Ransel Anak SD

Tadinya Gen harus bekerja juga hari Minggu (29 Maret) , jadi aku pun sudah bersiap untuk tinggal di rumah. Malas rasanya pergi ke mal atau supermarket waktu orang-orang libur karena pasti penuh. Pasti sulit mengontrol dua anak balita…. eh Riku sudah bukan balita lagi… so dua anak cilik. Kai memang sudah bisa jalan sendiri, dan karena itu lebih sulit mengawasinya. Terkadang dia sengaja pergi menjauh dan tidak mau datang meski sudah dipanggil-panggil. Dia sering  menatap aku, seakan berkata, “aku ngga mau datang, kamu mau apa?” Benar-benar pandangan anak nakal! Tapi kalau aku ceritakan soal kenakalan Kai (atau Riku dulu) pada Gen, dia selalu bilang, “Kamu kan pernah bilang suka anak nakal?” hehehe. Memang aku pernah bilang begitu tapi dalam konteks nakal = aktif dan kreatif.

Anyway, hari minggu ini ternyata Gen bisa libur. Dan kami merencanakan bahwa ini hari minggu khusus untuk Riku. Jadi pagi jam 8:30 Gen dan Riku sudah berangkat naik sepeda ke T JOY Oizumi, untuk menonton Madagaskar2 jam 9:10 pagi. Aku dan Kai? Di rumah saja… bayangin dong bawa balita ke bioskop… mana bisa. Lagipula aku masih phobia kegelapan jadi selalu menolak untuk pergi ke bioskop. Alhasil sampai dengan Riku dan papanya pulang ke rumah jam setengah 12 siang, rumah sudah kinclong deh (tentu saja dibantu Kai dengan menumpahkan air Aqua ke lantai — makasih nak, memudahkan mama ngepel — atau memercikkan air dari tempat cuci piring ke lantai dapur. Heran deh ini anak kok suka banget main air).

Tapi mereka begitu sampai rumah, langsung pergi lagi ke dry cleaning. Kali ini Riku mau  belajar naik sepeda sendiri. Waktu itu aku sempat menemani dia belajar sepeda (masih pakai roda tambahan) sampai RS dekat rumahku. Nah tempat dry cleaning ini masih agak jauh lagi. Kesempatan bagus untuk berlatih dengan papanya. Cuma kok lama ya? ternyata mereka juga pergi ke toko sepeda untuk menyetel tinggi sadel dan ke taman, serta bermain di situ.

Jadinya kita makan siang baru jam 2 siang. Dan sesudah itu Gen siesta (take a nap)… Yaaaah padahal rencananya mau pergi beli ransel a.k.a RANDOSERU ランドセル untuk Riku. Kasian juga Gen akhir-akhir ini kurang tidur, jadi aku biarkan dia tidur sampai jam 5 sore. Kemudian kami pergi ke “Nitori” Tanashi untuk mencari ransel. Kami tidak mau pergi ke departemen store, karena harga ransel di departemen store rata-rata 50.000 yen. Biarpun ada uangnya, kami tidak mau membuang uang segitu banyak hanya untuk sebuah tas ransel.

Saya pernah menulis soal ransel ini juga di postingan “Beban Berat anak SD Jepang“. Tas sekolah berbentuk tas punggung yang keras dan seragam bentuknya bagi anak SD. Sepertinya tidak ada deh di belahan dunia manapun yang seluruh murid SD nya memakai tas yang sama bentuknya selama 6 tahun. Hanya di Jepang!!!

Sejarah randoseru ini sudah 100 tahun lebih, dimulai dari  Bakumatsu (akhir jaman Edo/ Tokugawa sekitar 1860-an) dengan dimulainya pemakaian tas punggung ala barat “Senou” oleh serdadu Jepang. Pada tahun 1885, sekolah Gakushuin (berdiri tahun 1877) melarang murid-murid diantar dengan becak/ mobil ke sekolah dan mewajibkan murid-murid memakai “Senou” untuk membawa peralatan sekolahnya. Karena dalam bahasa belanda “senou” ini disebut dengan “Ransel”, maka Jepang mengadaptasi nama ini dan menjadi terkenal dengan nama “RANDOSERU”. Tapi bentuk yang dulu lebih menyerupai Rugsack daripada bentuk kotak masif seperti sekarang. Baru tahun 1887 bentuk kotak itu muncul akibat pesanan khusus Perdana Menteri Ito Hirobumi untuk hadiah masuk SD Kaisar Jepang ke 123, Kaisar Taishou ( 1879-1926).

Meskipun demikian, ransel masih merupakan barang mewah untuk anak-anak kota saja. Anak-anak di pedesaan masih memakai Furoshiki (kain segi empat seperti syal) untuk membawa peralatan tulis mereka. Baru pada tahun 1955, ransel dipakai di seluruh negeri, dan merupakan barang mutlak untuk murid SD.

Masuk SD berarti keluar dari keluarga dan masuk dalam masyarakat baru, dan dianggap sebagai satu langkah besar dalam keluarga. Persiapan membeli ransel, alat tulis, setelan jas, meja belajar merupakan kesibukan satu keluarga besar. Kakek dan nenek memberikan angpao dalam jumlah besar untuk membeli ransel, dan semua saudara biasanya juga memberikan selamat (+angpao)  Nyuugaku Iwai 入学祝い.

Ternyata di toko pertama, Nitori itu tidak ada ransel berwarna hitam. Padahal Riku maunya yang hitam. Jadi kami bertanya ke Service Counter, dan oleh petugasnya dijanjikan untuk mencarikan ransel hitam di seluruh cabang toko itu di seluruh Jepang, dan akan menelepon kami besok dengan berita ada atau tidak. Tapi Riku maunya saat itu juga… mengerti juga perasaan dia. Jadi waktu Gen mengajak untuk mencari di  “Shimachu Home Center” aku ok-ok saja. Lebih baik mencoba kan?

Dan untung saja kami coba mencari di tempat itu. Aku juga bisa cuci mata dengan design interior yang lain dengan yang dipamerkan di Nitori. Lebih berwarna dan bervariasi. Jadi pengen pindah rumah nih. Dan ternyata malah di situ tersedia beberapa jenis ransel yang bermerek. Aku ingat sekali merek itu di iklan TV. Tenshi no hane (Wings of Angels) – sayap malaikat. Dengan desain khusus yang memikirkan pertumbuhan tulang punggung anak-anak selama 6 tahun. Ya, ransel itu dipakai selama 6 tahun, jadi memang harus kuat! Dan karena itu bisa dimaklumi kalau harganya mahal. (Dan pikir-pikir tas-tas sepupunya Riku yang satu kotak penuh itu juga makan tempat ya? pasti di Jepang tidak bisa seperti itu. Anak Jepang diajarkan untuk eman-eman …sayang barang) Mungkin maksudnya kalau pakai tas ransel sayap malaikat itu terasa ringan dan melekat ke badan bagaikan sayapnya malaikat. Sayangnya yang pakai ransel itu sebenarnya bukan malaikat, malah bisa jadi setan-setan kecil hihihi. Bisa (Hebat) aja tuh promosinya.

Pulang dari toko itu sudah jam 8, dan Riku mau makan sushi… jadi kami ke resto sushi yang ada dekat rumah. Waktu masuk resto, Gen tanya apa aku bawa kamera. Ternyata waktu aku cari di tas, tidak ada! Padahal aku sudah siapkan sebelumnya. Lupa aku masukkan dalam tas lagi setelah memotret mereka bertiga. Kenapa dia tanya kamera? Rupanya ada menu khusus di resto itu yaitu “Odori Awabi” (Kerang awabi menari – kerangnya dipanggang hidup-hidup didepan kita, sehingga kita bisa melihat kerang itu menciut seakan-akan menari …. sadis ya hehheh). Tapi karena aku lupa bawa kamera, kami tidak memesan “Odori Awabi” itu. Lagipula aku tidak begitu suka makan kerang. Kerang merah bagianku  selalu aku kasih ke Gen.

Karena Riku mau makan desert, aku usulkan ke Gen untuk pergi ke Baskin Robbins 31 saja. Sudah lama tidak makan es krim di situ. Dan ada dua rasa baru aku coba di situ, “Strawberry Choco Dipped” dan “Love on Torte“… yummy. Dan di situ pertama kalinya Kai mengambil sendiri es krim papanya yang rasa coklat. Ternyata favoritnya dia rasa coklat. Kalau Riku lebih suka mint atau mattcha (green tea).

Well buzy sunday, but  untuk Riku merupakan hariyang terbaik… semoga.

Pemeriksaan Berkala

Salah satu persyaratan Kai masuk ke TPA adalah menyerahkan surat pemeriksaan berkala 1,5 tahun dari Puskesmas terdekat. Pemeriksaan berkala 1,5 tahun adalah wajib (dan gratis) bagi semua balita yang tinggal di kelurahanku (mungkin juga seluruh Tokyo). Dan ternyata aku sudah melewatkan  2 kali kesempatanpemeriksaan di Puskesmas, karena waktu yang tidak pas dan kami sedang di Indonesia. Kasihan juga Kai, dibandingkan dengan Riku yang selalu tepat jadwal pemeriksaan berkala dan vaksinnya, Kai agak “ditelantarkan” oleh mamanya. Ada 2 jadwal besar yang belum dilakukan yaitu pemeriksaan berkala 1,5 tahun ini dan vaksin anti polio.

Selain pemeriksaan massal di Puskesmas, kami boleh membawa kertas formulir pemeriksaan dari Pemda ke klinik/RS yang tercantum dalam daftar dan memeriksakan sendiri di klinik yang dipilih. Karena pemeriksaan massal sudah lewat, maka aku menghubungi RS dekat rumah yang biasanya kami kunjungi. Tapi ternyata jadwal rutin pemeriksaan di RS itu sudah demikian padat sehingga aku baru bisa bikin apo (appointment) bulan Juni. HAH? kalau bulan Juni mah, anaknya udah keburu ulang tahun ke 2 jeh. Padahal aku juga perlu cepat, untuk diserahkan ke TPA. Jadi aku cari klinik lain yang bisa cepat.

Melihat daftar klinik dan alamatnya, aku mencari klinik yang sama alamatnya dengan rumahku. Telpon “klinik Kimura” , dan dilayani oleh resepsionis yang ramah. Si suster ini bilang, “kapan saja silakan datang bu”. Jadi tanggal 27 (Jumat siang) aku mengajak Riku dan Kai naik sepeda mencari letak klinik tersebut. Cari punya cari, ternyata patokan pemandian umum yang dipakai  itu lain namanya. Terdengar sama sih… Matsu no yu dan Tatsu no yu. Ternyata meskipun nama jalannya sama, bloknya sama sekali berbeda dan agak jauh dari rumahku. Jadi dalam dingin kami pulang ke rumah, menaruh sepeda, dan ambil kunci mobil. Untung sekali Gen tidak pakai mobil hari itu. Rasanya aku juga sudah lama tidak menyetir mobil.

Berkat bantuan car navigator (GPS), aku menemukan klinik tersebut. Sebuah klinik yang kecil, tapi ternyata terkenal. Klinik khusus pediatrik. Rupanya ini “Klinik Kimura” yang sering diperbincangkan ibu-ibu teman Riku. Dokternya hanya satu, yaitu dokter Kimura, dan ternyata memang lain ya tanggapan seorang dokter yang mempunyai klinik sendiri dengan dokter RS. Dokter yang punya klinik sendiri lebih tanggap, cepat dan friendly! Melihat ketenaran klinik ini aku sudah siap-siap untuk menunggu 2 jam… tapi ternyata makan waktu tidak lebih dari 50 menit sejak daftar sampai menerima hasil. Hebat!

Dalam pemeriksaan 1,5 tahun itu aku harus menjawab banyak pertanyaan yang nantinya merupakan bahan penilaian dokter untuk memperkirakan kemajuan pertumbuhan Kai.  Misalnya:

1. Apakah bisa berjalan dengan lancar? (ok banget)
2. Kalau digandeng tangannya apakah bisa menaiki tangga? (sippp)
3. Apakah bisa menjumput kismis atau barang lain yang kecil-kecil? (bisa banget, dan sesudah itu langsung masuk mulut hehehe)
4. Dari tempat yang tinggi, waktu turun kaki duluan? (yup, manjat juga udah jago)
5. Sudah mulai mencoba makan pakai sendok ? (ya dan bukan mau pakai sendok saja, sumpit juga …dan menumpahkannya ke lantai, memasukkan tulang ayam ke botol air minum dsb dsb)

Pokoknya ada 25 pertanyaan, dan berdasarkan hasil jawaban aku dikatakan bahwa pertumbuhan Kai tidak ada masalah, bahkan untuk beberapa point perkembangannya sama dengan anak berusia 2 tahun. Tinggal bahasanya saja yang harus diajarkan. Karena dia baru bisa mama, papa, ini, mau, bau (loh kok bahasa Indonesia semua hahaha) dan chinchin (nah kalo ini bahasa Jepang hihihi). Padahal kalau dipikir dia lahir lebih cepat 2 bulan yang biasanya dikhawatirkan perkembangannya akan terganggu. Tapi yang pasti si dokter sampai terheran-heran adalah kekuatan fisiknya. (Praise the Lord!)Karena Kai memang tidak suka pada orang lain, apalagi dokter, jadi Kai tendang si pak dokter dengan sekuat tenaga sampai pak dokter kewalahan heheheh. Si dokter bilang “buset tenaganya!” hihihi.

Setelah selesai pemeriksaan, tidak sampai 5 menit aku menerima hasil tertulis + kartu berobat + kertas berisi cara membuat perjanjian untuk pemeriksaan lewat website! waaaah keren juga nih dokter. Jadi kita tidak usah tunggu lama-lama atau antri tanpa tahu kita dapat giliran jam berapa. Cuma memang kalau mau ke sini harus naik mobil, karena cukup jauh kalau naik sepeda, dan tidak ada angkutan umum terdekat. Mau jalan? hmmm 40 menit deh, kalau sendiri. Kalau sama anak-anak ya 1 jam hehehe. Yang pasti Riku sudah bilang mau ke dokter itu kalau dia sakit. Alasannya? Banyak mainan dan buku….. haiyah.

++++++++++++++++++++++

PS:

Ada catatan khusus mengenai Riku. Sejak dia kembali dari Indonesia, dia selalu berbahasa Indonesia ke aku dan kai. Jadi kalau aku bertanya pakai bahasa Jepangpun, kalau dia tahu bahasa Indonesianya, dia akan pakai bahasa Indonesia. Dan ada beberapa pemakaian kata yang mengherankan, karena belum tentu muridku yang belajar selama 2 tahun di universitas pun bisa pakai kata itu.

di pintu keluar apartemen:

“Mama, in sepatu ngga kebalik?
“Ngga sayang”
“bagus?”
“iya udah bener”

” riku…. mama no kagi shiranai? kinou anataga doa wo aketadeshou? (riku, kamu ngga tau di mana kunci mama? kemarin kan kamu yang buka pintu?)
” aku kasih mama kok. dekat komputer mama.” (dan memang benar ada di dekat komputer….)

sambil turun dari mobil,
“Mama, bahaya apa artinya?”
“abunai….”
“bukan shiawase?”
“bukan, shiawase itu bahagia”
rupaya dia salah dengar kata-kata bahagia dalam lagunya Melly, OST “Ada Apa Dengan Cinta” yang aku pasang di mobil. Bahaya dan bahagia itu jauh artinya nak heheeh.