Treasure every encounter, for it will never recur.

10 Agu

itu bahasa Inggrisnya 一期一会 Ichigo-ichie yang pernah juga saya tulis dalam topik [Idiom4 huruf]. Artinya menghargai setiap pertemuan (deai 出会い) karena mungkin itu tidak akan pernah terjadi lagi. Pertemuan itu hanya ada satu kali dalam kehidupan kita. Perkataan ini merupakan inti pemikiran Sado (茶道) The way of tea, yang diucapkan pertama kali oleh Yamanoue Souji, yang merupakan murid Sen no Rikkyu. Master of Tea Ceremony. Karena menganggap pertemuan itu untuk pertama dan terakhir, maka dengan penuh perasaan dia akan melayani tamu yang datang untuk minum teh.

Kalau saya menoleh dan mengenang kembali, Saya pernah mengalami Ichigo Ichie ini. Di sebuah perjalanan kereta, bersama seorang wanita China yang bekas pelajar asing di Jepang. Kalau tidak salah waktu itu dia sudah bekerja, sedangkan saya masih mengurus wisuda master. Kami berdua naik kereta, saya sendiri lupa dari mana sampai mana, tapi yang saya ingat, kami berdua berdiri dan perjalanan cukup jauh….. Mungkin dari Yokohama menuju Tokyo. Terus terang waktu itu saya dalam keadaan bingung, bimbang apa keputusan saya selanjutnya. Ada 3 pilihan yaitu melanjutkan program Doktor, atau pulang ke Indonesia, atau tetap bekerja di Jepang. Program Doktor saya hapus dari pilihan karena saya sudah lelah waktu itu, lahir batin… sesudah menyelesaikan thesis yang tidak mudah dalam bahasa Jepang. Dalam satu tahun saya harus membaca Kanji kuno (tidak kuno-kuno banget sih), lalu harus menyusun apa yang mau saya tulis di thesis, berdasarkan pustaka yang ada. Sampai dengan seminggu sebelum penyerahan thesis, saya merubah susunan chapter…. sampai dosen pembimbing saya geleng-geleng kepala, meskipun dia lebih suka dengan susunan yang baru. But …1 minggu… seperti orang antara mati dan hidup.  Capek!! jadi melanjutkan bukan merupakan pilihan bagi saya saat itu.

Jika saya pulang ke Indonesia, saya akan kehilangan kehidupan saya dan berarti putus dengan pacar saya (sekarang mantan pacar)… tapi saya tahu bahwa saya belum tentu menikah dengannya waktu itu. Jika saya tinggal di Jepang, saya senang karena bisa bersama dia terus, tapi apakah saya akan terus bekerja sambilan sebagai dosen/guru honorer saja?  Bingung….

Tapi apa sebetulnya yang dilakukan si wanita China itu pada saya waktu itu?  Dia hanya bercerita tentang dia. Seorang wanita yang meninggalkan segala-galanya, juga pacarnya demi bekerja di tempat yang sekarang. Women Power!! Saya tidak ingat wajahnya…tidak pula tahu dimana dia tinggal, bahkan namanya. Yang saya ingat dia bertubuh kecil, bersetelan jas biru khas karyawan, begitu feminin tapi begitu kuat. Dia hanya berkata, “Apapun pilihan kamu, pasti bisa kok. Saya yakin kamu bisa. Kita wanita yang kuat, bukan? Gambatte ne“. Bukan suatu jawaban A atau B, tapi hanya sebuah sentilan bahwa apa saja yang saya pilih saya pasti bisa. Jangan dengarkan orang lain. Saya yang biasanya tidak suka pada orang China yang begitu egois, saat itu hanya terpana, dan turun di stasiun tujuan saya, sementara dia melambaikan tangan dari dalam kereta. OMG Saya lupa tanya teleponnya. Namanya…. tinggal di mana…. Bahkan saya tidak ingat mukanya. Tapi hari itu saya melangkah keluar pintu stasiun berjalan ke rumah saya dengan yakin bahwa saya harus tinggal di Jepang. Apapun yang saya akan lakukan. Itu pilihan saya. Satu episode hidup yang mungkin tidak akan terulang kembali. Ichigo-ichie.

Dengan pengalaman bertemu banyak orang sebagai guru bahasa Indonesia, saya menghargai setiap pertemuan dengan orang lain. Setiap orang membawa suatu pemikiran yang baru bagi saya. Dan mungkin itu  sedikit banyak merubah pandangan hidup saya.

Ada satu episode kecil dalam sebuah taksi. Saya akan pergi rekaman di studio Radio InterFM suatu malam. Studio biasanya kosong di atas jam 10 malam sampai kira-kira jam 5 pagi sebelum dipakai untuk siaran pagi hari. Karena waktu saya siang hari juga sibuk dengan mengajar, saya sering mengambil jadwal studio pukul 10 sampai 3 pagi, dan pulang-pergi naik taxi dari/ke rumah. Seperti biasa saya sering bercakap-cakap dengan supir taksi dan dia bertanya,

“jam segini ke daerah sini, apakah kamu bekerja di Hakuhoudou?” (Hakuhoudou adalah sebuah perusahaan advertising Jepang terkenal yang berkantor dekat studio saya. Dan perusahaan advertisement biasanya tidak mengenal jam kerja)

“Bukan…saya bekerja di Japan Times, tepatnya di Radio nya.”

“InterFM? 76,1 MHz?”

“Ya…. saya bekerja sebagai DJ di situ”

“Pantas saya pernah dengar suara Anda. Saya dari tadi mendengar suara Anda, tapi tidak ingat di mana. Siaran dini hari dalam bahasa asing kan?”

“Ya setiap sabtu dini hari jam 2, bahasa Indonesia”

“Ya…. saya selalu dengar kata-kata “Indoensia”…. Saya tidak mengerti tapi saya senang mendengar suara Anda seperti bernyanyi dan lagu-lagu yang diputar juga enak-enak”

“Wah terima kasih ….. Hari ini saya akan rekaman untuk Sabtu besok. Karena itu saya ke sini malam ini”

“Gambatte…nanti saya akan dengarkan lagi. Senang sekali bisa bertemu dengan DJ nya”

Dan dia menurunkan saya di depan gedung Japan Times. Dalam siaran malam itu, Saya putarkan satu lagu khusus untuk dia, whereever he will hear me.

出会い本当に不思議ね DEAI hontouni Fushigi ne. Pertemuan itu memang aneh. Dari pertemuan dengan si supir taksi, saya sadar waktu itu bahwa suara saya bisa didengar oleh siapa saja. Dan mungkin ada seseorang entah dimana yang terhibur dengan acara saya. Itu membuat saya semakin bersemangat lagi dalam bekerja.

Si wanita China dan Si supir Taksi… ichigo ichie…..

Pijat =Tuna Netra

10 Agu

Sebetulnya kita tidak boleh mengkotak-kotakkan jenis pekerjaan dengan pelakunya. Entah kenapa ada saja pemikiran itu. Misalnya berbicara soal pijat, langsung timbul kata tuna netra.  Tukang kain = orang India. Salon rambut = “banci” (maaf, saya sendiri merasa enggan menuliskan kata ini sebenarnya). Banyak sekali pemikiran orang Indonesia yang sekarang saya merasa aneh dan kasar. Dalam bahasa Jepang ada kata HENKEN (prejudiced opinion) SABETSU (discrimination) dan kata-kata ini sekarang populer, dalam arti, bahasa Jepang giat sekali menghapus kata-kata yang pernah ada, yang mengandung prejudiced opinion /discrimination ini…. dan jumlahnya amat banyak. Memang di dalam bahasa Indonesia juga pernah terlihat usaha ini, yaitu misalnya mengganti kata “orang buta” menjadi tuna netra, “bisu-tuli” menjadi tuna rungu-tuna wicara, atau “pembantu” menjadi pramu wisma dll. Namun menurut saya masih banyak sekali ungkapan yang mengandung HENKEN/sabetsu  tadi itu.

Topik posting saya kali ini memang berhubungan dengan tuna netra, yang bernama Yu Tum. Pagi hari ketika membuka laptop saya, terbaca oleh saya tentang ramalan bintang (horoskop) saya hari ini. Hmmm hari ini bintang saya menduduki ranking satu, dengan lima bintang bernyala untuk urusan keuangan, cinta dan keseluruhan. Dan terdapat kata-kata….. jika merasa lelah minta dipijat. Hmmm saya tidak begitu suka dipijat. Kenapa? Karena merasa geli dan pernah juga merasa badan justru lebih sakit setelah dipijat (kayaknya dukun pijatnya waktu itu dukun beranak mungkin hheheh). Namun hari ini dengan berbekal kata-kata di ramalan itu, dan kekakuan pundak dan leher yang semakin menjadi-jadi, saya berkata di meja makan pagi tadi,

“Saya mau pergi massage/pijat!”.

“kemana mel? Bersih-sehat? (nama tempat pijat di Mayestik yang sering dikunjungi adik-adik saya termasuk Kimiyo)

“kemana ya? kok aku jadinya takut juga ya?” (saya mulai membayangkan saya justru akan stress berada dalam bilik itu….phobianya keluar nih)

“Kamu maunya 1 jam atau 1,5 jam mel?”

“Wahhh emang segitu lama??? ngga bisa cuman 30 menit?” (tambah mikir)

“panggil aja pemijatnya ke rumah….” usul Chris

“wah kalau bisa panggil ok sekali…(so aku bisa merasa nyaman dibanding berada dalam bilik itu) ”

Alhasil, seorang Yu Tum yang tuna netra datang ke rumah saya jam 13:45, saat hampir semua orang keluar rumah, ada yang pergi ke seminar, ada yang pergi ke pameran furniture di JCC…termasuk Riku. Yu Tum mulai memijat saya dengan pijatan yang tidak keras dan tidak geli. Dan sambil bercakap-cakap saya menikmati otot-otot yang tadinya kaku mulai mengendur. (entah kenapa saya itu hampir selalu mengajak bicara supir taksi, pelayan toko, dan sekarang Yu Tum….cerewet benar saya ini)

Dari percakapan itu saya mengetahui bahwa Yu Tum ini sudah tidak bisa melihat sejak bayi. Tapi sampai dengan 1986 dia masih bisa melihat sedikit cahaya, warna dan gerakan dengan mata kanannya. Ketika tiba-tiba mata kanannya itu menjadi gelap sama sekali. Dia menjadi panik dan pergi memeriksakan ke RS Aini, dan memang dia harus menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa melihat seberkas cahaya tadi. Hhhh saya tak bisa membayangkan seandainya saya terbangun dalam gelap. Saya yang phobia gelap juga pasti tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan.

Dan pernahkah kita membayangkan bagaimana Tuna netra itu memilih baju? Mencocokkan warna? Memadukan warna baju dan rok sehingga pantas juga dipakainya? bukankah dia tidak bisa melihat? Yu Tum masih bisa meminta si penjahit bajunya untuk membuat rok atau baju dengan warna merah, karena dia belum punya. Dan meminta si penjahit memadukan warna dan model sehingga pantas dipakainya. Yu Tum pernah mengenal warna “merah” itu seperti apa meskipun sebentar. Bagaimana kalau dia sama sekali tidak pernah mengenal warna? Warna itu tidak penting lagi dan tidak berarti.

Sama halnya juga pada penderita buta warna…. bagaimana dia bisa membedakan warna? Kebetulan Chris,adik ipar saya juga merupakan pengidap buta warna ini. Pernah saya tanyakan ….”jadi kamu melihat seperti apa?” Jawabnya “Ya sulit untuk membedakan biru dengan ungu, warna dasar masih bisa dilihat tapi perpaduannya sulit. Jadi misalnya lampu lalulintas itu ya saya tahu kalau itu terdiri dari 3 warna… yang orang katakan sebagai Merah, kuning dan hijau”  Tapi apakah sebenarnya itu benar hijau yang saya lihat atau biru…saya tidak tahu. Memang ada beberapa macam jenis buta warna. Yang terparah adalah melihat dunia ini sebagai Black and White.

Cahaya, terang, gelap, warna, rasa, bentuk….. merupakan hal-hal lumrah yang mungkin tidak lagi perlu dipikirkan oleh kita, tapi sambil bercakap-cakap dengan Yu Tum ini, saya mengucap syukur bahwa saya boleh mempunyai indera penglihatan yang baik. Yu Tum yang dulunya pesinden, kemudian ganti profesi menjadi pemijat. Yang mempunyai cucu di Solo yang mengharapkan dia pulang lebaran ini… berhasil membuat pikiran dan otot saya yang tegang menjadi kendur dengan cerita dan pijatannya. Dan tanpa sadar 1,5 jam saya dipijat… yang tadinya menawar 30 menit saja…. dan mungkin akan disela oleh adik-adik saya “habis yang dipijat gede sih” hehehe. (Tapi Chris membela saya dengan berkata,”aku dipijat bisa 2 jam loh…padahal aku kurus ceking gini) thanks Chris.

Hari ini terjadi lagi sebuah DEAI (pertemuan) yang memberikan kesan pada seorang Imelda. Terima kasih Tuhan.

(tadinya mau foto si Yu Tum…apalagi pas mijit…tapi berhubung ngga ada yang bisa dimintain motret …ngga ada deh potretnya Yu Tum bersama pasiennya hihihi)