Mencari Kebebasan

Saya capek mendengar tangisan Kai karena dia tidak mau lepas dari saya dalam setiap kesempatan. Dan puncaknya waktu dia tetap menangis waktu papanya gendong. Jadi saya memeutuskan untuk membiasakan dia lepas dari saya. Kemarin malam saya sempat menelepon Tempat Penitipan Anak (TPA) Himawari tempat saya menitipkan Riku dulu, dan membuat janji untuk mengantar Kai hari ini jam 9:30. Tadinya saya pikir cukup 2 jam saja, tapi akhirnya diperpanjang sampai 4 jam.

Waktu saya serahkan dia ke gurunya, dia sempat menangis meskipun tidak meraung-raung, Dan saya cepat-cepat pergi dari tempat itu. Ternyata setelah dia tahu dan sadar bahwa mamanya tidak ada di tempat itu, kata gurunya dia sempat menangis cukup lama. Tapi kemudian ada acara jalan-jalan bersama anak-anak yang lain, jadi Kai ikut juga bersama rombongan. Kelihatan dia enjoy saja. Setelah tidur siang sebentar, dia dapat makan siang yang dilahap sampai tandas.

Kai menjatuhkan stoples isi keringan tempe kacang

Kai menjatuhkan stoples isi keringan tempe kacang

Sedangkan saya begitu meninggalkan TPA itu pergi berbelanja untuk stock lemari es. Tapi karena toko-toko bukanya jam 10 pagi, saya mampir dulu sarapan di Mister Donut. (sekalian beli untuk Riku dan Kai tea time –oyatsu) Cuman duduk 10 menit, langsung saya ke toko-toko yang menjual sayur, daging, dan ikan yang murah… Discount shop istilahnya di sini. Saya senang belanja di sini, karena masih bisa berinteraksi dengan pedagang atau pembeli lainnya. Saya lihat di rak buah-buahan sudah banyak Anggur besar tanpa biji khas Jepang yang bernama Kyoho. Jadi teringat papa, karena papa suka sekali anggur ini, sampai pernah saya bawa ke Jakarta. Di tempat daging terjadi antrian cukup panjang, karena mesin cashiernya rusak… (hmmm secanggih apapun mesin tetapi perlu manusia yang bisa menggerakkan dan memperbaikinya). Kemudian saya pergi ke tempat los ikan untuk membeli udang. Di sini banyak di jual udang Black tiger dari Indonesia. Dulu saya benci untuk membeli produk Indonesia, karena seakanan mutunya jelek. Tapi sekarang kalau ada perbandingan benda yang ingin dibeli, pasti saya akan memilih produk Indonesia.

Waktu saya berjalan ke parkiran sepeda, tiba-tiba urat telapak kaki saya terjepit sehingga sulit

Tak sengaja aku makan itu yang merah-merah mama...

Tak sengaja aku makan itu yang merah-merah mama...

untuk jalan. Setelah rasa kram nya hilang saya mengeluarkan sepeda dari tempat parkir itu. Waktu menunggu lampu merah, tiba-tiba ada seorang kakek yang juga sedang bersepeda menyapa saya. Terus terang wkatu itu saya tidak dengar dia bicara apa. Tapi saya sahut dnegn “Panas sekali ya hari ini….”

Si kakek melesat dnegan sepedanya dan saya ikuti dari belakang. Terlihat punggungnya yang bengkok… ahhh kakek ini pasti sudah bekerja keras waktu masih muda. Sabil memperhatikan si kakek, saya melaju terus. Sehingga pada suatu ketika, si kakek seperti berteriak kepada pengendara yang lain. Rupanya si kakek tidak bisa pakai rem dan tidak bisa membunyikan  bel sepeda mungkin karena tidak bisa jaga keseimbangan. Si Kakek hanya tahu mengayuh dan mengayuh. Hmmm membahayakan pemakai jalan lainnya.

Sesampai di rumah, saya menaruh belanjaan dan merasakan rumah sepi. Saya bisa punya waktu bebas untuk 2 jam. Pasang musik keras-keras sambil membereskan rumah.Tahu-tahu sudah jam 12:26, saya sudah harus menjemput Kai, dan kemudian Riku… Mulai lagi kehiidupan yang “ramai” itu.

5 gagasan untuk “Mencari Kebebasan

  1. Yulis

    Sama kak, saya kalau ada barang made in Indonesia dan kebetulan sedang membutuhkan pasti saya beli. Walau tidak ada artinya tetapi saya selalu memiliki idealisme, walau kecil bisa membantu produk Indo dan biasanya juga bagus kok. Banyak produk bermerk made in Indonesia. thanks

    Yuliss last blog post..KECANTIKAN DAN HAK ISTIMEWA

    Aku Cinta Lelaki Produk Indonesia
    BANZAI!!
    EM

    Balas
  2. Hery Azwan

    Produk Indonesia di luar negeri?
    Kemarin aku chat dengan teman satu sekolah yang buka restoran di Kopenhagen. Istrinya orang sana juga.
    Katanya, dia mengimpor bir bintang dari Indonesia. Menurutnya, bule2 sono pada suka bir ini dan menganggapnya unik.
    Jadi kalau di luar negeri, produk Indonesia bisa berpeluang menjadi produk eksklusif ya?
    Belum lagi, waktu istriku ke Frankfurt. Sebelum berangkat, mitranya yang mengundang minta dibawain oleh2 rokok Marlboro satu slop (10 bungkus). Lah, beli Marlboro kok dari Indonesia? Kalau ini mungkin masalah harga yang lebih murah kali ye…

    Bir Bintang? Ntah kenapa aku tidak suka… anyep …
    Marlboro Indonesia dgn buatan luar negeri katanya Gen emang lain rasanya. Aku mah ngga tau…Mustinya mas trainer tahu pasti hehhehe.
    EM

    Balas
  3. mascayo

    sempet ngerasain jepang 3x 7 hari. yah kebetulan bos ngajak jjs sambil liat mesin baru yg mau diboyong ke pabrik. kebetulan waktu itu ke gifu.
    sempet nemu produk indonesia “kerupuk” hihihi.. ngga tau ding itu dari indonesia ato bukan .. tapi kayaknya sih iya ..
    salam buat kai dan riku .. dari zia 🙂

    mascayos last blog post..Peringatan Google Chrome

    Kerupuk yang ada di Jepang (bukan di toko punya orang Indonesia) biasanya dari Cina pak. Rasanya kurang “menggigit”.
    ***EM***

    Balas
  4. tuti nonka

    Memang produk (terutama kerajinan) dari Indonesia itu buagus-buagus lho. Kalau kita masuk ke toko pusat souvenir, nggak usah di luar negri, di Indonesia saja, kita akan menemukan sangat banyak hasil kerajinan Indonesia yang berkualitas tinggi.

    Hanya saja sekarang ini produk China menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Mereka memproduksi bordir secara computerized, sehingga hasilnya lebih bagus dan lebih murah. Akhir-akhir ini batik China juga menyerbu pasar Indonesia, dengan harga dan kualitas lebih bagus dari batik lokal.

    Iya mbak mass product dari China mengkhawatirkan ya…
    ***EM***

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *