Kelas Satu Berseri

Pika-pika no ichinensei. ぴかぴかの一年生。Pika-pika adalah mengkilap, dan ichinensei adalah kelas satu. Ucapan ini mengacu pada anak berusia 6 tahun yang masuk Sekolah Dasar.  Hei, memang kalau masih baru pasti bersih mengkilap kan? Karena itu juga aku tidak menghalangi keinginan Gen untuk membelikan semua yang baru untuk Riku, meskipun mungkin sudah ada barang-barang yang dicari, yang sudah bekas dipakai. Gen bilang bahwa kelas satu itu ingin diawali dengan barang baru, semangat baru, yang pastinya rasanya lain jika kita sebagai orang tua memberikan yang bekas. OK saja, selama kita masih bisa membelikannya. Sehingga akupun  sebetulnya sudah siap juga seandainya Gen mau membelikan meja belajar yang baru! (entah kenapa di Jepang, masuk SD = ransel dan meja belajar + jas)  Gampang deh soal tempat, kalau perlu ada perabot yang dibuang juga tidak apa.  Tapi akhirnya dia sendiri yang membatalkan keinginan membelikan meja belajar.

Tibalah tanggal 6 April yang dinanti. Jam 4 pagi aku sudah terbangun dan menyiapkan tasnya Kai untuk ke penitipan. Tentu saja semua barang yang dibawa ke penitipan harus diberi nama semua. Huh, kadang aku bosaaan banget deh dengan ketentuan begini.

Semua bangun sebelum jam 7 pagi. Tumben! Aku siapkan sarapan cepat-cepat dan bersiap untuk mengantarkan Kai ke penitipan jam 8 pagi. Ya, hari ini aku menitipkan Kai, supaya aku bisa konsentrasi untuk acaranya Riku saja. Dan setelah menurunkan Kai di penitipan aku mampir ke ATM terdekat, dan saat itulah aku melihat si TukTuk yang pernah aku ceritakan. Rupanya pemiliknya tinggal di sekitar stasiun. Cepat-cepat aku ambil kamera dan mencuri foto dari samping.

Buru-buru aku kembali ke rumah, dan ganti baju dandan, dan pukul 9 teng kita berjalan dari rumah menuju ke SDnya yang terletak 15 menit jalan kaki. Acaranya sendiri dimulai pukul 9:30. Di depan sekolah ada sebuah taman dan sakura menghiasi taman dan jalanan di sekitarnya. Ah sakura ini memang melengkapi kegembiraan dan memberi keindahan tersendiri dalam memulai sesuatu yang penting. Apalagi hari ini samat hangat, dengan suhu sekitar 20 derajat. Dari jauh kami bisa melihat antrian orang tua di depan gerbang, yang menunggu giliran untuk bisa berfoto di depan papan bertuliskan “Upacara Penerimaan Murid Baru” Nyuugakushiki 入学式。Tapi aku bilang itu belakangan saja.

(antri masuk di depan halaman sekolah – pakai uwabaki sepatu dalam yang diberi nama dan kelas)

Begitu masuk ke kompleks sekolah, kami disambut oleh murid kelas 6 SD tersebut yang membagikan lembaran kertas yang berisi pembagian kelas. Ada 99 murid baru yang dibagi menjadi 3 kelas. (Jumlah ini sedikit menurut Gen, tapi banyak menurut aku mengingat semakin sedikit jumlah anak di Jepang) Dan Riku masuk ke kelas I – 2. Sedihnya tidak ada temannya laki-laki yang dari kelas TK yang sama. Jadi dia benar-benar harus membuat teman baru di sini. Gen bilang, bagus dong…awal baru teman baru.

Begitu mendaftar dan mendapatkan tanda nama yang disematkan oleh sempai (kakak kelasnya) , kami bersama Riku menuju ke kelasnya. Di sana juga sudah menunggu sempai yang lain, yang membantu adik-adiknya menaruh tas ransel dan menunjukkan tempat duduknya. Hmmm sistem sempai membantu adik kelasnya ini juga bagus kalau menurut saya. Menjadikan lebih akrab. Saya tanya pada Gen apakah dulu juga ada sistem seperti ini, dan katanya hampir di semua sekolah menerapkan sistem “mentoring” seperti ini. (Jadi ingat waktu aku masuk ke Yokohama univ juga ada mentor yang membantu … hmmm siapa ya? kok lupa sih. Ohh… kayaknya Kimiyo dan Kayoko deh, mentoringnya malah ngajak jalan-jalan ke Kamakura hahaha)

(sempai membantu murid baru–kohai— memasuki kelas – Riku bersama teman sebangkunya)

Sementara Riku dan teman-temannya menunggu di kelas, kami para orangtua menuju ke sport hall untuk mengikuti upacara murid baru. Sport Hall dihias dengan tulisan omedetou (Selamat) di panggung dan slogan Mirai to yume e tsukisusume (menyongsong mimpi dan masa depan) menghadap panggung. Di sekeliling hall ditutup dengan kain bergaris merah putih, tanda selamatan oiwai. (Kalau duka maka kain bergaris hitam putih). Kebetulan aku duduk di tempat yang strategis sehingga bisa memotret waktu defile murid-murid baru masuk menurut kelasnya. Mereka masuk berpasangan dengan teman sebangkunya. Dan yang mengherankan aku pasangannya laki-laki perempuan bergandengan tangan. Rupanya di Jepang tempat duduk di SD pasti berpasangan laki-laki perempuan.(wahhh jadi inget waktu SMP aku sebelahan sama Gatot –si tukang nyontek — ups sorry tot… jangan marah yaaa hehehe – kapan lagi nama loe aku tulis di sini kan)

(masuk sporthall bersama teman-teman sekelas – liat tuh… Riku mencari-cari mamapapanya di antara pengunjung duuuh duduk yang manis nape?)

Acara diawali dengan sambutan dari Kepala Sekolah SD, kemudian perkenalan wali kelas dari ketiga kelas satu. Eh sebelum pidato dari Kepsek, kami menyanyikan lagu kebangsaan Jepang Kimigayo. (terus terang aku ngga bisa nyanyinya dan pas udah tengah-tengah baru ngeh sadar bahwa itu adalah lagu kebangsaan) Baru di situ aku juga sadar bahwa SD ini adalah SD Negeri yang didirikan oleh pemerintah daerah.

Setelah perkenalan wali kelas, ada perkenalan seluruh staf guru dan pegawai TU. Penyerahan hadiah dari pemerintah/ pemerintah daerah yang diserahkan oleh Kepala Sekolah kepada salah satu wakil murid baru. Hadiah itu berupa pelindung kepala waktu gempa, cover penutup ransel berwarna kuning, buku pelajaran dan buku tulis. Dari kepolisian diberikan hadiah buzzer, alat pencegah kejahatan berupa alarm yang cukup keras untuk digunakan jika bertemu dengan orang yang mencurigakan/ bermaksud jahat. (Sampai di rumah sempat coba, dan suaranya rek…kenceng banget)

Penyampaian ucapan selamat dari tamu agung (dari kelurahan, kepsek SMP negeri terdekat, kepsek TK di lingkungan sekitar termasuk dari TK nya Riku, serta pengurus PTA. Selain itu juga dibacakan telegram indah yang diterima yang berisi ucapan selamat. Setelah upacata selesai, ada pertunjukan dari murid kelas 2 SD, berupa puisi/ wejangan dari kakak kelas serta permainan pianica. Hebat! aku terharu juga melihat usaha mereka. Anak-anak kelas 2 ini kan tahun lalu juga murid 1 SD. Berarti kelak tahun depan, Riku juga aan mengucapkan selamat datang lagi bagi juniornya, murid SD yang baru.

(pertunjukan musik dan pesan dari kelas 2 – suasana kelas Riku dengan walikelas —tannin–nya)

Selesai acara ini, maka murid-murid kelas 1 kembali ke kelasnya untuk mendengarkan pesan dari guru, sambil menunggu giliran untuk berfoto bersama.  Walikelas (tannin 担任) Riku di kelas 1-2 itu bernama Chiaki Sensei. Cantik, dan ….kelihatan galak. Aku heran deh semua guru awal Riku (baru 2 kali sih) cantik tapi galak hehhehe. Apakah karena mamanya juga guru dosen yang cantik tapi galak? cihuuuy (ehhh aku ngga galak kan? ne Melati san). Sambil membawa semua barang-barang yang dibagikan di sekolah, anak-anak berbaris menuju pintu untuk bersalaman dengan gurunya dan pulang. Hmmm di sini terlihat ya, perbedaan dari pendekatan guru TK dan SD. Di TK, guru memeluk muridnya, sedangkan di sini guru sudah mengajarkan budaya salam yang menunjukkan juga bahwa si anak sudah mulai memasuki masyarakat yang formal, bukan anak kecil yang suka main-main lagi.

Sebelum pulang aku juga sempat berbicara dengan gurunya, meminta maaf aku tidak bisa datang pertemuan PTA jika diadakan pada hari Jumat. Padahal aku ingin sekali loh ikut aktif di PTA …..

(di depan papan “Nyuugakushiki”)

Keluar gedung sekolah, langsung antri untuk berfoto di depan papan Upacara Penerimaan Murid Baru, juga tak lupa berfoto di bawah naungan pohon sakura di taman depan sekolah.

Masih dalam rangka “selamatan” Riku memilih makan siang di restoran sushi. (Mang Kumlod, Yug, Japs dan Lia, liat deh sushi dengan topping telur ikan salmon, Ikura. Ini yang saya bilang seperti levertran) Dan papa-mama menutup hari “bersejarah” dalam hidup berkeluarga dengan KAMPAI! ting

(Riku makan tobiko, telur ikan terbang – set menu dengan hotaru ika, cumi-cumi – ikura, telur ikan salmon)

29 gagasan untuk “Kelas Satu Berseri

  1. hilda

    seru sekali cerita hari pertama SD. Nurul juga mo SD, tapi mulai masuknya pertengahan Juli

    hilda´s last blog post..Sarana Internet Baru

    oh ya? Nanti ceritakan soal upacara masuknya gimana ya? Abis saya sudah lama tidka tahu bagaimana tatacara di Indonesia…. ditunggu postingnya.

    EM

    Balas
  2. vizon

    ini luar biasa neechan…
    penyambutan murid baru yg melibatkan semua unsur; ortu, kakak kelas, pemerintah, masyarakat sekitar…
    benar2 terasa aura yg nyaman bagi murid baru…

    di indonesia? secara umum dapat saya katakan, tidak ada upacara seperti ini… mungkin ada satu-dua sekolah yg melakukannya, tapi secara umum tidak ada, apalagi sekolah2 negeri, boro2…

    terima kasih sudah diceritakan soal ini, akan jadi inspirasi buat saya nantinya…

    buat riku: selamat atas sekolah barunya… 😀

    vizon´s last blog post..contreng!

    Ya, memang menurut saya juga tidak ada negara lain yang membuat upacara masuk sedemikian heboh seperti di Jepang. Jepang suka ceremony dan kegiatan berkelompok. Tapi di lain pihak kita juga bisa melihat bahwa pendidikan memang dijunjung tinggi. Semua bangga bekerja di bidang pendidikan, dan mendapatkan penghargaan yang sesuai. Tapi soal masyarakat ikut serta dalam pendidikan saya memang salut bener deh. Ini juga bisa terjadi karena majunya longlife education. Saya rasa ini harus ditiru dalam pendidikan Indonesia.
    EM

    Balas
  3. mang kumlod

    Seru sekali…!
    Selama ini baru liat penyambutan yang buat SMA aja di dorama. Mirip-miriplah penyambutannya. Tapi anak kelas 2 yang jadi senpai, menakjubkan..!

    Foto senseinya Riku kurang zoom mba, hahahaha… Jadi inget dorama Queen Classroom, guru SD yang cantik tapi galaknya TOP number 1.

    Hmm… itu ikuranya gede-gede sangat. Yang kemaren saya makan kecil agak eneg sih, tapi suka 😛 . jadi pengen makan sashimi lagi. Nanti deh kalau saya selametan (dalam rangka apa ya..?)

    mangkum´s last blog post..Ga Kenal, Ga Kenal, Kenal!

    Kalau udah SMA, tidak termasuk wajib belajar lagi. Masuk SD ini melibatkan semua pihak dengan rasa antusias yang tinggi. Waktu kami pergi ke restoran, pelayan langsung tahu dari pakaian formal, dan mengucapkan selamat masuk SD. Masuk SD seakan penting dan amat disambut masyarakat juga. Sampai ada slogan Pika-pikano ichinensei itu loh….

    Foto senseinya kurang zoom? Hmmm nanti saya ditangkap loh, karena sebtulnya tidak boleh memuat foto yang ada orang lainnya, tanpa seijin orang tsb. Perlindungan Hak Asasi.

    Hayuk makan sashimi lagi. Nanti kalau saya mudik lagi ya. Selamatan naik rumah baru atau masuk hidup baru mungkin?
    EM

    Balas
  4. Didien®

    Liat tahun ajaran baru utk kelas 1 SD di jepang membuat saya terkagum-kagum..
    tuh anak SD aja tau etika buat membantu dan menyambut juniornya.. gmn di Indonesia yah..(anak SMU dan Mahasiswa)??? *bego mode on*

    Didien®´s last blog post..iPhone OS 3.0, Dilengkapi dengan Copy Paste

    hmmm sistem senior-yunior di Jepang amat sangat kuat soalnya….
    (jadi ingin menulis soal ini juga)

    EM

    Balas
  5. Didien®

    Selamat yah buat Riku, sudah saatnya mulai memasuki masyarakat yang formal, bukan anak kecil yang suka main-main lagi kata bunda…harus bisa mandiri, dan buatlah “mereka” bangga padamu.. ^_^

    Didien®´s last blog post..iPhone OS 3.0, Dilengkapi dengan Copy Paste

    ok om
    EM

    Balas
  6. Didien®

    pokoknya cerita ini bikin saya pengen kembali sekolah lg di SD heuheu… ^_^
    *padahal numpang hatrixx bun*

    Didien®´s last blog post..iPhone OS 3.0, Dilengkapi dengan Copy Paste

    Jangan kembali ke SD dong, ntar takut anak-anak yang lainnya hehehe
    EM

    Balas
  7. AFDHAL

    wah asyik bgt tuh acaranya…
    sampe ada acara di.hall dan nyanyi lagu kebangsaan…
    kalo dulu aku masuk SD gak pake Acara2 gituan deh.yang ada dalam kelas, perkenalan Guru dan teman2 dilanjutkan dengan acara ngelirik ke jendela (nyari orang tua) dan nangis bersama kalo orang tuanya gak kelihatan hehehehe….

    AFDHAL´s last blog post..Beautiful Borneo (My Capture ;3)

    Balas
  8. nh18

    First Day at School ..
    Ini saat bersejarah bagi Riku …
    Mudah-mudahan menjadi awal bagi kesuksesannya di kemudian hari ..
    Amin ..

    Go for It Young Man …

    Salam saya

    Balas
  9. Muzda

    Begitu liat foto makanannya, langsung deh lupa ma cerita di atasnya …
    hahaa …
    Cuma inget cerita pertama Riku masuk SD, guru cantik tapi galak, Papa-Mama Kampai di selamatan Riku 😉
    O ya, itu tuh,, mentoring -bukan ospek-
    hebat bener,, kalo di sini pasti digencet deh tu anak-anak baru
    😀 kalo SMP/SMA ding, kalo SD mah nggak

    Salam buat Riku yaa 😀

    Muzda´s last blog post..Kusebut Mereka Seniman yang Hidup di Jalan

    Balas
  10. kartiko

    wah seru juga ya..
    upacara melepas Riku dari Balita ke Anak SD.. Selamat deh ntuk Riku..

    Btw.. mbak.. kalo memberi nama kepada banyak barang mending pakai stiker yang ada namanya aja..
    Besarnya sekitar 1,5cm x 4 cm dan diprint nama + pernak pernik warna warni..
    Biasanya di ada di counter-2 yang jual kartu nama di Mall.

    kartiko´s last blog post..BUAT QUIZ DI FACEBOOK

    Balas
  11. marsudiyanto

    Terkagum2…
    Kulturnya mengagumkan…
    Kalau yang sering saya jumpai adalah penyambutan yang kaku, formal, seremonial, panjang, menjemukan tapi nggak berisi apa2 selain rutinitas dan basa-basi.
    Murid saya yang kelas 2 atau 3 SMA saja belum tentu bisa dipakai buat mbantu acara2 begituan.
    Selamat buat Riku…!

    marsudiyanto´s last blog post..Coblos jadi Contrèng itu Milyaran lho…

    Balas
  12. p u a k

    Gilee… menyambut masuk sekolah aja meriah banget yak. Untuk masuk SD pulak.
    Jadinya anak2 semangat mau sekolah gitu,.. walaupun teman2nya baru,tapi bisa langsung akrab.

    p u a k´s last blog post..Jawaban yang tertunda

    Balas
  13. imoe

    Nah, inilah pengalaman luar biasa, ternyata jepang sangat maju…salut dengan partisipasi semua komponen dalam penyambutan siswa, ini menunjukan bahwa pendidikan di jepang bukan urusan sekolah atau departemen terkait saja, tapi juga urusan seluruh masyarakat, dengan begini maka seluruh proses yang terjadi di sekolah akan bisa di monitoring oleh seluruh pihak…

    O ya buk…mau tanya niy, saya dulu banget pernah baca novel TOTO CHAN, kisah tentang anak perempuan kecil yang sekolah di sebuah sekolah yang luar biasa egaliter nya, sehingga menjadi fenomenal tuh kisah. Dan ternyata itu kisah nyata….tahukan ibu TOTO CHAN itu sekarang masih hidupkah di Jepang, apa profesi beliau sekarang. TErakhir saya dengan beliau jadi guru sastra di jepang dengan di usia lanjutnya…saya penasaran banget buk…cariin info nya ya….

    Trims

    imoe´s last blog post..…lika-liku kripik budaya…

    Balas
  14. Tuti Nonka

    Saya tertarik ‘sepatu dalam’nya Riku yang berwarna putih. Apakah setiap hari memang di dalam kelas harus memakai sepatu seperti itu? Pasti lantai di dalam kelas selalu bersih dan kinclong ya …
    Saya punya beberapa sepatu kain untuk di dalam rumah, tapi akhirnya jarang dipakai, soalnya sumuk … 😀

    Tuti Nonka´s last blog post..Contreng! Hidup Demokrasi … !

    Balas
  15. mascayo

    tuk tuk itu emang ngga dilarang ya? ngga polusi apa bu?
    dan telur-telur itu … hmm kalo saya banyak makan telur ikan salmon bisa nambah tinggi ngga ya? hehehe..

    mascayo´s last blog post..Mengeluh

    Balas
  16. Yoga

    Ingat sekolah sihir Harry Potter juga mengadakan upacara penyambutan murid baru, cuma bedanya orang tua murid tak dilibatkan. Aku rasa upacara itu penting, setidaknya untuk menanamkan bonding antara sekolah dan “rumah”.

    Barangkali, di sekolah- sekolah yang berorientasi pada kurikulum internasional di Indonesia, telah menerapkan hal yang sama.

    Saat SD dulu, rasanya aku nggak ada acara seperti ini, entah kalau lupa, tapi saat SMP, SMA hingga di PT, ada inagurasi, cuma nggak sampai melibatkan orang tua.

    Mbak, telur ikan terbangnya menantang banget, yang motret pasti jago.

    Yoga´s last blog post..Bualan Siang Siang

    Balas
  17. Lala

    How exciting!
    Hari pertama sekolah sampai dirayakan sebegitunya… Wow, wow!

    Tapi memang…
    setiap hari pertama masuk sekolah, entah ke sekolah baru atau tahun ajaran baru, auranya segera berubah menjadi jauh lebih menyenangkan… Afterwards, sama aja… malah nyebelin… karena pelajarannya makin susah… hihihihi

    Balas
  18. Daniel Mahendra

    Beruntung sekali Riku, mamanya rajin membuat catatan harian seperti ini. Lebih beruntung lagi karena dalam dekade ini ada blog. Sehingga tentangnya ada dokumentasinya secara terperinci.

    Betapa ia akan tersenyum-senyum geli serta mengucapkan terima kasih pada mamanya, karena ia bisa berkaca tentang masa kecilnya, bukan saja dari foto-foto yang ada. Tapi juga dari rawian yang berkisah.

    Ingat-ingat ya kata-kataku ini:
    suatu hari nanti Riku akan tersenyum geli, mengucapkan terima kasih pada mamanya sambil berkata; “Ih, Mama ini…” dalam Bahasa Jepang yang sudah fasih tentu saja 😉

    Dan adiknya, olala, tak kalah keras tawa si Kai 🙂

    Weh, kapan ya aku memasukkan anakku sendiri ke Sekolah Dasar. Hihihi.

    Balas
  19. Retie

    waooo asyik banget, hari pertama masuk di rayakan 😀 mmmm dulu jamanku SD mmm ngga ada dech kayaknya 😀
    Waduh sushinya bikin aku laper nich 😀 yam yam yam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *