STOP! Penyalahgunaan kata AUTIS/Autisme

STOP! Penyalahgunaan kata AUTIS/Autisme

Saya ingin share mengenai suatu fenomena sosial yang memang sudah mengusik hati saya beberapa waktu. Bermula dari penyataan adik saya Andy, bahwa “Mel, gue kan Autis”. Hmmm apakah dia sudah mengerti apa arti kata Autis itu sendiri? Tapi memang ada kemungkinan benar, Karena term AUTIS itu baru dikenal di masyarakat Indonesia. Sedangkan saya bertemu term Autis (ADD (Attention Deficit Disorder) atau Hyperactivity Disorder) langsung sekitar 15 tahun lalu dalam perkuliahan pendidikan di YNU, dan melihat langsung bagaimana anak-anak autis itu berinteraksi. Autis juga ada macam-macam. Ada yang diam saja, ada yang hiper (aktif), ada yang suka membenturkan kepala ke tembok, ada yang berjalan-jalan sekeliling kelas sepanjang pelajaran. Anak Anda mengalami masalah belajar? Mungkin memang perlu diperiksa apakah Autis atau tidak. Mereka butuh pengertian dan bimbingan yang sedikit lebih daripada anak-anak biasa. Tapi sekali lagi Autis bukanlah kata yang bisa dipakai sebagai olok-olok. Sama saja seperti pemakaian kata “Buta loe!” dll yang memakai ketidaksempurnaan manusia sebagai mainan.

Saya menerima himbauan ini dari rekan di Multiply, dan ingin saya sharekan dengan teman-teman semua. Mari kita dukung !

EM

Trend Analogi Kata AUTIS-AUTISME dalam konotasi negatif

Di era tahun 1990-an, kata “Autisme” masih merupakan suatu kata yang belum begitu dikenal oleh masyarakat luas di Indonesia, kecuali orang tua yang dianugerahi anak penyandang autisme. Karena kurangnya informasi, kebanyakan orang lalu hanya mengira-ngira sendiri, misalnya autisme adalah suatu penyakit menular, mengerikan, atau autisme itu sama dengan down syndrome. Saat itu hanya ada satu Yayasan yang didirikan oleh sekelompok dokter dan orang tua anak penyandang ASD, yaitu Yayasan Autisma Indonesia di Jakarta yang membuat berbagai aktivitas dalam rangka peduli autisme. Media pun tidak banyak meliput dan membahas masalah autisme secara mendalam apalagi tuntas.


Informasi Autisme sebenarnya sudah banyak tersedia di internet dan buku-buku tapi kebanyakan menggunakan bahasa Inggris. Oleh karena itulah kami merasa sangat tergugah untuk menyediakan informasi seputar autisme dan permasalahannya dalam bahasa Indonesia via dunia maya yang bisa mencapai tidak hanya di Jakarta (satu kota) tapi bisa menembus ke seluruh pelosok Indonesia.


Lain tahun 1990-an lain pula era tahun 2000-an. Sejak tahun 2000, era internet pun muncul dan banyak orang tua yang “melek” teknologi dan kemudian mencari informasi via internet. Situs kami mendapat banyak pengunjung yang kemudian bergabung dalam fasilitas mailing list yang kami sediakan. Mulai lah beberapa orang tua baik secara perorangan maupun kelompok mengadakan berbagai kegiatan Autism Awareness dibeberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan beberapa kota lain. Kemudian banyak sekali bermunculan yayasan, pusat terapi dan blog-blog pribadi yang membahas tentang Autisme, baik yang sekedar sharing pengalaman dengan anak sendiri maupun menyediakan informasi lengkap. Media pun mulai tertarik meliput berita seputar Autisme.

Sebagai hasilnya sedikit demi sedikit masyarakat mulai menyadari kehadiran anak autistik yang “berbeda” dengan anak-anak lain. Kata”Autis/Autisme” pun mulai bermunculan di Media cetak maupun elektronik.

Tapi sayang sekali, yang kami amati, kata “Autis/Autisme” kemudian mulai dipakai oleh berbagai pihak baik oleh para aktivis, akademisi maupun artis televisi dalam konotasi yang negatif. Beberapa artis mulai menggunakan kalimat “dasar autis loe…..” sebagai bahan lelucon di berbagai tayangan di televisi. Beberapa aktivis dan akademisi juga mulai menggunakan kata Autisme untuk menganalogikan ketidakberesan pemerintah dan partai politik.


Tulisan-tulisan tersebut tentu saja membuat kaget dan sedih komunitas Autisme khususnya komunitas Puterakembara. Beberapa rekan milis termasuk saya sudah menyampaikan kesedihan kami pada penulis langsung, dan sangat menghimbau agar di masa yang akan datang beliau-beliau bisa mengganti kata Autisme dengan kata lain yang mungkin tidak akan menyinggung perasaan komunitas manapun.


Para penulis biasanya mengerti dan bereaksi positif, meminta maaf sambiltentunya membela diri sedikit 🙂 dan mengajukan beberapa alibi kenapa mereka menggunakan kata Autisme sebagai analogi. Intinya menurut pengakuan mereka, tidak bermaksud menghina ataupun merendahkan anak penyandang autis maupun komunitas autisme. Biasanya, dengan lapang dada dan keikhlasan komunitas kami menerima pernyataan maaf tersebut.


Sebenarnya, kami menyadari sepenuhnya bahwa kata Autisme bukanlah milik kami. Kami mengerti bahwa peminjaman istilah, konsep atau gejala (analogi dan metafor) dari satu bidang ke bidang lain, dalam hal ini dari medis atau psikologis ke sosial politik adalah hal yang biasa dalam berbahasa.


Yang membuat komunitas kami “keberatan” atas pemakaian analogi tersebut, bukan karena masalah biasa atau tidak biasa, wajar atau tidak wajar, bukan juga masalah sensitivitas perasaan kami sebagai orang tua, tapi lebih ke arah pemikiran akan “dampak negatif” yang akan timbul di masyarakat untuk masa mendatang terutama bagi kehidupan masa depan anak-anak kami.


Sebagai moderator mailing list selama bertahun-tahun, saya tahu benar bahwa selama ini orang tua berjuang habis-habisan demi membantu anak-anak kami berkembang menjadi pribadi yang mandiri, punya empati, sekaligus tahu norma dan aturan.


Komunitas kami juga berjuang melakukan kegiatan Kampanye Peduli Autisme dengan harapan agar anak/individu autistik dapat diterima oleh masyarakat sebagai suatu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat umumnya. Kami bersusah payah melakukan usaha sosialisasi untuk menyadarkan masyarakat agar dapat menerima anak/individu autistik apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dan tidak menjadikan kondisi Autisme sebagai bahan olok-olok.


Di bawah ini adalah beberapa kasus tulisan:


1. Tanggal 2 Mei 2003, Prof. Mohamad Soerjani, staff Institute for Environmental Education and Development, di Harian Sinar Harapan.
Tulisan berjudul “Autisme Sosial: “Penyakit” Ketidakpedulian di Kalangan
Masyarakat”.


2. Tanggal 22 April 2005, Bapak Dedi Haryadi, aktifis LSM Bandung Institute of Governance Studies/BIGS, di Harian Pikiran Rakyat. Tulisan berjudul “Parpol dan Parlemen yang Autis”.


3. Tanggal 21 April 2008, Bapak Bima Arya Sugiarto, Direktur Eksekutif The Lead Institute Universitas Paramadina di Harian Kompas. Tulisan berjudul “Parpol Idap Autisme Sosial”.


4. Tanggal 18 Agustus 2008, Bapak Hisyam Haikal, di Surat Pembaca Detik.com. Tulisan berjudul “Autisme melanda seluruh negeri”.


Harapan kami, dengan himbauan ini mudah-mudahan tidak akan ada lagi yang menggunakan kata atau kondisi Autisme sebagai analogi dalam konotasi negatif untuk konsumsi publik di Media manapun. Dan kami akan terus konsisten melakukan surat himbauan semacam ini pada siapapun yang menggunakan kata “Autisme” sebagai analogi dalam konotasi negatif.


Sebagai mahluk ciptaan Tuhan, kami selalu berpendapat bahwa masing-masing individu pasti mempunyai sisi kelemahan sekaligus kelebihan, begitu juga anak/individu penyandang autistik ataupun anak berkebutuhan khusus lainnya, dan itu semua patut kita terima sekaligus hargai.


Semoga Tuhan selalu memberi kekuatan pada orang tua yang dianugerahi anak penyandang spektrum Autisme.


Terima kasih atas perhatian Anda.


Salam Penuh Empati,

Atas nama Komunitas Autisme Puterakembara
Leny Marijani

ARTIKEL ASLI DI SINI

MASIH ADAKAH SIMPATI KITA UNTUK ANAK-ANAK YANG TERLUKA ITU?

25 Comments

betul banget, kasihan juga anak dan ortunya takutnya mereka jadi ga PD untuk berinteraksi dengan lingkungan…..semoga aja masyarakat bisa membaca hal seperti ini…karena lingkungan sekitar akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak itus endiri

omiyan´s last blog post..SMS Cinta # 9 Tahun Lalu

iaiaiaia….
betul banget,padahal autis bukan lah suatu penghalang untuk mejadi sukses,tapi faktor lingkunagan biasanya yang membuat penderita autis menjadi merasa terpojokkan,padahal jika mereka sdar dan tau tentang,apa yang di maksud denagan autis..
mereka baru dapat bersukur karna mereka hidup sempurna,,,
dan autis pun bukan lah suatu penghalang untuk bisa bersaing dengan anak yang sempurna atau normal,,banyak di luar sana anak autis yag berkembang dan dapat membiayai hidupnya sendiri,,,
semoga saja mereka sadar bahwa autis bukan lah penghalang untuk berkembang,,,,,,,,,,

Penggunaan kata ini secara menyimpang memang sering muncul dibeberapa media cetak maupun TV, dan justru dilakukan oleh orang – orang yang sebetulnya berpendidikan. Memalukan!!!

Sebelum ini, kata yang sering digunakan adalah; idiot dan moron.

Iya ya EM …
Kok jadi di”plintir” begitu ya …
Kesannya malah jadi negatif

Bagaimana perasaan penderita Autism / Orang tua penderita itu jika di analogi kan seperti itu …

hhhmm

Salam saya EM

nh18´s last blog post..TERMEHEK-MEHEK

Anak Autis jika mendapatkan pelatihan, pengarahan akan berkembang menjadi anak yang hebat, mereka menang pada konsentrasi.. Anak autis kebanyakan hebat dari sisi sains dan seni.

Anak autis ada miripnya dengan anak indigo, saya pernah mengikuti seminar tentang ini, pembicara melakukan penelitian pada anak autis dan indigo:
Bedanya…anak autis akan keras dalam mempertahankan pendapat, sehingga terlihat seperti keras kepala. Sedangkan anak indigo, karena sensitivitynya tinggi (dia bisa merasakan orang yang diajak ngomong senang atau sama minatnya/tidak dengan dia) maka kalau tak suka lebih baik pergi (menghindar).

Pemahaman kita masih kurang terhadap anak yang punya “keistimewaan” ini, padahal mereka hanya berbeda….Saya sependapat Imel, mereka bukan buat olok-olok…

edratna´s last blog post..Bagaimana agar saya bisa mencapai target bisnis?

Benar bu, tapi terus terang saya baru dapat istilah indigo itu dari ibu, Mungkin adik saya itu lebih condong ke indigo daripada autis. Di Jepang tidak ada istilah Indigo atau mungkin lebih spesifik lagi istilahnya sehingga jarang diketahui umum. Kalau autis 自閉症(じへいしょう、Autism) memang hampir semua tahu. Ada juga yang lebih spesifik spt ADHD, kebetulan teman saya anaknya ADHD, dan hanya bisa di treat di Amerika, belum ada yang khusus ADHD di Jepang.
EM

Setuju sm pendapatnya Deden, entah apa yg ada di pikiran orang-orang “berpendidikan” itu, krn mereka dengan bangganya menulis hal-hal seeprti itu, yang kadang mengundang pertanyaan “sebenernya ngerti gk sih?”

Padahal anak2 itu kan hanya perlu dimengerti, karena pemahaman masyarakat aja yang kurang ttg autisme dan ditambah lg “pendidikan yang salah” dari para “orang pintar tersebut” jd makin negatif…

peace out 😀

-Wita-

Ada cendrungan masyarakat memberes orang-orang yang ada perbedaan dengan kata yang menunjukkan suatu penyakit.
Sekarang di sini sering muncul kata depression juga.
Siapa pun ada saat-saat yang kurang semangat dll, seperti gejala depression, sementara belum tentu benar-benar sakit.
Tapi kalau orang yang lagi kurang semangat dianggap sebagai penderita depression, bisa jadi orang itu juga mengira dirinya sakit sehingga benar-benar sakit.
Itu bahaya sekali.

Kecenderungan penyalahgunaan istilah kan memang kerap terjadi. Sehingga menjadi salah kaprah dan tidak pada tempatnya. Ironisnya itu “dikampanyekan” secara kolektif. Terjadi pergeseran makna.

Yang mengibakan: bahasa menunjukkan bangsa. Jadi?

Daniel Mahendra´s last blog post..Road To Sydney

Mbak, jujur aku dan teman-teman kerap menggunakan saling berolok-olok menggunakan kata Autis, ini semata untuk menggambarkan kejengkelan mereka, pada saat aku sedang kosentrasi tinggi dengan apa yang sedang kuhadapi, entah buku, film, komputer, dll, sehingga benar-benar tak mendengar dan tak merasakan apa pun yang ada di sekitarku. Kami tak tahu, istilah apa yang paling enak diucapkan dan paling tepat untuk menggambarkan situasi itu. Mungkin Daniel bisa membantu kali ya?

##

Salut, mbak memuat artikel ini. Merasa diingatkan. 🙂

Yoga´s last blog post..Ketika Wain Besar Surut

menggugah jiwa ni mbak

” Sebagai mahluk ciptaan Tuhan, kami selalu berpendapat bahwa masing-masing individu pasti mempunyai sisi kelemahan sekaligus kelebihan, begitu juga anak/individu penyandang autistik ataupun anak berkebutuhan khusus lainnya, dan itu semua patut kita terima sekaligus hargai.”

bagi mbak link ya
kirim ke E-mail saya

terima kasih telah mengunjungi blog saya

“bagiku amalku, bagimu amalmu”

“Ya Allah, tempatkan dunia di tanganku, bukan di hatiku”

basir´s last blog post..Siapa sih Che Guevara itu?

Makasi infonya EM. Ini masa ketika saya hiatus, jadi ga sempet baca… Menyesal deh dan minta maap untuk siapa saja yg merasa tersinggung.

Ternyata hati ga bisa bohong ya EM. Udah ga enak dari pertama kalinya. Mo nyantumin kata ini apa ngga di postinganku.

Ternyata ngeblog banyak untungnya daripada hiatus…

mbak terima kasih atas pencerahannya,, maaf atas penyimpangan penggunaan kata autis,,

mbak, URL nya aku share di blog ku yah,, thank’s

Sy mahasiswi psikologi UIN Malang yg sdang mnyelesaikan skripsi dngn judul “Peran Orangtua Dalam Membimbing Anak Autis Memasuki Usia Pubertas. Sy mmbutuhkan responden ato alamat tmpt perkumpulan ortu penyandang autis ato sejenisx di wilayah Jatim. Bsa jg klo da yg berminat jd responden dngan sukarela sy akan sngt2 berterima kasih

yupp ..
aku suka banget sama tulisan ini ..
anak autis itu , hanya perlu di beri perhatian lebih oleh orang tua dan sedikit terapi oleh ahli psikoterapi ..
dan ..
WOW ..
mereka bisa menjadi anak yang luar biasa , yang tak dapat diduga sebelumnya ..

Bapak2 atau siapa saja yang mengaku elite terpelajar (terlihat dari gelarnya ???), tp menyalahgunakan kata Autis/autisme sebagai “kata” untuk menggambarkan sesuatu bersifat negatif, agar berkaca dan malu dengan dirinya yg “normal???” itu.
saya adalah ortu dari anak penderita autis, mengajak agar semua pihak mau sedikit berempati dengan para penyandang Autis.
Alih-alih berempati malah memperparah penyandang autis dengan kata/kalimat yang menyudutkan dan memberi kiasan Negatif kepada anak2 kami.
semoga tulisan di atas dapat bermanfaat bagi kita semua… amien

Kata “autis” sekarang sepertinya malah jd bagian dr bahasa gaulnya remaja.. Tempo hari saya nemu semacam kamus gaul/utk smsan gitu yg dikeluarin oleh slh satu provider GSM, dan di situ ikut tercantum kata ‘autis’ utk gambarin keadaan ‘ga mau diganggu’, ‘lagi pengen sendiri’, atau ‘ga punya reaksi’.
Jadi, jelas bhw emang udah ada pergeseran atau penambahan makna yg terjadi, autis skrg jd semacam kata kiasan gitu. Perkembangan bahasa yg menyedihkan ya..

Looh Mba Imel… saya kemana aja ya? kok baru tau kata “autis” itu ternyata banyak digunakan oleh orang2 “pinter”… saya baru sadar loh beneran…
krn yg sering kudengar yah dikalangan drg ajah…

ini thn 2008.
skrg kok malah semakin marak yah?

repost aja MBa Imel… spread the words…
for the love of others…

thank you Mba Imelda..

Barusan dari blognya Mbak Thia, nemu link ini. Ternyata ini tulisan lama ya Mbak? Ijin saya pasang di fb saya ya Mbak Imelda.. Terimakasih.. Salam dari jawa timur..

jadi pengen ngasih link ini ke blogger itu tapi …
ya sudahlah, semoga Tuhan menjamah hatinya
dan menggiringnya pada tulisan2 seperti ini
agar kedepannya dia bisa menahan diri untuk melempar joke2 yang tak pantas di dengar itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :
Previous Post :