Arsip Bulanan: Maret 2009

Bagi bagi duit

Eits jangan salah dulu… saya tidak mau membagi duit kepada mereka yang sudah membaca TE (Twilight Express). Tapi mau menceritakan kegiatan bagi-bagi duit pemerintah Jepang.

Kenapa musti pemerintah membagi-bagi duit? Mungkin kalau di Indonesia sekarang kegiatan membagi duit dilakukan kepada para korban bencana. Atau sedikitnya membagi makanan kepada mereka yang harus kehilangan tempat tinggal atau sanak keluarga. Atau program raskin dll.

Tapi saya bukannya mau menceritakan proyek kemanusiaan yang dilakukan pemerintah Jepang. Tapi bagi-bagi duit ini sebetulnya benar-benar dilakukan pemerintah Jepang gara-gara krismon. (Uda Vizon, inget ngga ada anak bernama Krismon di desa Kweni? Aku sampe tertawa geli waktu memanggil namanya. Kasihan juga ya dia, sampai tua ngga pernah bisa kaya, krismooooon melulu. Semoga saja tidak ya Uda. Salam saya khusus untuk dia)

Masa sih benar-benar bagi duit? Namanya Teigaku Kyufukin ” Pembagian Tunjangan Jumlah Tetap”, dengan penghitungannya adalah seorang anak 20.000 yen (bukan rupiah). Untuk Gen, dihitung 12.000 …dan katanya saya juga dapat dengan jumlah yang sama dengan Gen (cuma kok di daftar yang diterima kemarin namaku ngga ada…. hiks) . Uang itu nantinya akan masuk ke rekening bank kami, jadi tidak terima langsung berupa uang.

Tentu ada maksudnya pemerintah membagikan duit begini. Ya, supaya orang Jepang BERBELANJA. Karena krisis, maka jalannya perekonomian tersendat. Orang lebih suka menabung, daripada membelanjakan uangnya. Jadi diharapkan dengan membagi duit begini, warga Jepang bisa pakai untuk berbelanja. Yang saya tidak tahu, bagaimana atau apa konsekwensinya jika uang yang diberikan itu tidak dibelanjakan.

Gen bilang, sepertinya pemerintah maunya kita membeli pesawat televisi berdisplay tipis baru deh. Karena 2 tahun lagi pesawat tivi yang lama tidak bisa dipakai. Seluruh siaran televisi di Jepang akan memakai digital (siarannya loh, frekuensinya yang digital bukan analog lagi). Jadi perlu pesawat tv khusus yang bisa menerima frekuensi digital ini. Tapi pemasaran pesawat tv digital ini seakan “melempem”. Jadi kita warganya dibagi-bagikan duit. hehehe. Kalau saya sih daripada dipakai untuk membeli sesuatu, lebih baik ditabung saja, atau dijadikan tiket pesawat ke Indonesia heheheh (Maunya sih  gitu)

Selain bagi-bagi duit, satu lagi usaha pemerintah Jepang untuk menggiatkan perekonomian adalah menurunkan biaya pemakaian jalan tol berbayar yang ada. Khusus untuk weekend saja, mulai hari Sabtu tgl 28 Maret lalu, mau ke daerah mana saja asal terjangkau oleh jalan tol itu, biayanya hanya 1000 yen saja dengan menggunakan mesin ETC (Electronic Toll Collection). Misalnya dulu biaya tol dari Tokyo -Osaka sebesar 10650 yen, maka mulai sabtu lalu itu menjadi 1000 yen saja! Hebat ngga tuh? Tapi ya tentu saja resikonya jalan tol jadi macet cet cet deh…. heheheh.  Sekali lagi maksud pemerintah adalah supaya warga menggunakan sarana publik (parking area) , restoran, obyek wisata dll supaya roda perekonomian tetap berjalan.

Saya ngga bisa bagi-bagi duit…jadi saya bagi-bagi informasi aja ya (tadinya mau bilang mau bagi-bagi cinta aja, tapi nanti diprotes my 3 boys susah deh heheheh)

Afterglow Snow – Salju Terakhir

Tinggal di negara dengan empat musim, terutama di Jepang, kita diajarkan untuk menikmati alam, menikmati musim. Sampai lagupun ada musimnya. Kalau di Indonesia mungkin jarang ada sebuah lagu khusus yang hanya cocok untuk dinyanyikan pada waktu khusus. Mungkin yang paling bisa dijadikan contoh adalah lagu Indonesia Pusaka, untuk event-event nasional, dan biasanya waktu acara akan selesai. Atau untuk lagu yang lebih populer contohnya adalah “Kemesraan”, yang bisa dinyanyikan pada acara kumpul-kumpul … dan akan bubar acaranya. Apakah ada lagi lagu Indonesia untuk waktu yang khusus? Misalnya lagu untuk wisuda (Gaudamus Igitus jangan dianggap lagu Indonesia yah), lagu untuk pernikahan…. (paling-paling Kaulah segalanya, tapi tidak setiap pernikahan ada lagu ini kan?)

OK, yang mau saya katakan adalah bahwa orang Indonesia tidak menyanyikan  satu lagu hanya untuk masa/waktu tertentu, sedangkan orang Jepang amat memperhatikan unsur waktu. Tentu saja ini karena faktor 4 musimnya. Lucu kalau kita menyanyi lagu tentang pantai, wanita berbikini, surfing atau segala sesuatu yang berkesan musim panas pada waktu musim dingin. Membayangkan wanita berbikini pada musim dingin, pasti merasa menggigil. Atau tentunya tidak akan menyanyikan lagu sakura pada musim gugur misalnya.

Nah, ada satu lagu di Jepang yang hampir selalu dinyanyikan menjelang musim semi. Sebuah lagu folk yang berjudul “Nagori Yuki” dari Iruka. Lagu balada yang dikarang oleh grup folk Kaguya Hime ini lebih populer sejak dinyanyikan oleh Iruka pada tahun 1975. Lagu ini menceritakan tentang perpisahan  seorang kekasih di stasiun Tokyo. Mungkin ke kota lain untuk menuntut ilmu. Dan kalau menyanyi lagu ini, kok saya jadi ingat “Teluk Bayur” nya Ernie Djohan ya?

TELUK BAYUR

Selamat tinggal Teluk Bayur permai
daku pergi jauh ke negeri seberang
ku kan mencari ilmu di negeri orang
untuk hidup kelak di hari tua

Selamat tinggal kasihku yang tercinta
doakan agar ku cepat kembali
ku harapkan suratmu setiap minggu
kan ku jadikan pembuluh rindu

Lambaian tanganmu ku rasakan pilu di dada
kasih sayangku bertambah padamu
air mata berlinang tak terasakan olehku
nantikanlah aku di Teluk Bayur

Memang butainya (panggungnya/lokasinya) lain. Teluk Bayur di pelabuhan sedangkan Nagori Yuki ini di stasiun, tepatnya stasiun Tokyo. Dan entah kenapa setiap menyanyikan lagu ini di karaoke, saya ikut menjadi sedih dan menitikkan air mata. Mari kita lihat liriknya:

Salju Terakhir

Disebelah kamu yang sedang menunggu kereta
Aku selalu melihat jamku
Sedangkan salju yang tidak disangka turun menyelimuti bumi
“Ini adalah salju terakhir yang kulihat di Tokyo”
kamu menggumam sedih
waktu ku mengetahui turun salju tersisa ini
musim seakan bercanda padaku
Ya musim semi tiba dan engkau menjadi cantik
Lebih cantik daripada tahun lalu

Kau tempelkan wajah
di jendela kereta yang mulai bergerak
Kamu seakan ingin berkata sesuatu
Tapi aku takut melihat kamu mengucapkan “sayonara”
jadi aku memandang ke bawah saja
Seiring dengan jalannya waktu
Engkau yang masih bocah lucu

Tanpa disadari sudah menjadi dewasa

Ya musim semi tiba dan engkau menjadi cantik
Lebih cantik daripada tahun lalu

Aku tinggal di peron sesudah kepergianmu
Memandang salju yang turun dan mencair

Ya musim semi tiba dan engkau menjadi cantik
Lebih cantik daripada tahun lalu
Lebih cantik daripada tahun lalu
Lebih cantik daripada tahun lalu

(1) 汽車を待つ君の横で
ぼくは時計を気にしてる
季節外れの雪が降ってる
「東京で見る雪はこれが最後ね」と
さみしそうに君がつぶやく
なごり雪も降る時を知り
ふざけ過ぎた季節のあとで
今 春が来て君はきれいになった
去年よりずっときれいになった

(2) 動き始めた汽車の窓に
顔をつけて
君は何か言おうとしている
君のくちびるが「さようなら」と動くことが
こわくて下を向いてた
時が行けば 幼い君も
大人になると 気付かないまま
今 春が来て君はきれいになった
去年よりずっときれいになった

(3) 君が去ったホームに残り
落ちてはとける 雪を見ていた
今 春が来て君はきれいになった
去年よりずっときれいになった

去年よりずっときれいになった
去年よりずっときれいになった

Jika mau mendengar lagunya silakan melihat video berikut ini:

Hari ini adalah hari terakhir bulan Maret. Dan entah kenapa hari ini tanggal 31 Maret menjadi hari peringatan untuk Orkestra (Philharmonic). Nah, kalau berbicara soal orkestra, saya hanya bisa menikmati saja, tidak bisa mengatakan judul-judul lagu yang saya suka…. abis kebanyakan kode-kode dan nomor-nomor sih hehehe.

Ransel Anak SD

Tadinya Gen harus bekerja juga hari Minggu (29 Maret) , jadi aku pun sudah bersiap untuk tinggal di rumah. Malas rasanya pergi ke mal atau supermarket waktu orang-orang libur karena pasti penuh. Pasti sulit mengontrol dua anak balita…. eh Riku sudah bukan balita lagi… so dua anak cilik. Kai memang sudah bisa jalan sendiri, dan karena itu lebih sulit mengawasinya. Terkadang dia sengaja pergi menjauh dan tidak mau datang meski sudah dipanggil-panggil. Dia sering  menatap aku, seakan berkata, “aku ngga mau datang, kamu mau apa?” Benar-benar pandangan anak nakal! Tapi kalau aku ceritakan soal kenakalan Kai (atau Riku dulu) pada Gen, dia selalu bilang, “Kamu kan pernah bilang suka anak nakal?” hehehe. Memang aku pernah bilang begitu tapi dalam konteks nakal = aktif dan kreatif.

Anyway, hari minggu ini ternyata Gen bisa libur. Dan kami merencanakan bahwa ini hari minggu khusus untuk Riku. Jadi pagi jam 8:30 Gen dan Riku sudah berangkat naik sepeda ke T JOY Oizumi, untuk menonton Madagaskar2 jam 9:10 pagi. Aku dan Kai? Di rumah saja… bayangin dong bawa balita ke bioskop… mana bisa. Lagipula aku masih phobia kegelapan jadi selalu menolak untuk pergi ke bioskop. Alhasil sampai dengan Riku dan papanya pulang ke rumah jam setengah 12 siang, rumah sudah kinclong deh (tentu saja dibantu Kai dengan menumpahkan air Aqua ke lantai — makasih nak, memudahkan mama ngepel — atau memercikkan air dari tempat cuci piring ke lantai dapur. Heran deh ini anak kok suka banget main air).

Tapi mereka begitu sampai rumah, langsung pergi lagi ke dry cleaning. Kali ini Riku mau  belajar naik sepeda sendiri. Waktu itu aku sempat menemani dia belajar sepeda (masih pakai roda tambahan) sampai RS dekat rumahku. Nah tempat dry cleaning ini masih agak jauh lagi. Kesempatan bagus untuk berlatih dengan papanya. Cuma kok lama ya? ternyata mereka juga pergi ke toko sepeda untuk menyetel tinggi sadel dan ke taman, serta bermain di situ.

Jadinya kita makan siang baru jam 2 siang. Dan sesudah itu Gen siesta (take a nap)… Yaaaah padahal rencananya mau pergi beli ransel a.k.a RANDOSERU ランドセル untuk Riku. Kasian juga Gen akhir-akhir ini kurang tidur, jadi aku biarkan dia tidur sampai jam 5 sore. Kemudian kami pergi ke “Nitori” Tanashi untuk mencari ransel. Kami tidak mau pergi ke departemen store, karena harga ransel di departemen store rata-rata 50.000 yen. Biarpun ada uangnya, kami tidak mau membuang uang segitu banyak hanya untuk sebuah tas ransel.

Saya pernah menulis soal ransel ini juga di postingan “Beban Berat anak SD Jepang“. Tas sekolah berbentuk tas punggung yang keras dan seragam bentuknya bagi anak SD. Sepertinya tidak ada deh di belahan dunia manapun yang seluruh murid SD nya memakai tas yang sama bentuknya selama 6 tahun. Hanya di Jepang!!!

Sejarah randoseru ini sudah 100 tahun lebih, dimulai dari  Bakumatsu (akhir jaman Edo/ Tokugawa sekitar 1860-an) dengan dimulainya pemakaian tas punggung ala barat “Senou” oleh serdadu Jepang. Pada tahun 1885, sekolah Gakushuin (berdiri tahun 1877) melarang murid-murid diantar dengan becak/ mobil ke sekolah dan mewajibkan murid-murid memakai “Senou” untuk membawa peralatan sekolahnya. Karena dalam bahasa belanda “senou” ini disebut dengan “Ransel”, maka Jepang mengadaptasi nama ini dan menjadi terkenal dengan nama “RANDOSERU”. Tapi bentuk yang dulu lebih menyerupai Rugsack daripada bentuk kotak masif seperti sekarang. Baru tahun 1887 bentuk kotak itu muncul akibat pesanan khusus Perdana Menteri Ito Hirobumi untuk hadiah masuk SD Kaisar Jepang ke 123, Kaisar Taishou ( 1879-1926).

Meskipun demikian, ransel masih merupakan barang mewah untuk anak-anak kota saja. Anak-anak di pedesaan masih memakai Furoshiki (kain segi empat seperti syal) untuk membawa peralatan tulis mereka. Baru pada tahun 1955, ransel dipakai di seluruh negeri, dan merupakan barang mutlak untuk murid SD.

Masuk SD berarti keluar dari keluarga dan masuk dalam masyarakat baru, dan dianggap sebagai satu langkah besar dalam keluarga. Persiapan membeli ransel, alat tulis, setelan jas, meja belajar merupakan kesibukan satu keluarga besar. Kakek dan nenek memberikan angpao dalam jumlah besar untuk membeli ransel, dan semua saudara biasanya juga memberikan selamat (+angpao)  Nyuugaku Iwai 入学祝い.

Ternyata di toko pertama, Nitori itu tidak ada ransel berwarna hitam. Padahal Riku maunya yang hitam. Jadi kami bertanya ke Service Counter, dan oleh petugasnya dijanjikan untuk mencarikan ransel hitam di seluruh cabang toko itu di seluruh Jepang, dan akan menelepon kami besok dengan berita ada atau tidak. Tapi Riku maunya saat itu juga… mengerti juga perasaan dia. Jadi waktu Gen mengajak untuk mencari di  “Shimachu Home Center” aku ok-ok saja. Lebih baik mencoba kan?

Dan untung saja kami coba mencari di tempat itu. Aku juga bisa cuci mata dengan design interior yang lain dengan yang dipamerkan di Nitori. Lebih berwarna dan bervariasi. Jadi pengen pindah rumah nih. Dan ternyata malah di situ tersedia beberapa jenis ransel yang bermerek. Aku ingat sekali merek itu di iklan TV. Tenshi no hane (Wings of Angels) – sayap malaikat. Dengan desain khusus yang memikirkan pertumbuhan tulang punggung anak-anak selama 6 tahun. Ya, ransel itu dipakai selama 6 tahun, jadi memang harus kuat! Dan karena itu bisa dimaklumi kalau harganya mahal. (Dan pikir-pikir tas-tas sepupunya Riku yang satu kotak penuh itu juga makan tempat ya? pasti di Jepang tidak bisa seperti itu. Anak Jepang diajarkan untuk eman-eman …sayang barang) Mungkin maksudnya kalau pakai tas ransel sayap malaikat itu terasa ringan dan melekat ke badan bagaikan sayapnya malaikat. Sayangnya yang pakai ransel itu sebenarnya bukan malaikat, malah bisa jadi setan-setan kecil hihihi. Bisa (Hebat) aja tuh promosinya.

Pulang dari toko itu sudah jam 8, dan Riku mau makan sushi… jadi kami ke resto sushi yang ada dekat rumah. Waktu masuk resto, Gen tanya apa aku bawa kamera. Ternyata waktu aku cari di tas, tidak ada! Padahal aku sudah siapkan sebelumnya. Lupa aku masukkan dalam tas lagi setelah memotret mereka bertiga. Kenapa dia tanya kamera? Rupanya ada menu khusus di resto itu yaitu “Odori Awabi” (Kerang awabi menari – kerangnya dipanggang hidup-hidup didepan kita, sehingga kita bisa melihat kerang itu menciut seakan-akan menari …. sadis ya hehheh). Tapi karena aku lupa bawa kamera, kami tidak memesan “Odori Awabi” itu. Lagipula aku tidak begitu suka makan kerang. Kerang merah bagianku  selalu aku kasih ke Gen.

Karena Riku mau makan desert, aku usulkan ke Gen untuk pergi ke Baskin Robbins 31 saja. Sudah lama tidak makan es krim di situ. Dan ada dua rasa baru aku coba di situ, “Strawberry Choco Dipped” dan “Love on Torte“… yummy. Dan di situ pertama kalinya Kai mengambil sendiri es krim papanya yang rasa coklat. Ternyata favoritnya dia rasa coklat. Kalau Riku lebih suka mint atau mattcha (green tea).

Well buzy sunday, but  untuk Riku merupakan hariyang terbaik… semoga.

Pemeriksaan Berkala

Salah satu persyaratan Kai masuk ke TPA adalah menyerahkan surat pemeriksaan berkala 1,5 tahun dari Puskesmas terdekat. Pemeriksaan berkala 1,5 tahun adalah wajib (dan gratis) bagi semua balita yang tinggal di kelurahanku (mungkin juga seluruh Tokyo). Dan ternyata aku sudah melewatkan  2 kali kesempatanpemeriksaan di Puskesmas, karena waktu yang tidak pas dan kami sedang di Indonesia. Kasihan juga Kai, dibandingkan dengan Riku yang selalu tepat jadwal pemeriksaan berkala dan vaksinnya, Kai agak “ditelantarkan” oleh mamanya. Ada 2 jadwal besar yang belum dilakukan yaitu pemeriksaan berkala 1,5 tahun ini dan vaksin anti polio.

Selain pemeriksaan massal di Puskesmas, kami boleh membawa kertas formulir pemeriksaan dari Pemda ke klinik/RS yang tercantum dalam daftar dan memeriksakan sendiri di klinik yang dipilih. Karena pemeriksaan massal sudah lewat, maka aku menghubungi RS dekat rumah yang biasanya kami kunjungi. Tapi ternyata jadwal rutin pemeriksaan di RS itu sudah demikian padat sehingga aku baru bisa bikin apo (appointment) bulan Juni. HAH? kalau bulan Juni mah, anaknya udah keburu ulang tahun ke 2 jeh. Padahal aku juga perlu cepat, untuk diserahkan ke TPA. Jadi aku cari klinik lain yang bisa cepat.

Melihat daftar klinik dan alamatnya, aku mencari klinik yang sama alamatnya dengan rumahku. Telpon “klinik Kimura” , dan dilayani oleh resepsionis yang ramah. Si suster ini bilang, “kapan saja silakan datang bu”. Jadi tanggal 27 (Jumat siang) aku mengajak Riku dan Kai naik sepeda mencari letak klinik tersebut. Cari punya cari, ternyata patokan pemandian umum yang dipakai  itu lain namanya. Terdengar sama sih… Matsu no yu dan Tatsu no yu. Ternyata meskipun nama jalannya sama, bloknya sama sekali berbeda dan agak jauh dari rumahku. Jadi dalam dingin kami pulang ke rumah, menaruh sepeda, dan ambil kunci mobil. Untung sekali Gen tidak pakai mobil hari itu. Rasanya aku juga sudah lama tidak menyetir mobil.

Berkat bantuan car navigator (GPS), aku menemukan klinik tersebut. Sebuah klinik yang kecil, tapi ternyata terkenal. Klinik khusus pediatrik. Rupanya ini “Klinik Kimura” yang sering diperbincangkan ibu-ibu teman Riku. Dokternya hanya satu, yaitu dokter Kimura, dan ternyata memang lain ya tanggapan seorang dokter yang mempunyai klinik sendiri dengan dokter RS. Dokter yang punya klinik sendiri lebih tanggap, cepat dan friendly! Melihat ketenaran klinik ini aku sudah siap-siap untuk menunggu 2 jam… tapi ternyata makan waktu tidak lebih dari 50 menit sejak daftar sampai menerima hasil. Hebat!

Dalam pemeriksaan 1,5 tahun itu aku harus menjawab banyak pertanyaan yang nantinya merupakan bahan penilaian dokter untuk memperkirakan kemajuan pertumbuhan Kai.  Misalnya:

1. Apakah bisa berjalan dengan lancar? (ok banget)
2. Kalau digandeng tangannya apakah bisa menaiki tangga? (sippp)
3. Apakah bisa menjumput kismis atau barang lain yang kecil-kecil? (bisa banget, dan sesudah itu langsung masuk mulut hehehe)
4. Dari tempat yang tinggi, waktu turun kaki duluan? (yup, manjat juga udah jago)
5. Sudah mulai mencoba makan pakai sendok ? (ya dan bukan mau pakai sendok saja, sumpit juga …dan menumpahkannya ke lantai, memasukkan tulang ayam ke botol air minum dsb dsb)

Pokoknya ada 25 pertanyaan, dan berdasarkan hasil jawaban aku dikatakan bahwa pertumbuhan Kai tidak ada masalah, bahkan untuk beberapa point perkembangannya sama dengan anak berusia 2 tahun. Tinggal bahasanya saja yang harus diajarkan. Karena dia baru bisa mama, papa, ini, mau, bau (loh kok bahasa Indonesia semua hahaha) dan chinchin (nah kalo ini bahasa Jepang hihihi). Padahal kalau dipikir dia lahir lebih cepat 2 bulan yang biasanya dikhawatirkan perkembangannya akan terganggu. Tapi yang pasti si dokter sampai terheran-heran adalah kekuatan fisiknya. (Praise the Lord!)Karena Kai memang tidak suka pada orang lain, apalagi dokter, jadi Kai tendang si pak dokter dengan sekuat tenaga sampai pak dokter kewalahan heheheh. Si dokter bilang “buset tenaganya!” hihihi.

Setelah selesai pemeriksaan, tidak sampai 5 menit aku menerima hasil tertulis + kartu berobat + kertas berisi cara membuat perjanjian untuk pemeriksaan lewat website! waaaah keren juga nih dokter. Jadi kita tidak usah tunggu lama-lama atau antri tanpa tahu kita dapat giliran jam berapa. Cuma memang kalau mau ke sini harus naik mobil, karena cukup jauh kalau naik sepeda, dan tidak ada angkutan umum terdekat. Mau jalan? hmmm 40 menit deh, kalau sendiri. Kalau sama anak-anak ya 1 jam hehehe. Yang pasti Riku sudah bilang mau ke dokter itu kalau dia sakit. Alasannya? Banyak mainan dan buku….. haiyah.

++++++++++++++++++++++

PS:

Ada catatan khusus mengenai Riku. Sejak dia kembali dari Indonesia, dia selalu berbahasa Indonesia ke aku dan kai. Jadi kalau aku bertanya pakai bahasa Jepangpun, kalau dia tahu bahasa Indonesianya, dia akan pakai bahasa Indonesia. Dan ada beberapa pemakaian kata yang mengherankan, karena belum tentu muridku yang belajar selama 2 tahun di universitas pun bisa pakai kata itu.

di pintu keluar apartemen:

“Mama, in sepatu ngga kebalik?
“Ngga sayang”
“bagus?”
“iya udah bener”

” riku…. mama no kagi shiranai? kinou anataga doa wo aketadeshou? (riku, kamu ngga tau di mana kunci mama? kemarin kan kamu yang buka pintu?)
” aku kasih mama kok. dekat komputer mama.” (dan memang benar ada di dekat komputer….)

sambil turun dari mobil,
“Mama, bahaya apa artinya?”
“abunai….”
“bukan shiawase?”
“bukan, shiawase itu bahagia”
rupaya dia salah dengar kata-kata bahagia dalam lagunya Melly, OST “Ada Apa Dengan Cinta” yang aku pasang di mobil. Bahaya dan bahagia itu jauh artinya nak heheeh.


Akhir tahun fiskal dan TPA

Sampai dengan tanggal 31 Maret merupakan tahun fiskal 2008, sehingga hampir semua pegawai pasti pulang larut malam. Semua laporan keuangan harus selesai sampai dengan tgl 31, dan tanggal 1 merupakan awal tahun fiskal baru, tahun fiskal 2009. Meskipun suamiku bukan bagian keuangan, tapi setiap proyek atau kegiatan kantor pasti memakai biaya, sehingga dia pun terpaksa harus mendekam di kantor hingga larut malam. Tadi malam pun dia baru jam 1 sampai di rumah.

Fenomena menarik dari penutupan akhir tahun fiskal ini adalah, dana yang disediakan terutama untuk pemerintah harus habis. Jadi memasuki bulan Maret, jika masih ada sisa dana, biasanya semua berlomba-lomba untuk menghabiskannya. Kalau bisa satu paper clip juga ditagih. Karena itu menjelang penutupan tahun fiskal, bulan februari-maret di Jepang banyak kita jumpai perbaikan jalan/trotoar yang sebetulnya belum perlu untuk diperbaiki. Katanya sih ini salah satu cara untuk menghabiskan dana.

Ketika saya tanya kenapa sih harus habis? Bukannya lebih baik bersisa, dan bisa dikembalikan dan mungkin bisa digunakan untuk yang lain? Oleh teman saya yang bekerja di universitas dijelaskan bahwa jika dana itu tidak habis, maka dianggap proyek itu tidak sesuai anggaran. Yang susahnya itu bisa berakibat anggaran untuk tahun fiskal berikutnya dipotong. Huh, enaknya memang mikirin keuangan keluarga aja deh, sisa di satu pos, bisa diputar untuk pos lain, atau ditabung. Sayangnya kalau uang negara (Jepang) tidak bisa dibegitukan. Dan jangan tanya saya bagaimana kondisi perputaran uang di negara Indonesia, karena saya sama sekali tidak tahu. (Kalau di Indonesia mungkin baru setengah tahun fiskal aja udah kurang anggaran mungkin ya? huh kok jadi sinis sih?)

Karena Gen sibuk dengan kerjaannya, jadi saya harus mengurus semua keperluan Riku untuk masuk sekolah dan juga keperluan Kai. Jika Riku mulai April nanti akan menjadi murid SD, maka Kai akan menjadi murid TPA (Tempat Penitipan Anak — bukan tempat pembuangan akhir ya……)  yang dalam bahasa Jepangnya disebut Hoikuen. Hoikuen ini biasanya menerima bayi sejak umur 51 hari sampai usia sebelum sekolah yaitu 6 tahun. Hoikuen Himawari yang Kai akan masuki adalah TPA yang sama dengan Riku sebelum dia masuk TK, menjaga anak-anak mulai pukul 7 pagi sampai 8 malam dari Hari Senin sampai Sabtu.

Saya sendiri senang sekali waktu mendengar bahwa mulai bulan April ini Kai bisa menjadi “murid” tetap di Himawari, karena dengan begitu saya bisa menentukan paling sedikit 4 hari seminggu (minimum 8 jam per hari) dia saya titipkan di TPA, sementara saya bekerja. Sebelumnya status Kai masih “tamu” yang biayanya dihitung perjam (900-1100 yen per jam).

Sebetulnya TPA ini memang berguna bagi ibu-ibu yang bekerja. Tapi selain hanya sebagai tempat penitipan, saya sendiri merasa TPA sebagai tempat yang bagus untuk mengajarkan anak-anak untuk bermasyrakat. Selain itu makanan yang disediakan dirancang oleh ahli gizi sehingga sudah pasti lebih sehat daripada kalau mengandalkan menu pilihan saya.

Nah tanggal 26 kemarin saya pergi ke Himawari untuk mengurus pendaftaran Kai. Bertiga dengan Riku, naik sepeda melewati jalan ke arah stasiun, dan saat itu kami menemukan suatu pemandangan yang menakjubkan. Yah, kami melihat semacam bemo/ bajaj terbuka atau becak bermesin,  kendaraan dari Thailand yang bernama tuk tuk. Jelas-jelas tertulis di bagaian atas TUK TUK. Saya berdua Riku kegirangan melihat Tuk tuk itu, sayang tidak bisa memotret, karena sulit mengeluarkan HP sambil mengayuh sepeda. Dan untuk berhenti dulu, rasanya juga tidak perlu. Tapi “penampakan” tuk-tuk itu benar-benar memberi semangat di tengah dinginnya udara saat itu. Saya pikir musim semi sudah datang, ternyata dia masih malu-malu untuk mengambil alih peran musim dingin.

Tiga K atau Tiga D

Kalo 2 D mustinya yang seangkatan dengan aku pada tahu ya… Singkatannya Deddy Dhukun dan Dian Pramana Putra. Tapi yang saya mau tulis di sini adalah  3 K dalam bahasa Jepang, atau dalam bahasa Inggrisnya menjadi 3 D. 3 K dalam bahasa Jepang merupakan singkatan dari Kitsui (Sulit), Kitanai (Kotor), dan Kiken (berbahaya). Bahasa Inggrisnya adalah Dirty, Dangerous dan Demeaning. Jenis pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh Blue Collar (pekerja kerah biru sebagai lawan pekerja kerah putih a.k.a deskwork)

Semakin banyak warga Jepang yang tidak mau melakukan pekerjaan yang merupakan kategori 3 K tersebut. Akibatnya pekerjaan yang sulit, kotor dan berbahaya itu kebanyakan dilakukan oleh pendatang asing terlebih yang datang tidak melalui prosedut semestinya (baca: ilegal). Secara bercanda pernah teman saya, Andre mengatakan pada temannya, bahwa ada lowongan pekerjaan sambilan arbaito dengan gaji 20.000 yen per jam tapi malam hari. Teman-teman mahasiswa dari Indonesia antuasias, tapi setelah tahu bahwa pekerjaannya adalah membersihkan stasiun setelah jam kereta selesai, mereka melempem. Karena itu berarti harus membersihkan WC, dan juga muntahan (maaf) orang-orang yang mabok karena minuman keras. Saya rasa tidak ada di antara teman-teman blogger yang dengan senang hati mau melakukan pekerjaan seperti itu, meskipun gajinya besar. “Gengsi dong!” ….

Tadi pagi saya mendengar berita yang menarik di televisi. Entah apa yang menjadi tujuan komite pendidikan suatu daerah Jepang untuk membangkitkan kembali kegiatan membersihkan WC (toire souji) oleh murid-murid SD. Rupanya 20 tahun lebih yang lalu murid-murid pernah “disuruh” membersihkan WC tapi kemudian dihapus. Sekarang mau dibangkitkan lagi. Hmmm saya jadi berpikir bahwa pasti orangtua-orangtua murid banyak yang keberatan. Pasti akan banyak protes bermunculan. Mana mau mereka jika anaknya yang “berharga” itu disuruh membersihkan WC. Wong di rumah saja anak-anak tidak boleh bekerja. Pasti hampir semua anak Jepang (terutama anak laki-laki)  tidak pernah mencuci piring di rumah. Masa anak-anak ini mau disuruh membersihkan wc sekolah?

(Posting ini ditulis tahun 2009, dan ternyata sampai saat ini sudah cukup banyak sekolah yang memberlakukan pembersihan wc di sekolah mereka, meskipun sekolah Riku tidak. Selain itu ada lagu yang hit pada tahun 2010 berjudul Dewi WC)

Memang disebutkan dalam laporan televisi itu bahwa sebelum anak-anak membersihkan wc tersebut, guru akan melihat dulu “derajat” kekotoran WC. Jika kotor sekali, maka kegiatan itu dibatalkan. Dilaporkan bahwa dengan adanya pilot project usaha tersebut, anak-anak lebih aktif membantu di rumah dan lebih bertanggung jawab akan kebersihan sekelilingnya. Jadi semestinya pelajaran ini bagus adanya.

Saya sendiri sebagai orang tua setuju sekali jika diberlakukan kegiatan membersihkan wc di sekolah. Saya jadi teringat dulu (sekarang saya tidak tahu) pernah mendengar bahwa Canisius College yang sekolah laki-laki saja memberlakukan hukuman membersihkan wc bagi mereka yang terlambat. Waktu saya katakan pada Gen soal ini, dia berkata, saya setuju sekali… lah saya juga kadang bekerja membersihkan wc kok…. (dan saya teringat betapa dia shock dan tidak bisa menerima harus bekerja seperti itu waktu awal-awal bekerja).

Lebih jauh lagi, kita sendiri bisa melihat betapa untuk bidang jasa di Jepang, semua pegawai bahkan boss nya pun turun tangan ikut membersihkan jalan, atau apa saja yang berhubungan dengan kebersihan. Tidak heran jika di Jepang kita melihat sosok pegawai berjas dan berdasi memegang sapu dan membersihkan jalanan depan toko/bank. Kalau toh kelak jika besar dia harus melayani dan melakukan pekerjaan seperti itu, apa salahnya waktu anak-anak diberi pengalaman seperti pelajaran membersihkan WC itu. Supaya jangan shock seperti suami saya itu hehehe.

Mungkin orang Indonesia akan bertanya, kenapa kok karyawan yang berjas itu mau bekerja seperti itu, emangnya ngga ada office boy? Di kantor Jepang, tidak ada office boy. Pekerjaan yang termasuk kategori pekerjaannya office boy itu dilakukan oleh karyawan yang baru masuk (bulan April) , atau disebut shinjin (orang baru). Boleh saja kita katakan itu semacam inisiasi yang harus dilewati untuk kemudian tahun berikutnya tugas itu diambil alih oleh junior (kohai) nya karena dia telah menjadi senior (sempai).

Ternyata aku terdaftar!!

Ya, aku masih diakui oleh negaraku sebagai warganya. Meskipun aku terlambat mengecek pendaftaran online pemilih luar negeri, ternyata aku tetap dikirimi kartu suara untuk pemilu tanggal 9 April nanti. Padahal saya sempat tulis di suatu komentar, kalau surat suara tidak datang ya golput deh…. Nah sekarang tidak bisa, karena sudah kuterima surat suaranya kemarin dulu, Senin 23 Maret 2009.

Begitu buka amplop yang dikirim lewat kuroneko mail (bukan pos tapi perusahaan pengiriman swasta spt tiki) aku mendapatkan berbagai kertas dan amplop. Kertas untuk mengecek kelengkapan surat suara dan cara mencontreng, kertas pernyataan sudah menerima kertas suara C4 LN DPR, kertas suara itu sendiri yang segede koran dilipat-lipat ada 12 lipatan tuh, bener juga katanya pak Omar, nanti biliknya ngga cukup deh.

Pemilih Tokyo mendapatkan daftar untuk daerah pemilihan DKI II, dan bisa mencontreng satu tanda pada kolom partai. satu tanda pada kolom nama caleg dan satu tanda pada kolom nomor caleg. Yang saya rasa lucu, ada peringatan waktu memberikan tanda pada surat suara harap memakai alat tulis yang hasilnya permanen atau mudah dilihat misalnya, pulpen, bolpen, spidol berwarna merah atau biru. Loh? emangnya ngga disediakan panitia ya? Hehehe tapi baru ingat ini kan surat suara yang dikirim lewat pos, jadi panitia tidak bisa membagikan/mengirimkan bolpen yang sama ke setiap pemilih.(Jangan digambar-gambari ya Mang Kumlod…. hehehe)

Setelah dicontreng, surat suara yang sudah diisi dimasukkan ke amplop suara, dan beserta surat C4 LN DPR (yang sudah dibubuhkan tanda tangan) dimasukkan lagi ke amplop pengembalian yang sudah disediakan. Tanpa membubuhkan perangko langsung masukkan ke kotak pos antara tanggal 9 sampai 13 April 2009.

Proses setelah itu? Saya tidak tahu karena saya tidak termasuk panitia PPLN tahun ini. Dulu sih pernah satu kali menjadi saksi PPLN yang bertugas menjemput surat suara di kantor pos Osaki, memeriksa proses penyerahan surat suara dari pihak kantor pos sampai membawa surat-surat suara itu ke tempat penghitungan serta menjadi saksi dalam proses penghitungan. (hmmm cari-cari fotonya ngga ketemu …ntar deh kalo ketemu dipasang hehehe)

Ratu Kopdar?

Terus terang saya tidak berniat mendapatkan gelar “kehormatan” itu. Sama sekali tidak. Tapi memang saya suka bersilahturahmi, terutama bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya belum pernah saya temui. Ya tentu saja setting “pertemuan” adalah di blog dulu, baru kemudian di dunia nyata. Atau yang dikenal dengan nama kopdar a.k.a kopi darat (istilah Jepangnya sih malah Off Air atau Off Kai — lawan dari On air—) . Padahal blogger itu kan ketemunya bukan di udara ya?

Hari ini cuaca cerah, meskipun kemarin diprediksikan akan turun hujan. Rupanya awan mendungnya takut dan baru muncul besok. Jam 7 anak-anak sudah bangun dan jam 8 sudah selesai makan pagi semua. Sambil beberes, nonton TV melewati hari. Saya sempat masak kare Jepang untuk makan malam. Jam 11 siang Kai tertidur. Saya pikir mau coba suruh Riku pergi keluar sendiri. Saya minta dia untuk belikan es krim di toko dekat rumah, tapi dia tidak mau. Tidak ada nyali untuk pergi sendiri. Susah deh saya…

Akhirnya saya ajak dia jalan ke luar rumah dengan alasan membeli sayur. Saya suruh dia jalan duluan untuk melihat apakah ada petani yang berdagang sayur di depan ladangnya. Ternyata tidak ada sayur yang saya inginkan. Jadi setelah coba pergi ke dua tempat kami segera kembali ke rumah. Saya harus putar otak terus bagaimana cara untuk memberikan keberanian pada Riku untuk keluar rumah sendirian. Tadi sempat saya tepis halus tangannya yang mau menggandeng saya terus. Duuuh anakku, kamu harus belajar mandiri!!! Kita tinggal punya waktu 2 minggu untuk latihan sebelum kamu masuk SD. Di sini murid SD harus berangkat ke sekolah sendiri, JALAN KAKI!!!

Nah, apa hubungannya dengan judul di atas? Ternyata sekitar jam 1 saya mendapat telepon dari Wita (http://doppelgangerishere.wordpress.com/) yang mengabarkan dia sudah berada di Stasiun Tokyo, dan minta dikasih tahu bagaimana caranya ke stasiun Kichijoji. Sempat kaget juga, karena saya pikir dia tidak jadi datang. Kemarin memang dia bilang akan menghubungi jika jadi ke rumah saya. Wita sedang berada di Aomori (utara Jepang), dalam rangka liburan, dan dia dengan sengaja menghabiskan waktu 3 jam naik shinkansen dari Aomori untuk bertemu saya (meskipun aku tahu tujuannya untuk ketemu KAI dan RIKU bukan saya hihihi)!

Jam 2:30 an Wita  tiba dengan selamat di depan pintu rumah saya. Bayangkan dari Aomori jam 10 pagi… sampai rumah saya jam setengah 3. Hampir 5 jam perjalanan euy. Hebat!! Untuk orang yang tidak bisa membaca kanji (bisa mengerti bahasa Jepang) bisa sampai di depan rumah saya hanya dengan 3-4 kali telpon/email itu hebat! Salut saya dengan kemauannya pergi sendiri.

Setelah duduk, saya tanya apakah sudah makan?

“Sebetulnya belum neechan”

ASTAGA… udah jam 3 jeh. Lalu saya tanya mau makan apa? Apa ada makanan jepang yang belum dicoba? Ternyata sodara-sodara, Wita ini rindu masakan Indonesia karena sudah 2 minggu makan masakan Jepang terus…hihihihi. Jadi senyumnya mengembang waktu saya bilang, saya ada sisa soto ayam karena kemarin saya buat soto ayam (dan untuk makan siang hari ini juga karena anak-anak suka). Saya panaskan soto ayamnya, dan menyuguhkannya. Aduuuh segitunya kepengen masakan Indonesia. Dan lengkaplah kebahagiaan Wita (eh kamu bahagia ngga ya? ) karena waktu tengah dia makan soto, saya teringat masih ada rendang Natrabu di lemari es saya! Soto ayam dan Rendang!!! (kombinasi yang aneh ….)

Aduuuh Wita jauh-jauh kamu datang, hanya aku suguhin Soto, Rendang dan koneksi internet (katanya di Aomori lemot). Eh ditambah kue ontbijtkoek – fresh from the oven -yah sebagai temannya ngopi. Coba kalau kedatangannya direncanakan lebih matang, bisa dimasakin bakso atau apa aja deh yang kamu kepengen.

Jam 5 sore dia pulang untuk memulai perjalanan 5 jam lagi kembali ke Aomori. Otsukaresamadeshita dan selamat menikmati sisa liburannya! So,  ini adalah kopdar Tokyo yang pertama!!! Ayo, Siapa lagi yang menyusul datang ke rumah saya? (Atau ketemu di stasiun Tokyo/ Shinjuku deh… kalau Narita ogah! jauh dan mahal hihihi) Saya tunggu loh. Tapi musti kasih tahu dari jauh hari ya, supaya disiapin masakannya, dan mungkin jangan masakan Indonesia ya hihihi.

Okuribito – Sang Pengantar

Orang Jepang boleh berbangga karena salah satu filmnya tahun 2008 mendapat penghargaan film berbahasa asing terbaik Academy Awards ke 81, th 2008. Juga mendapat beberapa penghargaan dari berbagai festival film lainnya baik nasional maupun internasional. Judul bahasa Jepangnya Okuribito (Sang Pengantar), atau dalam bahasa Inggrisnya Departures.

Saya tidak suka menonton film. Maka ketika kami pergi ke rumah mertua di Yokohama hari Sabtu lalu, dan ibu mertua mengatakan bahwa dia sudah membeli DVD Okuribito ini, saya tidak begitu antuasias. Apalagi saya bisa membayangkan isi ceritanya. Lah, artinya saja Sang Pengantar, dan bukan sembarangan pengantar. Dia bertugas mengantar jenazah sebelum dikremasikan. Suatu jenis pekerjaan yang dianggap hina oleh sebagian orang, karena berurusan dengan mayat! Langsung memegang mayat! Bahkan penggali kuburpun belum tentu harus memegang mayat. Tapi si Okuribito ini WAJIB memegang mayat.

Saya rasa bukan hanya karena pesan atau isi cerita yang bagus saja sehingga film ini dipilih menjadi film terbaik. Pemain utamanya Motoki Masahiro alias Mokkun adalah favorit saya. Ada beberapa film dia yang sudah saya tonton. Yang terlucu adalah “Shiko funjatta”. Orangnya keren, garis wajahnya tidak sekeras Abe, malah kelihatan “manis”. Tapi yang membuat saya suka padanya juga karena kehidupan pribadinya di belakang layar juga harmonis, seorang ayah dengan dua anak. Semestinya kehidupan pribadi seseorang tidaklah boleh menjadi satu penilaian dalam mengapresiasi film. Tapi saya tidak bisa mengabaikan pemikiran bahwa saya memang “melihat” orang itu luar dalam.

Cerita bermula dengan kisah pemecatan seorang pemain cello dari Orkes Kamar yang terpaksa dibubarkan. Daigo Kobayashi terpaksa menjual cello yang dibelinya seharga 1.8000.000 yen dan pulang kembali ke kampung halamannya di Yamagata bersama istrinya. Dia menempati rumah yang ditinggalkan ibunya yang meninggal 2 tahun sebelumnya. Rumah itu bekas night club (snack) yang sebelumnya pernah juga menjadi kedai kopi yang dikelola ayahnya. Ayah Daigo ini meninggalkan rumah itu sewaktu Daigo masih kecil, bersama perempuan muda yang dicintainya. Ingatan Daigo akan ayahnya hanyalah betapa dia harus merasa tersiksa berlatih cello sejak TK. Sedangkan wajah ayahnya pun dia tidak ingat.

Segera setelah kepindahan ke Yamagata, Daigo mencari lowongan pekerjaan dan mendapatkan iklan mencari pegawai di NK Agency. Di iklan tersebut hanya dikatakan “membantu perjalanan”, jadi dia berpikir menjadi guide atau koordinator travel. Tapi ternyata NK Agency itu adalah singkatan dari NouKan Agency, yang berarti “penaruh jenazah ke dalam peti”. (Mungkin kalau di Indonesia kita bisa bayangkan orang yang pekerjaannya memandikan jenazah ya). Kantor itu sendiri terdiri dari Direktur Sasaki Shoei, dan sekretarisnya. Daigo langsung diterima dan membawa pulang gaji pertamanya sebesar 500.000 yen (gaji yang besar, lebih besar dari gaji pegawai biasa!)

Karena gaji besar itulah, dia mencoba bertahan, dan menjalankan tugas pertamanya yaitu menjadi “jenazah” untuk pembuatan video ahli Noukan. Tantangan pertama selesai, dihadapi dengan tantangan kedua, yaitu harus membantu Sang Direktur untuk “menghias” jenazah seorang nenek yang ditemukan 2 minggu setelah meninggal. Sambil muntah-muntah (maaf….) dia melaksanakan tugasnya yang pertama sebagai (asisten) Noukan. Pengalaman dengan mayat yang sudah membusuk itu dilewati tidak dengan mudah. Apalagi setelah istrinya menemukan video yang memalukan itu dan memintanya untuk berhenti. Tapi Daigo berkeras untuk melanjutkan pekerjaan yang dianggap hina oleh istri dan teman-temannya, sehingga istrinya meninggalkan dia.

Daigo mulai “menikmati” pekerjaannya, dan mulai melaksanakan tugasnya sendiri, bukan sebagai asisten. Sampai pada suatu hari istrinya kembali dan membawa kabar bahwa ia mengandung anaknya, dan untuk itu minta… memohon agar Daigo berhenti bekerja sebagai Noukan. Tepat saat itu ada telepon yang memberitahukan kematian seorang kenalan mereka, nenek yang mempunyai public bath (sento). Saat mereka melayat, istrinya pertama kali melihat “kerja” suaminya, yang mendandani jenazah yang terbujur kaku, mencuci, mengganti kimono dan merias wajahnya, sehingga bisa tampil cantik di dalam peti jenazah. Nenek itu adalah ibu dari temannya yang mencemooh dia karena bekerja sebagai noukan. Dan saat itu mereka menyadari betapa penting dan indahnyanya pekerjaan Daigo.

Istri Daigo yang sudah menerima suaminya bekerja sebagai Noukan menyambut musim semi dengan riang. Tapi seorang  petugas pos mengantar telegram yang mengabarkan kematian ayah Daigo yang sudah lama tak diketahui kabarnya. Dilema bagi Daigo apakah dia akan pergi menemui ayahnya yang sudah meninggal atau tidak. Dia benci pada ayahnya yang sudah meninggalkan dia demi seorang wanita lain. Tetapi ternyata sang ayah tidak bersama siapa-siapa, dia bekerja sebagai pembantu nelayan di pelabuhan sampai akhir hidupnya. Daigo akhirnya melayani ayahnya untuk yang terakhir kalinya sekaligus memperbaiki hubungan mereka.

Sebuah film yang menguras airmata, karena memang kematian itu menyedihkan bukan? Tapi kematian adalah suatu tahap yang mau tidak mau kita lalui. Film yang bagus dan layak untuk ditonton, hanya sayangnya belum ada versi bahasa Inggris. Melalui film ini selain mengetahui kebudayaan Jepang, juga bisa melihat sisi kemanusiaan yang universal.

Perlu saya tambahkan di sini bahwa Motoki sendiri yang memilih skenario ini untuk dia pelajari, dan proses pembuatan film memakan waktu 10 tahun. Diapun mempelajari cara memainkan cello dengan sungguh-sungguh, dan sebelum pemutaran film, dia tampil di muka masyarakat yamagata, tempat lokasi film itu. Sang produser juga tidak berharap film ini akan laku untuk kepentingan komersial karena isu yang dibawa sangat peka, menyangkut tatanan hidup bangsa Jepang. Perlu diketahui juga bahwa pekerjaan seperti ini, yang menyangkut orang mati, dulu merupakan pekerjaan yang hina yang hanya dilakukan oleh pendatang (terutama orang korea). Memang bukan seperti perbedaan kasta, tapi yang jelas pekerjaan ini hina.