Hari ke 6 – Pusat Orang Pintar

Tibalah hari ke dua di Bandung. Jam 7:40 saya dapat berita via sms, “Imelda san, Ohayo. Ini nomor HP saya, Barangkali diperlukan. Arigato. Nanang”, Nah, akhirnya saya bisa menghubungi beliau deh. Maklum pak Nanang ini orang penting, sayanya juga takut mengganggu. Jadi saya cuma mengirim via email, kalau bisa hari Jumat mau bertemu, dan tak lupa menyertakan no HP saya.

Ongkos menginap di hotel The Valley ini termasuk dengan Breakfast, yang tersedia di Restorannya dari pukul 7 sampai 10 pagi. Nah, saya menuju Restoran pukul 9:45. Saya pikir biarlah kalau tidak bisa sarapan lagi, saya akan “turun gunung” dan sarapan di dalam kota saja. Sambil membawa laptop untuk buka internet, ternyata saya masih bisa sarapan di situ. Menempati tempat duduk di tengah-tengah restoran, saya ambil bubur ayam dan kopi. Wah memang banyak juga variasi makanan untuk buffet breakfastnya. Soalnya saya terbiasa dengan menu Jepang yang disediakan hotel-hotel di Jepang, hanya ada roti dengan segala selai, dan sosis/daging-dagingan, yoghurt dan teman-teman, serta Japanese Breakfast, yaitu nasi/bubur, ikan bakar dan natto. Tapi di hotel ini, masak ada sate ayam, opor, gule, nasi uduk, soto mie juga. Aneh aja rasanya kalau makan pagi nasi opor hehhehe.

Sambil menikmati bubur ayam (sambil teringat bu Enny yang suka bubur ayam…. wah bu Enny terus-terusan masuk dalam pikiran saya jeh), saya buka laptop dan menyambung internet. Kalau di restoran ini ada wifinya. Saya masih bisa membuka TE (Twilight Express) tetapi malas membuat tulisan baru. Setelah membaca email yang masuk, akhirnya saya matikan laptop, dan kembali ke kamar. Sebabnya…. karena kenyang jadi ngantuk. Dan saya toh masih punya waktu banyak sebelum cek out hotel yang jam 12 itu. Sempat tidur sebentar, dan menanyakan pada Pak Nanang, apakah bisa bertemu waktu sholat jumat (Kami sama-sama beragama katolik). Dan dikatakan beliau masih di luar kantor, dan baru kembali pukul 1 siang.

Jam 11:45, saya menelepon front desk dan konfirmasi cek out dan meminta dicarikan taxi. Maklum Bell boynya yang kemarin bilang, bu… kalau mau panggil taksi kasih tahu 30 menit sebelumnya, karena mungkin agak sulit taksi untuk naik ke atas bukit. Conciergenya tanya apa saya perlu bantuan untuk mengangkat barang? Then saya bilang, PERLU. Masalahnya saya juga sulit mengangkat barang sambil naik tangga yang tak terhitung itu. Bisa menggeh-menggeh deh saya sampai di atas, hehehhe. Mana di atas bukitpun jika sudah tengah hari begini puanasnya minta ampun rek. Terus saya ngebayangin Tokyo yang dingin, hmmm jadi kangen Tokyo.

So, tujuan saya berikutnya kemana? Masih banyak waktu sebelum jam 1, jadi saya pergi ke hotel ke dua yang telah saya pesan untuk cek in. Yaitu Aston Tropicana. Tadinya bingung antara Aston Braga atau Aston Tropicana. Saya senang berada di daerah Braga, karena saya selalu pergi ke Braga Permai untuk membeli coklat, setiap saya ke Bandung bersama keluarga. Tapi katanya Aston Topicana ini masih baru, dan terletak di jalan Cihampelas. Jadi kepada supir Taksi saya minta dia mengantarkan saya ke Aston Tropicana. (Saya pikir waktu cek in nya pukul 12:00, setelah saya masuk kamar baru lihat di buku panduannya, bahwa waktu cek in pukul 2 siang, cek out pukul 12 siang. Nah ini persis hotel-hotel di Jepang)

Di Lobby saya disambut cewek-cewek cantik. Rasanya memang lain ya, jika disambut dengan senyuman dari perempuan-perempuan manis. Meskipun saya sendiri wanita. Soalnya di The Valley, semua petugas hotelnya laki-laki (dan tidak bisa dibilang jelek atau tidak ramah juga… tapi Valley memang kesannya kok “gelap”, sedangkan Aston ini “terang”). Jadi deh yang bawakan tas seret saya si mojang priangan yang senyumnya cukup bisa membuat tersepona. Sambil mengantar saya ke kamar dia bertanya,

“Ibu pertama kali ke Bandung?”
“Tidak, sudah beberapa kali, besok saya ke Jakarta”
“Ibu biasanya menginap dimana di Bandung?”
“Ohhh di Panghegar….” (Entah kenapa saya tidak bisa bilang, eh kemarin tuh saya nginap di the Valley hehehe)
“Ini kamarnya bu, selamat beristirahat” Dan Pintu tertutup… (tentu saja setelah “salam tempel”)

Oioi,,, dia tidak menyalakan AC, atau menjelaskan pemakaian remote control… heheheh meskipun sudah tahu sih, tapi sepertinya itu prosedur yang biasa dijalankan oleh petugas hotel. But, thats OK. Kamar standar di Aston memang terlihat lebih terang dengan nuansa warna krem. Hmmm benar-benar hotel standar, alias…biasa saja (atau standar saya terlalu tinggi ya?).

Nah, karena sudah 12:40, saya menelepon front desk dan minta dicarikan taxi. Karena si mojang priangan ini menyarankan telepon saja, daripada ibu cari sendiri di jalanan depan. Eeeee ternyata sodara-sodara, Taxi yang saya pesan tidak ada kabarnya sampai jam 1 lewat 20 menit. Tidak sabar saya menelpon ke front desk dan bilang, kalau saya sudah terlambat dan tolong carikan taxi apa saja deh. Aneh memang sistem pertaksian di Bandung ini. Sepertinya petugas hotel bergantung pada Taxi Bluebird saja. Tau gitu kan lebih cepat saya “turun ke jalan” dan mencegat taksi yang lewat di jalan cihampelas itu. Banyak gitu kok yang berseliweran. Dasar maunya manja! kena batunya deh.

Tidak lewat dari 5 menit, telepon berdering, “Ibu Imelda, taksinya sudah ada, tapi Gemah Ripah  bu”… yey masa bodo namanya apa… yang penting saya butuh kendaraan ke Pusatnya Orang Pintar dan Penting ini. Ya, tujuan saya berikutnya adalah berkunjung ke ITB. Tapi bukan ITB yang ini:(Institute Tambal Ban)

Melainkan ITB (Institute Teknologi Bandung) yang almamaternya Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno. Dan ternyata letaknya tidak begitu jauh dari Cihampelas, karena saya cuma membayar 10.000 rupiah saja untuk taxinya. Argo awal taxi Rp6.000 (hmmm dibanding deh dengan Jepang yang 710 yen. nyengir aja dulu deh…. Yang pasti di Jepang ngga bisa seenaknya naik taxi) .

Akhirnya saya bisa bertemu dengan dua tokoh dari ITB ini. Yang satunya tentu sudah tidak asing lagi di blogsphere dengan julukan Oemar Bakri dan yang seorang lagi adalah Dr Nanang T Puspito yang merupakan teman seperjuangan di Tokyo, awal-awal kedatangan saya di Tokyo, tahun 1992-1993. Pak Nanang ini amat pintar bernyanyi di Karaoke, dengan lagu “Yukiguni” atau “Osake yo”, lagu-lagu enka jaman baheula deh. Karena Pak Nanang masuk program doktor, jadi kurang fasih membaca kanji, dan selalu dibacakan oleh kami-kami yang masuk dari program S1-S2. Tapi semangat menyanyinya boljug deh. Biasanya anak-anak muda katolik yang berkumpul di gereja Meguro setiap sabtu, akan pergi makan bersama dan karaoke setelah misa pukul 5 sore. Kebiasaan ke karaoke ini hampir setiap minggu dilakukan, dan ini amat sangat membantu saya untuk bisa membaca kanji dengan cepat. Sayangnya saya baru bergabung dengan Mudika (Muda-mudi Katolik) di meguro, Pak Nanang sudah menyelesaikan program doktornya. Jadi waktu pak Nanang pulang ke tanah air, kami mengadakan pesta perpisahan dan mengantar ke Narita. Dengan demikian  saya sudah 15 tahun tidak bertemu pak Nanang ini (untung beliau masih ingat saya…yang dulu kurus itu loh hihih).

Saya juga senang karena akhirnya bisa bertemu dengan dosen ITB yang terkenal itu, Pak Grandis, yang meluangkan waktu untuk “Kopdar” di ruangnya pak Nanang.  Padahal Pak Grandis lagi sibuk-sibuknya mengurusi programnya. Saya baru tahu Pak Grandis ternyata Ketua Program tuh, pantas sibuk.(Nama lengkap programnya saya tidak tahu pak, dan saya pikir bukan wewenang saya menulis di sini, tanpa persetujuan bapak. Maklum kebiasaan di Jepang ternyata “Lupa” saya lakukan saat itu, yaitu tukar menukar Kartu Nama.) Pak Grandis juga sebetulnya yang menghubungkan saya dengan Pak Nanang, waktu membaca postingan saya yang mengenai gempa.

Karena ke dua bapak ini sibuk, saya juga tidak mau berlama-lama berada di kantor ITB ini, dan cepat-cepat pamit. Saya juga tidak sempat berjalan-jalan mengambil foto-foto kampusnya orang-orang terkenal ini. Soalnya dulu waktu saya daftar masuk Universitas, ngga berani daftar ke sini… mentok-mentoknya ke Parahyangan… dan itupun ngga keterima hihihi. Sayang juga teman sekelas saya di SMA, Keke Wirahadikusuma sedang berada di Perancis (kayaknya sih soalnya sulit untuk mengontak beliau).

Kembali ke Aston, saya mampir dulu ke giant supermarket di sebelahnya hotel untuk beli camilan. Sekembalinya ke kamar, nyalakan komputer dan konek internet. Dan dengan sedihnya saya mendapatkan bahwa saya tidak bisa membuka blog TE, blog saya sendiri. Bisa buka yang lain, tapi khusus untuk blog saya, dan blog pak Amin yang pakai hosting sama, tidak bisa dibuka sama sekali. mungkin masalah proxy atau apa. Sebeeeel banget deh. Jadi tidak bisa posting lagi, dan juga jadi malas untuk blogwalking. Jadi deh saya siesta, tidur siang. Tutup tirai (gordijn tuh kan bahasa Belanda… jadi saya hindari pemakaian kata ini), matikan semua lampu, dan ZZZzzZzZzzZZ…. uh Nikmat banget deh tidur siangku saat itu. Terbangun pukul 4, aku dengar suara hujan, buka tirai dan mendapatkan Bandung diguyur hujan deras sekali. Wow. saya buka semua tirai dan sambil tiduran, dan memandangi hujan. tranquilizer.

Tapi lama-lama kok saya jadi takut. Soalnya kadang-kadang terdengar suara ketawa-ketawa orang, dan suara bersin laki-laki di kejauhan yang periode bersinnya seperti teratur. Lalu saya pikir, masak saya mau menyiksa diri dengan  makan sendiri lagi malam ini. Tiba waktunya menghubungi DM , si Penganyam Kata,  Daniel Mahendra hihihi. Biarlah saya ganggu dia sekalian dari kesibukannya. Waktu saya telepon dia, ternyata beliau kaget dan berkata, “loh adikmu itu kan juga sedang menuju ke Bandung”. Hahahaha, ternyata Lala, akan mendarat tiba di Bandung dengan Kereta dari Surabaya jam 8 malam. Toh dia akan nginap di rumah saya besok, jadi kita bisa pergi bersama ke Jakarta besok pagi. Jadilah saya dan DM jemput sang Putri di Stasiun Bandung jam delapan, tapi keretanya di delayed (gaya amat deh bahasanya delayed, TERLAMBAT langsir aja susah-susah pakai bahasa linggish). Tentu saja surprise!!!

Dalam hujan akhirnya kami bertiga mencari makan soalnya sudah jam 9 tuh, dan cacing-cacing di perut sudah megap-megap minta makan (iya loh terakhir makan itu kan breakfast jam 10 pagi itu, yang membuat perut hampir meletus hihii). HANAMASA aja deh, kayaknya aku pernah denger bahwa Danny Boy ini suka hanamasa hihihi. (bener ngga sih Danny?)

Ngamuk deh makan di hanamasa, dan ternyata kita merupakan tamu terakhir di situ karena rupanya resto ini tutup jam 10 malam. Cepet banget ya tutupnya? Terima kasih Danny dianterin makan, dan saya malam ini juga ditemanin Lala tidur di hotel. Hari ini penuh acara kopdar deh bagi saya.

Hari ke 5- Healing getaway

Ya, hari ke 5 saya kasih judul healing getaway, karena saya memang getaway, melarikan diri ke Bandung. Selain tujuan untuk “memanjakan diri sendiri”, saya sebenarnya ingin bertemu seseorang, yang ternyata mendadak tidak bisa ditemui. Beliau adalah Romo Pujasumarta, uskup Bandung, yang saya kenal lewat internet. Tapi saya terus saja menjalankan rencana saja meskipun rencana tidak terlaksana.

Saya tahu dari penguasanya Bandung si DM, lalu Ibu Enny, bahwa untuk ke Bandung bisa naik travel. Dulu, kalau ke Bandung saya selalu naik kereta Parahyangan. Tapi karena kelihatannya travel ini mempunyai pamor yang cukup cemerlang di kalangan Blogger, saya pikir saya mau coba naik travel saja. Apa sih travel itu?

Saya ingat dulu ada transportasi darat menuju Bandung ada mobil 4848. Nah, gantinya si 4848 inilah yang disebut dengan travel. Memang ada banyak nama travel itu seperti Xtrans, Cipaganti travel dll. Sejauh saya mencari di Internet, Cipaganti Travel ini yang rutenya paling dekat rumah saya yaitu Pondok Indah -HangLekir – Senayan City -BTC Bandung. Biasanya travel ini berangkat sejam sekali (tergantung dari trayeknya).

Kamis, 19 Februari. Saya pesan travel untuk jam 11:30. Tapi karena Kai tidak tidur-tidur, saya terpaksa merubah jam keberangkatan menjadi 12:30. Saya naik dari Pondok Indah Arteri, persis jam 12:30. Karena saya penumpang yang pertama mendaftar saya mendapat kursi persis di belakang supir. Enaknya jarak kaki menjadi lebih luas dibanding posisi kursi lain. Dan waktu menaruh tas di bagian bagasi, saya bilang “Hati-hati pak ada komputernya”. Si Supir jadi keder, jadi menyaran saya untuk menaruhnya di tempat di bawah kaki saja.

Hmm saya kurang yakin apa jenis mobil yang saya tumpangi itu. Mungkin sejenis L300. Tapi yang pasti memang lebih jelek dari mobil yang saya lihat juga menyusuri jalan tol dari travel yang sama. Wah sial deh saya. Dan, saya suka mabok darat jika mobilnya bergoncang keras, atau bau solar/minyak tanah, dan jika terlalu mendadak berubah jalur alias ngebut ugal-ugalan. Lengkap deh penderitaan saya, karena ternyata mobil yang saya tumpangi begitu. Ada 4 orang lain yang menggunakan travel ini, dan salah satu ibu sering berteriak, “Astagfirullah…. pak hati-hati…”. Saya yakin sih di Pak supir tidak dengar, tapi secara psikologis saya pikir lebih baik saya tidak ikut memperingatkan. Karena saya pikir pak supir itu akan lebih marah dan lebih ugal-ugalan jika diperingati. Itu sifat manusia…. offence. Jadi sepanjang perjalanan saya usahakan tidur atau memejamkan mata, sambil pegangan terus. Hmmm tidak ada sabuk pengaman sih di bagian penumpang. Kalau di Jepang, ini sudah melanggar aturan lalu lintas. Karena sekarang semua penumpang, bahkan penumpang taxi sekalipun harus mengenakan sabuk pengaman. Sambil meram begitu, saya teringat Bu Enny, dan ingin tahu juga bagaimana ibu apakah tidak pernah mengalami seperti saya ini…. mabok darat.

Mobil berhenti di tengah perjalanan, di semacam parking area untuk mengisi solar, dan istirahat serta memberikan kesempatan untuk yang mau ke WC. Saya tidak tahu apa namanya, karena tidak tercantum di mana-mana. Saya pikir perjalanan sudah dekat, ternyata masih jauh. Akhirnya jam 3 lebih saya sampai di BTC (Bandung Trade Center). Lebih dari perkiraan waktu perjalanan yang 2 -2,5 jam. Tapi untunglah, saya masih utuh, belum pecah terburai hihihi.

Tidak ada orang yang tahu detil rencana saya ke Bandung hari ini. Hanya orang yang membaca tulisan saya di dinding FB Pak Oemar Bakri saja, yang mengetahui bahwa saya memang pernah menanyakan pada beliau apa bisa bertemu sekitar tanggal 19/20. Pak Oemar bahkan sempat menanyakan detil rencana saya apa saja, karena beliau sibuk harus menemani professor. Jam 11 pagi, dapat sms,”Imelda posisi di mana?”. “hehehe, masih di Jakarta pak, mungkin paling cepat baru jam 3 siang sampai”. Saya memang tidak mempunyai rencana yang tersusun rapih untuk perjalanan ini, karena memang saya mau “tanpa rencana”… unplanned. Saya capek dengan membuat rencana seperti orang Jepang. Toh hari ini saya mau “memanjakan diri saya sendiri”.

Mungkin orang Indonesia berpikiran aneh untuk seorang wanita bepergian sendiri, menginap sendiri tanpa tujuan, dan rencananya tidak diketahui siapapun. Memang saya tahu itu berbahaya, tapi khusus satu hari itu saja, saya ingin tidak ada seorang pun yang mengatur hidup saya, tidak juga saya. Nah loh!(Saya yakin sih Tuhan akan melindungi saya selama perjalanan)

Jadi begitu saya tiba di BTC, saya ngiderin dalamnya BTC. Pikir saya kalau ada Starbuck, saya mau ngopi dulu. Ya ilah, BTC itu seperti ITC Permata Hijau aja kecilnya, dan yang pasti tempat nyaman yang ada hanyalah Kentucky Fried Chicken dan “JK apa sih tuh lupa”, gerai toko kue dengan lambang berwarna pink. Jadi sesudah saya ke WC, saya masuk Kentucky meskipun tidak lapar. Saya pernah dengar mas trainer bilang, Colonel Yakiniku enak. Jadi saya coba pesan itu, dan membeli ayam goreng+kentang untuk persiapan makan malam atau nyemil jika lapar di hotel (saya tidak yakin berani ke restoran hotel sendirian, paling-paling room service). So, bagaimana saranya si Colonel Yakiniku itu? Ngga dua kali deh…aneh rasanya! (sorry ya mas trainer)

Lima menit selesai (suatu kebiasaan yang tidak pantas ditiru! tapi saya –sebagai orang Jepang– memang biasa makannya cepat apalagi kalau sendiri). Saya ngederin lagi tuh toko-toko, dan sama sekali tidak tertarik untuk membeli apa-apa. Tapi teringat, kalau bisa beli minuman karena pasti di mini bar hotel lebih mahal. Sesudah membeli minuman, saya tanya pada seorang “entah-polisi-entah-tentara” yang menjaga di daerah situ, “Pak, tempat nyari taxi di mana?”

Dia langsung mengatakan arahnya tapi dia bilang, taxi yang ada itu tidak ber-argo. Jadi kalau mau pake argo, harus telepon. Karena Bandung sudah dikotak-kotakkan daerah penguasaan taxinya. Dan di BTC itu dikuasai taxi yang dari AU. Nah loh, bagaimana saya bisa menawar ongkos taxi, kalau saya tidak tahu “harga pasar” nya. Tadinya sempat mau saya tanyakan ke DM, tapi berarti dia akan tahu saya datang ke Bandung dan menginap di hotel itu kan?. Waktu saya tanyakan pada si tentara itu dari situ ke hotel yang saya tuju berapa, dia juga tidak tahu. “Palei? wah ngga tahu bu!”.

Ya sudah terpaksa saya harus menawar sendiri. Saya pergi ke tempat antrian taxi, dan langsung tanya,

“Ke Valley berapa?”
“Oh …palei…palei… bisa bu.”
“Iya berapa?”
“60 ribu aja”
“Mahal banget?”
“Kan di atas bu… naik”
“Iya di Dago atas, tapi kan ngga jauh-jauh banget” lalu temennya bilang, eh si ibu ini tahu loh
” ya sudah 30 ribu ya? (saya ikutin taktiknya mama, menawar setengah harga…keder juga sih tadinya hihihi)
“Ngga bisa bu…” (Ahh kasian bapak-bapak ini, sudahlah yang pas saja supaya tidak ada kembalian juga)
“Ya sudah 50”

So, meluncurlah taxi yang bentuknya sudah tidak jelas lagi ke arah hotel yang saya tuju. Dalam hati pikir, yaah ke hotel bagus naik taxi bobrok hihihi. Tapiiiiiiii , ternyata hotel itu memang jauh naik berkelok-kelok ke atas bukit. JAUH deh pokoknya. Saya sampai pikir 50 ribu tuh memadai ngga ya? Jadi kasian saya.

Ya, saya menginap di “The Valley”. Sebuah hotel di atas bukit, yang menawarkan panorama indah kota Bandung terutama di malam hari. Dan yang mengetahui saya menginap di Bandung dan di hotel ini, dan Aston keesokan harinya hanyalah dik WITA. Dia bekerja di travel biro indo.com, bagian copywriter. Temannya Alma, yang mau mendengarkan “cerewet”nya saya memilih-milih hotel. Awalnya saya memilih hotel lain, sudah konfirm, baru saya tahu dari pembicaraan dengan teman SMP, Shinta Ambarsari, bahwa ada restoran enak dan bagus namanya the Valley. Dan waktu saya cari di internet, loh kok, ada hotelnya juga. Hmmm kalau tidak mahal-mahal banget ingin juga menginap di sana. Jadi deh, saya ubah ke The Valley ini.


Taxi memasuki sebuah bangunan apik yang merupakan lobby dan Cafe. Saya langsung dipersilakan duduk untuk mengurus check in. Karena pakai voucher hotel, jadi gampang saja prosesnya (untung aku tidak lupa membawa KTP indonesia). Dibantu oleh bell boynya, melewati beragam tangga, akhirnya saya sampai di kamar 301, yang terletak beberepa level di bawah lobbynya. Ternyata kama-kamar memang dibangun berdasarkan kontur lereng, sehingga menyebabkan lobby letaknya di atas kamar-kamar. Begitu kamar dibuka, saya mendapati interior yang manis dari kayu hitam. Hmmm lumayan. Dan begitu bell boynya pergi, saya langsung mengambil foto. Kebiasaan saya, segala macam memang difoto. Kalau bisa setiap sudut, dari WC nya sampai pernik-pernik kecil yang unik.. Sayangnya di hotel itu, tidak banyak pernak-perniknya, sehingga saya tidak begitu banyak memotret.

Memang begitu saya membuka pintu ke arah balkon, menjumpai pemandangan seluruh kota Bandung. Sayangnya, saya juga hars melihat pembangunan sebuah apartement mewah di sisi kiri, dikejauhan yang sedang di kerjakan. Hmmm, katanya daerah ini adalah resapan air untuk Bandung. Kok dibangun hotel, villas, dan apartemen menjulang seperti itu. Ah, aku tidak mengerti lah, yang aku tahu, aku mau enjoy stay saya di the Valley.


So, saya melewatkan satu malam di the Valley sendirian, hanya ditemani TV, yang sengaja saya nyalakan supaya tidak “lonely”, sambil leyeh-leyeh dan membaca buku. Oh ya, satu yang saya kecewa dengan hotel The Valley ini, yaitu … tidak adanya WiFi/sambungan internet dalam kamar. Jadi kalau saya mau memakai internet, saya harus “mendaki” tebing lagi, ke Lobby atau Cafe sebelah lobby. Duh, malas juga kan…. Jadi malamnya sekitar jam 7 malam saya pergi ke Cafe yang sepi pengunjung, dan melihat emails, dan blog saya selama kurang lebih 1 jam saja. Malas juga berada sendirian di Cafe, meskipun saya memang bisa menikmati pemandangan malam hari. Dan di luar banyak mobil dan orang-orang berdatangan untuk makan di Bistro Valley, yang terletak di sebelah Cafe ini. Nah, di Bistro dengan dek teras inilah yang memang menjadi “primadona” hotel ini. Sayangnya, saya tidak mempunyai keberanian (no nyali deh) untuk makan sendirian di Bistro, dengan kemungkinan “digoda” orang (huh merasa kecakepan aja sih kamu mel…hihihi).

Jadi saya kembali ke kamar, dan menghabiskan malam “panjang” di sana, sambil mengunyah ayam kentucky. Aku menikmati sekali my healing-getaway, tanpa tangisan Kai, meskipun merasa kangen dikeloni (eh salah…. mengeloni) Riku dan Kai. Oh ya dua lagi yang merupakan kekurangan hotel ini, yaitu…percakapan dan suara TV dari kamar sebelah terdengar jelas! (untung tidak terdengar ah-uh-ah-uh yang menggoda iman hihihi), serta, setiap saya mengganti posisi tidur, tempat tidur mengeluarkan suara yang lumayan keras. Awalnya saya sempat kaget sendiri sih… masak saya sedemikian berat sehingga setiap bergoyang dikit, tempat tidurnya bunyi? ternyata emang salah si tempat tidur deh yang suka bunyi-bunyi hahaha.