Waktunya sudah dekat

Waktu saya ganti pesawat di Changi Airport yang keren itu, Riku bertanya,

“Ma? kok udah natal? Halloween mana?”
“Ya Riku, Halloween sudah lewat dan sekarang sudah bulan November. Jadi semua orang persiapkan Natal”
“Asyiiiiikk, Besok Natal? Aku mau minta …. bla bla bla untuk kado natal”
“Eh… bukan besok dong. Masih lama kok. Tapi memang sudah banyak hiasan Natal di sini ya”
“Nanti pulang ke rumah kita pasang pohon Natal ya?”
“Hmmmm belum. Nanti kalau sudah desember ya!”
“Aku mau kado Natal ke Disneyland ya…..”
” Nanti tanya papa….”

Well, memang di Changi sudah banyak hiasan ornament Natal. Di toko-toko buku sudah banyak dijual kartu Natal. Iklan-iklan kado Natal … Untungnya belum terdengar lagu Natal. No…please jangan dulu dong. Sebetulnya masa Adven saja yang merupakan satu bulan persiapan untuk Natal saja belum mulai, jadi sebetulnya tidak “pantas” menghias tempat-tempat dengan dekorasi Natal. Tapi memang komersialisme sudah menguasai event-event religious sehingga rasanya semakin lama semakin dini event religious itu dimulai.

Waktu saya berbelanja di suatu mall hari Kamis lalu, telinga saya menangkap musik yang ramah di telinga. OMG lagu Natal….. please dong…. belum waktunya. Bagaimana mau dreaming of White Christmas, kalau coat saja belum dipakai. Apalgi kalau putar lagu O Holy Night…. aduhhhhh masih 1,5 bulan lagi loh mas, mbak, bang, bu, pak sapa saja deh yang menyuruh pegawainya putar lagu Natal. Memang orang Jepang yang boleh dikatakan “tidak beragama” itu mungkin tidak mengerti arti lagu-lagu bahasa Inggris itu, atau tidak memperhatikan unsur religi di dalamnya. Tapi jangan dong…..  Well, THIS IS JAPAN imelda…. you have to accept it.

Tapi memang untuk menyambut hari suci itu, kita perlu mempersiapkan diri. Sama seperti umat Islam yang berpuasa dalam Ramadhan, umat kristen juga mempunyai masa Advent, selama sebulan, untuk mempersiapkan hati menyambut kedatangan bayi Yesus (yang sebtulnya hari ultahnya tidak harus tgl 25 desember sih) . Jika mungkin teman-teman pernah memperhatikan hiasan berbentuk lingkaran (biasanya terbuat dari kayu, daun atau yang modern dari lampu) dipasang di pintu rumah.  (Christmas Wreaths atau bahasa pak Grandis “couronne de bienvenue” atau “couronnes de Noël”) Ini adalah tanda bahwa kita sudah memasuki masa Advent. (Meskipun begitu saya melihat ada rumah di Jepang yang pasang wreaths atau bahasa Japlishnya RIISU ini sepanjang tahun). Dan berbicara mengenai persiapan,  KMKI yang merupakan singkatan dari Keluarga Masyarakat Kristen Indonesia sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan sebuah acara natal dengan artis dari Indonesia. Sudah 3 tahun, kami di sini merayakan Natal yang amat sangat sederhana, tanpa dihibur artis. Sebelumnya sudah hadir penyanyi kaliber “kakap” seperti Ruth Sahanaya, Glenn Fredly, Katon Bagaskara, Grace Simon, dsb. Dan kali ini panitia akan “mendatangkan” penyanyi Rio Febrian untuk bernyanyi dalam acara perayaan Natal. Tahun ini pula pertama kalinya kami tidak memakai Aula Sekolah Republik Indonesia, karena konon kabarnya gedung tersebut akan diperbaiki. Acara Natal KMKI 2008 ini akan diadakan tanggal 13 Desember 2008, dan untuk keterangan bisa klik di website KMKI (http://kmki-jepang.com). Panitia sedang berusaha keras untuk membuat memorable christmas, untuk warga Indonesia yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya. Saya sendiri kali ini absen dalam kepanitiaan karena ternyata sulit sekali membawa dua balita menghadiri rapat-rapat. Jadi bantunya jarak jauh deh (internet dan doa heheheh).

Jadi untuk yang punya teman-teman yang tinggal di sekitar Kanto (Tokyo, Chiba, Yokohama, Saitama dan sekitarnya) bersiaplah untuk datang jauh-jauh hari. Kita akan KOPDAR di sana juga ya hehehe.

13 gagasan untuk “Waktunya sudah dekat

  1. Lala

    Kirain ceritanya tentang apaan, Sis… Taunya tentang Christmas tho.. 🙂

    Di Supermal yang dekat rumahku sudah dipasangi banyak hiasan natal, jadi demamnya sudah terasa banget…

    I always love Christmas, Sis.
    Soalnya suasana jadi joyful..
    Banyak lampu-lampu…
    Dan itu lho, film-film di televisi itu banyak menayangkan film dengan nuansa natal yang biasanya so very good… Jadi makin betah di depan televisi..

    Balas
  2. kartiko

    mmm.. Konsep “orang jepang tidak beragama / tidak punya agama” ini yg sampai skg masih membingungkan aku mbak..
    dan itupun org jepang sendiri yang bilang. Maksudnya Atheis gitu ya??? Soalnya waktu SD katanya guru SD, agamanya org jepang itu Shinto atau dewa matahari ?? Mhn pencerahan..

    Balas
  3. Hery Azwan

    Iya nih, pertanyaan Kartiko perlu dijawab tuntas tas tas…
    Btw, emang agama supermarket itu lebih dominan saat ini. Natal masih jauh sudah rame duluan. Lebaran masih jauh, udah heboh duluan. Yang penting laris manis…

    Balas
  4. Piyek

    Sebagian orang sering terjebak dengan sesuatu yang sifatnya seremonial sehingga melupakan esensi yang sesungguhnya.

    Makanya aku jarang menghadiri perayaan2 Natal. Apalagi yang panitianya jor-joran menggalang dana. Tahun lalu trend-nya mendatangkan artis2 ibukota, 2 tahun yang lalu musim siapa-yang-punya-doorprize-paling-wah. Padahal, kalo dikalkulasi, uang yang dikeluarkan untuk perayaan2 itu cukup besar untuk disumbangkan ke orang2 yang tak mampu secara finansial untuk merayakan Natal.

    (Waduh, kok jadi emosi ya.. Hahaha! Sori mbak Imelda, diriku numpang curhat :D)

    Balas
  5. Melati

    Ternyata bandara Cangi juga sudah banyak hiasan natal.
    Entar mbak membongkar aja bahwa bagi orang Jepang umum hari natal sama dengan hari pacaran.
    ( Minta maaf pada umat Kristen. Bukannya saya bermaksud jahat. Dan bukan gue lho yang punya kebiasaan itu!)

    Mbak, terima kasih ya hari ini.
    Hati saya cerah jadinya.
    Bersemangat kembali juga.

    Balas
  6. Yoga

    Masih 1,5 bulan lagi… nggak cuma Natal mbak, saat lebaran kemarin aku amati, toko-toko sudah gencar promosi bahkan jauh hari sebelum Ramadhan. Mungkin mereka menganut falsafah lebih cepat promo lebih baik,yang belakangan promo disebut follower.

    Ada baiknya sih, dengan persiapan lebih awal, ibadah jadi lebih tenang.

    Balas
  7. Yulis

    Wah Rio Febrian, suka banget aku. Jadi ingat pas lebaran sekitar 4 atau lima tahun lalu juga dibulan Desember. Kasian banget bagian Dekorasi hotel. Baru pasang onta dan Bedug di Lobby dan hanya seminggu sudah harus ganti dengan Pohon Natal dan pernak-perniknya dalam semalam.

    Di CO belum kelihatan ada yang mendekor rumahnya. Tapi kalau sudah bulan Desember memang meriah sekali, lampu hias tidak hanya menghiasi rumah tetapi juga taman umum dan halaman.. 😛 thanks

    Balas
  8. edratna

    Orang bisnis selalu memanfaatkan peluang…bukan hal aneh jika dalam business plan…penjualan saat Lebaran, Natal dan bulan-bulan tertentu diperkirakan naik karena ada event2 tsb.

    Karena pernah hidup di asrama, yang selalu merayakan hari Raya setiap penghuninya… saya terbiasa merayakan acara2 keagamaan di asrama, termasuk perayaan Natal, yang umumnya di lakukan mulai tanggal 5 Desember ke atas. Membaca cerita EM, saya jadi paham kenapa dirayakannya awal desember…bukan sesudah Natal.

    hmmm sebetulnya soal dirayakan awal desember bukan sesudah natal karena unsur praktis aja bu. karena ada tahun baru juga kan
    Tapi kalau di agama katolik sebetulnya tidak boleh merayakan natal dalam masa advent, karena di masa adven kita harus prihatin. Jadi agama katolik pasti membuat pesta sesudah tgl 25 sampai sebelum tanggal 12 Januari (epifani)
    gitu bu

    EM

    Balas
  9. Andhi Marjono

    Makasih Mbak Imelda atas bantuan woro-woro nya.
    Mbak Imelda ini penasihat utama Natal tahun ini, makasih dah meluangkan waktu untuk kasih petuah-petuah demi kelancaran Christmas with LOVE.

    no problem at all Andhi. Malah saya minta maaf tidak bisa aktif bantu yang lain. Untuk datang hari H nya juga sulit kayaknya
    EM

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *