Bawa daku pergi – 9th anniversary

Bawa daku pergi, saat kau kembali
Bawa daku pergi bersamamu
Mengapa aku terlena, saat kau pergi
Kubuat kau kecewa, tak terulang lagi
Tiada lagi yang kupinta, hanya ada cinta
Tiada kataku berguna, hanya ada cinta
Mengapa kau diam saja, ku tak berdaya
Maafkanlah semua, akupun percaya
Hanya kau yang aku suka, jika ada cinta
Hanya kau yang aku minta, jika ada cinta
Reff.:
Bawa daku pergi saat kau kembali
Bawa daku pergi bersamamu oh, kasih
Jangan ragu padaku … lagi
Aku rindu oh, kasih

Sebuah lagu dari Ruth Sahanaya yang saya pakai sebagai lagu pengantar kedua mempelai masuk ke ruangan resepsi di Ruang Suiho-Hotel New Otani, 9 tahun yang lalu.

Gen Miyashita & Imelda Emma Veronica Coutrier

Minggu, 26 Desember 1999

pukul 10:00 pagi ~12:00

Kultur Heim, Sophia University Yotsuya Tokyo

:::::::::::::::::::::::::::::::::

28 Agustus 1999, Hadir dalam pernikahan adik saya Novita, sekaligus mempertemukan kedua orang tua pertama kali dan menyusun rencana untuk mengadakan upacara pernikahan bulan Desember. Tidak ada upacara pertunangan, atau mas kawin 結納(ゆいのう). Karena kebetulan dalam upacara Novita itu kami memakai kebaya jadi sekaligus saja ambil foto di studio.

bagaimana? sudah seperti orang jawa? hehehe

Cerita lengkap….. (tapi saya wanti-wanti bahwa panjang sekali)

Sepulang ke Tokyo, saya dan orang tua Gen pergi ke hotel New Otani untuk memesan ruangan untuk pesta sesudah misa pemberkatan perkawinan. Kami pilih hotel ini karena hotel ini yang terdekat dengan gereja tempat pemberkatan perkawinan. Mungkin pihak hotel baru pertama kali bertemu dengan calon pengantin (wanita) yang cerewet bukan untuk menambah ini-itu tapi mengurangi ini -itu. hehhehe. Sampai bapaknya Gen bilang sama saya waktu si petugas pergi, “Imelda kamu tidak usah terlalu mengurangi pengeluaran ini itu, jangan takut kami akan bayar semua….” Mungkin dia takut saya tidak mau menyusahkan mereka. Tapi tidak kok, buat apa buang uang kalau bisa diirit kan?

OK biasanya pesta perkawinan di Jepang itu menghabiskan sekitar 30.000 sampai 40.000 yen per orang tamu. Jadi kalau 80 orang ya sekitar 2,5 juta – 3,2 juta yen. Itu kalau di tempat biasa. Kalau di hotel apalagi hotel berbintang biasanya lebih mahal yaitu sekitar 40.000 sampai 50.000 yen per orang. Tentu saja ini Jika semuanya lengkap disediakan oleh pihak hotel. Mulai dari kartu undangan, bunga, baju pengantin/make up, ruangan, makanan, kamera, photo studio, sampai tanda terima kasih yang diberikan pada tamu. Nah tanda terima kasih ini adalah seharga setengah dari amplop yang diberikan si tamu. Kebiasaan di Jepang, jika diundang ke pesta pernikahan adalah menyiapkan amplop hadiah sebesar minimum 30.000 yen bagi teman, 50.000 yen untuk saudara, 100.000 yen untuk saudara dekat. Jadi tanda terima kasih yang diterima kembali oleh pihak tamu biasanya sebesar setengahnya yaitu 15.000 yen…. Gila kan? buat apa kita terima barang seharga 15.000 padahal tidak kita inginkan. Mendingan kita kasih 15.000 yen tanpa ada “hadiah kembali” seperti itu. Karena itu pula biasanya jarang ada yang “senang dari lubuk hati” jika diundang ke pesta pernikahan hehehe. Tapi beginilah bisnis wedding party di Jepang. Dan… Imelda tidak mau terlibat di dalamnya hehehhe.

Dengan alasan kebudayaan yang berbeda (enak loh kalau pakai budaya lain sebagai alasan hehehe)  saya katakan begini: Saya mau mengadakan pesta pernikahan di Hotel Anda, dengan cara standing party… karena cara di Indonesia begitu. Tamu akan memberikan selamat pada pengantin, makan dan pulang. Tidak ada itu duduk selama 2 jam di meja bundar, ikut ceremony mendengarkan pidato (meskipun ada sih) dan makan ala perancis sambil melihat slide yang menceritakan pertemuan si pengantin pria dan wanita (wah ginian ini si Gen paling tidak suka jadi no way pake slide-slide an). Serta harus beramah tamah dengan sebelah-sebelahnya… weks aku pun tidak suka begitu.  Lagipula di Jepang itu untuk menentukan siapa duduk dengan siapa di satu meja itu ribeeeeet sekali. Tamu yang paling dihormati harus paling depan, dan pihak keluarga yang paling belakang. Salah menentukan tempat duduk bisa runyam deh.  Jadi harus standing party! Dan saya akan meminta teman-teman Indonesia saya untuk menyajikan tarian-tarian Indonesia sementara tamu makan. Jadi mereka tidak terlalu merasa membuang waktu 2 jam hanya untuk mendengar pidato atau senyum terpaksa dengan orang lain. Sekaligus saya mau memperkenalkan kebudayaan Indonesia!

Waktu itu kami mengundang 120 orang Jepang (orang Indonesianya hanya keluarga saya saja) dan di kartu undangan saya jelaskan bahwa pesta ini adalah pesta ala Indonesia yang santai, bisa datang dan pulang kapan saja, dan sebagai “amplop” saya namakan  “iuran tamu” cukup 10.000 yen saja (setara dengan makanan yang akan disantap) . Saya sengaja tidak mau terima “hadiah” dari tamu, karena itu, semua hadiah yang diterima harus dikembalikan setengahnya … ribet euy musti cari info barang ini berapa harganya dan sepantasnya dikembalikan dengan apa… mbok yo kayak orang Indonesia kasih hadiah tanpa pamrih kenapa ya? Dengan penjelasan-penjelasan demikian semua orang dengan “senang hati” menyetujui hadir di pesta penikahan saya yang boleh dikatakan diadakan di waktu “sibuk” akhir tahun.

Jadi apa yang bisa saya buat sendiri, saya buat sendiri. Pihak hotel hanya menyediakan ruangan (dengan cara ini murah sekali jatuhnya) + tambahan panggung, sketsel emas (whew aku baru tahu bahwa sketsel emas itu gratis sewanya…padahal bisa menimbulkan impact yang georgeous) , bunga arrangement di meja makan, makanan dan champagne.  Kartu undangan? bunga pengantin? baju pengantin? Tanda terima kasih? semuanya saya dibantu Tina dan temannya yang membuat. Hand Made …. Baju pengantin jika menyewa di Tokyo seharga 100.000 yen saja (itu yang termurah loh)….padahal kalau saya buat di Indonesia, hanya 40.000 yen saja (Thanks to almarhum tante Kalalo). Beda sekali harganya kan?

So…  keinginan saya sudah dijelaskan pada pihak hotel, selanjutnya tinggal orang tuanya Gen yang mengurusi detilnya dengan pihak hotel. Sementara saya kerja terusssss sampai seminggu sebelum hari H. Gen? tentu saja kerja terus dan hanya libur sehari sebelum dan sesudahnya. Sampai pada sehari sebelum hari H dia tanya ke saya… tolong dong kasih tahu besok saya musti ngapain hihihi….

23 September 1999 (peringatan 7 tahun saya masuk ke Jepang)

menyerahkan surat menyatakan menikah di kantor kelurahan Saitama. Kalau pasangan Jepang langsung resmi berlaku hari ini itu, tapi karena saya orang asing, diperlukan waktu 2 minggu untuk memeriksa kelengkapan surat dan tujuan dari perkawinan. Tujuan perkawinan? Ya karena banyak orang asing menikah sandiwara (palsu)  gisou kekkon 偽造結婚, hanya untuk mendapatkan visa sebagai pasangan Jepang dan dengan visa itu bisa bekerja di Jepang. Karena itu 2 minggu setelah penyerahan surat “catatan sipil” ada wawancara. Di situ saya harus bercerita, bagaimana ketemu (meyakinkan bahwa saya benar-benar “kenal” suami saya, tinggal di mana, sejarah pertemuan dsb dsb sambil memperlihatkan foto-foto penunjang). Ada saja kemungkinan perkawinan itu tidak disahkan… (biasanya pada pasangan yang tidak bisa sama sekali bahasa Jepang dan terlihat kepalsuannya) Meskipun catatan sipil sudah dilakukan tgl 23 September ini (tadinya kepingin tgl 9 Sept 99…. tapi persiapannya tidak keburu hehehe) , kami tetap memperingati  tgl 26 Desember sebagai ulang tahun perkawinan.

17 Desember 1999

Rombongan keluarga mulai berdatangan… Karena saya masih bekerja, Tina menjemput Mama, Andy dan Sinta di Narita. Dan saya bertemu mama sore harinya di rumah. Saya menangis melihat mama…. karena memang sebelum berangkat saya sempat menelepon mama.

“Ma, nanti pesawatnya jam berapa?”
“Hmmm tanggal…. tanggal…. ”
“Nnati jam 7 malam ke Singapore dulu ya Ma, pokoknya nanti ikut Andy saja…”

Aku tahu ada yang aneh dengan mama. Segera aku telepon Novi yang di Melbourne …”Now mama aneh…” dan ternyata Novi juga merasakan itu karena beberapa hari sebelumnya pernah telepon mama, dan jawaban mama tidak fokus. “Apa Alzheimer ya Nov?” …. kata Novi, pasti bukan karena Alzheimer itu lambat perkembangannya, tidak secepat itu. Kemungkinan yang terbesar adalah Stroke. Saya langsung telepon tante Dientje, adik mama, yang biasa membantu mama soal macam-macam. Ternyata memang mama tidak bisa menghitung dan ingat tempat lagi.

Jadi begitu aku bertemu mama sore itu, aku peluk dia dan tanya,

“Ini siapa?” tahu aku siapa ma?”
“Tahu dong…” dia ketawa “Ik weet wel….”
“Iya siapa?”
dia sambil tertawa pegang pipi saya….
“OK ini Imelda mama…”
“Jaaa… imelda….”
“Nah ini siapa?”sambil aku tunjuk Tina.
hmmm dia hanya tertawa saja. Jadi setelah itu yang dia bisa sebut namanya hanya namaku Immee dengan aksen belanda. Rupanya kalau dalam keadaan begini, yang bisa terucap hanya bahasa ibu, mother tonguenya yang bahasa Belanda.

Esok hari nya aku cari RS untuk bisa periksa mama. Dan berkat bantuan dari Dr Fukuoka, aku bisa bawa ke RS reference dia hari itu juga. Tapi… mama tidak mau. Akhirnya malam hari, aku tidur sama mama, dna aku bilang, “Ma… mama tahu kan mama aneh… mungkin mama sakit. Tapi kita tidak tahu mama sakit apa kalau tidak ke dokter. Mama mau ya ke dokter besok sama aku? ” Rupanya dia kepikiran berapa yang harus aku bayar kalau dia yang tidak punya asuransi ke dokter di Jepang. Wah memang mahal, tapi sekarang tidak pikir tentang uang lagi. Mama tidak usah pikirkan itu. Pasti bisa dapat keringan atau apa. Jadi mama mau kan pergi? Akhirnya dia mau pergi.

Kami pergi ke RS lain lagi yang dikenalkan Dr Fukuoka. Terletak di Setagaya. Dan dari hasil CT Scan memang diketahui bahwa mama light stroke. Dan karena kena otak kiri, mama tidak bisa bicara. Oleh dokter dikatakan, tidak ada obat yang manjur selain panadol untuk anak-anak diminum setiap hari untuk mengencerkan darah (waktu itu kami belum tahu soal thalasemia). Dan istirahat yang banyak, jangan capek dan kurangi garam. Thats all. Saya masih sempat bilang pada dokter, “Dok, minggu depan saya menikah, apa dia lebih baik tidak usah hadir?”… Dokter hanya mengatakan yang penting dia tidak boleh capek. OK….

Sambil memperhatikan mama, tiga hari sebelum hari H aku terkapar kena flu. Satu hari penuh aku tidur, dan minum obat. Tidak mau pikir apa-apa. Untung saja ada Andy yang bisa masak dan mengatur rumah. Sinta mengurus babynya Fanya. Novi mual-mual karena bulan-bulan pertama kehamilan. Tina mempersiapkan thesisnya ….duh repot euy. Aku yang berharap bisa manja-manja dengan Mama sebelum menikah, harus mengurus keperluan 7 orang selama 10 hari di Tokyo. Rasanya pengen nangis terus, tapi ngga ada waktu untuk menangis. Semua detil upacara penikahan di gereja dan di gedung hanya aku yang tahu. Untung MCnya teman aku di InterFM, sehingga bisa improvisasi sendiri. Aku hanya kaish tahu urutannya.Untuk misa juga tinggal ngikuti buku misa yang sudah siap dicetak oleh Tina.

Tanggal 24 malam natal ikut misa di gereja Yotsuya. Pulang ke rumah untuk christmas dinner… makan ayam panggang… Masih bisa masak ayam panggang euy hihihi (emang aku gila kali ya, masih sempet aja masak-masak). Tanggal 25  latihan gladi resik untuk misanya di Kapel Kultur Heim.  Juga memboyong semua barang-barang ke Hotel New Otani untuk menginap di sana. Aku, mama dan papa disediakan kamar oleh pihak hotel (pasti bapaknya Gen yang pesen hehehe). Untung juga…kalau tidak gimana ya naik kereta pake wedding dress hahahaha. Gen bersama orang tua dan saudara-saudaranya menginap di hotel lain yang dekat juga. Sebelum pulang ke hotel dia, Gen sempat dipijit papa karena kami berdua belum sembuh flunya. Ngga kebayang deh suara aku bindeng esoknya….

Bersama hairdresser Tanaka san yang aku minta datang jam 7 pagi, make up aku selesaikan sendiri, dia hanya membuat rambut agar nantinya bisa dipasang sanggul.

Bersama hairdresser Tanaka san yang aku minta datang jam 7 pagi, make up aku selesaikan sendiri, dia hanya membuat rambut agar nantinya bisa dipasang sanggul.

pagi pukul 7 pagi, Tanaka san datang untuk membuat hair style. Karena untuk session kedua akan memakai sanggul, diusahakan supaya ada tempat untuk “nyantelin” sanggulnya….

Pagi pukul 9 keluar hotel menuju ke gereja yang letaknya 500 meter dari hotel. Hari cerah sekali…. meskipun kalau di bawah bayangan ya dingin, karena ini winter. Tapi aku lupa, bagaimana caranya ke gereja dengan wedding dress begitu ya? Aku bener-bener lupa urus yang itu hehhehe. Ternyata di bawah hotel sudah menunggu limosine yang akan mengantar kami ke gereja. Untung bapak/ibu mertua saya memikirkannya…. Kemudian baru tahu juga bahwa ada seorang petugas wanita yang berbaju kimono yang mendampingi saya terus. Tugasnya? Membetulkan baju, mengantar ke kamar, atau ke photo studio dll. Wah hebat juga…ngga tau deh apa musti bayar untuk dia atau tidak…. tapi yang pasti aku tidak kepikiran.. hehhehe.

Kultur Heim adalah sebuah chapel yang terletak di dalam kompleks Sophia Univ. Kami bisa pakai tempat ini karena permintaan Pastor Downey yang waktu itu termasuk petinggi di univ tsb. Di dalam chapel terdapat beberapa chapel kecil dengan lukisan Greco dan antik. Kami memakai Kapel besar di lantai dua.

Kultur Heim adalah sebuah chapel yang terletak di dalam kompleks Sophia Univ. Kami bisa pakai tempat ini karena permintaan Pastor Downey yang waktu itu termasuk petinggi di univ tsb. Di dalam chapel terdapat beberapa chapel kecil dengan lukisan Greco dan antik. Kami memakai Kapel besar di lantai dua.

Misa dihadiri oleh 70-80 an teman/tamu yang sebagian kecil juga dari teman-teman warga Indonesia yang biasa berkumpul di gereja Meguro. Tapi karena mereka ada misa Natal pada pukul 2 siang, hanya teman-teman dekat saja yang meluangkan waktu datang pagi-pagi ke Yotsuya untuk menghadiri misa pemberkatan perkawinan.

Saat misa seperti ini saya selalu kangen dengan kehadiran teman-teman Cavido, sebuah paduan suara dari gereja Blok B, St Johannes Penginjil Jakarta yang sudah bertahun -tahun aku juga terdaftar sebagai anggotanya. Jadilah aku juga ikut menyanyi dengan suara bindeng dan keras, karena lagu-lagu semua dalam bahasa Indonesia sedangkan penyanyinya sedikit, kecuali lagu Ave Maria yang khusus dinyanyikan oleh istri dari muridku (yang memang penyanyi).

 

Pengantin Baru bersama Alm. Pastor Downey

Pengantin Baru bersama Alm. Pastor Downey

Misa berlangsung selama 1, 5 jam campuran bahasa Indonesia dan Jepang. dan setelah selesai kita dibawa oleh pastor untuk berfoto di taman kapel. Foto bersama tamu yang hadir di misa ini, mungkin tidak bisa saya lakukan di tempat (baca gereja) lain. Suatu kenangan yang amat mendalam.

Setelah selesai berfoto-foto di taman, kami langsung menuju ke Hotel untuk memulai resepsi siang hari. Karena ada 130 orang sudah menunggu kami di sana. Ruangan yang kami pakai bernama Suiho, dan sebelum masuk ruangan biasanya memang oleh pihak hotel disediakan ruang tunggu yang disebut Hikaeshitsu. Nah ada cerita lucu di sini, rupanya dosen pembimbing saya S.M. sempat menegur Taku, adik kembar Gen dan berkata, “Hei kamu pengantin kok belum ganti baju” hihihi.

Memasuki Ruangan diiringi lagu Bawa Daku Pergi

Memasuki Ruangan diiringi lagu “Bawa Daku Pergi”

Acara pertama adalah Kampai dengan champagne, kemudian pidato dari Bossnya Gen dan dari Dr Fukuoka. Setelah itu pemotongan kue pengantin. Wah itu kue pengantin memang palsu tuh. Hanya bagian yang akan dipotong saja yang memang isinya kue, Yang lainnya dari  plastik euy. Dan untuk sepotong kue itu (yang tidak dimakan , kita harus bayar 10.000 yen … haiyah…. Mendingan kue pengantin bikinannya Tante Diana, yang enak dan bisa dibungkus lagi bawa pulang heheheh. Sayangnya Tante Diana tidak bisa saya bawa ke sini sih.

Setelah pemotongan kue, tamu dipersilahkan makan , sementara kami berganti baju… Ya di resepsi perkawianan di Jepang ada session yang bernama o-ironaoshi, yang penganting perempuannya berganti baju minimum 1 kali. Jadi kalau awalnya pakai kimono, ke dua ganti baju wedding dress, dan ke tiga baju dress berwarna yang lain. Saya sendiri tidak mau memakai kimono…. Kimono itu tidak cocok untuk orang berbadan (dan berdada hhehhe) besar seperti saya. Jadi Kimono pass deh. Dan daripada saya ganti baju pesta berwarna lainnya, mendingan saya ganti dnegan baju tradisional Indonesia dong…. Jadi jangan heran kalau saya memakai baju pengantin Padang, padahal saya bukan orang Padang hehehhee.

Sebelum berganti baju, kami digiring ke Photo Studio dalam hotel dulu, untuk difoto memakai wedding dress. Baru ganti baju dengan baju daerah itu dan kembali lagi ke Photo Studio sebelum kembali ke ruangan. Tapi entah kenapa ya, saya tidak begitu suka dengan hasil foto studionya. Sepertinya terlalu pucat, atau karena saya terbiasa dengan Photo Studio di Indonesia yang memakai latar belakang berwarna gelap ya?

Kami masuk kembali ke ruangan diiringi lagu SERASA nya Chrisye…. Dan seperti bisa diduga, semua tamu terbelalak melihat baju pengantin Padang yang begitu meriah. Kami langsung bergerak ke arah tamu dan menyapa satu-satu tamu smabil menuang bir atau champagne ke gelas mereka. Sementara ada dua tarian lagi yang dipertontonkan di panggung. Tarian terakhir adalah Tari Saman sebagai penutup. Kami naik ke panggung dan berfoto bersama, juga Gen menyampaikan pidato rasa terima kasih. Di situ Gen sempat memberikan mike kepada saya untuk ikut berbicara, tapi saya tolak. Dan ternyata sekelumit peristiwa ini diperhatikan oleh seorang teman saya nyang mengatakan, “Imelda sudah orang Jepang benar… karena wanita Jepang tidak berbicara di depan umum jika suaminya ada” hmmmm … well yang pasti saya akan selalu berusaha menghormati suami saya. Bagaimanapun juga dia kepala keluarga kan?

Serasa

by Chrisye

Serasa, nikmat dan sejuknya
bila kekasih tidur di pelukan
membentang, dataran hijau
berseri, semesta menyongsong sejoli

bercumbu, dimabuk asmara
dalam kemurnian cinta yang membara
membentang dataran hijau
berseri semesta dimalam pertama

sejoli, memadu cinta
oh .. terasa nikmat dan sejuknya
bila kekasih tidur di pelukan

29 gagasan untuk “Bawa daku pergi – 9th anniversary

  1. Lala

    Ceritanya memang benar-benar panjang… 🙂
    but love, love it..

    *sambil berkali-kali bilang.. Sis cantik bener… dan hmm.. si Gen ituh.. ugh… jauh lebih ganteng minus kacamata.. hehehehe*

    Ribet bener ya, Sis.
    Dan Jepang itu bener2 nggak mau rugi ya? Musti sebanding dengan yang dikasih.. mbok yo ikhlas, ngono lho.. 🙂

    Tau nggak sih, while reading it, aku malah ngebayangin my own wedding party.. hahaha… ngayal mulu bisanya.. 😀

    Lala´s last blog post..A Total Disconnect

    Hehehe si Gen ngga bisa liat tanpa kacamata tuh…
    Hmmm Jepang memang begitu sih, tapi dengan demikian mereka memberikan pelayanan yang sepadan dengan apa yang kita keluarkan. Pembeli adalah Raja.
    So? sudah ada gambaran ttg your own wedding party? hhihihi
    (ssst 3 tahun lagi …kan aku juga 31 th menikahnya hihihi)
    EM

    Balas
  2. Yoga

    Aku sangka, mbak nggak sempat posting tulisan ini. Wah, ndak di Indonesia, ndak di Jepang, yang namanya menikah itu pasti bikin sibuk, apalagi, mbak hidup sendiri di negeri orang, sungguh luar biasa.

    Semoga, pernikahannya langgeng & selalu bahagia, hingga jadi kaki nini!

    aki nini maksudnya ?
    semoga ya Yoga…
    iya ngumpulin foto dan scannya yang berhari-hari hehehhe
    EM

    Balas
  3. edratna

    Imel, senang sekali bacanya.
    Imel menikah, tapi sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia.
    Selamat ya….udah 9 tahun, tentunya makin menyenangkan…semoga semakin bahagia, sehat, dan gembira.
    Saya baru sadar, ternyata gantengnya Riku menurun papanya….

    hehehhe tapi banyak yang bilang Riku itu mirip saya, Kai yang lebih mirip papanya.
    EM

    Balas
  4. tuti nonka

    Wah, ceritanya asyik bangets …. kebayang bagaimana sibuknya Mbak Imelda menjelang pernikahan. Apalagi pernikahannya berdekatan dengan Natal.
    Selamat ultah pernikahan ya Mbak, semoga selalu berbahagia, rukun, awet, dan diberkati oleh Allah Yang Maha Kuasa.
    Sekali lagi, ikut berbahagia ….

    tuti nonka´s last blog post..Selamat Hari Ibu

    Terima kasih banyak Mbak Tuti.
    Iya memang repot, dan mungkin ditanya kenapa sih mau adakannya pas dekat Natal.
    Yah karena cuman saat itu ada libur yang lumayan panjang sehingga Gen bisa libur, dan keluarga saya bisa datang dari Jakarta dan Melbourne…. Selain itu mbak, hiasannya di gereja dan di gedung juga irit hehehhe.
    EM

    Balas
  5. vizon

    happy aniversary ya mbak…
    semakin besar usia pernikahan, semakin berat tantangan yg bakal dihadapi. dg kekuatan cinta yg mbak dan suami miliki, saya yakin, itu semua akan menjadi mudah… 🙂
    saya salut dg kemampuan mbak untuk “menaklukan” perbedaan budaya… ruarrr biasa… 🙂

    vizon´s last blog post..debat dengan polisi

    Terima kasih Uda…
    hehehhe saya kadang bisa keras kepala juga sih
    EM

    Balas
  6. -G-

    OOOOOOOHHHHH I LOOOOOOVEEEEEEE WEDDING, suka cerita2nya pokoknya suka banget! Dan mbak Imelda sama sekali ga berubah sampe sekarang, ya ampuun tetep awet cantiknya. (Psst: saya naksir sama misuanya niy jadinya, ganteng euy!! hahaha!)

    -G-´s last blog post..Kalau suatu saat kita bertemu lagi..

    uahhahahha
    naksir ya? boleh kok silakan, tapi ambil di jepang sini ya hihihi.
    EM

    Balas
  7. septa

    Omedetou gozaimasu.

    wah lagu uthe bawa daku kan agak rancak gitu mba’
    meskipun tulisannya panjang tapi enak dibaca
    apalagi liat photonya jadi kepengen waaaah saya kapan ya kayak gitu 🙂

    kok bisa dapet baju padang?
    penari samannya darimana mbak?

    salut bisa mengenalkan budaya indonesia 😛

    septa´s last blog post..kuhadapi dunia dengan SENYUM #partII

    Terima kasih
    Iya lagunya Uthe itu ada dua versi, nah aku pake versi remix yang ke dua jadi intronya lebih panjang tapi beatnya enak kan, riang gitu hehehhe. Kalau lagu yang kedua Serasa, kan ada suling-suling padangnya gitu jadi cocok dgn baju padang hihihi. Kata-katanya juga romantis kan..

    Baju padang pinjam dari kedutaan… kebetulan aku sering pake baju padang yang itu untuk jadi MC di acara-acara KBRI, tinggal baju utk prianya aja. Untuk Gen agak kependekan tapi untung masih masuk hihihi.
    Penari Samannya ya dari kelompok tari yang ada di sini. Mereka tergabung dalan Duta Kencana, ada jagoan Jaipong, Bali dan Jawa. Penarinya kira-kira 11 orang. Dan separuh dari mereka adalah teman aku juga. Mereka juga biasa ditanggap di KBRI kalau ada acara-acara. Yang pasti aku minta sama mereka supaya penutupnya Tari Saman. Udah berapa kali sih Pak Hidayat dan istrinya ngajak aku ikutan nari, tapi no way deh aku ngga bisa nari-nari an.

    So, kapan Septa nikah?
    EM

    Balas
  8. prameswari

    Wah…pasti seru banget nyiapin party nya. kebayang mbak Imel disana sendirian musti ngurusin semuanya sendirian, suami mbak keliatannya lebih cool ya… hehehe.
    Menyatukan dua keluarga yang berbeda bangsa pasti juga bukan perkara yang mudah ya mbak… bisa diceritain gak suka dukanya…….
    Mm sependapat kata Lala….suami mbak kalo gak pake kacamata lebih Indonesia kesannya hehehe…..
    Selamat ya mbak, 9 tahun bukan waktu yang singkat….

    prameswari´s last blog post..Renungan Akhir Tahun : Sisihkan Waktu Untuk Sehat

    Hai Nungki …makasih…
    menyatukan keluarga berbeda bangsa? Hmmm mungkin lebih mudah daripada menyatukan keluarga berbeda suku atau agama. Karena dari awal kami sudah tahu bahwa kami ini BEDA. Jadi tidak mencari perbedaan atau persamaan. Meskipun kadang aku meragukan ke-jepang-an nya keluarga Gen. Dan itu saya syukuri. Ibu mertuaku bahkan selalu bilang, dia tidak pernah melihat aku sebagai orang asing (dan u know, waktu adik Gen akan menikah, ibunya tanya apa aku kenal dengan calonnya? apa aku setuju? karena katanya, kelak aku — sbg istri anak pertama—yang akan hidup bersama dengan dia…. See… apa ada ibu mertua Indonesia bertanya seperti itu? ) Tapi tentu saja kita tidka tahu semua kebiasaan keluarga pasangan kita sampai kita mengikat diri kan? Perkawinan adalah gambling. Jalani saja. Tergantung apakah kita yang akan jadi dealer nya, atau loosernya hihihi.
    EM

    Balas
  9. Himawan Pridityo

    Wah selamat ya bu. Penasaran mo lihat postingan perayaan pernikahan emasnya nanti. 🙂

    hahhaha, semoga saya masih hidup ya. Karena saya menikah umur 31 +50 tahun? = 81 tahun weks…. apakah aku akan hidup sampai segitu? Hmmmm
    Anyway terima kasih Him…
    EM

    Balas
  10. Donny Verdian

    Turut berbahagia!
    Selamat merayakan anniversary pernikahan dan selamat HARI NATAL juga!

    Semoga damai Natal selalu menyertaimu dan keluargamu yang selalu diperbaharui!

    Terima kasih banyak Don… Merry Christmas too
    EM

    Balas
  11. donapiscesika

    SLAMAT HARI JADI MBAK..DUH THANKS UDH CERITA TTG SISTEM PERNIKAHAN ORANG JEPANG…TERNYTA SERU BANGET YA MBAK….SKALI LAGI…MET HARI JADI SMOGA LANGGENG SAMPAI NENEK KAKEK…

    hehehe kembali Dona… siapa tahu berguna untuk mereka yang akan menikah dgn orang Jepang 🙂
    EM

    Balas
  12. jmzach

    Selamat Hari Jadi Pernikahan yang ke 9 ya … Thanks sudah share peristiwa 9 tahun silam secara comprehensive … serasa berada dan mengikuti acara tersebut dan jadi + mengerti adat/kebiasaan pernikahan di Jepang.

    God bless you and fam ya.

    jmzach´s last blog post..R-E-S-P-E-C-T

    Terima kasih Zach… God Bless you too
    EM

    Balas
  13. nh18

    This is Very Nice EM …
    Dan yang aku terkesan adalah …
    Foto kamu memakai pakaian adat Minang …
    Dan juga foto kamu berdua memakai pakaian adat Jawa …

    Yes Indeed … kamu dan Gen sudah pantas jadi orang Jawa …
    Itu fotonya Jawa Banget … hahaha

    Salam saya
    Selamat Tahun Baru EM

    nh18´s last blog post..PERSAINGAN USAHA

    Balas
  14. Melati

    Selamat ulang tahun pernikahan ke-9 tahun!
    Ternyata sama dengan saya karena saya juga menikah pada tahun 1999.

    Dan senangnya pendapat mbak tentang pasta pernikahan ala Jepang justru sama benar dengan saya.
    Karena alasan itulah, saya tidak mengadakan pesta pernikahan.
    Cuma bedanya saya bukan orang asing, bukan seperti mbak di sini.
    Orang-orang berharap saya bertindakan selayak orang Jepang biasa.
    Dalam kondisi begini, keputusan saya memang susah dimengerti.
    Tapi biarlah kelihatan aneh-aneh daripada menyusahkan tamu-tamu dengan paksaan.
    Pasti mereka diam-diam lega.
    Karena saya tahu juga di dalam hati mereka merasakan berat membayar hadiah yang buntuknya mentah, mendengar pidato-pidato yang kosong, dan lebih-lebih dijatah berpidato atau menyanyi.

    Tapi kalau dengan gaya Indonesia, saya mau dong mengadakan pesta pernikahan!!!

    Balas
  15. Daniel Mahendra

    Masih pada langsing dan segar! Hihihi…
    Eh, rasanya aku sempat ngucapin via SMS tanggal 26 kemarin. Tapi… ah, lupa.

    Selamat ya! 😉

    Daniel Mahendra´s last blog post..Doa untuk Anak-anak Yahudi, Nasrani, dan Muslim di Timur Tengah

    Iya aku terima sms tertanggal 27 desember. Thank you danny… (kamu emang selalu hafal peristiwa penting teman-teman. It is your strong point to attract woman you know. Other man should learn from you)
    EM

    Balas
  16. dani

    Huwaaa Mba Em, indah sekali ceritanya. Mampir ke sini dari ceria 2 x 24 jam itu. Hihihi
    Ikutan merasakan atmosfernya nikahan dulu loh Mba Em *lebay*. hihihihihihi
    Sukaaa deh sama detail-detail ceritanya. Dan melongo kalo itungan perorangnya mahal banget ya. Kereeeen

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *