Maaf dan terima kasih

Pagi ini aku mendengar lagi kata itu… Maaf dan terima kasih

Kereta Odakyu line yang aku tumpangi dari stasiun Shimokitazawa, berhenti agak lama di stasiun berikutnya,  Seijougakuen Mae. Wah pasti ada sesuatu. Dan kulihat ada petugas yang berlari ke arah gerbong belakang (saya di gerbong agak depan). Dan tak lama ada pengumuman begini;

“Kami mohon maaf penumpang yang terhormat, ada seorang penumpang yang jatuh sakit, dan sedang ditangani. Mohon tunggu sebentar.” (Pengumuman dari luar kereta)

Setelah 2 menit, kondektur memberikan pengumuman:

“Kita sebentar lagi berangkat. Ada penumpang yang tiba-tiba jatuh sakit, sehingga perlu ditangani. Kami mohon maaf atas keterlambatan kereta ini. Kita berhenti di stasiun ini selama 4 menit.
Pintu akan menutup, penumpang yang berdiri dekat pintu harap hati-hati”

—-jreng pintu menutup —- aku pikir baik ya orang Jepang kasih tahu dulu sebelum pintu menutup. Karena dulu waktu saya naik kereta di Italia bersama adik-adik, ingat sekali pintu menutup tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan atau nada peluit buzzer apa saja deh. Dan menutupnya jeblak banget sampai kami kaget. Kalau terjepit lumayan sakit mustinya tuh….

Kereta mulai jalan…
“Stasiun selanjutnya adalah Noborito. Kami mohon maaf atas keterlambatan yang disebabkan oleh penumpang yang sakit. Kami juga berterima kasih pada penumpang sekitarnya yang membantu dalam menangani penumpang tersebut. Sebentar lagi kita sampai di Stasiun Noborito.”

Hmmm …. kondektur itu mengucapkan terima kasih atas nama si sakit, kepada penumpang lainnya. Itu karena,  penumpang yang sakit itu adalah tanggung jawab perusahaan kereta. Jadi dnegan menerima bantuan dari penumpang lain, perusahaan itu tertolong. Ini memang sistem “kerangka” 枠組みdi Jepang. Kamu adalah anggota sebuah kelompok, jika terjadi sesuatu pada kamu, maka kelompok itu akan bertanggung jawab, baik itu mengucapkan Maaf atau terima kasih. Kamu tidak akan menjadi individu sendiri di Jepang. Meskipun kadang keadaan itu menghambat perkembangan diri (karena sulit untuk menjadi yang “terdepan”. Tatanan masyarakat ini memang unik dan jarang terdapat di Indoensia. Yang ada di Indonesia, si A bersalah, maka kelompok yang beranggotakan si A malah berlomba mengatakan “itu bukan pernyataan kami”, atau “Si A bukan anggota resmi kami”…. bla bla bla…apa saja yang bersifat mengelak tanggung jawab. Kapan ada si A salah, satu kelompok akan minta maaf?????????? Kalau di Jepang, pertama kali itu yang dilakukan. Minta maaf baru kemudian menjelaskan duduk perkaranya.

Hmmmm 4 menit terlambat. Saya rasa bisa saja 4 menit itu dikejar, meskipun tidak untuk pencapaian jadwal di stasiun-stasiun berikutnya, tapi untuk tujuan akhir bisa ditepatkan pada jadwalnya.

Dan satu lagi yang membuat saya berpikir adalah pengumuman yang terdengar di telinga saya waktu kereta berhenti di stasiun berikut Noborito.

“Ada penumpang yang sakit di stasiun sebelum ini, Kami mohon jika ada penumpang yang merasa tidak enak badan, agar sesegera mungkin お早めに memberitahukan pada kami”

Mungkin dengan mendengar pernyataan ini Melati san akan bilang, “Ahh itu karena perusahaan tidak mau dirugikan lagi, jadi cepat-cepat kasih tahu dong! — ya mungkin ada negatif thinking seperti itu. Tapi didengar dari sudut si calon sakit, pernyataan itu menguatkan. Jadi kalau sakit tidak usah ditahan-tahan loh…  Ahhhh diingatkan lagi… Memang Jepang terlalu melindungi warganya. overprotection. Kahogo 過保護。Banyak contoh-contoh overprotection ini, tapi untuk posting ini sekian dulu. Terima kasih!

Odakyu Line

Odakyu Line

17 gagasan untuk “Maaf dan terima kasih

  1. edratna

    Imelda, anakku juga pernah cerita, saat perjalanan dari Miami ke Fairfield (Iowa) dan ada yang sakit di sini
    http://cacianqalbukunderemp.blogspot.com/2008/10/
    ketika-si-sakit-semaput-di-bis-antar.html

    Kayaknya Indonesia perlu lebih menghargai orang lain ya…padahal katanya orang Indonesia ramah tamah, tapi kenapa akhir-akhir ini kesannya jadi brangasam? Akibat penayangan di TV, jadi yang lain ikutan?

    edratna´s last blog post..Bagaimana rapor anda di tahun 2008?

    Hmmm Indonesia yang dulu terkenal dengan senyumnya sekarang senyum serigala….
    EM

    Balas
  2. tyan

    duh, pengen dech bisa ke jepang… 🙂
    kayana perlu wktu lama untuk ngumpulin duit… 🙂
    semangat!! 😀

    tyan´s last blog post..Kentut

    Ayoooo kumpulin duit. Nanti ketemu di sini ya?
    EM

    Balas
  3. septa

    bagus sih minta maap.
    tapi kalau keseringan juga gak enak.
    salut deh sama warga jepang yang teratur dan
    disiplin. tapi!
    karena kesemrawutan indonesia jadi unik hihihi
    pasti kakak juga kangen dengan ke amburadulan
    tanah air ini 🙂

    septa´s last blog post..senyumku tak bau rokok lagi

    Kalau banyak waktu saya enjoy juga dgn keamburadulan Indonesia. Tapi kalo pas sibuk OGAH AHHHHH
    EM

    Balas
  4. Yoga

    Quote:Ini memang sistem “kerangka” 枠組みdi Jepang. Kamu adalah anggota sebuah kelompok, jika terjadi sesuatu pada kamu, maka kelompok itu akan bertanggung jawab, baik itu mengucapkan Maaf atau terima kasih. Kamu tidak akan menjadi individu sendiri di Jepang.

    Hebatnya budaya ini masuk jadi bagian etos coorporate (perusahaan perkeretaapian). Aku acungkan jempol buat budaya ini Mbak. 🙂

    Ya untuk bisnis ini bagus. Semua berkelompok, sehingga menjadi kuat.
    But untuk individu ada negatifnya juga, yaitu tidak bisa menonjol, lain dari yang lain. semua SERAGAM. Dan tentu keseragaman itu ada baik dan ada buruknya.. (Wah kok aku jadi inget tulisannya Pak Sawali dan aku belum kasih komentar…)
    EM

    Balas
  5. Daniel Mahendra

    Satu hal: salut!
    Tapi itu bisa dibangun kok di Indonesia. Bisa, asal mau. Hanya soalnya adalah: banyak yang nggak mau.

    Daniel Mahendra´s last blog post..Road To Sydney

    Bener Danny, semua bisa tapi ngga mau …karena ngga mau repot
    EM

    Balas
  6. Melati

    Nah, mbak benar nebak kira-kira apa komentar saya tuh.
    Jelas kita sudah satu hati ya.

    Memang pengumumnan yang disiar peugas kerata itu ada baiknya juga.
    Tapi kalau keterlaluan, hal-hal yang dikira kebaikan oleh si pihak itu akan menjadi paksaan.
    Sehingga disangsi mungkinkah ada sesuatu di balik kebaikan itu.
    Pokoknya, kebaikannya yang keterlaluan kelihatannya tidak tulus, gitu lho.

    Saya tahu menurut mbak, pendapat saya yang seperti itu adalah pikiran negatif.
    Tapi cara pikiran itu justru saya pelajari dari pengalaman saya sebagai warga negara Jepang( Aah, cuman atas surat aja kok meskipun saya mengakui gitu!!) selama 38 tahun.
    Sebelum hal itu bisa saya hayati, saya selalu kecewa.
    Tapi sesudah saya terlatih melihat apa yang mungkin disembunyikan dengan berdasarkan kesangsian terhadap sesuatu, saya tidak kecewa lagi karena kebanyakan anggapan saya yang timbul dengan secara demikian, ternyata benar.
    Maka dalam satu hal cara pikiran saya yang selalu negatif itu membantu saya juga sebagai senjata untuk hidup di masyarakat Jepang.
    Karena senjata itulah, tanpa kecewa atau rasa dikhianati, saya hanya bilang “Nah, makanya!!” atau “Ooh, pantas!”
    kalau ada peristiwa yang menghebohkan masyarakat.

    Wah, lagi-lagi saya berani-beraninya berpidato.
    Tanpa kapok bentakan mbak pula.
    Kira-kita apa yaaa bentakan mbak kali ini??
    Silakan, ayo silakan, mbak!

    Bisa mengerti karena kamu adalah orang Jepang
    sedangkan saya adalah orang asing di Jepang. Jadi tindakan mereka terhadap orang asing juga berbeda dengan orang dari negara sendiri. Sama saja dengan kejadian saya naik GARUDA, yang dicuekin oleh pramugarinya hanya karena saya adalah orang Idnonesia bukan orang asing. So, saya berganti menjadi orang Filipin dan speak English to her hahahaha
    EM

    Balas
  7. Himawan Pridityo

    Ya, Jepang sebagai sebuah bangsa yang homogen, memiliki sejarah yang jauh lebih tua dari bangsa Indonesia. Tapi tidak selamanya kita akan berhenti di pengabaian kita bukan. Saya sangat terharu melihat bagaimana pedulinya administratur negara tersebut terhadap rakyatnya, hal yang langka di Indonesia. Oh, saudara tua, berilah kami ilmu dan jangan kau jajah lagi kami. 🙂

    Himawan Pridityo´s last blog post..3:10 to Yuma dan Sebuah Tikungan

    Jepang punya dilema sendiri dengan homogenitasnya. Meskipun tidak bisa dibilang sebagai homogen asli, karena ada Okinawa dan bangsa Ainu
    EM

    Balas
  8. tuti nonka

    ‘Maaf’ dan ‘Terimakasih’ menurut saya adalah dua kata yang santun. Apa pun yang ada dibalik ucapan itu (seperti tulisan Mbak Melati), menurut saya mengucapkan permohonan maaf dan terimakasih adalah etika yang patut kita tiru. Bayangkan jika sudah salah, nggak mau minta maaf pula, wah …. nggak beradab kan?

    tuti nonka´s last blog post..Ditinggal Suami

    Setuju banget mbak!!!!
    Wah mbak aku jadi inget tentang kata “TIdak apa-apa”.
    Kalau orang Jepang injek kaki orang bilang “Maaf”
    Kalau orang Indonesia injek kaki orang, bilangnya,”Ngga apa-apa kan?”
    kenapa sih ngga bisa bilang “Maaf ya….”

    EM

    Balas
  9. japs

    ah, bahagianya rasanya kalau punya negara yang melindungi warganya seperti itu… walaupun overprotective, ya ndak papa lah, yang penting bisa merasa aman dan nyaman di negara sendiri… beberapa kekhawatiran tertentu bisa dikesampingkan jadinya.

    salam -japs-

    japs´s last blog post..Japra – Kenapa Juga Gue Mau Dipanggil Itu?

    Aman dan Nyaman di negara sendiri adalah dambaan semua orang ya Japs
    EM

    Balas
  10. basir

    inilah gambaran dunia yang beraneka ragam untuk kita kenali dan hormati…

    bagi saya ada rasa kepuasan yang tidak bisa di tuliskan dengan kata2,dihayalkan dengan kata seandainya, klo kita tidak merasakan kereta indonesia ( khususnya ekonomi )dengan keanekaragaman manusia.

    maaf kalau ada kata yang kurang berkenan dan terima kasih telah mengunjungi blog saya

    “Ya Allah, tempatkan dunia di tanganku, bukan di hatiku”

    basir´s last blog post..Siapa sih Che Guevara itu?

    betul Basir, di mana saja kita dapat mengambil hikmah dari perjalanan kehidupan ini. Tidak semua yang ada di negara maju itu bagus, dan tidak semua yang ada di negara berkembang itu jelek.
    Terima kasih komentarnya.

    EM

    Balas
  11. genthokelir

    saya cuman mengandaikan jikala budaya dan eto kerja yang menjunjung profesionalitas trsebut kita terapkan ternyata lebih manusiawi dan lebih menunjang profesionalitas kok ya mbak
    setuju sekali tulisan ini merefleksi saya dalam pelayanan dan tanggung jawab terima kasih dan salam hormat selalu

    genthokelir´s last blog post..Gunung Kelir ( DOT ) Com

    well
    irrashaimase Pak Totok
    dan YOroshiku ne
    EM

    Balas
  12. nh18

    Maaf dan Terima Kasih …
    Dua buah kata sederhana
    Tapi sayang kita suka lupa …

    Thanks ya EM

    nh18´s last blog post..ROTASI

    bener mas…kita suka lupa.
    terima kasih komentarnya mas 🙂
    EM

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *