Where has the Summer Gone

Where has the Summer Gone

Sudah sejak hari Sabtu minggu lalu,  cuaca di Tokyo tidak menentu. Dalam arti yang biasanya suhu tertinggi adalah 34 derajat, mendadak mejadi sekitar 24-28 derajat saja…dan hujan. Bahkan kalau melihat prakiraan cuaca seminggu ini kita dapat melihat sederet

Seakan musim musim panas sudah pergi dan datanglah musim gugur… Dan biasanya di bulan September akan banyak hujan dan…. badai topan (bukan topan badai, kutu busuk, sapi dekil dsb sumpah serapahnya si Kapten Haddock). But musim gugur adalah musim yang paling saya sukai karena…. makanannya enak-enak. Hasil tangkapan ikan juga banyak jenisnya. Jenis jamur-jamuran, buah pear yang merupakan buah kesayangan aku. Lalu nuansa hijau lumut, kuning, dan merah dapat dilihat di mana-mana. Warna autumn juga mempengaruhi fashion.

Hanya ada satu yang paling aku tidak sukai, yaitu di musim ini aku sering batuk, dan terkadang akibat batuk tersebut, aku terpaksa “mengeluarkan” makanan-makanan enak yang tadinya sudah ada dalam perutku.

Masih ada 25 hari dari bulan September yang bisa aku nikmati sebelum mulai semester genap di dua Universitas….dan mulailah my buzy days.

Waktu memikirkan judul postingan ini aku teringat pada sebuah lagu, yang dinyanyikan the Brother Four, Where have all the flowers gone. Ternyata lagu karangan Pete Seeger ini termasuk dalam lagu “perdamaian/menolak perang”. Dalam CD nya Brother Four ini aku juga suka sebuah lagu yang berjudul Greenfields. Seperti komentarnya Daffa di posting “Tanpa sadar Anda lakukan ini di …toilet”, semoga jangan lagi ada orang yang berpikir untuk memulai perang. May all peace prevail on earth!!

WHERE HAVE ALL THE FLOWERS GONE 
words and music by Pete Seeger
performed by Pete Seeger and Tao Rodriguez-Seeger

Where have all the flowers gone?
Long time passing
Where have all the flowers gone?
Long time ago
Where have all the flowers gone?
Girls have picked them every one
When will they ever learn?
When will they ever learn?

Where have all the young girls gone?
Long time passing
Where have all the young girls gone?
Long time ago
Where have all the young girls gone?
Taken husbands every one
When will they ever learn?
When will they ever learn?

Where have all the young men gone?
Long time passing
Where have all the young men gone?
Long time ago
Where have all the young men gone?
Gone for soldiers every one
When will they ever learn?
When will they ever learn?

Where have all the soldiers gone?
Long time passing
Where have all the soldiers gone?
Long time ago
Where have all the soldiers gone?
Gone to graveyards every one
When will they ever learn?
When will they ever learn?

Where have all the graveyards gone?
Long time passing
Where have all the graveyards gone?
Long time ago
Where have all the graveyards gone?
Covered with flowers every one
When will we ever learn?
When will we ever learn?

©1961 (Renewed) Fall River Music Inc
All Rights Reserved.

7 Comments

Hmmm…
Langsung teringat sama film The Hunting Party-nya Richard Gere yang baru aku tonton hari Sabtu kemarin…

Visualisasi kekejaman perang dan korban yang tergeletak tanpa nyawa, bikin Asunaro Bungsu nangis,ngis,ngis…

Sampai sekarang, aku nggak ngerti pentingnya perang. Apa yang ada di dalam otak si Pencetus perang. Don’t they have something else to do? Arent they clever enough to solve this thing without suffering anyone else? Orang-orang yang nggak tahu-menahu tapi tiba-tiba dia atau kerabatnya harus terbunuh karena peperangan yang keji?

I hate it!!!
I hate violence…
I hate war…
I really, really do hate it!

Apa alasan positif yang mendasari sebuah peperangan sehingga itu layak dilakukan?

(maaf, Sis… kalau udah nyentuh issue ini, aku emang paling nyolot… 🙂 )

(dan yaa.. again… WORLD PEACE!)

yup. aku juga anti perang la. Kedua kakek saya adalah tawanan perang waktu jaman pendudukan Jepang. Dan sebagai romusha mereka bekerja di galangan kapal/pabrik di Jepang, sampai Jepang menyerah pada sekutu. War is ugly!!

Pekanbaru butuh HUJAN, mbak…

Biar waduk KOTO PANJANG gak kekurangan debit air…biar Kami gak kena giliran mati Lampu…………

nanti aku suruh hujannya ke sana ya put

Agak sulit membayangkan suasana perubahan 4 musim bagi orang yang berada di 2 musim. Bagi yang dua musim, perubahan antara satu musim ke musim lain tidak terlalu drastis. Paling2 hujan dan panas terik. Pengaruhnya kepada pohon, buah dan fashion hampir relatif tidak ada. Paling2 ojek payung yang paling merasakan perubahannya.

Iya bener bang…Jepang adalah negara yang paling mengagungkan dan menikmati ke empat musim yang akan datang, dengan berbagai usaha dan kesenangan. Setiap musim dinikmati benar-benar. Sehingga ada yang namanya “Bahasa Musim”. Dalam cerita atau puisi, dnegan menyebutkan benda/hewan/buah-buahan akan diketahui tulisan itu merefer pada musim apa. Saya sangat menikmati perubahan musim kecuali musim panas.

kakeknya tawanan perang Jepang, pasti sering diceritain kakaek ya mbk. kakekku jg hidup di jaman perang, tp sekarang dah g ada semua. STOP WAR!!

ya, kakek saya sangat melarang saya belajar bahasa Jepang. awalnya. Tapi setelah itu dia banyak bercerita, dan dia bilang “saya tidak benci orangnya, saya benci perangnya”

Bukannya musim panas itu cewek2 pake baju seksi… *hehehe…8x cuci mata mode ON*

Musim dingin saya suka (walopun di Indonesia ga ada), soalnya bajunya keren2, pake syal, sepatu boot, dan kalo di dorama Jepang, tetep, roknya mini… 😆

yup mini tapi pake stocking…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post navigation

Previous Post :