All of you!

Saya teringat lagu ini, waktu saya baca sepenggal kata “All of You” dalam buku Randy Pausch, seorang profesor ilmu komputer di Universitas Carnegie Mellon, berjudul “The Last Lecture”. Randy mengidap penyakit kanker pankreas dan memberikan sebuah kuliah terakhir yang kemudian dibukukan. Untuk keterangan lengkap mengenai bukunya, silakan baca ulasan buku ini dari Bapak Oemar dan Bang Hery.

“All of You” adalah sebuah lagu yang dinyanyikan penyanyi kesayangan saya (masa bodo mau dibilang jadul kek, oldefo kek hihihi) Julio Iglesias berduet dengan Diana Ross.

(T. Renis/J. Iglesias/C. Weil)

I’ve never had this feeling before
I’ve never wanted anyone more
And something in your eyes tells me
You feel the way that I do
(I feel like you do)

If you would like to stay here all night
You know that I would say
It’s all right
‘Though I’m saying yes
I confess
I’ve got more on my mind
‘Cause I want more of you
Than your time

All of you, your body and soul
Every kind of love you can express
All the secret dreams you’ve never told
I want everything
And I’ll take nothing less
All of you as long as you live
Everything you’ve never shared before
I want all of you that you can give
All your joys and all your sorrows
Your todays and your tomorrows

How I long to feel the warmth of your touch
And then if I’m not asking too much
I’d like to spend my life wand’ring through
All the wonders of you

And when we’re lying close in the dark
So close I feel each beat of your heart
I want you to reveal what you feel
All you hold deep inside
There is nothing I want you to hide

All of you, your body and soul
Everything you want this love to be
I want all of you
All that you can give
And in return for all your giving
Let me give you all of me

All of you, your body and soul
Every kind of love you can express
All the secret dreams you’ve never told
I want everything (everything) everything
All of you as long as you live
(As long as you live)
Everything you want this love to be
I want all of you
All that you can give
In return (in return) I wanna give you

All your joys and all your sorrows…. Your todays and your tomorrows. Tentu saja kita ingin selalu bersama pasangan kita, dan mungkin jika kita mengetahui bahwa waktu kita hidup di dunia ini terbatas, kita hanya ingin berduaan saja dengan dia. Menutup pintu dunia, mengurung diri berdua dengan yang kita cintai melewati masa yang kita tahu akan segera habis. Membangun cinta yang bisa mengalahkan ketakutan menyongsong kematian…. Mau membayangkannya? Pasti banyak judul film yang bisa diberikan untuk menggambarkan perasaan seperti itu. Tapi satu film yang saya ingat saya pernah tonton (untuk seorang yang tidak suka menonton film seperti saya, pengetahuan judul film amat terbatas) adalah film Dying Young, yang dibintangi Julia Roberts. Yang pasti banjir air mata, dan tidak mau nonton lagi untuk kedua kali (saya setuju pendapat Bu Enny, film haruslah menghibur bukan membuat kita sedih).

Nah, Si Randy dalam bukunya “The Last Lecture” ini juga menuliskan bahwa seharusnya dia menghabiskan sisa waktu hidupnya yang tinggal sedikit akibat digerogoti kanker pankreas itu bersama istri dan keluarganya, bukan menghabiskan waktu (memang tidak semua waktu) untuk mempersiapkan sebuah kuliah terakhir. Yang rencananya kuliah itu diadakan sehari setelah ulang tahun istrinya (karena makan waktu untuk pergi ke tempat memberikan kuliah itu jadi pada hari ulang tahun istrinya dia sudah harus pergi)! Bisa bayangkan tidak? Sementara si istri yang mengharapkan bisa menikmati hari ulang tahun terakhirnya bersama suami, dia harus merelakan waktu berharga itu supaya Randy bisa memberikan kuliah terakhir kepada 400 orang yang berkumpul untuk mendengarkan kuliah suaminya. Well, saya juga dosen, saya juga seorang istri dan ibu… apakah saya akan berbuat seperti Randy? Apakah Gen mau merelakan saya misalnya mengadakan kuliah terakhir saya (kayaknya sih ngga hehehe). Tapi apakah saya mau merelakan Gen misalnya menjalankan tugas pekerjaannya padahal saya tahu waktu akhir itu berdengung terus? Well I know I have to… karena hidup seseorang bukan hanya dengan pasangan hidupnya saja. Meskipun kita sudah berjanji sehidup semati, bukan berarti kita harus “nempel” terus tanpa memberikan kesempatan pada dia untuk juga menikmati akhir hidupnya. Tapi mungkin saya akan sulit untuk bisa menerima seandainya dia bilang, “Aku ingin pergi mengembara sendiri akeliling dunia dan menjemput kematianku sendirian entah di gunung, lembah atau pantai….” (kayaknya ada juga kan orang yang begitu …)

Buku “The Last Lecture” memang membuat saya berpikir. Ya, berpikir tentang waktu, tentang pekerjaan, tentang keluarga dan tentang cita-cita. Saya memang sempat menangis di beberapa cerita awalnya, tetapi setelah sampai bagian sharing pengalaman hidup pekerjaannya, saya malah enjoy, ikut tertawa dan meresapkan dalam hati. Bahkan saya jadi bertanya terus apa sih sebetulnya mimpi saya itu karena isi kuliahnya itu memang bertajuk “Really Achieving Your Childhood Dream”. Nah kalau tidak punya ‘mimpi’ waktu kecil gimana dong? Tapi apakah benar saya tidak punya ‘mimpi’ waktu kecil seperti yang selalu saya katakan?

Ada banyak point yang memang saya catat, misalnya “Dont complain just work harder”, “Look for the best in everybody”, “Watch what they do, not what they say” , “Never give up” , “Sometimes all you have to do is ask, and it can lead to all your dreams coming true” dll, dll, yang kalau lihat sekilas seperti nasehat yang membosankan dan sudah basi. Tetapi kisahnya dalam masing-masing judul itu memang menarik, dan saya menyadari dia bisa menulis seperti ini karena dia memang sudah banyak pengalaman. Ladang kerjanya kaliber dunia! Apalah saya ini? Tapi di antara sekian banyak tajuk, ada dua kisah yang sangat berkesan bagi saya yaitu, yang pertama adalah “All you have is what you bring with you… so be prepared” .

Ceritanya tentang bahwa dia selalu membawa uang tunai 200 dollar (well kalau tidak ada duitnya gimana ya?) Tapi ini saya rasa benar sekali. Waktu pertama kali datang ke Jepang dan sedang sightseeing (1989 an), saya heran sempai (kakak kelas) saya yang memang sedang belajar di Jepang bilang tiba-tiba, “TUnggu di sini, saya mau ambil uang di ATM dulu” Ternyata baru saya sadari bahwa orang Jepang jarang membawa uang tunai banyak. Mereka baru mengambil uang di ATM jika perlu, karena ATM ada di mana-mana. Waktu jaman itu di Jakarta mana ada ATM. Tapi seandainya ATM nya rusak? atau ada perbaikan dalam jaringan komputernya seperti yang akhir-akhir terjadi pada bank saya? Atau misalnya terjadi gempa besar, tidak  bisa ambil uang di bank?

Ceritanya mengenai Norman Meyrowitz seorang top executif Macromedia, yang dengan tenangnya mengambil cadangan lampu proyektornya, waktu tiba-tiba lampu proyektor yang akan dipakainya untuk presentasi itu mati. Wah mungkin tasnya pinjam kantong ajaibnya Doraemon ya? Tapi saya dulu juga sering membawa macam-macam dalam tas saya sehingga jika diperlukan ada. Mulai alat tulis sampai benang/ jarum dalam sewing kit. Tapi tinggal di Jepang, negara yang praktis, yang mempunyai toko konbini (convenience store yang buka 24 jam dan tersedia apa saja membuat saya juga berpikir praktis dan tidak lagi mempersiapkan segalanya karena pikir toh bisa beli. Tapi kalau tidak ada uangnya juga tidak bisa membeli apa-apa. So memang sebaiknya kita selalu waspada dan bersiap-siap. Dan saya memang selalu memikirkan kemungkinan terburuk, meskipun kadang saya merasa capek dengan pemikiran ini. Randy mengatakan, a way to be prepared is to think negative, the worst case scenario. Saya banget tuh…

Dan tulisan dia yang kedua yang saya setuju sekali adalah mengenai hilangnya kebiasaan menulis tangan, “The lost art of Thank You Notes” katanya. Well, dia yang ahlinya komputer… bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan komputer tentunya. Tapi dia masih merasakan perlunya handwrite notes. Tulisan tangan dalam sebuah memo, atau kartu…. karena itu menunjukkan bahwa memang kita manusia, humanbeing yang menulis dengan perasaan. Semoga saya masih bisa bertahan dengan kebiasaan menulis sesuatu dalam ucapan kartu atau fax meskipun memang terkadang sms dan email lebih cepat. But saya membayangkan wajah si penerima sama seperti wajah saya yang berseri sambil tersenyum ketika menerima surat atau kartu di kotak pos saya.

20 gagasan untuk “All of you!

  1. edratna

    Senang sekali Imel udah menulis lagi. Udah mulai bertanya-tanya kok lama nggak ada postingan baru.

    Buku itu udah saya pegang2 saat ke Gramed. Tapi ragu2, karena buku yang menceritakan tentang kanker suka membikin sedih….tapi baca ulasan di bang Hery, Pak Hendra, Imel, saya akan beli jika sempat ke Gramedia.

    Saat ke pameran buku di IBF, saya sempat beli buku murah, malah cuma Rp.10.000,- ($1)…judulnya “Message from Nam”…wahh ternyata saya nangis bombay…cerita sama Yoga malah diketawain. Walau akhirnya bahagia, tapi di tengah2nya sedih sekali, dan saya membayangkan juga situasi Vietnam tahun 60 an saat itu.

    Saat ke Bandung kemarin, saya bawa buku “Princess Masako” yang konon dilarang beredar di Jepang. Suami ketawa, rupanya dia diam2 memperhatikan caraku membaca, dari depan, tengah, belakang, balik lagi pelan-pelan…pokoknya mengintip biar nggak deg2an. Lha karena cerita di Princess Masako mirip diary, nggak ada tegangnya, jadi bacanya lempeng dari depan ke belakang, nggak pake menangis ataupun takut.Kata suami” Tumben, baca bukunya nggak pake ngintip-ngintip”. Hahaha…baca buku kok pake ngintip…..

    edratna´s last blog post..Anakku merokok?

    Balas
  2. piyek

    Baca bagian tentang kantong doraemon jadi ingat kejadian di Lampung.

    Waktu itu ada Pekan Seni Mahasiswa Nasional di Universitas Lampung. Kampusku hanya diwakili olehku. Otomatis dari semua kontingen Jawa Timur (dulu aku kuliah di Surabaya) gak ada satu pun yang ku kenal.

    Aku dengan badan yang mungil bawa tentengan 2 koper + 1 tas make up. Semua lengkap. Mulai dari peralatan make up lengkap sampe ke botol hairspray segede gaban, setrika, hanger, obat2an, peniti, sampe jarum dan benang. Sampe2 dijuluki Doraemon sama temen2 yang lain. Hahaha!

    Tapi karena semua persiapan kayak mau perang itulah aku gak perlu kebingungan 🙂

    Balas
  3. Oemar Bakrie

    Yang terkesan bagi saya yaitu cara dia meningggalkan pesan bagi anak-anaknya bukan dengan “indoktrinasi” ini-itu teapi melalui cerita bagaimana dia menggapai dan mencapai mimpi-mimpi masa kecil-nya … Dan itu yg membuat saya enjoy saja baca-nya. Yang bikin terharu adalah latar-belakang soal kanker-nya itu yg hanya disinggung sedikit di buku dan juga saat melihat saat terakhir film last-lecture yg ada di Youtube …

    Oemar Bakrie´s last blog post..Humor Politik Bush

    Balas
  4. Melati

    Wah, akhirnya blog mbak diupdate juga!
    Tumben banget mbak nggak menulis di sini selama 2hari sehingga saya khawatir jangan-jangan ada sesuatu dengan mbak.
    Plong deh saya sekarang.

    Balas
  5. -G-

    Saya harus membaca buku itu. Seringkali dalam hidup saya, justru saya merasa menutup pintu dari dunia dan orang2 (termasuk orang-orang yang saya kasihi), padahal memang benar akan datang masa dimana waktu hidup kita sempit, beruntung sekali bisa mengetahui waktu, tetapi yg tidak bisa (dan kebanyakan kan memang ga bisa tahu, tiba2 sudah dipanggil saja sama YANG memiliki hidup) pasti akan menyisakan penyesalan yang dalam karena ‘kehilangan’ bukan saja kehilangan seseorang tersebut, namun kehilangan kesempatan2 untuk bersama-sama yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

    Thanks mbak Imelda untuk sharingnya.

    *Gramedia here I come, hihi… sapa tau ketemu bu Enny*

    -G-´s last blog post..BUKTIKAN BLOGGER BUKAN NATO: The Dexter & Taman Baca

    Balas
  6. Retie

    met natal dan tahun baru ya tante, maaap meskipun terlambat 🙂

    nice post 🙂

    Aku udah lama dech kayaknya ga baca-baca buku lagi di gramed 🙂

    ya nich sejak udah ga kerja, aktivitas nulis lgs pake tulisan tanganku sendiri koq hampir ga pernah ya… 🙂
    Email,sms dan chatting!!!

    Retie´s last blog post..Liburan Natal dan Tahun Baru

    Balas
  7. sonyssk

    AHidup ini saja sudah susah, masak ditambah lagi dengan godaan berlara-lara duka. Tentang air mata, jika hidup ini sepanjang hari sudah berair mata, maka kalau hanya untuk sebuah ilusi, air mata sudah kering. Tinggal senyuman yang pahit. Pahiiiit sekali.

    sonyssk´s last blog post..TARUHAN atau PERTARUHAN ?

    Balas
  8. Donny Verdian

    Menulis tangan? Satu permintaanku untuk Mamaku adalah surat tulisan tangannya yang aku minta untuk dibawa oleh salah seorang temanku yang kebetulan akan mudik februari mendatang.

    Beliau bisa saja ber-sms malah baru2 ini adikku mengajarinya ber-internet. Tapi ya gimana ya, kupikir bakalan ada nuansa yang berbeda dengan membaca tulisan tangannya 🙂

    Donny Verdian´s last blog post..Menikmati U23D

    Balas
  9. Hery Azwan

    Wah, Ime-chan jeli banget.
    Aku jadi merasa ingat kembali.
    Menjadi well-prepared adalah salah satu yang dinasehatkan Randy. Kalau dikurs, USD 200 setara dengan 2 juta. Wah banyak juga ya? Atau mungkin kalau di Indonesia barangkali setara 200 ribu kali ye…
    Padahal, di kantung saya setiap hari paling2 hanya ada 100 ribu. Jauh dari 2 juta? Jadi, kalau ada apa2, misalnya mobil mogok dan harus diderek, pasti saya nggak siap tuh…
    Terus, cerita tentang seorang teman Randy yang sampe bela2in bawa lampu cadangan itu, luar biasa banget. Ada ya orang kayak gitu.
    Terus, prinsip meminta, juga klise tapi penting. Saya termasuk orang yang kurang bisa meminta, akhirnya terlalu pasrah. Padahal meminta adalah hak kita, dan hak orang lain untuk memenuhinya atau tidak. Di sini saya sering malu hati untuk meminta, akhirnya menunggu orang mengasihani saya. He he…

    Hery Azwan´s last blog post..The Last Lecture

    Balas
  10. Hery Azwan

    Saya semakin jarang menggunakan tulisan tangan. Saya mengira komputer bisa menyelesaikan segalanya. Padahal, tetap ada sentuhan tersendiri dari tulisan tangan. Btw, tulisan tangan Ime-chan pada kartu ucapan yang mengiringi kiriman The Last Lecture dari Jepun tempo hari sangat berkesan memang. Beda kalau diprint dari komputer dan ditempelkan di sana.
    Sekali lagi, buku yang sangat inspiratif…
    Ayo dibeli-dibeli…(wah keenakan penerbitnya ya?)
    Nggak papalah, rejeki nggak lari kemana.

    Hery Azwan´s last blog post..The Last Lecture

    Balas
  11. Hery Azwan

    Mimpi masa kecil?
    Nah ini aku juga nggak punya deh kayaknya.
    Eh, punya ding.
    Waktu itu aku melihat dari tv atlet bulu tangkis sering bertanding ke luar negeri. “Wah, enak ya jadi atlet. Bisa sering2 ke luar negeri”. Makannya enak terus. Tinggal di hotel. Ada yang mijitin…
    Sekarang terkabul belum ya?
    Minimal, kesadaran untuk menguasai bahasa asing sudah tertanam sejak kecil sehingga akan mempengaruhi hari-hariku….
    Wah kok jadi curcol neh…

    Hery Azwan´s last blog post..The Last Lecture

    Bang,
    kalau dibilang aku ngga punya mimpi masa kecil ya ngga juga sih
    karena dulu waktu kecil aku ingin punya toko buku, atau perpustakaan atau rumah yatim piatu yang punya perpustakaan yang besar. Jadi intinya aku ingin punya buku yang banyaaaaaaaaaak sekali.
    Tahu kenapa aku mau punya rumah yatim piatu? Karena aku tidak mau punya anak sendiri/melahirkan. Karena? aku takut melahirkan akibat nonton film Ratapan Anak Tiri (kalau tidak salah) Aku umur 10 tahun kayaknya, dan di situ ada scene seorang ibu kesakitan melahirkan… hiiii jadi aku ngga mau punya anak sendiri dan mau memelihara anak yatim piatu saja. Itu impian aku waktu kecil bang.

    EM

    Balas
  12. Hery Azwan

    Punya rumah yaitum piatu?
    Ternyata tidak terwujud kan?
    Malah punya anak sendiri. Dua lagi…
    Jadi kesimpulannya, tidak semua mimpi masa kecil itu perlu diwujudkan.
    Kalau nggak masuk akal, ya sudah biarkan saja.
    He he he…

    Hery Azwan´s last blog post..The Last Lecture

    indeed…
    bener bang. abang bener sekali. karena belum tentu juga apa yang kita impikan di masa kecil itu sebetulnya cocok untuk kita. Dan ada waktunya juga kita harus “menyerah”.
    EM

    Balas
  13. Yoga

    Tulisan tangan jangan sampai hilang ya mbak, karena sentuhan personalnya lebih kuat, dan bisa menunjukkan kepribadian penulisnya. Kadang, kalau sedang mood, aku suka buka-buka surat lama yang ditulis tangan, sekadar membaca ulang, sambil mengingat penulisnya. Dari tulisan tangan, aku dan seorang sahabat menjadi seperti saudara dan hubungan terjaga bertahun-tahun hingga sekarang. Dengan tulisan tangan, Bapakku menasehatiku lebih baik daripada jika bertatap muka langsung, dulu aku suka nggak sabaran kalau dengerin nasehat Bapak yang panjang lebar hehehe… Justru kalau ditulis, aku malah baca berulang-ulang. Nah, Bapakku untung kan. 😀

    Yoga´s last blog post..Oxytocin dan Pertemanan

    Balas
  14. rhainy

    Mbak EM….
    inget aku pernah bilang mbak punya indera ke – 6? sekali ini kayaknya aku yang punya indera ke – 6…hahahaha…
    Kemaren, 17 jan, mas tok pulang kantor bawa buku nya Randy Pausch..dari bosnya…dibagiin ke anak2 buahnya salah satunya mas tok…agar dibaca!! (baek banget ya , tumben nih..hehehehe…ada suratnya segala lho mbak…)
    jadi, dari kemaren sampe hari ini ( jam 2 malem!!), aku sibuk baca buku itu sampe habis, karena memang sangat bagus dan seru…sampe lupa kalo yang nulis tuh lagi ‘ngucapin pesan terakhir’…
    setelah selesai, yang terpikir adalah langsung photo cover bukunya, mau aku bikinin postingan…hahaha…karena pada saat baca buku itu, sempat terlintas om nh…karena si om juga suka memotivasi trainee2 nya kan…biarin si om baca gituh….
    sebelum posting…kok pengen banget mampir ke ‘sini’…setelah lama gak mampir, terakhir mampir kemaren pagi, tapi gak baca banyak…cuma 4 postingan terakhir…tapi…kok tiba2 yang pengen kubaca postingan ini, karena judulnya ‘all of you'(???)….ehhhhh…isinya tentang buku randy….ehm…ternyata bosnya mas tok telat ngasih bukunya ya? hahahaha…batal deh…mo bikin postingan juga…hahaha..apalagi mbak bilang bang herry dan pak oemar juga udah ngulas buku ini…
    jadi….feeling pengen ‘mampir’ nya tadi tuh…termasuk indera ke – 6 , iya mbak….
    kekekekek….maap lah komennya kepanjangan….abis tumben mbak …’feeling so good’ gitu….hahahaha…(udah mulai bisa ikut ‘training’ untuk jadi paranormal nih….)

    rhainy´s last blog post..DONGKOL…..

    Balas
  15. mascayo

    sampai saya sudah berkeluarga, emak selalu berkirim surat untuk saya. Yaa isinya seputar curhat, kangen, dan keseharian. Tau nggak bu, kalau dikumpulin surat dari emak dah banyaaakk banget. Dan saya kumpulkan rapih, entahlah suatu saat saya pasti akan sangat terharu melihat semua surat dan tulisan emak.
    emak kurang pendengaran, jadi lewat tulisanlah beliau bercerita, so, tulisan tangan memang menandakan kita human being ya bu.

    mascayo´s last blog post..Resiko kerja

    Saya punya kumpulan surat-surat dari opa. Di antara semua cucunya yang masih rajin tulis surat cuma saya.
    EM

    Balas
  16. JMZACH

    Thanks for sharing. Ttg hand writing ini, saya terkesan dengan sharing Lakshmi Pratury yg berjudul “The lost art of letter-writing” di TED.com, link:

    http://www.ted.com/index.php/talks/lakshmi_pratury_on_letter_writing.html

    About this talk
    Lakshmi Pratury remembers the lost art of letter-writing and shares a series of notes her father wrote to her before he died. Her short but heartfelt talk may inspire you to set pen to paper, too.

    JMZACH´s last blog post..Million … Billion eyes … even more!

    Balas
  17. lusy

    “the last lacture”…membuat saya berpikir bahwa Tuhan banyak sekali menciptakan orang orang yang berpotensi…apakah saya bisa menjadi salah satu dari mereka…..sangat terinspirasi…secara tidak langsung randy sudah melengkapi hidupnya dengan sangat lengkap…kecuali usia yang sangat singkat…sampai akhir tetap menginspirasi banyak orang….:D

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *