Hari ke 6 – Pusat Orang Pintar

Tibalah hari ke dua di Bandung. Jam 7:40 saya dapat berita via sms, “Imelda san, Ohayo. Ini nomor HP saya, Barangkali diperlukan. Arigato. Nanang”, Nah, akhirnya saya bisa menghubungi beliau deh. Maklum pak Nanang ini orang penting, sayanya juga takut mengganggu. Jadi saya cuma mengirim via email, kalau bisa hari Jumat mau bertemu, dan tak lupa menyertakan no HP saya.

Ongkos menginap di hotel The Valley ini termasuk dengan Breakfast, yang tersedia di Restorannya dari pukul 7 sampai 10 pagi. Nah, saya menuju Restoran pukul 9:45. Saya pikir biarlah kalau tidak bisa sarapan lagi, saya akan “turun gunung” dan sarapan di dalam kota saja. Sambil membawa laptop untuk buka internet, ternyata saya masih bisa sarapan di situ. Menempati tempat duduk di tengah-tengah restoran, saya ambil bubur ayam dan kopi. Wah memang banyak juga variasi makanan untuk buffet breakfastnya. Soalnya saya terbiasa dengan menu Jepang yang disediakan hotel-hotel di Jepang, hanya ada roti dengan segala selai, dan sosis/daging-dagingan, yoghurt dan teman-teman, serta Japanese Breakfast, yaitu nasi/bubur, ikan bakar dan natto. Tapi di hotel ini, masak ada sate ayam, opor, gule, nasi uduk, soto mie juga. Aneh aja rasanya kalau makan pagi nasi opor hehhehe.

Sambil menikmati bubur ayam (sambil teringat bu Enny yang suka bubur ayam…. wah bu Enny terus-terusan masuk dalam pikiran saya jeh), saya buka laptop dan menyambung internet. Kalau di restoran ini ada wifinya. Saya masih bisa membuka TE (Twilight Express) tetapi malas membuat tulisan baru. Setelah membaca email yang masuk, akhirnya saya matikan laptop, dan kembali ke kamar. Sebabnya…. karena kenyang jadi ngantuk. Dan saya toh masih punya waktu banyak sebelum cek out hotel yang jam 12 itu. Sempat tidur sebentar, dan menanyakan pada Pak Nanang, apakah bisa bertemu waktu sholat jumat (Kami sama-sama beragama katolik). Dan dikatakan beliau masih di luar kantor, dan baru kembali pukul 1 siang.

Jam 11:45, saya menelepon front desk dan konfirmasi cek out dan meminta dicarikan taxi. Maklum Bell boynya yang kemarin bilang, bu… kalau mau panggil taksi kasih tahu 30 menit sebelumnya, karena mungkin agak sulit taksi untuk naik ke atas bukit. Conciergenya tanya apa saya perlu bantuan untuk mengangkat barang? Then saya bilang, PERLU. Masalahnya saya juga sulit mengangkat barang sambil naik tangga yang tak terhitung itu. Bisa menggeh-menggeh deh saya sampai di atas, hehehhe. Mana di atas bukitpun jika sudah tengah hari begini puanasnya minta ampun rek. Terus saya ngebayangin Tokyo yang dingin, hmmm jadi kangen Tokyo.

So, tujuan saya berikutnya kemana? Masih banyak waktu sebelum jam 1, jadi saya pergi ke hotel ke dua yang telah saya pesan untuk cek in. Yaitu Aston Tropicana. Tadinya bingung antara Aston Braga atau Aston Tropicana. Saya senang berada di daerah Braga, karena saya selalu pergi ke Braga Permai untuk membeli coklat, setiap saya ke Bandung bersama keluarga. Tapi katanya Aston Topicana ini masih baru, dan terletak di jalan Cihampelas. Jadi kepada supir Taksi saya minta dia mengantarkan saya ke Aston Tropicana. (Saya pikir waktu cek in nya pukul 12:00, setelah saya masuk kamar baru lihat di buku panduannya, bahwa waktu cek in pukul 2 siang, cek out pukul 12 siang. Nah ini persis hotel-hotel di Jepang)

Di Lobby saya disambut cewek-cewek cantik. Rasanya memang lain ya, jika disambut dengan senyuman dari perempuan-perempuan manis. Meskipun saya sendiri wanita. Soalnya di The Valley, semua petugas hotelnya laki-laki (dan tidak bisa dibilang jelek atau tidak ramah juga… tapi Valley memang kesannya kok “gelap”, sedangkan Aston ini “terang”). Jadi deh yang bawakan tas seret saya si mojang priangan yang senyumnya cukup bisa membuat tersepona. Sambil mengantar saya ke kamar dia bertanya,

“Ibu pertama kali ke Bandung?”
“Tidak, sudah beberapa kali, besok saya ke Jakarta”
“Ibu biasanya menginap dimana di Bandung?”
“Ohhh di Panghegar….” (Entah kenapa saya tidak bisa bilang, eh kemarin tuh saya nginap di the Valley hehehe)
“Ini kamarnya bu, selamat beristirahat” Dan Pintu tertutup… (tentu saja setelah “salam tempel”)

Oioi,,, dia tidak menyalakan AC, atau menjelaskan pemakaian remote control… heheheh meskipun sudah tahu sih, tapi sepertinya itu prosedur yang biasa dijalankan oleh petugas hotel. But, thats OK. Kamar standar di Aston memang terlihat lebih terang dengan nuansa warna krem. Hmmm benar-benar hotel standar, alias…biasa saja (atau standar saya terlalu tinggi ya?).

Nah, karena sudah 12:40, saya menelepon front desk dan minta dicarikan taxi. Karena si mojang priangan ini menyarankan telepon saja, daripada ibu cari sendiri di jalanan depan. Eeeee ternyata sodara-sodara, Taxi yang saya pesan tidak ada kabarnya sampai jam 1 lewat 20 menit. Tidak sabar saya menelpon ke front desk dan bilang, kalau saya sudah terlambat dan tolong carikan taxi apa saja deh. Aneh memang sistem pertaksian di Bandung ini. Sepertinya petugas hotel bergantung pada Taxi Bluebird saja. Tau gitu kan lebih cepat saya “turun ke jalan” dan mencegat taksi yang lewat di jalan cihampelas itu. Banyak gitu kok yang berseliweran. Dasar maunya manja! kena batunya deh.

Tidak lewat dari 5 menit, telepon berdering, “Ibu Imelda, taksinya sudah ada, tapi Gemah Ripah  bu”… yey masa bodo namanya apa… yang penting saya butuh kendaraan ke Pusatnya Orang Pintar dan Penting ini. Ya, tujuan saya berikutnya adalah berkunjung ke ITB. Tapi bukan ITB yang ini:(Institute Tambal Ban)

Melainkan ITB (Institute Teknologi Bandung) yang almamaternya Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno. Dan ternyata letaknya tidak begitu jauh dari Cihampelas, karena saya cuma membayar 10.000 rupiah saja untuk taxinya. Argo awal taxi Rp6.000 (hmmm dibanding deh dengan Jepang yang 710 yen. nyengir aja dulu deh…. Yang pasti di Jepang ngga bisa seenaknya naik taxi) .

Akhirnya saya bisa bertemu dengan dua tokoh dari ITB ini. Yang satunya tentu sudah tidak asing lagi di blogsphere dengan julukan Oemar Bakri dan yang seorang lagi adalah Dr Nanang T Puspito yang merupakan teman seperjuangan di Tokyo, awal-awal kedatangan saya di Tokyo, tahun 1992-1993. Pak Nanang ini amat pintar bernyanyi di Karaoke, dengan lagu “Yukiguni” atau “Osake yo”, lagu-lagu enka jaman baheula deh. Karena Pak Nanang masuk program doktor, jadi kurang fasih membaca kanji, dan selalu dibacakan oleh kami-kami yang masuk dari program S1-S2. Tapi semangat menyanyinya boljug deh. Biasanya anak-anak muda katolik yang berkumpul di gereja Meguro setiap sabtu, akan pergi makan bersama dan karaoke setelah misa pukul 5 sore. Kebiasaan ke karaoke ini hampir setiap minggu dilakukan, dan ini amat sangat membantu saya untuk bisa membaca kanji dengan cepat. Sayangnya saya baru bergabung dengan Mudika (Muda-mudi Katolik) di meguro, Pak Nanang sudah menyelesaikan program doktornya. Jadi waktu pak Nanang pulang ke tanah air, kami mengadakan pesta perpisahan dan mengantar ke Narita. Dengan demikian  saya sudah 15 tahun tidak bertemu pak Nanang ini (untung beliau masih ingat saya…yang dulu kurus itu loh hihih).

Saya juga senang karena akhirnya bisa bertemu dengan dosen ITB yang terkenal itu, Pak Grandis, yang meluangkan waktu untuk “Kopdar” di ruangnya pak Nanang.  Padahal Pak Grandis lagi sibuk-sibuknya mengurusi programnya. Saya baru tahu Pak Grandis ternyata Ketua Program tuh, pantas sibuk.(Nama lengkap programnya saya tidak tahu pak, dan saya pikir bukan wewenang saya menulis di sini, tanpa persetujuan bapak. Maklum kebiasaan di Jepang ternyata “Lupa” saya lakukan saat itu, yaitu tukar menukar Kartu Nama.) Pak Grandis juga sebetulnya yang menghubungkan saya dengan Pak Nanang, waktu membaca postingan saya yang mengenai gempa.

Karena ke dua bapak ini sibuk, saya juga tidak mau berlama-lama berada di kantor ITB ini, dan cepat-cepat pamit. Saya juga tidak sempat berjalan-jalan mengambil foto-foto kampusnya orang-orang terkenal ini. Soalnya dulu waktu saya daftar masuk Universitas, ngga berani daftar ke sini… mentok-mentoknya ke Parahyangan… dan itupun ngga keterima hihihi. Sayang juga teman sekelas saya di SMA, Keke Wirahadikusuma sedang berada di Perancis (kayaknya sih soalnya sulit untuk mengontak beliau).

Kembali ke Aston, saya mampir dulu ke giant supermarket di sebelahnya hotel untuk beli camilan. Sekembalinya ke kamar, nyalakan komputer dan konek internet. Dan dengan sedihnya saya mendapatkan bahwa saya tidak bisa membuka blog TE, blog saya sendiri. Bisa buka yang lain, tapi khusus untuk blog saya, dan blog pak Amin yang pakai hosting sama, tidak bisa dibuka sama sekali. mungkin masalah proxy atau apa. Sebeeeel banget deh. Jadi tidak bisa posting lagi, dan juga jadi malas untuk blogwalking. Jadi deh saya siesta, tidur siang. Tutup tirai (gordijn tuh kan bahasa Belanda… jadi saya hindari pemakaian kata ini), matikan semua lampu, dan ZZZzzZzZzzZZ…. uh Nikmat banget deh tidur siangku saat itu. Terbangun pukul 4, aku dengar suara hujan, buka tirai dan mendapatkan Bandung diguyur hujan deras sekali. Wow. saya buka semua tirai dan sambil tiduran, dan memandangi hujan. tranquilizer.

Tapi lama-lama kok saya jadi takut. Soalnya kadang-kadang terdengar suara ketawa-ketawa orang, dan suara bersin laki-laki di kejauhan yang periode bersinnya seperti teratur. Lalu saya pikir, masak saya mau menyiksa diri dengan  makan sendiri lagi malam ini. Tiba waktunya menghubungi DM , si Penganyam Kata,  Daniel Mahendra hihihi. Biarlah saya ganggu dia sekalian dari kesibukannya. Waktu saya telepon dia, ternyata beliau kaget dan berkata, “loh adikmu itu kan juga sedang menuju ke Bandung”. Hahahaha, ternyata Lala, akan mendarat tiba di Bandung dengan Kereta dari Surabaya jam 8 malam. Toh dia akan nginap di rumah saya besok, jadi kita bisa pergi bersama ke Jakarta besok pagi. Jadilah saya dan DM jemput sang Putri di Stasiun Bandung jam delapan, tapi keretanya di delayed (gaya amat deh bahasanya delayed, TERLAMBAT langsir aja susah-susah pakai bahasa linggish). Tentu saja surprise!!!

Dalam hujan akhirnya kami bertiga mencari makan soalnya sudah jam 9 tuh, dan cacing-cacing di perut sudah megap-megap minta makan (iya loh terakhir makan itu kan breakfast jam 10 pagi itu, yang membuat perut hampir meletus hihii). HANAMASA aja deh, kayaknya aku pernah denger bahwa Danny Boy ini suka hanamasa hihihi. (bener ngga sih Danny?)

Ngamuk deh makan di hanamasa, dan ternyata kita merupakan tamu terakhir di situ karena rupanya resto ini tutup jam 10 malam. Cepet banget ya tutupnya? Terima kasih Danny dianterin makan, dan saya malam ini juga ditemanin Lala tidur di hotel. Hari ini penuh acara kopdar deh bagi saya.

28 gagasan untuk “Hari ke 6 – Pusat Orang Pintar

  1. Oemar Bakrie

    Wah … nggak enak juga dibilang sibuk, ntar malah dikira sok sibuk. Padahal cuma kebetulan saja kamis-jumat itu saya harus mendampingi tim dari Badan Akreditasi yg meng-ases Program S3 Geofisika Terapan (yg saya pikir masih nanti-nanti) …

    BTW terima kasih oleh-olehnya ya, sudah saya cicipi dan memang bener … maknyusss.

    Oemar Bakrie´s last blog post..Sepeda Nabi Adam

    Saya yang terima kasih sekali pak, sudah meluang waktu untuk menemui saya.
    Nah tuh lengkapnya Ketua Program Geofisika Terapan.
    Nanti kopdar berikut di Tokyo ya pak hehehe

    EM

    Balas
  2. gus

    loh…ini lagi jalan2 to……kok ga ngajak2 yak? hiks.

    gus´s last blog post..Link Banner Sekolah Darurat, Bantu Kami Menyosialisasikannya

    Balas
  3. prameswari

    Wa…. ini laporannya ya mbak….hehehe
    di Bandung ini pertamakalinya aku denger suara mbak Imel setelah selama ini berkomunikasi hanya lewat blog…

    Walah mbak, di Valley aja mbak bilang panas, terus kalo ke Sby, mbak bakal komen apa ya…. hehehe

    di SBY? aku akan bilang SUMUK……hehehe

    EM

    Balas
  4. marshmallow

    kayaknya aku musti menarik trofi dari ibu enny buat ratu kopdar dan mengalihkan ke mbak imel deh. sehari ketemu dengan beberapa orang bloger. wow!

    dari foto-foto saat makan di hanamasa itu aku kayaknya bisa nebak siapa yang paling banyak ngabisin makanan, mbak. :mrgreen:

    aku suka loh foto kamar hotel yang berlapis wallpaper warna terang itu. pernik aksesorisnya juga manis, paduan tradisional dan kontemporer. yang bagus kamar hotelnya atau pengambilan fotonya ya? tapi bingung juga, di mana-mana kayaknya kamar hotel kan memang seperti itu, mbak? gimana dong yang “nggak biasa” itu?

    *tangan bersidekap nunggu kuliah mbak imel*

    marshmallow´s last blog post..Nusa 3 In 1

    Hmmm yang ngga biasa? Tergantung stylenya memang.
    Ada dua hotel yang aku pikir “luar biasa”, satu Raffles Hotel singapore, dan Ritz Carlton Bali. Raffles, aku ngga banyak ambil foto, tapi nanti kalau sudah discan aku posting deh. Ritz? wah foto kamarnya aja bejibun. meskipun secara sepintas bentuk dan warnanya hampir sama dgn Aston, Ritz byk mengkonsentrasikan pada pernik-pernik. Bahkan timbangan badannya saja dikasih pembungkus kain berlogo. Nanti ya aku posting juga, kalau sudah pulang ke Tokyo.

    EM

    Balas
  5. Lala

    Idih!
    Gue jelek amat!
    Nggak sempet dandan, mandi-mandi, udah diseret makan… haha… ada yang kelaperan banget, ternyata…. 🙂

    (tunggu laporan hari ke-tujuh, ah!) 😀

    Lala´s last blog post..One Way Ticket, Please!

    Nunggu kamu mandi?
    cacing-cacing di perut gue harakiri boss!!!
    EM

    Balas
  6. DV

    Wah, ini dia!
    Ketemu DM dan Lala.. cihuyyy..;)
    Iya, aku setuju dengan komen si Lala.. si lala kok jelek amat sih, ngga seperti biasanya..

    Hihihih 🙂

    DV´s last blog post..Weker Alarm

    Kamu sih apa yang ngga setuju?
    EM

    Balas
  7. olvy

    wah senengnya kopdar 🙂
    lha wong aku yg d sby aja jarang ketemu ma lala hueheee
    aku jadi pengen jalan2 jg neh 🙂

    olvy´s last blog post..i’m so confusing

    Balas
  8. tuti nonka

    Hah? Itu Lala ya? Yang beneeer? Kok langsing dan cantik? (*gubrak, disepak Lala*)
    Mbak Imel, seperti biasa … segar dan cantik. Mas DM juga seperti biasa, kayak foto di blognya (ya iyalaah … kalau lain mah berarti bukan DM)

    tuti nonka´s last blog post..Orang-Orang Tercinta

    Balas
  9. Ersis Warmansyah Abbas

    Wow … wow … asyik menikmatinya. Tergangum dengan gaya bertemannya, dan terlebih gaya nulisnya. Salute.

    Ersis Warmansyah Abbas´s last blog post..Menulis Tanpa Beban

    Balas
  10. Catra?

    hah?? saya ketinggalan berita nih, kalau saya tahu mau ke kampus saya, saya akan nungguin mbak di gerbang sambil melambai-lambaikan bendera kecil nih.
    masih di bandung mbak? :mrgreen:

    saya sudah di jakarta. Tapi apa nanti kalau saya ke Bandung akan disambut lagi?
    benderanya jepang dan Indonesia ya hihihi
    EM

    Balas
  11. Daniel Mahendra

    Aku mau ngomong apa ya…
    Oh iya, sepertinya trofi kopdar bergilir mesti berpindah nih. Hihi.

    Aku yang sekota sama Pak Grandis saja belum pernah bertemu. Dan yang pasti: aku belum pernah bertemu dengan blogger Bandung sekalipun. Hihihi.

    Tapi sudah bertemu dengan blogger dari negeri matahari terbit ya (ke dua kalinya lagi) hihihi
    EM

    Balas
  12. nh18

    Hahahah …
    Akhirnya jadi juga ketemu dengan pak Oemar Bakri ya EM …

    Eniwei …
    Kamar Aston … Bagus banget gitu kok dibilang standart sih … 🙁

    Salam saya

    nh18´s last blog post..TEPAR

    Bagus ya?
    Hmmm bukannya hampir setiap hotel bernuansa begitu? hihihi
    Iya deh aku naikkin standarnya

    EM

    Balas
  13. Ping-balik: Ketemu Imelda Coutrier « Oemar Bakrie

  14. Nanang

    Imelda-san,
    Terima kasih ya telah mampir ke ITB. Kalau tidak karena Om Grandis mungkin kita nggak bisa ketemu ya? Terima kasih pula telah menampilkan foto jadulku. Dulu kita2 memang gila makan enak, bowling dan karaoke ya. Ok. salam buat keluarga.

    nanang

    Balas
  15. Ping-balik: Ketika Nubie Bertemu Sesepuh « Sebuah Tulisan Kecil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *