Menikmati Karya Seni

22 Sep
Veronica mengusap wajah Yesus
Veronica mengusap wajah Yesus by Al Greco

Terus terang sebelum saya ke Jepang, saya tidak begitu tahu nama-nama pelukis terkenal dunia. Paling-paling di Jakarta saya sempat tahu pelukis lokal Affandi, atau Basuki Abdullah (sering lihat di gereja juga),  tentu saja tahu seniman yang berhubungan dengan gereja yaitu Michael Angelo, atau si Van Gogh dan Rembrant (kebetulan ke museumnya waktu di Belanda). But selebihnya saya kurang paham. Katro banget deh.

Nah saya mulai berkenalan dengan seniman lainnya itu sebetulnya gara-gara diajak date. (Ngajak date kok ke pameran lukisan ya? ).  Berhubung dia bilang, “Mel, aku punya tiket ke pameran dua lembar, mau ikut ngga? ” Jadi deh saya pergi ke Ueno Hakubutsukan (Ueno Museum of Arts) dan begitu masuk saya melihat lukisan Yesus di Kayu Salib yang begitu besar …. yang terus terang sampai saat ini saya tidak tahu karya siapa… hehehe.

Sebagai orang yang awam lukisan, saya lebih menikmati lukisan yang kelihatan real atau … romantic seperti Monet. Sehingga saya sering dikatakan sebagai penganut Impressionis (inshouha 印象派) . Padahal apa saja jenis pembagian aliran lukisan yang ada…saya tidak mengerti (ayo belajar mel, besok keluar ujian hihihi). Dan satu hal yang saya sempat dimarahi yaitu waktu saya berkata, “iiiih lukisannya bagus banget…seperti foto!” Dan saya diomelin panjang lebar, bahwa pelukis tidak akan suka jika lukisannya dibilang seperti foto bla bla bla bla… Yahhh, abis saya kan ngga tau mau komentar apa… masak cuman mangut-mangut aja?

OK sekian proloog untuk posting ini. Saya sebetulnya mau menulis tentang seorang Jepang yang sekarang bermukin di Amerika, dan kemarin tanggal 20 menjadi tanggalnya dia yaitu Hiro Yamagata. Pada suatu ketika, waktu saya jalan-jalan di mall, melihat sebuah lukisan yang memang menari. warna-warni dan modern. Saya baca pelukisnya Hiro Yamagata.

Hiro Yamagata (born 山形 博導 Hiromichi Yamagata, May 30 1948, in Maibara city, in Shiga prefecture, Japan) is a painter/ artist, based in Los Angeles, California. He has been considered as one of the most famous silkscreen artists because of his use of vivid colors in his pieces. However, he has been known as a contemporary artist using laser and hologram technology recently. He is recognized as a pioneer of contemporary laser art.

Hasil karyanya memang unik dan bisa membuat hati riang dengan melihat warna-warna yang dipakai seperti pelangi.

Saya juga melihat dia suka menggambar balon udara, sehingga karyanya bener-bener seperti penggambaran sebuah festival. Kalau saya pribadi mungkin lebih suka karyanya yang bernuansa biru ini. Sebuah danau di Jepang, BIWAKO.

Taifun no 13

21 Sep

Sejak hari Jumat lalu tanggal 19 sebetulnya diperkirakan bahwa Taifu nomor 13 akan mencapai Tokyokira-kira tanggal 20-21, tetapi ternyata angin mengubah arah sehingga kita tidak perlu harus mengalami taifu yang hebat. Memang bulan September adalah musimnya Taifun, dan Taifun di Jepang itu tidak diberi nama seperti di Amerika tapi diberi nomor. Jadi sebetulnya Taifun yang kemarin itu sudah yang ke 13 kalinya yang diperkirakan akan/sedang melintas Jepang.

Akibat Taifun itu kemarin pagi saya melihat langit bersih sekali, Dari pintu masuk apartemen saya terlihat langit biru, khas musim gugur. Mulai sekarang saya bisa menikmati birunya langit musim gugur yang lain daripada musim panas. Sulit untuk diterangkan tapi memang birunya lain. Sabtu seharian saya bermain dengan Riku dan Kai …. hmmm ngapain ya saya? paling-paling cuma posting dan menjawab komentar… ahh saya juga blogwalking ke mana-mana. Tapi sempat server domain saya ini ngadat selama 3-4 jam sore harinya. Saya pikir apa itu imbasnya Ike dan Gustaf ya? Entahlah.

Pagi harinya waktu saya buka domain saya, kaget juga melihat alexa rangking saya sudah berubah menjadi 1,691,165. Waktu pertama kali saya periksa rangking dengan Alexa itu, saya mendapat angka 4 juta sekian. (wah hebat dong, begitu pertama saya pikir ternyata semakin besar angkanya semakin tidak populernya situs kita hahahaha…baru tahu). Kemudian setelah seminggu saya lihat sudah bergerak naik menjadi 2,6 juta. Dan minggu ini 1,6 juta… lumayan lah. Meskipun saya tidak begitu peduli dnegan ranking-rangkingan , tapi senang memang kalau mengetahui bahwa situs milik kita dikunjungi orang kan? Yang pasti jumlah pengunjung bulan ini pada hari ke 21 = jumlah pengunjung bulan Agustus satu bulan, berarti jumlahnya akan menjadi lebih banyak lagi di akhir september. Semoga!.

Ternyata ada satu lagi teman blogger saya Hedi-san yang men-tag saya untuk menceritakan fact/habitnya, dan saya baru tahu setelah saya upload di postingan minggu lalu. Saya mau coba mencari facts/habits saya yang lain ya…genap sepuluh tidak ya?

  1. Saya suka masak (belum tentu enak loh), tapi tidak suka makan masakan sendiri. (nah tapi kenapa kamu bisa gemuk mel???  itu yang saya tidak tahu juga hihihi) So siapa yang mau saya masakin tinggal daftar deh hihihi.
  2. Lemari baju saya dominan dengan warna hitam 80%, merah 15%, biru dan warna lain 5%
  3. Pecinta kopi sama seperti adikku si Lala… tapi harus panas. Kalau mau minum dingin lebih baik minum teh dingin daripada kopi dingin.
  4. Mantan kolektor minyak wangi. Hampir setiap naik pesawat mampir ke duty free shop dan membeli minyak wangi paling sedikit 5 jenis hahaha. Tapi itu waktu masih kaya, sekarang tinggal menghabiskan koleksi dan kelihatannya sampai koleksi habis selama 5 tahun tidak perlu beli minyak wangi dulu.
  5. Belum pernah masuk disco…. hiks…
  6. Chocoholic tapi cuma mau bittersweet. Apalagi kalau pake marmalade (orange peel)
  7. Tidak suka barang bermerek, anti barang mahal, tidak mudah iri pada barang milik orang lain, tapi sangat iri pada kepandaian orang lain.
  8. Belum pernah pake bikini…even waktu masih kurus hahaha (gini-gini kau pernah kurus loh hihihi) But memang saya tidak suka berenang. Berenang hanya untuk nilai saja.
  9. Punya phobia ini : Acrophobia- Fear of heights; Demophobia- Fear of crowds  (Agoraphobia); Stenophobia- Fear of narrow things or places; Thalassophobia- Fear of the sea. Dromophobia- Fear of crossing streets. (lihat listnya) Yang ngga ada di listnya : Phobia kesepian hihihihi.
  10. Fffffhhhh terakhir ya… apa ya? Ngga pernah bisa hafal lirik satu lagu dengan sempurna sehingga harus nyanyi di karaoke atau bawa cunning paper heheheh. Kalau tidak ada, buat lirik sendiri deh hahaha.

Ok deh ternyata ngumpulin 20 facts/habits diri sendiri mulai menjadi sulit ya….. but jadi inget lagi eee ternyata aku ini begini loh.. Jadi Hedy san pe-er dari kamu udah selesai yah. Gini deh kalo orang iseng ngga ada kerjaan di hari Minggu kelabu, karena di luar hujan deras, dan sakit kepala tapi ngga bisa tidur. hiks.

Mengapa harus tikus sih?

20 Sep

Anda semua pasti kenal Mickey Mouse dong… Lalu Tom and Jerry. Atau pernah nonton juga Little Stuart yang bisa membuat kita menitikkan air mata. Kemudian yang terakhir adalah Ratatouille atau yang di bahasa Jepangnya di beri judul “Remi no oishii resutoran レミーのおいしいレストラン” — Restoran Lezat Remi. Coba perhatikan saja sekian banyak karakter yang dipakai yang menjadi populer itu, tidak lain dan tidak bukan adalah seekor TIKUS. Tikus yang digambarkan memang macam-macam, ada yang lucu, imut-imut bahkan bisa diterima sebagai ikon yang mendunia. Tapi coba kalau dipakai fotonya yang asli, bukan gambar kartun… dijamin tidak bisa makan sambil menonton deh. Apalagi kalau kita bayangkan si REMI yang membuat masakan kita yang sedang kita santap itu …Wuaaaaahhh. (Maaf kalau baca ini sedang puasa… )

Fenomena ini memang sudah lama terjadi. Entah apa tujuan Paman Walter memilih si tikus untuk hero-nya. Saya juga heran kenapa alat tambahan untuk memudahkan penulisan di computer itu harus dinamakan MOUSE atau TETIKUS. Mungkin ini merupakan obsesi dari para pencipta karakter itu untuk mengangkat derajat si tikus dari binatang buruk rupa, pembawa penyakit (yang pasti bau..ngga pernah mandi sih)  dan umpan si Kucing (kayaknya anjing juga banyak yang suka sih… bahkan manusia pun ada yang mau makan) …pokoknya …. si makhluk yang jueleeeek ini menjadi lucu, imut-imut, gemesin (seperti jeunglala hihihi …ngga deh seperti anak-anak saya….kapan lagi narsis) dan menjadi idola manusia di dunia ini (di planet ngga tau ada tikus ngga).

Anyway, saya benar-benar merasa perlu untuk meneliti fenomena ini, tapi sayangnya waktunya saya tidak ada. Mungkin jika ada yang punya banyaaaaak waktu luang bisa memikirkan topik ini sebagai tema skripsi atau thesis atau disertasinya (haiyah….). Dan ternyata Jepang pun tidak mau kalah dengan negara Amerika dengan Mickey Mousenya. Karena ternyata ada sebuah Picture Book di Jepang yang terbit tahun 1963 (bayangkan ….seumuran mas trainer atau pak grandis mungkin hihihi) yang mengambil tokoh TIKUS. Bukan hanya satu…malah dua ekor Tikus. Hebat ngga?

Namanya GURA dan GURI. Ingat saja Gula itu membuat gurih makanan sebagai bumbu penyedap (kakushi aji 隠し味) . Dua tokoh tikus ini diciptakan oleh Nakagawa Rieko (karangan) dan Oomura Yuriko (gambar) pada tanggal 1 Desember 1963. Diterbitkan oleh penerbit kesayangan saya FUKUINKAN SHOTEN. Ditujukan untuk anak-anak berusia 3-5 tahun … dan ditetapkan sebagai “buku wajib” oleh Asosiasi Perpustakaan Sekolah Seluruh Jepang. You can not believe it but….. buku ini sudah dicetak 160 kali per data tahun 2005. Tidak ada orang Jepang yang tidak mengetahuinya. HEBAT!!!!.(Aduuuh saya ingin sekali anak-anak Indonesia juga mengetahui cerita ini)

Ceritanya sangat sederhana. Dua tikus bersaudara (kembar) itu menemukan sebutir telur yang besar di hutan, dan ingin membuat kue castella. Tapi mau membawa telur itu ke rumah mereka tidak bisa… pasti pecah di perjalanan, karena terlalu berat. Jadi mereka membawa panci, bowl untuk adonan, pengaduk, susu dan gula dari rumah mereka ke tempat si telur berada. Sambil mengadon dan memasak kue itu, bau yang harum menyebar ke seluruh hutan, mengundang binatang lain berdatangan. Dan kue yang besar itu kemudian dinikmati bersama oleh seluruh penghuni rimba.

Yang menarik dari cerita ini adalah lagu yang dinyanyikan ole Guri dan Gura waktu menunggu kue matang yang menjadi trade mark mereka.

Bokura no namae wa Guri to Gura

Kono yo de ichiban suki nano wa

Oryori suru koto taberu koto

Guri gura guri gura….

(Nama kami Guri dan Gura

Yang kami sukai di dunia ini

Memasak dan makan

Guri gura-guri gura)

Sederhana sekali bukan? Lagunya tentu saja diiramakan sendiri oleh si pembaca. Jadi bisa saja irama pop atau dangdut (heheheh). Tapi waktu pertama kali Riku yang berumur 2 tahun dibacakan cerita ini oleh papanya, saya juga heran mendengar iramanya… seperti nyanyi gregorian hihihi. Lagu yang gen nyanyikan itu  biasa-biasa saja, tapi tetap melekat sampai sekarang. (Tapi di situ saya juga kagum bahwa membaca cerita yang simple itu bisa begitu memukau jika dihayati, dan sejak itu saya berusaha memakai “ekspresi” jika membacakan cerita untuk Riku. )

Guri dan Gura

Ini adalah buku pertama, dan setelah itu ada beberapa cerita dari seri Guri dan Gura ini dengan judul “Tamu Guri dan Gura”, “Guri dan Gura : Berenag di laut”, “Guri dan Gura :Piknik” “Guri dan Gura bersama Kururikura”, “Guri dan Gura: Pembersihan besar-besaran”. “Guri dan Gura bersama Sumire-chan” dll. Buku ini juga saya sarankan untuk mereka yang baru belajar bahasa Jepang karena semuanya tertulis dalam hiragana. Saya tidak tahu apakah di perpustakaan Japan Foundation Jakarta ada atau tidak, mungkin bisa ditanyakan langsung ke sana.

Buku Guri dan Gura ini yang pasti sudah diterbitkan dalam bahasa Inggris. Berikut adalah sinopsisnya dalam bahasa Inggris.

Guri and Gura, popular characters in Japan since their 1963 debut (of which this book is the translation), enter the American market with the first of the publisher’s projected series. Here, the two exuberant mice find a huge egg in the forest and decide to use it to make “a sponge cake so big we can eat it from dawn to dusk and still have some left over.” Realizing that the egg is too big to move, Guri and Gura haul a huge frying pan (and everything else they need) over to the egg, then mix up the batter, build a fire and share the results with all the animals who have sniffed out their cake. Yamawaki’s pared-down line drawings deliver information plainly and directly, with little shading on an expansive white background: Gura holds the lid of the pan (which towers over him), Guri raises his tiny mouse fist in excitement, and the nicely risen cake is revealed. A childlike refrain becomes a light-hearted mantra: “My name is Guri. And my name is Gura. And what do you think we like to do best? Cook and eat. Eat and cook. Yeah! Guri and Gura, that’s us.” The book’s visual appeal is dampened somewhat by bland type design and bleed-through on the matte pages. But cake-making is always a delicious theme for small readers, and Guri and Gura’s inventive energy loses nothing in the Pacific crossing. Ages 4-8.
Copyright 2002 Reed Business Information, Inc.

Puas atau tidak…tergantung ANDA

20 Sep

Salam Blog!!
Mau sharing cerita ini…yang saya dapat dari MP

BESARNYA PENGHARGAAN TERGANTUNG DARI CARA / ARAH MANA ANDA MEMANDANG PERSOALANNYA. ………

Ben my virtual pet
Ben my virtual pet

Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya.
Ia sangat terkejut melihat seekor anjing datang ke samping tokonya.
Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing itu kembali lagi.
Maka, ia menghampiri anjing itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu.

Ia mengambil catatan itu dan membacanya,
“Tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada di mulut anjing ini.”
Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar 10 dollar di sana.
Segera ia mengambil uang itu, kemudian ia memasukkan sosis dan kaki domba ke dalam kantung plastik dan diletakkan kembali di mulut anjing itu. Si penjual daging sangat terkesan.

Kebetulan saat itu adalah waktu tutup tokonya, ia menutup tokonya dan ! berjalan mengikuti si anjing.

Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan dan sampai ke tempat penyeberangan jalan. Anjing itu meletakkan kantung plastiknya, melompat dan menekan tombol penyeberangan, kemudian menunggu dengan sabar dengan kantung plastik di mulut, sambil menunggu lampu penyeberang berwarna hijau.
Setelah lampu menjadi hijau, ia menyeberang sementara si penjual daging mengikutinya.

Continue reading

Semua yang bervitamin bagus?

19 Sep

Bener-bener posting orang iseng. Kemarin waktu mau membeli snacks dan minuman di toko kombini, saya melihat ada yang baru di rak minuman . Voila… Coca cola +vitamin C… hmmm ada-ada saja sih? Apakah pikiran bagian developmentnya dengan menambahkan kata vitamin, maka akan banyak yang membeli? Dans etelah saya coba ternyata emang ngga enak… atau belum terbiasa rasanya. Masih enakan cola clasic atau diet coke.

Akhir-akhirnya ini juga Kit-kat berimprovisasi sesuai dengan musim yang ada di Jepang. Mentang-mentang musim panas = suika, maka diproduksi limited edition Kit-kat Suika (Semangka). Besok-besok apel (sudah ada) dan Nashi atau pear (lupa ada ngga ya?)… Memang orang Jepang kreatif sekali. Mungkin di Indonesia harusnya buat Kit-kat pepaya atau pisang ya hehehe.

Nama Keluarga

19 Sep
250606
250606

Penting tidak? Bagi yang bersuku Jawa, tidak mempunyai nama keluarga. Padahal katanya penduduk Indonesia 60% bersuku Jawa. Saya sendiri karena bukan berasal dari Jawa, dan mempunyai nama keluarga yang disandang turun-temurun tidak pernah merasakan masalah jika mengisi formulir misalnya. Terutama di negara asing, pasti akan ditanyakan Last Name (Famili Name) dan First Name. Anak dari Agus Setianto misalnya tidak harus bernama Joko Setianto. Yang paling mudah mungkin jika memakai istilah bin atau binti. Tetapi ini pun paling-paling bisa sampai 3 generasi ke atas, karena kalau lebih pusing yang membacanya.

Jepang juga dahulu seperti suku Jawa. Bahkan dahulu mereka tidak mempunyai nama. Baru tahun 1870 pada Restorasi Meiji keluarga di Jepang memiliki nama keluarga. Bagi yang berkelas bangsawan atau samurai mereka tidak sulit lagi untuk mendaftarkan nama keluarganya. Tapi bagi masyarakat biasa, tiba-tiba harus memilih nama keluarga, tentu akan repot. Mereka yang bingung akhirnya meminta pendapat dari pendeta Buddha atau Myoshu, seorang profesional pemilih nama. Memang sejarah “Nama” di Jepang ini panjang dan cukup ribet karena harus membuka dokumen sampai abad ke 8. Tapi yang menjadi tonggak adalah tahun 1870 ini.

Kalau Anda mempunyai teman orang Jepang, bisa memperhatikan nama mereka dari Kanjinya. Jika mempunyai unsur TA dengan kanji 田 berarti dahulu nenek moyang mereka adalah petani. Atau seperti nama keluarga Gen adalah MIYA 宮 artinya jinja sehingga diketahui bahwa nenek moyangnya dahulu bekerja di Jinja. (padahal yang saya tahu 3 generasi di atasnya adalah pendeta Buddha). Dengan gabungan kanji shita 下 miyashita berarti Dibawah Jinja (yaaahhh kerjaannya di luar jinja deh …statusnya masih rendah gitchuuu) . Tapi saya pernah bertemu murid yang bernama Miyauchi yang artinya Dalam Jinja…. dan kelihatan sekali dia bersikap “kaku” (baca: sombong heheheh). Dari merek-merek terkenal kita bisa mengetahui banyak nama keluarga di Jepang. Misalnya Suzuki, Honda, Yamaha, dan Bridgestone… loh… itu kan bahasa Inggris? Ya, itu adalah terjemahan dari Ishibashi yang artinya Jembatan Batu.

Tapi ada banyak pula nama keluarga Jepang yang sulit dibaca atau diucapkan, atau sulit dibaca kanjinya. (Kalau nama sendiri lebih banyak lagi yang tidak bisa dibaca). Saya sekarang sedang mengetes diri sendiri apakah saya bisa membaca nama-nama keluarga yang terdapat di Jepang. Biasanya itu saya lakukan pada awal tahun ajaran di univesitas. Kadang kali saya menemukan Kanji yang baru pertama kali saya lihat dan tidak tahu apa bacaannya. Apalagi kalau Kanji nama itu terdiri dari 4 huruf… bisa mabok bener deh. Demo… Gambarimasu !!

Kenapa saya posting ini? Karena tanggal 19 September ini memperingati “Nama Keluarga” yang ditetapkan th 1870… (tentu saja orang Jepang biasa tidak tahu… yang tahu itu Om Google Jepang hihihi)

Apa artinya sebuah angka!

18 Sep

Banyak memang. Semua orang berlomba untuk mendapatkan nomor satu, juara satu, hadiah pertama, (istri) pertama dll. Siapa sih yang mau menjadi nomor buntut. Itu jika kita melihat dalam suatu jenjang tingkatan. Bagi sebagian suku bangsa atau bangsa, angka itu mempunyai arti yang berbeda-beda. Angka yang bagus di suatu masyarakat, belum tentu menjadi angka yang bagus pula di masyarakat lain.

Membaca posting Nepho-san tentang angka sembilan, saya jadi berpikir, apa sih sebetulnya angka yang bagus menurut orang Indonesia? angka 17 yang dianggap keramat itu? atau apa?

Saya tinggal di Jepang, dan di Jepang angka yang paling bagus adalah 8. Karena dalam penulisan kanjinya 八 berbentuk seperti gunung, yang membuka ke bawah, memberikan kemakmuran kepada daerah di bawahnya. terbuka. Dan kebetulan memang saya dari dulu suka angka 8 , terlepas dari pemikiran orang Jepang.

Angka sial bagi orang Jepang adalah 4 dan 9. 4 bisa dibaca [shi] bisa dibaca [yon]. Shi dalam bahasa Jepang berarti mati/kematian. Karenanya angka 4 dianggap tabu untuk dipakai. Saya pernah menemukan keanehan pada counter check in di Narita, dan ternyata nomor counternya memang tidak ada nomor 4 nya.

Nomor lain yang juga dihindari adalah 9. Karena 9 dibaca [KU] yang berarti malang/kemalangan. Meskipun demikian masih banyak kita temukan pemakaian angka 9 di semua tempat, tidak seperti angka 4. Waktu saya membeli nomor telepon statis (perumahan) di Jepang, saya disodorkan sebuah nomor telepon yang mempunyai banyak unsur 4 dan 9 nya. Rupanya orang Jepang tidak ada yang mau memilih nomor tersebut. Akhirnya saya mengambil nomor tersebut, karena bagi saya , itu hanya berupa deretan angka yang tidak membawa arti apa-apa bagi saya. Dan selama saya memakai nomor itu belum pernah mendapatkan kemalangan atau kesialan.

Satu lagi yang menarik dari angka-angka di Jepang, yaitu satu angka bisa mempunyai beberapa pengucapan. dan jika angka-angka itu dipadukan bisa berbunyi seperti suatu kata, yang mudah diingat. Misalnya 3156 bisa dibaca sa(n) -i (chi)-ko – ro(ku) SAIKORO yang artinya DADU. Dan cara-cara baca seperti ini banyak sekali yang bisa memudahkan mengingat angka-angka yang lumayan panjang seperti nomor telepon dan lain-lain.

Virtual Friends

18 Sep

Pasti sudah tahu kemana arah posting saya kali ini (ngga jauh-jauh dari persahabatan di dunia maya deh). Jika saya mencari di kamus Inggris-Jepang, virtual itu mempunyai 3 arti atau saya ringkas saja menjadi 2 arti yang sebetulnya saling bertolak belakang. Arti pertama : 事実上Real, sesungguhnya, fakta, atau tidak real tetapi “asli” 本質. Dan arti kedua : Angan-angan 仮想 atau di network (dalam hal ini internet). Dan bisa dipastikan jika kita mendengar kata virtual itu, kita langsung berasumsi yang ke dua, angan-angan atau internet. Jarang sekali ada yang mengartikan sebagai yang pertama. Bahkan saya pernah terpaksa harus menerjemahkan kata virtual itu menjadi “dilihat keseluruhan dari atas” yang masuk ke arti pertama tadi. Dan anehnya banyak sekali istilah yang memakai kata virtual di kamus tersebut, tapi tidak ada kata “Virtual Friend/Friends”. Lain halnya kalau kita input kata Virtual Friends dalam situs google, maka langsung keluar bermacam-macam situs, yang mengelola pertemanan di internet, di dunia maya.

Jadi saya ingin menulis tentang virtual friends (yang saya tidak mau terjemahkan menjadi teman maya… keenakan dong yang namanya Maya) yang sebetulnya cocok dengan penjelasan dari Kamus Inggris-Jepang itu. Teman di internet tetapi akhirnya dalam real, kenyataannya juga pernah bertemu. Yaitu tentang kelompok yang disebut dengan The Asunaros. (huh imelda mau cerita aja pake mubeng-mubeng dulu, to-the-point nape hehehe).

Apa dan siapa sih The Asunaros itu?  Yang mencetus kata Asunaros (with or without s) adalah Bang Hery, dan itu dalam komentarnya menyangkut buku dari Eko Ramaditya (hei Rama, kamu juga terlibat dalam pembentukan kami loh) yaitu di posting Tuna Netra Luar Biasa. Di situ pertama kali Bang Hery menyebutkan penamaan Asunaro pada  4 sekawan “virtual”. Katanya gini: ”

Untuk klub Asunaro (4 sekawan hi hi…): Bos Nh18, Ime-chan dan Lala
Jangan khawatir….don’t worry….
Semua kebagian tanda tangan…
Bila perlu ditambah tanda tangan saya sekalian…….

(Bang, kayaknya aku dapet ngga ada tanda-tangan Rama dan abang deh… ngga aci dong… Nanti kalau saya ke jkt lagi, akan saya tagih tanda tangannya — ngga usah di buku Rama, tapi di cek juga boleh hihihi)

Jadi sejak tanggal 8 Juli itulah The Asunaros berdiri…. (haiyah…. pake acara ulang tahun segala… hayoooo pasti yang mencetuskan sendiri lupa tuh. Aku soalnya orang sejarah, jadi tanggal/tahun amat penting! hihihi). Kemudian nama Asunaros dipakai untuk memudahkan panggilan ke 4 orang ini, seperti pada postingan saya yang “Mutiara” (sekarang saya bisa tahu kenapa postingan saya yang itu menjadi top di Pupolar Post… rupanya ada hubungannya dengan asunaro juga nih hihih…. mas Bos Om NH sebagai yang tertua ….ups… kudu beliin mutiara buat kita semua nih) Dan sepertinya sih, kelompok Asunaros ini bisa terbentuk karena usahanya Jeung Lala yang ingin sekali bertemu dengan Om (angkat juga) nya yang di Jakarta, Abang (angkat juga) nya yang penerbit dan kakak (angkat juga… eh la apa kuat kamu angkat aku???) nya yang akan mudik ke Jakarta. (Jadi aku juga berperan ya…gara-gara aku mudik kan tuh kalian-kalian mau ketemuan hihihi….. weleh ge-ernya keluar)

sorry ya asunaros, saya pasang fotonya di sini

Entah kenapa, memang awal persahabatan kami ini dimulai dari saling komentar pada postingan salah satu di antara kita, dan komentar itu dikomentari lagi sehingga bagaikan chatting dalam kolon komentar. Dan akhirnya hampir semua postingan kami setelah itu pasti ada komentar dari the Asunaros ini. (kecuali kalo males ngga tahu mau nulis apa). Mungkin dengan melihat itu juga Bang Hery tercetus nama Asunaro, yang merupakan judul dari film seri Jepang, Ordinary Trainer People, yang katanya pernah diputar juga di Indonesia. Dan kami ini benar-benar kompak sehingga pada tanggal 17 Juli, dalam satu hari itu kami berempat menulis potingan dengan topik yang sama. (Sesuai urutan waktu pemostingan) Saya membahas Asunaro dari asal katanya, Bang Hery tentang Sahabat Dunia Maya yang lebih akrab daripada teman/tetangga  di real, Mas trainer membahas keanehan pertemuan di dunia maya lengkap dengan informasi sifat-sifat masing-masing, khas seorang trainer yang amat cermat. Dan si Lala yang tidak sudi ketinggalan menulis ala novel, dengan kata-katanya yang memukau. Ya, katanya kami ini a little piece of heaven. (kok cuma a little sih la huehueehu).

Pertemuan kami yang tadinya hanya di internet menjadi kenyataan pada tanggal 1 Agustus lalu di sebuah restoran di kawasan Sudirman. Meskipun cuman sebentar, kami bisa menyadari, hey sebutan-sebutan yang kami kenal lewat internet itu benar-benar ada, riil dan mereka adalah manusia biasa sama seperti masing-masing dari kami. Dan benar…sifat-sifatnya sama seperti tulisan-tulisannya, yang ganjen ya memang ganjen, yang narsis memang narsis, yang jaim ya emang jaim, yang cuek bebek memang cuek bebek…. bukan cuek ayam, yang jorse emang jorse (weleh salah ya? ). Waktu bertemu seakan-akan kita sudah sekian kali bertemu, bukan untuk pertama kali. Ke-empat orang ini memang menulis sesuai dengan karakternya masing-masing, tanpa bumbu-bumbu yang jauh dari kenyataan, tanpa tipu menipu. Dan setelah pertemuan itu pun, persahabatan Asunaros tetap berlangsung, mungkin sedikit lebih kalem dari awal-awalnya (karena tambah hari tambah tua mungkin, semakin sadar…. tapi ngga tahu juga ya sesudah Ramadhan lewat mungkin meledak-ledak lagi). Setelah kami menulis review tentang Rama, yang bukunya diterbitkan oleh kantor nya Bang Hery, mungkin tugas kami, The Asunaros berikutnya saling menulis review penerbitan bukunya Lala, Mas trainer dan saya(?) … apapun kegiatannya senang rasanya kalau kita tahu ada yang selalu mendukung kita di setiap waktu in this unlimited world.  Kelompok Asunaro ini baru berusia 2 bulan je … masih bayi … (Waktu 8 September lupa aku… ngga tumpengan ya… bulan Ramadhan sih jadi mustinya buk ber ). (Sambil nulis gini jadi liat tgl 8 kemarin aku posting apa ya? Ternyata MY (NEW) HERO loh… hehehe) Semoga persahabatan di VIRTUAL WORLD ala kamus Jepang bisa berlanjut terus…

Bang Hery yang sedang sibuk imbas penerbitan bukunya Rama yang gempar itu take care kesehatannya….ditunggu lagi buku-buku dan postingan menariknya.

Mas trainer yang ngga tau sibuk atau ngga, tapi sementara ini tidak ada posting ganjen di bulan Ramadhan (LURUS —kayak jalan tol—kata bang Hery) … take care juga dan Selamat Ulang Tahun yang ke ….. , hari ini tgl 18 Sept 2008. Semoga panjang umur dan sukses selalu (meskipun sekarang pun sudah merupakan trainer yang sukses, believe me …btw kayaknya musti ganti bukan the ordinary trainer tapi extraordinary tuh. Lihat aja jumlah pengunjung blognya … padahal relatif baru ngeblog juga kan?) So dengan iringan piano mas trainer (weks yang ulang tahun kudu main), angkat suara…. He…… pi bersde tu yuuuuuu.

kakak dan adik angkat (-angkatan hihihi)

Jeung Lala, yang sedang manyun karena koneksi internet tidak mendukung untuk menulis postingan dan komentar…. (buruan ganti provider!)  Take care dengan kesehatan dunk, Makan yang bener pas buka dan sahur, jangan dikorting. Seperti yang aku bilang, jangan diet waktu bulan puasa… itu mah bunuh diri.  Dan pasti kalo kamu mati ngga diterima Tuhan loh. Kakakmu ini tetap menunggu-nunggu penentuan tanggal liburan ke Sby buat pesen tiketnya loh. Aku naik SQ aja biar bisa langsung ke sana hehehe (Sayang mileagenya SQ udah hangus).

Tapi saya juga berharap pertemanan kami ini juga jangan terlalu, jangan over-do/keep it moderate, hodo-hodoni kata orang Jepang.

Banzai!!!

Mencari Kebebasan

17 Sep

Saya capek mendengar tangisan Kai karena dia tidak mau lepas dari saya dalam setiap kesempatan. Dan puncaknya waktu dia tetap menangis waktu papanya gendong. Jadi saya memeutuskan untuk membiasakan dia lepas dari saya. Kemarin malam saya sempat menelepon Tempat Penitipan Anak (TPA) Himawari tempat saya menitipkan Riku dulu, dan membuat janji untuk mengantar Kai hari ini jam 9:30. Tadinya saya pikir cukup 2 jam saja, tapi akhirnya diperpanjang sampai 4 jam.

Continue reading