Pertanyaan Riku di Yogya

Pertanyaan Riku di Yogya

Beberapa menit sebelum kami naik ke pesawat menuju Jakarta di Bandara Adi Sutjipto Jogja (9 Maret 14:35), Riku bertanya padaku,

“Mama, kenapa tidak ada Ibu dan Bapak tapi anak itu bisa lahir?”

………………..

sebuah pertanyaan yang tiba-tiba, yang amat wajar, tetapi aku perlu waktu menyusun kalimat yang singkat tapi mudah dimengerti. Aku tahu dia bertanya begitu, karena aku marahin dia waktu dia merengek minta alat tulis yang sedang kami masukkan dalam plastik untuk kemudian dibagikan kepada bocah Kweni. Siang tanggal 7 Maret yang lalu di Villa Hani’s.

“Riku, ini buat teman-teman nanti. Mereka tidak ada ayah atau ibu yang bisa membelikan buku tulis setiap saat. Kamu punya mama dan papa, dan setiap kamu minta, mama dan papa berusaha belikan, kan? Tapi mereka tidak ada papa dan mama, bagaimana mereka bisa minta belikan buku atau alat tulis yang mereka inginkan? Riku harus menahan diri! Tidak bisa setiap apa yang Riku minta harus ada. Please, ini untuk anak-anak itu ya. Nanti jumlahnya kurang, Riku nanti saja ya!”

Dan rupanya perkataan saya bahwa anak-anak itu tidak punya papa/mama melekat terus di kepalanya. Meskipun aku tidak tahu apa pikirannya ketika dia bermain bersama mereka.

Sebetulnya sudah sejak di Tokyo, aku mengatakan pada Riku, bahwa nanti kita ada acara bermain bersama. Dan 2-3 hari sebelum berangkat waktu aku sedang packing koper, tiba-tiba dia datang dan memberikan kumpulan mainan “bekas” yang dia tidak mau main lagi (benar-benar bekas sehingga menyerupai sampah), dan dia bilang “mama aku mau kasih ini pada teman-teman yang tidak punya mainan”. Aku melongo saat itu, dan waktu aku ceritakan pada Gen, dia ikut terharu.

Tidak, saya tidak bermaksud untuk membanggakan Riku dengan menuliskan ini. Bahkan sesungguhnya saya tidak mau menuliskan ini awalnya. Tapi pertanyaan Riku di Bandara Adisutjipto itu yang membuat saya pikir, pertanyaan itu bagus untuk mengawali tulisan saya, tentang “Kopdar Yogya bersama Bocah Kweni”.

Saya beruntung mempunyai bapak dan ibu, mama dan papa, lengkap, dan masih hidup sampai sekarang. Tapi banyak teman yang sudah tidak punya salah satunya atau keduanya. Dan tidak usah jauh-jauh, Ibu saya kehilangan ibunya sewaktu balita. Duh, saya bisa membayangkan betapa sedih atau kehilangannya jika hidup tanpa seorang ibu atau seorang ayah. Dan di jaman sekarang ini, banyak pula anak-anak yang merupakan anak dari single mother, atau hasil dari perkosaan, etc etc. Atau orang tua biologisnya ada tetapi tidak hadir dalam kehidupannya. Seperti yang ditulis oleh Uda Vizon dalam “Yatimkah dia.”

Saya dulu juga selalu menangis melihat anak-anak yang kurang beruntung. Mungkin saat itu karena saya belum bisa berbuat apa-apa, sehingga emosi saya lebih bekerja daripada pikiran saya. Hingga suatu kali saya pernah tersentil dengan perkataan suami saya. “Saya tidak butuh simpati!”, dan membayangkan memang banyak orang yang tidak mau dikasihani. Mereka membangun dinding tinggi di sekitar hatinya, karena juga curiga akan perbuatan baik yang diberikan oleh teman-temannya hanya sebagai “rasa kasihan” . Saya selalu berusaha menempatkan diri saya jika saya di posisi mereka. Dan terpikir apa sih yang mereka butuhkan? Sebetulnya hanya satu, tapi amat sulit untuk kita beri, karena menyangkut waktu dan eksistensi kita. Mereka akan lebih membutuhkan kasih dan keberadaan seseorang yang mencintai mereka, daripada hanya barang-barang atau uang yang bisa habis sekejap mata.

Saya tidak tahu apakah rencana saya bermain dengan bocah Kweni (baik yatim ataupun tidak) itu baik atau tidak, tapi yang pasti saya hanya ingin berbagi sedikit kasih dan sedikit waktu  pada mereka. Karena saya juga tidak punya materi yang cukup. Saya masih belum bisa berbuat banyak. Saya ingin memberitahukan pada Riku (dan Kai jika dia besar sedikit lagi) bahwa ada banyak anak-anak yang tidak seberuntung dia. Saya juga bukanlah malaikat seperti yang ditulis Jeunglala di postingan “Hidden Angels”. Tapi yang pasti saya merasa sangat beruntung, memiliki sahabat-sahabat blogger yang satu perasaan dengan saya, dan saling membantu mewujudkan “pernyataan kasih” kepada bocah-bocah di Kweni. Sahabat-sahabatku, terimalah tanda terima kasih saya yang keluar dari lubuk hati.

Dua orang utama yang memang tinggal di Kweni, Uda Vizon dan Mbak Icha (mbak Icha sudah terlihat jawa banget sih) yang menyambut rencana sederhana saya dengan antusias, dan membuat saya yakin untuk maju terus, seberapapun orang yang hadir di Yogya (dan seberapapun yang kita bisa berikan pada anak-anak ini) . Nama Uda yang terkenal di kampungnya, juga turut memudahkan saya mencari rumahnya sehari sebelum hari H. Bayangkan tanpa briefing, Lala, Mas Goenoeng, Mas Arif, Tyan, Ipi, Noengki Prameswari, Daniel Mahendra bisa berbaur dengan anak-anak itu dan menggambar bersama. Belum lagi kehadiran Bunda Dyah yang benar-benar menguatkan hati (dan jasmani karena Bunda membawakan makanan kecil yang dibuat  Mbak Vivi untuk anak-anak ini). Mbak Tuti Nonka yang meringankan kaki juga hadir bersama dan bahkan memberikan tas ransel hijau serta buku cerita sebagai cikal bakal perpustakaan mereka. Lihat betapa bangganya anak-anak ini menggendong tas ransel mereka, yang juga berisikan sikat gigi lucu dari bu Dokter Noengki. Sampai-sampai Riku pun bangga sekali mempunyai tas ransel itu, dan dia gendong terus sampai di pesawat (maaf jadi berkurang satu jatah anak-anak itu…. hiks)

Dengan satu tindakan, 12 blogger yang terpencar di mana-mana, beserta 60-70an bocah bersatu dalam satu episode kehidupan. Di Jogjakarta, tepatnya di desa Kweni. Unforgetable Moments.

Saya tahu, saya memang tidak menangis waktu berada di antara bocah-bocah ini, tidak seperti Jeung Lala. Mungkin karena saya terlalu sibukberpikir “what next” dan terlalu exciting. Tapi saya memang menangis setiap kali melihat foto-foto yang merekam peristiwa itu, yang mengabadikan kegembiraan, persatuan, kebersamaan, kasih, persahabatan di antara kita. Dan sambil menuliskan inipun perasaan saya masih campur aduk, sambil menahan isak. Entah kapan kita bisa bersama seperti ini lagi…. semoga saja ya.

Ini bukan laporan lengkap perjalanan Yogya, tapi saya tak bisa menunggu lagi urutan posting perjalanan saya yang amat sangat terlambat sehingga saya selipkan tulisan ini. Jika ada yang mau membaca laporan Yogya yang sudah ditulis kawan-kawan yang lain, silakan coba klik nama-nama peserta di atas.

Related Posting :

Mbak Tuti Nonka :

Bloger & Bocah-Bocah Kweni

Uda Vizon:

bocah kweni vs blogger

JeungLala:

Hidden Angels

Jeung Ipi:

Kopdar bareng Bocah Kweni

Noengki Prameswari:

Jogja Seru

Tyan

Blogger kumpul dengan bocah kweni

29 Comments

Wow, dahsyat benar kisah berbagi di Yogya, Ime-chan…
Pasti Riku memperoleh pengalaman batin yang luar biasa.
Saya senang melihat para blogger bisa berbahagia bersama bocah kweni. Memberi memang membuat kita bahagia.

Hery Azwan´s last blog post..Ono Turi

Kemarin saya pikir saya bisa datang jam 15.30, sehingga tidak terlalu telat. Ternyata, karena hujan, salah jalan, dan sebagainya, saya bersama Bu Dyah dan Mbak Fifi baru tiba di tempat jam 16.00. Dalam kondisi basah oleh hujan, berpeluh dan sedikit kesal karena penunjuk jalan yang ‘kurang canggih’ sehingga kami harus berjalan jauh. Tetapi begitu melihat anak-anak yang demikian antusias, segala rasa capek itu hilang.

Sungguh, 12 orang yang sebagian belum pernah bertemu, ternyata bisa menciptakan kebersamaan yang demikian mengesankan. Saya yakin, meskipun persahabatan bloger dibentuk di dunia maya, jika dilandasi dengan kejujuran dan ketulusan, maka yang tercipta adalah persahabatan sejati.

tuti nonka´s last blog post..BBB … Bila Bloger Bernyanyi

Kayaknya waktunya kurang panjang ya mbak….
coba kalau waktunya seharian, acara seni melipat kertasnya dan acara sikat gigi bersama bisa dilaksanain en lebih seru tuh ya mbak …. maksudnya kakak2nya yang seru melipat kertasnya (jadi inget briefing ndadak di mobil, hehehe).

Dan Riku sangat menikmati bertemu dengan teman-temannya di Kweni. meski masih agak malu-malu ya Riku..

Hope mbak, acara bagus seperti ini tidak berhenti sampai disini. Siap gabung deh mbak..Semarang ya??

prameswari´s last blog post..From Bandung With Love

waw…nice experience for riku
nyesel juga gak ikutan waktu itu 🙂

dan walopun ketemu dgn riku sebentar, tp sudah kelihatan riku adalah seorang anak “nippon” yang berani, kritis, pintar dan serta punya “toto kromo” indonesia (hehehe)

simpati tak mesti selalu ditunjukkan dengan menangis di depan umum toh, mbak? pada saat hectic seperti itu, pikiran jernih dan tenang dengan emosi terkontrol yang justru lebih diperlukan agar acara berlangsung sukses. tidak memperlihatkan air mata toh bukan pertanda tak ikut peduli.

salut buat para bloger! dan riku, dia memang cerdas betul ya, mbak? kritis banget deh cara berpikirnya.

marshmallow´s last blog post..Soal Libur Panjang

Imel, justru seperti inilah kopdar blogger, yang lebih menyentuh di dunia nyata. Dari obrolan di dunia maya, berteman, dan akhirnya berbuat sesuatu pada anak-anak yang kurang beruntung. Dan pasti anak-anak tak akan melupakan kenangan itu.
Dan bagi Riku, juga merupakan hal yang akan makin membuat dia bisa menghargai keberuntungannya, sensitif pada anak-anak lain yang tak seberuntung dia.

Selamat buat teman-teman, walau sayang saya tak bisa bergabung

edratna´s last blog post..Unit Pelatihan yang terintegrasi, mendukung peningkatan kualitas SDM dalam membangun sistem keuangan mikro

Temanku Fuadi pernah melontarkan ide untuk membuat website untuk berbagi. Misalnya saja, orang2 dari Eropa atau Amerika yang sudi menyumbang 10 dolar (sesuatu yang tidak berharga di sana) kepada anak yatim atau orang miskin di Indonesia. 10 dolar di sini tentu saja cukup lumayan karena kurs rupiah memang sangat rendah. Nanti, uang yang terkumpul akan disumbangkan ke anak2 tsb. Atau bisa juga, setiap individu di Eropa atau Amrik mempunyai anak asuh di sini yang tiap bulan secara rutin dikirimi uang untuk membantu sekolah mereka. Setiap anak nanti akan difoto dan diupload ke internet. Yang menyumbang juga akan difoto dan dipajang bersama sang anak. Setiap anak dibatasi maksimal 3 penyumbang agar tidak ada kesenjangan (orang cenderung menyumbang sosok yang lebih charming kaleee). Ide ini belum sempat terealisir. Ayo siapa yang mau melaksanakan? Saya siap berbagi ide…

Hery Azwan´s last blog post..Ono Turi

onechan…

adik kandung saya, ditinggal suaminya buat selamanya karena leukimia, dg meninggalkan dua orang anak; 3 th dan 4 bulan ketika itu…
saya benar2 merasakan bagaimana pedihnya mereka tidak punya ortu yg lengkap, hal itulah yg menjadi energi kuat untuk peduli kepada anak2 dg nasib seperti itu…

terus terang, kami juga terharu sekali melihat antusiasme kawan2 yg hadir, dan komentar dahsyat dari kawan2 yg tidak bisa hadir; ternyata, persahabatan kita di blog telah membuat kita semakin kaya hati… berharap semoga ini terus terjaga, sampai kapanpun

terima kasih untuk semuanya… 🙂

vizon´s last blog post..bocah kweni vs blogger

EM …
Jangankan kamu dan teman-teman …

Aku saja yang mengikuti perkembangan peristiwa manis ini saja terharu dan berkaca-kaca jeh …

Mungkin kalau aku disana …
aku akan banyak permisi kebelakang … untuk sekedar … menyeka air mata yang mungkin sudah menggenang …

Ini indah sekali EM …
And I am proud of You … yang menggagas acara ini bersama Uda Vizon …

This is really simple … but … you never know the impact on their memory …

Suatu saat nanti mereka akan bercerita …
bahwa mereka pernah mengalami peristiwa … acara sederhana namun membahagiakan ini…

Salam saya EM

nh18´s last blog post..PANGGUNG PERTAMA

Aku jadi ingat potongan syair lagu ini …

I believe the children are our are future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they possess inside
Give them a sense of pride to make it easier
Let the children’s laughter remind us how we used to be…

The greatest love of all,
aku melihat kasih yang dibagikan pada anak-anak ini dalam bentuk sesuatu yang nyata..
pasti akan sangat bermakna,
congrats Imel dan teman-teman,
good work !!

tanti´s last blog post..How Do You Judge a Book?

@ Uni Marsh:
Hehe.. aku nangisnya diem-diem, dong… Di belakang punggungnya Sis Imelda.. 🙂

@ Sis:
Don’t say you’re not an angel. Everyone could be an angel for someone. Jadi, apapun itu, di depan mataku, YOU ARE. Ah, mungkin di depan anak-anak itu semua…

acara yang penuh improvisasi, tapi seru sekali.
bayangkan, tanpa arahan, tanpa briefing tiba2 acara berjalan dengan sendirinya.
terima kasih, Mbak Imel buat kesempatan yang luar biasa itu. semoga ada lainkali-lainkali lagi. dan semoga akan lebih menyenangkan.

goenoeng´s last blog post..ini aku !

Pasti anak-anak senang mempunyai kenangan yang manis dan hangat.
Dan pasti pula kenangan itu hidup terus di hati mereka.

Tahukah mbak kenapa saya mencintai Indonesia?
Karena kebahagiaan yang sesungguhnya melinpah.
kebahagiaan itu bukanlah yang bisa ditukar dengan uang semata-mata.
Tapi ikatan manusia yang tidak kelihatan namun bisa terasa itulah melahirkan kebahagiaannya itu.
Dan ikatan manusia di Indonesia sangat erat sehingga kebahagiaan yang sesungguhnya bisa terjangkau.

waduh saya salut dan acungin jempol atas kepedulian teman-teman bloger atas kepedulian itu. Anak hari ini adalah gambaran masa depan kita. Jadi butuh orang dewasa untuk memperjuangkan hak-hak nya…lakukan terus apa yang bisa kita lakkukan walupun kecil…

Negara masih belum pedli sepenuhnya dengan kehidupan anak, jadi lakukan semampu kita…

Salam kenal bu..senang baca postingan ibu ini, bikin saya MERINDING…kalau saja saya bisa hadir di sana….lain kali ajak-ajak kalo ada kegiatan yang beginian ya bu…..

Salam kenal dan mohon ijin untuk di link ya….

imo´s last blog post..…(update)berhadiah makanan spesifik minangkabau…

bahagianya Riku punya orangtua yang punya empati 🙂

salam kenal, Bu.. saya denger cerita tentang Ibu dari Yoga dan Bu Edratna

utaminingtyazzzz´s last blog post..Adikku Demam

Two thumbs for EM and Partner. Kehadiran temen2 disana adalah harapan besar untuk mereka. Ini bukan aksi kecil tapi luar biasa…patut di ikuti oleh siapapun….Hanya kita yang bisa begini….yang lain masih menunggu waktu kapan hatinya bisa tersentuh.
Seandainya pemerintah mencanangkan gerakan hidup berbagi dengan sesama. Seperti aksi ini…saya yakin mereka2 yang haus kehangatan, kenyamanan, kasih sayang akan hilang dari pertiwi. Dan mereka tidak lagi sendiri.

Two Thumbs for you. Temen2 mengalahkan aku.

Pakde´s last blog post..Im In Heaven

Hem, mbak Imelda, terus terang ketika baca tulisan ini saya ikut merasa haru, bahagia,dll pokoknya campur aduk. Seakan saya turut merasakan berada di sana. Senang yach bisa melihat pancaran kebahagiaan di mata anak2 Kweni ketika menerima bingkisan. Semoga mereka kelak jadi orang yang berguna. Amien. Salam buat Riku yang lucu dan ngemesin yach Mbak Imelda, hehehe 🙂 🙂 🙂
Best regard,
Bintang

elindasari´s last blog post..CINTA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :