Arsip Bulanan: Oktober 2008

Late Passenger

ya sesuai dengan tulisannya, saya pernah menjadi late passenger dan semoga tidak terulang lagi. Tahun 1989, bulan desember tanggal 21, Papa, mama, saya dan Andy, berempat harus naik pesawat garuda dari London Gatwick pulang ke kampung halaman kami, Jakarta. Papa menyelesaikan tugas di London waktu itu sebagai kepala perwakilan kantor minyak negara untuk wilayah Eropa, setelah bertugas  2 tahun. Karena waktu itu saya “hanya” berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sudah tinggal nulis skripsi, masih punya waktu flexible untuk bisa pergi ke London, membantu mama packing barang, atau baby sitting Andy ( di negara eropa, minor tidak boleh ditinggalkan sendirian di rumah) sementara mama dan papa sibuk dengan acara perpisahan sana-sini.

Ternyata, waktu 3 bulan saya di sana tidak cukup untuk mengepack semua barang… Anehnya juga kami tidak memakai jasa pengepackan saja. Mungkin mama sudah terbiasa mengerjakan segalanya sendirian, sehingga enggan memakai jasa-jasa begitu. Yang pasti saya kerja siang malam (tentu saja sambil cerita-cerita dengan mama sehingga progressnya lambaaaaat sekali) packing barang, dan setelah semua barang yang besar-besar masuk container. Kirim, maka kami mulai mengepack barang-barang kecil…yang ternyata dengan baju-baju sisa kami, mengharuskan kamu membawa 20 koper (4 orang tuh) . Susah memang, karena biasanya pada saat-saat terakhir masih ada orang yang memberikan hadiah kenang-kenangan untuk dibawa pulang. (Please kalau ada teman yang akan pulang/pergi ke LN tanya dulu padanya masih bisa bawa, atau berikanlah sesuatu kenang-kenangan saja yang kecil).

Tibalah hari keberangkatan. Koper naik mobil lain duluan, kami penumpang naik mobil yang dikemudikan pak Gozy (hallo pak…dimanakah Anda berada?) , yang entah kenapa melewati jalan yang STUCK, maceeeeet banget. Padahal waktu keberangkatan sudah tickling. Petugas Garuda monitor terus kami berada dimana,…. dan terus terang saya dan Andy sudah sakit perut….. panic. Koper sudah sampai duluan jadi bisa check in langsung, tinggal penumpangnya. Jadilah kami berlari-lari ke counter check in untuk mendapatkan boarding pass (tanpa bertele-tele karena paspor biru…hihihi kekuatan warna paspor itu ternyata ada), dan langsung boarding. Yah, seakan pesawat garuda itu menunggu saya, ups bukan saya tapi papa dan mama, karena mereka first class. Tapi saya dan Andy, harus menekuk muka, menahan malu, duduk di kelas ekonomi sebagai penumpang terakhir. Begitu kami dulu, pintu ditutup dan terbanglah kita.

Tapi mama pernah menjadi late passenger untuk pesawat domestik. Kejadiannya di bandara Yogyakarta. Sudah check in tentu saja tepat waktu. Lalu mama mau ke WC. Masuk WC wanita (ya masak pria sih)…. dan TERKUNCI… tidak bisa dibuka kuncinya. Untung tidak lama datang seorang ibu, sehingga ketahuan mama masih terkunci dalam wc. Dipanggillah petugas bandara. Dicoba dari luar tidak bisa. Padahal announcement panggilan pesawat sudah terdengar, dan papa sudah senewen tunggu di luar (Papa tidak tahu bahwa mama terkunci). Karena dicoba dari luar tidak bisa, terpaksalah si petugas memanjat ke atas, dan masuk bilik WC …. (jadi berdua mama tuh di dalam) dan dia dobrak pintu dari dalam…. horray…. tapi mama harus bergegas menuju pesawat. Dengan pengalaman ini sebaiknya kalau pergi ke WC harus kasih tahu teman atau pergi bersama teman. Kalau saya karena terbiasa sejak kecil (ntah mungkin ini ajaran di pramuka) selalu memeriksa kondisi tempat dulu sebelum masuk/mengunci pintu sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bisa mengambil tindakan (seperti Mac Gyver deh — pasti Lala ngga tau nih)

Menuju pesawat SQ A-380 yang heboh, tapi kayaknya biasa-biasa aja

Menuju pesawat SQ A-380 yang heboh, tapi kayaknya biasa-biasa aja

Untung saja waktu saya menumpang pesawat SQ dari Singapore ke Jakarta hari Sabtu lalu, kami tidak terlambat untuk masuk pesawat. Padahal waktu ganti pesawat hanya 50 menit (minus 10 menit tutup pintu), dan harus pindah dari terminal 3 ke terminal 2 yang cukup jauh. Saya cukup khawatir karena membawa 2 anak, sehingga saya sebelumnya sudah minta bantuan ground staff untuk membantu pindah pesawat. Saya pikir akan disediakan mobil (seperti mobil golf) yang akan membawa kami, ternyata tidak. Hanya ada petugas yang membantu mendampingi dengan berjalan….huh… kalau begini sih saya juga bisa. Sayang sekali di dalam bandara Changi itu tidak ada Bajaj ….

Kai sudah baca The Bling of My Life

Kai sudah baca "The Bling of My Life"

Kebetulan yang aneh

Sebetulnya mau dibilang aneh bener juga nggak. Karena saya sudah tahu bahwa ada seorang tante juga yang masuk rumah sakit yang sama dengan mama. Dia di lantai 5 sedangkan mama di lantai 7 dengan penyakit yang berlainan.

Kemarin pagi mulai jam 6 aya aplus menjaga mama di RS, dan kemudian menemaninya ikut fisioterapi untuk kaki dan tangan kanannya (ternyata tangan kanannya juga sulit dipakai, yang saya ketahui baru waktu menemaninya menggosok gigi…. bukan tangannya yang bergerak tapi gigi/mukanya…Ffffhhhh).

Masuk ruang Fisioterapi, di sana ada 3 orang lain, satu anak kecil yang kemudian pergi karena sudah selesai, lalu ada seorang oma dan seorang kakek lain. Kemudian mama menempati tempat tidur di seberang si Oma Belanda ini. Kenapa belanda? Karena si Mas Bambang, ahli fisioterapi ini menyapa dia dengan sedikit bahasa Belanda.  Sambil mama disinar tangannya, si Mas Bambang ini melatih si Oma Belanda dengan, “Ein twee drie fier ….. tin 1,2,3,4 …10 bahasa Belanda. Aku rasa geli sekali karena pengucapannya itu `medok’ ..Belanda jawa gitu. Nah…setelah selesai, Si Mas Bambang ini menuntun si Oma berlatih jalan. Saat itu saya merasa aneh….

“Pak, pasien itu namanya Mutter?”

“Betul bu…. ”
Ya Ampun….. ya itu tante saya, alias kakak iparnya Mama. Saya tidak yakin dengan tampilang tubuh bagian belakang, tapi setelah meyakinkan wajahnya…

“Tante …ingat saya? (Duuuh pertanyaan yang salah ditujukan kepada orang yang aku ketemu 10 tahun sekali hehehhe)

“Coutrier…. Imelda”

“(Dalam bahasa Belanda) Tunggu sebentar… mana mama? dia kan juga di RS ini…”
“(Dalam bahasa Belanda) Ya…itu di depannya tante….)

Jadilah dua pasien adik ipar dan kakak ipar saling menjenguk di Ruang Fisioterapi. Sambil Mas Bambang dan petugas lain ramai bercanda dengan bahasa Jawa… (Kok iso ketemune di rumah sakit…. Si Mbak pinter boso londo gitu, kok iso ya? Yo, biasa denger… Lah…anakku ora iso jowo, tiap hari denger…krusak krusuk)

“Ya, saya juga iso jowo….hihihi, ngerti aja kalo bicara ya ngga bisa… ”

So, pagi kemarin ada lagi satu kejadian pertemuan yang aneh, meskipun prosentase kemungkinan terjadinya memang tinggi. Tapi saya pernah mengalami suatu pertemuan yang aneh di Lourdes, Perancis Utara Selatan. Lourdes adalah tempat Ziarah bagi umat Katolik dan setiap hari jutaan orang berkunjung di sini dari berbagai negara. Di situ saya bergabung dengan Day Pilgrim berbahasa Inggris, mengikuti misa bersama di bawah gereja utama…dan kebetulan karena grup ini kecil, saya yang disuruh mewakili grup membawa “papan nama” bahasa Inggris (seperti defile gitu deh). Nah berkat itu juga, tiba-tiba saya dipanggil oleh kakak teman sekelas, Mbak Elmi dan suami. “Imelda…. ya ampun kok bisa ketemu di sini”.

Ya memang aneh, karena dia dan suaminya sedang belajar Sastra Jawa di Belanda dan kebetulan ke Lourdes, sedangkan saya sedang short stay di London dan kebetulan ke Lourdes…. Dan di situ saya merasa bahwa dunia ini kecil adanya.

“Its a small world afterall”

Saya rasa banyak juga di antara teman-teman yang mengalami pertemuan aneh seperti ini. Bertemu kenalan di suatu tempat yang tidak diduga.

Mama dan Tante Zus (Eleonora Mutter)

Malarindu Tropikangen

Dulu kita sering bermain kata seperti ini, untuk menamai penyakit yang tidak jelas. Lalu dikatakan obatnya adalah Bodrexsun…. Well, yang pasti penyakit ibu saya bukan itu. Memang dia terkena stroke (ringan- yang kedua kali,setelah pertama th 1999), tapi tidak terbaca oleh CT Scan, entah apakah masih mau dicari dengan MRI. Tapi setiap hari dia mendapat obat pengencer darah yang disuntik. HB mama memang tinggi, yaitu 18, seperti yang pernah saya tulis di Transfusi Darah bahwa mama dan saya menderita mempunyai keturunan thalasemia. Entah karena itu, entah karena stress atau yang lainnya, masih belum diketahui dokter. Tapi memang kondisi darah mama buruk. Hari pertama masuk RS, mama merasa mukanya “bebal/beku” untung segera diberi obat suntik pengencer darah, sehingga tidak menjadi parah, tetapi imbasnya pada hari keempat, kaki kanan tidak bisa digerakkan.

Sudah 10 hari lebih mama dirawat di RS, dengan dijaga oleh adik perempuan saya Novi dan tante Diana, adik papa bergantian. Papa tentu saja juga menjaga di siang hari, selain juga menjadi seksi akomodasi serta pembantu umum… ya urusan logistik deh. Dan pekerjaan menunggu orang sakit pastinya melelahkan, akibatnya papa mengalami “gikkuri goshi” bahasa Jepangnya atau bahasa kerennya Low Back Pain. Tapi berkat Tuhan, semua masih sehat dan mamapun berangsur pulih.

Adalah hari minggu pagi lalu, kalau boleh saya katakan merupakan titik pemicu kesembuhan mama. Jam 8 pagi saya “berendap-endap” datang dengan papa memasuki kamarnya. Papa bilang,”Ma, ada yang mau ikut berdoa bersama, nanti mama dapat hosti, dia mau minta secuil boleh?”… “Oh boleh saja”…. Dan saya masuk langsung memeluk mama. Really, saya sedih melihat mukanya yang pucat dengan uban yang jelas terlihat di kepalanya… hmmm sudah lewat waktunya untuk mengecat rambut. Saya ciumi dia… tapi…. dia tidak bicara apa-apa. Saya tahu dia belum sadar saya itu siapa. Sama seperti waktu pertama kali dia datang ke Jepang dalam keadaan stroke, tidak mengenali orang. (nanti saya cerita ttg ini di postingan lain).

“Mama tahu saya siapa?”

“Tahu dong….. (tapi tidak menyebutkan nama)”

“Bener tahu saya siapa?”

Lalu dia raba muka saya ….(ahhh de javu lagi…. di suatu saat yang lalu)

“Loh….Kok BISA?”

“Bisa apa?”

“Kok kamu datang?”

“Ohhh tidak boleh datang? Ya sudah saya pulang saja….”

Dan dia tertawa lebar… sementara saya mengusap air mata yang sudah mengalir sejak pertama saya peluk dia. “Anak-anak mana?”

“Ada, di rumah…. di jakarta … kami sampai tadi malam jam 10 malam naik SQ”

“Ya Ampun….Imelda…..”

Minggu yang ceria……..

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Tante Diana dan Novi+Fam

Well, I like surprises. Untung mama dan papa yang memang berpenyakit jantung tapi selalu kuat menghadapi surprises dari anak-anaknya. Ini kali kedua saya datang tanpa memberitahukan kedua orang tua saya. Kali ini hanya adik saya, Novita yang mengetahui rencana saya. Hanya untuk meyakinkan bahwa saya ada tempat menginap. Sedangkan papa pun baru mengetahui beberapa saat sebelum Chris, adik ipar saya akan menjemput saya di bandara. Itu pun karena Chris ingin menukar mobil sedan dengan mobil kijang, karena dipikir saya banyak membawa barang seperti biasa (padahal 1 koper saja tidak penuh, hanya sempat masukkan baju saya, riku dan kai dan perlengkapan Kai seperti susu dan pampers).

Saya beruntung mempunyai suami yang baik(愛しているよ), yang mendorong saya untuk pergi meskipun saya yakin waktu itu mama tidak parah, tapi daripada ada apa-apa dan menyesal….. Gen bilang (dalam bahasa Indonesia) ,” pergi aja, pasti mama senang… Nanti pikir lagi soal natal”  Karena sebetulnya saya bingung mau pulang sekarang atau nanti kalau Natal. Untung saya dan Gen selalu punya pikiran yang sama, apa yang bisa dilakukan sekarang, lakukanlah sekarang — kalau mau pinjam perkataan Aida Mitsuwo, “Ima ga Daiji” (The important thing is NOW). Well, terima kasih sayang…

Memang saya tidak bisa ikut bantu jaga malam, dan tidak bisa lama-lama di RS karena anak-anak di bawah 13 tahun dilarang masuk ke RSPP. Tapi seakan hanya dengan mengetahui bahwa putri tertuanya ada di Jakarta saja, sudah membuat mama bersemangat, sampai-sampai kemarin siang Dokter mengatakan,”Kok kaki kanannya sudah bisa gerak dengan cepat begini…. Fisioterapi ya Bu…” Semoga, sebelum saya pulang kembali ke Jepang, Mama bisa keluar dari RS. Amin.

So, teman-teman semua…siapkanlah selalu di saku Anda, Bodrexsun yang bisa Anda bagikan pada orang-orang terkasih di sekitar Anda yang mungkin membutuhkannya, atau menderita penyakit Malarindu Tropikangen ini.

Do you like surprises? Or do you want me to surprise you? I’m the expert lol.

Jinx

Pernahkah kamu dibilang, “wah…kamu pembawa matahari…. begitu kamu datang cuaca cerah sekali, padahal kemarin mendung loh!” Well, saya (keluarga saya) sering….

Kalau seperti ini bukan JINX…karena tidak merugikan. Tapi jika kamu dibilang, “Huh kalau bikin acara, kalau kamu datang selaluuuuuu saja hujan. Kamu pembawa hujan ya????” Dianggap hujan itu tidak baik karena tentu saja jika hujan, kebanyakan acara akan sedikit kedatangan tamunya, sepi dan mungkin jadi terlambat untuk dimulai. Untung saja saya tidak pernah dikatakan demikian.

Kalau di cari di kamus, maka jinx artinya pembawa sial/nasib malang. Di Jepang ada istilah Ame Otoko “Lelaki pembawa hujan” atau Ame Onna “Wanita pembawa hujan”. Yang dimaksud disini adalah, seseorang (biasanya orang penting) yang secara prosentasi, jika akan hadir di acara penting, maka kebanyakan akan turun hujan pada hari tersebut. Bapak keluarga homestay saya yang politikus itu begitu. Sehingga sering sekretarisnya tidak mau memberitahukan pihak penyelenggara kehadirannya (kecuali penting untuk diketahui)

Tapi ada satu lagi, kondisi yang aneh yang terjadi pada Ibu saya dan mungkin menurun ke saya. Yang pasti bukan JINX. Begini… Setiap ibu saya masuk ke sebuah toko…toko yang yang tadinya sepi, maka akan menjadi ramai tiba-tiba. Dan kadang kondisi ini merugikan kami (tapi menguntungkan pemilik toko). Seperti yang terjadi  jika ibu saya memilih barang obralan. Pasti apa yang pernah dipegang ibu saya, akan diperebutkan ibu-ibu lain. Sehingga sering ibu saya bilang ke saya, “Imelda pegang itu jangan lepaskan”. Like a battle lol. Tapi kadang si pemilik toko menyadari bahwa ibu saya adalah “pembawa/pengundang tamu”, sehingga dengan bisik-bisik dia berkata… “ibu…tunggu sebentar ya… saya kasih harga khusus untuk ibu”.

Dan kelihatannya “bakat” ini menurun ke saya, yang baru saya sadari jika saya bepergian dengan Tina, dan kemudian Tina berkata…”Kamu sih mel, jadi rame deh toko ini” . Dan terkadang saya harus menderita, yaitu dengan menjadi yang terakhir untuk dilayani. Mungkin pemilik toko harus menggaji ibu saya atau saya untuk menjadi “Kamban musume” toko itu.

(Kamban Musume, adalah ungkapan untuk seorang gadis yang menjadi “maskot” sebuah restoran/toko, yang dipercaya akan mengundang tamu untuk datang (bukan dalam arti negatif))

So, apakah Anda pembawa matahari atau hujan? atau bahkan bisa menjadi Kamban Musume?

foto diambil dari sini

LOST

Memang banyak cara orang menyatakan cintanya. Ada yang mengirim surat cinta, dengan kalimat yang memuja-muja ….tapi kok kalau sekarang kita baca akan terasa norak sekali. Ada yang mengirim foto hasil karyanya, dan di belakangnya tertulis “Ini lebih dari sekedar menuntaskan janji” (euy janji apa sih?). Ada yang mengirimkan hasil lukisannya yang berjudul “Self potrait”, dan mungkin akan menjadi penjaga gudang belakang rumah. Atau ada yang lebih pujangga dari pujangga yang mengirimkan puisi. Dan sebetulnya dari seorang ini juga saya belajar menulis puisi, lebih karena merasa HARUS membalas.

Dan mungkin yang juga terasa romantis adalah menerima sebuah lagu dari pemujanya. Entah itu lagu pilihannya yang minta diputarkan di radio kesayangan. Atau sengaja merekamkan lagu itu kemudian diberikan bersama selembar kartu bergambar hati. Atau menyanyikannya dengan guitar atau piano di depan matamu.

Saya pernah menerima sebuah lagu ini, yang sebetulnya saya belum pernah dengar bagaimana melodynya. Tapi jika membaca kata-katanya…. mirip dengan suasana hati saya saat ini. Lost!!!

“Lost”

If roses are meant to be red
And violets to be blue
Why isn’t my heart meant for you

My hands longing to touch you
But I can barely breathe
Starry eyes that make me melt
Right in front of me

Lost in this world
I even get lost in this song
And when the lights go down
That is where I’ll be found

This music’s irresistible
Your voice makes my skin crawl
Innocent and pure
I guess you heard it all before

Mister Inaccessible
Will this ever change
One thing that remains the same
You’re still a picture in a frame

Lost in this world
I even get lost in this song
And when the lights go down
That is where I’ll be found

I get lost in this world
I get lost in your eyes
And when the lights go down
That’s where I’ll be found
Yeah yeah

I get lost in this world
I get lost in your eyes
And when the lights go down
Am I the only one
Ooh

song by anouk

Eco cap for vaksin

lambang daur ulang

Akhir-akhir ini saya agak sebal dengan sistem pembuangan sampah yang berubah di Tokyo. Karena kita harus lebih memperhatikan lagi bahan-bahan dari sampah yang akan kita buang itu. Kalau dulu tinggal memilah dengan sampah dapur+ kertas sebagai sampah terbakar), kemudian botol, kaleng terpisah, dan yang lainnya yang tidak terbakar bisa dijadikan satu sebagai sampah tidak terbakar. Sudah terbiasa dengan pemilahan begitu sejak saya datang di Jepang sini tahun 1992…. Tapi ternyata sekarang ada penambahan pemilahan lagi yang lebih mendetil. Botol plastik harus dipisah tersendiri untuk didaur ulang, Dan tutupnya yang berbahan plastik (dengan lambang segitiga) itu harus dibuang bersama sampah plastik lainnya. Bahan aluminium dipisah juga supaya bisa didaur ulang, tetapi bahan steel bisa dijadikan satu dnegan semua barang yang tidak jelas tapi tidak bisa dibakar. Padahal ada juga yang menurut saya tidak bisa terbakar tapi boleh dijadikan satu dengan sampah dapur. Huh…. merepotkan sekali. Sampai saya terpaksa mencetak panduannya dan menempelkannya di dapur. Karena jika kita menaati peraturan itu, sampah kita tidak akan diambil…hiks….

Memang saya tahu bahwa pet botol (botol plastik) yang dikumpulkan itu bisa didaur-ulang menjadi karpet, baju atau bahkan botol yang baru. Juga kaleng-kaleng alumunium itu bisa didaur-ulang lagi. Demikian juga dengan botol kaca…. Tapi saya sempat tertegun waktu membaca di sebuah iklan di bus atau kereta (saya lupa) tentang sebuah yayasan yang mengumpulkan tutup botol plastik…. Ya tutupnya saja loh. Katanya 400 biji tutup botol plastik itu berharga 10 yen. Itu jika dikumpulkan, sedangkan jika kita buang begitu saja menjadi sampah maka akan menghasilkan 3150 gram CO2.

Dan gerakan mengumpulkan tutup botol plastik ini bertujuan untuk memberikan VAKSIN kepada anak-anak di negara berkembang. Katanya biaya vaksin polio seorang anak adalah 20 yen. Nilai itu sama dengan 800 tutup botol plastik. Tanpa kita keluar uang, hanya mengumpulkan saja…. kita dapat membantu perkembangan anak-anak di dunia ketiga. Betapa mulia kegiatan ini.

Menurut penjelasannya di web, tutup botol plastik yang terkumpulkan itu akan “dijual” ke pabrik dan dengan uang hasil penjualan akan dibelikan vaksin-vaksin yang akan dikirim ke negara ketiga.

Well saya juga akan coba kumpulkan tutup botol plastik itu, entah sampai berapa banyak…sebisanya (tentu saja ada pool tempat mengumpulkan tutup plastik itu yang ditaruh di daerah-daerah tertentu. Kalau saya bisa mengumpulkan perangko, masa saya tidak bisa mengumpulkan tutup botol saja?

Tapi sebetulnya kegiatan pengumpulan dengan tujuan membantu negara berkembang ini tidak hanya terbatas pada pengumpulan tutup botol plastik saja. Perangko (ya perangko dan ini membuat saya tidak bisa koleksi lagi) dan kartu telepon/kereta/bus. Setelah dikumpulkan mereka daur-ulang dan uangnya dipakai untuk pendidikan dan kesehatan di negara-negara Asia-Africa.

Sedikit membuang tenaga, tapi banyak senyum yang terkembang…..

related posting on environment from my friends:

Menyambut hari bumi (meski terlambat)

Pengumuman yang ramah lingkungan

 

Dan 2 tahun sesudah tulisan ini dibuat, aku terlibat aktif dalam pengumpulan eco cap ini di SD Riku. Laporannya bisa dibaca di : http://imelda.coutrier.com/2010/03/12/purnabakti/

You are not alone

Di sela-sela derai hujan yang memukul jendela kelas, dan menusuk sampai dalam hatiku. Aku teringat beberapa orang yang kini terasa jauh dariku…. leave my world so cold. Entah kenapa….atau ini hanya perasaanku saja, yang memuai dari kesenduan curahan airmata sang dewi? Maafkan salahku jika aku bersalah….. Tapi jangan biarkan aku bersedih dan terus memikirkanmu….

Saya selalu suka lagu Michael Jackson ini “You are not alone”, yang ingin kupersembahkan bagi sahabat-sahabatku, teman sejiwa, sahabat hati… Ingatlah aku selalu memikirkanmu, dalam setiap langkahku.

Another day has gone
I’m still all alone
How could this be
You’re not here with me
You never said goodbye
Someone tell me why
Did you have to go
And leave my world so cold

Everyday I sit and ask myself
How did love slip away
Something whispers in my ear and says
That you are not alone
For I am here with you
Though you’re far away
I am here to stay

But you are not alone
For I am here with you
Though we’re far apart
You’re always in my heart
But you are not alone

‘Lone, ‘lone
Why, ‘lone

Just the other night
I thought I heard you cry
Asking me to come
And hold you in my arms
I can hear your prayers
Your burdens I will bear
But first I need your hand
Then forever can begin

Everyday I sit and ask myself
How did love slip away
Something whispers in my ear and says
That you are not alone
For I am here with you
Though you’re far away
I am here to stay

For you are not alone
For I am here with you
Though we’re far apart
You’re always in my heart
For you are not alone

Whisper three words and I’ll come runnin’
And (girl) you know that I’ll be there
I’ll be there

Sambutlah tangan yang kuulurkan ini sahabat…. aku ingin menggapaimu

12:50 ikuta 105E 

 

Semar Mendem?

omuraisu onigiri

omuraisu onigiri

Pagi ini hujan. Sudah sejak kemarin siang sebetulnya, sehingga kemarin terpaksa aku meninggalkan sepedaku di parkiran sepeda sebelah penitipan Kai, dan naik taksi pulang. Dan pagi ini aku keluar lebih cepat dari biasanya. Naik taksi lagi, dan menitipkan Kai ke guru pengasuh di Penitipan Himawari. Tentu saja dia menangis begitu aku melepaskan pelukan. Tapi kata gurunya kemarin, dia hanya menangis pertama saja, sesudah itu dia enjoy bermain dengan teman-temannya yang lain. Untunglah.

Karena aku hari ini bercelena jeans, bersepatu kets, dan mungkin berjalan seperti robot, gradak-gruduk seperti tulisannya ibu Enny, rasanya cepat sekali aku sampai di stasiunnya Universitas Senshu. Rekor! jam 9:50 loh…. padahal ngajarnya baru jam 10:45. Hehehe. Dan pagi ini sambil aku naik kereta, aku merasa bersyukur karena badanku gede. Kenapa? Satu, aku bisa gendong Kai yang 12 kilo + tas ransel kira-kira 5-6 kg jalan mencari taksi dalam hujan. Ke dua, aku tidak mudah tumbang waktu didorong-dorong orang yang berebutan masuk ke dalam kereta karena memang masih Rush Hour. Dan untungnya meskipun hari ini masih sakit kepala, aku tidak berasa “mau pingsan” dalam kereta yang penuh sesak. Ke tiga: aku masih bisa cekatan berlari (thanks to my sepatu kets) meliuk-liuk melawan arus manusia yang berjalan dengan cepat di stasiun Shinjuku, untuk pindah kereta.

Begitu sampai di stasiun Mukogaoka Yuen, aku lihat bis kampus baru akan berangkat. Tapi kali ini aku pikir, santai aja…. toh masih ada waktu. Dan….aku menemukan makanan ini SEMAR MENDEM!!!!. Langsung aku teringat pada semar mendem di Indonesia, dan membayangkan isinya, daging ayam giling dan dibungkus dengan dadar telor. Hmmmm enakkkkk…. PENGEEEEEN….. (BTW kenapa ya namanya Semar Mendem, apa ada si Semar dalamnya?)

Tapi tentu saja makanan itu bukan Semar Mendem, Itu adalah Onigiri, nasi kepal yang dibuat dari nasi goreng rasa tomat yang dibentuk segi tiga, kemudian dibungkus telor dadar, sehingga terlihat seperti semar mendem segi tiga. Rasanya? belum tahu enak atau tidak, karena sesudah menulis ini baru akan saya coba. Well, jam sudah menunjukkan pukul 10:39, I should go now, bertemu mahasiswa-mahasiswa ku yang cantik -cantik dan cakap-cakap (tapi rada malas hahahaha). Have a nice day minna-san, dan juga have a nice week end. With love….Imelda…..

Invitation to Javarizm

Siapa tahu ada yang tinggal di Tokyo dan sekitarnya yang berminat datang atau mengajak relasi untuk menghadiri acara yang diprakarsai ICJ  (Indonesian Community in Japan) ini. Hayooo rame-rame datang ya…

JAVARIZM

Fashion and Music Experience
Official Event Commemorating 50 Years of Indonesia/Japan Relations

Featuring
TIARMA SIRAIT
Award-Winning Fashion Designer

DJ ADIT & DJ ANTON
Member of AGRIKULTURE, Top Indonesian DJ Unit

6000 Yen/person
Including Dinner, 2 Drinks, and a chance to Win Luxury Prizes!

See the Event Details at
http://icjnetwork.jp/

Date:
November 29th, 2008, 7pm
Location:
Fifty Seven, Roppongi

Address:
B1F 4-2-35 Roppongi, Minato-ku, Tokyo
(map)