Hubungan Indonesia Jepang

Hubungan Indonesia Jepang

Tahun 2008 ini, Indonesia dan Jepang memperingati 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia Jepang, yang dirayakan dengan bermacam kegiatan baik di Indonesia dan di Jepang sendiri. Hampir sebulan lalu saya membaca juga laporan dari Mang Kumlod yang menceritakan tentang JI Expo di Jakarta, atau dengan kegiatan Javarizm oleh anak-anak muda Indonesia di Tokyo. Bahkan kegiatan dalam satu tahun ini diawali dengan penandatanganan EPA, dengan program utamanya mendatangkan perawat/pramurukti ke Jepang, yang pernah saya posting di sini.

Tahun 2008 hampir habis, dan sebelum habis saya ingin share kan satu koleksi saya dalam memperingati 50 tahun hubungan Indonesia Jepang, yaitu perangko khusus yang diterbitkan di dua negara bersamaan dengan latar yang berbeda. Di Jepang berlatar Candi Prambanan, sedangkan yang di Indonesia berlatar Pagoda di Kyoto.

Nominalnya 80 Yen, harga standar untuk mengirim surat dalam amplop tertutup di dalam negeri Jepang untuk berat tertentu. Dua gambar bersandingan, paling atas adalah Danau Kelimutu dan gunung Fuji, Kemudian Borobudur dan pagoda 5 tingkat Kyoto, Bunga Raflesia dan Bunga Sakura, Angklung dan Koto, dan terakhir Arwana bersanding dnegan Ikan Koi.

Sedangkan di Indonesia nominalnya adalah Rp.2500. Hmmm kalau yang diterbitkan di Jepang sih punya, tapi saya masih harus hunting dengan terbitan yang di Indonesia. Rp 2500 bisa ya untuk kirim surat di Indonesia? saya benar-benar ngga ngerti harga euy. Mungkin sekarang kalau kebetulan di Indonesia saya lebih sering terima surat dengan tiki atau yang diantar sendiri…… (kapan sih kamu terima surat mel —apalagi surat cinta — hehhehe) Sekarang jaman sms dan internet sih, perangko menjadi barang langka. Tapi, meskipun frekuensi membeli perangko sudah semakin berkurang, saya akan tetap mengumpulkan perangko sampai saya mati mungkin. Satu-satunya hobi yang saya tekuni sejak kelas 4 SD.

Mel, kamu kalau mau mempunyai hobi, lebih baik coba mengumpulkan perangko. Mama dulu punya teman yang suaminya suka sekali mengumpulkan perangko. Dia sendiri tidak tahu apa-apa tentang perangko. Yang dia tahu suaminya menghamburkan uang untuk sepotong kertas. Tapi waktu suaminya meninggal, ada kolektor perangko yang mencari koleksi suaminya. Si istri memperlihatkan koleksi suaminya, dan si kolektor berkata bahwa koleksi suaminya amat jarang, dan berharga mahal. Untung si kolektor ini orang yang jujur, semua koleksi suaminya akhirnya dapat terjual dengan harga yang tinggi, dan si istri menyadari bahwa suaminya telah meninggalkan warisan yang amat berharga. (Percakapan mama dengan imelda kecil usia SD)

Mama dan papa masing-masing punya beberapa koleksi perangko jaman perang, yang tidak pernah dia ijinkan saya menyentuhnya (untung saja karena jika waktu itu  diberikan pada saya  pasti sudah hilang. tapi sekarang buku album mama/papa ada di mana ma?pa? hihihi) Buku koleksi saya sekarang sebagian besar masih ada di Jakarta, dan semoga tidak ada yang “berani” menyentuhnya.

15 Comments

Waks, maaf mbak, aku nggak up date soal perangko itu. Setelah chatt kita dulu, aku tak punya kesempatan ke kantor pos. Sabtu kemarin sebenarnya sudah susun jadwal ke kantor pos besar, tapi ternyata, bentrok dengan jadwal dokter, sementara lokasi keduanya berjauhan. Besok, aku kabari ya, moga-moga ada kabar baik 🙂

Nganu, kalau boleh usul perangko Indo yang terbit di Jepang diganti jadi gambar para Ju Gun Ianfu aja huahuaua sedangkan perangko Jepang yang terbit di Indonesia digambari Geisha..

Eh tapi jangan juga ah takut kena UU Pornografi 🙂

Hai EM,
Boleh cerita ga, pengen tau posisi Indonesia di mata orang Jepang pada ulangtahun ke 50 hubungan diplomatiknya. Di Indonesia keknya seru, tapi kalau di Jepang sendiri gimana? Jangan-jangan biasa aja hihihi…8x

Eh, saya pernah baca di mana ya? Di sini bukan ya, mengenai harajuku yang kostumnya menggunakan motif batik. Apa ini menunjukkan bahwa mereka sangat senang bertemen dengan Indonesia?

Bagus lah kalau begitu. Meskipun pernah menjajah, I love Jepang, after all.

mang kumlod´s last blog post..Mengkista

Saya dulu pas SD sempet ngumpulin satu album mba, tapi pas SMP sudah mulai meninggalkan kebiasaan itu. Juga kebiasaan menulis surat pada sahabat pena (yang alamatnya didapat dari Majalah Bobo, lho??? hahaha. iya betul).

Saya tertegun melihat gambar Raflessia Arnoldynya… aaaarghhhh….. kereeeennn…. -japs-

japs´s last blog post..Selamat Hari Raya Idul Adha, Sahabat

ahhh japs memang pencinta bunga. Very romantic person.
Salam buat si Langit ya
EM

wah, siapa pula yang masih memakai perangko ya?
mungkin pelamar kerja yang masih menggunakan jasa pak pos, meskipun sebentar lagi pasti akan terhapus juga. dengan sistem rekrutmen on line, tugas pak pos pasti terus berkurang.

btw, menarik juga tuh pertanyaan mang kumlod tentang posisi orang indonesia di mata orang jepang. apakah masih ada pasar tong-tong seperti di belanda?

Hery Azwan´s last blog post..Setahun Ngeblog

wua..filateli, jadi inget waktu kecil dulu, kakak fi sampe punya album khusus perangko, hehe..
tapi sukaa banget, kalo ada launching2 koleksian perangko bgitu, cakep2 desainnya, apalagi jika sebuah kumpulan perangko juga bisa menjadi simbol persahabatan dua negara yah..cool..!! 🙂

Waktu SD aku rajin juga mengumpulkan perangko, dari berbagai negara. Apalagi salah satu TKK (Tanda Kecakapan Khusus) di Pramuka ada ‘pengumpul perangko’. Jadi makin gemar saja.

Tapi begitu memasuki SMP, album-album perangkoku malah raib. Entah kemana. Nyesel juga. Jadinya hobi mengumpulkan pun berpindah ke hal lain. Mengumpulkan sesuatu yang lain (ehem!). Hihihi.

Sudah berapa ribu koleksinya?

Daniel Mahendra´s last blog post..Sudah Adakah Perpustakaan di Rumah Kalian?

ohaiyo gozaimasu, genki desu ka

saya dulu sma ngambil jurusan bahasa [pare dai ichi koutogakko]
tiap hari belajar bahasa jepang
juga nulis hiragana,katakana,kanji tapi sekarang udah lupa 😥

dulu saya punya mimpi bisa kerja di jepang, tapi gagal hiks..hiks..
mungkin sudah jalan dari Tuhan.

sekarang berdiri tegak dan tersenyum 🙂

septa´s last blog post..seulas SENYUM misterius

Kadang-kadang di lantai rumah mbak, prangko terjatuh.
Dan kayaknya kebanyakan itu prangko bekas.
Tapi karena gambarnya menarik semua dan saya tahu hobi mbak itu, saya memungutnya lantas menempelkannya ke dinding dengan magnet.
Untung sekali saya bisa punya kesempatan untuk melihat prangko Indonesia.

Jaman web 2.0 kayak gini, apa masih ada filateli? Kalau pun ada, usul aja gambar temanya pake tampilan blog aja. Jadi blog blogerbloger terkenal tuh yang ditampilkan. Habis itu blog blogerbloger yang tidak terkenal, lalu blognya tukang filateli. Cuma, mikir saja apa yang dikerjakan para kolektor perangko nanti ya? Ah, mungkin dia bisa tuh koleksi gambar blogblog terkini. Tapi, duapuluh tahun dari sekarang, apa masih ada ya tampilan blog macam ini?

O,ya salam mampir.

Himawan Pridityo´s last blog post..The Chemistry of Love

Filateli ya?
Aku nggak pernah punya koleksi perangko, tapi koleksi kertas surat.. hehehe…

Mbak Pit dulu punya satu album yang isinya perangko-perangko kuno sampai terkini (jaman aku SD sih), karena dia dulu ikutan Pramuka..
Sekarang entah di mana tuh…
Memang nggak terlalu hobi kali ya…

Lala´s last blog post..do you know where you’re going to?

aku? apa sih ngga aku koleksi… ikutan istilahnya om…aku si pemulung kok
kertas surat? hayuk…. kartu pos hayukkk (dari yang baru sampai bekas, kiriman papa kalo dia ke LN), apalagi? tissue restoran? korek api?
Cuman cowo aja aku ngga koleksi, seleksinya ketat sih. (banyak yg ngga memenuhi syarat gitchuuu hihihi)
EM

Hihihi…
Masa sih nggak ada koleksi cowok? Secara dirimu penuh dengan pesona begituhhh… Nggak percaya ah..
Ayo, cepet buka gudangnya! Jangan-jangan mereka semua diumpetin di situ! hihihi….

Lala´s last blog post..The Wedding & I

Aduuuuh La, jangan buka gudangnya, nanti selain cowok, keluar juga kecoak, tikus dan kelelawar gimana?
EM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :
Previous Post :