Mengapa harus tikus sih?

Anda semua pasti kenal Mickey Mouse dong… Lalu Tom and Jerry. Atau pernah nonton juga Little Stuart yang bisa membuat kita menitikkan air mata. Kemudian yang terakhir adalah Ratatouille atau yang di bahasa Jepangnya di beri judul “Remi no oishii resutoran レミーのおいしいレストラン” — Restoran Lezat Remi. Coba perhatikan saja sekian banyak karakter yang dipakai yang menjadi populer itu, tidak lain dan tidak bukan adalah seekor TIKUS. Tikus yang digambarkan memang macam-macam, ada yang lucu, imut-imut bahkan bisa diterima sebagai ikon yang mendunia. Tapi coba kalau dipakai fotonya yang asli, bukan gambar kartun… dijamin tidak bisa makan sambil menonton deh. Apalagi kalau kita bayangkan si REMI yang membuat masakan kita yang sedang kita santap itu …Wuaaaaahhh. (Maaf kalau baca ini sedang puasa… )

Fenomena ini memang sudah lama terjadi. Entah apa tujuan Paman Walter memilih si tikus untuk hero-nya. Saya juga heran kenapa alat tambahan untuk memudahkan penulisan di computer itu harus dinamakan MOUSE atau TETIKUS. Mungkin ini merupakan obsesi dari para pencipta karakter itu untuk mengangkat derajat si tikus dari binatang buruk rupa, pembawa penyakit (yang pasti bau..ngga pernah mandi sih)  dan umpan si Kucing (kayaknya anjing juga banyak yang suka sih… bahkan manusia pun ada yang mau makan) …pokoknya …. si makhluk yang jueleeeek ini menjadi lucu, imut-imut, gemesin (seperti jeunglala hihihi …ngga deh seperti anak-anak saya….kapan lagi narsis) dan menjadi idola manusia di dunia ini (di planet ngga tau ada tikus ngga).

Anyway, saya benar-benar merasa perlu untuk meneliti fenomena ini, tapi sayangnya waktunya saya tidak ada. Mungkin jika ada yang punya banyaaaaak waktu luang bisa memikirkan topik ini sebagai tema skripsi atau thesis atau disertasinya (haiyah….). Dan ternyata Jepang pun tidak mau kalah dengan negara Amerika dengan Mickey Mousenya. Karena ternyata ada sebuah Picture Book di Jepang yang terbit tahun 1963 (bayangkan ….seumuran mas trainer atau pak grandis mungkin hihihi) yang mengambil tokoh TIKUS. Bukan hanya satu…malah dua ekor Tikus. Hebat ngga?

Namanya GURA dan GURI. Ingat saja Gula itu membuat gurih makanan sebagai bumbu penyedap (kakushi aji 隠し味) . Dua tokoh tikus ini diciptakan oleh Nakagawa Rieko (karangan) dan Oomura Yuriko (gambar) pada tanggal 1 Desember 1963. Diterbitkan oleh penerbit kesayangan saya FUKUINKAN SHOTEN. Ditujukan untuk anak-anak berusia 3-5 tahun … dan ditetapkan sebagai “buku wajib” oleh Asosiasi Perpustakaan Sekolah Seluruh Jepang. You can not believe it but….. buku ini sudah dicetak 160 kali per data tahun 2005. Tidak ada orang Jepang yang tidak mengetahuinya. HEBAT!!!!.(Aduuuh saya ingin sekali anak-anak Indonesia juga mengetahui cerita ini)

Ceritanya sangat sederhana. Dua tikus bersaudara (kembar) itu menemukan sebutir telur yang besar di hutan, dan ingin membuat kue castella. Tapi mau membawa telur itu ke rumah mereka tidak bisa… pasti pecah di perjalanan, karena terlalu berat. Jadi mereka membawa panci, bowl untuk adonan, pengaduk, susu dan gula dari rumah mereka ke tempat si telur berada. Sambil mengadon dan memasak kue itu, bau yang harum menyebar ke seluruh hutan, mengundang binatang lain berdatangan. Dan kue yang besar itu kemudian dinikmati bersama oleh seluruh penghuni rimba.

Yang menarik dari cerita ini adalah lagu yang dinyanyikan ole Guri dan Gura waktu menunggu kue matang yang menjadi trade mark mereka.

Bokura no namae wa Guri to Gura

Kono yo de ichiban suki nano wa

Oryori suru koto taberu koto

Guri gura guri gura….

(Nama kami Guri dan Gura

Yang kami sukai di dunia ini

Memasak dan makan

Guri gura-guri gura)

Sederhana sekali bukan? Lagunya tentu saja diiramakan sendiri oleh si pembaca. Jadi bisa saja irama pop atau dangdut (heheheh). Tapi waktu pertama kali Riku yang berumur 2 tahun dibacakan cerita ini oleh papanya, saya juga heran mendengar iramanya… seperti nyanyi gregorian hihihi. Lagu yang gen nyanyikan itu  biasa-biasa saja, tapi tetap melekat sampai sekarang. (Tapi di situ saya juga kagum bahwa membaca cerita yang simple itu bisa begitu memukau jika dihayati, dan sejak itu saya berusaha memakai “ekspresi” jika membacakan cerita untuk Riku. )

Guri dan Gura

Ini adalah buku pertama, dan setelah itu ada beberapa cerita dari seri Guri dan Gura ini dengan judul “Tamu Guri dan Gura”, “Guri dan Gura : Berenag di laut”, “Guri dan Gura :Piknik” “Guri dan Gura bersama Kururikura”, “Guri dan Gura: Pembersihan besar-besaran”. “Guri dan Gura bersama Sumire-chan” dll. Buku ini juga saya sarankan untuk mereka yang baru belajar bahasa Jepang karena semuanya tertulis dalam hiragana. Saya tidak tahu apakah di perpustakaan Japan Foundation Jakarta ada atau tidak, mungkin bisa ditanyakan langsung ke sana.

Buku Guri dan Gura ini yang pasti sudah diterbitkan dalam bahasa Inggris. Berikut adalah sinopsisnya dalam bahasa Inggris.

Guri and Gura, popular characters in Japan since their 1963 debut (of which this book is the translation), enter the American market with the first of the publisher’s projected series. Here, the two exuberant mice find a huge egg in the forest and decide to use it to make “a sponge cake so big we can eat it from dawn to dusk and still have some left over.” Realizing that the egg is too big to move, Guri and Gura haul a huge frying pan (and everything else they need) over to the egg, then mix up the batter, build a fire and share the results with all the animals who have sniffed out their cake. Yamawaki’s pared-down line drawings deliver information plainly and directly, with little shading on an expansive white background: Gura holds the lid of the pan (which towers over him), Guri raises his tiny mouse fist in excitement, and the nicely risen cake is revealed. A childlike refrain becomes a light-hearted mantra: “My name is Guri. And my name is Gura. And what do you think we like to do best? Cook and eat. Eat and cook. Yeah! Guri and Gura, that’s us.” The book’s visual appeal is dampened somewhat by bland type design and bleed-through on the matte pages. But cake-making is always a delicious theme for small readers, and Guri and Gura’s inventive energy loses nothing in the Pacific crossing. Ages 4-8.
Copyright 2002 Reed Business Information, Inc.

8 gagasan untuk “Mengapa harus tikus sih?

  1. Yulis

    Cerita dengan pemeran utama binatang memang sangat menarik untuk anak anak. Masalah anime Jepang memang jagonya. thanks

    Yuliss last blog post..SUAMI KEBANGGAANKU

    Jepang memang pintar untuk anime. Di sini sekolah kejuruan anime populer sekali.
    ***EM***

    Balas
  2. edratna

    Jepang memang hebat dengan anime nya….anak-anak memang senang mendengar dogeng atau cerita karena ada kedekatan dari cara penyampaiannya, ada intonasi suara yang berbeda jika dibanding hanya membaca. Ini yang menyebabkan, buku yang baik akan semakin menyenangkan jika dilakukan bedah buku, mendiskusikan isi buku tadi diantara teman-teman pencinta buku.

    edratnas last blog post..Menyetir mobil, sulitkah?

    Benar bu.
    Sayang di Indonesia Picture book masih sangat kurang
    ***EM***

    Balas
  3. tuti nonka

    Di Indonesia komik Manga sangat populer. Salah seorang keponakan saya, lulusan Desain Visual Trisakti, adalah penulis komik Manga. Sekarang dia mengajar membuat Manga di sebuah tempat kursus milik orang Jepang. Hanya sayangnya, banyak komik-komik Manga dan game komputer dari Jepang yang memuat seksualitas dengan terang-terangan, padahal komik dan game itu untuk anak-anak.

    Suami saya memiliki penerbitan buku anak-anak. Saya mengedit sebagian besar naskah yang akan diterbitkan. Memang senang sekali membaca cerita dan melihat gambar binatang dan tokoh anak-anak yang lucu-lucu. Hanya saja, di buku anak-anak Indonesia tikus tidak populer. Yang banyak dipakai adalah kucing, gajah, kambing, kelinci, burung, dll.
    Mungkin, karena di Indonesia tikus sudah diambil sebagai ikon koruptor …. wakaka 😀

    Memang benar mbak, Manga dan game komputer dari Jepang itu harus diseleksi ketat karena memuat seksualitas dengan terang-terangan. Itu karena peminat Mangga dan Game bukan hanya anak-anak sehingga mereka memenuhi permintaan pasar “Adult”. Naruto itu sebenarnya juga bukan konsumsi anak-anak. Banyak karakter lain yang lebih cocok untuk anak-anak, tapi pasar Indoensia maunya yang “terkenal” saja bukan? Crayon Shinchan di sini tidak laku mbak. Saya lebih setuju Indonesia mengimpor Kyoro-chan, Anpanman atau Pocket Monster. Lebih ada unsur pendidikannya.
    Soal Fabel memang lain ya tiap negara kecenderungannya. Tapi mbak …saya tidak menganggap tokoh kancil yang dari Indonesia itu sebagai tokoh yang bagus untuk anak-anak loh….
    ***EM***

    Balas
  4. mascayo

    waaaaaa … saya pas lagi makan sahur bacanya! .. eh tapi ndak pa pa ding … rasa bandengnya ngga berubah, masih enak 🙂 tapi bener juga, kenapa tikus yaa? boleh juga mbak dicari historynya … apa mungkin si empunya cerita dari kecil melihara tikus?

    mascayos last blog post..Peringatan Google Chrome

    Mungkin perlu ditelaah juga si Disney dan Pixar, juga penciptanya Guri dan Gura ini ya…
    Karena Fabel yang saya baca dari Isop biasanya tentang Jangkrik dan Semut, atau Singa dan Tikus (aha…tikus nih). Mungkin perlu diteliti juga menurut padangan negara itu ttg binatang-binatang tertentu. Seperti kata Mbak Tuti, Indonesia mengkonotasikan tikus-tikus sebagai “koruptor” (kata Iwan Fals ya yang Tikus-tikus kantor?), sehingga jarang dipakai hehehe… (tapi koruptor kan baru-baru ini aja ya mbak… dulu kenapa ngga ada pemunculan tikus sehingga bisa menggantikan kedudukan kancil misalnya heheheh).
    ***EM***

    Balas
  5. afwan auliyar

    wew…. duh kapan yak indonesia punya pemikiran kesana … 🙁

    well… ternyata seekor tikus pun bisa mempunyai hikmah yg begitu dalam… artinya binatang yang biasanya dihinakan, bisa diangkat derajatnya kalaupun mereka berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain .. 🙂

    afwan auliyars last blog post..The Updater ….. Review minggu ini

    Benar jangan selalu menganggap bahwa sesuatu atau manusia tidka bisa berubah menjadi baik.
    terima kasih ya afwan san blog saya direview Anda. Kehormatan bagi saya.
    ***EM***

    Balas
  6. Melati

    Buku Guri dan Gura masih dibaca anak-anak ya.
    Memang buku itu lama diterbitkan sehingga waktu saya masih anak kecil juga sudah ada.
    Dan kalau nggak salah ingat, buku pelajaran bahasa SD kelas 1 memuat cerita itu.

    Iya sampai sekarang masih dibaca anak-anak kok.
    ***EM***

    Balas
  7. tanti

    Lepas dari potensinya sebagai pembawa penyakit dan ‘kekacauan’ yang ditimbulkannya di rumah, buat saya tikus itu kalo diamati mukanya sebenarnya lucu lho..hihi…
    Tikus juga berjasa sebagai hewan coba di penelitian laboratoris..
    Tikus yang saya sukai selain Mickey Mouse adalah tikus-tikus dalam kartun American Tail yang nyanyi Somewhere Out There….:) http://tantikris.wordpress.com/2008/08/18/somewhere-out-there/

    tantis last blog post..Ebony and Ivory

    Iya sih Tanti…. kalau tikus putih mungkin aku masih suka…tapi kalau musti bayangin tikus di rumahku di Jakarta dong…. Kucing aja kalah besarnya …hiiiiii
    ***EM***

    Balas
  8. krismariana

    Ceritanya sederhana, tapi menarik menurutku. Pengen deh bisa nulis cerita kaya gitu.

    Tikus cuma lucu saat di dalam cerita anak-anak. Kalau lihat betulan, hiiii serem! Jijay bajay deh! Haha. (Kasihan ya bajaynya.)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *