Mana pasanganku?

Mana pasanganku?

Masih cerita dari Hari Olahraganya Riku. Saya merasa lucu mendengar satu pengumuman pada waktu acara istirahat yang disampaikan lewat pengeras suara, “Telah ditemukan sebelah sepatu olahraga, berwarna biru dengan nama xYx san. Harap diambil di sekretariat”. Sambil saya membayangkan tentu anak itu sekarang sedang kebingungan mencari pasangan sepatunya, dan dengan berjingkat-jingkat mungkin . Dan untung saja di Jepang memang untuk anak TK/SD mempunyai kebiasaan menuliskan nama dan kelasnya di setiap barang miliknya. Jadi dengan mudah bisa mengenali dan mencari pasangan sepatunya yang hilang tadi.

Saya sendiri pernah mengalami “kehilangan pasangan” sepatu. Tentu saja setelah dewasa dan kejadiannya di Jepang. Tepatnya di stasiun. Jika Anda pernah naik kereta api, biasanya di antara badan kereta dan peron, pasti ada ruang space, dan terkadang cukup lebar. Saya memang penakut, sehingga saya selalu merasa gamang setiap turun dari kereta. Waktu itu saya sedang pergi dengan alm. Ratih dan terjadilah kecelakaan itu. Sepatu pantofel yang saya pakai, sebelah kanan jatuh di sela-sela kereta dan peron. Untung kejadiannya di terminal akhir di Shibuya. Tapi berarti juga paling sibuk dan paling banyak orang lalu lalang. Saya panik dan tentu saja malu… bagaimana nih saya pulang…atau bagaimana saya mengambil sepatu saya yang ada di dekat roda kereta itu. Sambil berjingkat-jingkat saya terpaksa menunggu di pinggiran setasiun, dan Ratih memanggil petugas stasiun, memberitahukan kejadian itu. Saya juga sempat berpikir, bagaimana ya petugas itu bisa ambil sepatu saya? Ternyata kejadian seperti ini sering terjadi, sehingga di setiap stasiun tersedia pencapit panjang, sehingga petugas tidak usah turun ke rel kereta. Sialnya saya harus menunggu kereta itu untuk pergi (berangkat) dari stasiun itu. Dan itu cukup lama…20 menit…. Manyun deh.

Akhirnya segera setelah kereta berangkat, petugas ambil sebelah sepatu saya, dan kita bisa melanjutkan perjalanan. Sambil saya bersyukur, sepatu itu tidak terlindas kereta, sehingga masih bisa dipakai. Kalau tidak???? terpaksa harus beli sepatu baru, yang sizenya belum tentu ada di toko sepatu biasa….hiks (dasar kaki gajah… ukuran max sepatu wanita di Jepang adalah 24,5). Dan sodara-sodara waktu saya cari gambar pencapit di sebelah kiri ini…. saya terkejut-kejut mengetahui bahwa barang ini yang disebut “Tangan Magic Petugas Stasiun” dijual dengan harga 31.290 YEN saja….. bueh sapa yang beli ya? dan apa ada yang mau beli?????

Dan sebetulnya saya juga punya koleksi sesuatu yang tidak berpasangan, jadi hanya ada sebelah saja… mau dibuang sayang sekali apalagi kalau mahal. Meskipun tidak bisa dipakai sebelah saja, kecuali mau dibilang nyentrik…. Nah, apalah benda itu? Saya mau kasih sayembara ah…. Nanti saya akan kirim hadiah kepada 3 penjawab yang benar hehehe.

Apakah teman-teman punya cerita “memalukan” seperti saya?  Share dong hihihihi.

(diposting dari Sendai, Miyagi, Jepang Utara…yang belum berubah warna dedaunannya….)

17 Comments

Hai Mbak selamat pagi (di Indonesia)…
Sesuatu yang memalukan? Sampai lupa apa saja ya yang pernah saya alami, rasanya banyak habis sudah bawaan saya, malu-maluin hehehehe….

Alat itu seperti yang ada di toko-toko di Pasar, buat mengambil baju dari gantungan yang letaknya tinggi, tapi kalau nyari itu di Stasiun Gambir, rasanya nggak bakalan ada.

Lantas koleksi yang mestinya berpasangan tapi nggak lengkap, dibuang sayang, apalagi kalau mahal… kalau wanita sih biasanya anting, apalagi kalau terbuat dari emas dihias berlian atau batu mulia lain, biarpun tinggal satu nggak bakalan dibuang deh.

Udah ya mbak, selamat berkarya!

Aih masa Yoga bawaannya malu-maluin….Masa alat capit seperti gitu sih di Pasar? Kayaknya lebih tradisional seperti tongkat tinggi yang ditancapkan beberapa paku aja deh …..
EM

hahahaaa…
Teringat waktu sma, ngerjain teman yg ultah,Namanya Sari. Saya ngado sandal hanya sebelah. Setelah berselang dua hari ,yg sebelah lagi saya berikan. Dia marah(menyesal), karena yg sebelah udah dia buang,sorry Sari, dimanakah kau berada ? 🙁

Naaaaaah Pak Amin jahil juga ya….
EM

hehehehehe, waktu smu saya pernah isengin temen dgn nyembunyiin sepatunya, di tempat sampah kelas, pas balik lagi tempat sampahnya udah diambil petugas kebersihan sekolah ….. hiks jadi gantiin sepatunya deh… walau temen akhirnya ketawa2

Makanyaaaaaaaaaaaaa jangan jahil…..heheheh
buntung kan jadinya
EM

Sesuatu yang tidak berpasangan … tapi sayang dibuang ??
Anting-anting keknya … (hehehhee)

BTW ini mirip cerita sandal kanan ku yang ketinggalan di lapangan bola parkiran sekolah anakku …
hehehe … bedanya … sepatu kananmu tidak kelindes kereta … kalau Drs. Sandal Kananku terlindas mobilku …

hehehe

Iya aku udah tau cerita yang itu… kan kejadian sama juga dnegan aku. But itu masih bisa ditutup-tutupi sendiri. paling ketawa sendiri. Kalau ini di tempat umum …hiks (BTW emang ngga kerasa wkatu melindas Mr Sandal?)
EM

Anting…
Sarung tangan…
Kaos kaki dari sutra.. *halah* 😀

Pengalaman memalukan?

Pas maen ke DUFAN, nonton bioskop 3D yang kursinya bisa goyang dombret… pas lagi ngantri… karena asyik becandaan sama GangGila… sandal sebelah kiri meluncur jauh ke bawah kursi (padahal kerangka kursinya kan dari besi-besi berongga gitu alias susah boww ngambilnya!)

Dengan amat sangat terpaksa…

Film ditunda sebentar…
Karena si Mbak-Masnya.. sibuk ngambilin sandal si Eneng Gendut yang matanya udah berkaca-kaca…
HAHAHA

weleh kamu sampai membuat semua harus menunggu kamu?????
untung aku tidak merugikan orang lain hehhehe.
EM

Iyuuu…. haaa…, lama amat aku dalam perjalanan ke rumahmu Tante Imelda, sampai-sampai minat bacaku hilang ditelan kantuk selama meng”KAI” meskipun akhirnya aku sampai dengan selamat ke”RIKU” negeri matahari ini. Lho!… mana pasanganku????? Opaaaa!!!

Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuu Sadam….. tossssss. akhirnya sampai ke rumah tante lagi.
tapi …tapi…. kok cuman sebentar. Lain kali datangnya dari pagi ya supaya bisa lama bermain sama Kai dan Riku. OK
muwaaaahhhhh . (sambil meluncur ke PekanBaru)
EM

Ha ha, omoshiroi, tapi kowaineee.
Memang space antara kereta dan platform kadang terlalu besar ya.
Tapi Imelda masih untung sepatunya yang jatuh, temanku ada yang BADANnya jatuh lho.
Ya bukan sampai BADAN tapi KAKInya aja jatuh, untung dia agak besar badannya jadi nggak jatuh sampai seluruh badan, pantatnya jadi stopper hi hi hi.

Iiih ngeri kan kalau jatuh ke situ. Apalagi kalau keretanya sambil bergerak. Bisa jadi Kaeranu hito deh.
Konsep stasiun spt di Mekama Line (Meguro Line sekarang tuh bagus…cuman memang butuh budget yang tidak sedikit… tapi aman)
EM

pengalaman memalukan ? waktu dikerjain teman2 sekantor, trus ditayangin di tipi tempat aku kerja, jadi jutaan mata melihat acara itu, termasuk saudara2ku di kampung.

waaaaah itu sih mah muka mau ditaruh di mana ya?
EM

Hahaha, mbak pernah ya milikmu terjatuh dari peron.
Untung bukan mbak yang terjatuh.
Memang kita harus selalu hati-hati di peron ya.

Kadang saya memang takut kalau saya terperosok ke sela-sela situ.
EM

duh, bu ikkyu ternyata bikin sayembara juga, sayangnya saya ndak pernah punya naluri utk main tebak-tebakan, haks. saya hanya membayangkan betapa barang yang ndak jelas pasangannya itu memiliki kesan tersendiri buat bu ikkyu sehingga jadi sayang utk membuangnya. benda apakah itu? *walah, lha kok malah ganti tanya?*

yang pasti jawabannya bukan COWO pak hehhehe… nanti saya bisikin ya Pak.
EM

Baca komentar di atas jadi geli, ternyata cerita kehilangan anting sebelah bukan hanya terjadi di saya.

Betapa seringnya saya kehilangan anting sebelah…dan pernah yang menemukan rekan pas di tengah-tengah acara meeting…”Mbak, lagi ada mode baru ya, ?” tanyanya sambil senyum-senyum. Saya bingung, lha baju kantor kan cuma blazer hitam, abu-abu, biru, cream… paling ditambah asesoris syal atau bros. Ternyata saya hanya pake anting sebelah, yang satunya hilang kemana…. akibatnya saya kalau beli anting hanya sederhana, dan nggak pake berlian…. hehehe….

Imelda, kalau kaitan seperti itu, dirumahku juga ada, tapi bikin sendiri, maklum rumah kecil, tempat jemuran kecil, dibuat bertumpuk…jadi mesti pakai alat untuk menaikkan dan menurunkan jemuran.

hehehe ibu Enny, ada ada saja….tapi itu buatan sendiri dan harganya tidak semahal di Jepang kan?
EM

Anting2 kayanya yg bisa dpake sebelahan 🙂
Wah, kalau dulu pas jaman kuliah yang rebutan naik bis kampus, sering banget sepatua atau sandal ketinggalan saking semangatnya rebutan naik 😉 .

Duuuh aku ngga mau naik bus pake sandal…. Kalau keinjak sakit rek. Kalau ke Kampus kudu pake sepatu kets. Maklum kampusnya di hutan sih (Depok baru pindah tuh).
EM

Anting-anting ya Kak?… 😛 wah ga bisa bayangin wajah kak Imelda waktu sepatunya lepas. Apalagi jika susah cari ukuran sepatu. Berarti selama ini mesti pesan khusus atau beli di Indo nich kak? thanks

di Tokyo ada toko khusus nomor 25 ke atas, jadi biasanya beli di situ. Kalau di Indo juga jarang ada yang cocok. Dan biasanya tidak enak dipakai jalan. Kalau di Tokyo, syarat utama enak dipakai jalan.
EM

Saya punya pengalaman yang bisa dianggap lucu, sekaligus memalukan. Bukan sepatu hilang sebelah, tetapi hak-nya copot sebelah. Padahal heel itu lumayan tinggi. Supaya tidak menyolok, saya angkat tumit (jinjit) untuk sepatu yang lepas heelnya … hihihi …

aduuuuh mbak….trus jalan jinjitnya berapa lama? saya juga pernah kejadian begitu nanti saya tulis deh mbak, soalnya bener2 memalukan…..

Sesuatu yang tidak berpasangan? Aku!!
Mana pasanganku? Hehe.
Dan untuk itu, adakah “alat pencapit” untuk menemukannya…

Oh-oh!

kamu ya? Nanti aku bawakan capit besar untuk menemukan pasanganmu deh
EM

pengalaman yang memalukan? adaaaaa…
dulu waktu masuk sekolah setelah libur panjang, ceritanya mo gaya pake sepatu “baru” hibahan dari kakak. sebelum libur tuh sepatu ud dicuci dan dijemur. nah, waktu hari H ke sekolah, ud pede pake sepatu baru, ternyata waktu jalan sol yang sebelah terkena gaya gravitasi bumi yang hebat jadi nempel di ubin… huaaa…

hahahahah kalo anak muda sekarang bilang “Kacian deh lu”….
EM

Nte…, ternyata ngunjungi rumahmu via warnet very easy. Asyik nyaksiin kebahagian keluargamu Nte Imelda, very nice…, do’ain keluarga Daffa bisa seperti itu yaaa…
😀 moga-moga Daffa bisa nyampe beneran di Tokyo, 6 bulan yang lalu sebenarnya ada kesempatan mamiku sekolah di Tokyo ( prog. kerja sama UPM dengan Pem. Jepang, tapi karena berbagai hal, dengan sangat kecewa mami terpaksa mengabaikaaany… hik..hik..

Yahhhh sayang banget tuh…. kalo bisa ke Tokyo kan pasti bisa ketemu.
Nanti kapan kapan kalo ada lagi kesempatannya ya. Dan jangan lupa kasih tahu
EM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

  Next Post :
Previous Post :