Arsip Bulanan: April 2009

70 hari lagi

Ah aku sudah tidak pintar berhitung. Dan tidak mau berhitung untuk hal ini. Meskipun sebenarnya harus memperhitungkan masak-masak sebelum bertindak. Siapa saja calonnya pun aku tak tahu (bisa klik di situ juga kan mel… nanti deh aku lihat). Tapi sebagai warga negara, yang mempunyai hak, akan kupakai hak itu. Ya, hak untuk memilih Presiden.

70 hari menuju pilpres ini saya tahu dari situs PPLN Tokyo. Dan di situ juga diberitahukan bahwa pendaftaran pemilih dan verifikasinya diperpanjang sampai 10 MEI 2009. Jadi untuk semua warga negara Indonesia yang berdomisili di JEPANG, silakan daftar lewat situs tersebut. Anda juga bisa tahu hasil pemilihan caleg kemarin di situs itu (Yang belum saya buka, dan tidak tahu siapa yang terbanyak). Pokoknya ke situs itu saja deh, jika Anda masih mau memakai hak pilih Anda. Ingat…. sampai 10 Mei saja.

Selamat memilih ….

PPLN Tokyo sudah menetapkan Daftar Pemilih Sementara (DPS) Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2009 berdasarkan Daftar Pemilih Tetap Pemilu Legislatif 2009.

Silakan mengecek data Anda di http://pilpres.pplntokyo.org

Bagi pemilih yang sudah terdaftar di Pemilu Legislatif tetap diharuskan melakukan verifikasi data pemilih.

Bagi pemilih yang belum terdaftar dalam Daftar Pemilih Sementara, dapat melakukan pendaftaran baru di link yang sama.

Batas akhir pendaftaran Pilpres adalah 20 April 2009 10 Mei 2009.

PPLN Tokyo

Kebetulan pas tanggal 18 April lalu, saya ikut rapat KMKI di Sekolah Republik Indonesia Tokyo, dan itu berbarengan dengan pembukaan surat suara yang dikirim lewat pos. Hei, ada tuh satu lembar punya saya….

suasana pembukaan surat suara, sayang saya ngga boleh masuk hehehe

suasana (sesudah) pembukaan surat suara, sayang saya ngga boleh masuk hehehe

Kartu Nama

Ada satu hal yang kadang saya rasakan kurang ketika bertemu dengan teman-teman lama atau teman-teman baru, baik waktu reuni, maupun  kopdar blogger di Indonesia. Yaitu tidak adanya kebiasaan untuk bertukar kartu nama. Seperti saya dengan Lala, saya tidak punya kartu namanya, sehingga kalau saya mau mengirim sesuatu, saya harus menanyakannya via email atau sms. Dari sekian banyak blogger/teman lama yang pernah saya temui, mungkin hanya 5-10 lembar kartu nama yang pernah bertukar tempat dengan kartu nama saya.

Mungkin memang cukup dengan nama, blog dan email saja. Tapi mungkin karena saya sudah (seperti) orang Jepang, maka saya merasakan ada kejanggalan. Ya, di Jepang, jika mau bertemu dengan seseorang , harus menyiapkan KARTU NAMA atau MEISHI  名刺. Kalau tidak membawa, seakan kamu tidak “serius” dalam berkenalan, dan saya yakin, kamu akan kehilangan chance untuk mendapatkan pekerjaan. Terutama untuk orang seperti saya yang freelancer, then don’t leave home without it! (kalau Anda hanya ibu rumah tangga tentu saja tidak perlu, sekarang cukup tukar menukar nomor HP dan email HP saja!)

Tidak berbeda dengan di Indonesia, Kartu Nama di Jepang tentu saja memuat Nama, Alamat dan Nomor telepon. Untuk bisnis, biasanya hanya mencantumkan alamat dan nomor telepon kantor, nomor HP dan email HP. Dan untuk kalangan entertainer (maklum pernah bekerja di Radio) biasanya dipasang juga foto wajah (bukan pas photo).

kartu nama ini sempat saya pakai sebentar, tapi sekarang sudah habis

Nah ada satu fenomena yang menunjukkan bedanya masyarakat Jepang dan Indonesia mengenai pendidikan. Dan ini saya sering pakai untuk menjelaskan mengenai Gakureki shakai 学歴社会 society which places excessive [undue] emphasis on academic records . Dalam kartu nama saya yang berbahasa Jepang, tidak pernah saya cantumkan gelar kesarjanaan saya. Tetapi dalam kartu nama yang berbahasa Indonesia “terpaksa” saya pasang gelar itu. Saya selalu memberikan contoh kartu nama orang Indonesia misalnya Prof. Dr. H. Alibaba SE, MA, MSc dst dst. (Jadi bahan juga untuk menjelaskan singkatan apa saja itu, termasuk bedanya singkatan dan akronim). Saya rasa sedikit sekali orang Indonesia yang “tidak mau memamerkan” gelar mereka yang panjang-panjang itu. Lah…untuk dapatkannya juga susah payah …mungkin itu alasannya. Dan inilah gakureki shakai… yang jumlah elite berpendidikan masih sedikit (dibanding Jepang), sehingga gelar yang didapat haruslah dipajang.

Saya tidak bermaksud mengritik siapa-siapa, lah wong saya juga akhirnya pakai penulisan gelar itu karena memang masyarakat Indonesia menuntutnya. Sayang saya tidak sempat memotret baliho-baliho caleg di Indonesia waktu itu. Duuuh banyak sekali gelar kesarjanaan yang saya TIDAK TAHU singkatan apa itu. Coba lihat poster caleg Jepang! tidak ada satupun yang memakai gelar kesarjanaan. Dan memang pada dasarnya gelar kesarjanaan TIDAK ditulis. Lulus Universitas itu atarimae 当たり前, lumrah. Gelar kesarjanaan hanya dipakai di biografi buku yang ditulisnya, atau di seminar-seminar ilmiah.

Ada satu cerita lucu yang saya dapatkan dari teman saya. Dia cerita begini:

“Mel, kamu punya kebiasaan nulis sesuatu ngga di kartu nama orang?”
“Ya dong, biasanya tulis pake pensil, ketemu kapan, di mana”
“Tulis ciri khas orang itu ngga?”
“Hahahahahaha … iya, abis orang jepang kan mirip semua. Kadang aku tulis berkacamata, atau pinter bhs indo, atau cantik, atau spt somebody dll”
“Nah …. ini kejadian. Aku dan temanku pergi bertemu orang Jepang. Setelah selesai, kita masih ada di kantor itu beberapa saat, sambil ngopi di coffee shopnya. Terus temen gue ini pergi ke WC. Di situ ketemu dua kartu nama yang jatuh. Ternyata itu kartu nama kita. Dan……

“Hahahaha ada tulisan apa di belakangnya?”
“Ah elu mel, nyela aja. Iya gitu deh, ternyata si Jepun itu tulis ciri khas kita. Nah si temen gue ini sampai pucet, ternyata di kartu namanya ditulis cerewet, gendut, rambut kriwil. Sebel banget dia.
“Haahahaha. Makanya kalo nulis di kartu nama orang tuh yang bagus-bagus aja. Atau jangan pake bahasa yang bisa dimengerti orang lain. Kode dong kode…..”
“IYAAAAA…. tapi kan ini orang Jepang. Dan lu tau ngga di kartu nama gue ditulis apa? Si temen gue ini sampe ngga mau kasihin ke gue, takut gue marah.
“Apa? Gendut? ”

“Masih mending… ditulis HAGE はげ alias BOTAAAAAAAAAAAAAAAKK!”

“Hahahahahahahahaahah…. sorriiiiii but…. abis …. gimana lagiiiiiii”
“Sompret bener tuh orang”
“Hahahaha….. ya sudah… abis mau digimanain lagi kan? ”
“Iya…sekarang masalahnya. Dia ngejatuhin kartu nama kita nih kan. Nah kalo dia mau urusan sama kita kan ngga bisa jadinya. Dia mungkin cari ke WC. Tapi itu kan udah kita ambil. Mau kita balikin, ntar diambil org lain gimana? NAHHHH, kalo kita kembaliin ke YBS, lebih gawat lagi dong. Dia akan tahu kalo kita udah baca “MEMO” dia di kartu nama itu kan. Mazui まずい。 Payah!”
“Hahahahahahha… buah simalakama ya…. susyah deh. Ya diemin aja lah, mustinya dia bisa usaha tanya temennya yang lain atau gimana.”
“Ho oh. Cuman gue kan KESEL banget ditulis gitu”

Cerita nyata dengan sedikit modifikasi. Untuk yang merasa sorry ya …. hehehe.

So, hari ini tentang Kartu Nama ada dua pelajaran penting yang harus dihapal:

1. Selalu siapkan kartu nama jika bertemu dengan orang Jepang
2. JANGAN menulis yang negatif sebagai keterangan di kartu nama orang lain.

eh yang ketiga:

3. JANGAN menjatuhkan kartu nama orang lain di tempat senonoh….hihihihi  (Kalau kartu nama sendiri sih namanya promosi atau cari masalah hihihi)

Mana kelingkingku?

***Posting ini adalah isi Kebaktian Paskah Oikumene KMKI yang dilaksanakan hari Sabtu, 25 April lalu, di gereja Anselmo, Meguro. ***

Dua jari kelingking yang hanya separuh, rajah bak baju menempel abadi, itu hanya penampilan luar yang tidak bisa berubah dan tak bisa diubah siapapun juga. Tapi Hati dan Keinginan hidup yang pernah ingin dibuang, tidak ada yang tahu perubahannya kecuali dia dan Tuhannya.

dua kelingking yang hanya separuh dan rajah di badan

Adalah seorang Suzuki Hiroyuki yang memukau 70-an orang Indonesia di Gereja Meguro, Sabtu lalu. Dengan semangat yang diselingi usapan air mata, dan sesekali gelak tawa mengalirlah cerita mengenai kekuatan “Sang Pemberi Hidup” pada hidupnya.

Pada usia 17 tahun memasuki dunia hitam Yakuza, gangster di Jepang. Dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa untuk menjadi Yakuza, seseorang harus mengorbankan separuh jari kelingkingnya. Belum lagi tato sekujur badan. Tidak ada rasa sakit bagi Yakuza, karena hidupnya harus TEGA untuk kekerasan. Kalau perlu membunuh orang.

Dan selama 17 tahun, Suzuki muda ini menjalani hidup yang seenaknya, sampai membuang istri dan anaknya. Sampai saat 17 tahun sesudahnya, dia diusir dari kelompoknya.  Tidak ada tempat berlindung. Dia dikejar-kejar oleh musuhnya yang lain karena ada hutang juga. Dia tidak punya apa-apa lagi, karena dia juga telah memutuskan hubungan dengan istrinya. Tidak ada saudara, tidak ada uang, tidak ada pekerjaan. Siapa yang mau mempekerjakan seorang “bekas” Yakuza?  Salah-salah orang yang mempekerjakan dia akan dibunuh dan dijadikan target juga oleh gerombolan Yakuza yang lain.

Salah satunya jalan adalah bunuh diri. Tapi saat itu dia bertemu dengan seorang pendeta. Yang memberitahukan bahwa ada “Yesus” yang telah mati untuk dia, orang yang tidak berguna itu. Jika kamu percaya, maka apa saja akan bisa dilampaui. Dan ingat… “Yesus tidak pernah mengatakan hidupmu akan MUDAH, tapi bahwa engkau akan diselamatkan”.

Siapa sangka dengan penampilan seperti ini, beliau adalah mantan Yakuza?

Siapa sangka dengan penampilan seperti ini, beliau adalah mantan Yakuza?

Tidak mudah membuang masa lalu. Sekitar 17 tahun yang lalu, dia memanggul salibnya sampai ke Hokkaido. Dia ingin merasakan penderitaan Yesus sendiri. Sambil berjalan dan mendengarkan, bertukar pikiran dengan umat Kristen Jepang yang sangat sedikit.

Di suatu tempat dia berjumpa dengan seorang nenek berusia 86 tahun yang beragama Kristen. Lalu dia bertanya pada si Nenek,

“Nek, apa yang kamu rasa paling sulit dalam hidup beragama?”

Si Nenek berkata:

“Saya percaya Tuhan. Percaya saja itu mudah. MUDAH sekali. Tapi yang sulit adalah… TERUS PERCAYA.”

Sebagai umat baru, yang baru menerima Yesus, atau yang baru menganut agama, biasanya semanagat masih menyala-nyala. Tapi setelah sekian lama, banyak mengalami hal-hal sulit, yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Di situ lah tantangan untuk TETAP percaya bahwa Tuhan itu ada. Begitu mudah kita akan jatuh lagi ke dalam Ketidakpercayaan kita.

Saya tidak bisa menuliskan kembali kesaksian Pendeta Suzuki ini semuanya. Ada cerita yang lucu dikemukakannya, ketika dia memanggul salib, dia diminta untuk berbicara dalam acara agama kristen di televisi. Dia pikir, acara itu disiarkan hari Minggu, pagi lagi, tentu tidak ada teman yakuza yang akan menonton acara religius seperti itu. TAPI dia salah…. ternyata ada orang yang tahu, dan seluruh dunia yakuza tergoncang. Apalagi si penagih hutang yang akhirnya mendatangi dia. Saat itu dia sudah hidup bersama istri dan anaknya kembali. Betapa takutnya dia menghadapi kawanan Yakuza itu, tapi ternyata Tuhan melindungi dia, melalui tangan anak kecil, anaknya sendiri, yang tidak takut-takut, membelai kepala botak si Yakuza, dan bermain di sebelahnya. Sampai si Yakuza itu malah mengeluarkan dompet dan memberikan uang 20.000 yen untuk uang saku si anak. Tuhan bekerja!

Suzuki Sensei ini juga merupakan satu-satunya orang Jepang, Kristen yang diundang dalam acara makan pagi kenegaraan di Washington DC. Presiden Clinton hanya berpidato 5 menit.  Pendeta Billy yang terkenal itu hanya punya plot waktu 5 menit. Tapi Pendeta Suzuki ini mendapat waktu 15 menit + termasuk terjemahan. Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak bisa masuk Amerika karena pernah di”pulangkan” karena tidak bervisa waktu ke Hawaii.

Banyak buku dan ada sebuah film yang dibuat berdasarkan jalan cerita hidup Pendeta Suzuki. Sayangnya masih berbahasa Jepang.

Kai dan Banner

Saya merasa beruntung bisa mendengarkan langsung kisah hidupnya, hari Sabtu yang lalu. Meskipun dalam hujan, saya berhasil datang ke gereja bersama Kai dan Riku naik bus dan kereta. Karena hujan, hanya 70 umat kristen dan katolik Indonesia berkumpul di Meguro.Tapi dengan sukses 70 orang ini menghabiskan jatah makan 200 orang, makan nasi kare, bubur ketan hitam dan masih bisa membawa bekal pulang ke rumah. Ya kami semua bisa membawa pulang bekal makanan jasmani, tapi yang terutama bekal makanan rohani yang memperkuat iman untuk TETAP percaya pada TUHAN.

Petinggi KMKI Pdt Atsumi, Pdt Suzuki, Rm. Harnoko, Rm Leo, Pastor Caleb

Petinggi KMKI Pdt Atsumi, Pdt Suzuki, Rm. Harnoko, Rm Leo, Pastor Caleb

DVD dan Buku-buku karangan Pdt Suzuki:

Jangan Bugil di Sini

Kemarin pagi saya terkejut mendengar berita, bahwa salah satu anggota boysband tekenal di Jepang, SMAP, ditangkap polisi. Apa pasal? Ternyata si Kusanagi ini saking maboknya (katanya sih 10 gelas bir… ) berbugil ria, telanjang tanpa selembar benang pun di taman di Tokyo. Saya sering kok mendengar orang yang berbugil ria karena mabok, meskipun mungkin cuma sebentar, tapi tak ada yang seheboh si Kusanagi ini.

Entah mungkin karena dia seleb, atau dia sempat mengganggu ketertiban atau apa, sehingga ditangkap. Saya berkata pada Gen, “Kenapa sih, yang telanjang kan dia. Kenapa harus ditangkap?”. Ya ditangkap dengan dakwaan, mengganggu kepentingan umum. Laaahh? Kalau di Indonesia mah, mungkin semua emang ngerubuti dia, bikin foto lalu jual di net, dengan harga tinggi. Maklum fansnya kan banyak. (Mungkin kalau dianya berjenis kelamin wanita akan lebih laku lagi). Atau satu lagi, sebelum dia telanjang, pasti ada temannya yang membawa dia pulang, sehingga tidak sempat membuat ulah di taman. Saya masih merasa aneh dengan hukum Jepang yang ini (dan mayarakat Jepang ini).

Dan karena dia seleb, langsung masuk TV, langsung semua perusahaan yang mengikat kontrak dengan dia menghentikan tayangan CM (Commercial = Iklan di Media TV), dan membatalkan kontraknya. Berapa juta yen kerugian dalam sehari, hanya karena bugil di tempat umum, yang mungkin tidak sampai berjam–jam itu. Karena dia public figure, seleb, dia seharusnya tidak berbuat seperti itu (kalau orang biasa, saya yakin kerugiannya paling hanya memalukan keluarga doang, ngga sampai berjuta-juta yen). Kasian deh… Lihat wajahnya yang kuyu dan tak ada ekspresi di matanya waktu konperensi pers.

“Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”… peribahasa yang masih tepat dipakai sampai kapanpun. Padahal dalam peribahasa Jepang juga ada, “Saru mo ki kara ochiru”猿も木から落ちる。Harafiahnya “Monyetpun jatuh dari pohon”. Atau kalau peribahasa Indonesia menjadi : ”Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga”. Namanya juga manusia. (Kenapa di peribahasa Indonesia pakai tupai ya? bukan pakai monyet sebagai perlambang? Kenapa justru orang Jepang pakai monyet? hmmm aneh!)

Jadi kesimpulannya? “Jangan bugil di sini!”

foto ini saya ambil di KB Yurasia, Yokohama

foto ini saya ambil di Kebun Binatang Zoorasia, Yokohama


Last Supper @ Sunset Cafe

Beberapa hari terakhir ini saya memang memasang status di YM dan GTalk saya dengan “Last Supper” dan “Sunset Cafe”.  Sampai Mbak Noengki menyapa saya dan berkata, “Duh enaknya yang online di Cafe“. Padahal itu tidak benar, karena sebetulnya Sunset Cafe tidak ada di kenyataan (Baru-baru ini saya googling ternyata ada yang baru buka di cafe di pulau Bali, padahal sebelumnya — well 10 tahun yang lalu belum ada. Sampai pernah saya dan teman Suto san bilang kita buat di Jakarta yuuuk ). Dan bagi pendengar setia “Gita Indonesia” di InterFM 76,1 masih ingat tentunya lagu ini. “Sunset Cafe” oleh Rita Effendy, karena lagu ini salah satu lagu kesayangan yang sering saya putar.

Bias jingga senja menjelang
senandung ombak berkumandang
matahari turut terbenam
mengiringi angan kita

Secangkir cappucino panas
berbagi mimpi menembus batas
sekumpul nyiur tersenyum
mendengar janji kita

Reff.
Di Sunset Cafe kita bersama
di Sunset Cafe kita berdua
di Sunset Cafe kita bercinta
memandang lautan lepas
khayalan kita seakan jadi nyata…
di Sunset Cafe

Kecupan hangat pipi kiri
terasa menggetarkan hati
redup lilin-lilin menyala
melihat gairah kita

Cinta bersemi di Sunset Cafe
angan melambung di Sunset Cafe
hasrat membara di Sunset Cafe
cinta yang indah ini
terukir di Sunset Cafe

Irama yang enak didengar dan sambil membayangnya Tasogare, Twilight, Senja ….. saya hirup cappucino panas. Hmmmm…..

Lalu apa hubungannya dengan “Last Supper”. Kalau saya tulis 2 minggu yang lalu tentu semua tahu yang saya bicarakan adalah perjamuan terakhir Yesus bersama 11 orang muridnya. Dan topik “Last Supper” ini muncul kembali hari Senin yang lalu, tanggal 20 April.

Hari itu, saya sempat pergi “date” untuk lunch, dan menikmati makanan Perancis-Jepang di sebuah restoran di Kichijoji. Kaisen Shokudo, sebuah restoran yang kadang kami datangi untuk menjamu tamu atau merayakan pesta dengan jumlah orang yang sedikit. Hanya 14 tamu yang biasanya bisa masuk, sehingga harus menelepon dulu sebelumnya untuk memesan tempat. Makanan juga dipesan sebelumnya, pilih course dengan menu main dish saja yang berbeda, dan harganya tergantung mau half course atau full course. Kalau siang ada lunch course.


Mungkin untuk laki-laki, makan “seuprit” begini tidak akan kenyang, tapi bagi wanita lumayan, karena dishesnya disajikan satu per satu, dan harus sediakan waktu minimum 1 jam untuk menikmati obrolan, makanan dan …. wine kalau mau. Oh ya satu lagi…di sini bisa menikmati indahnya piring-piring keramik yang mereka pakai. Keramik Jepang memang lain dengan keramik eropa, white porcelain. Keramik Jepang lebih menonjolkan tanah liat, bentuk asimetris, dan warna-warna “bumi”. Saya suka keramik Jepang, ingin coba membuat, tapi belum ada waktu. Ibu mertua saya kadang membuatkan saya piring keramik sesuai pesanan bentuk dan warna yang saya sukai.

Nah, waktu makan appetizer yang di foto kanan atas, dalam gelas itu, ada mouse sayuran dan di atasnya adalah roti bakar dengan “UNI” di atasnya. Uni ini artinya bukan kakak perempuan untuk bahasa Minang,  tapi bahasa Jepangnya untuk Sea Urchin (Bulu Babi). Orang Indonesia tidak makan bulu babi, padahal itu merupakan makanan mewah bagi orang Jepang. Saya ingat salah satu murid saya pernah naik perahu di Laut Makassar, membawa pisau dan shoyu, kecap asin Jepang (kikkoman) . Ambil bulu babi, dan buka kulitnya yang seperti rambutan berduri hitam itu, dan …. nyammmm… makan isinya dengan kecap asin yang dibawanya. Mungkin bentuknya tidak menarik, tapi rasanya? …… Heaven…. katanya (dan kata saya, kata Riku dan kata Ayu-san).


Ya, Teman date saya adalah Ayu san, yang pernah saya tulis di posting ” Perbedaan Usia“. Hari itu saya mau merayakan “She becoming a salarywoman”. Dia sudah berstatus pegawai sekarang , sudah shakaijin (harafiahnya : manusia masyarakat… yang bergaji dan bisa mengabdi masyarakat). Shakaijin adalah suatu status bahwa kamu bukan mahasiswa, dan bukan pengangguran. Dan di Jepang, Bulan April adalah titik awal untuk menjadi shakaijin, dengan upacara-upacara penerimaan pegawai baru di setiap kantor. (Untuk menceritakan shakaijin dan upacara penerimaan pegawai baru ini perlu posting tersendiri).

Tema pembicaraan kami saat itulah, tentang “Last Supper”, Perjamuan Terakhir, Saigo no Bansan 最後の晩餐. Yang juga menjadi judul prgram TV di Jepang, yang isinya “Makanan apa yang kamu ingin makan di hari terakhir kamu hidup?”. Bagi Ayu, dia paling suka UNI, jadi pada saat terakhir itu dia ingin makan UNI. dan dia bertanya, “Kalau Imelda Sensei? ”

Well, terus terang saya tidak tahu. Sedih juga kalau tidak tahu makanan apa yang kamu sukai, yang kamu ingin makan sebagai makanan terakhir di dunia ini. Saat ini kalau ditanya, saya benar-benar tidak tahu. Saya suka macam-macam, tapi kalau disuruh menyebutkan satu dari macam-macam itu? Saya tidak tahu jawabannya.

“OK”,  kata Ayu. “Kalau begitu,tidak usah makanan, tapi tempat terakhir yang sensei inginkan sebagai tempat terakhir waktu meninggal?”. Nah… kalau itu saya bisa jawab! Ya, saya ingin berada di suatu tempat, yang bisa memandang ke matahari tenggelam, tasogare, senja ….. Menikmati karya Tuhan yang amazing. Dan bersamaan dengan tenggelamnya matahari itu, saya ingin hidup saya berakhir. Warna tasogare, twilight adalah warna yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Karena itu saya namakan blog saya ini Twilight… Twilight Express.

“Well, kalau begitu di beach? Sunset at the beach?”

“No, Aku tidak begitu suka pantai…. tapi aku suka danau. Pantai kesannya panas, beta-beta suru…. (peliket). Kecuali mungkin pantai waktu musim dingin ya? Tapi saya suka sekali danau. Magis…. tranquil… melenakan. Mungkin seperti foto ini.


So, teman-teman? Jika Anda ditanya, apa yang ingin Anda santap di hari terakhir Anda, apa jawab Anda? Atau di mana Anda ingin berada sebagai tempat terakhir Anda hidup di dunia ini?





IBSN : Enam jam kehidupan

Saya pernah membaca cerita ini 5 tahun yang lalu. Renungan yang selalu membuat saya menangis. Dan saya ingat saya pernah memberikannya pada seorang teman yang sedang menderita kanker. Dia berkata renungan itu amat menguatkannya. Dan betapa senangnya saya mendengar dia sudah sembuh sekarang. Berkat teh hijau…..

Saya ingin menaruh renungan ini di sini sebagai ingatan akan makna kehidupan untuk semua orang… Dan terutama ingin mendoakan Sassie, seorang blogger, anggota IBSN yang berpulang karena sakit juga. Semoga Sassie bisa menjadi cahaya yang menerangi kita yang masih tinggal di dunia, sama seperti tulisan-tulisannya yang begitu memberikan inspirasi bagi kita teman-temannya.

Copy berita dari sms:

innalillahi wa innalilahi rojiun.. telah berpulang ke rahmatullah.. adik dan saudara kami tercinta SASSIE KIRANA Binti Abdul muthalib pada hari minggu dini hari/senin pukul 3 pagi di lahad Datu Hospital jenazah telah dikebumikan pada hari senin sore di tarakan kami atas nama keluarga Almarhumah mohon maaf atas segala kekhilafan almarhumah semasa hidupnya semoga almarhumah mendapat tempat yang layak di sisiNYA Amin.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Sepasang suami istri hidup bahagia. Sejak 10 tahun yang
lalu, sang istri terlibat aktif dalam  kegiatan  untuk menentang
aborsi, karena menurut pandangannya,  aborsi berarti membunuh
seorang bayi. Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang
istri  hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka
menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan
lingkungan sekitarnya. Semua  orang ikut bersukacita dengan
mereka.

Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi.
Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan
perempuan. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin
tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga
dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk
dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2
nya.

Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami
maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan  ini bersikeras untuk
tidak menggugurkan bayi  perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi
juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. “Saya bisa merasakan
keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak”, kata sang  ibu di sela
tangisannya.

Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada
pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah  kehendak
Tuhan. Ketika sang istri semakin mendekatkan  diri dengan Tuhan,
tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik
semua ini.

Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka
mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan
banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi
mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak
sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga  mengalami situasi yang
sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga
menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka
mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang
sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang
lain ?

Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini  menamakan
bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada
mulanya, mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian
mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan
untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan
punya rencanaNya sendiri.

Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne  cukup sehat
untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2
jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika
sesuatu yang buruk terjadi  pada Anne, mereka akan mendonorkan
organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang
sedang menunggu donor organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini
berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang
tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan
ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan
terjadi.

Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua
bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut,
sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap
ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak
akan pernah terlupakan dalam
hidupnya.

Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan
perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa
mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi
Anne), mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil
tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini
akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh tidak ada kata2 yang
dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air
mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa
mereka yang terluka..

Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki
kesempatan untuk melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap
bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih
banyak bagi Keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan.
Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam
jam…..

Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran
organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb
bahwa donor tsb berhasil. Pasangan tersebut sekarang sadar akan
kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia
berhasil menyelamatkan nyawa saudaranya.  Bagi pasangan tersebut,
Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup
dalam hati mereka
selamanya…

Sumber : Gifts From The Heart for Women – Karen Kingsbury

******************************

***************************************
2. REFLECTION

1.      SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu
hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah
APA YANG KITA TELAH KITA LAKUKAN SELAMA HIDUP KITA, YANG BERMANFAAT
BAGI  ORANG LAIN.

2.      SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita
telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang
benar2 penting adalah APA YANG DILAKUKAN PERUSAHAAN KITA SELAMA INI,
YANG  BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN

3.      Ibu Anne mengatakan “Hal terpenting bagi orang tua bukanlah
mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka
tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan.
TETAPI HAL TERPENTING BAGI KITA SEBAGAI ORANG TUA ADALAH UNTUK
MEMASTIKAN BAHWA ANAK-ANAK  KITA MELAKUKAN HAL2 TERPUJI SELAMA
HIDUPNYA, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan
menuju surga”.

*********************************************************************

Childlens

Waktu saya pergi ke Sendai, saya menemukan sebuah buku yang berjudul “Childlens”, yaitu kumpulan foto-foto yang dibuat oleh anak-anak. Anak-anak itu disuruh memotret apa saja yang dia ingin potret. Dan dengan melihat hasil jepretan mereka, seakan kita menjadi anak-anak itu dan melihat pemandangan dari ketinggian mereka. Dan itu sangat menarik, menurut saya. Karena itu saya juga menyuruh Riku banyak memotret waktu dia pergi berwisata di okinawa bersama kakek-neneknya, seperti yang pernah saya muat di sini.

menikmati childlens... lucu-lucu loh fotonya (ada foto ibunya ganti baju juga hihihi)

menikmati childlens... lucu-lucu loh fotonya (ada foto ibunya ganti baju juga hihihi)

Saya bercita-cita  untuk mengumpulkan foto-foto karya Riku dan Kai, dan ingin  membuat kumpulan foto, yang bisa menjadi kenangan buat mereka jika sudah besar nanti. Terima kasih pada kecanggihan masa modern, yang menyediakan kamera digital, komputer dan hard disk, sehingga kita tidak perlu memikirkan bengkaknya biaya jika dibanding dengan dahulu, yang harus cuci cetak dahulu sebelum bisa menikmati karya foto.

Kali ini saya mau pasang foto-foto karya “keluarga fotografer” cieeee. Yaitu foto “Pertama” yang diambil Kai (kiri) , foto yang diambil Riku ( kanan) serta……

(Foto yang diambil anak-anak sering terpotong dan tidak simetris biasanya. but itulah seninya)

Foto yang diambil papanya Riku dan Kai, waktu mereka bermain ke taman, dan memberikan saya sedikit waktu tenang pada hari Minggu lalu, sehingga saya bisa mengerjakan terjemahan sedikit.

click to enlarge.

Undangan KMKI

Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia, disingkat KMKI, mengundang umat Kristen yang berdomisili di Tokyo dan sekitarnya untuk merayakan Paskah Bersama KMKI 2009, pada tanggal 25 April 2009, pukul 17:00 – 20:00 JST. Pengkotbah adalah seorang Jepang yang “bangkit” dari dunia kejahatan dan menjadi seorang pendeta. Beliau bernama Pdt Suzuki Hiroyuki.

Kotbah tentu saja dilakukan dalam bahasa Jepang, tapi jangan takut, Pdt Surya dari GIII akan menerjemahkan langsung untuk Anda semua. Tempat kebaktian oikumene ini di gereja katolik Anselmo, Meguro, 3 menit berjalan kaki dari stasiun Meguro. Datang dan dengarkan kisah Pdt Suzuki ini! (Sssst saya ketua panitia nih, jadi dukung saya ya …. saya bukan caleg kok hehehhe)

Pdt. Suzuki Hiroyuki masuk ke dunia yakuza sejak umur 17 tahun dan hidup semaunya sendiri selama 17 tahun. Melalui pertobatan yang drastis, beliau memulai hidup yang baru sebagai penginjil. Bersama dengan rekan-rekan bekas yakuza,  beliau melayani sebagai penginjil di grup penginjilan bernama “Mission Barabas”. Sekarang Pdt. Suzuki melayani di Gereja Siloam Christ sebagai gembala dan banyak melayani di dalam dan luar negara Jepang.

(terima kasih pada Sdr Verawati yang telah membuat pamflet ini)

Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia atau disingkat KMKI, merupakan wadah kegiatan umat Kristen interdenominasi (oikumene) di Jepang. Anggota KMKI adalah orang Indonesia (baik WNI/WNA) yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya dengan profesi pegawai negeri/swasta berserta keluarganya, pelajar/mahasiswa, pemagang di perusahaan Jepang dan suami/istri dari warga Jepang. Meskipun belum terdata secara jelas jumlah anggota merupakan jumlah anggota dari masing-masing gereja yang ada di Tokyo, Jepang yaitu sekitar 1500 orang, dan jumlah anggota aktif yang hadir dalam acara Natal tahunan sekitar 400 orang.

Adapun gereja yang tergabung dalam KMKI adalah :

1. Gereja GIII (Gereja Interdenominasi Injili Indonesia)

Gembala : Bapak Pendeta Yasuo Atsumi

Ketua Majelis : Bapak Richardo Sihombing

2. Gereja Agape dengan nama resmi adalah IFGF-GISI (International Full Gospel Fellowship / Gereja Injil Seutuh Internasional)

Gembala : Pastor Caleb Supratman

Gereja : Narimasu (Tokyo), Oarai, Gunma

3. Gereja Katolik berbahasa Indonesia

Gembala : Harnoko CICM

Gereja : St. Ignatius Yotsuya; St. Anselmo Meguro, Oarai

Kegiatan KMKI adalah :

1. mengadakan acara KKR minimal sekali setahun

2. mengadakan Kebaktian Padang (di luar ruangan) sekali setahun

4. mengadakan Perayaan Paskah/ Natal Bersama

5. berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat yang diadakan Kedutaan Besar Republik Indonesia

satu satu nol

110 – seratus sepuluh dan bahasa Jepangnya biasa disebut Hyaku-toban (110 番). Bagi yang mengerti bahasa Jepang, akan bertanya, “Loh kok bukan hyaku juu sih?) . Ya, memang bukan disebut hyaku juu, karena angka ini adalah angka keramat. cieee…

Seperti pernah saya ceritakan di “Di Jepang ada pencuri?”, bahwa 110 adalah dial, telepon khusus untuk polisi. Di mana saja Anda berada di Jepang, jika menelepon ke 110, pasti akan disambung ke kantor polisi terdekat. Jadi layaknya  nomor 110, memberikan keamanan dan keselamatan bagi warga Jepang.

Pada lambang/papan  yang ada di sebagian rumah di daerah-daerah pemukiman, ada yang bertuliskan “Kodomo 110(こども110番)”. Kodomo = anak-anak (bukan komodo lohhh…. tapi komodo no kodomo itu berarti anak komodo hehhehe bingung yah) . Jadi anak-anak jika mengalami ketakutan, merasa diikuti orang, dikejar penjahat atau segala sesuatu yang membahayakan dirinya, bisa lari ke rumah-rumah dengan tanda itu. Dan di daerah Nerima, daerah kami, selain tulisan “kodomo 110” ini juga memakai lambang bunga matahari, “himawari“.

Bahkan kata Gen, jika anak-anak haus dan tersesat, bisa mengebel rumah dengan tanda itu, dan minta air minum, minta bantuan. Shelter for children. Dan waktu saya jalan-jalan memang sering sekali menemukan tanda itu. Dulu belum punya anak, jadi belum “mengerti” artinya. Tapi sekarang setelah anak saya mulai sekolah, merasa aman dengan kehadiran rumah-rumah 110 itu. Dan memang karena sekarang saya adalah anggota pengurus PTA sekolahnya Riku, saya harus mengecek rumah-rumah mana saja yang 110 di sekeliling sekolah dan rumah.

Sebagai tambahan usaha untuk keamanan anak-anak bersekolah, semua anggota pengurus PTA (satu kelas 3 orang) dibagikan lencana yang dipakai di lengan atau tas, bertuliskan bohan 防犯 (pencegahan kejahatan) , dan juga sebuah kertas berlaminating dengan tulisan パトロール (Patrol) yang dipasang di sepeda. Semua dengan warna dasar hijau.

Saya tidak tahu kenapa hijau yang dipakai. Coba saja tanda emergency exit yang dipakai di gedung-gedung. semua berwarna hijau bukan? belum lagi tanda-tanda itu mengkilat/berlampu sehingga saat gelappun bisa terlihat. Kenapa bukan kuning? yang lebih alert daripada hijau? Mungkin, mungkin loh, menurut hipotesa saya saja, jika terlalu banyak warna kuning dipakai rasanya kehidupan manusia akan berisi ketegangan terus. Alert terus. Sedangkan warna hijau, lebih nyaman di hati, seakan memberikan perlindungan. Hmmm mungkin saya harus mencari lagi di google jepang, kenapa dipakai warna hijau. Saya senang sekali “melacak” di google jepang, karena sering pertanyaan aneh-aneh seperti saya ini, bisa terjawab di sana. Dan itu karena, ORANG JEPANG SUKA MENULIS. Apapun didokumentasikan (tulisan/foto) oleh orang Jepang. So, menurut saya, Jepang adalah surga bagi penelitian. ASAL BISA BAHASANYA.

Lalu apa tugas saya yang membawa kedua tanda itu? Tugasnya bukan seperti polisi yang melakukan patrol memang. Tapi bila dengan tidak sengaja menemukan sesuatu yang mencurigakan, kita bisa langsung melapor ke polisi. Jadi diharapkan saya juga waspada terhadap keamanan sekeliling, dan jika diminta bantuan oleh anak-anak yang melihat tanda saya itu, saya wajib menolong dan membawanya ke pos polisi terdekat.

Papan Kodomo 110 himawari di rumah penduduk, lencana bohan, tanda patrol di sepeda. Ini semua memperlihatkan lagi kerjasama antara pemda, polisi, masyarakat sekitar,dan orang tua murid dalam keselamatan anak-anak. Dan mungkin sedikit banyak tulisan ini bisa menjawab pertanyaan teman-teman dalam komentar yang diberikan dalam tulisan-tulisan tentang Riku pertama kali bersekolah. Dan ya…. ini adalah satu lagi oleh-oleh dari pertemuan orang tua murid PTA yang saya ikuti hari kamis lalu.

(Masih ada yang bisa saya ceritakan lagi ngga ya dari pertemuan itu? Hmmm masih banyak… misalnya bagaimana cara pemilihan pengurus, dan kegiatan-kegiatan mereka…. tunggu saja kapan bisa terungkapnya)