Hari ke 8 – 88 dan Cantent in Viis Domine

Seperti yang pernah saya posting di Apa artinya sebuah angka! Bagi orang Jepang, angka delapan adalah angka mujur. Dan dalam kehidupan manusia, ada suatu titik-titik usia tertentu yang “Diagungkan”. Usia o tahun atau usia 1 tahun pada hitungan Jepang lama yang merupakan hari kelahiran, usia 20 tahun yang menurut pemerintah merupakan pengakuan seseorang menjadi dewasa dengan sebutan khusus HATACHI 二十歳 , usia 60 tahun dengan sebutan KANREKI 還暦 (genap 4 kali putaran shio dan dikatakan bahwa manusia kembali lagi menjadi bayi), usia 88 tahun yang disebut BEIJU 米寿 , 90 tahun disebut SOTSUJU 卒壽 dan 99 tahun yang disebut HAKUJU 白寿.

Sedikit sekali orang yang bisa mencapai umur 88, dan lebih sedikit yang bisa mencapai 90 tahun. Ada dua muridku, orang Jepang yang bisa mencapai sotsuju, yaitu Almarhum Dr Fukuoka Yoshio, yang meninggal 11 januari lalu, dan Bapak Watanabe Ken yang masih segar bugar sekarang dengan usia 93 tahun. Ah aku ingin segera berjumpa Bapak Watanabe sepulang dari Indonesia. Dialah yang memberikan kesadaran pada saya bahwa umur tidak menjadi penghalang untuk belajar, belajar dan belajar terus. Dia mulai belajar bahasa Indonesia denganku pada umur 83 tahun dan sampai saat ini masih belajar di sebuah sekolah bahasa di Shinjuku. Bayangkan… SEMBILAN PULUH TIGA tahun.

Di keluarga Coutrier sendiri, Opa dan Oma (dari pihak papa) berhasil melewati 88 tahun. Padahal boleh dibilang mereka juga tidak fit 100% sampai akhir hidupnya. Opa meninggal persis di hari ulang tahunnya yang ke 88 dan saya bisa menghadirinya. Oma meninggal usia 89 tahun, tanpa ada yang memberitahukan saya (mungkin karena pikir saya toh tidak bisa datang). Dan dari Coutrier Clan ini, sesepuh yang masih hidup adalah Oma Dorothea Versluys yang tinggal di Amersfoort dan baru saja merayakan ulang tahun ke 89 tahun tanggal 7 Januari lalu. Aku juga sangat menyayangi oma Do ini, dan berkhayal kapan lagi bisa bertemu beliau in real.

Dan tanggal 18 Februari lalu, seminggu sebelum Riku ulang tahun, seorang Oma berulang tahun yang ke 88 tahun. Beliau memang bukan Oma yang terdaftar dalam pohon keluargaku. Oma Poel Fernandez dan saya, cucunya, tak ada hubungan darah sama sekali. Beliau yang terus melajang sampai sekarang, hanyalah tetangga belakang rumah kami yang lama. Tapi Oma Poel yang kucinta itu sudah hadir sejak aku lahir, yang memberikan aku nama julukan BARENDJE DONDER KOP (arti harfiah bocah gundul…. yang penggambarannya amat cocok dengan Ikkyu_san, si pendeta Buddha kecil yang gundul dan pintar).

Dan sejak aku bisa berjalan, beliau selalu membuatkan, menjahitkan baju untukku sampai aku SMA. Yang terakhir dia jahitkan adalah rok seragam Tarakanita dalam empat warna/corak, putih untuk hari Senin, abu-abu dan kotak-kotak, serta rok berwarna krem untuk hari Sabtu. Setelah itu dia angkat tangan, dan berkata, “Aku sudah terlalu tua untuk bisa menjahitkan kamu lagi, beli saja. Saya bahkan tidak yakin bisa hidup sampai kamu menikah.”

Nyatanya dia masih bisa melihat foto-foto pernikahan kami (karena dilaksanakan di Jepang), dan bisa menggendong Riku setiap kali aku ke Jakarta, dan bisa bertemu juga dengan cicit ke duanya, Kai di Jakarta. Tuhan memang yang terindah, dan Hanya DIA yang membuat hidup kita menjadi indah pada waktunya.

KAU YANG TERINDAH
DI DALAM HIDUP INI
TIADA ALLAH TUHAN YANG SEPERTI ENGKAU
BESAR PERKASA PENUH KEMULIAAN

KAU YANG TERMANIS
DI DALAM HIDUP INI
KUCINTA KAU LEBIH DARI SEGALANYA
BESAR KASIH SETIA-MU KEPADAKU

REFF:
KUSEMBAH KAU YA ALLAHKU
KUTINGGIKAN NAMA-MU SELALU
TIADA LUTUT TAK BERTELUT
MENYEMBAH YESUS TUHAN RAJAKU

KUSEMBAH KAU YA ALLAHKU
KUTINGGIKAN NAMA-MU SELALU
SEMUA LIDAH KAN MENGAKU
ENGKAULAH YESUS TUHAN RAJAKU

Aku menangis sambil mendengar dan ikut menyanyikan lagu ini. Sebuah lagu kesayanganku yang dinyanyikan oleh teman-teman yang tergabung dalam Paduan Suara Cantent in Viis Domine, atau disingkat CAVIDO, pada misa syukur ulang tahun Oma Poel Fernandez di gereja St Johannes Penginjil Blok B, tanggal 22 Februari (hari ke 8 aku di Jakarta) yang lalu. Aku memang pernah menjadi anggota Paduan Suara ini sejak SMP, sampai sebelum keberangkatanku ke Jepang tahun 1992. Adalah Oma yang mendorongku bergabung dalam paduan suara ini, sehingga menjadi anggota paling rawit saat itu. Tapi setiap kali selalu ditanya, mbak SMA kelas berapa? , karena badanku yang bongsor itu, padahal aku masih SMP.

Pindah ke Jepang tahun 1992, aku merasa kehilangan pada suasana kekeluargaan yang kocak yang ada dalam paduan suara ini. Tapi yang membuat aku bahagia adalah, bahwa mereka, meskipun banyak anggota baru yang tidak mengenal aku, tetap menyambutku dengan hangat setiap aku mampir dalam tugas-tugas mereka di gereja setiap kali aku mudik ke jakarta. Aku masih dianggap sebagai anggota. Dan seandainya aku mau jujur, aku merasa menyesal tidak mendengarkan mereka mengiringi misa pernikahanku karena dilaksanakan di Jepang. (Dan aku tahu Oma Poel juga kecewa dengan keputusanku…. maafkan aku Oma)

Paduan suara ini memang tidak bisa melupakan kehadiran Oma Poel dalam sejarahnya. Kepala sekolah SMA Tarakanita waktu itu, Sr Fraceline yang mendirikan paduan suara ini. Karena anggotanya adalah murid SMA Tarakanita maka tentu saja hanya bersuara wanita saja. Kemudian membuka diri dan menerima murid SMA Pangudi Luhur (yang pria semua) supaya bisa lengkap 4 suara, dan akhirnya menerima anggota umum. Baru setelah itu pelaksanaan sehari-hari untuk latihan dan pemilihan lagu kemudian dilakukan oleh Oma Poel Fernandez ini. Terus dilakukannya sampai saat kesehatan dan pendengarannya bermasalah sehingga akhirnya koordinasi latihan dan lagu-lagu diserahkan pada Mas Atok Joko dan istrinya Mbak Savitri. Dan PS Cavido tahun lalu sudah merayakan lustrum ke 6 atau 30 tahun berdirinya.

88 tahun dan 30 tahun

Oma Poel dan Cavido

aku dan komunitas gereja katolik indonesia

ikatan yang hanya bisa “abadi” dengan campur tangan Bapa Surgawi saja

Selamat ulang tahun untuk Oma Poel

Selamat berkarya dan terus maju untuk Cavido. I love you all, and always miss our togetherness.

The Lord bless you and keep you; The Lord make his face to shine upon you and be gracious unto you; The Lord lift up the light of his coutenance upon you and give you peace. Amen(Bilangan 6:24~26)

http://www.youtube.com/watch?v=O2WQ5yKhgLw compossed by Peter C. Lutkin. yang sering dinyanyikan Cavido juga.

Foto lengkap bisa dilihat di

http://www.facebook.com/album.php?aid=64867&id=787239774&l=31bec

20 gagasan untuk “Hari ke 8 – 88 dan Cantent in Viis Domine

  1. Rindu

    sering lihat wajah cantik mbak di blog mas Nug, dan baru kali ini memberanikan diri menyapa …

    saya numpang baca baca perjalanan ini ya mbak 🙂

    Rindu´s last blog post..Embun …

    Rindu, selamat datang…
    empunya wajah cantik dan perangkai kata-kata yang indah. Siapa sih yang tak kenal kamu di blogsphere ini. Aku senang kamu mau menjejakkan kaki di rumah mayaku ini.
    sukses untuk skripsinya ya
    EM

    Balas
  2. DV

    Lagu “Kau yang Terindah” memang bagus banget Mel, gw juga suka..

    Tapi aku lagi suka lagu yang judulnya “Lingkupiku” yang nyanyi Jeffry s Tjandra.

    Lagu lama dan translasi dari lagu asing, tapi keren!

    DV´s last blog post..Ibu

    Balas
  3. Daniel Mahendra

    Tidak bisa tidak, aku bersaluir pada Pak Watanabe Ken yang sudah mencapai Sotsuju. 10 tahun belajar Bahasa Indonesia sejak usia 83 tahun. Wow!!

    Lebih gila lagi: kenapa Bahasa Indonesia yang dia pilih? Padahal bukan bahasa internasional. Ada banyak bahasa internasional lain, namun Bahasa Indonesia?

    Oke, ada ratusan juta orang pengguna Bahasa Indonesia, tapi kan di Indonesia. Tidak bisa tidak: aku jadi penasaran pada beliau. Sudikah suatu hari menceritakan tentangnya?

    * * *

    Cerita tentang Oma Poel Fernandez dahsyat juga ya. Terutama pada kalimat: “Aku sudah terlalu tua untuk bisa menjahitkan kamu lagi, beli saja. Saya bahkan tidak yakin bisa hidup sampai kamu menikah.”

    Weh!

    Satu hal perhitungan dia meleset. Satu hal: secuil cerita perjalanan hidupnya terasa mengagumkan.

    Pertanyaanku:
    Adakah engkau cukup melihat foto-foto pernikahanku, atau setahun sekali bakal menggendong anak-anakku?

    (tergantung nikah sama siapa, Dannnyyy…….)
    He-he-he.

    Daniel Mahendra´s last blog post..Beker

    Aku senang kamu ingin tahu ttg Pak Watanabe ini. Aku memang pernah ingin bercerita ttg beberapa muridku yang hebat-hebat, termasuk Alm Bpk Fukuoka yang baru meninggal itu. Pak Watanabe sendiri lulusan Univ Teikoku (cikal bakal Univ Tokyo) seorang elite, yang belum pernah sekalipun menjejakkan kakinya ke Indonesia. Dia bisa bahasa Jerman. Kenapa dia belajar bhs Indonesia? “kebetulan” dan kebetulan dia berjumpa seorang guru yang bernama Imelda….hihihihi. OK cerita lengkap di posting berikut, dan aku akan coba mewawancarai beliau. Doakan dia masih sehat dan masih bisa merayakan ulangtahun bulan April nanti. Beliau kehilangan istrinya tahun lalu.

    Aku juga ingin menyiapkan cerita mengenai Oma Poel ini, seorang Oma yang selalu ada di dalam aku. Hanya dia yang sebetulnya “benar-benar” memperhatikan aku, meskipun tak pernah langsung dikatakannya. Satu hal yang selalu mengganjalku adalah kenapa dia melajang. Dan aku menangis waktu mendengar ceritanya. Seorang wanita yang menunggu kekasihnya yang meninggal di medan perang. Ah… cinta itu memang indah tetapi sekaligus menyedihkan.

    “engkau” dalam pertanyaanmu itu maksudmu aku? Apakah aku cukup melihat foto-foto pernikahanmu dan menggendong anak-anakmu?
    Well…. dengan senang hati aku datang asal dikasih tahu jauh-jauh hari. (Ikutin jadwal aku is the best hahaha) . Soal anak? cukuplah aku gendong setiap aku datang. Kalau lebih sering, orang akan bertanya, itu anak siapa sebetulnya? istri DM atau kamu…. hahahaha
    EM

    Balas
  4. Daniel Mahendra

    Tambahan!

    Mungkin lebih tepatnya:
    “Tergantung kamu nikah atau tidak, Dannnyyy…!!!”
    Ha-ha-ha-ha.

    Daniel Mahendra´s last blog post..Beker

    bukan nikah atau tidak
    lebih tepatnya
    “kapankah ada seorang dewi yang beruntung diperhatikan seorang Danny, dan bisa membuat Danny terpukau dan tanpa sadar melamarnya….
    sayangnya sang dewi ini kelihatannya sedang melakukan perjalanan yang tak diketahui kapan akhirnya.”

    EM

    Balas
  5. nanzzzcy

    aku juga suka lagunya ‘Kau yang Terindah’
    menyentuh sekali..
    liat Oma Poel jadi inget ama ompung ku (baca: nenek) yg meninggal di usia 89 thn 🙂
    trus aku jg anggota paduan suara

    wahhh.. banyak amat ya kesamaannya hehehe..
    kunjungan perdana nih
    God bless sista..

    nanzzzcy´s last blog post..Aku, kau dan …..

    Balas
  6. pakde

    Menyebut nama HATACHI ??? saya jadi inget product ya…, meneybut kata KANREKI ?? aku jadi inget betapa susahnya anak kecilsaat memangil aku dengan nama itu, Kalo BEIJU ?? artinya beli baju….(agak maksa nih…, SETUJU ?? ??

    Menarik ya…bisa menikmati ultah ke 88. Happy B.Day to Oma poel. Team organizer nya menggunakan team mana nih…
    salam

    Balas
  7. mang kumlod

    Wah, salut banget sama Bapak Watanabe.
    Happy bday buat Oma Poel, 88 tahun. Well, jadi teringat pesannya Meneg BUMN, Sofyan Djalil, bahwa tidak menjaga kesehatan adalah sebuah kezhaliman terhadap diri sendiri dan keluarga.

    mangkum´s last blog post..Yang Paling Menginspirasiku

    Balas
  8. Kimiyo

    Wah senang sekali deh bisa lihat Oma Poel ! ^0^
    Oma poel kelihatannya genki ya !!
    Sejak pertama kali ketemu, walaupun waktu itu aku nggak mengerti bhs Indonesia, aku merasa sesuatu yang hangat dari Oma Poel.
    Natsukashii naa aku juga dulu ikut CAVIDO lho. ^^
    Salam ya buat Oma Poel, cium manis dari aku. ^0^

    Iya nanti aku sampaikan. Besok senin, dia akan datang ke rumah.
    EM

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *