Solitaire = Sendiri = Kesepian?

Judulnya seperti tag aja yah… Tapi memang hari ini tema yang saya dengar atau jalanin memang itu sih. Dimulai pagi hari, saya mendapat telepon dari teman dosen yang baru pulang dari Bali (yang saya pinjamkan proteksi Skimming untuk Kartu Kredit itu) . Dia cerita bahwa dia senang sekali pergi ke Bali dan karena dipinjamkan proteksi itu dia merasa aman dan sangat enjoy. Lalu saya bilang, “Untunglah Anda enjoy, padahal Anda kan pergi sendiri….”

“Iya semua orang yang saya jumpai bilang apa enaknya wisata sendiri dan apakah tidak takut?… tapi saya enjoy bisa santai sendiri, di pool sendiri, jalan-jalan ditemani penerjemah saja….”

“Wah kalau begitu saya harus coba juga ya wisata sendirian nih bu. ”

“Ya…nanti kalau kamu pulang ke Jakarta, tinggalkan saja 3 boys di Jakarta, lalu pergi ke Bali sendirian. Pasti enjoy deh!”

“Hmmm iya deh, nanti saya rencanakan begitu”

Kemudian saya pergi menyelesaikan urusan-urusan di luar, karena ibu mertua sudah datang untuk menjagai Kai. Beliau bilang, “Mumpung saya ada di sini, bisa jaga Kai, kamu enjoy saja di luar. Makan siang yang enak” Tadinya saya mau ajak dia makan di luar tapi dia bilang, dia sedang jaga dietnya karena minggu depan akan ke dokter. So saya pergi ke kantor pos dsb,  kemudian berjalan ke shopping mall. Huh saya paling sebal sebetulnya ke shopping mall, malas untuk buang waktu…tapi saya paksakan saja. Keliling-keliling lihat barang-barang bagus, dan sama sekali tidak tertarik beli. Setelah belanja keperluan dapur, saya putuskan untuk makan yang light saja. Maunya sih makan spaghetti, tapi tahu pasti tidak akan bisa habis satu piring. Sayang dibuang.

Jadi saya pergi ke resto Sushi. Karena jam 2 sepi, dan begitu saya duduk di counter, tiba-tiba ada seorang ibu berkata,

“Saya belum selesai makan kok sudah diangkat!!! Saya baru ke WC saja kok, belum mau pulang”

“Maaf … kami akan sediakan lagi yang baru… Sekali lagi Maaf.”

Pelayan restoran mengucapkan maaf berkali-kali sambil membawakan sup, minuman, dan sushi (mengantar setiap item +kata maaf)

Hmmm saya berpikir di situ… si ibu ini memang makan sendiri, dan mungkin tengah makan dia mau ke WC, dan dia bawa semua barang (tasnya) bersama dia…. Pelayan yang melihat tidak ada orang, dan tidak ada barang, menganggap tamu sudah pulang, lalu diangkat. Susah juga ya pergi makan sendiri jika harus seperti itu. Saya sendiri waktu pertama kali datang ke Jepang, mengalami masalah yang sama. Yaitu harus makan sendiri di restoran. Karena, mau membeli makanan jadi pun saya tidak tahu harus makan di mana. Di kantor? saya tidak berkantor. Baru kemudian saya tahu bahwa orang-orang makan di taman! Jadi selama 2 tahun lebih saya selalu makan di restoran sendiri, atau tunggu saja sampai pulang ke rumah makan malam di rumah. Jika saya dalam kedudukan ibu tadi, saya pasti akan meninggalkan tas saya di situ (bawa dompetnya saja), atau buku atau plastik atau apa saja. Atau saya tahan tidak ke WC sampai saya selesai makan dan mau pulang. Atau sebetulnya ibu itupun, bisa berbicara pada pelayan, jangan di angkat dulu, saya mau ke WC.

Intinya… susah ya makan sendiri!!! Biarpun makanan enak tersaji di depan muka, rasanya aneh sekali makan sendiri. Mau sambil baca tidak sopan (meskipun kadang akhirnya saya begitu), mau sambil telepon apa lagi ( di Jepang biasanya HP tidak boleh dipakai karena mengganggu tamu lain). Terpaksa deh sambil melamun makan dengan pikiran menerawang ke mana-mana. Kebiasaan saya di Indonesia, kalau makan pasti tidak sendiri. Pasti akan mengajak orang untuk makan bersama. Pernah kejadian, rombongan pelajar Indonesia naik kereta di Tokyo. Karena kebiasaan orang Indonesia untuk menawarkan makanan, maka ketika ada yang mau memberikan permen ke temannya, dia juga menawarkan pada orang yang duduk di samping kiri-kanannya. Tentu saja ditolak, bahkan diperhatikan orang segerbong. (“Jangan tawari!” dalam hati saya berkata). Setelah saya jelaskan, mereka tetap tidak mengerti kenapa tidak boleh menawarkan permen itu kepada orang lain. Hmmm susah menjelaskannya, karena banyak alasan yang bisa dipakai dilihat dari kebudayaan Jepang.

Akhirnya si ibu tadi pulang dan waktu membayar, masih saya dengar permintaan maaf dari pelayan toko. Saya juga pulang, dan mengakhir jalan-jalan sendiri saya siang itu. Sambil mengayuh sepeda, saya berpikir… Saya tidak enjoy “cuci mata” di shopping mall tadi. Saya tidak enjoy makan sendirian tadi. Saya juga semestinya tidak bisa enjoy wisata sendirian ya? Misalnya saya pergi ke Bali, menikmati keindahan laut, berbaring di pantai menatap langit, awan yang menggumpal di atas…. sendiri, hening, indah… mungkin saat itu saya bisa relaks. Tapi begitu hari berganti malam…. yang didengar hanya deburan ombak, pekatnya malam, dan …. sepi. Kok saya jadinya takut? Takut pada kegelapan (dan memang ini termasuk phobia saya). Hmmmm

Tapi saya juga tahu, bahwa manusia dilahirkan sendiri ke dunia ini. Dan pasti akan kembali sendiri. Takut? pasti! … tapi mungkin saya memang harus pergi sendiri untuk meyakinkan dan menemukan jawaban, apakah saya takut sendiri? Apakah saya takut kesepian? Kalau tidak dicoba, bagaimana saya bisa tahu? Tentu saja saya pergi sendiri itu bukan dalam konotasi “dinas/bekerja” ya , tapi dalam rangka “berlibur”. Saya juga pernah disarankan teman untuk retreat sendiri. Memang sudah lama sekali saya tidak retreat. Terakhir waktu SMA…. tapi… itu juga tidak sendiri kok. Bersama teman-teman SMA. Hmmm mikir lagi deh. Kenapa juga timbul pikiran ini ya? mungkin karena musim gugur = musim sedih. Daun-daun yang hijau berubah merah, dan rontok jatuh ke tanah. Ibaratnya mati. Semakin mendekati akhir tahun, semakin dingin… menusuk tulang, perasaan “lonely” itu akan tiba (makanya menjelang akhir tahun banyak kasus bunuh diri di Jepang).Saya rasa semua yang tinggal di negara 4 musim pernah merasakannya.

Arggghhhh, saya ingin terbang mengejar matahari sampai sayapku tak bisa dikepakkan lagi.

NB: Maaf kok jadi berat ya isinya hehehe. Lupakan saja!!!

8 gagasan untuk “Solitaire = Sendiri = Kesepian?

  1. Melati

    Lebih bahagia ada seseorang yang saling menyayangi daripada sendirian.
    Mbak merasa sepi kalau sendirian karena sudah tahu betapa bahagianya ada seseorang.
    Saya aja sudah nggak enak sendirian padahal dulunya nggak apa-apa.
    Semakin banyak seseorang yang kusayangi, semakin sepi sendirian.

    Memang Jepang yang punya empat mesim berani-beraninya bikin jiwa raga manusia kacau.
    Susah menyeseaikan diri dengan perubahan suhu udara!

    Bener ya Melati san….
    Saya orang Indonesia yang selalu berada dalam komunitas
    Sedangkan orang Jepang meskipun berada komunitas tetap adalah makhluk individu yang tidak bergaul. Sulit memang. Kadang saya menyangka saya sudah menjadi orang Jepang, padahal sebetulnya tidak sama sekali. Itu hanya sebagai alasan supaya saya bisa diterima oleh masyarakat Jepang. OK memang kita, saya dan kamu adalah Uchu-jin…Makhluk planet yang bernama BUMI.
    ***EM***

    Balas
  2. Yulis

    Kalau saya suka rame rame kak Imelda, kalau wisata sendiri ngak bisa ngebayangin deh. Dulu ketika masih single apa apa sendiri dan sekarang ada suami yang bisa diajak kemana saja tanpa harus buat janaji membuat saya lebih senang. thanks

    Thats what Friends husband are is for…
    ***EM***

    Balas
  3. nh18

    Iya EM …
    Ini berat …

    But still … menikmati kesendirian apakah bisa dikategorikan kesepian …

    Sendiri aku pikir tidak sama dengan sepi …

    Ada orang ditengah keramaian tetapi merasa kesepian …

    Ada orang yang sendirian tetapi hatinya ramai …

    hhhmmm …

    Iya memang mas….
    Tapi menikmati kesendirian itu bisa berapa lama sih?
    Justru itu yang saya mau test pada diri sendiri.
    Bisa ngga saya misalnya bener2 sendiri 1-2 minggu.
    bener-bener bertapa untuk saya sendiri.
    Lari dari macam2…
    menikmati pemandangan indah…. sendiri
    (jangan-jangan aku malah cari pacar baru nih kayaknya hahaha)
    ***EM***

    Balas
  4. tuti nonka

    Kebetulan saya terbiasa sendiri, dan bahagia aja tuh! Enjoy in alone. Karena suami sibuk, saya biasa kemana-mana by my self, termasuk wisata. Asyik-asyik aja kok. Saya bahkan lebih suka pergi sendiri, daripada bersama orang lain yang tidak sama selera dan minatnya dengan saya. Pada perjalanan wisata, waktu kita terbatas, naah … kalau pergi dengan orang yang minatnya berbeda, kan sama-sama ‘rugi’. Saya ingin ke museum, teman ingin ke mall. Akhirnya harus berbagi waktu, dan sama-sama tidak puas.
    Satu-satunya acara yang saya enggan pergi sendiri adalah ke resepsi pernikahan. Rasanya gimana, gitu …

    tuti nonkas last blog post..Siesta
    Kalau sudah terbiasa sendiri sih biasa mungkin ya mbak. Tapi biasanya wisata sendiri itu tidak lebih dari 3 hari kan?
    ***EM***

    Balas
  5. Oemar Bakrie

    Waktu jadi “jomblo lokal” dulu rasanya sedih banget kalau pas lagi sakit, sendirian di kamar asrama masih harus ngurus keperluan untuk diri sendiri, wah pokoknya jadi terasa sengsara …

    Oemar Bakries last blog post..Lebih sehat dengan berpuasa

    Nah kan pak…sendiri itu ngga enak. Tapi itu kalau hidup sendiri ya. I mean kalo kita liburan misalnya 2 minggu sendiri tuh gimana ya?
    ***EM***

    Balas
  6. Hery Azwan

    Liburan sendiri?
    Pasti nggak enak lah…
    Sing Suer…
    Kalau siang sih bisa cari2 teman, tapi pas tidur sendirian di kamar hotel?
    Halah…

    Hery Azwans last blog post..Dokter Ngantuk

    thats it!!!
    Kalau siang sih bisa cari2 teman, tapi pas tidur sendirian di kamar hotel? ==setuju nih bang hehehe

    Balas
  7. Daniel Mahendra

    Bagiku pribadi, sendiri atau tidak sendiri, kerap disergap oleh rasa kesepian. Andai saja kesepian itu berwujud makhluk, sudah kubunuh dair dulu dia.

    Tapi soal bepergian, aku lebih menikmatinya seorang diri.

    Balas
  8. Yoga

    Awalnya dulu aku nggak bisa makan sendiri di resto, sekarang biasa saja. Ini nggak lepas dari didikan kantor, travelling kemana-mana sendiri, jadi keterusan, kalau travelling nggak segan-segan menjelajah daerah yang kukunjungi sendirian, meski sesungguhnya aku diantar sopir mobil yang kusewa.

    Tapi percaya nggak mbak, kayak Daniel, kalau sendiri itu berwujud makhluk dari dulu ia pasti sudah binasa!

    Iya Yoga, mau ngga mau kalau kita mau mandiri harus seperti itu. kita tidak bisa mengandalkan orang lain aja. Makanya aku juga skr traveling sendiri kan sama anak-anak hehehe. Kalo mau nunggu gen libur bisa-bisa aku berkubang danau air mata di sini. But sebetulnya enak adikku si novi, suaminya agak flesibel, dan wkt mereka tinggal di luar negeri, sama bayi jalan jalan ke mana-mana tuh… kok bisa aja . Aku kalo untuk wisata saja sih tunggu dulu deh. Bisa pulang kurus aku (well sebetulnya itu jalan paling baik untuk diet dan menjadi miskin hihihi).
    Untung si sepi bukan makhluk, kalau ya, blog ku bau mayat dong hihihi.

    EM

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *