Tiga K atau Tiga D

Kalo 2 D mustinya yang seangkatan dengan aku pada tahu ya… Singkatannya Deddy Dhukun dan Dian Pramana Putra. Tapi yang saya mau tulis di sini adalah  3 K dalam bahasa Jepang, atau dalam bahasa Inggrisnya menjadi 3 D. 3 K dalam bahasa Jepang merupakan singkatan dari Kitsui (Sulit), Kitanai (Kotor), dan Kiken (berbahaya). Bahasa Inggrisnya adalah Dirty, Dangerous dan Demeaning. Jenis pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh Blue Collar (pekerja kerah biru sebagai lawan pekerja kerah putih a.k.a deskwork)

Semakin banyak warga Jepang yang tidak mau melakukan pekerjaan yang merupakan kategori 3 K tersebut. Akibatnya pekerjaan yang sulit, kotor dan berbahaya itu kebanyakan dilakukan oleh pendatang asing terlebih yang datang tidak melalui prosedut semestinya (baca: ilegal). Secara bercanda pernah teman saya, Andre mengatakan pada temannya, bahwa ada lowongan pekerjaan sambilan arbaito dengan gaji 20.000 yen per jam tapi malam hari. Teman-teman mahasiswa dari Indonesia antuasias, tapi setelah tahu bahwa pekerjaannya adalah membersihkan stasiun setelah jam kereta selesai, mereka melempem. Karena itu berarti harus membersihkan WC, dan juga muntahan (maaf) orang-orang yang mabok karena minuman keras. Saya rasa tidak ada di antara teman-teman blogger yang dengan senang hati mau melakukan pekerjaan seperti itu, meskipun gajinya besar. “Gengsi dong!” ….

Tadi pagi saya mendengar berita yang menarik di televisi. Entah apa yang menjadi tujuan komite pendidikan suatu daerah Jepang untuk membangkitkan kembali kegiatan membersihkan WC (toire souji) oleh murid-murid SD. Rupanya 20 tahun lebih yang lalu murid-murid pernah “disuruh” membersihkan WC tapi kemudian dihapus. Sekarang mau dibangkitkan lagi. Hmmm saya jadi berpikir bahwa pasti orangtua-orangtua murid banyak yang keberatan. Pasti akan banyak protes bermunculan. Mana mau mereka jika anaknya yang “berharga” itu disuruh membersihkan WC. Wong di rumah saja anak-anak tidak boleh bekerja. Pasti hampir semua anak Jepang (terutama anak laki-laki)  tidak pernah mencuci piring di rumah. Masa anak-anak ini mau disuruh membersihkan wc sekolah?

(Posting ini ditulis tahun 2009, dan ternyata sampai saat ini sudah cukup banyak sekolah yang memberlakukan pembersihan wc di sekolah mereka, meskipun sekolah Riku tidak. Selain itu ada lagu yang hit pada tahun 2010 berjudul Dewi WC)

Memang disebutkan dalam laporan televisi itu bahwa sebelum anak-anak membersihkan wc tersebut, guru akan melihat dulu “derajat” kekotoran WC. Jika kotor sekali, maka kegiatan itu dibatalkan. Dilaporkan bahwa dengan adanya pilot project usaha tersebut, anak-anak lebih aktif membantu di rumah dan lebih bertanggung jawab akan kebersihan sekelilingnya. Jadi semestinya pelajaran ini bagus adanya.

Saya sendiri sebagai orang tua setuju sekali jika diberlakukan kegiatan membersihkan wc di sekolah. Saya jadi teringat dulu (sekarang saya tidak tahu) pernah mendengar bahwa Canisius College yang sekolah laki-laki saja memberlakukan hukuman membersihkan wc bagi mereka yang terlambat. Waktu saya katakan pada Gen soal ini, dia berkata, saya setuju sekali… lah saya juga kadang bekerja membersihkan wc kok…. (dan saya teringat betapa dia shock dan tidak bisa menerima harus bekerja seperti itu waktu awal-awal bekerja).

Lebih jauh lagi, kita sendiri bisa melihat betapa untuk bidang jasa di Jepang, semua pegawai bahkan boss nya pun turun tangan ikut membersihkan jalan, atau apa saja yang berhubungan dengan kebersihan. Tidak heran jika di Jepang kita melihat sosok pegawai berjas dan berdasi memegang sapu dan membersihkan jalanan depan toko/bank. Kalau toh kelak jika besar dia harus melayani dan melakukan pekerjaan seperti itu, apa salahnya waktu anak-anak diberi pengalaman seperti pelajaran membersihkan WC itu. Supaya jangan shock seperti suami saya itu hehehe.

Mungkin orang Indonesia akan bertanya, kenapa kok karyawan yang berjas itu mau bekerja seperti itu, emangnya ngga ada office boy? Di kantor Jepang, tidak ada office boy. Pekerjaan yang termasuk kategori pekerjaannya office boy itu dilakukan oleh karyawan yang baru masuk (bulan April) , atau disebut shinjin (orang baru). Boleh saja kita katakan itu semacam inisiasi yang harus dilewati untuk kemudian tahun berikutnya tugas itu diambil alih oleh junior (kohai) nya karena dia telah menjadi senior (sempai).

18 gagasan untuk “Tiga K atau Tiga D

  1. Muzda

    Wow …
    Di jepang gak ada OB ..??
    Jadi butuh berapa shinjin untuk melayani sekian karyawan..??
    Secara tugas OB kalo di Indonesia kan termasuk menjadi kurir, tukang bikin teh, tukang beliin rokok, sampe tukang bersihin wc juga ..

    Hmm,, o ya, salam lagi buat Riku n Kai 😀

    Muzda´s last blog post..Jomplang !

    Balas
  2. mascayo

    20.000 yen per jam?
    saya mau bu, saya mau …
    tinggal pake masker sama kacamata pelangi aja dah gampang itu mah ..
    btw, psssttt … bos saya nih kalo waktunya clean day lucu hihihii … bos yg lama maunya pegang vacuum cleaner .. enak kali ya kayak maen mobil-mobilan …
    bos yg baru lebih rajin, pegangnya alat pel, tapi cara ngepelnya kayak lagi nyapu … sebenernya dia maunya ngepel apa nyapu sih hihihhi… *apa gak ngerti ya mana pel mana sapu wkwkwkwkwk

    mascayo´s last blog post..sepenuh doa yang terbaik untukmu

    Balas
  3. goenoeng

    lho, memangnya setiap tahun ada penerimaan karyawan baru, mbak ? lha kalo misalnya nggak ada penerimaan, berarti bagian junior yang terakhir dong, kerjaan OB itu.

    untuk pendidikan kebersihan dari kecil. wah, sip banget tuh. setuju ! kebetulan anak2ku udah pada mudeng untuk masalah itu, cuci piring, ngepel, nyapu. eehhm… siapa dulu bapaknya… hehehe…

    Balas
  4. Didien®

    kalo saya mau deh bun…yg penting halal..
    hina itu pekerjaan yg merugikan orang lain, contohnya bisa di klik disini <<–[g ada linknya] *nyengirrrr*

    Didien®´s last blog post..iPhone OS 3.0, Dilengkapi dengan Copy Paste

    Balas
  5. Didien®

    kalo hanya bersihin WC mah udh kebal…lha dulu sekolah kena hukuman melulu gara² sering telat hahaha… *polosss*

    Didien®´s last blog post..iPhone OS 3.0, Dilengkapi dengan Copy Paste

    Balas
  6. edratna

    Ya, kalau di kantor memang ada bagian cleaning service (di Indonesia).

    Saya pernah seminar ke Brisbane, malah Profesornya yang membawakan teh. Selesai makan siang, peserta seminar membuang sisa makanan di tempat sampah, dan menaruh piring kotor yang bersih dari sisa makanan di bak tempat cuci. Siangnya ada yang membereskan (mahasiswa yang kerja paruh waktu). Tapi saya lihat di Bne memang tak ada banyak debu, kalau di Indonesia, nggak dibersihkan sehari aja udah berdebu…saya kalau di kantor tetap membersihkan lagi meja kerjaku, karena kadang terlewat dari cleaning service.

    Kebiasaan ini membuat calon menantuku (saat itu), pas nginep di rumah bingung, lha saya punya dua pembantu, anak udah besar, tapi saya membersihkan kamar mandi yang didalam rumah (kamar mandi yang di kamar dan untuk tamu) sendiri…dan memang nyaman kok habis bersih2… badan jadi segar.

    edratna´s last blog post..Apakah semua yang instant tidak baik?

    Balas
  7. Lia Christie

    one day kalo dapet beasiswa ke Jepang aku mau ya mba. waktu remaja sampai sebelum pergi dari kota halaman untuk kuliah, di rumah aku kebagian tugas bersihin kamar mandi. bisa ber-jam2 di dalam kamar mandi demi mendapatkan kilapnya kembali 🙂

    Lia Christie´s last blog post..better prevent than cure?

    Balas
  8. Daniel Mahendra

    Senang sekali membaca kisah ini secara teks, setelah mendengarkan secara terperinci melalui lisan.

    Sampai sekarang masih teringat dengan jumlah nominal yang bisa dibayarkan untuk jenis pekerjaan seperti itu di Jepang.

    Kalau di Indonesia kan, makin besar pendapatan seseorang, biasanya makin jauh dia dari tanah. Sementara makin kecil pendapatan seseorang maka makin dekatlah ia dengan tanah.

    Daniel Mahendra´s last blog post..Angkringan

    Aw… masih ingat cerita ini ya? Ingatan kamu hebat juga ya… kapan sih itu 😉 hihihi

    hmmm aku senang dengan perumpaan kamu dgn jauh/dekat dari tanah. Padahal…manusia brasal dari debu dan akan kembali ke debu kan? 😉

    EM

    Balas
  9. whita kutsuki

    Bener bgt ya ungkapan yg di bilang mas Daniel,,,
    Makanya hrs selalu ‘menengoklah kebawah”!
    Program yg akan di rencanakan oleh pemerintah jepang itu bagusssss buanget yahhh,,biar mereka menjadi lbh bertanggung jawab terhadap pekerjaan,,jadi kan mereka bs bantu2 ibunya di rumah.

    Balas
  10. mang kumlod

    Hm… pernah liat tuh di dorama, pegawai baru nyiapin minuman, motokopi dll buat senpainya macem OB.

    Weh Gen-san pernah kerja ngebersihin WC juga? Salut! Padahal saya di rumah paling males kalau mesti sikat2 WC.

    mangkum´s last blog post..Hey, Kita Udah Beda!

    Balas
  11. Melati

    Lho jangan-jangan kebanyakan anak-anak sekolah tidak membersihkan WC sendiri kalau ada berita bahwa ada sekolah yang menyuruh murid-murid membersihkan WC?
    Waktu saya bersekolah sampai SMA, kami murid yang membersihkan WC kok.
    Aaaahh, zamannya berubah dan saya ketinggalan zaman malah mau jadi fosil.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *