhi harapan.

Pulang bersama guru bahasa Spanyol sejak naik bus dari kampus sampai di Stasiun Shinjuku. Cantik dia. Suaminya orang Jepang, tapi dia pernah berkata padaku, bahwa dia tidak akan mau melahirkan. Suaminya pun tidak mau punya anak. Merepotkan saja katanya. Apalagi kalau dia pulang kampung butuh berpuluh jam naik pesawat. Dia tidak bisa membayangkan mengajak pulang anak-anak dan berada satu pesawat dengan anak-anak selama dua puluh jam… Well, pandangan hidup manusia memang berbeda.

Sebelum pulang ke rumah aku sempat membeli sakura mochi dan saudara-saudaranya. Untuk menemani minum teh bersama Akemi san. Dan tentu saja untuk difoto dan memasang fotonya di blog hehehe. Dan sakura mochi itu ternyata tidak memakai bunga sakura, tetapi justru memakai daun sakura yang direbus dan diberi garam. Jadi daunnya bisa dimakan (dan enak!) Dan mochinya berwarna pink sehingga mengingatkan kita pada bunga sakuranya.

Dari kiri ke kanan, atas ke bawah :

( Tsubu an mochi, Ohagi wijen, Kusa mochi, Sakura mochi, koshi an mochi, Ohagi kinako)

Sedangkan kalau Sakura-dorayaki memang ada rasa sakura dalam mochi di dalam dorayakinya:

Sakura dorayaki

25 gagasan untuk “Kelopak Bunga Menari

  1. vizon

    kasian amat temanmu yg gak mau punya anak itu neechan… belum tau dia bagaimana indahnya hidup ini dg anak2 di sekitar kita…

    tapi, itulah hidup, penuh pilihan dan setiap pilihan ada resikonya. kita yg telah memilih punya anak, tentu harus siap dg resiko direpotkan. dan bagi yg memilih untuk tidak punya anak, ya harus siap dg resiko kesepian, hehehe… 🙂

    wah, dorayaki-nya bikin ngiler, di jogja ada yg jual gak ya…? 🙂

    vizon´s last blog post..apes

    Hmmm soal pasangan yang tidak mau punya anak, di Jepang banyak sekali. Yang paling ringan alasannya ya itu tidak mau repot, tapi ada pula yang karena masalah ekonomi atau penyakit menurun. Sulit, sulit sekali punya anak di Jepang.

    dorayaki? wah nanti deh kalo aku ke jkt lagi aku bawain ya… atau minta tolong doraemon bawain.

    EM

    Balas
  2. Ria

    bentuk cemilannya lucu2 ya mbak, bentuknya kayak es cream…hehehehe…

    Mengajar dan membesarkan 2 anak…hebat banget mbal Imel…belum tentu setiap perempuan berkeluarga mampu seperti Mbak Imel apalagi di hiruk pikuknya kota Tokyo…salut buat Mba Imel…Semangattttt!!!!

    Ria´s last blog post..Kota Duri (Part 2)

    waah es krim… ngga lah, itu mochi, kenyal-kenyal, manis dan mengenyangkan.

    hmmm soal multitasking di Jepang…. mungkin krn aku gila aja kali ya?
    papaku aja masih terheran-heran kok imelda masih bisa nulis blog heheheh
    EM

    Balas
  3. genthokelir

    salut untuk sampean mbak
    ehh kalo nggak ada anak kayak apa yah heheh kemana mana dikira jalan sama selingkuhan padahal sama istri sendiri hahaha
    bunga itu keren sekali di foto dan makanannya lezat hahahaha
    salam sukses dan semangat

    genthokelir´s last blog post..Kota Terpadu Mandiri

    Ngga ada anak? Ya bulan madu terus hehehe.
    EM

    Balas
  4. Melati

    Semoga mahasiswa-mahasiswi kelas mbak tahun ini mau belajar bahasa Indonesia dengan rajin dan baik.
    Kan mereka beruntung bisa belejar dari mbak yang pengetahuannya banyak sehingga pertanyaan-pertanyaan mereka selalu mbak bisa jelaskan.

    semoga. tapi biasanya tidak ada yang bertanya, karena level bahasa Indonesianya belum setinggi kamu.

    EM

    Balas
  5. mang kumlod

    Sakura fubuki-nya mau dong…!
    Mochi sama Dorayaki Sakuranya juga mau…!

    Kelasnya S1 ya mba? Kok ga ada fotonya? hahaha…

    Hush, lagi ngajar ngga boleh foto-foto…
    ntar aku kena HUKUM PELANGGARAN PRIVACY … di Jepang setiap memuat foto atau data orang harus minta ijin tertulis dari ybs.

    EM

    Balas
  6. muzda

    Sakura dalam mochi dalam dorayaki ..??
    Hmm,, enak ya Mba’..?
    Penasaran nie ..

    muzda´s last blog post..Award Pasca Golput

    Enak… nanti kita tukeran ya…
    aku bawa mochi kamu bawa gethuk dan cenil..
    Aku lebih suka gethuk dan cenil daripada mochi hihihi

    EM

    Balas
  7. Septa

    Sakura fubuki wuik keren dan romantis..
    Dulu pernah liat serial film jepang tentang keluarga pembuat mochi, susah bikinya tuh ada seninya juga..
    Dorayaki penasaran banget rasanya keq apa..
    Eh kalo mahasiswanya dah jago ajarin ngeblog aja 😀

    -semangat…!!-

    Kamu sih ditungguin di Yogya waktu itu ngga datang.
    Padahal…..
    ngga dibawain dorayaki sih heheheh

    bener kayaknya aku mau suruh mahasiswa kelas menengah untuk negblog nih hahaha

    yosh kiai wo irete, dan aku tunggu senyum dari Jepangnya nih
    EM

    Balas
  8. Nug

    Wuih.. itu Sakura yang memenuhi halaman, keren banget..
    Kebayang akalo aku disana, pasi aku sudah mengambil posisi2 tiduran dirumput mengambil foto2nya.. Hahaha 😀

    Nug´s last blog post..Simbol Peradaban

    OF COURSE… saya sudah bayangkan pasti mas Nug mau melantai eh merumput hahaha. Jiwa seorang fotografer kan gitu mas.
    Nanti saya temenin deh…tapi minta ijin dulu sama mbak cindy hehehe

    EM

    Balas
  9. pakde

    komengin fotonya ajah ah….
    1. Bikin perut kruyuk kruyuk nih….pengen nyicip. aku pikir moci itu yang terkenal moci kaswari sukabumi doank. ternyata di Jepang lebih lengkap ya…?
    Rasanya pasti macem2….

    2. Boleh nyicip?
    3. Mau dooonkk!

    pakde´s last blog post..Dedicated to my team

    haiyah pakde……
    mochi itu aslinya dari cina
    kemudian menyebar ke seluruh dunia…. dan karena Jepang lebih dekat ke Cina daripada Indonesia, ragam mochinya lebih banyak hihihi

    Hayooo, kapan ke Tokyo. Aku sih belum bisa ke Jambi deh kayaknya. Ketemu di Jakarta atau Bandung yuuuk. (kecuali pakde, bayarin pesawat pp, trus bikin program talk show ttg jepang di radio hahaha. Nginepnya homestay juga gpp kok.)
    EM

    Balas
  10. kartiko

    lho ternyta mbak jadi dosen beneran toh… (ternyata sudah 10 tahun ngajar).. kirain hanya kelas khusus saja… berarti di kolom pekerjaan boleh diisi “dosen” donk…

    kartiko´s last blog post..Jalan Tol

    heheheh ya dosen beneran pak… masak boongan. Tapi kalau untuk universitas yang mengeluarkan sks memang baru 10 tahun. Kalau yang lain guru bahasa saja di kursus-kursus bahasa.
    Waktu itu ketemu bapak, saya jadi penerjemah karena diminta institusi apa ya? sudah lupa. Karena saya terdaftar di berbagai institusi, tinggal tunggu panggilan gitu hehehe.

    EM

    Balas
  11. Didien®

    mochi..?? sementara ini baru bisa mencicipi mochi buatan dlm negeri…kalo yg seperti gambar di atas, utk sementara hanya bisa mengamati sambil mulut komat kamit g karuan heuheu…. ^_^

    Didien®´s last blog post..iPhone OS 3.0, Dilengkapi dengan Copy Paste

    Balas
  12. Didien®

    Pemandangan bunga sakura itu membuat saya mjd berhayal tingkat tinggi bun..*mata merem*

    Didien®´s last blog post..iPhone OS 3.0, Dilengkapi dengan Copy Paste

    Balas
  13. 1nd1r4

    suer mbak aku pingin banget kaya di film kartun sinchan atau doraemon, duduk ditaman trus liat bunga sakura berguguran….ahhh pasti indah banget. Anyway kuenya bikin lapar…. 🙂

    1nd1r4´s last blog post..FINALLY…A WEDDING

    Yup, itu adalah salah satu hobi orang Jepang. Duduk di bawah pohon Sakura dan menikmati keindahan sakura. Konon kalau kelopak sakura berjatuhan dalam air minum (sake) akan memberi umur panjang. Ditunggu kedatangannya Iin.
    Waktu masih mahasiswa sih seneng, sekarang ngga deh…dingin dan tanahnya keras (di atas tikar sih) hihihi. Enakan minum di restoran
    EM

    Balas
  14. AFDHAL

    mesti deh..always under om trainer 🙁
    idem dengan om…sakuranya indah banget…
    kapan ya bisa melihat langsung (khayal.com)
    dorayakinya jg uenak tenan iku

    AFDHAL´s last blog post..Nephew

    Balas
  15. Lala

    – Ngebayangin duduk di bawah pohon sakura, di atas sebuah bangku kayu, sendirian….. sounds good!

    – Ngebayangin makan mochi dan saudara-saudaranya itu.. plus dorayaki doraemon…. sounds delicious!

    – Ngebayangin punya anak lucu kayak riku dan kai…. sounds perfect!

    – Ngebayangin repotnya ngebesarin anak, kerja, bangun pagi padahal baru tidur pukul tiga pagi… sounds… mmm…. sounds challenging! 🙂

    You should be proud of yourself, like I am proud of you!

    Balas
  16. Daniel Mahendra

    Punya anak merepotkan? Hmmm-hmmm-hmmm…

    Aku sih nggak peduli anak-anak lahir dari rahim istriku atau tidak. Nggak peduli merupakan anakku secara biologis atau tidak. Bagiku punya serta membesarkan anak tampak menyenangkan. Cause’ I love children… 😉

    Daniel Mahendra´s last blog post..Forgiven Not Forgotten

    Balas
  17. edratna

    Bunga Sakura…saya hanya bisa memandang dari foto2nya….

    hehehe…manusia memang beragam…
    Saat diskusi dengan temanku (sesama cewek), apa tujuan menikah?
    Dia bilang, agar bisa berhubungan dengan pacarnya secara legal (jadi urusannya adalah cinta yang selalu ingin bersama-sama…temanku ini akhirnya hanya berani punya satu anak…merepotkan, katanya).

    Saya menjawab, saya menikah karena pengin punya anak. Lha kalau nggak ada bapaknya, kan nggak bisa punya anak…hahaha. Terbayang temen Imel kalau mendengar pendapatku ini….hehehe
    Repot? So,pasti. Sampai si bungsu umur 5 tahun, saya nyaris hanya tidur 2-3 jam per hari. Setelah pulang kerja, cepat2 mandi, menyuapi anak, mendongeng sampai menidurkan. Kemudian baru urus suami…setelah itu nerusin kerjaan kantor (saya boleh pulang teng go, dengan catatan kerjaan selesai jam 7 am di meja bos). Dan jam 4 pagi sudah bangun lagi….tapi anehnya saya kuat dan senang, dan menyenangkan sekali punya anak..bahkan sampai sekarang

    edratna´s last blog post..Akhirnya….pertemuan itu dapat dilaksanakan

    Balas
  18. Retie

    yam yam yam enak banget tuch kayaknya mochi nya….
    mmmm tante Imelda emang HEBAT koq, aku udah dapatkan tips sehat untuk hamil dari tante,mmmm ntar kalau aku dah hamil n melahirkan aku mau tips nya juga ya tante untuk menjadi Ibu yang baik kayak tante Imelda 😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *