Salah Kaprah yang FATAL

Saya mau share sebuah postingan dari Multiply, yang saya rasa PENTING SEKALI untuk diketahui….

******************************************

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.

Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce(ons) = 100 gram.

Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa
Indonesia
yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.

SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.

Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi . Ternyata, pihak Direktorat Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram.

Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan “ons” dan “pound”.

Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia.Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun.
Sampai kapan mau dipertahankan ?

BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?

Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan.

Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan
sehari-hari. “Racun” ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.

Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberikan petunjuk resmi.

TANGGUNG JAWAB SIAPA ?

Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan Nasional kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ;

“Acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan
secara internasional , yang menyatakan bahwa : 1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram.”?

Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ?

Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ?

Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ?

Kalau Departemen  Pendidikan Nasional mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan “ons” dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas).. Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound (Depdiknas) = 500 gram. ? Bagaimana “Ons dan Pound (Depdiknas)” ini dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.

HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.

Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.

Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.

Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia. Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan.

Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Meteorologi.dan Geofisika.

Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat.

Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.

Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat.

ACUAN MANA YANG BENAR ?

Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini bukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.

Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.

Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara
internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).

1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)

1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)

1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)

Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ? Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!!
Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.
(ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan,
bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)

KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN – LALU SIAPA ?.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan “ons” dan pound yang keliru” dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang
benar. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.

# # # # #

Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing.

Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat
umum, untuk diketahui secara luas.

Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan diperbanyak/ difoto copy dan disebar-luaskan sendiri.

Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota anda berada.

Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau berpar-tisipasi menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Semoga Tuhan memberkati upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.

Yoppy Martha Aditya

PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk


ounce tidak sama dengan ons

Harap diketahui,
Ounce itu TIDAK SAMA DENGAN Ons.

Satuan Ons yang selama ini kita ketahui dipakai di Indonesia memang betul sama dengan 100 Gram. Ons ini diambil dari Belanda.

Selengkapnya baca di
http://en.wikipedia .org/wiki/ Ounce
“The Dutch have redefined their ounce (in Dutch, ons) as 100 grams[3] [4]. The Dutch’s metric values, such as 1 ons = 100 grams, is inherited, adopted and taught in Indonesia
since elementary school. It is also formally written in Indonesian National Dictionary (Kamus Besar Bahasa Indonesia) and elementary school’s formal manual book.

Jadi memang beda sekali antara Ounce dengan Ons. Ounce itu singkatannya Oz. Kalau Ons, ya Ons. Tapi memang kesalahan pemerintah Indonesia (Depdiknas) membiarkan kesalahkaprahan ini, sekaligus kewajiban untuk membetulkannya. Karena saya sendiripun baru tahu belum lama.

-tina-

21 gagasan untuk “Salah Kaprah yang FATAL

  1. bundanya hanafi

    Salam Mbak,
    Saya juga sudah baca artikel seperti ini (mendekati persis ya) di miling list yang saya ikuti. Memang benar, hal seperti ini tidak dapat dipandang sebelah mata, karena bisa menimbulkan hal yangtidak dikehendaki. Ya salah satunya PHK tadi. Mudah-mudahan segera dapat diclearkan. Terima kasih.

    Balas
  2. marsudiyanto

    Setau saya, ounce itu vokalisnya Dewa Bu…
    Tentang ons?
    Boleh aja dipakai, tapi jangan lupa diaktifkan mode ons…
    Yang ini bukan salah kaprah, bukan juga turun temurun, kerana guru dan orang tua saya ndak ngerti tentang Ounce vokalis Band Dewa, apalagi mode ons…

    marsudiyanto´s last blog post..Matematikaria

    Balas
  3. -G-

    Baru tau saya ttg hal ini, memang benar mbak, sangat penting untuk mengetahui beda ounce dan ons, ternyata pemerintah terlalu lalai (atau cuek), mungkin karena dianggap tidak penting, ternyata fatal akibatnya buat org yg terkena PHK tsb. dan bisa fatal juga untuk hal-hal yang lain kalau salah timbang begitu.

    Informasi yang sangat berguna dan penting. Terimakasih mbak!

    -G-´s last blog post..Cukup!

    Balas
  4. marshmallow

    duh, biyuuuungg…
    selama ini saya juga selalu salah, mbak.
    pantes jabanin resep nggak pernah sukses!
    wah, bener-bener musti diperbaiki.

    dalam farmasi sepertinya selalu menerapkan satuan metrik gram dan miligram, sedangkan ons dan pons dihindari selama ini. biasanya sih, anecdotally, berdasarkan pengalaman saya semata.

    tapi kalau kita musti merujuk resep yang menggunakan ukuran metrik berbeda, bisa berabe!

    makasih banyak atas share tulisan ini, mbak!

    btw, foto avatarnya cakep bangeeett… mirip sophia latjuba. pantes papanya riku tergokil-gokil. ahuhuhu…

    Balas
  5. p u a k

    waaduhh… berarti selama ini pengertianku juga salah ya. Tapi untunglah..pekerjaanku tidak ada hubungan dengan weight.. tapi height x width x lenght..

    p u a k´s last blog post..Cinta tanpa pamrih

    Balas
  6. aCist

    aq telah salah kaprah……

    tidaaaaaaaaaaaaaaakk…

    by the way, terima kasih infonya…

    aCist´s last blog post..Sego Sayur

    Balas
  7. Melati

    Benar sekali salah pemahaman bisa mengundang akibat yang jelek.
    Apalagi antara negara yang berbeda.
    Yang benar bagi suatu negara tidak tentu benar bagi negara yang lain.
    Bisa juga salah paham terjadi seperti cerita mbak ini.
    Untuk memastikan apa yang benar sesungguhnya, komunikasi yang baik juga penting.

    Balas
  8. rhainy

    wah mbak….pantes kue2 yang coba dibuat bantet mulu…hehehe…(alasan banget!! padahal aku emang gak becus bikin kuenya tuh….hahahahaha…)
    tgl 23 jadi kan mbak?!
    aku blom posting apa2 nih mbak…hihihi…duluan ngaku…biar mbak gak usah repot2 nanya….kekekekk….

    rhainy´s last blog post..DONGKOL…..

    Balas
  9. Oemar Bakrie

    Ada sedikit yg kurang tepat pada tulisan yg sudah pernah beredar di milis itu.

    Setahu saya yg berurusan dengan takaran / timbangan adalah bidang METROLOGI (saya nggak tahu statusnya Badan atau apa) jadi bukan badan METEOROLOGI & GEOFISIKA yg urusannya cuaca, iklim, gempa dsb. Sekedar info tambahan.

    Oemar Bakrie´s last blog post..Refleksi pengembangan proses pembelajaran

    Terima kasih koreksinya pak.
    EM

    Balas
  10. imelda Penulis

    Salah satu kesulitan saya di luar negeri adalah dengan tidak samanya penulisan satuan, yang di Indonesia pakai koma, di dunia pakai titik. Yang titik jadi koma.
    Rp 100.000,- Y 100,000.00
    parah!

    EM

    Balas
  11. kahfinyster

    weh,,kirain pound ama ons sama,, beda ternyata,,

    iya tuh emi chan,, soal titik ama koma,,kita yg tinggal di luar kan awalnya mayan bingung yah,,

    kahfinyster´s last blog post..waduh,,dialek kita berbeda!!

    Balas
  12. Retie

    wahhh aku juga salah ya selama ini 😀 untung aku ngga jago bikin roti 😀 makasih infonya tante, aku kopi dech, untuk ibu mertuaku yg apoteker, beliau selalu meracik obat 😀
    makasih tante.

    Balas
  13. Putri

    Sepertinya kita perlu bener2 menyadari kalo Ounze (Oz) berbeda dengan Ons…ya, mbak…

    Kalo di tekkim sih, biasanya make satuan2 Internasional yang rada besar …syukurlah..bukan satuan2 yang kecil kalo gak rancangannya bisa GaTot tuh..he..he..

    Putri´s last blog post..Let see our TeamWork !!

    Balas
  14. Yoga

    Artikel ini (yang sudah lamaa banget beredar di dunia maya), ternyata juga belum sampai ke orang banyak. Artinya, masih banyak orang Indonesia yang belum terinfo dengan baik. Soal mengapa badan meterologi dan Depdiknas berbeda, nah, itu sudah jadi masalah klasik, yang mudah-mudahan bisa diatasi.

    Saya paham dengan kesulitan mbak tentang sistem metrik. Mungkin, kalau mbak punya waktu bisa ke blog http://spektrumku.wordpress.com , di sana, Oak Yari sering mengulas tentang sistem metrik.

    Salam mbak.

    Yoga´s last blog post..Ketika Pejalan Harus Menunggu

    Yug, aku tidak secara langsung berhubungan dengan satuan-satuan metrik ini. Paling-paling kalau mau bikin kue, dan biasanya aku mau bikin kue pun tak pernah pakai ukuran hehehe. Tapi aku tahu banyak yang bekerja yang perlu info ini sehingga akau share kan saja.
    EM

    Balas
  15. Marhensa Aditya Hadi

    kamu juga salah lho…

    “metrologi” berbeda dengan “meteorologi dan geofisika”

    metrologi ttg presisi pengukuran2 gitu deh…
    meteorologi n geofisika ttg iklim, cuaca, vulkanik, gempa, dll..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *