Backpacker ala Jepang

Apa sih definisi Backpacker? Backpack itu kan ransel ya? Jadi mereka yang menyandang ransel di punggung lalu melakukan perjalanan (dengan biaya murah) itu yang disebut Backpacker. Buat Mang Kumlot…benar tidak pengertian saya ini? Nah, kali ini saya mau bercerita tentang backpacker ala Jepang, atau sebenernya cerita tentang seseorang Jepang yang backpacker. Bedanya, dia tidak menyandang ransel di punggungnya, tapi membawa sebuah koper kecil berwarna coklat ( mungkin sebesar kopernya tukang obat ya) dan melakukan perjalanan ke seluruh Jepang. Istilah bahasa Jepangnya sih Futen, tapi kalau futen lebih cocok diterjemahkan dengan menggelandang. Padahal di Indonesia konotasi gelandang(an) itu adalah pengemis. Nah si Torajiro-san ini bukan pengemis. Dia juga tidak miskin, tidak kaya, tapi senangnya melakukan perjalanan ke mana-mana. Dan dalam perjalanannya pasti dia bertemu dengan seorang wanita, yang menjadi “Madonnanya”. Hmmm kalau dilihat dari “ketemu perempuan”nya kok jadi cocok kalau disebut Don Juan ya??? Tapi…dia tidak pernah berhasil mendapatkan si Madonna itu, dan dia selalu kembali ke rumahnya yang terletak di Shibamata, Katsushika-ku Tokyo. Di rumahnya dia selalu disambut oleh adik perempuannya, Suwa Sakura (Baisho Chieko).

Torajiro ini adalah tokoh film “Otoko wa tsuraiyo…” yang saya artikan sebebas-bebasnya dengan “Jadi lelaki itu susah!”, “It’s tough being a man”. Film ini pertama kali diputar di layar perak tanggal 27 Agustus 1969, terus diputar menjadi film seri dengan lokasi dan madonna yang berbeda sampai tahun 1995. Saya juga merasa hebat dengan perfilman Jepang yang bisa membuat seri dari film sampai sekian lama (hampir 40 tahun) dan dengan tokoh yang sama, yaitu si Torajiro atau nama aslinya Kiyoshi Atsumi. Dalam kurun waktu itu 48 film telah dibuat dan dinyatakan sebagai film berseri yang terpanjang di dunia, dan tercatat dalam buku the Guinness Book of World Records, tetapi akhir-akhir ini digantikan kedudukannya oleh Huang Fei-Hong series.

Apa sih yang menarik dari film ini? Satu kata saja sebetulnya, yaitu lucu!. Si Tora san (Atsumi san) ini memang komedian. Tidak banyak lagak, tapi di kecanggungannya itu menggelikan. Senyumnya juga menarik, meskipun wajahnya tidak bisa dibilang tampan. (Frankly speaking, tidak menarik, dan aku pernah bertemu seseorang wanita dengan muka yang mirip si Atsumi san ini…. aku langsung merasa kasihan…. maaf….). Saya sendiri masih ingat waktu menonton salah satu seri Torajiro ini di Kedutaan Besar Jepang di MH Thamrin…. pengalaman tuh nonton film di dalam kedutaan (pakai pemeriksaan segala) mungkin sekitar tahun 1988-89 an. Dan salah satu scene yang masih saya ingat adalah, waktu si Tora san ini harus berjalan dalam terik matahari di musim panas jepang. Dia ingin berteduh, tapi bukannya cari pohon atau apa gitu, dia berteduhnya di bawah bayangan tiang listrik!!! stupid banget deh (Bayangin gimana caranya berteduh di bayangan tiang listrik? Ya kaki kanan dan kirinya saja ditaruh di bayangan $#&#$&$’). Dalam film ini tokoh Sakura san juga membuat cerita seimbang. Sakura san selalu menyambut kedatangan kakaknya dengan gembira, meskipun kakaknya selalu pulang tanpa membawa uang dan dalam keadaan patah hati. Wajah Baisho Chieko memang lembut menurut saya. Dan saya tambah fans pada Baisho karena dia juga menjadi penyulih suara tokoh Sophie dalam film “Howl the moving Castle”. Tokoh Sophie mempunyai dua jenis suara berbeda, yaitu Sophie waktu gadis dan Sophie yang nenek. Mungkin memakai teknik-teknik tertentu tapi suaranya memang memukau.

Atsumi san meninggal pada tahun 1996, dan sejak itu pembuatan film Otoko wa tsurai yo selesai. Memang saya setuju bahwa Menjadi laki-laki itu sulit, banyak tuntutannya…yang terutama datang dari tatanan masyarakatnya. Apa salahnya laki-laki menjadi “bapak rumah tangga ” misalnya. Sudah mulai ada bapak rt di Jepang juga. Kemudian dengan kesempatan mendapatkan cuti bergaji demi membesarkan bayi selama 3 bulan bagi suami (Baca juga sertifikat untuk menjadi papa yang baik). Otoko wa tsurai yo, demo Onna mo tsurai yo. Wanita pun susah loh!!!. Hendaknya kita jangan menyalahkan gender, karena bagaimanapun juga kita kan tidak bisa merubah jenis kelamin kita (kecuali yang memang operasi dll).

5 gagasan untuk “Backpacker ala Jepang

  1. mang kumlod

    Definisi backpacker Emiko-san, 100% betul 😆
    Asep nyari2 tuh pelm or dorama backpacker, tapi belum nemu. Keren juga nih pelm, sampe bisa berseri 40 tahun. Saya pikir yang terpanjang itu sinetron “Tersanjung” 😆

    asyik definisiku diterima oleh backpacker sedunia nih. kalo mau nonton torajiro ada kok DVD nya. Yang bagus dari film ini ya kita seakan-akan ikut jalan2 menikmati pemandangan seluruh jepang

    Balas
  2. Hery Azwan

    Yup, menjadi laki2 dan perempuan sama saja. Masing2 punya kelebihan dan kekurangan.
    Btw, aku nggak pernah nonton filmnya. Kalau diadaptasi ke karakter orang Indonesia kira2 cocok nggak ya? Beda kali kulturnya ya, sehingga produser film nggak ada yang mau memfilmkannya.

    hmmm mungkin kurang cocok ya, selain budayanya beda, film ini juga memperlihatkan keindahan jepang

    Balas
  3. nh18

    Tokoh Torajiro itu boleh juga ya …

    Unik …
    Tapi down to earth …

    dan ini serial selama 40 tahun ??? (geleng-geleng kepala )
    berarti dia bawa-bawa tas tenteng itu selama 40 tahun dong ya …
    hhmm …

    iya loh om eh mas…dia bawa-bawa terus sampe bulukan gitu, ke wc juga, ke sungai juga ….. hahaha

    Balas
  4. Lala

    Kalo Torajiro-san bawa koper ala tukang obat, Om ga pernah lupa bawa safety shoes warna ijo belang-belang ungu-nya…
    Waduh…
    Sama ternyata! Hehehe…

    Eniwei,
    Sampai 40 tahun Sis? Buset dah! Pembuat film-nya hebat banget sampai selalu bisa bikin penasaran penikmat film…
    Ckckckck… Heibat!

    Selain film ini ada juga film yang menceritakan kehidupan keluarga di negara salju, jadi selalu diputar menjelang akhir tahun. Tapi sudah berhenti bebrapa tahun yang lalu. Nanti aku kumpulin deh film2 yang berseri begitu ya. Mustinya orang Indonesia belajar membuat seri yang bermutu jangan kejar tayang kayak sinetron.

    Balas
  5. Lala

    Tambahan…

    Jadi wanita emang susah!

    Apalagi yang cantik-cantik kayak Asunaro Girl ini ya Sis…

    Hahahahaha!

    udah cantik pinter lagi ya la…. susah deh kebaca tuh gombalannya lelaki …cihuyyyyy

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *